Yuna
tersenyum bahagia sambil memasangkan dasi Yeriko saat suaminya itu akan pergi
ke perusahaan.
“Aku
senang karena kamu bisa kembali memasangkan dasiku seperti biasanya. Kemarin
adalah mimpi buruk bagiku. Aku sangat takut, kamu nggak akan pernah memasangkan
dasi buat aku lagi,” tutur Yeriko sambil mengamati wajah Yuna.
Yuna
tersenyum sambil meletakkan kedua telapak tangannya di pundak Yeriko. “Nggak
ada orang lain yang boleh memasangkan dasi kamu selain aku!” pintanya.
“Pasti,”
jawab Yeriko. Ia mengulum lembut bibir istrinya penuh kehangatan.
Drrt
... Drrt ... Drrt ...!
Dering
Sencha memecahkan suasana pagi yang penuh kehangatan. Yeriko langsung menoleh
ke arah ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Ia langsung meraih ponsel
tersebut, menjawab panggilan dari nomor telepon yang tidak ia kenal.
“Halo
...! Selamat pagi ...! Apa benar ini dengan Bapak Yeriko Sanjaya Hadikusuma?”
sapa suara wanita di seberang sana.
“Iya,
benar. Ini siapa?”
“Kami
dari Rumah Sakit Jiwa Menur. Ingin memberitahukan perihal pasien rujukan kami
atas nama Refina Tata Widuri. Apakah benar kalau Bapak yang bertanggung jawab
pada pasien tersebut?”
Yeriko
langsung menoleh ke arah Yuna yang berdiri tak jauh darinya. “Iya, benar,”
jawabnya pada orang yang ada di seberang telepon.
“Kami
mohon Bapak bisa segera ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter
perihal gangguan kejiwaan yang dialami saudari Refina!”
“Baik,
Suster. Terima kasih atas informasinya!”
“Sama-sama,
Pak! Kami tunggu kehadirannya. Mohon maaf, sudah mengganggu waktunya. Selamat
pagi ...!”
“Pagi
...!” balas Yeriko, ia mematikan panggilan telepon yang masih aktif dan
mengantongi ponsel ke saku jasnya.
“Ada
apa?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko.
“Refi
dibawa ke Menur.”
“Hah!?
Beneran? Tadi subuh, aku baca berita soal gangguan kejiwaan yang dialami Refi.
Aku kira cuma hoax aja.”
Yeriko
mengedikkan bahunya. “Kamu mau ikut, nggak?” tanyanya.
Yuna
mengangguk. Ia bergegas mengambil sepatu dan tas tangannya. “Kenapa setiap ada
masalah sama Refi, selalu kamu yang dicari. Emangnya, dia nggak punya keluarga
yang bisa dihubungi?”
“Dulu,
keluarganya dia di Jakarta. Orang tuanya dia sudah bercerai sejak dia masih
kecil. Papanya tinggal di Luar Negeri, mamanya ... pindah-pindah. Nggak ada
kontaknya sama sekali,” jawab Yeriko.
“Udah
ada pemberitaan kayak gini, keluarga dia nggak ada yang jenguk satu pun?” tanya
Yuna sambil mengenakan sepatunya.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Hubungan dia sama mamanya nggak baik.”
“Oh.
Jadi, yang dibilang Mama Rullyta itu bener?” tanya Yuna.
Yeriko
mengangguk. Ia merangkul pinggang Yuna dan melangkah keluar dari kamarnya.
Mereka bergegas pergi ke RSJ Menur yang berjarak sekitar tujuh belas menit dari
rumah mereka.
Sesampainya
di Menur, Yeriko langsung menemui dokter yang menangani Refi.
“Gimana
keadaan Refina, Dokter?” tanya Yeriko begitu berhadapan dengan dokter tersebut.
Dokter
itu menghela napas. “Keadaannya cukup menyedihkan. Mari, saya ajak kalian untuk
melihat keadaannya terlebih dahulu!”
Yeriko
dan Yuna menganggukkan kepala. Ia mengikuti langkah dokter tersebut yang
didampingi oleh dua orang perawat pria yang ikut bersama mereka.
Yuna
sedikit cemas dengan apa yang dialami oleh Refi. Melihat dokter yang membawa
perawat lain, kemungkinan besar kondisi Refi cukup mengkhawatirkan.
Dokter
tersebut membuka ruangan rawat yang hanya dilengkapi ranjang tidur. Tak ada
perabotan lain di dalam ruangan itu untuk menghindari hal-hal yang membahayakan
bagi pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.
“Hmm
... hmm ... hmm ...” Refi bersenandung sambil melipat kedua kakinya di lantai.
Ia duduk menghadap jendela, membelakangi pintu ruangan tersebut.
“Hehehe.”
Refi tertawa saat melihat awan yang bergerak di langit. Ia melihat awan itu
seperti dirinya yang sedang menari di panggung Swan Lake. Menjadi Angsa Putih
dan Angsa Hitam yang selalu menjadi kebanggaan dirinya.
“Kamu
cantik!” tutur Refi sambil menatap awan yang bergerak menghilang dari
pandangannya. Ia langsung mengerutkan dahi, bangkit dari tempat duduknya,
menghampiri jendela yang dilengkapi tralis besi. Ia berpegangan pada tralis
besi tersebut sambil mencari awan yang membawa pergi wajahnya yang sedang
tersenyum manis.
Refi
menghela napas kecewa. Ia melihat bayangan orang di kaca jendela yang ada di
hadapannya. “Aargh ...! Lepasin aku! Keluarin aku dari sini! Jangan sentuh
aku!” teriaknya sambil berpegangan pada tralis, sedang kakinya terus menendang
dinding yang menjadi penyangga jendela tersebut.
Yuna
langsung memeluk lengan Yeriko sangat erat saat mendengar Refi tiba-tiba
berteriak. Ia bersembunyi di belakang tubuh Yeriko karena takut kalau Refi akan
melukai dirinya.
Dua
perawat yang bersama dokter itu, berjaga di sana kalau-kalau Refi mengamuk
kembali.
“Pasien
ini menderita skizofrenia,” tutur dokter sambil menoleh ke arah Yuna dan
Yeriko. “Dia mengalami halusinasi, delusi, pikirannya kacau dan perubahan
perilaku yang tiba-tiba,” lanjutnya.
“Skizofrenia?
Apa separah itu, Dok? Apa dia masih bisa diselamatkan?” tanya Yuna.
Dokter
itu menggelengkan kepalanya. “Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Tapi, kami
akan berusaha melakukannya. Sepertinya, dia mengalami trauma yang
berkepanjangan dan berat sehingga dia terus berhalusinasi dan juga mengalami
delusi.”
“Lakukan
saja apa yang bisa dokter lakukan!” perintah Yeriko.
Refi
langsung berbalik begitu ia mendengar suara Yeriko. Ia tersenyum lebar melihat
pria yang dicintainya itu berdiri di sana. “Yeriko ...!” panggilnya dengan
wajah begitu ceria. “Kamu ke sini buat jemput aku ‘kan? Aku udah selesai
latihan nari. Ayo, kita pulang sekarang!” pintanya sambil melangkah mendekati
Yeriko.
Dua
orang perawat yang berjaga, berusaha menghentikan langkah Refi.
Yuna
mengintip wajah Refi dari belakang punggung Yeriko.
Refi
melebarkan kelopak matanya begitu ia melihat wajah Yuna yang muncul dari
belakang punggung Yeriko. “Kamu ...!?” Ia menunjuk wajah Yuna penuh kebencian.
“Aku benci sama kamu! Kamu harus mati!” serunya.
Yuna
langsung meremas jas Yeriko dan kembali bersembunyi di belakang punggung
suaminya itu.
“Kamu
harus mati!” teriak Refi sambil berusaha melepaskan dirinya dari genggaman dua
perawat yang menahannya. “Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup! Kamu harus mati
di tanganku sekarang juga!”
Yeriko
langsung memeluk tubuh Yuna yang terlihat ketakutan.
“Gara-gara
kamu, hidupku jadi berantakan! Perempuan kayak kamu nggak pantas buat hidup!
Kamu harus mati di tanganku!” seru Refi dengan mata berapi-api.
Yuna
terus memeluk pinggang suaminya dengan erat. Ia melihat Refi dari ekor matanya.
Ia merasa iba melihat keadaan Refi yang begitu menyedihkan. Wajah cantiknya tak
terawat lagi. Rambutnya yang panjang dan lembut, kini terlihat tak terawat,
kusam dan potongannya tak beraturan.
Dokter
yang ada di ruangan itu langsung menyuntikkan obat penenang begitu perawat yang
memegangi Refi sudah berhasil menidurkan pasien gilanya itu.
“Aku
nggak akan ngebiarin kalian hidup!” seru Refi saat jarum suntik mulai masuk ke
dalam tubuhnya. Hanya dalam hitungan detik, ia langsung tertidur di ranjangnya.
Dokter
itu menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Refi yang sudah tertidur. “Kami
nggak tahu sampai kapan dia akan terus seperti ini. Sepertinya, kehadiran
kalian berdua justru membuat suasana hatinya buruk.”
“Terus,
apa yang bisa kami lakukan supaya dia bisa sembuh, Dok?” tanya Yuna.
Dokter
itu menoleh ke arah Yeriko dan Yuna bergantian. Ia terlihat tak memiliki
harapan untuk kesembuhan Refi.
Yuna
menggigit bibirnya karena dokter tersebut tak memberikan jawaban yang memuaskan
dan menenangkan hatinya.
Yeriko
mengusap lembut pundak Yuna. “Sudahlah. Nggak usah terlalu dipikirkan!”
pintanya. “Saya percaya dokter-dokter di sini akan bekerja dengan baik,”
lanjutnya sambil menoleh ke arah dokter yang ada di hadapannya.
Dokter
itu menganggukkan kepala. “Terima kasih atas kepercayaan dari Pak Ye!” ucapnya.
Yeriko
tersenyum. “Kalau gitu, kami pamit pulang dulu. Jika terjadi sesuatu dengan
pasien ini, Dokter bisa langsung hubungi saya atau asisten saya!” pintanya.
“Siap!
Siap!”
Yeriko
tersenyum sambil mengangguk kecil. Ia merangkul pinggang Yuna dan berlalu pergi
dari ruangan tersebut dan bergegas ke parkiran.
“Mau
ikut ke perusahaan atau mau pulang ke rumah?” tanya Yeriko saat mereka sudah
berada di dalam mobil.
“Mmh
... ke rumah ayah aja, ya!” pinta Yuna. “Tiga hari yang lalu, harusnya ulang
tahun ayah. Tapi aku nggak bisa ngerayain karena aku di rumah sakit terus.”
“Ayah
ulang tahun? Kenapa nggak bilang sama aku?” tanya Yeriko.
“Mmh
... aku udah ucapin ulang tahun ke ayah waktu dia temenin aku di rumah sakit.
Tapi ... aku belum ngerayain. Jadi, aku mau ke rumah ayah hari ini.”
“Kamu
mau langsung ke rumah ayah, nggak bawa hadiah untuk dia?”
“Bawa,
dong! Aku udah siapin hadiah untuk ayah.”
Yeriko
mengerutkan dahi. Ia menatap seluruh tubuh Yuna, kemudian beralih ke kursi di
belakang mobilnya. “Mana hadiahnya?”
“Hadiahnya
cukup cinta. Hahaha,” sahut Yuna.
Yeriko
menggeleng-gelengkan kepala sambil menyalakan mesin mobilnya.
Yuna
terkekeh. Ia merogoh benda kecil dari dalam tas tangannya. “Taraa ...!” seru
Yuna sambil menunjukkan benda yang sudah ada di telapak tangannya. “Aku bikin
ini, khusus buat ayah. Bagus, nggak?”
Yeriko
langsung menoleh ke arah tangan Yuna. “Ini apa?” tanya Yeriko sambil mengamati
benda yang ada di tangan Yuna.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Ini sarung rokok sama korek yang aku rajut sendiri,”
sahut Yuna.
“Aku
nggak dibuatin?” tanya Yeriko.
“Kan
udah dibuatin sweater,” jawab Yuna sambil memasukkan kembali kado untuk ayahnya
ke dalam tas.
Yeriko
memutar setirnya dan menjalankan mobil keluar dari parkiran rumah sakit
tersebut. “Kita ke toko dulu, ya!” pintanya. “Aku nggak enak kalau antar kamu
ke sana dan langsung pergi ke perusahaan.”
“Emangnya
kamu nggak sibuk?” tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Udah di-handle sama Chandra dan Riyan. Hari nggak ada
meeting penting.”
“Oh.
Oke.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.
Yeriko
bergegas melajukan mobilnya ke salah satu Man Store, ia ingin memberikan hadiah
ulang tahun untuk ayah mertuanya.
((Bersambung ...))
Ambil yang baik, buang yang buruk. Jadikan
pelajaran bahwa setiap hal buruk yang kita tanam, akan tetap kita makan sendiri
hasilnya.
Thanks semua atas dukungannya ...!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment