Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 473 : Balasan untuk Refi

 


Yeriko bergegas kembali ke ruang rawat Yuna setelah memastikan kalau kondisi janin di dalam perut Yuna dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

 

Baru saja melangkah masuk ke ruangan tersebut, Yeriko dikejutkan dengan kehadiran Rullyta yang sudah berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.

 

“Mama ...!?” Yeriko mengernyitkan dahi sambil menutup pintu perlahan.

 

“Kenapa? Kamu kaget kalau Mama ada di sini? Kenapa si Yuna diculik dari kemarin, Mama baru tahu tadi malam?” tanya Rullyta.

 

“Ck, kalau Mama tahu, pasti makin ribet!” sahut Yeriko.

 

Rullyta mengernyitkan dahi. “Ribet gimana? Kamu bilang Mama ini ribet? Mama bisa kerahkan anak buah Mama buat bantu nyari Yuna. Kamu kira, Mama ini nggak bisa apa-apa, hah!? Malah kamu yang nggak becus. Masih aja mau ngerawat perempuan gila itu!”

 

“Ck, aku nggak ngerawat dia, Ma. Mama duduk dulu! Jangan marah-marah! Sayang perawatan kulit Mama ini mahal. Ntar rusak gara-gara marah-marah,” ucap Yeriko sambil menuntun mamanya untuk duduk di sofa.

 

Rullyta menepiskan tangan Yeriko dari bahunya. “Mama ini lagi marah. Kamu bisa nggak menghargai Mama?”

 

“Bisa, Ma. Bisa. Mama duduk dulu!” pinta Yeriko lirih sambil melirik Yuna. “Mama jangan marah-marah di sini! Kasihan Yuna, dia harus istirahat.”

 

Rullyta menghela napas sambil menoleh ke arah Yuna yang membalasnya dengan senyuman manis.

 

“Mama pulang ya!” pinta Yeriko.

 

“Kamu ngusir Mama!?”

 

“Ma, Yuna harus istirahat. Mama boleh di sini, tapi nggak boleh marah-marah. Kasihan Yuna, Ma!”

 

Rullyta menghela napas. “Mama cuma kesel sama kelakuan si Refi itu. Kalau kamu nggak bisa ngasih dia pelajaran, biar Mama yang turun tangan. Mama bakal laporin kelakuan dia ini ke polisi! Biar dipenjara seumur hidup.”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan mamanya. “Aku bakal mengatasi ini sendiri. Mama nggak usah ikut campur! Percayakan sama aku!”

 

Rullyta menatap wajah Yeriko selama beberapa detik. “Oke, Mama percaya sama kamu. Tapi ingat, kalau si Refi itu masih bebas berkeliaran dan membahayakan calon cucu Mama. Mama nggak akan tinggal diam!”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Ya udah, kamu pulang dulu!” perintah Rullyta. “Biar Mama sama Bibi War yang jagain Yuna. Kamu belum mandi dari semalam? Badan kamu bau banget!”

 

Yeriko langsung mengendus tubuhnya sendiri.  Ia tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang acak-acakan. “Oke. Aku pulang dulu! Sekalian aku kelarin urusanku sama Refi. Jagain istriku ya!” pamit Yeriko sambil menyodorkan wajahnya ke wajah Rullyta.

 

“Eh, bau! Jangan cium Mama!”

 

Yeriko tertawa kecil. “Oke. Aku cium istriku aja,” ucapnya sambil menghampiri Yuna.

 

“Jangan mau, Yun. Dia bau banget!” seru Rullyta.

 

Yuna hanya tertawa kecil mendengar seruan mama mertuanya.

 

“Yee ... istriku mah tetap cinta walau aku bau,” sahut Yeriko sambil menghampiri Yuna.

 

“Aku pulang dulu! Jangan lupa makan dan istirahat ya!” ucap Yeriko sambil mengecup kening dan perut Yuna bergantian.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Jaga dia baik-baik ya! Nggak boleh sampai kelaparan!” pintanya sambil mengelus-elus perut Yuna. Ia mengecup bibir Yuna dan berlalu pergi.

 

Yeriko segera kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri dan membereskan Refi yang telah menyakiti istri dan anaknya.

 

Usai mandi dan makan, Yeriko bergegas menuju salah satu gedung yang telah ditentukan oleh Lutfi dan Riyan.

 

Begitu sampai di gedung tersebut. Ia langsung menghampiri Riyan yang didampingi oleh beberapa ajudan.

 

“Gimana, Yan?” tanya Yeriko.

 

“Dia ada di dalam sana,” jawab Riyan sambil menunjuk sebuah layar komputer yang menunjukkan Refi sedang tertidur di salah satu ruangan.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Pantau terus pergerakan dia ya!”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Abis ini, mau diapain?”

 

“Biarkan aja dia di situ sampai tujuh hari ke depan. Aku urus istriku dulu!”

 

“Oke, Bos!”

 

“Kalian bisa gantian buat jaga dia. Oh ya, jangan dikasih makan!” perintah Yeriko.

 

“Kalo dia mati gimana, Bos?”

 

“Ck, kamu ini ... belum makan?”

 

“Udah, Pak Bos.”

 

“Kenapa isi otak kamu kosong?”

 

Riyan mengerutkan dahi.

 

“Manusia bisa bertahan hidup selama tiga minggu tanpa makanan. Kasih aja air mineral. Nggak lebih dari dua liter!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Pak Bos!”

 

“Si Lutfi sama Satria gimana?” tanya Yeriko.

 

“Mas Satria udah mulai kerjain yang Pak Bos minta tadi pagi. Mas Lutfi ... mmh, dia belum kasih kabar lagi. Masih ngurus si Deny.”

 

“Oh. Atur semuanya sesuai rencana yang aku buat!” perintah Yeriko.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Aku balik dulu ya! Aku ke sini seminggu lagi untuk eksekusi,” Yeriko menepuk bahu Riyan. Ia bergegas pergi, mempercayakan semua pekerjaannya pada Riyan dan hanya memantau lewat ponselnya saja.

 

Yeriko bergegas kembali ke perusahaan terlebih dahulu untuk memastikan semua kegiatan perusahaan tidak terpengaruh dengan kepentingan pribadi keluarganya.

 

Setelah sampai di perusahaan, ia langsung menuju ke ruangannya yang ada di lantai 24 dan menghampiri meja dua sekretarisnya.

 

“Selamat pagi, Pak!” sapa dua orang sekretaris yang melihat Yeriko masuk ke ruangannya.

 

“Pagi ...! Ada berkas yang harus saya tanda tangani?” tanya Yeriko.

 

“Ada, Pak!”

 

“Antar ke ruangan saya ya! Saya cuma punya waktu dua puluh menit,” perintah Yeriko sambil melangkah masuk ke ruangannya.

 

“Siap, Pak!”

 

“Mana berkas yang mau ditandatangani? Cepetan!” pinta salah satu sekretaris itu.

 

“Ini!” jawab sekretaris satunya sambil mengangkat tumpukan map dan meletakkannya di atas meja. “Kamu aja yang minta tanda tangan! Aku mau hubungi departemen lain supaya mereka bisa antar dokumen yang mau diverifikasi hari ini.”

 

“Oke. Cepetan ya! Dua puluh menit mepet banget,” tutur sekretaris satunya sambil bergegas membawa dokumen-dokumen tersebut ke dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Ini dokumen yang harus diverifikasi, Pak!” Sekretaris tersebut langsung menyodorkan map ke meja Yeriko.

 

Yeriko menarik satu map yang ada di sana, ia mengecek laporan-laporan tersebut dan menandatangani dokumen yang sudah sesuai dengan jumlah budget yang ada.

 

“Ini, kenapa nggak dicantumkan budget-nya?” tanya Yeriko sambil mengembalikan dokumen ke tangan sekretarisnya. “Kamu nggak ngecek?”

 

Sekretaris tersebut mengerutkan dahi. Ia membuka dokumen tersebut dan membacanya. “Maaf, Pak! Budgetnya sudah dicantumkan di halaman yang ini. Ini ada data realisasi versus budget.”

 

Yeriko kembali memeriksa dokumen tersebut. “Oh, oke. Sorry!”

 

 ucapnya sambil menambahkan tanda tangan di atas nama Yeriko Sanjaya Hadikusuma.

 

Sekretaris itu menganggukkan kepala. Ia bisa mengerti keadaan atasannya yang masih kalut karena kasus penculikkan istrinya. Seisi perusahaan sudah mengerti keadaan yang sedang terjadi. Ia tidak pernah berani mengungkit hal lain selain pekerjaan.

 

“Oh ya, jadwal saya seminggu ke depan. Tolong dialihkan ya! Saya harus merawat istri saya.”

 

“Siap, Pak!”

 

Yeriko kembali menandatangani dokumen-dokumen itu sambil melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Ia sudah tak sabar, dua puluh menit baginya sangat lama. Ia ingin segera ke rumah sakit untuk menemani istrinya.

 

“Pak, apa masih bisa minta tambahan waktu lagi? Departemen Purchasing dan Finance masih butuh tanda tangan Pak Bos hari ini. Mereka masih menyelesaikan proses verifikasi sampai ke direktur departemen masing-masing.”

 

“Perlu tambahan berapa menit?” tanya Yeriko sambil membaca dokumen yang ada di tangannya.

 

Sekretaris itu tak menjawab pertanyaan Yeriko.

 

“Lima menit?” tanya Yeriko sambil meletakkan kembali dokumen terakhir yang ia tanda tangani.

 

Sekretaris itu tak berani menjawab. Ia berharap kalau rekan duetnya bisa secepatnya masuk ke dalam ruangan itu.

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

Sekretaris kedua Yeriko, akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut. “Permisi, Pak!”

 

Sekretaris Yeriko yang sudah ada di dalam ruangan tersebut menghela napas lega. Ia langsung menghampiri sekretaris kedua dan menukar dokumen mereka.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melihat kinerja dua sekretarisnya itu. Ia tidak pernah meragukan pekerjaan orang-orangnya, sekretarisnya tak pernah bermain-main. Selalu serius, bertanggung jawab, teliti dan memiliki kecepatan yang sesuai dengan keinginan Yeriko.

 

Usai menyelesaikan urusan perusahaan. Yeriko kembali ke rumah sakit untuk merawat Yuna. Bukan hanya Yeriko, tapi juga keluarga dan sahabat-sahabatnya yang setiap hari bergantian menjenguk dan menghibur Yuna selama mendapatkan perawatan beberapa hari di rumah sakit.

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas