Adjie
langsung bergegas pergi ke Siloam Hospital begitu ia mendapat kabar kalau Yuna
mengalami penculikan dan penganiayaan. Pagi-pagi sekali, ia sudah menyiapkan
bubur ayam untuk puteri kesayangannya itu. Ia harus menempuh perjalanan selama
dua puluh menit untuk mencapai rumah sakit tempat Yuna dirawat.
Adjie
langsung masuk ke ruang VVIP, tempat puterinya mendapatkan perawatan. “Yuna,
gimana keadaan kamu?” tanya Adjie sambil menghampiri puterinya yang masih
terbaring di tempat tidur.
“Baik,
Ayah. Ayah kenapa pagi-pagi udah ke sini? Yuna baik-baik aja, kok.”
Adjie
langsung meletakkan rantang bubur yang ia bawa ke atas nakas. “Ayah bawain
sarapan untuk kamu. Kamu yakin kalau kamu baik-baik aja?” tanya Adjie.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Ayah nggak usah khawatir! Aku baik-baik aja.
Suamiku selalu menjaga aku dengan baik.”
Adjie
memerhatikan wajah Yuna yang masih lebam. “Kamu udah kayak gini. Maafin, Ayah!
Ayah nggak bisa menjaga kamu. Seharusnya, kamu nggak perlu mengantar makanan
untuk Ayah. Kalau kamu berdiam diri di dalam rumah, ini semua nggak akan
terjadi.”
“Ayah
... ini bukan salah Ayah. Nggak perlu menyalahkan diri sendiri seperti ini. Aku
nggak suka!” sahut Yuna sambil mengerutkan bibirnya.
“Iya,
Yah. Ini salahku karena nggak bisa menjaga Yuna dengan baik. Maafin aku, Yah!”
tutur Yeriko sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Adjie.
“Aih
... sudahlah. Jangan bersikap seperti ini, Nak Yeri!” pinta Adjie sambil
menggenggam kedua bahu Yeriko dan mengajaknya untuk berdiri tegap. “Ayah sudah
tahu bagaimana kamu menyayangi dan melindungi puteri Ayah. Nggak usah dibahas
lagi! Yang penting, Yuna sekarang baik-baik aja.”
Yeriko
menganggukkan kepala.
Adjie
tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Yeriko.
“Yuna,
makan dulu ya! Ayah suapin,” pinta Adjie sambil membuka rantang yang sudah ia
bawa.
“Aku
bisa makan sendiri, kok.”
“Tangan
kamu luka kayak gini, biar Ayah yang suapin!” pinta Adjie. “Kamu jangan banyak
bergerak, biar bisa pulih lebih cepat.”
Yuna
mengangguk. Ia tersenyum sambil menatap dua pria yang paling istimewa dalam
hidupnya. Pria yang menyayangi dan melindunginya dengan tulus.
Yeriko
membantu menaikkan posisi kepala Yuna agar istrinya bisa makan dengan baik. Ia
memberikan kesempatan pada ayah mertuanya untuk merawat puteri kesayangannya
itu.
“Yah,
aku titip Yuna sebentar. Aku mau ... ketemu sama dokter,” tutur Yeriko sambil
bangkit dari kursinya.
Adjie
menganggukkan kepala. Ia duduk di tepi ranjang Yuna sambil menatap Yeriko yang
mulai melangkah keluar dari ruangan itu. Kemudian, ia menyuapkan bubur yang
sudah ia masak ke mulut Yuna secara perlahan.
Yuna
memakan bubur buatan ayahnya dengan lahap. Membuat Adjie sangat senang melihat
puterinya sangat bersemangat.
“Mmh
... masakan Ayah enak banget!” tutur Yuna sambil menikmati bubur buatan
ayahnya. Ia berusaha tetap ceria, menunjukkan pada ayahnya kalau keadaannya
saat ini sangat baik.
Adjie
tersenyum. “Minum dulu! Ayah udah siapin susu murni untuk kamu.”
Yuna
menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena dikelilingi oleh
orang-orang yang sangat menyayangi dia.
“Kamu
istirahat lagi ya!” pinta Adjie. Ia tidak ingin banyak bertanya kepada Yuna
agar tidak membuat puteri kesayangannya yang sudah ceria itu kembali bersedih.
Tanpa bertanya pun, sudah sangat jelas kalau puterinya mengalami penderitaan
dan rasa sakit.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. Ia juga tidak ingin ayahnya berlama-lama melihat
luka yang ada di tubuhnya. Ia ingin ayahnya bisa menjalani hari-harinya dengan
tenang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
“Ayah
pulang dulu! Ntar sore, Ayah ke sini lagi. Kamu mau makan apa?” tanya Adjie
sambil membereskan bekas makan Yuna.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati, Yah!”
Adjie
mengangguk. Ia mengecup kening Yuna dan berlalu pergi.
Selang
beberapa menit setelah Adjie keluar dari ruang rawat, Rullyta menerobos masuk
ke dalam ruangan tersebut.
“Yuna,
kamu nggak papa!” seru Rullyta sambil menghampiri Yuna yang terbaring di tempat
tidurnya.
“Mama!?
Aku nggak papa, kok.”
“Gimana
cucu Mama? Dia nggak papa ‘kan?” tany Rullyta sambil menyentuh perut Yuna yang
sudah buncit.
Yuna
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Rullyta
menghela napas lega. “Syukurlah. Kalian nggak papa. Dari semalam, Mama udah
gelisah nunggu kabar dari kalian. Kali ini, Mama nggak akan ngebiarin perempuan
gila itu hidup bebas di luar sana,” tutur Rullyta kesal.
Yuna
hanya tersenyum menanggapi ucapan mama mertuanya. Ia juga tidak ingin
melepaskan Refi begitu saja. Bisa saja, Refi akan melukai anaknya suatu hari
nanti.
“Bi,
mana makanan untuk Yuna?” tanya Rullyta pada Bibi War.
Bibi
War langsung meletakkan sup tonic yang sudah ia masak khusus untuk Yuna.
“Kamu
makan dulu ya!” perintah Rullyta.
Yuna
menelan ludah. Perutnya masih kenyang karena sudah memakan masakan ayahnya.
Tapi, ia tidak berani menolak perhatian dari mama mertuanya. Ia memilih
menganggukkan kepala, menerima apa yang diberikan oleh mama mertuanya.
“Mbak
Yuna harus makan yang banyak, biar cepet sehat!” pinta Bibi War sambil
menyiapkan sup hangat untuk Yuna.
Yuna
mengangguk. Ia tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya. “Aku makan sendiri
aja, Bi!” pintanya saat Bibi War menghampirinya.
Bibi
War menganggukkan kepala.
“Ma,
apa Kakek tahu soal ini?” tanya Yuna. Ia mengkhawatirkan kondisi kakek Yeriko
yang akhir-akhir ini kurang sehat.
Rullyta
menggelengkan kepala. “Asal kamu baik-baik aja. Beliau nggak perlu tahu sampai
Mama buat perhitungan sama Refi.”
Yuna
mengangguk tanda mengerti. Ia menyuapkan sup ke mulutnya secara perlahan.
“Tangan
kamu kenapa?” tanya Rullyta saat melihat luka di lengan Yuna.
“Oh,
ini. Kena pisau,” jawab Yuna santai sambil menyeruput Tonic Soup yang ada di
tangannya.
“Hah!?
Refi itu manusia atau bukan? Dia mau bunuh kamu? Dia nggak ingat berapa banyak
kebaikan yang sudah dikasih keluarga Hadikusuma untuk dia? Bener-bener nggak
tahu diri!” omel Rullyta.
Yuna
tak berani menanggapi omelan Rullyta. Ia hanya memandang Bibi War sambil
memainkan matanya. Ia tak berani membuat amarah mama mertuanya semakin
tersulut.
Bibi
War hanya berkomunikasi dengan Yuna menggunakan isyarat mata mereka. Mereka
sudah sangat memahami sifat Rullyta. Bahkan, Yeriko pun tak berani menyela
ucapan mamanya itu. Apalagi mereka. Hanya bisa mendengar Rullyta mengomel
panjang lebar soal Refi yang sejak dulu sudah menempel di kehidupan keluarga
Hadikusuma.
“Kalau
sampe Yeriko masih nggak mau ngasih pelajaran buat mantan pacarnya yang sialan
itu. Biar Mama yang ngasih pelajaran buat dia. Mentang-mentang pernah jadi
pacarnya Yeriko, mau bertingkah seenaknya!” lanjut Rullyta mondar-mandir sambil
berkacak pinggang.
“Mana
suami kamu itu sekarang?” tanya Rullyta sambil menoleh ke arah Yuna.
Yuna
melebarkan kelopak matanya. Walau ia setuju dengan mama mertuanya, tapi dia
tidak tega melihat suaminya dimarah-marahi oleh mamanya sendiri.
“Kamu
mau ngelindungi suami kamu lagi, hah!?”
Yuna
menggelengkan kepala. “Dia lagi ke ruangan dokter,” jawab Yuna lirih.
Rullyta
mendengus kesal. “Huft, heran deh sama Yeriko. Kenapa dulu dia bisa suka sama
perempuan yang punya kelainan jiwa kayak Refi. Dari dulu, Mama nggak suka sama
Refi. Ternyata bener, kelakuannya kayak gini. Yeriko goblok banget!”
Yuna
semakin gelisah melihat mama mertuanya yang terus mengomel di ruangannya sambil
menunggu kedatangan putera semata wayangnya. “Mudahan, Yeriko lama banget di
ruangan dokter. Biar nggak berantem sama Mama,” batinnya.
Bibi
War menghela napas. Ia mulai gerah dengan Rullyta yang terus mondar-mandir di
ruangan itu. “Bu, marah-marah ke Mas Yeri itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Mas Yeri sudah dewasa, dia pasti tahu cara menyelesaikan ini semua.”
“Bibi
belain Yeri juga? Coba aja dia nggak bersikap baik ke Refi. Nggak akan kayak
gini ceritanya. Kalo sampe kenapa-kenapa sama cucu saya, siapa yang mau
tanggung jawab!”
Yuna
menggigit bibirnya. Ia baru menyadari kalau mama mertuanya hanya memperdulikan
anak yang ada di dalam perutnya. Sepertinya, seluruh perhatian keluarga
Hadikusuma sudah beralih pada janin yang ada di dalam perut Yuna. Ia sedikit
cemburu, tapi juga merasa sangat bahagia.

0 komentar:
Post a Comment