Yeriko
bergegas kembali ke ruang rawat Yuna setelah memastikan kalau kondisi janin di
dalam perut Yuna dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Baru
saja melangkah masuk ke ruangan tersebut, Yeriko dikejutkan dengan kehadiran
Rullyta yang sudah berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.
“Mama
...!?” Yeriko mengernyitkan dahi sambil menutup pintu perlahan.
“Kenapa?
Kamu kaget kalau Mama ada di sini? Kenapa si Yuna diculik dari kemarin, Mama
baru tahu tadi malam?” tanya Rullyta.
“Ck,
kalau Mama tahu, pasti makin ribet!” sahut Yeriko.
Rullyta
mengernyitkan dahi. “Ribet gimana? Kamu bilang Mama ini ribet? Mama bisa
kerahkan anak buah Mama buat bantu nyari Yuna. Kamu kira, Mama ini nggak bisa
apa-apa, hah!? Malah kamu yang nggak becus. Masih aja mau ngerawat perempuan
gila itu!”
“Ck,
aku nggak ngerawat dia, Ma. Mama duduk dulu! Jangan marah-marah! Sayang
perawatan kulit Mama ini mahal. Ntar rusak gara-gara marah-marah,” ucap Yeriko
sambil menuntun mamanya untuk duduk di sofa.
Rullyta
menepiskan tangan Yeriko dari bahunya. “Mama ini lagi marah. Kamu bisa nggak
menghargai Mama?”
“Bisa,
Ma. Bisa. Mama duduk dulu!” pinta Yeriko lirih sambil melirik Yuna. “Mama
jangan marah-marah di sini! Kasihan Yuna, dia harus istirahat.”
Rullyta
menghela napas sambil menoleh ke arah Yuna yang membalasnya dengan senyuman
manis.
“Mama
pulang ya!” pinta Yeriko.
“Kamu
ngusir Mama!?”
“Ma,
Yuna harus istirahat. Mama boleh di sini, tapi nggak boleh marah-marah. Kasihan
Yuna, Ma!”
Rullyta
menghela napas. “Mama cuma kesel sama kelakuan si Refi itu. Kalau kamu nggak
bisa ngasih dia pelajaran, biar Mama yang turun tangan. Mama bakal laporin
kelakuan dia ini ke polisi! Biar dipenjara seumur hidup.”
Yeriko
tersenyum kecil menanggapi ucapan mamanya. “Aku bakal mengatasi ini sendiri.
Mama nggak usah ikut campur! Percayakan sama aku!”
Rullyta
menatap wajah Yeriko selama beberapa detik. “Oke, Mama percaya sama kamu. Tapi
ingat, kalau si Refi itu masih bebas berkeliaran dan membahayakan calon cucu
Mama. Mama nggak akan tinggal diam!”
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Ya
udah, kamu pulang dulu!” perintah Rullyta. “Biar Mama sama Bibi War yang jagain
Yuna. Kamu belum mandi dari semalam? Badan kamu bau banget!”
Yeriko
langsung mengendus tubuhnya sendiri. Ia tertawa kecil sambil menggaruk
kepalanya yang acak-acakan. “Oke. Aku pulang dulu! Sekalian aku kelarin
urusanku sama Refi. Jagain istriku ya!” pamit Yeriko sambil menyodorkan
wajahnya ke wajah Rullyta.
“Eh,
bau! Jangan cium Mama!”
Yeriko
tertawa kecil. “Oke. Aku cium istriku aja,” ucapnya sambil menghampiri Yuna.
“Jangan
mau, Yun. Dia bau banget!” seru Rullyta.
Yuna
hanya tertawa kecil mendengar seruan mama mertuanya.
“Yee
... istriku mah tetap cinta walau aku bau,” sahut Yeriko sambil menghampiri
Yuna.
“Aku
pulang dulu! Jangan lupa makan dan istirahat ya!” ucap Yeriko sambil mengecup
kening dan perut Yuna bergantian.
Yuna
menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”
Yeriko
mengangguk sambil tersenyum. “Jaga dia baik-baik ya! Nggak boleh sampai
kelaparan!” pintanya sambil mengelus-elus perut Yuna. Ia mengecup bibir Yuna
dan berlalu pergi.
Yeriko
segera kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri dan membereskan Refi yang
telah menyakiti istri dan anaknya.
Usai
mandi dan makan, Yeriko bergegas menuju salah satu gedung yang telah ditentukan
oleh Lutfi dan Riyan.
Begitu
sampai di gedung tersebut. Ia langsung menghampiri Riyan yang didampingi oleh
beberapa ajudan.
“Gimana,
Yan?” tanya Yeriko.
“Dia
ada di dalam sana,” jawab Riyan sambil menunjuk sebuah layar komputer yang
menunjukkan Refi sedang tertidur di salah satu ruangan.
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. “Pantau terus pergerakan dia ya!”
Riyan
menganggukkan kepala. “Abis ini, mau diapain?”
“Biarkan
aja dia di situ sampai tujuh hari ke depan. Aku urus istriku dulu!”
“Oke,
Bos!”
“Kalian
bisa gantian buat jaga dia. Oh ya, jangan dikasih makan!” perintah Yeriko.
“Kalo
dia mati gimana, Bos?”
“Ck,
kamu ini ... belum makan?”
“Udah,
Pak Bos.”
“Kenapa
isi otak kamu kosong?”
Riyan
mengerutkan dahi.
“Manusia
bisa bertahan hidup selama tiga minggu tanpa makanan. Kasih aja air mineral.
Nggak lebih dari dua liter!” perintah Yeriko.
“Siap,
Pak Bos!”
“Si
Lutfi sama Satria gimana?” tanya Yeriko.
“Mas
Satria udah mulai kerjain yang Pak Bos minta tadi pagi. Mas Lutfi ... mmh, dia
belum kasih kabar lagi. Masih ngurus si Deny.”
“Oh.
Atur semuanya sesuai rencana yang aku buat!” perintah Yeriko.
Riyan
menganggukkan kepala.
“Aku
balik dulu ya! Aku ke sini seminggu lagi untuk eksekusi,” Yeriko menepuk bahu
Riyan. Ia bergegas pergi, mempercayakan semua pekerjaannya pada Riyan dan hanya
memantau lewat ponselnya saja.
Yeriko
bergegas kembali ke perusahaan terlebih dahulu untuk memastikan semua kegiatan
perusahaan tidak terpengaruh dengan kepentingan pribadi keluarganya.
Setelah
sampai di perusahaan, ia langsung menuju ke ruangannya yang ada di lantai 24
dan menghampiri meja dua sekretarisnya.
“Selamat
pagi, Pak!” sapa dua orang sekretaris yang melihat Yeriko masuk ke ruangannya.
“Pagi
...! Ada berkas yang harus saya tanda tangani?” tanya Yeriko.
“Ada,
Pak!”
“Antar
ke ruangan saya ya! Saya cuma punya waktu dua puluh menit,” perintah Yeriko
sambil melangkah masuk ke ruangannya.
“Siap,
Pak!”
“Mana
berkas yang mau ditandatangani? Cepetan!” pinta salah satu sekretaris itu.
“Ini!”
jawab sekretaris satunya sambil mengangkat tumpukan map dan meletakkannya di
atas meja. “Kamu aja yang minta tanda tangan! Aku mau hubungi departemen lain
supaya mereka bisa antar dokumen yang mau diverifikasi hari ini.”
“Oke.
Cepetan ya! Dua puluh menit mepet banget,” tutur sekretaris satunya sambil
bergegas membawa dokumen-dokumen tersebut ke dalam ruang kerja Yeriko.
“Ini
dokumen yang harus diverifikasi, Pak!” Sekretaris tersebut langsung menyodorkan
map ke meja Yeriko.
Yeriko
menarik satu map yang ada di sana, ia mengecek laporan-laporan tersebut dan
menandatangani dokumen yang sudah sesuai dengan jumlah budget yang ada.
“Ini,
kenapa nggak dicantumkan budget-nya?” tanya Yeriko sambil mengembalikan dokumen
ke tangan sekretarisnya. “Kamu nggak ngecek?”
Sekretaris
tersebut mengerutkan dahi. Ia membuka dokumen tersebut dan membacanya. “Maaf,
Pak! Budgetnya sudah dicantumkan di halaman yang ini. Ini ada data realisasi
versus budget.”
Yeriko
kembali memeriksa dokumen tersebut. “Oh, oke. Sorry!”
ucapnya
sambil menambahkan tanda tangan di atas nama Yeriko Sanjaya Hadikusuma.
Sekretaris
itu menganggukkan kepala. Ia bisa mengerti keadaan atasannya yang masih kalut
karena kasus penculikkan istrinya. Seisi perusahaan sudah mengerti keadaan yang
sedang terjadi. Ia tidak pernah berani mengungkit hal lain selain pekerjaan.
“Oh
ya, jadwal saya seminggu ke depan. Tolong dialihkan ya! Saya harus merawat
istri saya.”
“Siap,
Pak!”
Yeriko
kembali menandatangani dokumen-dokumen itu sambil melirik arloji yang ada di
pergelangan tangannya. Ia sudah tak sabar, dua puluh menit baginya sangat lama.
Ia ingin segera ke rumah sakit untuk menemani istrinya.
“Pak,
apa masih bisa minta tambahan waktu lagi? Departemen Purchasing dan Finance
masih butuh tanda tangan Pak Bos hari ini. Mereka masih menyelesaikan proses
verifikasi sampai ke direktur departemen masing-masing.”
“Perlu
tambahan berapa menit?” tanya Yeriko sambil membaca dokumen yang ada di
tangannya.
Sekretaris
itu tak menjawab pertanyaan Yeriko.
“Lima
menit?” tanya Yeriko sambil meletakkan kembali dokumen terakhir yang ia tanda
tangani.
Sekretaris
itu tak berani menjawab. Ia berharap kalau rekan duetnya bisa secepatnya masuk
ke dalam ruangan itu.
Tok
... tok ... tok ...!
Sekretaris
kedua Yeriko, akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut. “Permisi, Pak!”
Sekretaris
Yeriko yang sudah ada di dalam ruangan tersebut menghela napas lega. Ia
langsung menghampiri sekretaris kedua dan menukar dokumen mereka.
Yeriko
tersenyum kecil sambil melihat kinerja dua sekretarisnya itu. Ia tidak pernah
meragukan pekerjaan orang-orangnya, sekretarisnya tak pernah bermain-main.
Selalu serius, bertanggung jawab, teliti dan memiliki kecepatan yang sesuai
dengan keinginan Yeriko.
Usai
menyelesaikan urusan perusahaan. Yeriko kembali ke rumah sakit untuk merawat
Yuna. Bukan hanya Yeriko, tapi juga keluarga dan sahabat-sahabatnya yang setiap
hari bergantian menjenguk dan menghibur Yuna selama mendapatkan perawatan
beberapa hari di rumah sakit.

0 komentar:
Post a Comment