Di dalam ruangan yang dikelilingi kaca, Refi bisa melihat
dengan jelas ekspresi wajahnya saat ia bercinta dengan delapan orang yang ada
di sana. Meski berpikir untuk melarikan diri, ia tak akan bisa melakukannya
hingga pria-pria di dalam sana merasa terpuaskan.
“Yeriko ...!” panggil Refi lirih saat ia sudah tak
berdaya. Ia terlentang di atas matras tanpa sehelai kain di tubuhnya. Keringat
dan air mani membanjiri seluruh tubuhnya. Ia menatap langit-langit ruangan yang
penuh dengan ilustrasi ballerina. Air matanya mulai menetes. Ia tak menyangka
kalau Yeriko menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati banyak pria.
Pria yang sudah puas menikmati tubuh Bellina, kembali
mengenakan pakaiannya dan keluar dari ruangan itu satu per satu.
“Yer, kenapa kamu tega ngelakuin ini ke aku? Kamu
bener-bener nggak cinta sama aku lagi? Semuanya karena Yuna ... karena dia,
kamu jadi monster,” bisik Refi sambil menoleh ke arah pintu ruangan yang sudah
terbuka.
Refi memejamkan mata perlahan. Di kegelapan, ia bisa
melihat bayangannya sendiri bercinta dengan Deny juga dengan delapan pria itu.
“Aku benci mereka semua!” seru Refi. Ia berguling di atas
matras, menelungkupkan tubuhnya sambil menatap wajahnya yang terpantul di
cermin.
“Aargh ...!” Refi berteriak melihat wajahnya sendiri. Ia
merangkak menghampiri meja kecil yang ada di ruangan itu dan meraih tempat
lilin yang bertengger di atasnya.
PRANG ...!
“Aku benci sama kalian!” teriak Refi sambil memukul
dinding berlapis cermin itu hingga pecah berkeping-keping, bahkan melukai
tubuhnya sendiri. Ia terus menerus berteriak di dalam ruangan itu sambil
memecahkan semua kaca yang ada di sana.
Riyan yang melihat tingkah Refi dari CCTV, langsung
memerintahkan orang-orangnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, mengamankan
Refi agar tidak melukai dirinya sendiri dengan pecahan kaca yang sudah
berserakan di lantai. Ia segera membawa Refi ke rumah sakit terdekat untuk
mendapat penanganan.
...
Di tempat lain ...
“Yun, semoga aja si Yeriko ngasih pelajaran buat Refi.
Aku geregetan banget sama dia,” tutur Jheni sambil membantu mengemas
barang-barang milik Yuna.
Yuna tersenyum kecil. “Yeriko pasti ngasih pelajaran buat
Refi. Tapi, tergantung sama Refinya juga, sih. Kalo orang gila kan susah
dikasih tahu, Jhen.”
“Hahaha. Iya, bener. Sama aja kayak kita nunjukkin jarum
jam muternya ke kanan, dia bakal bilang ngiri terus. Gitu tuh, gila karena
kebanyakan ngiri sama orang!” sahut Jheni sambil tergelak.
“Kira-kira ... Yeriko bakal apain Refi ya?” gumam Yuna.
“Mmh ... kita tebak-tebakan!”
“Apa?” tanya Yuna.
“Laporin ke polisi.”
Yuna menggelengkan kepala. “Dia nolak buat laporin Refi
ke polisi.”
“Hah!? Yeriko udah nggak waras juga, nih. Dia nggak mau
laporin Refi ke polisi. Kalo dia keliaran bebas dan nyakitin kamu lagi,
gimana?”
“Kamu tahu sendiri suamiku gimana. Dia punya cara sendiri
buat ngadepin Refi. Toh, sebelumnya mereka saling mengenal dan dekat. Yeriko
pasti tahu gimana ngadepin mantan pacarnya yang gila itu.”
“Apa karena mantan pacar? Jadi, Yeriko nggak tega buat
ngelaporin Refi ke polisi?” tanya Jheni.
Yuna terdiam. Ia tak ingin menanggapi pertanyaan Jheni.
Ia menyadari kalau dia sendiri yang meminta Yeriko untuk mengasihani Refi.
Baginya, Refi hanya tersesat. Jika ia bisa membawanya kembali menjadi wanita
yang baik, itu akan lebih mulia.
Jheni menghela napas sambil menoleh ke arah Yuna. “Sorry,
Yun! Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih.”
Yuna tersenyum kecil. “Aku nggak sedih, kok. Aku lagi
mikir aja gimana caranya bikin Refi tobat. Dia itu kan cantik dan berbakat
juga. Kenapa harus menjalani kehidupan yang salah?”
“Argh, kamu ini ... kamu tuh korban di sini. Kenapa
kamu malah mikirin nasib orang yang udah nyelakain kamu, Yun?”
“Aku baik-baik aja, Jhen. Aku masih waras dan sehat. Aku
kasihan aja sama Refi. Dia udah nggak waras gitu. Takutnya, ntar gila beneran.
Kasihan kalau cantik-cantik, tapi gila.”
“Biar aja dia gila!” sahut Jheni kesal.
“Kasihan, belum nikah udah gila,” tutur Yuna sambil
menahan tawa.
“Hahaha.”
Jheni dan Yuna terus bercanda sambil mengemasi
barang-barang Yuna karena hari ini, Yuna sudah boleh keluar dari rumah sakit.
“Yeriko jemput kamu ‘kan?” tanya Jheni.
Yuna menganggukkan kepala. “Masih di jalan.”
“Lama banget?”
“Kenapa? Kamu mau antar aku pulang?” tanya Yuna.
Jheni mengedikkan bahunya. “Nggak, ah. Kalo diculik lagi,
gimana?”
“Emangnya ada yang mau nyulik orang kayak kamu?” sahut
Yuna sambil menahan tawa.
“Nggak ada. Tapi, yang mau nyulik kamu, banyak. Bisa aja
di luar sana ada orang yang mau memeras kekayaan suami kamu. Huft, jadi orang
kaya itu susah juga ya? Aku pikir, hidup mewah itu enak.”
Yuna terkekeh geli melihat tingkah Jheni. “Emang enak
hidup mewah, Jhen. Bukannya Chandra udah ngasih kamu hidup yang mewah juga?”
“Idih, aku cari duit sendiri, Yun!”
“Chandra kan banyak duit juga, Jhen. Kalo kalian berdua
nikah, auto kaya!”
“Kaya apaan? Masih kaya suami kamu, Yun.”
Yuna terkekeh. “Huu ... belum aku ambil alih perusahaan
ayahku,” sahutnya penuh percaya diri.
“Eh, kamu beneran mau ambil alih perusahaan ayah kamu?”
“Mmh ... iya, nggak ya?” gumam Yuna.
“Iih ... kamu jangan bikin aku penasaran. Yeriko kan bisa
ambil alih perusahaan Lian itu dengan mudah.”
Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan Jheni.
Jheni mengehela napas. “Emang ya, kalo takdirnya udah
jadi Tuan Puteri, bakal tetep jadi Tuan Puteri walau banyak orang yang nggak
suka dan berusaha merebut tahta.”
Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Kamu abis nonton
apa?”
“Kenapa tanya gitu?”
“Biasanya, kamu suka ngomong aneh-aneh kalau abis nonton
sesuatu.”
“Aku lagi suka nonton drama kolosal akhir-akhir ini.
Sekarang, lagi nge-hits drama Pangeran atau Tuan Puteri gitu. Kayak kamu sama
Yeriko.”
“Awas kalau sampe nulis tentang aku dan Yeriko, ya!”
dengus Yuna.
Jheni terkekeh mendengar ucapan Yuna. “Nggak papa, kali.
Kan bagus buat konten aku, Yun. Itung-itung ... bantu sahabat kamu sendiri.”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Boleh, asal royaltinya
dibagi ke aku.”
“Astaga! Kamu udah kaya pun ... masih aja mata duitan!”
dengus Jheni.
“Hahaha. Karena aku mata duitan, makanya cepet kaya.”
“Kamu nikah sama Yeriko bukan karena duitnya doang ‘kan?”
“Iih ... sembarangan kalo ngomong!” sahut Yuna.
“Perempuan itu harus mata duitan biar mandiri, bukan ngandalin uang pacar atau
suami!”
“Kayak aku ‘kan?” tanya Jheni sambil mengerdipkan
matanya.
“Iya, aja deh. Soalnya, aku yang ngandalin duit suami.
Hahaha.”
“Dasar! Ngatain diri sendiri!” dengus Jheni sambil
mengacak rambut Yuna.
Yuna terkekeh. “Kamu apa-apaan sih? Rambutku udah rapi,
malah diacak-acak. Kalo Yeriko datang gimana?” gerutu Yuna.
“Tuh, dia datang,” sahut Jheni sambil menoleh ke arah
pintu yang terbuka.
“Uch, dia beneran kayak jin. Kalau disebut namanya,
langsung nongol,” tutur Yuna sambil menoleh ke arah Yeriko yang baru saja masuk
ke ruangannya.
“Enak ya, punya suami jin,” celetuk Jheni.
“Hehe. Nggaklah. Dia tetep manusia,” sahut Yuna sambil
melangkah menghampiri Yeriko. “Manusia teristimewa,” lanjutnya sambil
bersenandung.
Jheni langsung mencebik ke arah Yuna yang sudah
berpelukan mesra dengan suaminya.
“Udah beres semua?” tanya Yeriko sambil memeluk dan
mengecup istrinya.
“Udah, dong! Kan, dibantu sama Jheni.”
Yeriko langsung menoleh ke arah Jheni. “Thanks, Jhen!”
Jheni mengangguk sambil tersenyum.
“Kita pulang sekarang!” ajak Yeriko.
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
“Jhen, kamu mau sekalian ke rumah kami?”
Jheni menggelengkan kepala. “Aku udah ada janji sama
editorku. Ntar malam deh aku ke sana.”
“Bener ya?” tutur Yuna.
“Iya. Kamu siapin makanan enak yang banyak!”
“Kalo itu mah gampang. Ntar aku masakin mie instan rasa
kari ayam, mie instan rasa soto, mie instan rasa rendang, mie instan rasa sate,
mie instan rasa baso ...,”
“Itu mah mie semua, Yun!” sahut Jheni kesal.
“Tapi rasa Nusantara, Jhen.”
“Tetep aja, Mie!” sahut Jheni kesal.
“Kamu biasa makan mie instan, gaya banget!”
“Idih, kamu yang suka makan mie instan!”
“Nggak, wee ...!” Yuna menjulurkan lidahnya.
Yeriko tertawa kecil melihat candaan Jheni dan istrinya.
“Udah, nggak usah bercanda. Ntar malam kita makan malam bareng! Itung-itung ...
buat ngerayain Yuna pulang dari rumah sakit.”
“Ini ... baru bener. Nggak kayak kamu!” dengus Jheni
sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yuna.
Yuna langsung mencebik ke arah Jheni.
“Aku balik duluan, ya!” pamit Jheni sambil melirik jam di
ponselnya.
“Kita juga mau balik, kok,” sahut Yeriko.
Jheni tersenyum ke arah Yuna dan Yeriko. “Hati-hati, ya!
Bye-bye!” Ia melambaikan tangan dan bergegas pergi.
Yuna dan Yeriko saling pandang sambil tersenyum bahagia.
“Kita pulang, yuk! Bibi War udah siapin banyak makanan
enak,” ajak Yeriko.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya terlihat
bahagia dan penuh semangat. Akhirnya, ia bisa kembali ke rumah. Seminggu di
rumah sakit, baginya sangatlah membosankan.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti
terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk
dan baper bertubi-tubi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment