Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 374 : Get Icha

 


“Pak Bos, ini informasi yang kami dapat,” tutur Riyan saat mereka berkumpul di teras belakang rumah Yeriko.

Setelah tiga hari melakukan pencarian, Riyan dan Chandra menemukan Ibu Ratna kini tinggal di Menur. Salah satu rumah sakit jiwa yang pernah merawat Amara.

Yeriko mengerutkan dahi sambil menatap foto-foto yang diperlihatkan Riyan. “Dia kenapa? Kok, bisa masuk sini?”

Riyan dan Chandra menggeleng bersamaan.

“Amara masih di sana, Chan?” tanya Yeriko sambil menghisap rokoknya.

Chandra mengedikkan bahunya. “Entahlah.”

Yeriko tertawa kecil menatap Chandra. Ia merasa sangat puas karena Chandra benar-benar membuang Amara dari kehidupannya.

“Amara ...? Itu tunangan kamu yang dulu? Kenapa bisa masuk Menur? Gara-gara nggak kamu nikah-nikahin?” tanya Satria.

“Tak sampluk kowe!” sahut Chandra sambil meraih asbak yang ada di hadapan Yeriko dan bersiap melayangkan ke arah Satria.

“Eits, selow ... nggak boleh pake kekerasan!” pinta Satria sambil menurunkan asbak secara perlahan dari tangan Chandra.

“Kamu kalo ngomong suka ngasal. Nggak mungkin aku bikin tunanganku sendiri gila. Kalo emang mau nikah ya nikah aja.”

“Hahaha. Terus, dia sakit jiwa karena apa?” tanya Satria.

“Entahlah. Kerjaan Yeriko.”

“Kok, aku?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

“Nggak usah pura-pura polos! Rencana jahatmu itu udah tertulis dengan jelas di jidatmu itu.”

“Kamu apain, Yer?” tanya Satria sambil menatap Yeriko.

Yeriko meraih sloki dan meminum air yang ada di dalamnya. “Aku nggak ngapa-ngapain?”

“Halah, masih nggak mau ngaku. Yang bikin perusahaan keluarganya Harry jadi bangkrut, siapa?”

“Chan, dalam dunia bisnis memang begitu. Bangkrut itu kan resiko,” jawab Yeriko sambil menahan tawa.

Chandra tertawa kecil. “Kamu pikir aku nggak tahu?”

“Hahaha. Balik ke topik awal. Ini Ibu Ratna kenapa bisa sampai dirawat di Menur?”

“Nggak tahu penyebabnya, Yer. Orang udah stres gitu nggak bisa diajak komunikasi.”

“Hmm, Icha gimana?” tanya Yeriko.

Chandra dan Riyan menoleh ke arah Satria bersamaan.

“Masih nunggu kabar anggota. Santai,” jawab Satria sambil berbaring santai di atas karpet bulu yang disediakan Yeriko untuk bersantai.

“Suruh anggotamu cepetan, Sat!” pinta Yeriko. “Udah tiga hari nih.”

“Selow ...,” sahut Satria santai.

 “Istriku udah khawatir banget sama Icha,” tutur Yeriko berbisik.

“Khawatir kenapa?” tanya Satria santai.

“Dia takut kalau mamanya terus-menerus mengintimidasi Icha.”

“Mamanya aja dirawat di Menur. Pasti si Icha baik-baik aja.”

“Iya juga, sih. Tapi, jangan terlalu lama juga.”

“Santai, Yer.” Satria tersenyum sambil memainkan kedua alisnya.

Yeriko menghela napas sejenak. “Istriku lagi hamil, Sat. Aku takut dia banyak pikiran dan mengganggu perkembangan janinnya.”

“Emang nggak rutin periksa ke dokter kandungan?” tanya Satria.

“Rutin lah,” sahut Yeriko.

“Dokter kandungan bilang kalo janinnya dia bermasalah?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Ya udah. Santai aja!”

“Kamu itu nggak ngerasain rasanya mau punya anak!” dengus Yeriko kesal sambil menendang paha Satria yang berada tepat di bawah kakinya.

Satria terkekeh mendengar ucapan Yeriko. Ia merogoh ponselnya yang tiba-tiba bergetar.

“Eits, wallpapernya cewek. Pacarmu, Sat?” tanya Chandra.

“Foto artis,” jawab Satria santai. Ia mengusap layar ponsel dan membaca pesan yang masuk ke dalam chat pribadinya.

Satria langsung bangkit tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. “Ketemu, Chan!” seru Satria.

“Apanya?”

“Pacarnya Lutfi.”

“Di mana?”

“Satria langsung menunjukkan foto-foto yang masuk ke dalam ponselnya.”

“Kita ke sana sekarang!” seru Yeriko sambil bangkit dari kursi.

“Ayo ...!” Semua orang bergegas bangkit dari tempatnya.

“Aku pamit ke istriku dulu,” tutur Yeriko sambil melangkahkan kakinya.

“Iya, yang udah punya istri,” goda Satria.

Yeriko tersenyum kecil. “Makanya, buruan nikah!”

“Aish, susah nyari jodoh, Yer.”

“Kamu terlalu banyak milih.”

“Eh, bukannya kamu yang pemilih?” dengus Satria kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Iya, dong. Harus pilih wanita terbaik.”

“Yee, kamu mah udah nemuin. Kalo aku yang ketemu duluan sama Kakak Ipar Kecil, aku yang nikahin dia,” sahut Satria.

“Jangan ngimpi!” dengus Yeriko. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Kurang ajar. Dia belajar ngolokin orang dari mana?” tutur Satria sambil berkacak pinggang menatap Yeriko.

“Heh!?” Satria menoleh ke belakang karena tak mendapat tanggapan dari Chandra dan Riyan.

Chandra dan Riyan menahan tawa sambil melangkah keluar dari rumah Yeriko.

“Woi ...! Tungguin! Malah ditinggal?” seru Satria.

Chandra tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja ia menyentuh handle pintu mobilnya, ponselnya tiba-tiba berdering.

“Halo ...!” Chandra langsung menjawab panggilan telepon dari Lutfi.

“Gimana? Udah ada kabar soal Icha?” tanya Lutfi.

“Baru dapet kabar dari Satria. Dia kerja di W Club. Club baru yang ada di Kenjeran.”

“Jemput aku, Chan!” pinta Lutfi.

“Kamu masih sakit, Lut. Kita bisa tangani. Kamu nggak perlu kha—”

“Jemput aku!” seru Lutfi. “Kalo kamu nggak jemput, aku pergi ke sana sendiri.”

Chandra menghela napas. “Oke. Aku jemput kamu.”

“Cepetan!”

“Iya, Lut. Sabar!” sahut Chandra kesal. Ia langsung mematikan panggilan telepon dari Lutfi.

“Mas Lutfi?” tanya Riyan sambil menatap Chandra.

Chandra menganggukkan kepala. “Aku jemput Lutfi di rumah sakit. Bilangin ke Yeri ya!” Chandra langsung masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan halaman rumah Yeriko.

“Heh, aku ditinggalin gitu aja? Aku kan numpang mobil dia,” tutur Satria sambil menunjuk mobil Chandra yang berlalu pergi.

“Mas Satria ikut kami aja!” tutur Riyan.

“Iya, lah. Mau ikut siapa lagi?” sahut Satria sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Baru di sini, komandan dikerjain. Kalo bukan temen, udah kutembak mati tuh si Chandra.”

Riyan hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Satria.

“Ini Yeriko lama banget?” gumam Satria. “Dia mau pamitan sama istrinya atau minta jatah dulu?” tanyanya sambil melihat arloji di tangannya.

Padahal, belum genap lima menit Satria menunggu Yeriko keluar dari rumahnya. Tapi, ia sudah sangat gelisah. Sementara, Riyan terlihat sangat santai sambil bersandar di mobil bosnya.

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari rumahnya. “Chandra mana?” tanyanya.

“Jemput Lutfi.”

“Lutfi mau ikut ke club?”

“Kayaknya sih gitu. Kayak nggak tahu aja keras kepalanya si Lutfi itu gimana,” jawab Satria.

“Ya udah. Kita jalan aja pelan-pelan sambil nunggu Chandra jemput si Lutfi!” perintah Yeriko.

Riyan mengangguk. Ia segera masuk ke mobil, duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.

Yeriko dan Satria bergegas masuk ke mobil. Mereka berjalan santai sambil menunggu Chandra di perjalanan agar sampai ke club berbarengan.

“Club tutup jam berapa?” tanya Yeriko.

“Pagi, Yer. Masih lama,” sahut Satria.

Yeriko memilih diam selama perjalanan. Banyak hal yang ia pikirkan beberapa hari terakhir ini. Bukan hanya soal bisnis. Tapi juga konflik yang terjadi pada orang-orang terdekatnya. Ia tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Terlebih, semua ada hubungan dengan istri tercintanya.

 

Di rumah sakit ...

Lutfi melepas paksa selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya. Ia segera mengganti pakaiannya. Kemudian ia keluar diam-diam dari ruangannya.

Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Suasana rumah sakit tak terlihat ramai dan Lutfi tak ingin terlihat seperti pasien. Ia melangkah keluar dari rumah sakit. Menunggu mobil Chandra menjemputnya.

Beberapa menit kemudian, mobil Chandra sudah memasuki halaman rumah sakit. Lutfi langsung menghadang mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.

“Kamu yakin? Lukamu nggak papa?” tanya Chandra.

Lutfi mengangguk sambil menahan nyeri di perutnya. “Aku nggak papa,” jawabnya sambil memasang safety belt ke pinggangnya.

Chandra menghela napas. Ia segera menjalankan mobilnya kembali menuju club, tempat di mana Icha saat ini bekerja sebagai pelayan.

 

  ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas