Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 479 : Skizofrenia

 


Yuna tersenyum bahagia sambil memasangkan dasi Yeriko saat suaminya itu akan pergi ke perusahaan.

 

“Aku senang karena kamu bisa kembali memasangkan dasiku seperti biasanya. Kemarin adalah mimpi buruk bagiku. Aku sangat takut, kamu nggak akan pernah memasangkan dasi buat aku lagi,” tutur Yeriko sambil mengamati wajah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil meletakkan kedua telapak tangannya di pundak Yeriko. “Nggak ada orang lain yang boleh memasangkan dasi kamu selain aku!” pintanya.

 

“Pasti,” jawab Yeriko. Ia mengulum lembut bibir istrinya penuh kehangatan.

 

 

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Dering Sencha memecahkan suasana pagi yang penuh kehangatan. Yeriko langsung menoleh ke arah ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Ia langsung meraih ponsel tersebut, menjawab panggilan dari nomor telepon yang tidak ia kenal.

 

“Halo ...! Selamat pagi ...! Apa benar ini dengan Bapak Yeriko Sanjaya Hadikusuma?” sapa suara wanita di seberang sana.

 

“Iya, benar. Ini siapa?”

 

“Kami dari Rumah Sakit Jiwa Menur. Ingin memberitahukan perihal pasien rujukan kami atas nama Refina Tata Widuri. Apakah benar kalau Bapak yang bertanggung jawab pada pasien tersebut?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna yang berdiri tak jauh darinya. “Iya, benar,” jawabnya pada orang yang ada di seberang telepon.

 

“Kami mohon Bapak bisa segera ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter perihal gangguan kejiwaan yang dialami saudari Refina!”

 

“Baik, Suster. Terima kasih atas informasinya!”

 

“Sama-sama, Pak! Kami tunggu kehadirannya. Mohon maaf, sudah mengganggu waktunya. Selamat pagi ...!”

 

“Pagi ...!” balas Yeriko, ia mematikan panggilan telepon yang masih aktif dan mengantongi ponsel ke saku jasnya.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Refi dibawa ke Menur.”

 

“Hah!? Beneran? Tadi subuh, aku baca berita soal gangguan kejiwaan yang dialami Refi. Aku kira cuma hoax aja.”

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Kamu mau ikut, nggak?” tanyanya.

 

Yuna mengangguk. Ia bergegas mengambil sepatu dan tas tangannya. “Kenapa setiap ada masalah sama Refi, selalu kamu yang dicari. Emangnya, dia nggak punya keluarga yang bisa dihubungi?”

 

“Dulu, keluarganya dia di Jakarta. Orang tuanya dia sudah bercerai sejak dia masih kecil. Papanya tinggal di Luar Negeri, mamanya ... pindah-pindah. Nggak ada kontaknya sama sekali,” jawab Yeriko.

 

 “Udah ada pemberitaan kayak gini, keluarga dia nggak ada yang jenguk satu pun?” tanya Yuna sambil mengenakan sepatunya.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Hubungan dia sama mamanya nggak baik.”

 

“Oh. Jadi, yang dibilang Mama Rullyta itu bener?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk. Ia merangkul pinggang Yuna dan melangkah keluar dari kamarnya. Mereka bergegas pergi ke RSJ Menur yang berjarak sekitar tujuh belas menit dari rumah mereka.

 

Sesampainya di Menur, Yeriko langsung menemui dokter yang menangani Refi.

 

“Gimana keadaan Refina, Dokter?” tanya Yeriko begitu berhadapan dengan dokter tersebut.

 

Dokter itu menghela napas. “Keadaannya cukup menyedihkan. Mari, saya ajak kalian untuk melihat keadaannya terlebih dahulu!”

 

Yeriko dan Yuna menganggukkan kepala. Ia mengikuti langkah dokter tersebut yang didampingi oleh dua orang perawat pria yang ikut bersama mereka.

 

Yuna sedikit cemas dengan apa yang dialami oleh Refi. Melihat dokter yang membawa perawat lain, kemungkinan besar kondisi Refi cukup mengkhawatirkan.

 

Dokter tersebut membuka ruangan rawat yang hanya dilengkapi ranjang tidur. Tak ada perabotan lain di dalam ruangan itu untuk menghindari hal-hal yang membahayakan bagi pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.

 

“Hmm ... hmm ... hmm ...” Refi bersenandung sambil melipat kedua kakinya di lantai. Ia duduk menghadap jendela, membelakangi pintu ruangan tersebut.

 

“Hehehe.” Refi tertawa saat melihat awan yang bergerak di langit. Ia melihat awan itu seperti dirinya yang sedang menari di panggung Swan Lake. Menjadi Angsa Putih dan Angsa Hitam yang selalu menjadi kebanggaan dirinya.

 

“Kamu cantik!” tutur Refi sambil menatap awan yang bergerak menghilang dari pandangannya. Ia langsung mengerutkan dahi, bangkit dari tempat duduknya, menghampiri jendela yang dilengkapi tralis besi. Ia berpegangan pada tralis besi tersebut sambil mencari awan yang membawa pergi wajahnya yang sedang tersenyum manis.

 

Refi menghela napas kecewa. Ia melihat bayangan orang di kaca jendela yang ada di hadapannya. “Aargh ...! Lepasin aku! Keluarin aku dari sini! Jangan sentuh aku!” teriaknya sambil berpegangan pada tralis, sedang kakinya terus menendang dinding yang menjadi penyangga jendela tersebut.

 

Yuna langsung memeluk lengan Yeriko sangat erat saat mendengar Refi tiba-tiba berteriak. Ia bersembunyi di belakang tubuh Yeriko karena takut kalau Refi akan melukai dirinya.

 

Dua perawat yang bersama dokter itu, berjaga di sana kalau-kalau Refi mengamuk kembali.

 

“Pasien ini menderita skizofrenia,” tutur dokter sambil menoleh ke arah Yuna dan Yeriko. “Dia mengalami halusinasi, delusi, pikirannya kacau dan perubahan perilaku yang tiba-tiba,” lanjutnya.

 

“Skizofrenia? Apa separah itu, Dok? Apa dia masih bisa diselamatkan?” tanya Yuna.

 

Dokter itu menggelengkan kepalanya. “Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Tapi, kami akan berusaha melakukannya. Sepertinya, dia mengalami trauma yang berkepanjangan dan berat sehingga dia terus berhalusinasi dan juga mengalami delusi.”

 

“Lakukan saja apa yang bisa dokter lakukan!” perintah Yeriko.

 

Refi langsung berbalik begitu ia mendengar suara Yeriko. Ia tersenyum lebar melihat pria yang dicintainya itu berdiri di sana. “Yeriko ...!” panggilnya dengan wajah begitu ceria. “Kamu ke sini buat jemput aku ‘kan? Aku udah selesai latihan nari. Ayo, kita pulang sekarang!” pintanya sambil melangkah mendekati Yeriko.

 

Dua orang perawat yang berjaga, berusaha menghentikan langkah Refi.

 

Yuna mengintip wajah Refi dari belakang punggung Yeriko.

 

Refi melebarkan kelopak matanya begitu ia melihat wajah Yuna yang muncul dari belakang punggung Yeriko. “Kamu ...!?” Ia menunjuk wajah Yuna penuh kebencian. “Aku benci sama kamu! Kamu harus mati!” serunya.

 

Yuna langsung meremas jas Yeriko dan kembali bersembunyi di belakang punggung suaminya itu.

 

“Kamu harus mati!” teriak Refi sambil berusaha melepaskan dirinya dari genggaman dua perawat yang menahannya. “Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup! Kamu harus mati di tanganku sekarang juga!”

 

Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna yang terlihat ketakutan.

 

“Gara-gara kamu, hidupku jadi berantakan! Perempuan kayak kamu nggak pantas buat hidup! Kamu harus mati di tanganku!” seru Refi dengan mata berapi-api.

 

Yuna terus memeluk pinggang suaminya dengan erat. Ia melihat Refi dari ekor matanya. Ia merasa iba melihat keadaan Refi yang begitu menyedihkan. Wajah cantiknya tak terawat lagi. Rambutnya yang panjang dan lembut, kini terlihat tak terawat, kusam dan potongannya tak beraturan.

 

Dokter yang ada di ruangan itu langsung menyuntikkan obat penenang begitu perawat yang memegangi Refi sudah berhasil menidurkan pasien gilanya itu.

 

“Aku nggak akan ngebiarin kalian hidup!” seru Refi saat jarum suntik mulai masuk ke dalam tubuhnya. Hanya dalam hitungan detik, ia langsung tertidur di ranjangnya.

 

Dokter itu menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Refi yang sudah tertidur. “Kami nggak tahu sampai kapan dia akan terus seperti ini. Sepertinya, kehadiran kalian berdua justru membuat suasana hatinya buruk.”

 

“Terus, apa yang bisa kami lakukan supaya dia bisa sembuh, Dok?” tanya Yuna.

 

Dokter itu menoleh ke arah Yeriko dan Yuna bergantian. Ia terlihat tak memiliki harapan untuk kesembuhan Refi.

 

Yuna menggigit bibirnya karena dokter tersebut tak memberikan jawaban yang memuaskan dan menenangkan hatinya.

 

Yeriko mengusap lembut pundak Yuna. “Sudahlah. Nggak usah terlalu dipikirkan!” pintanya. “Saya percaya dokter-dokter di sini akan bekerja dengan baik,” lanjutnya sambil menoleh ke arah dokter yang ada di hadapannya.

 

Dokter itu menganggukkan kepala. “Terima kasih atas kepercayaan dari Pak Ye!” ucapnya.

 

Yeriko tersenyum. “Kalau gitu, kami pamit pulang dulu. Jika terjadi sesuatu dengan pasien ini, Dokter bisa langsung hubungi saya atau asisten saya!” pintanya.

 

“Siap! Siap!”

 

Yeriko tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia merangkul pinggang Yuna dan berlalu pergi dari ruangan tersebut dan bergegas ke parkiran.

 

“Mau ikut ke perusahaan atau mau pulang ke rumah?” tanya Yeriko saat mereka sudah berada di dalam mobil.

 

“Mmh ... ke rumah ayah aja, ya!” pinta Yuna. “Tiga hari yang lalu, harusnya ulang tahun ayah. Tapi aku nggak bisa ngerayain karena aku di rumah sakit terus.”

 

“Ayah ulang tahun? Kenapa nggak bilang sama aku?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ... aku udah ucapin ulang tahun ke ayah waktu dia temenin aku di rumah sakit. Tapi ... aku belum ngerayain. Jadi, aku mau ke rumah ayah hari ini.”

 

“Kamu mau langsung ke rumah ayah, nggak bawa hadiah untuk dia?”

 

“Bawa, dong! Aku udah siapin hadiah untuk ayah.”

 

Yeriko mengerutkan dahi. Ia menatap seluruh tubuh Yuna, kemudian beralih ke kursi di belakang mobilnya. “Mana hadiahnya?”

 

“Hadiahnya cukup cinta. Hahaha,” sahut Yuna.

 

Yeriko menggeleng-gelengkan kepala sambil menyalakan mesin mobilnya.

 

Yuna terkekeh. Ia merogoh benda kecil dari dalam tas tangannya. “Taraa ...!” seru Yuna sambil menunjukkan benda yang sudah ada di telapak tangannya. “Aku bikin ini, khusus buat ayah. Bagus, nggak?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah tangan Yuna. “Ini apa?” tanya Yeriko sambil mengamati benda yang ada di tangan Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Ini sarung rokok sama korek yang aku rajut sendiri,” sahut Yuna.

 

“Aku nggak dibuatin?” tanya Yeriko.

 

“Kan udah dibuatin sweater,” jawab Yuna sambil memasukkan kembali kado untuk ayahnya ke dalam tas.

 

Yeriko memutar setirnya dan menjalankan mobil keluar dari parkiran rumah sakit tersebut. “Kita ke toko dulu, ya!” pintanya. “Aku nggak enak kalau antar kamu ke sana dan langsung pergi ke perusahaan.”

 

“Emangnya kamu nggak sibuk?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Udah di-handle sama Chandra dan Riyan. Hari nggak ada meeting penting.”

 

“Oh. Oke.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

Yeriko bergegas melajukan mobilnya ke salah satu Man Store, ia ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk ayah mertuanya.

 

((Bersambung ...))

 

Ambil yang baik, buang yang buruk. Jadikan pelajaran bahwa setiap hal buruk yang kita tanam, akan tetap kita makan sendiri hasilnya.

Thanks semua atas dukungannya ...!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 478 : Di Bawah Kendali Mr. Ye

 


Refi meringkuk di atas ranjang rumah sakit sambil memeluk kakinya sendiri. Ia tak menyangka kalau Yeriko benar-benar menyerahkannya pada pria-pria itu. Meski begitu, ia tak pernah menyesali telah melakukan hubungan seks dengan banyak pria. Sejak dulu, ia sudah menikmatinya bersama Deny.

 

“Deny ... kamu di mana?” bisik Refi. Ia telah melakukan banyak kesalahan. Bertindak gegabah seorang diri membuat dirinya justru celaka. Ia pikir, ia akan dengan mudah mengendalikan Yeriko. Nyatanya, Yeriko tetap keukeuh mencintai wanita lain.

 

Refi mengedarkan pandangannya. Ia melepas selang infus yang tersambung ke tubuhnya. Ia kesal dengan keadaannya sendiri saat ini.

 

Refi turun dari tempat tidurnya perlahan, bagian kewanitaannya masih terasa ngilu setelah melayani delapan pria yang ada di dalam ruangan itu. Setiap ia memejamkan mata, ia bisa melihat ekspresi wajahnya sendiri  dari cermin-cermin yang mengelilingi setiap dinding di ruangan itu ... membuat perasaannya sangat sakit dan ia tak pernah ingin memejamkan matanya lagi.

 

Refi meraih gelas air minum yang ada di atas nakas. Matanya tertuju pada remote televisi, ia meraih remote tersebut dan menyalakan televisi yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Artis sensasional, Refi Tata kembali menggemparkan jagat hiburan tanah air. Lama tak terlihat berkarya di dunia hiburan. Refi Tata dikabarkan kalau hidupnya sangat berantakan, kini ia dikabarkan terjerat kasus prostitusi yang diatur oleh Managernya sendiri. Saat ini, manager artis tersebut telah ditahan pihak kepolisian karena kasus penyebaran video pornografi.”

 

Refi terpaku menatap layar televisi yang sedang mengangkat pemberitaan tentang dirinya. Ia tak menyangka kalau Deny sekarang sudah  menjadi tahanan di kepolisian. Perasaannya kini semakin gelisah.

 

“Menurut keterangan polisi, manager artis berinisial D telah mengakui perbuatannya. Ia telah menyebar video aktivitas seks Refi Tata bersama delapan pria di dalam ruang kelas dansa. Juga beberapa video Refi Tata yang menjadi partner seks managernya sendiri.”

 

Suara pembawa acara di dalam televisi itu berhasil membuat perasaan Refi tak karuan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Di luar sana, ia sudah mendapatkan banyak hujatan.

 

“Dari penyelidikan kami, saudara D memiliki kelainan seksual. Dia adalah seorang biseksual yang kemungkinan besar mengidap HIV/AIDS. Saat ini, saudara D sedang menjalani isolasi sehingga belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut kepada pers.” Seorang berseragam polisi ikut memberikan keterangan di televisi.

 

“HIV?” gumam Refi sambil menggigit jarinya. Ia pikir, Deny hanya menjadi partner seks-nya saja. Ternyata, pria itu juga bermain dengan banyak orang. “Gimana sama aku?” tanya Refi sambil menggigit kuku-kukunya.

 

“Aargh ...!” teriak Refi sambil melempar gelas di tangannya ke arah televisi yang masih menyala. “Pasti Yeriko yang udah ngatur ini semua. Dia sudah dikendalikan sama perempuan itu. Aku bakal balas kalian semua!” Refi terus berteriak sambil mengamuk di dalam ruangan itu.

 

Teriakan Refi membuat beberapa perawat yang sedang berjaga langsung masuk ke dalam kamarnya. Kamar tersebut sudah berantakan, perawat yang ingin masuk pun tidak berani mendekati Refi yang sedang mengamuk.

 

“Dokter! Tolong kami! Pasien yang di kamar 101 mengamuk lagi,” tutur seorang suster. Ia mencari bantuan dokter dan perawat pria untuk mengendalikan Refi.

 

“Aargh ...! Kalian semua sialan!” teriak Refi.

 

Dokter dan perawat yang lain langsung masuk. Mereka langsung menangkap Refi yang terus berteriak dan mengamuk di ruangannya.

 

“Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku! Jangan ...!” teriak Refi sambil melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya.

 

Dua orang perawat pria mencoba mengendalikan tubuh Refi yang terus memberontak.

 

“Yuna ... ini semua gara-gara kamu! Hidupku hancur karena kamu! Kamu harus mati!” teriak Refi. Ia tak bisa lagi mengendalikan dirinya sendiri.

 

Dokter yang bertugas langsung menyuntikan obat penenang untuk mengendalikan Refi. “Suster, tolong tanyakan ke bagian Psychiatrist. Bagaimana hasil pemeriksaan pasien ini. Jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan perawatan di sini. Kita bisa rujuk pasien ini ke Menur.”

 

“Baik, Dokter.” Suster itu mengangguk sambil merapikan tempat tidur Refi dan memasang kembali selang infus ke tangannya. Perawat yang lain membantu membersihkan dan merapikan ruangan tersebut.

 

Dokter yang menangani Refi menghela napas. “Kasihan sekali wanita ini. Dia cantik, tapi kondisi mentalnya sangat menyedihkan,” ucapnya sambil menatap wajah Refi yang sudah tertidur.

 

“Suster, tolong hubungi keluarga pasien!” perintah Dokter itu.

 

“Pasien ini tidak ada keluarganya, Dok.”

 

“Apa nggak ada yang bertanggung jawab sama pasien ini?” tanya Dokter itu.

 

“Ada, Dokter. Ada nomer kontak yang ditinggalkan pada kami.”

 

“Oke. Hubungi orang yang bertanggung jawab pada pasien ini. Sepertinya, dia memang harus mendapatkan terapi khusus soal kejiwaannya yang terguncang.”

 

Suster yang ada di sana langsung menganggukkan kepala.

 

Dokter itu mengangguk, kemudian bergegas pergi untuk memeriksa pasien lainnya.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Deny terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terduduk lemas di lantai, menyandarkan punggungnya sambil menatap jeruji besi yang ada di hadapannya.

 

“Tuan Muda sialan! Dia udah jebak aku,” ucap Deny sambil tersenyum sinis. Uang lima ratus juta yang dijanjikan Yeriko, tak pernah masuk ke tangannya. Dalam hitungan jam, ia justru sudah ditangkap polisi. Ponsel miliknya juga sengaja diberikan Yeriko kepada polisi sebagai barang bukti.

 

“Semua orang sudah ada di bawah kendali Tuan Muda itu. Ternyata, dia memang berbahaya,” gumamnya.

 

Setelah mendatangi BAP, Deny masih harus menunggu hasil pemeriksaan kesehatan dirinya. Ia tak bisa mengelak kalau telah melakukan hubungan seks dengan banyak orang. Termasuk dengan pria-pria yang juga memiliki kelainan seksual. Baginya, seks adalah bagian dari kenikmatan dan kesenangan hidupnya.

 

“Permisi, Pak Deny!” sapa seorang berseragam sambil membuka pintu sel Deny.

 

Deny hanya menengadahkan kepalanya. Tak menyahut, hanya menatap polisi yang ada di hadapannya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.

 

“Hari ini, Pak Deny akan menjalani isolasi terlebih dahulu di rumah sakit Polri untuk memastikan kondisi kesehatan Pak Deny sebelum menjalani sidang lanjutan,” tutur polisi yang menghampiri Deny.

 

Deny menganggukkan kepala. Ia tak bisa melawan, menyerahkan hidupnya yang kini hanya bisa diatur oleh orang lain. Semua ini terjadi karena kecerobohan Refi. Andai wanita itu tidak bertindak semaunya sendiri, memancing kemarahan Tuan Muda itu ... mungkin akhir hidupnya bisa jauh lebih baik dari ini.

 

“Mari ikut kami!” perintah polisi tersebut.

 

Deny menganggukkan kepala. Ia bangkit dari lantai, mengikuti langkah beberapa polisi yang mengawalnya hingga sampai di ruang isolasi yang sudah disediakan oleh polisi. Ia harus menjalani banyak hari tanpa tahu apa yang terjadi di luar sana. Tanpa ada seseorang yang peduli dengan kesendiriannya, tanpa keluarga dan semua hal yang seharusnya bisa ia dapatkan dengan baik di dunia ini.

 

Deny menghela napas sambil menatap jam dinding yang terus berputar di ruangannya. “Alangkah baiknya jika aku punya keluarga. Hidup normal seperti manusia-manusia yang lain. Uang dan kenikmatan dunia ... bikin aku terlena dan melupakan semuanya.”

 

Deny membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan mata. Ia berharap hasil pemeriksaan kesehatan dirinya adalah negatif. Walau harus mendekam di penjara untuk beberapa waktu. Ia masih punya kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih baik.

 

((Bersambung ...))

 

Ambil yang baik, buang yang buruk. Jadikan pelajaran bahwa setiap hal buruk yang kita tanam, akan tetap kita makan sendiri hasilnya.

Thanks semua atas dukungannya ...!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 477 : Hot Trending (Refi Tidur dengan Delapan Pria)

 


Malam harinya, setelah Yuna keluar dari rumah sakit ... Yeriko sengaja mengajak sahabat-sahabatnya untuk makan malam bersama di rumahnya. Merayakan kembalinya Yuna dan bayinya ke rumah itu dengan selamat.

 

“Kakak Ipar, makan yang banyak ya!” pinta Lutfi sambil meletakkan beberapa potong daging ke atas piring Yuna.

 

“Lut, aku udah makan banyak banget.”

 

“Nggak papa. Kan, Kakak Ipar berbadan dua, yang makan juga orang dua. Jadi, harus porsi double.”

 

“Kalian ini senang kalau aku gemuk banget?” tanya Yuna.

 

Lutfi terkekeh. “Biar kayak Doraemon. Makin lucu,” ucapnya sambil mencubit pipi Yuna.

 

Yeriko hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Lutfi.

 

“Yer, kali ini si Refi udah keterlaluan. Kalau masih dibiarin, apa nggak makin berbahaya?” tanya Jheni.

 

“Jhen, kamu tenang aja! Kita nggak mungkin ngelepasin dia,” sahut Lutfi.

 

“Tapi, kalian nggak laporin dia ke polisi,” tutur Jheni tak bersemangat.

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak mendengar ucapan Jheni. “Ada yang lebih menarik dari itu.”

 

Jheni menatap orang di meja makan itu satu per satu. “Aku nggak paham rencana kalian.”

 

“Yeriko labih suka melihat orang hidup segan mati tak mau. Penjara terlalu mudah untuk dilalui,” bisik Chandra di telinga Jheni.

 

Jheni mengangkat kedua alisnya. Ia masih tak mengerti dengan rencana pria-pria yang ada di hadapannya itu.

 

Yuna menggigit bibir saat ruangan tiba-tiba hening. Satria yang terbiasa bercanda di meja makan, malah fokus menikmati udang goreng di hadapannya tanpa mengeluarkan suara.

 

Ada begitu banyak orang di meja makan. Tapi yang terdengar hanya suara piring yang beradu dengan sendok. Keadaan canggung seperti ini, membuat Yuna mencurigai hal yang tidak-tidak. Akhirnya, ia menoleh ke arah Yeriko dan menatapnya selama beberapa detik.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang mendapati tatapan Yuna penuh tanya.

 

“Kamu nggak berbuat hal kelewat batas ‘kan?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku cuma ngurung dia selama seminggu. Sama seperti yang dia lakuin ke kamu. Udah aku lepasin.”

 

“What!? Dilepasin gitu aja?” tanya Jheni.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kamu bermurah hati banget sama cewek kayak gitu. Mentang-mentang masih mantan pacar,” celetuk Jheni.

 

“Aku udah ngurung dia seminggu tanpa makanan. Aku rasa, itu udah cukup,” tutur Yeriko.

 

“Akan ada kejutan yang lebih besar lagi,” sambung Lutfi. “Kalian tunggu aja!”

 

Yuna tersenyum. “Ya udah, yang penting dia udah dikasih pelajaran. Asal jangan sampai kelewat batas aja. Mudahan, dia sadar dan kembali ke jalan yang benar.”

 

Yeriko tersenyum bangga sambil mengusap lembut kepala Yuna. Ia sangat bahagia memiliki wanita yang hatinya begitu mulia. Jika bukan Yuna yang ada di sisinya, mungkin ia akan selamanya menjadi monster yang tak bisa dikendalikan.

 

“Udahlah, masalah Refi ... kita lupakan saja!” pinta Yeriko. Ia menoleh ke arah Satria yang sejak tadi tak bicara. “Persiapan untuk ulang tahun TNI-AD gimana?”

 

Satria langsung mendongakkan kepalanya. “Kamu tanya aku?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kamu kira nanya burung? Siapa lagi di sini yang masih aktif di angkatan kalo bukan kamu,” sahut Lutfi.

 

Satria tertawa kecil. Ia menyuap makanan terakhir di piringnya. “Kalian mau ikutan, nggak?”

 

“Apa?”

 

“Ngerayain ulang tahun angkatan.”

 

“Di kompi? Kita mah bukan anggota kompi lagi,” sahut Lutfi.

 

Satria terkekeh. “Masih ada kakek Ali. Dia selalu hadir di acara ulang tahun TNI-AD.”

 

“Kalau jadwal nggak bentrok, ntar aku dampingi kakek,” ucap Yeriko sambil menelungkupkan sendok di atas piringnya yang sudah kosong.

 

Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Aku tahu, kalian semua sudah jadi pengusaha. Sibuk banget. Nggak usah ikut acara resmi. Aku undang kalian makan-makan di rumah, gimana?”

 

“Wah ... boleh, tuh! Aku suka kalau makan-makan,” sahut Yuna dengan wajah berbinar.

 

“Apalagi gratis. Yuna ‘kan suka yang gratisan!” sambar Jheni.

 

“Hahaha.”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna yang duduk di sampingnya. Ia merasa tenang melihat istrinya sudah kembali ceria.

 

Usai makan malam bersama, mereka berkumpul di teras belakang seperti biasa.

 

Yeriko duduk di atas karpet bulu sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia memeluk Yuna seperti memeluk boneka beruang kesayangan.

 

“Yun, cek pencarian teratas google, deh!” seru Jheni sambil menatap layar ponselnya.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil meraih ponsel yang ia letakkan di sampingnya.

 

“Bentar. Baru masuk ke emailku kalau nama Refi ada di trending topik. Aku langganan Google Trend. Biar tahu informasi terhangat masa kini,” jawab Jheni sambil mengusap layar ponselnya.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil saat Yuna membuka layar ponselnya. Ia sengaja membiarkan istrinya mengetahui apa yang sudah terjadi pada Refi.

 

“Astaga!” seru Jheni.

 

“Kenapa?” tanya Icha.

 

“Buka di handphone kamu!” sahut Jheni tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Ia terlihat fokus memerhatikan gambar-gambar dan berita yang sudah tersebar dan tak terkendali.

 

“Aku nggak bawa hape,” sahut Icha.

 

“Pake hape Lutfi!”

 

“Lihat di hape kamu aja!” pinta Icha.

 

“Kenapa? Nggak berani pakai hape pacar?” tanya Jheni sambil menatap Icha.

 

“Apaan sih, kamu, Jhen?” sela Lutfi sambil merogoh ponsel dari sakunya dan memberikan ke tangan Icha. “Pake aja!”

 

Jheni tertawa kecil. “Kali aja kamu nggak kasih hape ke Icha. Selingkuhanmu banyak, Lut.”

 

“Nggak usah ngomporin, Jhen! Icha udah nggak ngaruh kalo kamu komporin kayak gitu.”

 

“Kamu aja yang nggak tahu kalau dia sering nangis di pojokan,” sahut Jheni.

 

“Iih ... nggak, Jhen. Aku nggak pernah gitu. Dulu aja, sekarang mah udah kebal,” tutur Icha.

 

“Iya. Udah kebal dia, Jhen. Chat dari artis-artis yang kegatelan itu juga dia yang balasin. Hahaha.” Lutfi tergelak sambil memeluk Icha yang duduk di sampingnya.

 

“Kuat banget hatimu, Cha. Kalo aku jadi kamu, udah bikin candi Prambanan pindah ke Borobudur,” sahut Jheni.

 

“Hahaha. Makanya, aku nggak mau punya pacar kayak kamu! Chandra aja yang terlalu sabar ngadepin cewek barbar kayak kamu.”

 

“Aku nggak barbar! Sembarangan kalo ngomong!” sahut Jheni.

 

“Ini ... apa namanya kalo nggak barbar?”

 

Jheni mencebik ke arah Lutfi. Ia kembali menatap layar ponselnya. “Ini beneran si Refi?”

 

“Bukan, itu Reptil!” sahut Lutfi.

 

“Bagus memang kalau namanya diganti jadi Reptilia. Refina ... nama itu terlalu bagus buat kelakuannya yang busuk,” tutur Jheni.

 

“Hahaha.”

 

“Kalian bertiga tenang banget?” tanya Jheni sambil menatap Chandra, Lutfi, Yeriko dan Satria bergantian. “Jangan-jangan, kalian terlibat dalam masalah ini ya?”

 

“Sembarangan nuduh orang! Nggak ada buktinya,” sahut Lutfi.

 

“Lihat aja! Yang upload video itu kan si Deny. Managernya Refi sendiri,” tutur Chandra yang merangkul pundak Jheni, ikut memerhatikan layar ponsel Jheni.

 

“Kok, managernya Refi yang sebarin video porno kayak gini? Emangnya, dia nggak kena pelanggaran undang-undang pornografi?”

 

 Chandra mengedikkan bahu, ia memainkan alisnya sambil menatap Yeriko yang menyembunyikan senyumannya.

 

“Kok, si Refi kayak gini ya?” gumam Yuna sambil melihat judul berita yang sudah tersebar luas.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Lama tak terlihat, artis cantik Refina tidur dengan delapan pria,” ucapnya sambil membaca berita.

 

Yuna langsung mendongakkan kepala menatap wajah Yeriko yang ada di atasnya. “Kamu udah tahu soal ini?”

 

Yeriko mengangguk kecil. “Biarkan aja!”

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Refi melakukan perbuatan sekotor itu. “Bukannya dia cinta banget sama Yeriko? Kenapa dia bisa tidur sama laki-laki lain? Apalagi sampai delapan orang kayak gini, nggak bisa ngebayangin ...,” batin Yuna sambil bergidik.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang menyadari gestur tubuh istrinya.

 

“Nggak papa. Aku cuma lagi ngebayangin aja dia main sama delapan cowok ...”

 

Yeriko langsung memutar kepala Yuna agar menatap ke arahnya. “Kamu bayangin apa? Mulai nakal!” dengusnya sambil mengetuk kening Yuna.

 

“Iih ... bukan ngebayangin aku. Ngebayangin si Refi itu loh,” sahut Yuna.

 

“Nggak usah dibayangin, Yun! Lihatnya aja aku jijik. Bisa-bisanya kamu malah ngebayangin!” sahut Jheni.

 

Yuna langsung melempar boneka yang ada di dekatnya ke wajah Jheni. “Gayamu! Komikmu banyak konten dewasanya. Malah digambar pula!”

 

“Beda, dong! Aku ngegambar jadi duit. Kalo kamu, bayangin doang ... ntar jadi jerawat!” sahut Jheni sambil tertawa kecil.

 

Yuna mencebik ke arah Jheni. Mereka terus memerhatikan pemberitaan yang sedang panas di internet. Bukan hanya tulisan-tulisan dari reporter gosip yang membuat suasana memanas. Tapi juga komentar dari netizen yang terus-menerus menyerang Refi lewat media sosial. Mereka tak henti-hentinya mengutuk perbuatan Refi yang sangat menjijikkan itu.

 

((Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk dan baper bertubi-tubi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas