Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 477 : Hot Trending (Refi Tidur dengan Delapan Pria)

 


Malam harinya, setelah Yuna keluar dari rumah sakit ... Yeriko sengaja mengajak sahabat-sahabatnya untuk makan malam bersama di rumahnya. Merayakan kembalinya Yuna dan bayinya ke rumah itu dengan selamat.

 

“Kakak Ipar, makan yang banyak ya!” pinta Lutfi sambil meletakkan beberapa potong daging ke atas piring Yuna.

 

“Lut, aku udah makan banyak banget.”

 

“Nggak papa. Kan, Kakak Ipar berbadan dua, yang makan juga orang dua. Jadi, harus porsi double.”

 

“Kalian ini senang kalau aku gemuk banget?” tanya Yuna.

 

Lutfi terkekeh. “Biar kayak Doraemon. Makin lucu,” ucapnya sambil mencubit pipi Yuna.

 

Yeriko hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Lutfi.

 

“Yer, kali ini si Refi udah keterlaluan. Kalau masih dibiarin, apa nggak makin berbahaya?” tanya Jheni.

 

“Jhen, kamu tenang aja! Kita nggak mungkin ngelepasin dia,” sahut Lutfi.

 

“Tapi, kalian nggak laporin dia ke polisi,” tutur Jheni tak bersemangat.

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak mendengar ucapan Jheni. “Ada yang lebih menarik dari itu.”

 

Jheni menatap orang di meja makan itu satu per satu. “Aku nggak paham rencana kalian.”

 

“Yeriko labih suka melihat orang hidup segan mati tak mau. Penjara terlalu mudah untuk dilalui,” bisik Chandra di telinga Jheni.

 

Jheni mengangkat kedua alisnya. Ia masih tak mengerti dengan rencana pria-pria yang ada di hadapannya itu.

 

Yuna menggigit bibir saat ruangan tiba-tiba hening. Satria yang terbiasa bercanda di meja makan, malah fokus menikmati udang goreng di hadapannya tanpa mengeluarkan suara.

 

Ada begitu banyak orang di meja makan. Tapi yang terdengar hanya suara piring yang beradu dengan sendok. Keadaan canggung seperti ini, membuat Yuna mencurigai hal yang tidak-tidak. Akhirnya, ia menoleh ke arah Yeriko dan menatapnya selama beberapa detik.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang mendapati tatapan Yuna penuh tanya.

 

“Kamu nggak berbuat hal kelewat batas ‘kan?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku cuma ngurung dia selama seminggu. Sama seperti yang dia lakuin ke kamu. Udah aku lepasin.”

 

“What!? Dilepasin gitu aja?” tanya Jheni.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kamu bermurah hati banget sama cewek kayak gitu. Mentang-mentang masih mantan pacar,” celetuk Jheni.

 

“Aku udah ngurung dia seminggu tanpa makanan. Aku rasa, itu udah cukup,” tutur Yeriko.

 

“Akan ada kejutan yang lebih besar lagi,” sambung Lutfi. “Kalian tunggu aja!”

 

Yuna tersenyum. “Ya udah, yang penting dia udah dikasih pelajaran. Asal jangan sampai kelewat batas aja. Mudahan, dia sadar dan kembali ke jalan yang benar.”

 

Yeriko tersenyum bangga sambil mengusap lembut kepala Yuna. Ia sangat bahagia memiliki wanita yang hatinya begitu mulia. Jika bukan Yuna yang ada di sisinya, mungkin ia akan selamanya menjadi monster yang tak bisa dikendalikan.

 

“Udahlah, masalah Refi ... kita lupakan saja!” pinta Yeriko. Ia menoleh ke arah Satria yang sejak tadi tak bicara. “Persiapan untuk ulang tahun TNI-AD gimana?”

 

Satria langsung mendongakkan kepalanya. “Kamu tanya aku?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kamu kira nanya burung? Siapa lagi di sini yang masih aktif di angkatan kalo bukan kamu,” sahut Lutfi.

 

Satria tertawa kecil. Ia menyuap makanan terakhir di piringnya. “Kalian mau ikutan, nggak?”

 

“Apa?”

 

“Ngerayain ulang tahun angkatan.”

 

“Di kompi? Kita mah bukan anggota kompi lagi,” sahut Lutfi.

 

Satria terkekeh. “Masih ada kakek Ali. Dia selalu hadir di acara ulang tahun TNI-AD.”

 

“Kalau jadwal nggak bentrok, ntar aku dampingi kakek,” ucap Yeriko sambil menelungkupkan sendok di atas piringnya yang sudah kosong.

 

Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Aku tahu, kalian semua sudah jadi pengusaha. Sibuk banget. Nggak usah ikut acara resmi. Aku undang kalian makan-makan di rumah, gimana?”

 

“Wah ... boleh, tuh! Aku suka kalau makan-makan,” sahut Yuna dengan wajah berbinar.

 

“Apalagi gratis. Yuna ‘kan suka yang gratisan!” sambar Jheni.

 

“Hahaha.”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna yang duduk di sampingnya. Ia merasa tenang melihat istrinya sudah kembali ceria.

 

Usai makan malam bersama, mereka berkumpul di teras belakang seperti biasa.

 

Yeriko duduk di atas karpet bulu sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia memeluk Yuna seperti memeluk boneka beruang kesayangan.

 

“Yun, cek pencarian teratas google, deh!” seru Jheni sambil menatap layar ponselnya.

 

“Ada apa?” tanya Yuna sambil meraih ponsel yang ia letakkan di sampingnya.

 

“Bentar. Baru masuk ke emailku kalau nama Refi ada di trending topik. Aku langganan Google Trend. Biar tahu informasi terhangat masa kini,” jawab Jheni sambil mengusap layar ponselnya.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil saat Yuna membuka layar ponselnya. Ia sengaja membiarkan istrinya mengetahui apa yang sudah terjadi pada Refi.

 

“Astaga!” seru Jheni.

 

“Kenapa?” tanya Icha.

 

“Buka di handphone kamu!” sahut Jheni tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Ia terlihat fokus memerhatikan gambar-gambar dan berita yang sudah tersebar dan tak terkendali.

 

“Aku nggak bawa hape,” sahut Icha.

 

“Pake hape Lutfi!”

 

“Lihat di hape kamu aja!” pinta Icha.

 

“Kenapa? Nggak berani pakai hape pacar?” tanya Jheni sambil menatap Icha.

 

“Apaan sih, kamu, Jhen?” sela Lutfi sambil merogoh ponsel dari sakunya dan memberikan ke tangan Icha. “Pake aja!”

 

Jheni tertawa kecil. “Kali aja kamu nggak kasih hape ke Icha. Selingkuhanmu banyak, Lut.”

 

“Nggak usah ngomporin, Jhen! Icha udah nggak ngaruh kalo kamu komporin kayak gitu.”

 

“Kamu aja yang nggak tahu kalau dia sering nangis di pojokan,” sahut Jheni.

 

“Iih ... nggak, Jhen. Aku nggak pernah gitu. Dulu aja, sekarang mah udah kebal,” tutur Icha.

 

“Iya. Udah kebal dia, Jhen. Chat dari artis-artis yang kegatelan itu juga dia yang balasin. Hahaha.” Lutfi tergelak sambil memeluk Icha yang duduk di sampingnya.

 

“Kuat banget hatimu, Cha. Kalo aku jadi kamu, udah bikin candi Prambanan pindah ke Borobudur,” sahut Jheni.

 

“Hahaha. Makanya, aku nggak mau punya pacar kayak kamu! Chandra aja yang terlalu sabar ngadepin cewek barbar kayak kamu.”

 

“Aku nggak barbar! Sembarangan kalo ngomong!” sahut Jheni.

 

“Ini ... apa namanya kalo nggak barbar?”

 

Jheni mencebik ke arah Lutfi. Ia kembali menatap layar ponselnya. “Ini beneran si Refi?”

 

“Bukan, itu Reptil!” sahut Lutfi.

 

“Bagus memang kalau namanya diganti jadi Reptilia. Refina ... nama itu terlalu bagus buat kelakuannya yang busuk,” tutur Jheni.

 

“Hahaha.”

 

“Kalian bertiga tenang banget?” tanya Jheni sambil menatap Chandra, Lutfi, Yeriko dan Satria bergantian. “Jangan-jangan, kalian terlibat dalam masalah ini ya?”

 

“Sembarangan nuduh orang! Nggak ada buktinya,” sahut Lutfi.

 

“Lihat aja! Yang upload video itu kan si Deny. Managernya Refi sendiri,” tutur Chandra yang merangkul pundak Jheni, ikut memerhatikan layar ponsel Jheni.

 

“Kok, managernya Refi yang sebarin video porno kayak gini? Emangnya, dia nggak kena pelanggaran undang-undang pornografi?”

 

 Chandra mengedikkan bahu, ia memainkan alisnya sambil menatap Yeriko yang menyembunyikan senyumannya.

 

“Kok, si Refi kayak gini ya?” gumam Yuna sambil melihat judul berita yang sudah tersebar luas.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Lama tak terlihat, artis cantik Refina tidur dengan delapan pria,” ucapnya sambil membaca berita.

 

Yuna langsung mendongakkan kepala menatap wajah Yeriko yang ada di atasnya. “Kamu udah tahu soal ini?”

 

Yeriko mengangguk kecil. “Biarkan aja!”

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Refi melakukan perbuatan sekotor itu. “Bukannya dia cinta banget sama Yeriko? Kenapa dia bisa tidur sama laki-laki lain? Apalagi sampai delapan orang kayak gini, nggak bisa ngebayangin ...,” batin Yuna sambil bergidik.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang menyadari gestur tubuh istrinya.

 

“Nggak papa. Aku cuma lagi ngebayangin aja dia main sama delapan cowok ...”

 

Yeriko langsung memutar kepala Yuna agar menatap ke arahnya. “Kamu bayangin apa? Mulai nakal!” dengusnya sambil mengetuk kening Yuna.

 

“Iih ... bukan ngebayangin aku. Ngebayangin si Refi itu loh,” sahut Yuna.

 

“Nggak usah dibayangin, Yun! Lihatnya aja aku jijik. Bisa-bisanya kamu malah ngebayangin!” sahut Jheni.

 

Yuna langsung melempar boneka yang ada di dekatnya ke wajah Jheni. “Gayamu! Komikmu banyak konten dewasanya. Malah digambar pula!”

 

“Beda, dong! Aku ngegambar jadi duit. Kalo kamu, bayangin doang ... ntar jadi jerawat!” sahut Jheni sambil tertawa kecil.

 

Yuna mencebik ke arah Jheni. Mereka terus memerhatikan pemberitaan yang sedang panas di internet. Bukan hanya tulisan-tulisan dari reporter gosip yang membuat suasana memanas. Tapi juga komentar dari netizen yang terus-menerus menyerang Refi lewat media sosial. Mereka tak henti-hentinya mengutuk perbuatan Refi yang sangat menjijikkan itu.

 

((Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk dan baper bertubi-tubi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas