Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 473 : Balasan untuk Refi

 


Yeriko bergegas kembali ke ruang rawat Yuna setelah memastikan kalau kondisi janin di dalam perut Yuna dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

 

Baru saja melangkah masuk ke ruangan tersebut, Yeriko dikejutkan dengan kehadiran Rullyta yang sudah berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.

 

“Mama ...!?” Yeriko mengernyitkan dahi sambil menutup pintu perlahan.

 

“Kenapa? Kamu kaget kalau Mama ada di sini? Kenapa si Yuna diculik dari kemarin, Mama baru tahu tadi malam?” tanya Rullyta.

 

“Ck, kalau Mama tahu, pasti makin ribet!” sahut Yeriko.

 

Rullyta mengernyitkan dahi. “Ribet gimana? Kamu bilang Mama ini ribet? Mama bisa kerahkan anak buah Mama buat bantu nyari Yuna. Kamu kira, Mama ini nggak bisa apa-apa, hah!? Malah kamu yang nggak becus. Masih aja mau ngerawat perempuan gila itu!”

 

“Ck, aku nggak ngerawat dia, Ma. Mama duduk dulu! Jangan marah-marah! Sayang perawatan kulit Mama ini mahal. Ntar rusak gara-gara marah-marah,” ucap Yeriko sambil menuntun mamanya untuk duduk di sofa.

 

Rullyta menepiskan tangan Yeriko dari bahunya. “Mama ini lagi marah. Kamu bisa nggak menghargai Mama?”

 

“Bisa, Ma. Bisa. Mama duduk dulu!” pinta Yeriko lirih sambil melirik Yuna. “Mama jangan marah-marah di sini! Kasihan Yuna, dia harus istirahat.”

 

Rullyta menghela napas sambil menoleh ke arah Yuna yang membalasnya dengan senyuman manis.

 

“Mama pulang ya!” pinta Yeriko.

 

“Kamu ngusir Mama!?”

 

“Ma, Yuna harus istirahat. Mama boleh di sini, tapi nggak boleh marah-marah. Kasihan Yuna, Ma!”

 

Rullyta menghela napas. “Mama cuma kesel sama kelakuan si Refi itu. Kalau kamu nggak bisa ngasih dia pelajaran, biar Mama yang turun tangan. Mama bakal laporin kelakuan dia ini ke polisi! Biar dipenjara seumur hidup.”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan mamanya. “Aku bakal mengatasi ini sendiri. Mama nggak usah ikut campur! Percayakan sama aku!”

 

Rullyta menatap wajah Yeriko selama beberapa detik. “Oke, Mama percaya sama kamu. Tapi ingat, kalau si Refi itu masih bebas berkeliaran dan membahayakan calon cucu Mama. Mama nggak akan tinggal diam!”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Ya udah, kamu pulang dulu!” perintah Rullyta. “Biar Mama sama Bibi War yang jagain Yuna. Kamu belum mandi dari semalam? Badan kamu bau banget!”

 

Yeriko langsung mengendus tubuhnya sendiri.  Ia tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang acak-acakan. “Oke. Aku pulang dulu! Sekalian aku kelarin urusanku sama Refi. Jagain istriku ya!” pamit Yeriko sambil menyodorkan wajahnya ke wajah Rullyta.

 

“Eh, bau! Jangan cium Mama!”

 

Yeriko tertawa kecil. “Oke. Aku cium istriku aja,” ucapnya sambil menghampiri Yuna.

 

“Jangan mau, Yun. Dia bau banget!” seru Rullyta.

 

Yuna hanya tertawa kecil mendengar seruan mama mertuanya.

 

“Yee ... istriku mah tetap cinta walau aku bau,” sahut Yeriko sambil menghampiri Yuna.

 

“Aku pulang dulu! Jangan lupa makan dan istirahat ya!” ucap Yeriko sambil mengecup kening dan perut Yuna bergantian.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Jaga dia baik-baik ya! Nggak boleh sampai kelaparan!” pintanya sambil mengelus-elus perut Yuna. Ia mengecup bibir Yuna dan berlalu pergi.

 

Yeriko segera kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri dan membereskan Refi yang telah menyakiti istri dan anaknya.

 

Usai mandi dan makan, Yeriko bergegas menuju salah satu gedung yang telah ditentukan oleh Lutfi dan Riyan.

 

Begitu sampai di gedung tersebut. Ia langsung menghampiri Riyan yang didampingi oleh beberapa ajudan.

 

“Gimana, Yan?” tanya Yeriko.

 

“Dia ada di dalam sana,” jawab Riyan sambil menunjuk sebuah layar komputer yang menunjukkan Refi sedang tertidur di salah satu ruangan.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Pantau terus pergerakan dia ya!”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Abis ini, mau diapain?”

 

“Biarkan aja dia di situ sampai tujuh hari ke depan. Aku urus istriku dulu!”

 

“Oke, Bos!”

 

“Kalian bisa gantian buat jaga dia. Oh ya, jangan dikasih makan!” perintah Yeriko.

 

“Kalo dia mati gimana, Bos?”

 

“Ck, kamu ini ... belum makan?”

 

“Udah, Pak Bos.”

 

“Kenapa isi otak kamu kosong?”

 

Riyan mengerutkan dahi.

 

“Manusia bisa bertahan hidup selama tiga minggu tanpa makanan. Kasih aja air mineral. Nggak lebih dari dua liter!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

“Si Lutfi sama Satria gimana?” tanya Yeriko.

 

“Mas Satria udah mulai kerjain yang Pak Bos minta tadi pagi. Mas Lutfi ... mmh, dia belum kasih kabar lagi. Masih ngurus si Deny.”

 

“Oh. Atur semuanya sesuai rencana yang aku buat!” perintah Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Aku balik dulu ya! Aku ke sini seminggu lagi untuk eksekusi,” Yeriko menepuk bahu Riyan. Ia bergegas pergi, mempercayakan semua pekerjaannya pada Riyan dan hanya memantau lewat ponselnya saja.

 

Yeriko bergegas kembali ke perusahaan terlebih dahulu untuk memastikan semua kegiatan perusahaan tidak terpengaruh dengan kepentingan pribadi keluarganya.

 

Setelah sampai di perusahaan, ia langsung menuju ke ruangannya yang ada di lantai 24 dan menghampiri meja dua sekretarisnya.

 

“Selamat pagi, Pak!” sapa dua orang sekretaris yang melihat Yeriko masuk ke ruangannya.

 

“Pagi ...! Ada berkas yang harus saya tanda tangani?” tanya Yeriko.

 

“Ada, Pak!”

 

“Antar ke ruangan saya ya! Saya cuma punya waktu dua puluh menit,” perintah Yeriko sambil melangkah masuk ke ruangannya.

 

“Siap, Pak!”

 

“Mana berkas yang mau ditandatangani? Cepetan!” pinta salah satu sekretaris itu.

 

“Ini!” jawab sekretaris satunya sambil mengangkat tumpukan map dan meletakkannya di atas meja. “Kamu aja yang minta tanda tangan! Aku mau hubungi departemen lain supaya mereka bisa antar dokumen yang mau diverifikasi hari ini.”

 

“Oke. Cepetan ya! Dua puluh menit mepet banget,” tutur sekretaris satunya sambil bergegas membawa dokumen-dokumen tersebut ke dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Ini dokumen yang harus diverifikasi, Pak!” Sekretaris tersebut langsung menyodorkan map ke meja Yeriko.

 

Yeriko menarik satu map yang ada di sana, ia mengecek laporan-laporan tersebut dan menandatangani dokumen yang sudah sesuai dengan jumlah budget yang ada.

 

“Ini, kenapa nggak dicantumkan budget-nya?” tanya Yeriko sambil mengembalikan dokumen ke tangan sekretarisnya. “Kamu nggak ngecek?”

 

Sekretaris tersebut mengerutkan dahi. Ia membuka dokumen tersebut dan membacanya. “Maaf, Pak! Budgetnya sudah dicantumkan di halaman yang ini. Ini ada data realisasi versus budget.”

 

Yeriko kembali memeriksa dokumen tersebut. “Oh, oke. Sorry!”

 

 ucapnya sambil menambahkan tanda tangan di atas nama Yeriko Sanjaya Hadikusuma.

 

Sekretaris itu menganggukkan kepala. Ia bisa mengerti keadaan atasannya yang masih kalut karena kasus penculikkan istrinya. Seisi perusahaan sudah mengerti keadaan yang sedang terjadi. Ia tidak pernah berani mengungkit hal lain selain pekerjaan.

 

“Oh ya, jadwal saya seminggu ke depan. Tolong dialihkan ya! Saya harus merawat istri saya.”

 

“Siap, Pak!”

 

Yeriko kembali menandatangani dokumen-dokumen itu sambil melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Ia sudah tak sabar, dua puluh menit baginya sangat lama. Ia ingin segera ke rumah sakit untuk menemani istrinya.

 

“Pak, apa masih bisa minta tambahan waktu lagi? Departemen Purchasing dan Finance masih butuh tanda tangan Pak Bos hari ini. Mereka masih menyelesaikan proses verifikasi sampai ke direktur departemen masing-masing.”

 

“Perlu tambahan berapa menit?” tanya Yeriko sambil membaca dokumen yang ada di tangannya.

 

Sekretaris itu tak menjawab pertanyaan Yeriko.

 

“Lima menit?” tanya Yeriko sambil meletakkan kembali dokumen terakhir yang ia tanda tangani.

 

Sekretaris itu tak berani menjawab. Ia berharap kalau rekan duetnya bisa secepatnya masuk ke dalam ruangan itu.

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

Sekretaris kedua Yeriko, akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut. “Permisi, Pak!”

 

Sekretaris Yeriko yang sudah ada di dalam ruangan tersebut menghela napas lega. Ia langsung menghampiri sekretaris kedua dan menukar dokumen mereka.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melihat kinerja dua sekretarisnya itu. Ia tidak pernah meragukan pekerjaan orang-orangnya, sekretarisnya tak pernah bermain-main. Selalu serius, bertanggung jawab, teliti dan memiliki kecepatan yang sesuai dengan keinginan Yeriko.

 

Usai menyelesaikan urusan perusahaan. Yeriko kembali ke rumah sakit untuk merawat Yuna. Bukan hanya Yeriko, tapi juga keluarga dan sahabat-sahabatnya yang setiap hari bergantian menjenguk dan menghibur Yuna selama mendapatkan perawatan beberapa hari di rumah sakit.

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 472 : Semua Perhatian Tertuju Padamu

 


Adjie langsung bergegas pergi ke Siloam Hospital begitu ia mendapat kabar kalau Yuna mengalami penculikan dan penganiayaan. Pagi-pagi sekali, ia sudah menyiapkan bubur ayam untuk puteri kesayangannya itu. Ia harus menempuh perjalanan selama dua puluh menit untuk mencapai rumah sakit tempat Yuna dirawat.

 

 Adjie langsung masuk ke ruang VVIP, tempat puterinya mendapatkan perawatan. “Yuna, gimana keadaan kamu?” tanya Adjie sambil menghampiri puterinya yang masih terbaring di tempat tidur.

 

“Baik, Ayah. Ayah kenapa pagi-pagi udah ke sini? Yuna baik-baik aja, kok.”

 

Adjie langsung meletakkan rantang bubur yang ia bawa ke atas nakas. “Ayah bawain sarapan untuk kamu. Kamu yakin kalau kamu baik-baik aja?” tanya Adjie.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ayah nggak usah khawatir! Aku baik-baik aja. Suamiku selalu menjaga aku dengan baik.”

 

Adjie memerhatikan wajah Yuna yang masih lebam. “Kamu udah kayak gini. Maafin, Ayah! Ayah nggak bisa menjaga kamu. Seharusnya, kamu nggak perlu mengantar makanan untuk Ayah. Kalau kamu berdiam diri di dalam rumah, ini semua nggak akan terjadi.”

 

“Ayah ... ini bukan salah Ayah. Nggak perlu menyalahkan diri sendiri seperti ini. Aku nggak suka!” sahut Yuna sambil mengerutkan bibirnya.

 

“Iya, Yah. Ini salahku karena nggak bisa menjaga Yuna dengan baik. Maafin aku, Yah!” tutur Yeriko sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Adjie.

 

“Aih ... sudahlah. Jangan bersikap seperti ini, Nak Yeri!” pinta Adjie sambil menggenggam kedua bahu Yeriko dan mengajaknya untuk berdiri tegap. “Ayah sudah tahu bagaimana kamu menyayangi dan melindungi puteri Ayah. Nggak usah dibahas lagi! Yang penting, Yuna sekarang baik-baik aja.”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Adjie tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Yeriko.

 

“Yuna, makan dulu ya! Ayah suapin,” pinta Adjie sambil membuka rantang yang sudah ia bawa.

 

“Aku bisa makan sendiri, kok.”

 

“Tangan kamu luka kayak gini, biar Ayah yang suapin!” pinta Adjie. “Kamu jangan banyak bergerak, biar bisa pulih lebih cepat.”

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil menatap dua pria yang paling istimewa dalam hidupnya. Pria yang menyayangi dan melindunginya dengan tulus.

 

Yeriko membantu menaikkan posisi kepala Yuna agar istrinya bisa makan dengan baik. Ia memberikan kesempatan pada ayah mertuanya untuk merawat puteri kesayangannya itu.

 

“Yah, aku titip Yuna sebentar. Aku mau ... ketemu sama dokter,” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia duduk di tepi ranjang Yuna sambil menatap Yeriko yang mulai melangkah keluar dari ruangan itu. Kemudian, ia menyuapkan bubur yang sudah ia masak ke mulut Yuna secara perlahan.

 

Yuna memakan bubur buatan ayahnya dengan lahap. Membuat Adjie sangat senang melihat puterinya sangat bersemangat.

 

“Mmh ... masakan Ayah enak banget!” tutur Yuna sambil menikmati bubur buatan ayahnya. Ia berusaha tetap ceria, menunjukkan pada ayahnya kalau keadaannya saat ini sangat baik.

 

Adjie tersenyum. “Minum dulu! Ayah udah siapin susu murni untuk kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi dia.

 

“Kamu istirahat lagi ya!” pinta Adjie. Ia tidak ingin banyak bertanya kepada Yuna agar tidak membuat puteri kesayangannya yang sudah ceria itu kembali bersedih. Tanpa bertanya pun, sudah sangat jelas kalau puterinya mengalami penderitaan dan rasa sakit.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia juga tidak ingin ayahnya berlama-lama melihat luka yang ada di tubuhnya. Ia ingin ayahnya bisa menjalani hari-harinya dengan tenang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padanya.

 

“Ayah pulang dulu! Ntar sore, Ayah ke sini lagi. Kamu mau makan apa?” tanya Adjie sambil membereskan bekas makan Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati, Yah!”

 

Adjie mengangguk. Ia mengecup kening Yuna dan berlalu pergi.

 

Selang beberapa menit setelah Adjie keluar dari ruang rawat, Rullyta menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Yuna, kamu nggak papa!” seru Rullyta sambil menghampiri Yuna yang terbaring di tempat tidurnya.

 

“Mama!? Aku nggak papa, kok.”

 

“Gimana cucu Mama? Dia nggak papa ‘kan?” tany Rullyta sambil menyentuh perut Yuna yang sudah buncit.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

Rullyta menghela napas lega. “Syukurlah. Kalian nggak papa. Dari semalam, Mama udah gelisah nunggu kabar dari kalian. Kali ini, Mama nggak akan ngebiarin perempuan gila itu hidup bebas di luar sana,” tutur Rullyta kesal.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan mama mertuanya. Ia juga tidak ingin melepaskan Refi begitu saja. Bisa saja, Refi akan melukai anaknya suatu hari nanti.

 

“Bi, mana makanan untuk Yuna?” tanya Rullyta pada Bibi War.

 

Bibi War langsung meletakkan sup tonic yang sudah ia masak khusus untuk Yuna.

 

“Kamu makan dulu ya!” perintah Rullyta.

 

Yuna menelan ludah. Perutnya masih kenyang karena sudah memakan masakan ayahnya. Tapi, ia tidak berani menolak perhatian dari mama mertuanya. Ia memilih menganggukkan kepala, menerima apa yang diberikan oleh mama mertuanya.

 

“Mbak Yuna harus makan yang banyak, biar cepet sehat!” pinta Bibi War sambil menyiapkan sup hangat untuk Yuna.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya. “Aku makan sendiri aja, Bi!” pintanya saat Bibi War menghampirinya.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Ma, apa Kakek tahu soal ini?” tanya Yuna. Ia mengkhawatirkan kondisi kakek Yeriko yang akhir-akhir ini kurang sehat.

 

Rullyta menggelengkan kepala. “Asal kamu baik-baik aja. Beliau nggak perlu tahu sampai Mama buat perhitungan sama Refi.”

 

Yuna mengangguk tanda mengerti. Ia menyuapkan sup ke mulutnya secara perlahan.

 

“Tangan kamu kenapa?” tanya Rullyta saat melihat luka di lengan Yuna.

 

“Oh, ini. Kena pisau,” jawab Yuna santai sambil menyeruput Tonic Soup yang ada di tangannya.

 

“Hah!? Refi itu manusia atau bukan? Dia mau bunuh kamu? Dia nggak ingat berapa banyak kebaikan yang sudah dikasih keluarga Hadikusuma untuk dia? Bener-bener nggak tahu diri!” omel Rullyta.

 

Yuna tak berani menanggapi omelan Rullyta. Ia hanya memandang Bibi War sambil memainkan matanya. Ia tak berani membuat amarah mama mertuanya semakin tersulut.

 

Bibi War hanya berkomunikasi dengan Yuna menggunakan isyarat mata mereka. Mereka sudah sangat memahami sifat Rullyta. Bahkan, Yeriko pun tak berani menyela ucapan mamanya itu. Apalagi mereka. Hanya bisa mendengar Rullyta mengomel panjang lebar soal Refi yang sejak dulu sudah menempel di kehidupan keluarga Hadikusuma.

 

“Kalau sampe Yeriko masih nggak mau ngasih pelajaran buat mantan pacarnya yang sialan itu. Biar Mama yang ngasih pelajaran buat dia. Mentang-mentang pernah jadi pacarnya Yeriko, mau bertingkah seenaknya!” lanjut Rullyta mondar-mandir sambil berkacak pinggang.

 

“Mana suami kamu itu sekarang?” tanya Rullyta sambil menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna melebarkan kelopak matanya. Walau ia setuju dengan mama mertuanya, tapi dia tidak tega melihat suaminya dimarah-marahi oleh mamanya sendiri.

 

“Kamu mau ngelindungi suami kamu lagi, hah!?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Dia lagi ke ruangan dokter,” jawab Yuna lirih.

 

Rullyta mendengus kesal. “Huft, heran deh sama Yeriko. Kenapa dulu dia bisa suka sama perempuan yang punya kelainan jiwa kayak Refi. Dari dulu, Mama nggak suka sama Refi. Ternyata bener, kelakuannya kayak gini. Yeriko goblok banget!”

 

Yuna semakin gelisah melihat mama mertuanya yang terus mengomel di ruangannya sambil menunggu kedatangan putera semata wayangnya. “Mudahan, Yeriko lama banget di ruangan dokter. Biar nggak berantem sama Mama,” batinnya.

 

Bibi War menghela napas. Ia mulai gerah dengan Rullyta yang terus mondar-mandir di ruangan itu. “Bu, marah-marah ke Mas Yeri itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mas Yeri sudah dewasa, dia pasti tahu cara menyelesaikan ini semua.”

 

“Bibi belain Yeri juga? Coba aja dia nggak bersikap baik ke Refi. Nggak akan kayak gini ceritanya. Kalo sampe kenapa-kenapa sama cucu saya, siapa yang mau tanggung jawab!”

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia baru menyadari kalau mama mertuanya hanya memperdulikan anak yang ada di dalam perutnya. Sepertinya, seluruh perhatian keluarga Hadikusuma sudah beralih pada janin yang ada di dalam perut Yuna. Ia sedikit cemburu, tapi juga merasa sangat bahagia.

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 471 : Your Love is Deep

 


“Dok, gimana keadaan istri saya?” tanya Yeriko begitu dokter yang menangani Yuna keluar dari ruang pemeriksaan.

 

“Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan,” jawab dokter tersebut.

 

“Saya boleh lihat dia?” tanya Yeriko.

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

 

Yeriko bergegas masuk ke dalam ruangan IGD tersebut. Ia mengedarkan pandangannya melihat beberapa brankar yang berbaris rapi.

 

“Istri saya mana, Suster?” tanya Yeriko.

 

“Di sana, Pak!” jawab Suster yang bertugas sambil menunjuk brankar yang tertutup tirai.

 

Yeriko mempercepat langkahnya, ia menyingkap tirai yang memisahkan brankar istrinya dengan brankar pasien lain. Ia langsung memeluk tubuh Yuna yang masih belum sadarkan diri.

 

“Sayang, maafin aku ya!” ucap Yeriko sambil mengelus pipi Yuna dan menciumi wajahnya. “Cepet bangun, ya! Katanya, kamu kangen sama aku?” bisik Yeriko.

 

Yeriko terus menggenggam tangan Yuna sambil mengecupnya. Ia tidak ingin meninggalkan Yuna walau hanya sedetik saja. Apa yang terjadi pada istrinya kali ini, benar-benar membuat perasaannya sakit. Ia tak pernah melihat tubuh Yuna penuh dengan luka. Terluka sedikit saja, ia sudah sangat khawatir. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa menjadi orang yang tak berguna.

 

“Permisi, Mas!” sapa seorang suster yang tiba-tiba menghampiri Yeriko.

 

“Iya, Sus,” balas Yeriko sambil menoleh ke arah suster tersebut.

 

“Tolong selesaikan administrasi pasien secepatnya! Kami akan memindahkan ke ruang rawat dua jam lagi.”

 

“Sus, saya bisa minta pindah rumah sakit?” tanya Yeriko pada suster yang berbicara dengannya.

 

“Bisa, Mas. Silakan diurus ke bagian administrasi dan pelayanan!”

 

Yeriko mengangguk. “Terima kasih, Suster!”

 

Suster tersebut mengangguk ramah. Ia bergegas meninggalkan Yeriko yang masih enggan meninggalkan istrinya sendirian.

 

Yeriko merogoh ponsel di saku celananya. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ia menekan nomor ponsel Riyan, kemudian meletakkan di telinganya.

 

“Halo ...! Ada apa, Pak Bos?” tanya Riyan begitu panggilan telepon dari Yeriko tersambung.

 

“Yan, bisa bantu aku urus Yuna untuk pindah rumah sakit?”

 

“Pak Bos di rumah sakit mana?” tanya Riyan.

 

“Wijaya Hospital. Di sini terlalu jauh dari rumah. Aku mau pindahin ke Siloam. Tolong uruskan semuanya sekarang juga!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia enggan beranjak dari sisi Yuna dan mempercayakan semuanya pada Riyan untuk mengurus administrasi dan proses pemindahan Yuna agar mendapat perawatan di rumah sakit yang lebih baik dan dekat dengan rumah mereka yang ada di Jl. Keputih.

 

Yeriko menarik napas, ia terus memeluk lengan Yuna sambil menatap wajah istrinya yang sembab. Ia terus mengecup punggung tangan Yuna sambil menunggu wanita itu tersadar. Ia terus menatap wajah istrinya hingga terlelap sambil duduk di tepi brankar Yuna.

 

Setengah jam kemudian ...

 

Yuna membuka matanya perlahan. Ia tersenyum melihat Yeriko sudah tertidur di sampingnya. “Aku pikir, aku nggak akan pernah bangun lagi,” batin Yuna. Tangan satunya menyentuh rambut Yeriko. “Makasih, udah ngelakuin banyak hal untuk aku,” tuturnya lirih.

 

Yeriko langsung mengerjapkan mata begitu merasakan sentuhan di kepalanya. Ia langsung menatap wajah Yuna yang tersenyum ke arahnya. “Udah bangun?” tanya Yeriko sambil mengangkat kepalanya.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Maafin aku, aku nggak bisa jagain kamu dengan baik,” tutur Yeriko dengan mata berkaca-kaca.

 

Yuna bangkit dari tidurnya perlahan.

 

“Nggak usah bangun! Baring aja!” perintah Yeriko. “Kamu harus banyak istirahat.”

 

“Aku nggak papa, kok. Aku baik-baik aja.”

 

“Aku tahu, saat perempuan bilang kalau dia baik-baik aja, dia nggak beneran baik-baik aja. Kamu udah luka-luka kayak gini, mana mungkin baik-baik aja. Maafin aku ya! Aku nggak becus jadi suami kamu.”

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko. “Ay, kenapa ngomongnya gitu? Kamu adalah suami terbaik di dunia ini. Kamu selalu menjaga dan menyayangi aku setiap hari. Nggak usah sedih, ya!” pinta Yuna sambil mengelus pipi Yeriko. “Hatiku lebih sakit lihat kamu sedih kayak gini.”

 

“Aku nggak sedih, kok. Aku cuma kangen banget sama kamu,” ucap Yeriko sambil tersenyum. Ia masih terus menciumi punggung tangan istrinya.

 

“Aku juga kangen sama kamu. Ay, anak kita baik-baik aja ‘kan?” tanya Yuna lirih.

 

Yeriko mengangguk sambil meletakkan telapak tangannya di perut Yuna. “Dia baik-baik aja. Dia kuat, sama seperti bundanya.”

 

Yuna tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di punggung tangan Yeriko yang masih mengelus perutnya. “Ay, dia udah mulai bergerak. Aku ngerasa dia benar-benar hidup. Dia yang ngasih aku kekuatan untuk bertahan.”

 

“Oh ya?” Yeriko menatap perut Yuna, ia langsung mengecup anak yang ada di dalam perut istrinya itu. “Makasih, sudah bantu Ayah untuk menjaga bunda kamu,” bisiknya di perut Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko yang memperlakukan dirinya penuh kasih sayang.

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih.

 

“Umh.” Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Kenapa rambut kamu berantakan banget?” tanya Yuna sambil menatap wajah Yeriko yang berantakan dan pakaiannya yang kotor. “Aku suka lihat kamu yang ganteng dan rapi.”

 

“Aku bisa lebih berantakan dari ini kalau aku nggak bisa nemuin kamu secepatnya,” sahut Yeriko.

 

Yuna tersenyum. “Mandi ya!” pintanya lembut.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Nanti aku bersih-bersih badan setelah semuanya selesai. Aku masih nunggu Riyan mindahin kamu ke rumah sakit lain. Ini terlalu jauh dari rumah kita.”

 

“Emangnya, sekarang di rumah sakit mana?” tanya Yuna.

 

“Wijaya Hospital,” jawab Yeriko.

 

Yuna tak bertanya lagi. Ia tahu posisi rumah sakit itu dan juga pemiliknya.

 

“Kamu istirahat ya! Sambil nunggu Riyan urus administrasi untuk mindahin kamu.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Tapi ... aku laper.”

 

“Laper?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Aku carikan makanan dulu,” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.

 

“Jangan lama-lama ya! Jangan cari makanan jauh-jauh. Beliin aja roti di kantin rumah sakit. Aku takut sendirian,” pinta Yuna.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Ada banyak suster di sini, mereka jagain kamu. Aku pergi sebentar aja,” ucapnya. Ia mengecup kening Yuna dan bergegas pergi.

 

Yuna tersenyum melihat tubuh suaminya yang beranjak pergi. Ia merasa sangat bahagia memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Hatinya merasa sakit saat melihat suaminya bersedih karena dirinya.

 

“Aku memang wanita sial dan malang yang cuma bisa merepotkan dia,” tutur Yuna sambil tersenyum. “Aku harus cepet sembuh, biar Yeriko nggak sedih lagi dan nggak merasa bersalah terus!” lanjutnya menyemangati diri sendiri.

 

Yuna menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia sangat bahagia karena Tuhan mengirimkan malaikat untuk wanita malang sepertinya. Ia harap, selamanya Yeriko dan dirinya bisa hidup bahagia, saling melengkapi dan saling menguatkan.

 

Tak sampai lima menit, Yeriko sudah kembali menghampiri Yuna. “Cuma ada makanan dan minuman ini di kantin. Kamu makan dulu ya!” pinta Yeriko sambil membuka bungkus roti yang baru saja ia beli.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Makasih ...!”

 

Yeriko langsung memotong roti yang ada di tangannya dan menyuap ke mulut Yuna.

 

“Tangan kamu kenapa?” tanya Yuna sambil menatap tangan Yeriko yang dibalut perban.

 

“Eh, oh ... nggak papa. Cuma luka sedikit karena berantem,” jawab Yeriko. Ia tersenyum dan kembali menyuapkan roti ke mulut Yuna.

 

“Maafin aku ya! Gara-gara aku, kamu jadi luka kayak gini,” tutur Yuna lirih.

 

“Ini semua bukan salah kamu. Salahku yang nggak bisa menjaga dan melindungi kamu dengan baik.”

 

Yuna tertawa kecil. Ia merasa kalau Yeriko sudah menjaga dan melindunginya secara berlebihan. Tapi, suaminya itu masih saja merasa kalau tak melindunginya.

 

“Aku nggak akan ngelepasin orang yang udah bikin kamu kayak gini!” tegas Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku juga nggak mau biarin dia gitu aja. Dia harus dikasih pelajaran.”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Aku akan membalas semuanya, Yun!”

 

“Tapi jangan sampai kelewatan. Kasih pelajaran sewajarnya aja ya!” pinta Yuna. “Jangan sampai, kamu gegabah dan menyisakan penyesalan!”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Refi sebenarnya wanita yang baik dan lembut. Hanya saja, dia terlalu terobsesi. Kamu pasti bisa membuat dia menyadari kesalahannya dan kembali menjadi wanita yang baik!”

 

Yeriko mengangguk. Ia tak berniat sedikitpun untuk bernegosiasi soal perasaannya terhadap Refi. Ia hanya tidak ingin membuat istrinya mengkhawatirkan Refi. Ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya tanpa dikendalikan oleh siapa pun termasuk istrinya yang  berhati mulia itu.

 

((Bersambung ... ))

Thanks, udah dukung terus ceritanya sampai di sini.

Kira-kira, si Refi enaknya diapain ya kali ini? Mr. Ye pasti nggak akan melepaskan dia dengan mudah.

Sapa di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas