Malam
harinya, setelah Yuna keluar dari rumah sakit ... Yeriko sengaja mengajak
sahabat-sahabatnya untuk makan malam bersama di rumahnya. Merayakan kembalinya
Yuna dan bayinya ke rumah itu dengan selamat.
“Kakak
Ipar, makan yang banyak ya!” pinta Lutfi sambil meletakkan beberapa potong
daging ke atas piring Yuna.
“Lut,
aku udah makan banyak banget.”
“Nggak
papa. Kan, Kakak Ipar berbadan dua, yang makan juga orang dua. Jadi, harus
porsi double.”
“Kalian
ini senang kalau aku gemuk banget?” tanya Yuna.
Lutfi
terkekeh. “Biar kayak Doraemon. Makin lucu,” ucapnya sambil mencubit pipi Yuna.
Yeriko
hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Lutfi.
“Yer,
kali ini si Refi udah keterlaluan. Kalau masih dibiarin, apa nggak makin
berbahaya?” tanya Jheni.
“Jhen,
kamu tenang aja! Kita nggak mungkin ngelepasin dia,” sahut Lutfi.
“Tapi,
kalian nggak laporin dia ke polisi,” tutur Jheni tak bersemangat.
“Hahaha.”
Lutfi tergelak mendengar ucapan Jheni. “Ada yang lebih menarik dari itu.”
Jheni
menatap orang di meja makan itu satu per satu. “Aku nggak paham rencana
kalian.”
“Yeriko
labih suka melihat orang hidup segan mati tak mau. Penjara terlalu mudah untuk
dilalui,” bisik Chandra di telinga Jheni.
Jheni
mengangkat kedua alisnya. Ia masih tak mengerti dengan rencana pria-pria yang
ada di hadapannya itu.
Yuna
menggigit bibir saat ruangan tiba-tiba hening. Satria yang terbiasa bercanda di
meja makan, malah fokus menikmati udang goreng di hadapannya tanpa mengeluarkan
suara.
Ada
begitu banyak orang di meja makan. Tapi yang terdengar hanya suara piring yang
beradu dengan sendok. Keadaan canggung seperti ini, membuat Yuna mencurigai hal
yang tidak-tidak. Akhirnya, ia menoleh ke arah Yeriko dan menatapnya selama
beberapa detik.
“Kenapa?”
tanya Yeriko yang mendapati tatapan Yuna penuh tanya.
“Kamu
nggak berbuat hal kelewat batas ‘kan?” tanya Yuna.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku cuma ngurung dia selama seminggu. Sama seperti yang
dia lakuin ke kamu. Udah aku lepasin.”
“What!?
Dilepasin gitu aja?” tanya Jheni.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Kamu
bermurah hati banget sama cewek kayak gitu. Mentang-mentang masih mantan
pacar,” celetuk Jheni.
“Aku
udah ngurung dia seminggu tanpa makanan. Aku rasa, itu udah cukup,” tutur
Yeriko.
“Akan
ada kejutan yang lebih besar lagi,” sambung Lutfi. “Kalian tunggu aja!”
Yuna
tersenyum. “Ya udah, yang penting dia udah dikasih pelajaran. Asal jangan
sampai kelewat batas aja. Mudahan, dia sadar dan kembali ke jalan yang benar.”
Yeriko
tersenyum bangga sambil mengusap lembut kepala Yuna. Ia sangat bahagia memiliki
wanita yang hatinya begitu mulia. Jika bukan Yuna yang ada di sisinya, mungkin
ia akan selamanya menjadi monster yang tak bisa dikendalikan.
“Udahlah,
masalah Refi ... kita lupakan saja!” pinta Yeriko. Ia menoleh ke arah Satria
yang sejak tadi tak bicara. “Persiapan untuk ulang tahun TNI-AD gimana?”
Satria
langsung mendongakkan kepalanya. “Kamu tanya aku?”
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Kamu
kira nanya burung? Siapa lagi di sini yang masih aktif di angkatan kalo bukan
kamu,” sahut Lutfi.
Satria
tertawa kecil. Ia menyuap makanan terakhir di piringnya. “Kalian mau ikutan,
nggak?”
“Apa?”
“Ngerayain
ulang tahun angkatan.”
“Di
kompi? Kita mah bukan anggota kompi lagi,” sahut Lutfi.
Satria
terkekeh. “Masih ada kakek Ali. Dia selalu hadir di acara ulang tahun TNI-AD.”
“Kalau
jadwal nggak bentrok, ntar aku dampingi kakek,” ucap Yeriko sambil
menelungkupkan sendok di atas piringnya yang sudah kosong.
Satria
mengangguk-anggukkan kepala. “Aku tahu, kalian semua sudah jadi pengusaha.
Sibuk banget. Nggak usah ikut acara resmi. Aku undang kalian makan-makan di
rumah, gimana?”
“Wah
... boleh, tuh! Aku suka kalau makan-makan,” sahut Yuna dengan wajah berbinar.
“Apalagi
gratis. Yuna ‘kan suka yang gratisan!” sambar Jheni.
“Hahaha.”
Yeriko
tersenyum menatap Yuna yang duduk di sampingnya. Ia merasa tenang melihat
istrinya sudah kembali ceria.
Usai
makan malam bersama, mereka berkumpul di teras belakang seperti biasa.
Yeriko
duduk di atas karpet bulu sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia
memeluk Yuna seperti memeluk boneka beruang kesayangan.
“Yun,
cek pencarian teratas google, deh!” seru Jheni sambil menatap layar ponselnya.
“Ada
apa?” tanya Yuna sambil meraih ponsel yang ia letakkan di sampingnya.
“Bentar.
Baru masuk ke emailku kalau nama Refi ada di trending topik. Aku langganan
Google Trend. Biar tahu informasi terhangat masa kini,” jawab Jheni sambil
mengusap layar ponselnya.
Yeriko
hanya tersenyum kecil saat Yuna membuka layar ponselnya. Ia sengaja membiarkan
istrinya mengetahui apa yang sudah terjadi pada Refi.
“Astaga!”
seru Jheni.
“Kenapa?”
tanya Icha.
“Buka
di handphone kamu!” sahut Jheni tanpa mengalihkan pandangan dari layar
ponselnya. Ia terlihat fokus memerhatikan gambar-gambar dan berita yang sudah
tersebar dan tak terkendali.
“Aku
nggak bawa hape,” sahut Icha.
“Pake
hape Lutfi!”
“Lihat
di hape kamu aja!” pinta Icha.
“Kenapa?
Nggak berani pakai hape pacar?” tanya Jheni sambil menatap Icha.
“Apaan
sih, kamu, Jhen?” sela Lutfi sambil merogoh ponsel dari sakunya dan memberikan
ke tangan Icha. “Pake aja!”
Jheni
tertawa kecil. “Kali aja kamu nggak kasih hape ke Icha. Selingkuhanmu banyak,
Lut.”
“Nggak
usah ngomporin, Jhen! Icha udah nggak ngaruh kalo kamu komporin kayak gitu.”
“Kamu
aja yang nggak tahu kalau dia sering nangis di pojokan,” sahut Jheni.
“Iih
... nggak, Jhen. Aku nggak pernah gitu. Dulu aja, sekarang mah udah kebal,”
tutur Icha.
“Iya.
Udah kebal dia, Jhen. Chat dari artis-artis yang kegatelan itu juga dia yang
balasin. Hahaha.” Lutfi tergelak sambil memeluk Icha yang duduk di sampingnya.
“Kuat
banget hatimu, Cha. Kalo aku jadi kamu, udah bikin candi Prambanan pindah ke
Borobudur,” sahut Jheni.
“Hahaha.
Makanya, aku nggak mau punya pacar kayak kamu! Chandra aja yang terlalu sabar
ngadepin cewek barbar kayak kamu.”
“Aku
nggak barbar! Sembarangan kalo ngomong!” sahut Jheni.
“Ini
... apa namanya kalo nggak barbar?”
Jheni
mencebik ke arah Lutfi. Ia kembali menatap layar ponselnya. “Ini beneran si
Refi?”
“Bukan,
itu Reptil!” sahut Lutfi.
“Bagus
memang kalau namanya diganti jadi Reptilia. Refina ... nama itu terlalu bagus
buat kelakuannya yang busuk,” tutur Jheni.
“Hahaha.”
“Kalian
bertiga tenang banget?” tanya Jheni sambil menatap Chandra, Lutfi, Yeriko dan
Satria bergantian. “Jangan-jangan, kalian terlibat dalam masalah ini ya?”
“Sembarangan
nuduh orang! Nggak ada buktinya,” sahut Lutfi.
“Lihat
aja! Yang upload video itu kan si Deny. Managernya Refi sendiri,” tutur Chandra
yang merangkul pundak Jheni, ikut memerhatikan layar ponsel Jheni.
“Kok,
managernya Refi yang sebarin video porno kayak gini? Emangnya, dia nggak kena
pelanggaran undang-undang pornografi?”
Chandra
mengedikkan bahu, ia memainkan alisnya sambil menatap Yeriko yang
menyembunyikan senyumannya.
“Kok,
si Refi kayak gini ya?” gumam Yuna sambil melihat judul berita yang sudah
tersebar luas.
Jheni
menganggukkan kepala. “Lama tak terlihat, artis cantik Refina tidur dengan
delapan pria,” ucapnya sambil membaca berita.
Yuna
langsung mendongakkan kepala menatap wajah Yeriko yang ada di atasnya. “Kamu
udah tahu soal ini?”
Yeriko
mengangguk kecil. “Biarkan aja!”
Yuna
menggigit bibirnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Refi melakukan
perbuatan sekotor itu. “Bukannya dia cinta banget sama Yeriko? Kenapa dia bisa
tidur sama laki-laki lain? Apalagi sampai delapan orang kayak gini, nggak bisa
ngebayangin ...,” batin Yuna sambil bergidik.
“Kenapa?”
tanya Yeriko yang menyadari gestur tubuh istrinya.
“Nggak
papa. Aku cuma lagi ngebayangin aja dia main sama delapan cowok ...”
Yeriko
langsung memutar kepala Yuna agar menatap ke arahnya. “Kamu bayangin apa? Mulai
nakal!” dengusnya sambil mengetuk kening Yuna.
“Iih
... bukan ngebayangin aku. Ngebayangin si Refi itu loh,” sahut Yuna.
“Nggak
usah dibayangin, Yun! Lihatnya aja aku jijik. Bisa-bisanya kamu malah
ngebayangin!” sahut Jheni.
Yuna
langsung melempar boneka yang ada di dekatnya ke wajah Jheni. “Gayamu! Komikmu
banyak konten dewasanya. Malah digambar pula!”
“Beda,
dong! Aku ngegambar jadi duit. Kalo kamu, bayangin doang ... ntar jadi
jerawat!” sahut Jheni sambil tertawa kecil.
Yuna
mencebik ke arah Jheni. Mereka terus memerhatikan pemberitaan yang sedang panas
di internet. Bukan hanya tulisan-tulisan dari reporter gosip yang membuat
suasana memanas. Tapi juga komentar dari netizen yang terus-menerus menyerang
Refi lewat media sosial. Mereka tak henti-hentinya mengutuk perbuatan Refi yang
sangat menjijikkan itu.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti
terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk
dan baper bertubi-tubi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment