Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 476 : Serangan Psikis untuk Refi

 


Di dalam ruangan yang dikelilingi kaca, Refi bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya saat ia bercinta dengan delapan orang yang ada di sana. Meski berpikir untuk melarikan diri, ia tak akan bisa melakukannya hingga pria-pria di dalam sana merasa terpuaskan.

 

“Yeriko ...!” panggil Refi lirih saat ia sudah tak berdaya. Ia terlentang di atas matras tanpa sehelai kain di tubuhnya. Keringat dan air mani membanjiri seluruh tubuhnya. Ia menatap langit-langit ruangan yang penuh dengan ilustrasi ballerina. Air matanya mulai menetes. Ia tak menyangka kalau Yeriko menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati banyak pria.

 

Pria yang sudah puas menikmati tubuh Bellina, kembali mengenakan pakaiannya dan keluar dari ruangan itu satu per satu.

 

“Yer, kenapa kamu tega ngelakuin ini ke aku? Kamu bener-bener nggak cinta sama aku lagi? Semuanya karena Yuna ... karena dia, kamu jadi monster,” bisik Refi sambil menoleh ke arah pintu ruangan yang sudah terbuka.

 

Refi memejamkan mata perlahan. Di kegelapan, ia bisa melihat bayangannya sendiri bercinta dengan Deny juga dengan delapan pria itu.

 

“Aku benci mereka semua!” seru Refi. Ia berguling di atas matras, menelungkupkan tubuhnya sambil menatap wajahnya yang terpantul di cermin.

 

“Aargh ...!” Refi berteriak melihat wajahnya sendiri. Ia merangkak menghampiri meja kecil yang ada di ruangan itu dan meraih tempat lilin yang bertengger di atasnya.

 

 

 

PRANG ...!

 

“Aku benci sama kalian!” teriak Refi sambil memukul dinding berlapis cermin itu hingga pecah berkeping-keping, bahkan melukai tubuhnya sendiri. Ia terus menerus berteriak di dalam ruangan itu sambil memecahkan semua kaca yang ada di sana.

 

Riyan yang melihat tingkah Refi dari CCTV, langsung memerintahkan orang-orangnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, mengamankan Refi agar tidak melukai dirinya sendiri dengan pecahan kaca yang sudah berserakan di lantai. Ia segera membawa Refi ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

“Yun, semoga aja si Yeriko ngasih pelajaran buat Refi. Aku geregetan banget sama dia,” tutur Jheni sambil membantu mengemas barang-barang milik Yuna.

 

Yuna tersenyum kecil. “Yeriko pasti ngasih pelajaran buat Refi. Tapi, tergantung sama Refinya juga, sih. Kalo orang gila kan susah dikasih tahu, Jhen.”

 

“Hahaha. Iya, bener. Sama aja kayak kita nunjukkin jarum jam muternya ke kanan, dia bakal bilang ngiri terus. Gitu tuh, gila karena kebanyakan ngiri sama orang!” sahut Jheni sambil tergelak.

 

“Kira-kira ... Yeriko bakal apain Refi ya?” gumam Yuna.

 

“Mmh ... kita tebak-tebakan!”

 

“Apa?” tanya Yuna.

 

“Laporin ke polisi.”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Dia nolak buat laporin Refi ke polisi.”

 

“Hah!? Yeriko udah nggak waras juga, nih. Dia nggak mau laporin Refi ke polisi. Kalo dia keliaran bebas dan nyakitin kamu lagi, gimana?”

 

“Kamu tahu sendiri suamiku gimana. Dia punya cara sendiri buat ngadepin Refi. Toh, sebelumnya mereka saling mengenal dan dekat. Yeriko pasti tahu gimana ngadepin mantan pacarnya yang gila itu.”

 

“Apa karena mantan pacar? Jadi, Yeriko nggak tega buat ngelaporin Refi ke polisi?” tanya Jheni.

 

Yuna terdiam. Ia tak ingin menanggapi pertanyaan Jheni. Ia menyadari kalau dia sendiri yang meminta Yeriko untuk mengasihani Refi. Baginya, Refi hanya tersesat. Jika ia bisa membawanya kembali menjadi wanita yang baik, itu akan lebih mulia.

 

Jheni menghela napas sambil menoleh ke arah Yuna. “Sorry, Yun! Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Aku nggak sedih, kok. Aku lagi mikir aja gimana caranya bikin Refi tobat. Dia itu kan cantik dan berbakat juga. Kenapa harus menjalani kehidupan yang salah?”

 

“Argh, kamu  ini ... kamu tuh korban di sini. Kenapa kamu malah mikirin nasib orang yang udah nyelakain kamu, Yun?”

 

“Aku baik-baik aja, Jhen. Aku masih waras dan sehat. Aku kasihan aja sama Refi. Dia udah nggak waras gitu. Takutnya, ntar gila beneran. Kasihan kalau cantik-cantik, tapi gila.”

 

“Biar aja dia gila!” sahut Jheni kesal.

 

“Kasihan, belum nikah udah gila,” tutur Yuna sambil menahan tawa.

 

“Hahaha.”

 

Jheni dan Yuna terus bercanda sambil mengemasi barang-barang Yuna karena hari ini, Yuna sudah boleh keluar dari rumah sakit.

 

“Yeriko jemput kamu ‘kan?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Masih di jalan.”

 

“Lama banget?”

 

“Kenapa? Kamu mau antar aku pulang?” tanya Yuna.

 

Jheni mengedikkan bahunya. “Nggak, ah. Kalo diculik lagi, gimana?”

 

“Emangnya ada yang mau nyulik orang kayak kamu?” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Nggak ada. Tapi, yang mau nyulik kamu, banyak. Bisa aja di luar sana ada orang yang mau memeras kekayaan suami kamu. Huft, jadi orang kaya itu susah juga ya? Aku pikir, hidup mewah itu enak.”

 

Yuna terkekeh geli melihat tingkah Jheni. “Emang enak hidup mewah, Jhen. Bukannya Chandra udah ngasih kamu hidup yang mewah juga?”

 

“Idih, aku cari duit sendiri, Yun!”

 

“Chandra kan banyak duit juga, Jhen. Kalo kalian berdua nikah, auto kaya!”

 

“Kaya apaan? Masih kaya suami kamu, Yun.”

 

Yuna terkekeh. “Huu ... belum aku ambil alih perusahaan ayahku,” sahutnya penuh percaya diri.

 

“Eh, kamu beneran mau ambil alih perusahaan ayah kamu?”

 

“Mmh ... iya, nggak ya?” gumam Yuna.

 

“Iih ... kamu jangan bikin aku penasaran. Yeriko kan bisa ambil alih perusahaan Lian itu dengan mudah.”

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan Jheni.

 

Jheni mengehela napas. “Emang ya, kalo takdirnya udah jadi Tuan Puteri, bakal tetep jadi Tuan Puteri walau banyak orang yang nggak suka dan berusaha merebut tahta.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Kamu abis nonton apa?”

 

“Kenapa tanya gitu?”

 

“Biasanya, kamu suka ngomong aneh-aneh kalau abis nonton sesuatu.”

 

“Aku lagi suka nonton drama kolosal akhir-akhir ini. Sekarang, lagi nge-hits drama Pangeran atau Tuan Puteri gitu. Kayak kamu sama Yeriko.”

 

“Awas kalau sampe nulis tentang aku dan Yeriko, ya!” dengus Yuna.

 

Jheni terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Nggak papa, kali. Kan bagus buat konten aku, Yun. Itung-itung ... bantu sahabat kamu sendiri.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Boleh, asal royaltinya dibagi ke aku.”

 

“Astaga! Kamu udah kaya pun ... masih aja mata duitan!” dengus Jheni.

 

“Hahaha. Karena aku mata duitan, makanya cepet kaya.”

 

“Kamu nikah sama Yeriko bukan karena duitnya doang ‘kan?”

 

“Iih ... sembarangan kalo ngomong!” sahut Yuna. “Perempuan itu harus mata duitan biar mandiri, bukan ngandalin uang pacar atau suami!”

 

“Kayak aku ‘kan?” tanya Jheni sambil mengerdipkan matanya.

 

“Iya, aja deh. Soalnya, aku yang ngandalin duit suami. Hahaha.”

 

“Dasar! Ngatain diri sendiri!” dengus Jheni sambil mengacak rambut Yuna.

 

Yuna terkekeh. “Kamu apa-apaan sih? Rambutku udah rapi, malah diacak-acak. Kalo Yeriko datang gimana?” gerutu Yuna.

 

“Tuh, dia datang,” sahut Jheni sambil menoleh ke arah pintu yang terbuka.

 

“Uch, dia beneran kayak jin. Kalau disebut namanya, langsung nongol,” tutur Yuna sambil menoleh ke arah Yeriko yang baru saja masuk ke ruangannya.

 

“Enak ya, punya suami jin,” celetuk Jheni.

 

“Hehe. Nggaklah. Dia tetep manusia,” sahut Yuna sambil melangkah menghampiri Yeriko. “Manusia teristimewa,” lanjutnya sambil bersenandung.

 

Jheni langsung mencebik ke arah Yuna yang sudah berpelukan mesra dengan suaminya.

 

“Udah beres semua?” tanya Yeriko sambil memeluk dan mengecup istrinya.

 

“Udah, dong! Kan, dibantu sama Jheni.”

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Jheni. “Thanks, Jhen!”

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Kita pulang sekarang!” ajak Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Jhen, kamu mau sekalian ke rumah kami?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Aku udah ada janji sama editorku. Ntar malam deh aku ke sana.”

 

“Bener ya?” tutur Yuna.

 

“Iya. Kamu siapin makanan enak yang banyak!”

 

“Kalo itu mah gampang. Ntar aku masakin mie instan rasa kari ayam, mie instan rasa soto, mie instan rasa rendang, mie instan rasa sate, mie instan rasa baso ...,”

 

“Itu mah mie semua, Yun!” sahut Jheni kesal.

 

“Tapi rasa Nusantara, Jhen.”

 

“Tetep aja, Mie!” sahut Jheni kesal.

 

“Kamu biasa makan mie instan, gaya banget!”

 

“Idih, kamu yang suka makan mie instan!”

 

“Nggak, wee ...!” Yuna menjulurkan lidahnya.

 

Yeriko tertawa kecil melihat candaan Jheni dan istrinya. “Udah, nggak usah bercanda. Ntar malam kita makan malam bareng! Itung-itung ... buat ngerayain Yuna pulang dari rumah sakit.”

 

“Ini ... baru bener. Nggak kayak kamu!” dengus Jheni sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.

 

Yuna langsung mencebik ke arah Jheni.

 

“Aku balik duluan, ya!” pamit Jheni sambil melirik jam di ponselnya.

 

“Kita juga mau balik, kok,” sahut Yeriko.

 

Jheni tersenyum ke arah Yuna dan Yeriko. “Hati-hati, ya! Bye-bye!” Ia melambaikan tangan dan bergegas pergi.

 

Yuna dan Yeriko saling pandang sambil tersenyum bahagia.

 

“Kita pulang, yuk! Bibi War udah siapin banyak makanan enak,” ajak Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya terlihat bahagia dan penuh semangat. Akhirnya, ia bisa kembali ke rumah. Seminggu di rumah sakit, baginya sangatlah membosankan.

 

((Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk dan baper bertubi-tubi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Perfect Hero Bab 475 : The White Sawn Dance

 


“Aku mau dibawa ke mana?”  tanya Refi saat ia dipaksa keluar dari ruangan yang mengurungnya selama berhari-hari.

 

“Ikut aja!” perintah salah seorang pria bertubuh kekar sambil menarik kedua tangan Refi.

 

Refi tak berdaya untuk melawan, ia hanya bisa menurut dan mengikuti pria-pria berseragam yang membawanya. Saat ia masuk ke dalam ruangan kecil yang di-design seperti ruang make-up artis. Bibirnya langsung tersenyum.

 

“Hmm, aku yakin kalau Yeriko nggak akan tega menghukum aku terlalu lama. Dia pasti udah sadar dan ninggalin cewek sialan itu,” tuturnya sambil menyentuh meja rias.

 

“Mbak, kita make-up cepat ya! Tuan Ye minta Mbaknya bisa temui dia secepatnya dalam keadaan cantik,” tutur salah seorang wanita yang ada di dalam ruang make-up tersebut.

 

“Beneran?” tanya Refi dengan wajah sumringah. Ia terlihat sangat bahagia karena Yeriko akan menemuinya. Bahkan menyiapkan perias khusus untuknya. “Cepetan ya, Mbak!” pintanya.

 

Wanita itu mengangguk dan bergegas merias wajah Refi. Juga membantu mengenakan pakaian balet yang sudah ia sediakan sesuai dengan permintaan Yeriko.

 

Begitu selesai dirias, Refi langsung tersenyum sambil menatap dirinya yang disulap bak angsa putih dalam Swan Lake. Ia merasa sangat bahagia walau kini ia tak bisa lagi menari seperti dulu. Tapi, mengenakan baju ballerina untuk bertemu dengan Yeriko ... membuatnya mengingat semua masa-masa indah saat ia masih bersama pria pujaan hatinya itu.

 

“Mbak, sudah ditunggu Bos Ye!” tutur seorang pengawal begitu melihat Refi sudah selesai dirias.

 

Refi mengangguk. Ia tersenyum dan mengikuti langkah dua pengawal yang sudah lebih dahulu berjalan di depannya. Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang penuh kaca. Persis seperti kelas balet yang ia impikan.

 

Yeriko langsung bangkit dari sofa saat melihat Refi masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Refi tersenyum manis ke arah Yeriko. Ia merasa kalau Yeriko akan kembali ke pelukkannya dan mewujudkan impian-impiannya.

 

Yeriko masih tak bicara. Ia hanya melipat kedua tangan di dada sambil menatap Refi dengan ekspresi datar. Tak bisa ditebak apa yang ada di dalam pikirannya.

 

“Yer, aku tahu ... kamu pasti kembali sama aku ‘kan?” sapa Refi sambil tersenyum manis. Ia bisa melihat senyumannya sendiri dari balik cermin yang menutupi seluruh dinding ruangan itu.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil menatap Refi. “Kamu mau ... aku nuruti semua keinginan kamu ‘kan?” tanyanya.

 

 Refi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Aku tuh masih cinta sama kamu. Kamu juga masih cinta sama aku ‘kan? Sampai bikinin ruang dansa seperti ini,” tanyanya sambil melangkah mendekati Yeriko.

 

Seorang pengawal yang ada di dalam ruangan tersebut, langsung menahan Refi agar tidak menyentuh tubuh Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Kenapa kamu berasumsi sendiri?”

 

“Karena aku selalu merasa, kalau kamu nggak mungkin mencintai Yuna. Apalagi, perempuan itu sudah ternodai sama pria lain,” jawab Refi. Ia sangat kesal karena pengawal Yeriko tak mau melepaskan lengannya.

 

Yeriko tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu tahu dari mana kalau Yuna dinodai sama pria lain?”

 

“Dari ... karena aku sudah nyuruh orang untuk menodai dia!” sahut Refi. Yeriko sudah mengetahui semuanya dan ia tak perlu mencari alasan lain.

 

Prook ...! Prook ...! Prook ...!

 

Yeriko menepuk kedua tangannya sambil menoleh ke arah pintu.

 

Lutfi masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan delapan orang pria yang sudah diberi minuman perangsang terlebih dahulu oleh Lutfi.

 

“Mereka yang kamu suruh?” tanya Yeriko sambil menunjuk kedelapan pria itu dengan dagunya.

 

Refi langsung memutar kepala, ia menoleh ke arah delapan pria yang sengaja ia bayar untuk memenuhi kebutuhan biologis Ayuna. “Kenapa mereka juga ada di sini?” tanya Refi.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia berjalan mengitari tubuh Refi sambil memerhatikan wanita itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. “Kamu pikir, cintaku ke Yuna sedangkal itu? Seandainya dia benar-benar dinodai sama orang suruhan kamu. Aku nggak akan meninggalkan dia selangkah pun.”

 

“Istriku baik-baik aja. Dia nggak pernah disentuh sama pria-pria ini sejengkal pun. Dia juga nggak kekurangan, aku selalu bisa memenuhi apa yang dibutuhkan sama dia. Kamu yang lebih memerlukan pria-pria ini,” lanjutnya sambil melangkah pergi dengan santai.

 

Refi membelalakkan matanya saat melihat Yeriko justru melangkah pergi bersama dua pengawalnya. “Yer, Yeriko ...! Maksudnya apa ini?” tanya Refi saat Yeriko sudah keluar dari pintu tersebut.

 

“Selesaikan tugas kalian ya!” perintah Lutfi sambil menepuk bahu salah seorang pria yang ada di dalam ruangan tersebut dan berlalu pergi.

 

“Lutfi!” teriak Refi. Namun, suaranya tak bisa lagi didengar Lutfi karena pria itu sudah menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.

 

Refi langsung berlari ke arah pintu. “Bukain, Yer!” pintanya sambil menggedor pintu tersebut. Ia tetap tak mendapatkan jawaban.

 

Sementara, delapan pria yang ada di ruangan tersebut sudah menatap tubuh Refi dan bersiap memangsanya beramai-ramai.

 

“Aargh ...! Jangan dekati aku!” teriak Refi.

 

Salah seorang pria justru menghampiri dan menarik lengan Refi. Ia langsung membanting tubuh Refi ke atas matras yang ada di dalam ruangan tersebut. Pria yang lainnya ikut mengelilingi tubuh Refi. Salah satunya, memaksa Refi untuk meminum obat perangsang yang sudah mereka sediakan.

 

Refi terus memberontak sambil menatap delapan pria yang ada di atasnya. “Jangan lakuin ini!” pintanya lirih. Namun, hanya dalam beberapa menit ... obat yang masuk ke tubuh Refi langsung bereaksi. Ia mulai melucuti pakaiannya sendiri dan menarik seorang pria yang sudah bertelanjang dada.

 

Semua pria yang ada di dalam ruangan tersebut langsung menegang begitu melihat tubuh Refi dan suara desahannya yang menggoda. Mereka terlihat sangat bergairah dan bersiap melahap tubuh Refi mentah-mentah.

 

Di ruangan lain, Yeriko dan teman-temannya memantau keadaan Refi.

 

“Deny mana?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Yan ...!” Lutfi memainkan alisnya sambil menoleh ke arah Riyan.

 

Riyan mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan tersebut dan kembali membawa Deny.

 

“Yer, boleh juga si Refi,” bisik Lutfi di telinga Yeriko sambil menatap layar komputer yang menunjukkan rekaman adegan Refi sedang bercinta di dalam ruangan tersebut.

 

“Kamu mau masuk juga!?” sahut Yeriko kesal.

 

“Iih ... ogah!” sahut Lutfi sambil bergidik.

 

“Kenapa nggak mau, Mas?” tanya Riyan yang baru saja muncul.

 

“Kamu mau? Masuk, noh!” sahut Lutfi.

 

“Nggak!” sahut Riyan sambil mengedikkan bahunya. “Dipake orang banyak begitu. Hiih, ngeri aku!”

 

“Halah, kamu merinding atau nafsu?” tanya Lutfi.

 

“Nggak nafsu, Mas. Risih aku,” sahut Riyan.

 

Yeriko langsung menatap Deny yang sudah berdiri di depannya dan dijaga oleh dua pengawal. “Mana handphone kamu?”

 

Deny tak menjawab. Ia juga tidak bisa mengambil ponsel yang ada di saku celananya.

 

“Yan, kenapa diam aja? Cari handphone dia!” perintah Yeriko. “Pake sarung tangan!”

 

Riyan mengangguk, ia langsung mencari ponsel di tubuh Deny. Ia menyerahkan ponsel ke tangan Yeriko begitu ia berhasil mendapatkannya dari saku celana Deny.

 

Yeriko langsung membuka ponsel tersebut. Namun, ia masih harus menggunakan sidik jari Deny untuk mengakses ponsel tersebut. Ia langsung menarik tangan Deny dan mengecek isi ponsel pria itu.

 

Yeriko tersenyum kecil, ia menyerahkan ponsel Deny ke tangan Lutfi. “Kerjain, Lut!” perintahnya.

 

Lutfi mengangguk. Ia bergegas menyambungkan ponsel Deny ke komputer yang ada di ruangan tersebut.

 

Deny tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh dua tuan muda yang ada di hadapannya. Ia hanya menunggu Yeriko dan orang-orangnya segera melepaskan dirinya agar bisa hidup bebas.

 

“Beres, Yer.” Lutfi kembali menyerahkan ponsel Deny ke tangan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil memastikan kalau semuanya sudah berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Ia mendekat ke arah Deny, meletakkan kembali ponsel tersebut ke saku kemeja Deny.

 

“Kamu periksa semua video yang ada di akun kamu!” perintah Yeriko. “Kalau video itu bisa bertahan selama tiga hari, aku akan kirim lima ratus juta buat kamu.”

 

Deny tersenyum. Ia langsung memeriksa video-video yang sudah tersebar lewat akunnya dan sudah mendapat ratusan komentar hanya dalam hitungan menit. Baginya, yang paling penting adalah uang. Ia sudah terbiasa menyebarkan video-video seperti itu. “Jangankan Cuma tiga hari, bertahan selama setahun pun bisa,” ucapnya.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu sudah boleh pergi. Lepasin dia!” perintah Yeriko pada pengawal yang ada di sana. Ia langsung melepas sarung tangan yang ia kenakan sebelumnya, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.

 

“Lut, aku pergi dulu! Kamu urus Refi!” pamit Yeriko.

 

“Hah!? Aku ngurus dia? Ogah!” sahut Lutfi.

 

“Aku harus ngurus istriku.”

 

“Biar ajalah. Nggak usah diurus!” sahut Lutfi sambil bangkit dari kursinya. “Yan, kamu yang urus ya!” perintahnya pada Riyan. “Aku masih ada urusan penting,” lanjutnya sambil bergegas pergi.

 

Riyan tidak pernah bisa menolak perintah dari atasannya. Walau mereka memperlakukan Riyan seperti seorang teman, status Riyan tetaplah asisten pribadi. Ia memang harus menyelesaikan semua urusan bosnya hingga tuntas.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk dan baper bertubi-tubi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 474 : Rencana Mr. Ye untuk Refi

 


Tepat di hari ketujuh penyekapan Refi, Yeriko kembali memasuki gedung putih yang jauh dari keramaian kota. Ia telah mempersiapkan banyak hal untuk membalas semua perbuatan Refi dengan caranya sendiri.

 

“Lut, gimana si Refi?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Lihat, tuh!” Lutfi menunjuk ke layar komputer yang memperlihatkan rekaman Refi sedang berada di dalam gudang yang ada di gedung tersebut.

 

Gedung putih dengan tiga lantai ini adalah gedung milik Yeriko yang sudah lama tak terpakai. Namun, kondisi bangunannya masih sangat baik karena digunakan oleh masyarakat untuk berlatih bela diri atau kegiatan-kegiatan lain di gedung serbaguna tersebut.

 

Yeriko mendekatkan wajahnya ke layar komputer. Ia memerhatikan gerak-gerik Refi yang sudah ada di dalam ruangan tersebut sejak tujuh hari lalu. “Dia masih kuat berdiri?”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia cuma minum dan masih bertahan sampai sekarang.”

 

“Tempat ini juga jauh lebih baik dari tempat Yuna disekap. Kamu masih aja berbaik hati sama dia,” sahut Chandra yang ada di belakang Yeriko.

 

“Diam, kamu!” sentak Yeriko sambil memerhatikan Refi dari layar komputer. Ia menoleh ke arah Riyan yang duduk tak jauh darinya. “Yan, kasih dia makanan. Sedikit aja!”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia menyuruh pengawal yang menjaga ruangan itu untuk memasukkan makanan.

 

Refi yang mendengar suara pintu besi itu terbuka, langsung tersenyum dan menoleh. Baru saja ia ingin berlari menghampiri pintu itu, pintu sudah tertutup kembali.

 

Refi menatap makanan dan minuman yang dimasukkan ke dalam ruangan tersebut. Perutnya yang sangat lapar, langsung meraih bungkusan nasi dan memakannya dengan sangat lahap.

 

“Aku laper banget!” tutur Refi saat ia sudah menghabiskan makanannya. Perutnya, masih juga belum kenyang dan ia terus menjilati jari-jarinya. “Kapan sih aku dikeluarin dari sini?” gumam Refi. Ia tidak tahu sudah berapa lama ada di tempat itu.

 

Tempat yang digunakan untuk mengurung Refi adalah tempat yang tertutup. Tak ada jendela atau ventilasi di ruangan tersebut. Namun, ruangan itu dilengkapi Air Conditioner dan Blower. Ia merasa tempat ini tidak buruk dan Yeriko tidak mungkin tega menghukumnya.

 

Yeriko terus memantau pergerakan Refi lewat kamera CCTV. “Lut, Satria mana?” tanyanya.

 

“Ada noh di ruangan sebelah. Lagi nyekolahin preman-preman itu,” jawab Lutfi.

 

“Deny gimana?” tanya Yeriko.

 

“Udah aku selidiki.” Lutfi mengambil dokumen dari tas ransel yang ada di bawah kakinya dan menyodorkan ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko membuka dokumen yang diberikan Lutfi.

 

“Itu bukti-bukti kejahatan Refi. Dia yang udah fitnah rekan kerjanya sesama artis waktu itu. Deny bukan cuma manager Refi, kemungkinan ... dia juga partner HS karena si Deny ini, ternyata biseksual.”

 

“Biseksual?” Yeriko mengernyitkan dahi.

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Kamu nggak tanya dia langsung?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Tanya apaan?”

 

“Hubungan dia sama Refi sebenarnya sedekat apa?”

 

“Ciyee ... kamu kepo. Masih pengen tahu kehidupannya Refi?” goda Lutfi.

 

“Bangsat kamu!” sahut Yeriko sambil mengeplak kepala Lutfi.

 

“Ya, kali aja gitu,” tutur Lutfi sambil terkekeh geli. Ia memberi isyarat pada pengawal yang ada di ruangan itu untuk membawa Deny ke hadapannya.

 

Beberapa menit kemudian, Deny sudah dipaksa berlutut di hadapan Yeriko oleh dua orang pengawal yang memeganginya.

 

Yeriko memberi isyarat pada pengawal untuk melepaskan pria yang sudah berlutut di hadapannya itu. “Kamu tahu apa yang harus kamu lakuin sekarang?” tanya Yeriko.

 

Deny menggelengkan kepala. “Kamu yang udah bekerjasama sama perempuan itu untuk mencelakai istriku?”

 

Deny menggelengkan kepala.

 

Yeriko langsung menarik kerah baju Deni dan menatap tajam ke arah pria itu. “Kamu nggak mau ngaku!?”

 

Deny tersenyum sinis. “Aku selalu ada di samping Refi. Cuma bantu dia buat dapetin kamu. Tapi, aku nggak benar-benar melakukannya karena cuma dia yang bisa aku nikmati untuk bersenang-senang secara gratis.”

 

Yeriko langsung melepaskan genggaman tangannya. “Sudah berapa lama kamu berhubungan sama Refi?”

 

“Sejak dia di Paris. Dia memanfaatkan aku untuk meraih impiannya. Dia dengan sukarela memberikan tubuhnya buat aku,” jawab Deny.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak menyangka kalau perbuatan Refi justru lebih buruk dari yang ia bayangkan. Sebelum bertemu dengan Yuna, hubungannya dengan Refi masih baik-baik saja. Mereka berteman baik dan Yeriko masih berharap Refi bisa kembali ke kehidupannya.

 

Namun, kenyataan kali ini ... membuatnya tak pernah menyesali telah melepaskan Refi seumur hidupnya. Ia justru menyesal karena pernah jatuh cinta pada gadis cantik berhati busuk itu.

 

“Kalau kamu masih mau hidup, ikuti perintahku dari sekarang!”

 

“Perintah apa? Aku akan lakuin asalkan bayarannya sesuai.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Apa aku kelihatan kekurangan uang untuk bayar kamu? Kamu minta berapa?”

 

“Lima ratus juta!”

 

“Oke. Lima ratus juta. Aku akan kasih ke kamu setelah berhasil menyelesaikan misi yang aku kasih.”

 

“Oke.” Deny menganggukkan kepala.

 

“Amankan dia dulu!” perintah Yeriko pada pengawal yang ada di dalam ruangan itu.

 

“Siap, Pak Bos!” Pengawal itu segera membawa Deny ke ruangan lain dan dijaga ketat oleh mereka.

 

“Yan, ruangannya udah selesai disiapin?” tanya Yeriko.

 

“Sudah, Pak Bos!”

 

“Satria mana?”

 

“Sebentar, saya panggilkan,” jawab Riyan sambil bergegas keluar dari ruangan tersebut.

 

“Lut, obatnya ada?” bisik Yeriko.

 

“Ada, nih. Di tasku.”

 

“Ayo, sekarang!” ajak Yeriko sambil melangkah keluar.

 

Lutfi dan orang-orang yang bersamanya langsung mengikuti langkah Yeriko.

 

Yeriko masuk ke sebuah ruangan besar yang keempat sisinya sudah dipasangi kaca besar yang menutupi dinding ruangan tersebut. Ruangan itu hanya dilengkapi dengan matras di tengah-tengahnya dan dua sofa yang terlihat mewah dengan meja kecil di tengahnya.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Juga menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan yang dihiasi gambar-gambar Ballerina. Ia sudah mengatur ruangan ballet sedemikian rupa untuk Refi, khusus untuk perempuan yang pernah hadir dalam kehidupannya itu.

 

Tak hanya menyiapkan ruangan, Yeriko juga menyuruh orang untuk mendandani Refi dengan kostum ballerina yang khas. Ia ingin Refi merasakan bagaimana ia pernah mendukung semua impian Refi di masa lalu. Hingga membuat hatinya sangat luka. Bahkan telah melukai wanita yang paling ia cintai dalam hidupnya.

 

“Satria mana?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Tunggu aja! Si Refi juga belum siap.”

 

Yeriko menganggukkan kepalanya. “Gimana menurut kamu?” tanyanya sambil melihat design ruangan yang sudah ia siapkan.

 

“Bagus, Yer! Kamu mau bikin dia nari balet di sini? Bukannya, dia udah nggak bisa nari lagi?”

 

“Ck, kamu ini nggak paham juga! Otakmu ke mana sih?” sahut Yeriko kesal.

 

Lutfi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih tidak mengerti kenapa Yeriko menyiapkan ruang balet untuk Refi. Padahal, mereka ingin memberi pelajaran untuk Refi. Ia pikir, Yeriko akan melukai Refi seperti Refi melukai fisik Yuna. Kali ini, Yeriko belum mengatakan detil keinginannya dan membuat dia bertanya-tanya.

 

“Lut, urus di Deny!” perintah Yeriko. Ia membisikkan rencana detilnya ke telinga Lutfi.

 

“Owalah ... oke, oke. I see ...,” tutur Lutfi, ia bergegas keluar dari ruangan tersebut.

 

Yeriko duduk santai di sofa sambil menunggu Refi masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas