“Yan,
gimana perkembangan kasus yang aku minta?” tanya Yeriko saat Riyan dan Chandra
masuk ke dalam ruang kerjanya bersamaan.
“Kasus
yang mana, Pak Bos?”
“Yang
terbaru.”
“Hari
ini, kami baru mau ngecek ke Bandara.”
Yeriko
mengangkat kedua alisnya.
“Untuk
memastikan kalau Ibu Ratna masih di dalam kota ini atau sudah pergi.”
“Oh,
oke, oke. I See.”
“Yer,
gimana acara pengajian kemarin? Sorry, aku gak bisa ikutan.”
“Semuanya
lancar.”
“Mas
Chandra, Mas Satria bisa bantu kita buat cari orang?” tanya Riyan.
“Cari
siapa?”
Riyan
langsung menoleh ke arah Yeriko. “Pak Bos belum kasih tahu Mas Chandra?”
tanyanya.
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Oh.”
Riyan terdiam. Jika bosnya tidak memberitahu Chandra, artinya dia harus
menangani semuanya sendiri.
Chandra
tertawa kecil menatap Riyan yang tertunduk lesu. “Nggak usah takut! Aku pasti
bantu kamu.”
“Mas
Chandra udah tahu?”
Chandra
mengangguk.
Riyan
langsung menoleh ke arah Yeriko sambil mengelus dada. “Syukurlah.”
“Kenapa,
Yan? Kamu udah mau muntah dapet tugas banyak dari bos kamu ini?” tanya Chandra.
Riyan
menggelengkan kepala.
“Halah,
bilang aja kalo kamu udah mau mati keracunan, apalagi ngadepin si Refi.
Hahaha.”
“Refi
kenapa lagi?”
Chandra
mengedikkan bahu. “Tanya Riyan, tuh!” perintahnya sambil menahan tawa.
Yeriko
langsung menatap wajah Riyan.
“Dia
bikin onar terus di perusahaan,” tutur Riyan.
“Baguslah.
Jangan biarkan dia berkembang. Tekan terus sampai dia berhenti dengan
sendirinya!” pinta Yeriko.
Riyan
mengangguk tanda mengerti.
“Sekarang,
yuk!” ajak Chandra sambil bangkit dari tempat duduknya.
Riyan
menganggukkan kepala.
“Ke
mana?” tanya Yeriko.
“Happy-happy,”
jawab Chandra sambil mengerdipkan matanya.
Yeriko
tertawa kecil. Ia sangat mengerti istilah ‘happy-happy’ yang dimaksud oleh
Chandra adalah menjalankan tugas yang ia berikan di luar kantornya.
Riyan
dan Chandra melangkah beriringan memasuki area perkantoran bandara.
“Mas,
apa kita bisa dapet akses untuk ngecek arus perjalanan setiap maskapai?” tanya
Riyan.
“Tenang,
aku kenal sama direktur di sini. Dia sudah kasih izin ke kita. Kita cuma
dikasih waktu tiga puluh menit untuk melakukan pengecekan data. Kita dilarang
menyalin data tersebut. Jadi, kita harus cepat.”
“Gimana
kalau kita pakai IT perusahaan untuk copy semua data mereka? Apa waktu kita
cukup?”
“Cukup
banget,” jawab Chandra penuh keyakinan.
Riyan
langsung menganggukkan kepala dan mempercayakan semuanya pada Chandra.
Hanya
dalam tiga puluh menit, Chandra sudah bisa mendapatkan informasi kalau Ratna
memang masih ada di dalam kota. Belum ada maskapai yang mencatat penerbangan
atas namanya setelah wanita itu masuk ke kota Surabaya.
“Yan,
kita harus temukan tempat tinggal mereka secepatnya,” tutur Chandra sambil
keluar dari bandara.
“Icha
sudah pindah tinggal. Dia nggak tinggal di rumah yang lama. Tetangganya juga
nggak ada yang tahu.”
“Kamu
hubungi Satria. Kalo soal nyari orang, dia jagonya.”
Riyan
tertawa kecil sambil mendengar ucapan Chandra.
“Kenapa
ketawa?” tanya Chandra.
“Kalo
nyarikan jodoh, bisa nggak ya?” tanya Riyan sambil tertawa kecil.
“Hahaha.
Itu yang paling susah dicari, Yan. Dia aja masih nyari terus gak dapet-dapet.”
Riyan
tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka bergegas menuju
parkiran.
Riyan
merogoh ponsel di sakunya dan melemparkan kunci mobil ke arah Chandra. “Mas
Chandra yang bawa mobil, ya!”
Chandra
langsung menyambar kunci yang melayang tepat di dadanya. Ia menatap wajah Riyan
sejenak, lalu membuka kunci pintu mobil.
Riyan
menempelkan ponsel di telinganya. “Halo ... Mas Satria!” sapanya begitu
panggilan teleponnya tersambung. Ia bergegas masuk ke dalam bersama Chandra.
“Hei
... kenapa, Yan?”
“Kami
butuh bantuan Mas Satria. Sekarang, Mas Satria ada di mana?”
“Aku
lagi di tempat latihan. Ke sini aja!”
“Oke,
Mas. Kami langsung ke sana.” Riyan mematikan panggilan teleponnya.
Chandra
bergegas melajukan mobilnya ke tempat latihan Satria seperti biasa.
...
Di
saat yang sama ...
Yuna
terus mondar-mandir di dalam rumahnya. Ia sangat khawatir karena Riyan belum
juga memberinya kabar tentang keberadaan Icha. Saat ini, orang yang paling ia
khawatirkan adalah Icha. Ia takut kalau Icha terus mendapat intimidasi dari
mamanya sendiri setelah melukai Lutfi.
“Tok
....tok ... tok ...! Yuna ... bukain pintu!” seru Jheni yang sudah berdiri di
luar pintu rumah Yuna.
Yuna
langsung memutar tubuhnya, menatap ke arah pintu yang sudah terbuka. Ia
langsung berkacak pinggang sambil menatap Jheni. “Pintunya udah terbuka ...!”
serunya kesal.
Jheni
tertawa lebar sambil melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah tersebut. “Kamu
kenapa? Mondar-mandir kayak setrikaan,” tanya Jheni.
“Kamu
udah dari tadi di situ?” tanya Yuna balik.
“Dari
kemarin,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.
“Dasar
hantu!” dengus Yuna.
“Gimana?
Udah ada kabar soal Icha?” tanya Jheni.
“Belum,
Jhen.”
“Dia
ke mana sih? Kayak hilang di telan bumi. Bukannya, Juan bilang kalo Icha kerja
di bar?”
“Jhen,
ada berapa banyak bar di kota ini? Juan nggak nyebutin nama barnya. Riyan sama
Chandra udah nyari. Kita tinggal tunggu kabar aja.”
“Oh,
baguslah. Aku bisa santai.” Jheni langsung duduk di sofa. Ia mengeluarkan
tablet dari dalam tasnya. Jemari tangannya dengan lincah menggoyangkan stylus
pen ke atas layar tablet tersebut.
“Kamu
gambar apa?” tanya Yuna.
“Gambar
komik aku, dong!” sahut Jheni.
“Aku
lihat ...!” Yuna langsung duduk di sebelah Jheni.
Jheni
menutup layar tab ke dadanya.
“Pelit
amat, sih!?” dengus Yuna.
“Nggak
boleh tahu. Ini project komik pertamaku, Yun. Bakalan hits di seluruh negeri.”
“Nggak
bakal hits kalo kamu rahasiain dari aku,” dengus Yuna.
“Nanti
aku kasih tau kalo udah rilis. Masih nyiapin lima puluh part pertama buat aku
launching di awal.”
“Banyak
banget?” tanya Yuna. “Nggak pusing?”
Jheni
menggelengkan kepala. “Aku mau bikin cerita romance yang panjang. Kayak serial
Naruto atau doraemon gitu.”
“Bosen
yang baca kalo panjang-panjang,” sahut Yuna.
“Yee
... kamu ini meremehkan banget. Naruto itu komiknya panjang banget. Nggak ada
yang bosen bacanya.”
“Karena
yang baca anak-anak. Mereka nggak bosen baca itu-itu terus berkali-kali.
Dongeng si Kancil sama serial Upin-Ipin aja dilihat terus. Padahal, ceritanya
itu lagi itu lagi,” tutur Yuna.
“Aku
mau bikin serial romance yang nggak ngebosenin.”
“Oh
ya? Judulnya apa?” tanya Yuna penasaran.
“Judulnya
belum aku pikirin. Yang jelas, tokoh utamanya aku buat cakep banget.”
“Ciyee
... siapa tuh? Chandra ya?” goda Yuna.
“Ada,
deh.” Jheni tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.
“Lihat,
dong! Aku penasaran,” desak Yuna.
“Kepo
tingkat tinggi!” Jheni langsung mematikan tablet yang ada di tangannya dan
menyimpannya kembali ke dalam tas. “Ntar juga tahu kalo udah rilis.”
“Aku
kan pengen jadi pembaca yang per—” Ucapan Yuna terhenti saat ponselnya
tiba-tiba berdering.
“Halo
...!” Yuna langsung menyapa begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya.
“Halo
...!”
“Gimana?
Icha udah ketemu?” tanya Yuna.
“Belum,
Nyonya Muda. Kami udah ngecek ke bandara. Tidak ada maskapai penerbangan yang
mencatat nama Ibu Ratna setelah beliau masuk ke kota ini.”
“Baguslah.
Berarti dia masih di dalam sini,” sahut Yuna sambil menatap wajah Jheni.
“Iya,
Nyonya Muda. Cuma itu yang bisa saya laporkan sekarang. Selanjutnya, kami akan
fokus mencari Mba Icha dan ibunya.”
Yuna
menganggukkan kepala. “Makasih, ya! Cepet dapetin mereka, ya! Aku khawatir sama
Icha ...”
“Siap,
Nyonya Bos.”
Yuna
langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Kamu
kenapa? Kelihatan gelisah banget?” tanya Jheni.
“Aku
khawatir sama Icha, Jhen.”
“Buat
apa mengkhawatirkan dia? Dia aja nggak peduli sama kita,” sahut Jheni sambil
meraih buah apel yang ada di atas meja dan memakannya. “Weh, asli nih,” tutur
Jheni sambil menatap apel yang ada di tangannya.
“Aku
nggak pernah naruh buah palsu di situ,” sahut Yuna.
Jheni
tertawa kecil. “Iya, percaya. Orang kaya asli.”
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Biar bukan orang kaya, mana tega nge-prank tamu. Kalo
tamunya kamu sih, aku kasih aja buah palsu.”
Jheni
mendelik ke arah Yuna. “Kamu!? Tega bener sama temen sendiri. Harusnya, kalo
aku datang tuh digelarin karpet merah, dikasih makan makanan enak dan mahal.”
“Idih,
emang lo siapa?”
“Aku
sahabat kamu. Nggak usah bergaya pake bahasa gue elo!?”
“Hahaha.
Berasa jadi anak sultan?”
“Hehehe.
Menghayal dulu, nggak papalah. Kamu sih enak, udah jadi istri sultan.”
“Aku
istrinya Yeriko, bukan Sultan!”
“Idih,
maksudnya itu istri raja,” sahut Jheni.
“Nggak
mau jadi istri raja. Aku nggak mau kalo Yeriko jadi raja.”
“Lah?
Kan kamu ratunya, Yun.”
“Aku
nggak mau jadi ratu.”
“Cewek
aneh,” celetuk Jheni.
“Raja
punya banyak selir, Jhen. Aku nggak rela kalo Yeriko punya selir!”
“Iya,
juga sih. Ada kali raja yang nggak punya selir.”
“Raja
Hutan. Hahaha.”
Yuna
ikut tergelak. Ia menghabiskan waktunya seharian bersama Jheni di dalam rumah.
Teman biasa, akan menghilang seiring waktu. Teman baik, akan membenci waktu
yang hilang.
((Bersambung ...))
Thanks udah
setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita
setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment