Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 374 : Get Icha

 


“Pak Bos, ini informasi yang kami dapat,” tutur Riyan saat mereka berkumpul di teras belakang rumah Yeriko.

Setelah tiga hari melakukan pencarian, Riyan dan Chandra menemukan Ibu Ratna kini tinggal di Menur. Salah satu rumah sakit jiwa yang pernah merawat Amara.

Yeriko mengerutkan dahi sambil menatap foto-foto yang diperlihatkan Riyan. “Dia kenapa? Kok, bisa masuk sini?”

Riyan dan Chandra menggeleng bersamaan.

“Amara masih di sana, Chan?” tanya Yeriko sambil menghisap rokoknya.

Chandra mengedikkan bahunya. “Entahlah.”

Yeriko tertawa kecil menatap Chandra. Ia merasa sangat puas karena Chandra benar-benar membuang Amara dari kehidupannya.

“Amara ...? Itu tunangan kamu yang dulu? Kenapa bisa masuk Menur? Gara-gara nggak kamu nikah-nikahin?” tanya Satria.

“Tak sampluk kowe!” sahut Chandra sambil meraih asbak yang ada di hadapan Yeriko dan bersiap melayangkan ke arah Satria.

“Eits, selow ... nggak boleh pake kekerasan!” pinta Satria sambil menurunkan asbak secara perlahan dari tangan Chandra.

“Kamu kalo ngomong suka ngasal. Nggak mungkin aku bikin tunanganku sendiri gila. Kalo emang mau nikah ya nikah aja.”

“Hahaha. Terus, dia sakit jiwa karena apa?” tanya Satria.

“Entahlah. Kerjaan Yeriko.”

“Kok, aku?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

“Nggak usah pura-pura polos! Rencana jahatmu itu udah tertulis dengan jelas di jidatmu itu.”

“Kamu apain, Yer?” tanya Satria sambil menatap Yeriko.

Yeriko meraih sloki dan meminum air yang ada di dalamnya. “Aku nggak ngapa-ngapain?”

“Halah, masih nggak mau ngaku. Yang bikin perusahaan keluarganya Harry jadi bangkrut, siapa?”

“Chan, dalam dunia bisnis memang begitu. Bangkrut itu kan resiko,” jawab Yeriko sambil menahan tawa.

Chandra tertawa kecil. “Kamu pikir aku nggak tahu?”

“Hahaha. Balik ke topik awal. Ini Ibu Ratna kenapa bisa sampai dirawat di Menur?”

“Nggak tahu penyebabnya, Yer. Orang udah stres gitu nggak bisa diajak komunikasi.”

“Hmm, Icha gimana?” tanya Yeriko.

Chandra dan Riyan menoleh ke arah Satria bersamaan.

“Masih nunggu kabar anggota. Santai,” jawab Satria sambil berbaring santai di atas karpet bulu yang disediakan Yeriko untuk bersantai.

“Suruh anggotamu cepetan, Sat!” pinta Yeriko. “Udah tiga hari nih.”

“Selow ...,” sahut Satria santai.

 “Istriku udah khawatir banget sama Icha,” tutur Yeriko berbisik.

“Khawatir kenapa?” tanya Satria santai.

“Dia takut kalau mamanya terus-menerus mengintimidasi Icha.”

“Mamanya aja dirawat di Menur. Pasti si Icha baik-baik aja.”

“Iya juga, sih. Tapi, jangan terlalu lama juga.”

“Santai, Yer.” Satria tersenyum sambil memainkan kedua alisnya.

Yeriko menghela napas sejenak. “Istriku lagi hamil, Sat. Aku takut dia banyak pikiran dan mengganggu perkembangan janinnya.”

“Emang nggak rutin periksa ke dokter kandungan?” tanya Satria.

“Rutin lah,” sahut Yeriko.

“Dokter kandungan bilang kalo janinnya dia bermasalah?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Ya udah. Santai aja!”

“Kamu itu nggak ngerasain rasanya mau punya anak!” dengus Yeriko kesal sambil menendang paha Satria yang berada tepat di bawah kakinya.

Satria terkekeh mendengar ucapan Yeriko. Ia merogoh ponselnya yang tiba-tiba bergetar.

“Eits, wallpapernya cewek. Pacarmu, Sat?” tanya Chandra.

“Foto artis,” jawab Satria santai. Ia mengusap layar ponsel dan membaca pesan yang masuk ke dalam chat pribadinya.

Satria langsung bangkit tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. “Ketemu, Chan!” seru Satria.

“Apanya?”

“Pacarnya Lutfi.”

“Di mana?”

“Satria langsung menunjukkan foto-foto yang masuk ke dalam ponselnya.”

“Kita ke sana sekarang!” seru Yeriko sambil bangkit dari kursi.

“Ayo ...!” Semua orang bergegas bangkit dari tempatnya.

“Aku pamit ke istriku dulu,” tutur Yeriko sambil melangkahkan kakinya.

“Iya, yang udah punya istri,” goda Satria.

Yeriko tersenyum kecil. “Makanya, buruan nikah!”

“Aish, susah nyari jodoh, Yer.”

“Kamu terlalu banyak milih.”

“Eh, bukannya kamu yang pemilih?” dengus Satria kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Iya, dong. Harus pilih wanita terbaik.”

“Yee, kamu mah udah nemuin. Kalo aku yang ketemu duluan sama Kakak Ipar Kecil, aku yang nikahin dia,” sahut Satria.

“Jangan ngimpi!” dengus Yeriko. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Kurang ajar. Dia belajar ngolokin orang dari mana?” tutur Satria sambil berkacak pinggang menatap Yeriko.

“Heh!?” Satria menoleh ke belakang karena tak mendapat tanggapan dari Chandra dan Riyan.

Chandra dan Riyan menahan tawa sambil melangkah keluar dari rumah Yeriko.

“Woi ...! Tungguin! Malah ditinggal?” seru Satria.

Chandra tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja ia menyentuh handle pintu mobilnya, ponselnya tiba-tiba berdering.

“Halo ...!” Chandra langsung menjawab panggilan telepon dari Lutfi.

“Gimana? Udah ada kabar soal Icha?” tanya Lutfi.

“Baru dapet kabar dari Satria. Dia kerja di W Club. Club baru yang ada di Kenjeran.”

“Jemput aku, Chan!” pinta Lutfi.

“Kamu masih sakit, Lut. Kita bisa tangani. Kamu nggak perlu kha—”

“Jemput aku!” seru Lutfi. “Kalo kamu nggak jemput, aku pergi ke sana sendiri.”

Chandra menghela napas. “Oke. Aku jemput kamu.”

“Cepetan!”

“Iya, Lut. Sabar!” sahut Chandra kesal. Ia langsung mematikan panggilan telepon dari Lutfi.

“Mas Lutfi?” tanya Riyan sambil menatap Chandra.

Chandra menganggukkan kepala. “Aku jemput Lutfi di rumah sakit. Bilangin ke Yeri ya!” Chandra langsung masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan halaman rumah Yeriko.

“Heh, aku ditinggalin gitu aja? Aku kan numpang mobil dia,” tutur Satria sambil menunjuk mobil Chandra yang berlalu pergi.

“Mas Satria ikut kami aja!” tutur Riyan.

“Iya, lah. Mau ikut siapa lagi?” sahut Satria sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Baru di sini, komandan dikerjain. Kalo bukan temen, udah kutembak mati tuh si Chandra.”

Riyan hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Satria.

“Ini Yeriko lama banget?” gumam Satria. “Dia mau pamitan sama istrinya atau minta jatah dulu?” tanyanya sambil melihat arloji di tangannya.

Padahal, belum genap lima menit Satria menunggu Yeriko keluar dari rumahnya. Tapi, ia sudah sangat gelisah. Sementara, Riyan terlihat sangat santai sambil bersandar di mobil bosnya.

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari rumahnya. “Chandra mana?” tanyanya.

“Jemput Lutfi.”

“Lutfi mau ikut ke club?”

“Kayaknya sih gitu. Kayak nggak tahu aja keras kepalanya si Lutfi itu gimana,” jawab Satria.

“Ya udah. Kita jalan aja pelan-pelan sambil nunggu Chandra jemput si Lutfi!” perintah Yeriko.

Riyan mengangguk. Ia segera masuk ke mobil, duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.

Yeriko dan Satria bergegas masuk ke mobil. Mereka berjalan santai sambil menunggu Chandra di perjalanan agar sampai ke club berbarengan.

“Club tutup jam berapa?” tanya Yeriko.

“Pagi, Yer. Masih lama,” sahut Satria.

Yeriko memilih diam selama perjalanan. Banyak hal yang ia pikirkan beberapa hari terakhir ini. Bukan hanya soal bisnis. Tapi juga konflik yang terjadi pada orang-orang terdekatnya. Ia tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Terlebih, semua ada hubungan dengan istri tercintanya.

 

Di rumah sakit ...

Lutfi melepas paksa selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya. Ia segera mengganti pakaiannya. Kemudian ia keluar diam-diam dari ruangannya.

Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Suasana rumah sakit tak terlihat ramai dan Lutfi tak ingin terlihat seperti pasien. Ia melangkah keluar dari rumah sakit. Menunggu mobil Chandra menjemputnya.

Beberapa menit kemudian, mobil Chandra sudah memasuki halaman rumah sakit. Lutfi langsung menghadang mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.

“Kamu yakin? Lukamu nggak papa?” tanya Chandra.

Lutfi mengangguk sambil menahan nyeri di perutnya. “Aku nggak papa,” jawabnya sambil memasang safety belt ke pinggangnya.

Chandra menghela napas. Ia segera menjalankan mobilnya kembali menuju club, tempat di mana Icha saat ini bekerja sebagai pelayan.

 

  ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 373 : Masih Mencari

 


“Yan, gimana perkembangan kasus yang aku minta?” tanya Yeriko saat Riyan dan Chandra masuk ke dalam ruang kerjanya bersamaan.

“Kasus yang mana, Pak Bos?”

“Yang terbaru.”

“Hari ini, kami baru mau ngecek ke Bandara.”

Yeriko mengangkat kedua alisnya.

“Untuk memastikan kalau Ibu Ratna masih di dalam kota ini atau sudah pergi.”

“Oh, oke, oke. I See.”

“Yer, gimana acara pengajian kemarin? Sorry, aku gak bisa ikutan.”

“Semuanya lancar.”

“Mas Chandra, Mas Satria bisa bantu kita buat cari orang?” tanya Riyan.

“Cari siapa?”

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko. “Pak Bos belum kasih tahu Mas Chandra?” tanyanya.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Oh.” Riyan terdiam. Jika bosnya tidak memberitahu Chandra, artinya dia harus menangani semuanya sendiri.

Chandra tertawa kecil menatap Riyan yang tertunduk lesu. “Nggak usah takut! Aku pasti bantu kamu.”

“Mas Chandra udah tahu?”

Chandra mengangguk.

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko sambil mengelus dada. “Syukurlah.”

“Kenapa, Yan? Kamu udah mau muntah dapet tugas banyak dari bos kamu ini?” tanya Chandra.

Riyan menggelengkan kepala.

“Halah, bilang aja kalo kamu udah mau mati keracunan, apalagi ngadepin si Refi. Hahaha.”

“Refi kenapa lagi?”

Chandra mengedikkan bahu. “Tanya Riyan, tuh!” perintahnya sambil menahan tawa.

Yeriko langsung menatap wajah Riyan.

“Dia bikin onar terus di perusahaan,” tutur Riyan.

“Baguslah. Jangan biarkan dia berkembang. Tekan terus sampai dia berhenti dengan sendirinya!” pinta Yeriko.

Riyan mengangguk tanda mengerti.

“Sekarang, yuk!” ajak Chandra sambil bangkit dari tempat duduknya.

Riyan menganggukkan kepala.

“Ke mana?” tanya Yeriko.

“Happy-happy,” jawab Chandra sambil mengerdipkan matanya.

Yeriko tertawa kecil. Ia sangat mengerti istilah ‘happy-happy’ yang dimaksud oleh Chandra adalah menjalankan tugas yang ia berikan di luar kantornya.

Riyan dan Chandra melangkah beriringan memasuki area perkantoran bandara.

“Mas, apa kita bisa dapet akses untuk ngecek arus perjalanan setiap maskapai?” tanya Riyan.

“Tenang, aku kenal sama direktur di sini. Dia sudah kasih izin ke kita. Kita cuma dikasih waktu tiga puluh menit untuk melakukan pengecekan data. Kita dilarang menyalin data tersebut. Jadi, kita harus cepat.”

“Gimana kalau kita pakai IT perusahaan untuk copy semua data mereka? Apa waktu kita cukup?”

“Cukup banget,” jawab Chandra penuh keyakinan.

Riyan langsung menganggukkan kepala dan mempercayakan semuanya pada Chandra.

Hanya dalam tiga puluh menit, Chandra sudah bisa mendapatkan informasi kalau Ratna memang masih ada di dalam kota. Belum ada maskapai yang mencatat penerbangan atas namanya setelah wanita itu masuk ke kota Surabaya.

“Yan, kita harus temukan tempat tinggal mereka secepatnya,” tutur Chandra sambil keluar dari bandara.

“Icha sudah pindah tinggal. Dia nggak tinggal di rumah yang lama. Tetangganya juga nggak ada yang tahu.”

“Kamu hubungi Satria. Kalo soal nyari orang, dia jagonya.”

Riyan tertawa kecil sambil mendengar ucapan Chandra.

“Kenapa ketawa?” tanya Chandra.

“Kalo nyarikan jodoh, bisa nggak ya?” tanya Riyan sambil tertawa kecil.

“Hahaha. Itu yang paling susah dicari, Yan. Dia aja masih nyari terus gak dapet-dapet.”

Riyan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka bergegas menuju parkiran.

 Riyan merogoh ponsel di sakunya dan melemparkan kunci mobil ke arah Chandra. “Mas Chandra yang bawa mobil, ya!”

Chandra langsung menyambar kunci yang melayang tepat di dadanya. Ia menatap wajah Riyan sejenak, lalu membuka kunci pintu mobil.

Riyan menempelkan ponsel di telinganya. “Halo ... Mas Satria!” sapanya begitu panggilan teleponnya tersambung. Ia bergegas masuk ke dalam bersama Chandra.

“Hei ... kenapa, Yan?”

“Kami butuh bantuan Mas Satria. Sekarang, Mas Satria ada di mana?”

“Aku lagi di tempat latihan. Ke sini aja!”

“Oke, Mas. Kami langsung ke sana.” Riyan mematikan panggilan teleponnya.

Chandra bergegas melajukan mobilnya ke tempat latihan Satria seperti biasa.

 

...

 

Di saat yang sama ...

Yuna terus mondar-mandir di dalam rumahnya. Ia sangat khawatir karena Riyan belum juga memberinya kabar tentang keberadaan Icha. Saat ini, orang yang paling ia khawatirkan adalah Icha. Ia takut kalau Icha terus mendapat intimidasi dari mamanya sendiri setelah melukai Lutfi.

“Tok ....tok ... tok ...! Yuna ... bukain pintu!” seru Jheni yang sudah berdiri di luar pintu rumah Yuna.

Yuna langsung memutar tubuhnya, menatap ke arah pintu yang sudah terbuka. Ia langsung berkacak pinggang sambil menatap Jheni. “Pintunya udah terbuka ...!” serunya kesal.

Jheni tertawa lebar sambil melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah tersebut. “Kamu kenapa? Mondar-mandir kayak setrikaan,” tanya Jheni.

“Kamu udah dari tadi di situ?” tanya Yuna balik.

“Dari kemarin,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.

“Dasar hantu!” dengus Yuna.

“Gimana? Udah ada kabar soal Icha?” tanya Jheni.

“Belum, Jhen.”

“Dia ke mana sih? Kayak hilang di telan bumi. Bukannya, Juan bilang kalo Icha kerja di bar?”

“Jhen, ada berapa banyak bar di kota ini? Juan nggak nyebutin nama barnya. Riyan sama Chandra udah nyari. Kita tinggal tunggu kabar aja.”

“Oh, baguslah. Aku bisa santai.” Jheni langsung duduk di sofa. Ia mengeluarkan tablet dari dalam tasnya. Jemari tangannya dengan lincah menggoyangkan stylus pen ke atas layar tablet tersebut.

“Kamu gambar apa?” tanya Yuna.

“Gambar komik aku, dong!” sahut Jheni.

“Aku lihat ...!” Yuna langsung duduk di sebelah Jheni.

Jheni menutup layar tab ke dadanya.

“Pelit amat, sih!?” dengus Yuna.

“Nggak boleh tahu. Ini project komik pertamaku, Yun. Bakalan hits di seluruh negeri.”

“Nggak bakal hits kalo kamu rahasiain dari aku,” dengus Yuna.

“Nanti aku kasih tau kalo udah rilis. Masih nyiapin lima puluh part pertama buat aku launching di awal.”

“Banyak banget?” tanya Yuna. “Nggak pusing?”

Jheni menggelengkan kepala. “Aku mau bikin cerita romance yang panjang. Kayak serial Naruto atau doraemon gitu.”

“Bosen yang baca kalo panjang-panjang,” sahut Yuna.

“Yee ... kamu ini meremehkan banget. Naruto itu komiknya panjang banget. Nggak ada yang bosen bacanya.”

“Karena yang baca anak-anak. Mereka nggak bosen baca itu-itu terus berkali-kali. Dongeng si Kancil sama serial Upin-Ipin aja dilihat terus. Padahal, ceritanya itu lagi itu lagi,” tutur Yuna.

“Aku mau bikin serial romance yang nggak ngebosenin.”

“Oh ya? Judulnya apa?” tanya Yuna penasaran.

“Judulnya belum aku pikirin. Yang jelas, tokoh utamanya aku buat cakep banget.”

“Ciyee ... siapa tuh? Chandra ya?” goda Yuna.

“Ada, deh.” Jheni tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.

“Lihat, dong! Aku penasaran,” desak Yuna.

“Kepo tingkat tinggi!” Jheni langsung mematikan tablet yang ada di tangannya dan menyimpannya kembali ke dalam tas. “Ntar juga tahu kalo udah rilis.”

“Aku kan pengen jadi pembaca yang per—” Ucapan Yuna terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering.

“Halo ...!” Yuna langsung menyapa begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya.

“Halo ...!”

“Gimana? Icha udah ketemu?” tanya Yuna.

“Belum, Nyonya Muda. Kami udah ngecek ke bandara. Tidak ada maskapai penerbangan yang mencatat nama Ibu Ratna setelah beliau masuk ke kota ini.”

“Baguslah. Berarti dia masih di dalam sini,” sahut Yuna sambil menatap wajah Jheni.

“Iya, Nyonya Muda. Cuma itu yang bisa saya laporkan sekarang. Selanjutnya, kami akan fokus mencari Mba Icha dan ibunya.”

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, ya! Cepet dapetin mereka, ya! Aku khawatir sama Icha ...”

“Siap, Nyonya Bos.”

Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Kamu kenapa? Kelihatan gelisah banget?” tanya Jheni.

“Aku khawatir sama Icha, Jhen.”

“Buat apa mengkhawatirkan dia? Dia aja nggak peduli sama kita,” sahut Jheni sambil meraih buah apel yang ada di atas meja dan memakannya. “Weh, asli nih,” tutur Jheni sambil menatap apel yang ada di tangannya.

“Aku nggak pernah naruh buah palsu di situ,” sahut Yuna.

Jheni tertawa kecil. “Iya, percaya. Orang kaya asli.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Biar bukan orang kaya, mana tega nge-prank tamu. Kalo tamunya kamu sih, aku kasih aja buah palsu.”

Jheni mendelik ke arah Yuna. “Kamu!? Tega bener sama temen sendiri. Harusnya, kalo aku datang tuh digelarin karpet merah, dikasih makan makanan enak dan mahal.”

“Idih, emang lo siapa?”

“Aku sahabat kamu. Nggak usah bergaya pake bahasa gue elo!?”

“Hahaha. Berasa jadi anak sultan?”

“Hehehe. Menghayal dulu, nggak papalah. Kamu sih enak, udah jadi istri sultan.”

“Aku istrinya Yeriko, bukan Sultan!”

“Idih, maksudnya itu istri raja,” sahut Jheni.

“Nggak mau jadi istri raja. Aku nggak mau kalo Yeriko jadi raja.”

“Lah? Kan kamu ratunya, Yun.”

“Aku nggak mau jadi ratu.”

“Cewek aneh,” celetuk Jheni.

“Raja punya banyak selir, Jhen. Aku nggak rela kalo Yeriko punya selir!

“Iya, juga sih. Ada kali raja yang nggak punya selir.”

“Raja Hutan. Hahaha.”

Yuna ikut tergelak. Ia menghabiskan waktunya seharian bersama Jheni di dalam rumah. Teman biasa, akan menghilang seiring waktu. Teman baik, akan membenci waktu yang hilang.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 372 : Cheerfull Day

 


“Ay, tolongin dong ...!” pinta Yuna sambil menyodorkan punggungnya ke hadapan Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yeriko. Sambil menatap punggung Yuna yang terbuka.

“Susah masangnya,” jawab Yuna sambil berusaha menautkan kuncian bra-nya.

Yeriko tertawa kecil. “Kalo kekecilan, nggak usah dipake!” pintanya sambil mengambil alih pekerjaan Yuna.

“Kayaknya, kemarin masih bisa dipake. Semua ukurannya sama. Kenapa tiba-tiba jadi sempit dalam semalam?” gumam Yuna.

“Itu karena kamu makan mie instan semalam. Langsung ngembang badannya,” sahut Yeriko sambil tertawa kecil.

Yuna langsung mengembungkan pipinya. “Masa cuma makan sedikit aja, langsung ngembang?”

“Makanya, nggak usah makan malam!” pinta Yeriko.

“Nggak tahan. Akhir-akhir ini sering lapar malam.”

“Makan buah aja kalau lapar.”

“Makan buah nggak bikin kenyang. Kenyangnya cuma bertahan sebentar aja. Cepetan pasangin!”

“Susah, Yun. Ini sempit beneran. Coba cari yang lain!”

“Ukurannya sama semua. Udah aku cobain satu-satu.”

“Kali aja ada yang agak molor bahannya.”

“Huft, ini juga molor. Tarik yang kenceng!”

“Eh!?” Yeriko menatap kuncian bra yang masih berjarak satu sentimeter walau sudah ia tarik. “Nggak papa?”

“Nggak papa.”

Yeriko terdiam sesaat. “Kalau aku paksa, apa dia nggak tersiksa pakai bra sempit begini?” batin Yeriko.

“Cepetan, sayangku!” pinta Yuna.

Yeriko melepaskan bra dari tangannya.

“Loh? Kenapa?”

“Nggak usah pake bh!” pintanya.

“Eh!?”

“Udah sempit kayak gini, masih maksa mau dipake?”

“Tapi, aku mau keluar hari ini. Mau cari Icha lagi.”

“Nggak usah keluar dulu!” pinta Yeriko. “Aku carikan yang baru buat kamu. Ini nomer berapa?”

“Tiga empat,” jawab Yuna.

“Aku carikan yang nomer berapa lagi?”

“Tiga enam aja.”

“Nggak tiga lapan sekalian?” tanya Yeriko.

“Idih, gede banget!”

“Emang gede ya kalau nomor tiga puluh delapan?” tanya Yeriko sambil tertawa kecil.

“Iya.”

“Aku jadi ngebayangin,” tutur Yeriko sambil tertawa geli.

Yuna mendelik ke arah Yeriko. “Ngebayangin apa?”

“Ngebayangin nomor tiga puluh delapan.”

“Empat puluh yang lebih gede lagi. Puas!” dengus Yuna.

Yeriko tergelak mendengar ucapan Yuna. “Kayak Wewe Gombel.”

“Wewe Gombel apaan?” tanya Yuna.

“Kamu nggak tahu Wewe Gombel?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Apaan sih?”

“Ya udah kalo nggak tahu. Nggak usah dicari tahu.” Yeriko terus tertawa dalam hati sambil melangkah keluar dari kamarnya.

“Eh? Kok, gitu?” Yuna mengerutkan wajahnya sambil menatap punggung Yeriko. Ia bergegas meraih dress di lemari, buru-buru mengenakannya dan bergegas mengikuti langkah Yeriko.

Yeriko terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju ke ruang makan.

Yuna mengikuti langkah Yeriko. Menemani suaminya menikmati sarapan pagi seperti biasa.

“Bi, Bibi tahu Wewe Gombel, nggak?” tanya Yuna saat Bibi War meletakkan segelas susu ke hadapan Yuna.

“Hah!? Ada apa kok tanya Wewe Gombel?”

“Penasaran aja, Bi. Apa itu Wewe Gombel? Gembel gitu ya?” tanya Yuna sambil menyeruput susu hangat di hadapannya.

“Wewe Gombel itu yang biasa nyulik anak-anak kecil,” jawab Bibi War.

“Hah!? Penculik?”

“Itu makhluk ghaib gitu loh, Mbak. Biasa buat nakutin anak-anak kalau waktu senja belum pulang ke rumah.”

“Hantu?” sela Yuna.

Bibi War menganggukkan kepala.

“Kenapa Yeriko ngatain aku Wewe Gombel?” celetuk Yuna.

“Uhuk ... uhuk ...!” Yeriko langsung tersedak mendengar celetukan Yuna. “Aku nggak bilang kalau itu kamu.”

“Terus?”

“Aku bilang kalo itunya nomor empat puluh, kayak Wewe Gombel. Gak sesuai sama badan kamu yang kecil,” jawab Yeriko sambil mengelap mulutnya menggunakan tisu.

“Kalo aku beneran jadi gendut banget dan sampe ukuran segitu, kamu fix ngatain aku Wewe Gombel.”

“Astaga ...!” Yeriko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak, Sayangku. Mana ada Wewe Gombel secantik kamu.”

Yuna mengerutkan bibirnya. “Aku disamain sama hantu?” gumamnya kesal.

Bibi War memandang Yuna dan Yeriko bergantian. “Ini ada apa?”

“Bi, dia ngatain aku Wewe Gombel karena ukuran beha aku nambah. Aku kan lagi hamil. Dia tega banget ngatain aku begitu. Marahin dia, Bi!” rengek Yuna sambil menatap Bibi War.

Bibi War menghela napas. “Mas Yeri ada-ada aja,” celetuknya sambil berlalu pergi.

“Bi ...!” seru Yuna. “Bibi nggak belain aku?”

“Urusan kalian berdua!” sahut Bibi War dari kejauhan.

Yuna memainkan bibirnya. Ia menatap sengit ke arah Yeriko yang terlihat menahan tawa. “Kamu seneng banget kalo aku kelihatan jelek!?”

“Yang bilang kalo kamu jelek itu siapa? Aku juga nggak ngatain kamu Wewe Gombel. Kamu aja yang sensitif banget.”

Yuna masih saja mengerutkan wajahnya. Ia sangat kesal dengan kejahilan suaminya. Sepertinya, tingkat kejahilan suaminya sudah melebihi kejahilan Yuna sendiri.

“Udah, makan yang banyak!” pinta Yeriko. “Nggak usah cemberut terus!” lanjutnya sambil mencubit pipi Yuna yang makin chubby.

“Kalo aku makan banyak, terus jadi gendut. Kamu olokin lagi?”

“Nggak. Aku nggak olokin. Buruan makannya!” pinta Yeriko.

Yuna melahap makanan di hadapannya sambil menahan amarah.

“Sebentar lagi aku beliin beha yang baru. Nomor empat puluh ‘kan?” goda Yeriko.

“Iih ... kamu masih candain aku terus?” tanya Yuna sambil mencubit pinggang Yeriko yang duduk di sampingnya.

Yeriko terkekeh menatap wajah Yuna. “Bercanda. Makan lagi!” pintanya.

Yuna tertawa kecil. Walau sedikit menyebalkan, tapi ia selalu rindu dengan kejahilan Yeriko. Hampir setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Yeriko selalu mengajaknya bercanda.

“Ay, Riyan udah dikasih tahu soal Icha?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Udah. Semoga, dia bisa cepet dapetin informasi soal mamanya Icha.”

“Katanya, mamanya Icha ada di sini waktu Icha nusuk Lutfi. Bisa jadi, mamanya itu udah kabur ke kota kelahirannya di Kalimantan. Gimana kalau begitu?”

Yeriko tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Susul aja ke sana. Buat apa repot?”

Yuna nyengir mendengar ucapan Yeriko. “Orang kaya memang mudah ya mau ngelakuin apa aja,” celetuknya.

Yeriko tertawa kecil sambil mengacak ujung kepala Yuna. “Aku minta susunya sedikit!” pinta Yeriko sambil menatap Yuna yang sedang menyeruput susu hangat di tangannya.

“Susu yang mana?” tanya Yuna.

“Dua-duanya. Hehehe.” Yeriko bangkit dari tempat duduknya. “Aku berangkat kerja dulu ya!” pamitnya sambil mengecup kening Yuna.

“Mau berangkat kerja, sempat-sempatnya godain istri dulu,” celetuk Yuna.

Yeriko terkekeh. “Daripada godain orang lain, mending godain kamu.”

Yuna tertawa kecil sambil memonyongkan bibirnya ke arah Yeriko. “Hati-hati ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia bergegas pergi ke kantor.

Yuna menatap kepergian suaminya. Ia harap, suaminya bisa menemukan keberadaan Icha dan mamanya. Ia percaya, suaminya selalu menepati janjinya.

Yuna mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.

“Halo ...!” sapa Jheni begitu panggilan telepon dari Yuna tersambung.

“Halo, kamu lagi apa?” tanya Yuna.

“Baru bangun, Yun. Ntar malam jadi mau cari Icha ke bar?” tanya Jheni.

“Nggak jadi, Jhen.”

“Kenapa?”

“Yeriko udah nyuruh Riyan. Kita ke sana kalau udah pasti si Icha ada di bar mana.”

“Oh, gitu. Baguslah. Aku mau tidur lagi.”

“Hah!? Tidur terus!” celetuk Yuna.

“Aku baru tidur jam empat pagi, Yun.”

“Begadang mulu. Masih kejar deadline terus?”

“He-em.”

“Ya udah, istirahat gih! Jaga kesehatan, ya! Salam kecup manis dari Chandra Muchtar,” goda Yuna.

“Hahaha. Emmuach!”

“Eh, si Chandra sering ke rumah kamu atau nggak?” tanya Yuna.

“Ini aku lagi di apartemen dia.”

“Hah!? Ngapain?”

“Dia banyak kerjaan, jadi lembur di rumah. Sekalian aja aku temenin bikin komik sampe pagi.”

“Ciyee ... udah nginep di apartemen Chandra mulu. Pindah aja sekalian ke apartemen dia!”

“Sembarangan kalo ngomong. Aku nggak ngapa-ngapain, Yun. Serius.”

“Ngapa-ngapain juga nggak papa, kok,” sahut Yuna sambil terus tersenyum.

“Ada Riyan juga di sini. Sama dua orang lagi temen kantornya.”

“Yeriko nyuruh mereka lembur?” tanya Yuna.

“Eyuuh ... suami kamu itu suka banget menindas orang lain. Dia malah enak-enakan di rumah. Enak banget jadi bos,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.

“Uups, sorry! Ntar aku kasih tahu dia buat ngasih Chandra liburan, deh.”

“Hahaha.”

“Kenapa ketawa?”

“Serius amat nanggepinnya,” jawab Jheni.

“Aku serius, Jhen. Kamu candain aku?”

“Hehehe. Chandra sama Riyan aja yang kelewat rajin. Yeriko beruntung banget punya mereka.”

Yuna ikut tertawa. Ia sangat bahagia karena suaminya dikelilingi oleh orang-orang yang baik, setia dan terus mendukungnya dalam keadaan apa pun.

“Eh, udah dulu ya! Aku mau lanjut tidur lagi.”

“Huh, jangan-jangan ... kamu masih kelonan sama Chandra.”

“Ngasal aja kalo ngomong. Chandra udah berangkat ke kantor pagi-pagi bareng Riyan.”

“Mereka semua itu robot ya? Kuat banget kalo kerja, nggak ada istirahatnya.”

“Mereka pekerja keras, Yun. Biar bisa nyaingin suamimu yang kaya raya itu.”

“Hahaha.”

“Udah, ah. Kalo ngomong sama kamu, nggak ada berhentinya. Aku mau tidur dulu. Bye-bye Emak Cantik!” seru Jheni.

“Eh, kamu panggil aku apa?” tanya Yuna.

Yuna menghela napas karena Jheni sudah mematikan panggilan teleponnya. Ia tersenyum menatap layar ponsel dan bergegas kembali ke kamarnya.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Karena udah keluar dari Top 5. Jadi, aku upload santai ya teman-teman ... Maaf untuk semua kekuranganku.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas