Friday, February 27, 2026

Perfect Hero Bab 472 : Semua Perhatian Tertuju Padamu

 


Adjie langsung bergegas pergi ke Siloam Hospital begitu ia mendapat kabar kalau Yuna mengalami penculikan dan penganiayaan. Pagi-pagi sekali, ia sudah menyiapkan bubur ayam untuk puteri kesayangannya itu. Ia harus menempuh perjalanan selama dua puluh menit untuk mencapai rumah sakit tempat Yuna dirawat.

 

 Adjie langsung masuk ke ruang VVIP, tempat puterinya mendapatkan perawatan. “Yuna, gimana keadaan kamu?” tanya Adjie sambil menghampiri puterinya yang masih terbaring di tempat tidur.

 

“Baik, Ayah. Ayah kenapa pagi-pagi udah ke sini? Yuna baik-baik aja, kok.”

 

Adjie langsung meletakkan rantang bubur yang ia bawa ke atas nakas. “Ayah bawain sarapan untuk kamu. Kamu yakin kalau kamu baik-baik aja?” tanya Adjie.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ayah nggak usah khawatir! Aku baik-baik aja. Suamiku selalu menjaga aku dengan baik.”

 

Adjie memerhatikan wajah Yuna yang masih lebam. “Kamu udah kayak gini. Maafin, Ayah! Ayah nggak bisa menjaga kamu. Seharusnya, kamu nggak perlu mengantar makanan untuk Ayah. Kalau kamu berdiam diri di dalam rumah, ini semua nggak akan terjadi.”

 

“Ayah ... ini bukan salah Ayah. Nggak perlu menyalahkan diri sendiri seperti ini. Aku nggak suka!” sahut Yuna sambil mengerutkan bibirnya.

 

“Iya, Yah. Ini salahku karena nggak bisa menjaga Yuna dengan baik. Maafin aku, Yah!” tutur Yeriko sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Adjie.

 

“Aih ... sudahlah. Jangan bersikap seperti ini, Nak Yeri!” pinta Adjie sambil menggenggam kedua bahu Yeriko dan mengajaknya untuk berdiri tegap. “Ayah sudah tahu bagaimana kamu menyayangi dan melindungi puteri Ayah. Nggak usah dibahas lagi! Yang penting, Yuna sekarang baik-baik aja.”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Adjie tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Yeriko.

 

“Yuna, makan dulu ya! Ayah suapin,” pinta Adjie sambil membuka rantang yang sudah ia bawa.

 

“Aku bisa makan sendiri, kok.”

 

“Tangan kamu luka kayak gini, biar Ayah yang suapin!” pinta Adjie. “Kamu jangan banyak bergerak, biar bisa pulih lebih cepat.”

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil menatap dua pria yang paling istimewa dalam hidupnya. Pria yang menyayangi dan melindunginya dengan tulus.

 

Yeriko membantu menaikkan posisi kepala Yuna agar istrinya bisa makan dengan baik. Ia memberikan kesempatan pada ayah mertuanya untuk merawat puteri kesayangannya itu.

 

“Yah, aku titip Yuna sebentar. Aku mau ... ketemu sama dokter,” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia duduk di tepi ranjang Yuna sambil menatap Yeriko yang mulai melangkah keluar dari ruangan itu. Kemudian, ia menyuapkan bubur yang sudah ia masak ke mulut Yuna secara perlahan.

 

Yuna memakan bubur buatan ayahnya dengan lahap. Membuat Adjie sangat senang melihat puterinya sangat bersemangat.

 

“Mmh ... masakan Ayah enak banget!” tutur Yuna sambil menikmati bubur buatan ayahnya. Ia berusaha tetap ceria, menunjukkan pada ayahnya kalau keadaannya saat ini sangat baik.

 

Adjie tersenyum. “Minum dulu! Ayah udah siapin susu murni untuk kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi dia.

 

“Kamu istirahat lagi ya!” pinta Adjie. Ia tidak ingin banyak bertanya kepada Yuna agar tidak membuat puteri kesayangannya yang sudah ceria itu kembali bersedih. Tanpa bertanya pun, sudah sangat jelas kalau puterinya mengalami penderitaan dan rasa sakit.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia juga tidak ingin ayahnya berlama-lama melihat luka yang ada di tubuhnya. Ia ingin ayahnya bisa menjalani hari-harinya dengan tenang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padanya.

 

“Ayah pulang dulu! Ntar sore, Ayah ke sini lagi. Kamu mau makan apa?” tanya Adjie sambil membereskan bekas makan Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati, Yah!”

 

Adjie mengangguk. Ia mengecup kening Yuna dan berlalu pergi.

 

Selang beberapa menit setelah Adjie keluar dari ruang rawat, Rullyta menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Yuna, kamu nggak papa!” seru Rullyta sambil menghampiri Yuna yang terbaring di tempat tidurnya.

 

“Mama!? Aku nggak papa, kok.”

 

“Gimana cucu Mama? Dia nggak papa ‘kan?” tany Rullyta sambil menyentuh perut Yuna yang sudah buncit.

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

Rullyta menghela napas lega. “Syukurlah. Kalian nggak papa. Dari semalam, Mama udah gelisah nunggu kabar dari kalian. Kali ini, Mama nggak akan ngebiarin perempuan gila itu hidup bebas di luar sana,” tutur Rullyta kesal.

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan mama mertuanya. Ia juga tidak ingin melepaskan Refi begitu saja. Bisa saja, Refi akan melukai anaknya suatu hari nanti.

 

“Bi, mana makanan untuk Yuna?” tanya Rullyta pada Bibi War.

 

Bibi War langsung meletakkan sup tonic yang sudah ia masak khusus untuk Yuna.

 

“Kamu makan dulu ya!” perintah Rullyta.

 

Yuna menelan ludah. Perutnya masih kenyang karena sudah memakan masakan ayahnya. Tapi, ia tidak berani menolak perhatian dari mama mertuanya. Ia memilih menganggukkan kepala, menerima apa yang diberikan oleh mama mertuanya.

 

“Mbak Yuna harus makan yang banyak, biar cepet sehat!” pinta Bibi War sambil menyiapkan sup hangat untuk Yuna.

 

Yuna mengangguk. Ia tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya. “Aku makan sendiri aja, Bi!” pintanya saat Bibi War menghampirinya.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Ma, apa Kakek tahu soal ini?” tanya Yuna. Ia mengkhawatirkan kondisi kakek Yeriko yang akhir-akhir ini kurang sehat.

 

Rullyta menggelengkan kepala. “Asal kamu baik-baik aja. Beliau nggak perlu tahu sampai Mama buat perhitungan sama Refi.”

 

Yuna mengangguk tanda mengerti. Ia menyuapkan sup ke mulutnya secara perlahan.

 

“Tangan kamu kenapa?” tanya Rullyta saat melihat luka di lengan Yuna.

 

“Oh, ini. Kena pisau,” jawab Yuna santai sambil menyeruput Tonic Soup yang ada di tangannya.

 

“Hah!? Refi itu manusia atau bukan? Dia mau bunuh kamu? Dia nggak ingat berapa banyak kebaikan yang sudah dikasih keluarga Hadikusuma untuk dia? Bener-bener nggak tahu diri!” omel Rullyta.

 

Yuna tak berani menanggapi omelan Rullyta. Ia hanya memandang Bibi War sambil memainkan matanya. Ia tak berani membuat amarah mama mertuanya semakin tersulut.

 

Bibi War hanya berkomunikasi dengan Yuna menggunakan isyarat mata mereka. Mereka sudah sangat memahami sifat Rullyta. Bahkan, Yeriko pun tak berani menyela ucapan mamanya itu. Apalagi mereka. Hanya bisa mendengar Rullyta mengomel panjang lebar soal Refi yang sejak dulu sudah menempel di kehidupan keluarga Hadikusuma.

 

“Kalau sampe Yeriko masih nggak mau ngasih pelajaran buat mantan pacarnya yang sialan itu. Biar Mama yang ngasih pelajaran buat dia. Mentang-mentang pernah jadi pacarnya Yeriko, mau bertingkah seenaknya!” lanjut Rullyta mondar-mandir sambil berkacak pinggang.

 

“Mana suami kamu itu sekarang?” tanya Rullyta sambil menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna melebarkan kelopak matanya. Walau ia setuju dengan mama mertuanya, tapi dia tidak tega melihat suaminya dimarah-marahi oleh mamanya sendiri.

 

“Kamu mau ngelindungi suami kamu lagi, hah!?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Dia lagi ke ruangan dokter,” jawab Yuna lirih.

 

Rullyta mendengus kesal. “Huft, heran deh sama Yeriko. Kenapa dulu dia bisa suka sama perempuan yang punya kelainan jiwa kayak Refi. Dari dulu, Mama nggak suka sama Refi. Ternyata bener, kelakuannya kayak gini. Yeriko goblok banget!”

 

Yuna semakin gelisah melihat mama mertuanya yang terus mengomel di ruangannya sambil menunggu kedatangan putera semata wayangnya. “Mudahan, Yeriko lama banget di ruangan dokter. Biar nggak berantem sama Mama,” batinnya.

 

Bibi War menghela napas. Ia mulai gerah dengan Rullyta yang terus mondar-mandir di ruangan itu. “Bu, marah-marah ke Mas Yeri itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mas Yeri sudah dewasa, dia pasti tahu cara menyelesaikan ini semua.”

 

“Bibi belain Yeri juga? Coba aja dia nggak bersikap baik ke Refi. Nggak akan kayak gini ceritanya. Kalo sampe kenapa-kenapa sama cucu saya, siapa yang mau tanggung jawab!”

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia baru menyadari kalau mama mertuanya hanya memperdulikan anak yang ada di dalam perutnya. Sepertinya, seluruh perhatian keluarga Hadikusuma sudah beralih pada janin yang ada di dalam perut Yuna. Ia sedikit cemburu, tapi juga merasa sangat bahagia.

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas