Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 373 : Masih Mencari

 


“Yan, gimana perkembangan kasus yang aku minta?” tanya Yeriko saat Riyan dan Chandra masuk ke dalam ruang kerjanya bersamaan.

“Kasus yang mana, Pak Bos?”

“Yang terbaru.”

“Hari ini, kami baru mau ngecek ke Bandara.”

Yeriko mengangkat kedua alisnya.

“Untuk memastikan kalau Ibu Ratna masih di dalam kota ini atau sudah pergi.”

“Oh, oke, oke. I See.”

“Yer, gimana acara pengajian kemarin? Sorry, aku gak bisa ikutan.”

“Semuanya lancar.”

“Mas Chandra, Mas Satria bisa bantu kita buat cari orang?” tanya Riyan.

“Cari siapa?”

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko. “Pak Bos belum kasih tahu Mas Chandra?” tanyanya.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Oh.” Riyan terdiam. Jika bosnya tidak memberitahu Chandra, artinya dia harus menangani semuanya sendiri.

Chandra tertawa kecil menatap Riyan yang tertunduk lesu. “Nggak usah takut! Aku pasti bantu kamu.”

“Mas Chandra udah tahu?”

Chandra mengangguk.

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko sambil mengelus dada. “Syukurlah.”

“Kenapa, Yan? Kamu udah mau muntah dapet tugas banyak dari bos kamu ini?” tanya Chandra.

Riyan menggelengkan kepala.

“Halah, bilang aja kalo kamu udah mau mati keracunan, apalagi ngadepin si Refi. Hahaha.”

“Refi kenapa lagi?”

Chandra mengedikkan bahu. “Tanya Riyan, tuh!” perintahnya sambil menahan tawa.

Yeriko langsung menatap wajah Riyan.

“Dia bikin onar terus di perusahaan,” tutur Riyan.

“Baguslah. Jangan biarkan dia berkembang. Tekan terus sampai dia berhenti dengan sendirinya!” pinta Yeriko.

Riyan mengangguk tanda mengerti.

“Sekarang, yuk!” ajak Chandra sambil bangkit dari tempat duduknya.

Riyan menganggukkan kepala.

“Ke mana?” tanya Yeriko.

“Happy-happy,” jawab Chandra sambil mengerdipkan matanya.

Yeriko tertawa kecil. Ia sangat mengerti istilah ‘happy-happy’ yang dimaksud oleh Chandra adalah menjalankan tugas yang ia berikan di luar kantornya.

Riyan dan Chandra melangkah beriringan memasuki area perkantoran bandara.

“Mas, apa kita bisa dapet akses untuk ngecek arus perjalanan setiap maskapai?” tanya Riyan.

“Tenang, aku kenal sama direktur di sini. Dia sudah kasih izin ke kita. Kita cuma dikasih waktu tiga puluh menit untuk melakukan pengecekan data. Kita dilarang menyalin data tersebut. Jadi, kita harus cepat.”

“Gimana kalau kita pakai IT perusahaan untuk copy semua data mereka? Apa waktu kita cukup?”

“Cukup banget,” jawab Chandra penuh keyakinan.

Riyan langsung menganggukkan kepala dan mempercayakan semuanya pada Chandra.

Hanya dalam tiga puluh menit, Chandra sudah bisa mendapatkan informasi kalau Ratna memang masih ada di dalam kota. Belum ada maskapai yang mencatat penerbangan atas namanya setelah wanita itu masuk ke kota Surabaya.

“Yan, kita harus temukan tempat tinggal mereka secepatnya,” tutur Chandra sambil keluar dari bandara.

“Icha sudah pindah tinggal. Dia nggak tinggal di rumah yang lama. Tetangganya juga nggak ada yang tahu.”

“Kamu hubungi Satria. Kalo soal nyari orang, dia jagonya.”

Riyan tertawa kecil sambil mendengar ucapan Chandra.

“Kenapa ketawa?” tanya Chandra.

“Kalo nyarikan jodoh, bisa nggak ya?” tanya Riyan sambil tertawa kecil.

“Hahaha. Itu yang paling susah dicari, Yan. Dia aja masih nyari terus gak dapet-dapet.”

Riyan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka bergegas menuju parkiran.

 Riyan merogoh ponsel di sakunya dan melemparkan kunci mobil ke arah Chandra. “Mas Chandra yang bawa mobil, ya!”

Chandra langsung menyambar kunci yang melayang tepat di dadanya. Ia menatap wajah Riyan sejenak, lalu membuka kunci pintu mobil.

Riyan menempelkan ponsel di telinganya. “Halo ... Mas Satria!” sapanya begitu panggilan teleponnya tersambung. Ia bergegas masuk ke dalam bersama Chandra.

“Hei ... kenapa, Yan?”

“Kami butuh bantuan Mas Satria. Sekarang, Mas Satria ada di mana?”

“Aku lagi di tempat latihan. Ke sini aja!”

“Oke, Mas. Kami langsung ke sana.” Riyan mematikan panggilan teleponnya.

Chandra bergegas melajukan mobilnya ke tempat latihan Satria seperti biasa.

 

...

 

Di saat yang sama ...

Yuna terus mondar-mandir di dalam rumahnya. Ia sangat khawatir karena Riyan belum juga memberinya kabar tentang keberadaan Icha. Saat ini, orang yang paling ia khawatirkan adalah Icha. Ia takut kalau Icha terus mendapat intimidasi dari mamanya sendiri setelah melukai Lutfi.

“Tok ....tok ... tok ...! Yuna ... bukain pintu!” seru Jheni yang sudah berdiri di luar pintu rumah Yuna.

Yuna langsung memutar tubuhnya, menatap ke arah pintu yang sudah terbuka. Ia langsung berkacak pinggang sambil menatap Jheni. “Pintunya udah terbuka ...!” serunya kesal.

Jheni tertawa lebar sambil melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah tersebut. “Kamu kenapa? Mondar-mandir kayak setrikaan,” tanya Jheni.

“Kamu udah dari tadi di situ?” tanya Yuna balik.

“Dari kemarin,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.

“Dasar hantu!” dengus Yuna.

“Gimana? Udah ada kabar soal Icha?” tanya Jheni.

“Belum, Jhen.”

“Dia ke mana sih? Kayak hilang di telan bumi. Bukannya, Juan bilang kalo Icha kerja di bar?”

“Jhen, ada berapa banyak bar di kota ini? Juan nggak nyebutin nama barnya. Riyan sama Chandra udah nyari. Kita tinggal tunggu kabar aja.”

“Oh, baguslah. Aku bisa santai.” Jheni langsung duduk di sofa. Ia mengeluarkan tablet dari dalam tasnya. Jemari tangannya dengan lincah menggoyangkan stylus pen ke atas layar tablet tersebut.

“Kamu gambar apa?” tanya Yuna.

“Gambar komik aku, dong!” sahut Jheni.

“Aku lihat ...!” Yuna langsung duduk di sebelah Jheni.

Jheni menutup layar tab ke dadanya.

“Pelit amat, sih!?” dengus Yuna.

“Nggak boleh tahu. Ini project komik pertamaku, Yun. Bakalan hits di seluruh negeri.”

“Nggak bakal hits kalo kamu rahasiain dari aku,” dengus Yuna.

“Nanti aku kasih tau kalo udah rilis. Masih nyiapin lima puluh part pertama buat aku launching di awal.”

“Banyak banget?” tanya Yuna. “Nggak pusing?”

Jheni menggelengkan kepala. “Aku mau bikin cerita romance yang panjang. Kayak serial Naruto atau doraemon gitu.”

“Bosen yang baca kalo panjang-panjang,” sahut Yuna.

“Yee ... kamu ini meremehkan banget. Naruto itu komiknya panjang banget. Nggak ada yang bosen bacanya.”

“Karena yang baca anak-anak. Mereka nggak bosen baca itu-itu terus berkali-kali. Dongeng si Kancil sama serial Upin-Ipin aja dilihat terus. Padahal, ceritanya itu lagi itu lagi,” tutur Yuna.

“Aku mau bikin serial romance yang nggak ngebosenin.”

“Oh ya? Judulnya apa?” tanya Yuna penasaran.

“Judulnya belum aku pikirin. Yang jelas, tokoh utamanya aku buat cakep banget.”

“Ciyee ... siapa tuh? Chandra ya?” goda Yuna.

“Ada, deh.” Jheni tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.

“Lihat, dong! Aku penasaran,” desak Yuna.

“Kepo tingkat tinggi!” Jheni langsung mematikan tablet yang ada di tangannya dan menyimpannya kembali ke dalam tas. “Ntar juga tahu kalo udah rilis.”

“Aku kan pengen jadi pembaca yang per—” Ucapan Yuna terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering.

“Halo ...!” Yuna langsung menyapa begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya.

“Halo ...!”

“Gimana? Icha udah ketemu?” tanya Yuna.

“Belum, Nyonya Muda. Kami udah ngecek ke bandara. Tidak ada maskapai penerbangan yang mencatat nama Ibu Ratna setelah beliau masuk ke kota ini.”

“Baguslah. Berarti dia masih di dalam sini,” sahut Yuna sambil menatap wajah Jheni.

“Iya, Nyonya Muda. Cuma itu yang bisa saya laporkan sekarang. Selanjutnya, kami akan fokus mencari Mba Icha dan ibunya.”

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, ya! Cepet dapetin mereka, ya! Aku khawatir sama Icha ...”

“Siap, Nyonya Bos.”

Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Kamu kenapa? Kelihatan gelisah banget?” tanya Jheni.

“Aku khawatir sama Icha, Jhen.”

“Buat apa mengkhawatirkan dia? Dia aja nggak peduli sama kita,” sahut Jheni sambil meraih buah apel yang ada di atas meja dan memakannya. “Weh, asli nih,” tutur Jheni sambil menatap apel yang ada di tangannya.

“Aku nggak pernah naruh buah palsu di situ,” sahut Yuna.

Jheni tertawa kecil. “Iya, percaya. Orang kaya asli.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Biar bukan orang kaya, mana tega nge-prank tamu. Kalo tamunya kamu sih, aku kasih aja buah palsu.”

Jheni mendelik ke arah Yuna. “Kamu!? Tega bener sama temen sendiri. Harusnya, kalo aku datang tuh digelarin karpet merah, dikasih makan makanan enak dan mahal.”

“Idih, emang lo siapa?”

“Aku sahabat kamu. Nggak usah bergaya pake bahasa gue elo!?”

“Hahaha. Berasa jadi anak sultan?”

“Hehehe. Menghayal dulu, nggak papalah. Kamu sih enak, udah jadi istri sultan.”

“Aku istrinya Yeriko, bukan Sultan!”

“Idih, maksudnya itu istri raja,” sahut Jheni.

“Nggak mau jadi istri raja. Aku nggak mau kalo Yeriko jadi raja.”

“Lah? Kan kamu ratunya, Yun.”

“Aku nggak mau jadi ratu.”

“Cewek aneh,” celetuk Jheni.

“Raja punya banyak selir, Jhen. Aku nggak rela kalo Yeriko punya selir!

“Iya, juga sih. Ada kali raja yang nggak punya selir.”

“Raja Hutan. Hahaha.”

Yuna ikut tergelak. Ia menghabiskan waktunya seharian bersama Jheni di dalam rumah. Teman biasa, akan menghilang seiring waktu. Teman baik, akan membenci waktu yang hilang.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas