Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 479 : Skizofrenia

 


Yuna tersenyum bahagia sambil memasangkan dasi Yeriko saat suaminya itu akan pergi ke perusahaan.

 

“Aku senang karena kamu bisa kembali memasangkan dasiku seperti biasanya. Kemarin adalah mimpi buruk bagiku. Aku sangat takut, kamu nggak akan pernah memasangkan dasi buat aku lagi,” tutur Yeriko sambil mengamati wajah Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil meletakkan kedua telapak tangannya di pundak Yeriko. “Nggak ada orang lain yang boleh memasangkan dasi kamu selain aku!” pintanya.

 

“Pasti,” jawab Yeriko. Ia mengulum lembut bibir istrinya penuh kehangatan.

 

 

 

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

 

Dering Sencha memecahkan suasana pagi yang penuh kehangatan. Yeriko langsung menoleh ke arah ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Ia langsung meraih ponsel tersebut, menjawab panggilan dari nomor telepon yang tidak ia kenal.

 

“Halo ...! Selamat pagi ...! Apa benar ini dengan Bapak Yeriko Sanjaya Hadikusuma?” sapa suara wanita di seberang sana.

 

“Iya, benar. Ini siapa?”

 

“Kami dari Rumah Sakit Jiwa Menur. Ingin memberitahukan perihal pasien rujukan kami atas nama Refina Tata Widuri. Apakah benar kalau Bapak yang bertanggung jawab pada pasien tersebut?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna yang berdiri tak jauh darinya. “Iya, benar,” jawabnya pada orang yang ada di seberang telepon.

 

“Kami mohon Bapak bisa segera ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter perihal gangguan kejiwaan yang dialami saudari Refina!”

 

“Baik, Suster. Terima kasih atas informasinya!”

 

“Sama-sama, Pak! Kami tunggu kehadirannya. Mohon maaf, sudah mengganggu waktunya. Selamat pagi ...!”

 

“Pagi ...!” balas Yeriko, ia mematikan panggilan telepon yang masih aktif dan mengantongi ponsel ke saku jasnya.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

“Refi dibawa ke Menur.”

 

“Hah!? Beneran? Tadi subuh, aku baca berita soal gangguan kejiwaan yang dialami Refi. Aku kira cuma hoax aja.”

 

Yeriko mengedikkan bahunya. “Kamu mau ikut, nggak?” tanyanya.

 

Yuna mengangguk. Ia bergegas mengambil sepatu dan tas tangannya. “Kenapa setiap ada masalah sama Refi, selalu kamu yang dicari. Emangnya, dia nggak punya keluarga yang bisa dihubungi?”

 

“Dulu, keluarganya dia di Jakarta. Orang tuanya dia sudah bercerai sejak dia masih kecil. Papanya tinggal di Luar Negeri, mamanya ... pindah-pindah. Nggak ada kontaknya sama sekali,” jawab Yeriko.

 

 “Udah ada pemberitaan kayak gini, keluarga dia nggak ada yang jenguk satu pun?” tanya Yuna sambil mengenakan sepatunya.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Hubungan dia sama mamanya nggak baik.”

 

“Oh. Jadi, yang dibilang Mama Rullyta itu bener?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk. Ia merangkul pinggang Yuna dan melangkah keluar dari kamarnya. Mereka bergegas pergi ke RSJ Menur yang berjarak sekitar tujuh belas menit dari rumah mereka.

 

Sesampainya di Menur, Yeriko langsung menemui dokter yang menangani Refi.

 

“Gimana keadaan Refina, Dokter?” tanya Yeriko begitu berhadapan dengan dokter tersebut.

 

Dokter itu menghela napas. “Keadaannya cukup menyedihkan. Mari, saya ajak kalian untuk melihat keadaannya terlebih dahulu!”

 

Yeriko dan Yuna menganggukkan kepala. Ia mengikuti langkah dokter tersebut yang didampingi oleh dua orang perawat pria yang ikut bersama mereka.

 

Yuna sedikit cemas dengan apa yang dialami oleh Refi. Melihat dokter yang membawa perawat lain, kemungkinan besar kondisi Refi cukup mengkhawatirkan.

 

Dokter tersebut membuka ruangan rawat yang hanya dilengkapi ranjang tidur. Tak ada perabotan lain di dalam ruangan itu untuk menghindari hal-hal yang membahayakan bagi pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.

 

“Hmm ... hmm ... hmm ...” Refi bersenandung sambil melipat kedua kakinya di lantai. Ia duduk menghadap jendela, membelakangi pintu ruangan tersebut.

 

“Hehehe.” Refi tertawa saat melihat awan yang bergerak di langit. Ia melihat awan itu seperti dirinya yang sedang menari di panggung Swan Lake. Menjadi Angsa Putih dan Angsa Hitam yang selalu menjadi kebanggaan dirinya.

 

“Kamu cantik!” tutur Refi sambil menatap awan yang bergerak menghilang dari pandangannya. Ia langsung mengerutkan dahi, bangkit dari tempat duduknya, menghampiri jendela yang dilengkapi tralis besi. Ia berpegangan pada tralis besi tersebut sambil mencari awan yang membawa pergi wajahnya yang sedang tersenyum manis.

 

Refi menghela napas kecewa. Ia melihat bayangan orang di kaca jendela yang ada di hadapannya. “Aargh ...! Lepasin aku! Keluarin aku dari sini! Jangan sentuh aku!” teriaknya sambil berpegangan pada tralis, sedang kakinya terus menendang dinding yang menjadi penyangga jendela tersebut.

 

Yuna langsung memeluk lengan Yeriko sangat erat saat mendengar Refi tiba-tiba berteriak. Ia bersembunyi di belakang tubuh Yeriko karena takut kalau Refi akan melukai dirinya.

 

Dua perawat yang bersama dokter itu, berjaga di sana kalau-kalau Refi mengamuk kembali.

 

“Pasien ini menderita skizofrenia,” tutur dokter sambil menoleh ke arah Yuna dan Yeriko. “Dia mengalami halusinasi, delusi, pikirannya kacau dan perubahan perilaku yang tiba-tiba,” lanjutnya.

 

“Skizofrenia? Apa separah itu, Dok? Apa dia masih bisa diselamatkan?” tanya Yuna.

 

Dokter itu menggelengkan kepalanya. “Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Tapi, kami akan berusaha melakukannya. Sepertinya, dia mengalami trauma yang berkepanjangan dan berat sehingga dia terus berhalusinasi dan juga mengalami delusi.”

 

“Lakukan saja apa yang bisa dokter lakukan!” perintah Yeriko.

 

Refi langsung berbalik begitu ia mendengar suara Yeriko. Ia tersenyum lebar melihat pria yang dicintainya itu berdiri di sana. “Yeriko ...!” panggilnya dengan wajah begitu ceria. “Kamu ke sini buat jemput aku ‘kan? Aku udah selesai latihan nari. Ayo, kita pulang sekarang!” pintanya sambil melangkah mendekati Yeriko.

 

Dua orang perawat yang berjaga, berusaha menghentikan langkah Refi.

 

Yuna mengintip wajah Refi dari belakang punggung Yeriko.

 

Refi melebarkan kelopak matanya begitu ia melihat wajah Yuna yang muncul dari belakang punggung Yeriko. “Kamu ...!?” Ia menunjuk wajah Yuna penuh kebencian. “Aku benci sama kamu! Kamu harus mati!” serunya.

 

Yuna langsung meremas jas Yeriko dan kembali bersembunyi di belakang punggung suaminya itu.

 

“Kamu harus mati!” teriak Refi sambil berusaha melepaskan dirinya dari genggaman dua perawat yang menahannya. “Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup! Kamu harus mati di tanganku sekarang juga!”

 

Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna yang terlihat ketakutan.

 

“Gara-gara kamu, hidupku jadi berantakan! Perempuan kayak kamu nggak pantas buat hidup! Kamu harus mati di tanganku!” seru Refi dengan mata berapi-api.

 

Yuna terus memeluk pinggang suaminya dengan erat. Ia melihat Refi dari ekor matanya. Ia merasa iba melihat keadaan Refi yang begitu menyedihkan. Wajah cantiknya tak terawat lagi. Rambutnya yang panjang dan lembut, kini terlihat tak terawat, kusam dan potongannya tak beraturan.

 

Dokter yang ada di ruangan itu langsung menyuntikkan obat penenang begitu perawat yang memegangi Refi sudah berhasil menidurkan pasien gilanya itu.

 

“Aku nggak akan ngebiarin kalian hidup!” seru Refi saat jarum suntik mulai masuk ke dalam tubuhnya. Hanya dalam hitungan detik, ia langsung tertidur di ranjangnya.

 

Dokter itu menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Refi yang sudah tertidur. “Kami nggak tahu sampai kapan dia akan terus seperti ini. Sepertinya, kehadiran kalian berdua justru membuat suasana hatinya buruk.”

 

“Terus, apa yang bisa kami lakukan supaya dia bisa sembuh, Dok?” tanya Yuna.

 

Dokter itu menoleh ke arah Yeriko dan Yuna bergantian. Ia terlihat tak memiliki harapan untuk kesembuhan Refi.

 

Yuna menggigit bibirnya karena dokter tersebut tak memberikan jawaban yang memuaskan dan menenangkan hatinya.

 

Yeriko mengusap lembut pundak Yuna. “Sudahlah. Nggak usah terlalu dipikirkan!” pintanya. “Saya percaya dokter-dokter di sini akan bekerja dengan baik,” lanjutnya sambil menoleh ke arah dokter yang ada di hadapannya.

 

Dokter itu menganggukkan kepala. “Terima kasih atas kepercayaan dari Pak Ye!” ucapnya.

 

Yeriko tersenyum. “Kalau gitu, kami pamit pulang dulu. Jika terjadi sesuatu dengan pasien ini, Dokter bisa langsung hubungi saya atau asisten saya!” pintanya.

 

“Siap! Siap!”

 

Yeriko tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia merangkul pinggang Yuna dan berlalu pergi dari ruangan tersebut dan bergegas ke parkiran.

 

“Mau ikut ke perusahaan atau mau pulang ke rumah?” tanya Yeriko saat mereka sudah berada di dalam mobil.

 

“Mmh ... ke rumah ayah aja, ya!” pinta Yuna. “Tiga hari yang lalu, harusnya ulang tahun ayah. Tapi aku nggak bisa ngerayain karena aku di rumah sakit terus.”

 

“Ayah ulang tahun? Kenapa nggak bilang sama aku?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ... aku udah ucapin ulang tahun ke ayah waktu dia temenin aku di rumah sakit. Tapi ... aku belum ngerayain. Jadi, aku mau ke rumah ayah hari ini.”

 

“Kamu mau langsung ke rumah ayah, nggak bawa hadiah untuk dia?”

 

“Bawa, dong! Aku udah siapin hadiah untuk ayah.”

 

Yeriko mengerutkan dahi. Ia menatap seluruh tubuh Yuna, kemudian beralih ke kursi di belakang mobilnya. “Mana hadiahnya?”

 

“Hadiahnya cukup cinta. Hahaha,” sahut Yuna.

 

Yeriko menggeleng-gelengkan kepala sambil menyalakan mesin mobilnya.

 

Yuna terkekeh. Ia merogoh benda kecil dari dalam tas tangannya. “Taraa ...!” seru Yuna sambil menunjukkan benda yang sudah ada di telapak tangannya. “Aku bikin ini, khusus buat ayah. Bagus, nggak?”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah tangan Yuna. “Ini apa?” tanya Yeriko sambil mengamati benda yang ada di tangan Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Ini sarung rokok sama korek yang aku rajut sendiri,” sahut Yuna.

 

“Aku nggak dibuatin?” tanya Yeriko.

 

“Kan udah dibuatin sweater,” jawab Yuna sambil memasukkan kembali kado untuk ayahnya ke dalam tas.

 

Yeriko memutar setirnya dan menjalankan mobil keluar dari parkiran rumah sakit tersebut. “Kita ke toko dulu, ya!” pintanya. “Aku nggak enak kalau antar kamu ke sana dan langsung pergi ke perusahaan.”

 

“Emangnya kamu nggak sibuk?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Udah di-handle sama Chandra dan Riyan. Hari nggak ada meeting penting.”

 

“Oh. Oke.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

Yeriko bergegas melajukan mobilnya ke salah satu Man Store, ia ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk ayah mertuanya.

 

((Bersambung ...))

 

Ambil yang baik, buang yang buruk. Jadikan pelajaran bahwa setiap hal buruk yang kita tanam, akan tetap kita makan sendiri hasilnya.

Thanks semua atas dukungannya ...!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas