Refi
meringkuk di atas ranjang rumah sakit sambil memeluk kakinya sendiri. Ia tak
menyangka kalau Yeriko benar-benar menyerahkannya pada pria-pria itu. Meski
begitu, ia tak pernah menyesali telah melakukan hubungan seks dengan banyak
pria. Sejak dulu, ia sudah menikmatinya bersama Deny.
“Deny
... kamu di mana?” bisik Refi. Ia telah melakukan banyak kesalahan. Bertindak
gegabah seorang diri membuat dirinya justru celaka. Ia pikir, ia akan dengan
mudah mengendalikan Yeriko. Nyatanya, Yeriko tetap keukeuh mencintai wanita
lain.
Refi
mengedarkan pandangannya. Ia melepas selang infus yang tersambung ke tubuhnya.
Ia kesal dengan keadaannya sendiri saat ini.
Refi
turun dari tempat tidurnya perlahan, bagian kewanitaannya masih terasa ngilu
setelah melayani delapan pria yang ada di dalam ruangan itu. Setiap ia
memejamkan mata, ia bisa melihat ekspresi wajahnya sendiri dari
cermin-cermin yang mengelilingi setiap dinding di ruangan itu ... membuat perasaannya sangat sakit dan ia tak pernah
ingin memejamkan matanya lagi.
Refi
meraih gelas air minum yang ada di atas nakas. Matanya tertuju pada remote
televisi, ia meraih remote tersebut dan menyalakan televisi yang ada di dalam
ruangan tersebut.
“Artis
sensasional, Refi Tata kembali menggemparkan jagat hiburan tanah air. Lama tak
terlihat berkarya di dunia hiburan. Refi Tata dikabarkan kalau hidupnya sangat
berantakan, kini ia dikabarkan terjerat kasus prostitusi yang diatur oleh
Managernya sendiri. Saat ini, manager artis tersebut telah ditahan pihak
kepolisian karena kasus penyebaran video pornografi.”
Refi
terpaku menatap layar televisi yang sedang mengangkat pemberitaan tentang
dirinya. Ia tak menyangka kalau Deny sekarang sudah menjadi tahanan di
kepolisian. Perasaannya kini semakin gelisah.
“Menurut
keterangan polisi, manager artis berinisial D telah mengakui perbuatannya. Ia
telah menyebar video aktivitas seks Refi Tata bersama delapan pria di dalam
ruang kelas dansa. Juga beberapa video Refi Tata yang menjadi partner seks
managernya sendiri.”
Suara
pembawa acara di dalam televisi itu berhasil membuat perasaan Refi tak karuan.
Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Di luar sana, ia sudah
mendapatkan banyak hujatan.
“Dari
penyelidikan kami, saudara D memiliki kelainan seksual. Dia adalah seorang
biseksual yang kemungkinan besar mengidap HIV/AIDS. Saat ini, saudara D sedang
menjalani isolasi sehingga belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut kepada
pers.” Seorang berseragam polisi ikut memberikan keterangan di televisi.
“HIV?”
gumam Refi sambil menggigit jarinya. Ia pikir, Deny hanya menjadi partner
seks-nya saja. Ternyata, pria itu juga bermain dengan banyak orang. “Gimana
sama aku?” tanya Refi sambil menggigit kuku-kukunya.
“Aargh
...!” teriak Refi sambil melempar gelas di tangannya ke arah televisi yang
masih menyala. “Pasti Yeriko yang udah ngatur ini semua. Dia sudah dikendalikan
sama perempuan itu. Aku bakal balas kalian semua!” Refi terus berteriak sambil
mengamuk di dalam ruangan itu.
Teriakan
Refi membuat beberapa perawat yang sedang berjaga langsung masuk ke dalam
kamarnya. Kamar tersebut sudah berantakan, perawat yang ingin masuk pun tidak
berani mendekati Refi yang sedang mengamuk.
“Dokter!
Tolong kami! Pasien yang di kamar 101 mengamuk lagi,” tutur seorang suster. Ia
mencari bantuan dokter dan perawat pria untuk mengendalikan Refi.
“Aargh
...! Kalian semua sialan!” teriak Refi.
Dokter
dan perawat yang lain langsung masuk. Mereka langsung menangkap Refi yang terus
berteriak dan mengamuk di ruangannya.
“Jangan
sentuh aku! Jangan sentuh aku! Jangan ...!” teriak Refi sambil melempar semua
barang-barang yang ada di dekatnya.
Dua
orang perawat pria mencoba mengendalikan tubuh Refi yang terus memberontak.
“Yuna
... ini semua gara-gara kamu! Hidupku hancur karena kamu! Kamu harus mati!”
teriak Refi. Ia tak bisa lagi mengendalikan dirinya sendiri.
Dokter
yang bertugas langsung menyuntikan obat penenang untuk mengendalikan Refi.
“Suster, tolong tanyakan ke bagian Psychiatrist. Bagaimana hasil pemeriksaan
pasien ini. Jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan perawatan di sini. Kita
bisa rujuk pasien ini ke Menur.”
“Baik,
Dokter.” Suster itu mengangguk sambil merapikan tempat tidur Refi dan memasang
kembali selang infus ke tangannya. Perawat yang lain membantu membersihkan dan
merapikan ruangan tersebut.
Dokter
yang menangani Refi menghela napas. “Kasihan sekali wanita ini. Dia cantik,
tapi kondisi mentalnya sangat menyedihkan,” ucapnya sambil menatap wajah Refi
yang sudah tertidur.
“Suster,
tolong hubungi keluarga pasien!” perintah Dokter itu.
“Pasien
ini tidak ada keluarganya, Dok.”
“Apa
nggak ada yang bertanggung jawab sama pasien ini?” tanya Dokter itu.
“Ada,
Dokter. Ada nomer kontak yang ditinggalkan pada kami.”
“Oke.
Hubungi orang yang bertanggung jawab pada pasien ini. Sepertinya, dia memang
harus mendapatkan terapi khusus soal kejiwaannya yang terguncang.”
Suster
yang ada di sana langsung menganggukkan kepala.
Dokter
itu mengangguk, kemudian bergegas pergi untuk memeriksa pasien lainnya.
...
Di
tempat lain ...
Deny
terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terduduk lemas di lantai,
menyandarkan punggungnya sambil menatap jeruji besi yang ada di hadapannya.
“Tuan
Muda sialan! Dia udah jebak aku,” ucap Deny sambil tersenyum sinis. Uang lima
ratus juta yang dijanjikan Yeriko, tak pernah masuk ke tangannya. Dalam
hitungan jam, ia justru sudah ditangkap polisi. Ponsel miliknya juga sengaja
diberikan Yeriko kepada polisi sebagai barang bukti.
“Semua
orang sudah ada di bawah kendali Tuan Muda itu. Ternyata, dia memang
berbahaya,” gumamnya.
Setelah
mendatangi BAP, Deny masih harus menunggu hasil pemeriksaan kesehatan dirinya.
Ia tak bisa mengelak kalau telah melakukan hubungan seks dengan banyak orang.
Termasuk dengan pria-pria yang juga memiliki kelainan seksual. Baginya, seks
adalah bagian dari kenikmatan dan
kesenangan hidupnya.
“Permisi,
Pak Deny!” sapa seorang berseragam sambil membuka pintu sel Deny.
Deny
hanya menengadahkan kepalanya. Tak menyahut, hanya menatap polisi yang ada di
hadapannya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
“Hari
ini, Pak Deny akan menjalani isolasi terlebih dahulu di rumah sakit Polri untuk
memastikan kondisi kesehatan Pak Deny sebelum menjalani sidang lanjutan,” tutur
polisi yang menghampiri Deny.
Deny
menganggukkan kepala. Ia tak bisa melawan, menyerahkan hidupnya yang kini hanya
bisa diatur oleh orang lain. Semua ini terjadi karena kecerobohan Refi. Andai
wanita itu tidak bertindak semaunya sendiri, memancing kemarahan Tuan Muda itu
... mungkin akhir hidupnya bisa jauh lebih baik dari ini.
“Mari
ikut kami!” perintah polisi tersebut.
Deny
menganggukkan kepala. Ia bangkit dari lantai, mengikuti langkah beberapa polisi
yang mengawalnya hingga sampai di ruang isolasi yang sudah disediakan oleh
polisi. Ia harus menjalani banyak hari tanpa tahu apa yang terjadi di luar
sana. Tanpa ada seseorang yang peduli dengan kesendiriannya, tanpa keluarga dan
semua hal yang seharusnya bisa ia dapatkan dengan baik di dunia ini.
Deny
menghela napas sambil menatap jam dinding yang terus berputar di ruangannya.
“Alangkah baiknya jika aku punya keluarga. Hidup normal seperti manusia-manusia
yang lain. Uang dan kenikmatan dunia ... bikin aku terlena dan melupakan
semuanya.”
Deny
membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan mata. Ia berharap
hasil pemeriksaan kesehatan dirinya adalah negatif. Walau harus mendekam di
penjara untuk beberapa waktu. Ia masih punya kesempatan untuk menjalani hidup
yang lebih baik.
((Bersambung ...))
Ambil yang baik, buang yang buruk. Jadikan
pelajaran bahwa setiap hal buruk yang kita tanam, akan tetap kita makan sendiri
hasilnya.
Thanks semua atas dukungannya ...!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment