“Aku
mau dibawa ke mana?” tanya Refi saat ia dipaksa keluar dari ruangan yang
mengurungnya selama berhari-hari.
“Ikut
aja!” perintah salah seorang pria bertubuh kekar sambil menarik kedua tangan
Refi.
Refi
tak berdaya untuk melawan, ia hanya bisa menurut dan mengikuti pria-pria
berseragam yang membawanya. Saat ia masuk ke dalam ruangan kecil yang di-design
seperti ruang make-up artis. Bibirnya langsung tersenyum.
“Hmm,
aku yakin kalau Yeriko nggak akan tega menghukum aku terlalu lama. Dia pasti
udah sadar dan ninggalin cewek sialan itu,” tuturnya sambil menyentuh meja
rias.
“Mbak,
kita make-up cepat ya! Tuan Ye minta Mbaknya bisa
temui dia secepatnya dalam keadaan cantik,” tutur salah seorang wanita yang ada
di dalam ruang make-up tersebut.
“Beneran?”
tanya Refi dengan wajah sumringah. Ia terlihat sangat bahagia karena Yeriko
akan menemuinya. Bahkan menyiapkan perias khusus untuknya. “Cepetan ya, Mbak!”
pintanya.
Wanita
itu mengangguk dan bergegas merias wajah Refi. Juga membantu mengenakan pakaian
balet yang sudah ia sediakan sesuai dengan permintaan Yeriko.
Begitu
selesai dirias, Refi langsung tersenyum sambil menatap dirinya yang disulap bak
angsa putih dalam Swan Lake. Ia merasa sangat bahagia walau kini ia tak bisa
lagi menari seperti dulu. Tapi, mengenakan baju ballerina untuk bertemu dengan
Yeriko ... membuatnya mengingat semua masa-masa indah saat ia masih bersama
pria pujaan hatinya itu.
“Mbak,
sudah ditunggu Bos Ye!” tutur seorang pengawal begitu melihat Refi sudah
selesai dirias.
Refi
mengangguk. Ia tersenyum dan mengikuti langkah dua pengawal yang sudah lebih
dahulu berjalan di depannya. Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang penuh kaca.
Persis seperti kelas balet yang ia impikan.
Yeriko
langsung bangkit dari sofa saat melihat Refi masuk ke dalam ruangan tersebut.
Refi
tersenyum manis ke arah Yeriko. Ia merasa kalau Yeriko akan kembali ke
pelukkannya dan mewujudkan impian-impiannya.
Yeriko
masih tak bicara. Ia hanya melipat kedua tangan di dada sambil menatap Refi
dengan ekspresi datar. Tak bisa ditebak apa yang ada di dalam pikirannya.
“Yer,
aku tahu ... kamu pasti kembali sama aku ‘kan?” sapa Refi sambil tersenyum
manis. Ia bisa melihat senyumannya sendiri dari balik cermin yang menutupi
seluruh dinding ruangan itu.
Yeriko
hanya tersenyum kecil sambil menatap Refi. “Kamu mau ... aku nuruti semua
keinginan kamu ‘kan?” tanyanya.
Refi
tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Aku tuh masih cinta sama kamu. Kamu
juga masih cinta sama aku ‘kan? Sampai bikinin ruang dansa seperti ini,”
tanyanya sambil melangkah mendekati Yeriko.
Seorang
pengawal yang ada di dalam ruangan tersebut, langsung menahan Refi agar tidak
menyentuh tubuh Yeriko.
Yeriko
tersenyum sinis. “Kenapa kamu berasumsi sendiri?”
“Karena
aku selalu merasa, kalau kamu nggak mungkin mencintai Yuna. Apalagi, perempuan
itu sudah ternodai sama pria lain,” jawab Refi. Ia sangat kesal karena pengawal
Yeriko tak mau melepaskan lengannya.
Yeriko
tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu tahu dari mana kalau
Yuna dinodai sama pria lain?”
“Dari
... karena aku sudah nyuruh orang untuk menodai dia!” sahut Refi. Yeriko sudah
mengetahui semuanya dan ia tak perlu mencari alasan lain.
Prook
...! Prook ...! Prook ...!
Yeriko
menepuk kedua tangannya sambil menoleh ke arah pintu.
Lutfi
masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan delapan orang pria yang sudah
diberi minuman perangsang terlebih dahulu oleh Lutfi.
“Mereka
yang kamu suruh?” tanya Yeriko sambil menunjuk kedelapan pria itu dengan
dagunya.
Refi
langsung memutar kepala, ia menoleh ke arah delapan pria yang sengaja ia bayar
untuk memenuhi kebutuhan biologis Ayuna. “Kenapa mereka juga ada di sini?”
tanya Refi.
Yeriko
tersenyum kecil. Ia berjalan mengitari tubuh Refi sambil memerhatikan wanita
itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. “Kamu pikir, cintaku ke Yuna
sedangkal itu? Seandainya dia benar-benar dinodai sama orang suruhan kamu. Aku
nggak akan meninggalkan dia selangkah pun.”
“Istriku
baik-baik aja. Dia nggak pernah disentuh sama pria-pria ini sejengkal pun. Dia
juga nggak kekurangan, aku selalu bisa memenuhi apa yang dibutuhkan sama dia.
Kamu yang lebih memerlukan pria-pria ini,” lanjutnya sambil melangkah pergi
dengan santai.
Refi
membelalakkan matanya saat melihat Yeriko justru melangkah pergi bersama dua
pengawalnya. “Yer, Yeriko ...! Maksudnya apa ini?” tanya Refi saat Yeriko sudah
keluar dari pintu tersebut.
“Selesaikan
tugas kalian ya!” perintah Lutfi sambil menepuk bahu salah seorang pria yang
ada di dalam ruangan tersebut dan berlalu pergi.
“Lutfi!”
teriak Refi. Namun, suaranya tak bisa lagi didengar Lutfi karena pria itu sudah
menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.
Refi
langsung berlari ke arah pintu. “Bukain, Yer!” pintanya sambil menggedor pintu
tersebut. Ia tetap tak mendapatkan jawaban.
Sementara,
delapan pria yang ada di ruangan tersebut sudah menatap tubuh Refi dan bersiap
memangsanya beramai-ramai.
“Aargh
...! Jangan dekati aku!” teriak Refi.
Salah
seorang pria justru menghampiri dan menarik lengan Refi. Ia langsung membanting
tubuh Refi ke atas matras yang ada di dalam ruangan tersebut. Pria yang lainnya
ikut mengelilingi tubuh Refi. Salah satunya, memaksa Refi untuk meminum obat
perangsang yang sudah mereka sediakan.
Refi
terus memberontak sambil menatap delapan pria yang ada di atasnya. “Jangan
lakuin ini!” pintanya lirih. Namun, hanya dalam beberapa menit ... obat yang
masuk ke tubuh Refi langsung bereaksi. Ia mulai melucuti pakaiannya sendiri dan
menarik seorang pria yang sudah bertelanjang dada.
Semua
pria yang ada di dalam ruangan tersebut langsung menegang begitu melihat tubuh
Refi dan suara desahannya yang menggoda. Mereka terlihat sangat bergairah dan
bersiap melahap tubuh Refi mentah-mentah.
Di
ruangan lain, Yeriko dan teman-temannya memantau keadaan Refi.
“Deny
mana?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.
“Yan
...!” Lutfi memainkan alisnya sambil menoleh ke arah Riyan.
Riyan
mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan tersebut dan kembali membawa Deny.
“Yer,
boleh juga si Refi,” bisik Lutfi di telinga Yeriko sambil menatap layar
komputer yang menunjukkan rekaman adegan Refi sedang bercinta di dalam ruangan
tersebut.
“Kamu
mau masuk juga!?” sahut Yeriko kesal.
“Iih
... ogah!” sahut Lutfi sambil bergidik.
“Kenapa
nggak mau, Mas?” tanya Riyan yang baru saja muncul.
“Kamu
mau? Masuk, noh!” sahut Lutfi.
“Nggak!”
sahut Riyan sambil mengedikkan bahunya. “Dipake orang banyak begitu. Hiih,
ngeri aku!”
“Halah,
kamu merinding atau nafsu?” tanya Lutfi.
“Nggak
nafsu, Mas. Risih aku,” sahut Riyan.
Yeriko
langsung menatap Deny yang sudah berdiri di depannya dan dijaga oleh dua
pengawal. “Mana handphone kamu?”
Deny
tak menjawab. Ia juga tidak bisa mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
“Yan,
kenapa diam aja? Cari handphone dia!” perintah Yeriko. “Pake sarung tangan!”
Riyan
mengangguk, ia langsung mencari ponsel di tubuh Deny. Ia menyerahkan ponsel ke
tangan Yeriko begitu ia berhasil mendapatkannya dari saku celana Deny.
Yeriko
langsung membuka ponsel tersebut. Namun, ia masih harus menggunakan sidik jari
Deny untuk mengakses ponsel tersebut. Ia langsung menarik tangan Deny dan
mengecek isi ponsel pria itu.
Yeriko
tersenyum kecil, ia menyerahkan ponsel Deny ke tangan Lutfi. “Kerjain, Lut!”
perintahnya.
Lutfi
mengangguk. Ia bergegas menyambungkan ponsel Deny ke komputer yang ada di
ruangan tersebut.
Deny
tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh
dua tuan muda yang ada di hadapannya. Ia hanya menunggu Yeriko dan
orang-orangnya segera melepaskan dirinya agar bisa hidup bebas.
“Beres,
Yer.” Lutfi kembali menyerahkan ponsel Deny ke tangan Yeriko.
Yeriko
tersenyum sambil memastikan kalau semuanya sudah berjalan sesuai dengan yang
dia inginkan. Ia mendekat ke arah Deny, meletakkan kembali ponsel tersebut ke
saku kemeja Deny.
“Kamu
periksa semua video yang ada di akun kamu!” perintah Yeriko. “Kalau video itu
bisa bertahan selama tiga hari, aku akan kirim lima ratus juta buat kamu.”
Deny
tersenyum. Ia langsung memeriksa video-video yang sudah tersebar lewat akunnya
dan sudah mendapat ratusan komentar hanya dalam hitungan menit. Baginya, yang
paling penting adalah uang. Ia sudah terbiasa menyebarkan video-video seperti
itu. “Jangankan Cuma tiga hari, bertahan selama setahun pun bisa,” ucapnya.
Yeriko
tersenyum kecil. “Kamu sudah boleh pergi. Lepasin dia!” perintah Yeriko pada
pengawal yang ada di sana. Ia langsung melepas sarung tangan yang ia kenakan
sebelumnya, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.
“Lut,
aku pergi dulu! Kamu urus Refi!” pamit Yeriko.
“Hah!?
Aku ngurus dia? Ogah!” sahut Lutfi.
“Aku
harus ngurus istriku.”
“Biar
ajalah. Nggak usah diurus!” sahut Lutfi sambil bangkit dari kursinya. “Yan,
kamu yang urus ya!” perintahnya pada Riyan. “Aku masih ada urusan penting,”
lanjutnya sambil bergegas pergi.
Riyan
tidak pernah bisa menolak perintah dari atasannya. Walau mereka memperlakukan
Riyan seperti seorang teman, status Riyan tetaplah asisten pribadi. Ia memang
harus menyelesaikan semua urusan bosnya hingga tuntas.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus. Ikuti
terus keseharian Mr. & Ms. Ye yang bakal bikin perasaan kamu campur aduk
dan baper bertubi-tubi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment