“Pak
Bos, ini informasi yang kami dapat,” tutur Riyan saat mereka berkumpul di teras
belakang rumah Yeriko.
Setelah
tiga hari melakukan pencarian, Riyan dan Chandra menemukan Ibu Ratna kini
tinggal di Menur. Salah satu rumah sakit jiwa yang pernah merawat Amara.
Yeriko
mengerutkan dahi sambil menatap foto-foto yang diperlihatkan Riyan. “Dia
kenapa? Kok, bisa masuk sini?”
Riyan
dan Chandra menggeleng bersamaan.
“Amara
masih di sana, Chan?” tanya Yeriko sambil menghisap rokoknya.
Chandra
mengedikkan bahunya. “Entahlah.”
Yeriko
tertawa kecil menatap Chandra. Ia merasa sangat puas karena Chandra benar-benar
membuang Amara dari kehidupannya.
“Amara
...? Itu tunangan kamu yang dulu? Kenapa bisa masuk Menur? Gara-gara nggak kamu
nikah-nikahin?” tanya Satria.
“Tak
sampluk kowe!” sahut Chandra sambil meraih asbak yang ada di hadapan Yeriko dan
bersiap melayangkan ke arah Satria.
“Eits,
selow ... nggak boleh pake kekerasan!” pinta Satria sambil menurunkan asbak
secara perlahan dari tangan Chandra.
“Kamu
kalo ngomong suka ngasal. Nggak mungkin aku bikin tunanganku sendiri gila. Kalo
emang mau nikah ya nikah aja.”
“Hahaha.
Terus, dia sakit jiwa karena apa?” tanya Satria.
“Entahlah.
Kerjaan Yeriko.”
“Kok,
aku?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.
“Nggak
usah pura-pura polos! Rencana jahatmu itu udah tertulis dengan jelas di jidatmu
itu.”
“Kamu
apain, Yer?” tanya Satria sambil menatap Yeriko.
Yeriko
meraih sloki dan meminum air yang ada di dalamnya. “Aku nggak ngapa-ngapain?”
“Halah,
masih nggak mau ngaku. Yang bikin perusahaan keluarganya Harry jadi bangkrut,
siapa?”
“Chan,
dalam dunia bisnis memang begitu. Bangkrut itu kan resiko,” jawab Yeriko sambil
menahan tawa.
Chandra
tertawa kecil. “Kamu pikir aku nggak tahu?”
“Hahaha.
Balik ke topik awal. Ini Ibu Ratna kenapa bisa sampai dirawat di Menur?”
“Nggak
tahu penyebabnya, Yer. Orang udah stres gitu nggak bisa diajak komunikasi.”
“Hmm,
Icha gimana?” tanya Yeriko.
Chandra
dan Riyan menoleh ke arah Satria bersamaan.
“Masih
nunggu kabar anggota. Santai,” jawab Satria sambil berbaring santai di atas
karpet bulu yang disediakan Yeriko untuk bersantai.
“Suruh
anggotamu cepetan, Sat!” pinta Yeriko. “Udah tiga hari nih.”
“Selow
...,” sahut Satria santai.
“Istriku
udah khawatir banget sama Icha,” tutur Yeriko berbisik.
“Khawatir
kenapa?” tanya Satria santai.
“Dia
takut kalau mamanya terus-menerus mengintimidasi Icha.”
“Mamanya
aja dirawat di Menur. Pasti si Icha baik-baik aja.”
“Iya
juga, sih. Tapi, jangan terlalu lama juga.”
“Santai,
Yer.” Satria tersenyum sambil memainkan kedua alisnya.
Yeriko
menghela napas sejenak. “Istriku lagi hamil, Sat. Aku takut dia banyak pikiran
dan mengganggu perkembangan janinnya.”
“Emang
nggak rutin periksa ke dokter kandungan?” tanya Satria.
“Rutin
lah,” sahut Yeriko.
“Dokter
kandungan bilang kalo janinnya dia bermasalah?”
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Ya
udah. Santai aja!”
“Kamu
itu nggak ngerasain rasanya mau punya anak!” dengus Yeriko kesal sambil
menendang paha Satria yang berada tepat di bawah kakinya.
Satria
terkekeh mendengar ucapan Yeriko. Ia merogoh ponselnya yang tiba-tiba bergetar.
“Eits,
wallpapernya cewek. Pacarmu, Sat?” tanya Chandra.
“Foto
artis,” jawab Satria santai. Ia mengusap layar ponsel dan membaca pesan yang
masuk ke dalam chat pribadinya.
Satria
langsung bangkit tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. “Ketemu, Chan!”
seru Satria.
“Apanya?”
“Pacarnya
Lutfi.”
“Di
mana?”
“Satria
langsung menunjukkan foto-foto yang masuk ke dalam ponselnya.”
“Kita
ke sana sekarang!” seru Yeriko sambil bangkit dari kursi.
“Ayo
...!” Semua orang bergegas bangkit dari tempatnya.
“Aku
pamit ke istriku dulu,” tutur Yeriko sambil melangkahkan kakinya.
“Iya,
yang udah punya istri,” goda Satria.
Yeriko
tersenyum kecil. “Makanya, buruan nikah!”
“Aish,
susah nyari jodoh, Yer.”
“Kamu
terlalu banyak milih.”
“Eh,
bukannya kamu yang pemilih?” dengus Satria kesal.
Yeriko
tertawa kecil. “Iya, dong. Harus pilih wanita terbaik.”
“Yee,
kamu mah udah nemuin. Kalo aku yang ketemu duluan sama Kakak Ipar Kecil, aku
yang nikahin dia,” sahut Satria.
“Jangan
ngimpi!” dengus Yeriko. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
“Kurang
ajar. Dia belajar ngolokin orang dari mana?” tutur Satria sambil berkacak
pinggang menatap Yeriko.
“Heh!?”
Satria menoleh ke belakang karena tak mendapat tanggapan dari Chandra dan
Riyan.
Chandra
dan Riyan menahan tawa sambil melangkah keluar dari rumah Yeriko.
“Woi
...! Tungguin! Malah ditinggal?” seru Satria.
Chandra
tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja ia menyentuh
handle pintu mobilnya, ponselnya tiba-tiba berdering.
“Halo
...!” Chandra langsung menjawab panggilan telepon dari Lutfi.
“Gimana?
Udah ada kabar soal Icha?” tanya Lutfi.
“Baru
dapet kabar dari Satria. Dia kerja di W Club. Club baru yang ada di Kenjeran.”
“Jemput
aku, Chan!” pinta Lutfi.
“Kamu
masih sakit, Lut. Kita bisa tangani. Kamu nggak perlu kha—”
“Jemput
aku!” seru Lutfi. “Kalo kamu nggak jemput, aku pergi ke sana sendiri.”
Chandra
menghela napas. “Oke. Aku jemput kamu.”
“Cepetan!”
“Iya,
Lut. Sabar!” sahut Chandra kesal. Ia langsung mematikan panggilan telepon dari
Lutfi.
“Mas
Lutfi?” tanya Riyan sambil menatap Chandra.
Chandra
menganggukkan kepala. “Aku jemput Lutfi di rumah sakit. Bilangin ke Yeri ya!”
Chandra langsung masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan
halaman rumah Yeriko.
“Heh,
aku ditinggalin gitu aja? Aku kan numpang mobil dia,” tutur Satria sambil
menunjuk mobil Chandra yang berlalu pergi.
“Mas
Satria ikut kami aja!” tutur Riyan.
“Iya,
lah. Mau ikut siapa lagi?” sahut Satria sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Baru di sini, komandan dikerjain. Kalo bukan temen, udah kutembak mati tuh si
Chandra.”
Riyan
hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Satria.
“Ini
Yeriko lama banget?” gumam Satria. “Dia mau pamitan sama istrinya atau minta
jatah dulu?” tanyanya sambil melihat arloji di tangannya.
Padahal,
belum genap lima menit Satria menunggu Yeriko keluar dari rumahnya. Tapi, ia
sudah sangat gelisah. Sementara, Riyan terlihat sangat santai sambil bersandar
di mobil bosnya.
Beberapa
menit kemudian, Yeriko keluar dari rumahnya. “Chandra mana?” tanyanya.
“Jemput
Lutfi.”
“Lutfi
mau ikut ke club?”
“Kayaknya
sih gitu. Kayak nggak tahu aja keras kepalanya si Lutfi itu gimana,” jawab
Satria.
“Ya
udah. Kita jalan aja pelan-pelan sambil nunggu Chandra jemput si Lutfi!”
perintah Yeriko.
Riyan
mengangguk. Ia segera masuk ke mobil, duduk di belakang kemudi dan menyalakan
mesin mobilnya.
Yeriko
dan Satria bergegas masuk ke mobil. Mereka berjalan santai sambil menunggu
Chandra di perjalanan agar sampai ke club berbarengan.
“Club
tutup jam berapa?” tanya Yeriko.
“Pagi,
Yer. Masih lama,” sahut Satria.
Yeriko
memilih diam selama perjalanan. Banyak hal yang ia pikirkan beberapa hari
terakhir ini. Bukan hanya soal bisnis. Tapi juga konflik yang terjadi pada
orang-orang terdekatnya. Ia tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Terlebih,
semua ada hubungan dengan istri tercintanya.
Di
rumah sakit ...
Lutfi
melepas paksa selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya. Ia
segera mengganti pakaiannya. Kemudian ia keluar diam-diam dari ruangannya.
Waktu
sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Suasana rumah sakit tak terlihat ramai dan
Lutfi tak ingin terlihat seperti pasien. Ia melangkah keluar dari rumah sakit.
Menunggu mobil Chandra menjemputnya.
Beberapa
menit kemudian, mobil Chandra sudah memasuki halaman rumah sakit. Lutfi
langsung menghadang mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.
“Kamu
yakin? Lukamu nggak papa?” tanya Chandra.
Lutfi
mengangguk sambil menahan nyeri di perutnya. “Aku nggak papa,” jawabnya sambil
memasang safety belt ke pinggangnya.
Chandra
menghela napas. Ia segera menjalankan mobilnya kembali menuju club, tempat di
mana Icha saat ini bekerja sebagai pelayan.
((Bersambung ...))
Thanks udah
setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita
setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment