Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 478 : Di Bawah Kendali Mr. Ye

 


Refi meringkuk di atas ranjang rumah sakit sambil memeluk kakinya sendiri. Ia tak menyangka kalau Yeriko benar-benar menyerahkannya pada pria-pria itu. Meski begitu, ia tak pernah menyesali telah melakukan hubungan seks dengan banyak pria. Sejak dulu, ia sudah menikmatinya bersama Deny.

 

“Deny ... kamu di mana?” bisik Refi. Ia telah melakukan banyak kesalahan. Bertindak gegabah seorang diri membuat dirinya justru celaka. Ia pikir, ia akan dengan mudah mengendalikan Yeriko. Nyatanya, Yeriko tetap keukeuh mencintai wanita lain.

 

Refi mengedarkan pandangannya. Ia melepas selang infus yang tersambung ke tubuhnya. Ia kesal dengan keadaannya sendiri saat ini.

 

Refi turun dari tempat tidurnya perlahan, bagian kewanitaannya masih terasa ngilu setelah melayani delapan pria yang ada di dalam ruangan itu. Setiap ia memejamkan mata, ia bisa melihat ekspresi wajahnya sendiri  dari cermin-cermin yang mengelilingi setiap dinding di ruangan itu ... membuat perasaannya sangat sakit dan ia tak pernah ingin memejamkan matanya lagi.

 

Refi meraih gelas air minum yang ada di atas nakas. Matanya tertuju pada remote televisi, ia meraih remote tersebut dan menyalakan televisi yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Artis sensasional, Refi Tata kembali menggemparkan jagat hiburan tanah air. Lama tak terlihat berkarya di dunia hiburan. Refi Tata dikabarkan kalau hidupnya sangat berantakan, kini ia dikabarkan terjerat kasus prostitusi yang diatur oleh Managernya sendiri. Saat ini, manager artis tersebut telah ditahan pihak kepolisian karena kasus penyebaran video pornografi.”

 

Refi terpaku menatap layar televisi yang sedang mengangkat pemberitaan tentang dirinya. Ia tak menyangka kalau Deny sekarang sudah  menjadi tahanan di kepolisian. Perasaannya kini semakin gelisah.

 

“Menurut keterangan polisi, manager artis berinisial D telah mengakui perbuatannya. Ia telah menyebar video aktivitas seks Refi Tata bersama delapan pria di dalam ruang kelas dansa. Juga beberapa video Refi Tata yang menjadi partner seks managernya sendiri.”

 

Suara pembawa acara di dalam televisi itu berhasil membuat perasaan Refi tak karuan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Di luar sana, ia sudah mendapatkan banyak hujatan.

 

“Dari penyelidikan kami, saudara D memiliki kelainan seksual. Dia adalah seorang biseksual yang kemungkinan besar mengidap HIV/AIDS. Saat ini, saudara D sedang menjalani isolasi sehingga belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut kepada pers.” Seorang berseragam polisi ikut memberikan keterangan di televisi.

 

“HIV?” gumam Refi sambil menggigit jarinya. Ia pikir, Deny hanya menjadi partner seks-nya saja. Ternyata, pria itu juga bermain dengan banyak orang. “Gimana sama aku?” tanya Refi sambil menggigit kuku-kukunya.

 

“Aargh ...!” teriak Refi sambil melempar gelas di tangannya ke arah televisi yang masih menyala. “Pasti Yeriko yang udah ngatur ini semua. Dia sudah dikendalikan sama perempuan itu. Aku bakal balas kalian semua!” Refi terus berteriak sambil mengamuk di dalam ruangan itu.

 

Teriakan Refi membuat beberapa perawat yang sedang berjaga langsung masuk ke dalam kamarnya. Kamar tersebut sudah berantakan, perawat yang ingin masuk pun tidak berani mendekati Refi yang sedang mengamuk.

 

“Dokter! Tolong kami! Pasien yang di kamar 101 mengamuk lagi,” tutur seorang suster. Ia mencari bantuan dokter dan perawat pria untuk mengendalikan Refi.

 

“Aargh ...! Kalian semua sialan!” teriak Refi.

 

Dokter dan perawat yang lain langsung masuk. Mereka langsung menangkap Refi yang terus berteriak dan mengamuk di ruangannya.

 

“Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku! Jangan ...!” teriak Refi sambil melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya.

 

Dua orang perawat pria mencoba mengendalikan tubuh Refi yang terus memberontak.

 

“Yuna ... ini semua gara-gara kamu! Hidupku hancur karena kamu! Kamu harus mati!” teriak Refi. Ia tak bisa lagi mengendalikan dirinya sendiri.

 

Dokter yang bertugas langsung menyuntikan obat penenang untuk mengendalikan Refi. “Suster, tolong tanyakan ke bagian Psychiatrist. Bagaimana hasil pemeriksaan pasien ini. Jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan perawatan di sini. Kita bisa rujuk pasien ini ke Menur.”

 

“Baik, Dokter.” Suster itu mengangguk sambil merapikan tempat tidur Refi dan memasang kembali selang infus ke tangannya. Perawat yang lain membantu membersihkan dan merapikan ruangan tersebut.

 

Dokter yang menangani Refi menghela napas. “Kasihan sekali wanita ini. Dia cantik, tapi kondisi mentalnya sangat menyedihkan,” ucapnya sambil menatap wajah Refi yang sudah tertidur.

 

“Suster, tolong hubungi keluarga pasien!” perintah Dokter itu.

 

“Pasien ini tidak ada keluarganya, Dok.”

 

“Apa nggak ada yang bertanggung jawab sama pasien ini?” tanya Dokter itu.

 

“Ada, Dokter. Ada nomer kontak yang ditinggalkan pada kami.”

 

“Oke. Hubungi orang yang bertanggung jawab pada pasien ini. Sepertinya, dia memang harus mendapatkan terapi khusus soal kejiwaannya yang terguncang.”

 

Suster yang ada di sana langsung menganggukkan kepala.

 

Dokter itu mengangguk, kemudian bergegas pergi untuk memeriksa pasien lainnya.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Deny terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terduduk lemas di lantai, menyandarkan punggungnya sambil menatap jeruji besi yang ada di hadapannya.

 

“Tuan Muda sialan! Dia udah jebak aku,” ucap Deny sambil tersenyum sinis. Uang lima ratus juta yang dijanjikan Yeriko, tak pernah masuk ke tangannya. Dalam hitungan jam, ia justru sudah ditangkap polisi. Ponsel miliknya juga sengaja diberikan Yeriko kepada polisi sebagai barang bukti.

 

“Semua orang sudah ada di bawah kendali Tuan Muda itu. Ternyata, dia memang berbahaya,” gumamnya.

 

Setelah mendatangi BAP, Deny masih harus menunggu hasil pemeriksaan kesehatan dirinya. Ia tak bisa mengelak kalau telah melakukan hubungan seks dengan banyak orang. Termasuk dengan pria-pria yang juga memiliki kelainan seksual. Baginya, seks adalah bagian dari kenikmatan dan kesenangan hidupnya.

 

“Permisi, Pak Deny!” sapa seorang berseragam sambil membuka pintu sel Deny.

 

Deny hanya menengadahkan kepalanya. Tak menyahut, hanya menatap polisi yang ada di hadapannya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.

 

“Hari ini, Pak Deny akan menjalani isolasi terlebih dahulu di rumah sakit Polri untuk memastikan kondisi kesehatan Pak Deny sebelum menjalani sidang lanjutan,” tutur polisi yang menghampiri Deny.

 

Deny menganggukkan kepala. Ia tak bisa melawan, menyerahkan hidupnya yang kini hanya bisa diatur oleh orang lain. Semua ini terjadi karena kecerobohan Refi. Andai wanita itu tidak bertindak semaunya sendiri, memancing kemarahan Tuan Muda itu ... mungkin akhir hidupnya bisa jauh lebih baik dari ini.

 

“Mari ikut kami!” perintah polisi tersebut.

 

Deny menganggukkan kepala. Ia bangkit dari lantai, mengikuti langkah beberapa polisi yang mengawalnya hingga sampai di ruang isolasi yang sudah disediakan oleh polisi. Ia harus menjalani banyak hari tanpa tahu apa yang terjadi di luar sana. Tanpa ada seseorang yang peduli dengan kesendiriannya, tanpa keluarga dan semua hal yang seharusnya bisa ia dapatkan dengan baik di dunia ini.

 

Deny menghela napas sambil menatap jam dinding yang terus berputar di ruangannya. “Alangkah baiknya jika aku punya keluarga. Hidup normal seperti manusia-manusia yang lain. Uang dan kenikmatan dunia ... bikin aku terlena dan melupakan semuanya.”

 

Deny membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan mata. Ia berharap hasil pemeriksaan kesehatan dirinya adalah negatif. Walau harus mendekam di penjara untuk beberapa waktu. Ia masih punya kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih baik.

 

((Bersambung ...))

 

Ambil yang baik, buang yang buruk. Jadikan pelajaran bahwa setiap hal buruk yang kita tanam, akan tetap kita makan sendiri hasilnya.

Thanks semua atas dukungannya ...!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas