Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 474 : Rencana Mr. Ye untuk Refi

 


Tepat di hari ketujuh penyekapan Refi, Yeriko kembali memasuki gedung putih yang jauh dari keramaian kota. Ia telah mempersiapkan banyak hal untuk membalas semua perbuatan Refi dengan caranya sendiri.

 

“Lut, gimana si Refi?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Lihat, tuh!” Lutfi menunjuk ke layar komputer yang memperlihatkan rekaman Refi sedang berada di dalam gudang yang ada di gedung tersebut.

 

Gedung putih dengan tiga lantai ini adalah gedung milik Yeriko yang sudah lama tak terpakai. Namun, kondisi bangunannya masih sangat baik karena digunakan oleh masyarakat untuk berlatih bela diri atau kegiatan-kegiatan lain di gedung serbaguna tersebut.

 

Yeriko mendekatkan wajahnya ke layar komputer. Ia memerhatikan gerak-gerik Refi yang sudah ada di dalam ruangan tersebut sejak tujuh hari lalu. “Dia masih kuat berdiri?”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia cuma minum dan masih bertahan sampai sekarang.”

 

“Tempat ini juga jauh lebih baik dari tempat Yuna disekap. Kamu masih aja berbaik hati sama dia,” sahut Chandra yang ada di belakang Yeriko.

 

“Diam, kamu!” sentak Yeriko sambil memerhatikan Refi dari layar komputer. Ia menoleh ke arah Riyan yang duduk tak jauh darinya. “Yan, kasih dia makanan. Sedikit aja!”

 

Riyan menganggukkan kepala. Ia menyuruh pengawal yang menjaga ruangan itu untuk memasukkan makanan.

 

Refi yang mendengar suara pintu besi itu terbuka, langsung tersenyum dan menoleh. Baru saja ia ingin berlari menghampiri pintu itu, pintu sudah tertutup kembali.

 

Refi menatap makanan dan minuman yang dimasukkan ke dalam ruangan tersebut. Perutnya yang sangat lapar, langsung meraih bungkusan nasi dan memakannya dengan sangat lahap.

 

“Aku laper banget!” tutur Refi saat ia sudah menghabiskan makanannya. Perutnya, masih juga belum kenyang dan ia terus menjilati jari-jarinya. “Kapan sih aku dikeluarin dari sini?” gumam Refi. Ia tidak tahu sudah berapa lama ada di tempat itu.

 

Tempat yang digunakan untuk mengurung Refi adalah tempat yang tertutup. Tak ada jendela atau ventilasi di ruangan tersebut. Namun, ruangan itu dilengkapi Air Conditioner dan Blower. Ia merasa tempat ini tidak buruk dan Yeriko tidak mungkin tega menghukumnya.

 

Yeriko terus memantau pergerakan Refi lewat kamera CCTV. “Lut, Satria mana?” tanyanya.

 

“Ada noh di ruangan sebelah. Lagi nyekolahin preman-preman itu,” jawab Lutfi.

 

“Deny gimana?” tanya Yeriko.

 

“Udah aku selidiki.” Lutfi mengambil dokumen dari tas ransel yang ada di bawah kakinya dan menyodorkan ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko membuka dokumen yang diberikan Lutfi.

 

“Itu bukti-bukti kejahatan Refi. Dia yang udah fitnah rekan kerjanya sesama artis waktu itu. Deny bukan cuma manager Refi, kemungkinan ... dia juga partner HS karena si Deny ini, ternyata biseksual.”

 

“Biseksual?” Yeriko mengernyitkan dahi.

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Kamu nggak tanya dia langsung?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Tanya apaan?”

 

“Hubungan dia sama Refi sebenarnya sedekat apa?”

 

“Ciyee ... kamu kepo. Masih pengen tahu kehidupannya Refi?” goda Lutfi.

 

“Bangsat kamu!” sahut Yeriko sambil mengeplak kepala Lutfi.

 

“Ya, kali aja gitu,” tutur Lutfi sambil terkekeh geli. Ia memberi isyarat pada pengawal yang ada di ruangan itu untuk membawa Deny ke hadapannya.

 

Beberapa menit kemudian, Deny sudah dipaksa berlutut di hadapan Yeriko oleh dua orang pengawal yang memeganginya.

 

Yeriko memberi isyarat pada pengawal untuk melepaskan pria yang sudah berlutut di hadapannya itu. “Kamu tahu apa yang harus kamu lakuin sekarang?” tanya Yeriko.

 

Deny menggelengkan kepala. “Kamu yang udah bekerjasama sama perempuan itu untuk mencelakai istriku?”

 

Deny menggelengkan kepala.

 

Yeriko langsung menarik kerah baju Deni dan menatap tajam ke arah pria itu. “Kamu nggak mau ngaku!?”

 

Deny tersenyum sinis. “Aku selalu ada di samping Refi. Cuma bantu dia buat dapetin kamu. Tapi, aku nggak benar-benar melakukannya karena cuma dia yang bisa aku nikmati untuk bersenang-senang secara gratis.”

 

Yeriko langsung melepaskan genggaman tangannya. “Sudah berapa lama kamu berhubungan sama Refi?”

 

“Sejak dia di Paris. Dia memanfaatkan aku untuk meraih impiannya. Dia dengan sukarela memberikan tubuhnya buat aku,” jawab Deny.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak menyangka kalau perbuatan Refi justru lebih buruk dari yang ia bayangkan. Sebelum bertemu dengan Yuna, hubungannya dengan Refi masih baik-baik saja. Mereka berteman baik dan Yeriko masih berharap Refi bisa kembali ke kehidupannya.

 

Namun, kenyataan kali ini ... membuatnya tak pernah menyesali telah melepaskan Refi seumur hidupnya. Ia justru menyesal karena pernah jatuh cinta pada gadis cantik berhati busuk itu.

 

“Kalau kamu masih mau hidup, ikuti perintahku dari sekarang!”

 

“Perintah apa? Aku akan lakuin asalkan bayarannya sesuai.”

 

Yeriko tersenyum sinis. “Apa aku kelihatan kekurangan uang untuk bayar kamu? Kamu minta berapa?”

 

“Lima ratus juta!”

 

“Oke. Lima ratus juta. Aku akan kasih ke kamu setelah berhasil menyelesaikan misi yang aku kasih.”

 

“Oke.” Deny menganggukkan kepala.

 

“Amankan dia dulu!” perintah Yeriko pada pengawal yang ada di dalam ruangan itu.

 

“Siap, Pak Bos!” Pengawal itu segera membawa Deny ke ruangan lain dan dijaga ketat oleh mereka.

 

“Yan, ruangannya udah selesai disiapin?” tanya Yeriko.

 

“Sudah, Pak Bos!”

 

“Satria mana?”

 

“Sebentar, saya panggilkan,” jawab Riyan sambil bergegas keluar dari ruangan tersebut.

 

“Lut, obatnya ada?” bisik Yeriko.

 

“Ada, nih. Di tasku.”

 

“Ayo, sekarang!” ajak Yeriko sambil melangkah keluar.

 

Lutfi dan orang-orang yang bersamanya langsung mengikuti langkah Yeriko.

 

Yeriko masuk ke sebuah ruangan besar yang keempat sisinya sudah dipasangi kaca besar yang menutupi dinding ruangan tersebut. Ruangan itu hanya dilengkapi dengan matras di tengah-tengahnya dan dua sofa yang terlihat mewah dengan meja kecil di tengahnya.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Juga menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan yang dihiasi gambar-gambar Ballerina. Ia sudah mengatur ruangan ballet sedemikian rupa untuk Refi, khusus untuk perempuan yang pernah hadir dalam kehidupannya itu.

 

Tak hanya menyiapkan ruangan, Yeriko juga menyuruh orang untuk mendandani Refi dengan kostum ballerina yang khas. Ia ingin Refi merasakan bagaimana ia pernah mendukung semua impian Refi di masa lalu. Hingga membuat hatinya sangat luka. Bahkan telah melukai wanita yang paling ia cintai dalam hidupnya.

 

“Satria mana?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Tunggu aja! Si Refi juga belum siap.”

 

Yeriko menganggukkan kepalanya. “Gimana menurut kamu?” tanyanya sambil melihat design ruangan yang sudah ia siapkan.

 

“Bagus, Yer! Kamu mau bikin dia nari balet di sini? Bukannya, dia udah nggak bisa nari lagi?”

 

“Ck, kamu ini nggak paham juga! Otakmu ke mana sih?” sahut Yeriko kesal.

 

Lutfi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih tidak mengerti kenapa Yeriko menyiapkan ruang balet untuk Refi. Padahal, mereka ingin memberi pelajaran untuk Refi. Ia pikir, Yeriko akan melukai Refi seperti Refi melukai fisik Yuna. Kali ini, Yeriko belum mengatakan detil keinginannya dan membuat dia bertanya-tanya.

 

“Lut, urus di Deny!” perintah Yeriko. Ia membisikkan rencana detilnya ke telinga Lutfi.

 

“Owalah ... oke, oke. I see ...,” tutur Lutfi, ia bergegas keluar dari ruangan tersebut.

 

Yeriko duduk santai di sofa sambil menunggu Refi masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas