Saturday, February 28, 2026

Perfect Hero Bab 475 : The White Sawn Dance

 


“Aku mau dibawa ke mana?”  tanya Refi saat ia dipaksa keluar dari ruangan yang mengurungnya selama berhari-hari.

 

“Ikut aja!” perintah salah seorang pria bertubuh kekar sambil menarik kedua tangan Refi.

 

Refi tak berdaya untuk melawan, ia hanya bisa menurut dan mengikuti pria-pria berseragam yang membawanya. Saat ia masuk ke dalam ruangan kecil yang di-design seperti ruang make-up artis. Bibirnya langsung tersenyum.

 

“Hmm, aku yakin kalau Yeriko nggak akan tega menghukum aku terlalu lama. Dia pasti udah sadar dan ninggalin cewek sialan itu,” tuturnya sambil menyentuh meja rias.

 

“Mbak, kita make-up cepat ya! Tuan Ye minta Mbaknya bisa temui dia secepatnya dalam keadaan cantik,” tutur salah seorang wanita yang ada di dalam ruang make-up tersebut.

 

“Beneran?” tanya Refi dengan wajah sumringah. Ia terlihat sangat bahagia karena Yeriko akan menemuinya. Bahkan menyiapkan perias khusus untuknya. “Cepetan ya, Mbak!” pintanya.

 

Wanita itu mengangguk dan bergegas merias wajah Refi. Juga membantu mengenakan pakaian balet yang sudah ia sediakan sesuai dengan permintaan Yeriko.

 

Begitu selesai dirias, Refi langsung tersenyum sambil menatap dirinya yang disulap bak angsa putih dalam Swan Lake. Ia merasa sangat bahagia walau kini ia tak bisa lagi menari seperti dulu. Tapi, mengenakan baju ballerina untuk bertemu dengan Yeriko ... membuatnya mengingat semua masa-masa indah saat ia masih bersama pria pujaan hatinya itu.

 

“Mbak, sudah ditunggu Bos Ye!” tutur seorang pengawal begitu melihat Refi sudah selesai dirias.

 

Refi mengangguk. Ia tersenyum dan mengikuti langkah dua pengawal yang sudah lebih dahulu berjalan di depannya. Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang penuh kaca. Persis seperti kelas balet yang ia impikan.

 

Yeriko langsung bangkit dari sofa saat melihat Refi masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Refi tersenyum manis ke arah Yeriko. Ia merasa kalau Yeriko akan kembali ke pelukkannya dan mewujudkan impian-impiannya.

 

Yeriko masih tak bicara. Ia hanya melipat kedua tangan di dada sambil menatap Refi dengan ekspresi datar. Tak bisa ditebak apa yang ada di dalam pikirannya.

 

“Yer, aku tahu ... kamu pasti kembali sama aku ‘kan?” sapa Refi sambil tersenyum manis. Ia bisa melihat senyumannya sendiri dari balik cermin yang menutupi seluruh dinding ruangan itu.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil menatap Refi. “Kamu mau ... aku nuruti semua keinginan kamu ‘kan?” tanyanya.

 

 Refi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Aku tuh masih cinta sama kamu. Kamu juga masih cinta sama aku ‘kan? Sampai bikinin ruang dansa seperti ini,” tanyanya sambil melangkah mendekati Yeriko.

 

Seorang pengawal yang ada di dalam ruangan tersebut, langsung menahan Refi agar tidak menyentuh tubuh Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Kenapa kamu berasumsi sendiri?”

 

“Karena aku selalu merasa, kalau kamu nggak mungkin mencintai Yuna. Apalagi, perempuan itu sudah ternodai sama pria lain,” jawab Refi. Ia sangat kesal karena pengawal Yeriko tak mau melepaskan lengannya.

 

Yeriko tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu tahu dari mana kalau Yuna dinodai sama pria lain?”

 

“Dari ... karena aku sudah nyuruh orang untuk menodai dia!” sahut Refi. Yeriko sudah mengetahui semuanya dan ia tak perlu mencari alasan lain.

 

Prook ...! Prook ...! Prook ...!

 

Yeriko menepuk kedua tangannya sambil menoleh ke arah pintu.

 

Lutfi masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan delapan orang pria yang sudah diberi minuman perangsang terlebih dahulu oleh Lutfi.

 

“Mereka yang kamu suruh?” tanya Yeriko sambil menunjuk kedelapan pria itu dengan dagunya.

 

Refi langsung memutar kepala, ia menoleh ke arah delapan pria yang sengaja ia bayar untuk memenuhi kebutuhan biologis Ayuna. “Kenapa mereka juga ada di sini?” tanya Refi.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia berjalan mengitari tubuh Refi sambil memerhatikan wanita itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. “Kamu pikir, cintaku ke Yuna sedangkal itu? Seandainya dia benar-benar dinodai sama orang suruhan kamu. Aku nggak akan meninggalkan dia selangkah pun.”

 

“Istriku baik-baik aja. Dia nggak pernah disentuh sama pria-pria ini sejengkal pun. Dia juga nggak kekurangan, aku selalu bisa memenuhi apa yang dibutuhkan sama dia. Kamu yang lebih memerlukan pria-pria ini,” lanjutnya sambil melangkah pergi dengan santai.

 

Refi membelalakkan matanya saat melihat Yeriko justru melangkah pergi bersama dua pengawalnya. “Yer, Yeriko ...! Maksudnya apa ini?” tanya Refi saat Yeriko sudah keluar dari pintu tersebut.

 

“Selesaikan tugas kalian ya!” perintah Lutfi sambil menepuk bahu salah seorang pria yang ada di dalam ruangan tersebut dan berlalu pergi.

 

“Lutfi!” teriak Refi. Namun, suaranya tak bisa lagi didengar Lutfi karena pria itu sudah menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.

 

Refi langsung berlari ke arah pintu. “Bukain, Yer!” pintanya sambil menggedor pintu tersebut. Ia tetap tak mendapatkan jawaban.

 

Sementara, delapan pria yang ada di ruangan tersebut sudah menatap tubuh Refi dan bersiap memangsanya beramai-ramai.

 

“Aargh ...! Jangan dekati aku!” teriak Refi.

 

Salah seorang pria justru menghampiri dan menarik lengan Refi. Ia langsung membanting tubuh Refi ke atas matras yang ada di dalam ruangan tersebut. Pria yang lainnya ikut mengelilingi tubuh Refi. Salah satunya, memaksa Refi untuk meminum obat perangsang yang sudah mereka sediakan.

 

Refi terus memberontak sambil menatap delapan pria yang ada di atasnya. “Jangan lakuin ini!” pintanya lirih. Namun, hanya dalam beberapa menit ... obat yang masuk ke tubuh Refi langsung bereaksi. Ia mulai melucuti pakaiannya sendiri dan menarik seorang pria yang sudah bertelanjang dada.

 

Semua pria yang ada di dalam ruangan tersebut langsung menegang begitu melihat tubuh Refi dan suara desahannya yang menggoda. Mereka terlihat sangat bergairah dan bersiap melahap tubuh Refi mentah-mentah.

 

Di ruangan lain, Yeriko dan teman-temannya memantau keadaan Refi.

 

“Deny mana?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Yan ...!” Lutfi memainkan alisnya sambil menoleh ke arah Riyan.

 

Riyan mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan tersebut dan kembali membawa Deny.

 

“Yer, boleh juga si Refi,” bisik Lutfi di telinga Yeriko sambil menatap layar komputer yang menunjukkan rekaman adegan Refi sedang bercinta di dalam ruangan tersebut.

 

“Kamu mau masuk juga!?” sahut Yeriko kesal.

 

“Iih ... ogah!” sahut Lutfi sambil bergidik.

 

“Kenapa nggak mau, Mas?” tanya Riyan yang baru saja muncul.

 

“Kamu mau? Masuk, noh!” sahut Lutfi.

 

“Nggak!” sahut Riyan sambil mengedikkan bahunya. “Dipake orang banyak begitu. Hiih, ngeri aku!”

 

“Halah, kamu merinding atau nafsu?” tanya Lutfi.

 

“Nggak nafsu, Mas. Risih aku,” sahut Riyan.

 

Yeriko langsung menatap Deny yang sudah berdiri di depannya dan dijaga oleh dua pengawal. “Mana handphone kamu?”

 

Deny tak menjawab. Ia juga tidak bisa mengambil ponsel yang ada di saku celananya.

 

“Yan, kenapa diam aja? Cari handphone dia!” perintah Yeriko. “Pake sarung tangan!”

 

Riyan mengangguk, ia langsung mencari ponsel di tubuh Deny. Ia menyerahkan ponsel ke tangan Yeriko begitu ia berhasil mendapatkannya dari saku celana Deny.

 

Yeriko langsung membuka ponsel tersebut. Namun, ia masih harus menggunakan sidik jari Deny untuk mengakses ponsel tersebut. Ia langsung menarik tangan Deny dan mengecek isi ponsel pria itu.

 

Yeriko tersenyum kecil, ia menyerahkan ponsel Deny ke tangan Lutfi. “Kerjain, Lut!” perintahnya.

 

Lutfi mengangguk. Ia bergegas menyambungkan ponsel Deny ke komputer yang ada di ruangan tersebut.

 

Deny tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh dua tuan muda yang ada di hadapannya. Ia hanya menunggu Yeriko dan orang-orangnya segera melepaskan dirinya agar bisa hidup bebas.

 

“Beres, Yer.” Lutfi kembali menyerahkan ponsel Deny ke tangan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil memastikan kalau semuanya sudah berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Ia mendekat ke arah Deny, meletakkan kembali ponsel tersebut ke saku kemeja Deny.

 

“Kamu periksa semua video yang ada di akun kamu!” perintah Yeriko. “Kalau video itu bisa bertahan selama tiga hari, aku akan kirim lima ratus juta buat kamu.”

 

Deny tersenyum. Ia langsung memeriksa video-video yang sudah tersebar lewat akunnya dan sudah mendapat ratusan komentar hanya dalam hitungan menit. Baginya, yang paling penting adalah uang. Ia sudah terbiasa menyebarkan video-video seperti itu. “Jangankan Cuma tiga hari, bertahan selama setahun pun bisa,” ucapnya.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu sudah boleh pergi. Lepasin dia!” perintah Yeriko pada pengawal yang ada di sana. Ia langsung melepas sarung tangan yang ia kenakan sebelumnya, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.

 

“Lut, aku pergi dulu! Kamu urus Refi!” pamit Yeriko.

 

“Hah!? Aku ngurus dia? Ogah!” sahut Lutfi.

 

“Aku harus ngurus istriku.”

 

“Biar ajalah. Nggak usah diurus!” sahut Lutfi sambil bangkit dari kursinya. “Yan, kamu yang urus ya!” perintahnya pada Riyan. “Aku masih ada urusan penting,” lanjutnya sambil bergegas pergi.

 

Riyan tidak pernah bisa menolak perintah dari atasannya. Walau mereka memperlakukan Riyan seperti seorang teman, status Riyan tetaplah asisten pribadi. Ia memang harus menyelesaikan semua urusan bosnya hingga tuntas.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk dan baper bertubi-tubi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas