Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 382 : Pasien Mau Mandi

 


Andre calling …

 

Yuna menoleh ke arah layar ponsel yang ia letakkan di atas meja.

 

“Siapa?” tanya Jheni.

 

“Andre,” jawab Yuna sambil meraih ponsel tersebut. Ia mengusap layar ponsel dan menjawab panggilan A dre.

 

“Halo …!” sapa Yuna.

 

“Halo, Yun …! Kamu di mana?” Suara Andre terdengar jelas dari ponsel Yuna yang sengaja mengaktifkan loudspeaker.

 

“Aku lagi di Cocofrio bareng Jheni. Kenapa, Ndre?” tanya Yuna balik.

 

“Aku mau undang kamu ke acara ulang tahunku. Sekalian, sama Jheni juga ya!”

 

“Wah, iya. Minggu depan ya?”

 

“Iya, Yun. Dateng ya!”

 

“Mmh … aku usahain, Ndre.”

 

“Kenapa? Takut nggak dibolehin sama suami kamu?”

 

“Kamu tahu kalau dia cemburuan banget. Apalagi kalo udah sama kamu.”

 

Andre tergelak mendengar ucapan Yuna. “Aku nggak maksa, kok. Tapi, aku berharap banget kalo kamu bisa datang.”

 

“Iya, deh. Kalo nggak sibuk, aku datang.”

 

Andre tertawa kecil. “Iya, Nyonya Muda yang super sibuk.”

 

Yuna terkekeh. “Sibuk tidur,” sahutnya.

 

“Hahaha. Udah dulu ya, aku mau undang yang lain juga.”

 

“Oke. Bye …!” Yuna langsung mematikan panggilan telepon dari Andre.

 

“Masih aja ngarepin kamu,” celetuk Jheni.

 

“Hush, nggak boleh negatif thinking gitu!” sahut Yuna.

 

“Yah, abisnya … dia masih aja mepetin kamu terus.”

 

“Nggak ada salahnya bersikap baik, Jhen. Gimana kalo mantan pacar kamu yang deketin kamu lagi? Kalo niatnya mau berteman, masa mau kita benci?”

 

“Huu, nggak bakal aku mau baik sama mantan pacar.”

 

“Nggak boleh gitu. Biar gimana pun, kamu pernah sayang sama dia.”

 

“Iih, aku paling males kalo denger kamu ngomong kayak gini,” tutur Jheni kesal.

 

Yuna tertawa kecil. “Eh, mantan pacar kamu itu, nggak ada yang deketin kamu lagi?”

 

“Nggak ada. Emangnya Wilian yang udah ketahuan selingkuh, tapi masih aja ngejar-ngejar kamu.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. Mereka terus bercanda sambil menikmati makanan di tempat tersebut sebelum kembali ke rumah masing-masing.

 

 

 

 

 

 

Icha melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit sambil membawakan makanan untuk Lutfi. Ia terus merawat Lutfi selama di rumah sakit.

 

“Pagi …!” sapa Icha begitu ia masuk ke dalam ruang rawat.

 

“Pagi juga,” sahut Lutfi sambil tersenyum ke arah Icha. Ia berusaha untuk mengangkat tubuhnya secara perlahan.

 

Icha langsung membantu Lutfi untuk duduk di atas ranjangnya. “Aku bawain bubur ayam buat kamu. Makan dulu ya!”

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Semalam, kamu tidur di mana?”

 

“Di kosan yang baru. Kenapa?” tanya Icha balik.

 

“Kenapa tinggal di kosan? Rumah kamu?”

 

“Udah habis sewanya. Uang yang aku punya, cuma cukup untuk bayar kos-kosan. Sisanya, harus aku simpan dengan baik supaya bisa ngelunasin hutang-hutangku.”

 

“Tinggal di rumahku aja. Gimana?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Tinggal di kosan bukan sesuatu yang buruk.”

 

“Tapi, kosan itu kecil. Toh, kita juga kakak-adik. Apa kata dunia kalau adiknya Lutfi, penguasa villa di Pulau Jawa ini tinggalnya di kosan?”

 

Icha tersenyum. “Nggak usah berlebihan! Makan dulu, ya!” pinta Icha sambil menyodorkan bubur untuk Lutfi.

 

Lutfi langsung mengambil mangkuk dari tangan Icha dan melahap bubur tersebut.

 

“Pelan-pelan …!” pinta Icha lembut.

 

“Aku nggak bisa makan pelan-pelan.”

 

“Nggak ada yang ngejar-ngejar kamu. Santai aja.”

 

Lutfi menghentikan makannya sejenak. Ia tersenyum menatap wajah Icha. Kemudian, melanjutkan makannya lagi hingga habis.

 

“Cha, udah seminggu aku nggak mandi. Kepalaku gatal banget. Aku mau mandi dulu.”

 

“Luka kamu belum kering banget. Emangnya nggak bahaya kalau mandi?”

 

“Nggak papa.”

 

“Tapi … dokter bilang kalo luka kamu belum boleh kena air.”

 

“Luka kena air nggak papa. Ntar juga kering sendiri.”

 

“Kamu ngeyel banget sih!? Sengaja biar lebih lama tinggal di rumah sakit!?” sentak Icha.

 

Lutfi terdiam. Ia tidak pernah mendengar Icha berbicara dengan nada tinggi, apalagi sampai meneriaki dirinya.

 

“Sorry …!” tutur Icha lirih. “Aku tanya dokter dulu. Supaya nggak bahayain luka kamu.”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

Icha tersenyum canggung. Ia bergegas pergi mencari dokter yang menangani kesehatan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum menatap Icha yang keluar dari ruangannya. Ia merasa sangat bahagia dengan perhatian yang diberikan Icha kepadanya.

 

Icha bergegas pergi bertanya pada dokter.

 

“Permisi, Dok …!” sapa Icha pada dokter yang kebetulan berpapasan dengannya di koridor.

 

“Ya, ada apa?”

 

“Mmh … pa-, eh, kakak saya mau mandi. Apa sudah boleh?”

 

“Mas Lutfi ya?”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Kalau mau mandi, lukanya harus ditutup dulu. Supaya nggak kena air.”

 

“Oke, Dok. Terima kasih.”

 

“Cari saja plastik wrapper untuk membalut lukanya sebelum mandi.”

 

“Baik, Dokter. Terima kasih atas informasinya.”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala dan kembali melangkahkan kakinya untuk memeriksa pasien.

 

Icha bergegas mencari plastik wrapper untuk membalut luka Lutfi.

 

Setelah mencari ke beberapa toko, akhirnya ia bisa menemukan plastik wrapper untuk membalut luka Lutfi. Ia bergegas kembali ke rumah sakit.

 

“Lut, dokter bolehin kamu mandi. Tapi, harus dibalut lebih dulu pakai wrapper,” tutur Icha begitu ia menghampiri Lutfi.

 

“Hah!?” Lutfi mengerutkan dahi. Ia tak mengerti maksud Icha.

 

Icha memberikan plastik wrapper ke tangan Lutfi. “Pakai ini dulu sebelum mandi.”

 

“Gimana makenya?” tanya Lutfi.

 

“Dibalutkan aja ke perut kamu. Supaya luka kamu nggak kena air waktu mandi.”

 

Lutfi membuka plastik wrapper tersebut. Ia mencoba membalut perutnya sendiri. Namun, ia justru membuat kekacauan karena tidak bisa melakukannya dengan baik.

 

Icha mulai gerah dengan apa yang dilakukan Lutfi. Ia mengambil alih apa yang dilakukan Lutfi. Ia membantu membalut luka yang ada di perut Lutfi menggunakan plastik wrapper.

 

Napas keduanya saling beradu saat kedua lengan Icha melingkar di perut Lutfi. Lutfi terus menatap wajah Icha yang jaraknya tak lebih dari sepuluh sentimeter di hidungnya.

 

“Cha, kenapa aku selalu merasa kalau kamu adalah orang lain yang bisa bikin dadaku bergetar sehebat ini,” batin Lutfi sambil menatap wajah Icha. Ia sulit mengendalikan dirinya saat tubuhnya bersentuhan dengan kulit lengan Icha. Ia terus mendekatkan wajahnya ke wajah Icha.

 

“Udah selesai,” tutur Icha sambil bergerak menjauhi Lutfi.

 

Lutfi menelan ludah. Tiba-tiba menjadi sangat canggung. Ia tersenyum kecil sambil menurunkan bajunya yang tersingkap. “Makasih …”

 

Icha mengangguk.

 

Lutfi melangkah perlahan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut. Sementara, Icha menunggunya sambil duduk di sofa.

 

Gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi. Membuat Icha tak bisa mendengar suara lain. Sebab, ia masih mengkhawatirkan keadaan Lutfi yang belum benar-benar pulih dan harus mandi sendiri.

 

 

 

BRAAAK …!!!

 

 

 

Suara yang terdengar dari dalam kamar mandi, membuat Icha melompat dari atas sofa dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Ia sangat khawatir kalau Lutfi terpeset dan jatuh.

 

Icha mencoba membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci dengan baik.

 

“Aaargh …!” teriak Icha saat melihat Lutfi berdiri di dalam kamar mandi tanpa mengenakan apa pun di tubuhnya. Ia langsung berbalik membelakangi tubuh Lutfi.

 

Lutfi langsung menarik handuk dan menutupi bagian bawah perutnya. Kepala dan tubuhnya masih penuh dengan busa sabun. “Kenapa masuk?”

 

“Sorry …! Aku pikir, kamu yang jatuh.”

 

“Tutup lagi pintunya!” perintah Lutfi.

 

Icha mengangguk. Ia meraba gagang pintu yang ada di belakangnya dan langsung menutup pintu itu kembali.

 

Lutfi tertawa kecil melihat tingkah Icha yang terlihat sangat gugup. “Dia kan adikku. Buat apa aku malu? Kita sama-sama udah dewasa. Lagian, barangku sama aja kayak yang lain,” gumam Lutfi sambil melanjutkan mandinya.

 

Di luar, Icha terlihat sangat gugup. Wajahnya memanas dan apa yang tak sengaja ia lihat barusan terus terbayang di pelupuk matanya. “Iih … Icha, dia kan kakak kamu. Nggak boleh mikir aneh-aneh,” gumamnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

 

Mereka terlihat sangat canggung karena status hubungan mereka yang tiba-tiba berubah. Dari pacar menjadi saudara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 381 : Rahasia Tak Terjawab

 


“Jhen, menurut kamu ... hasil tes DNA Lutfi dan Icha, bakal gimana ya?” tanya Yuna sambil mendorong trolly di salah satu pusat perbelanjaan.

“Nggak tahu, Yun. Aku harap, hasilnya nggak cocok. Kasihan juga sih mereka. Aku nggak bisa ngebayangin kalau aku sama Chandra yang kakak-adik,” jawab Jheni.

“Iya, apalagi aku,” sahut Yuna.

“Hubungan kamu sama Yeriko sudah jelas. Ayah kamu sudah jelas bukan ayahnya Yeriko,” tutur Jheni sambil memeriksa barang yang akan ia ambil dari etalase.

“Iya, sih. Oh ya, di rumah keluarga Hadikusuma. Nggak ada yang boleh mengungkit soal ayahnya Yeriko. Sampai sekarang, aku juga nggak tahu. Siapa nama ayahnya Yeriko, wajahnya gimana dan ada di mana. Entah masih hidup atau sudah meninggal,” tutur Yuna.

“Hah!?” Jheni mengernyitkan dahinya. “Serius, Yun?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Emangnya, kamu nggak pernah nanya sama Yeriko?”

Yuna menggelengkan kepala. “Dari awal, Mama Rully sudah memperingatkan aku untuk tidak mengungkit soal ayahnya Yeriko.”

“Hmm, ada rahasia apa ya?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku juga nggak berani mengungkit. Takut melukai Yeriko.”

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Pastinya, ayahnya itu seganteng Yeriko.”

Yuna tertawa kecil. “Kamu sendiri, udah pernah ketemu sama ayahnya Chandra?”

Jheni menggelengkan kepala. “Orang tua dia di Jogja. Aku juga nggak pernah mengungkit soal ayahnya Chandra. Mereka sering berantem gara-gara mama tirinya Chandra yang jahat itu.”

“Huft, kenapa sih sulit banget jadi orang dewasa? Nggak pernah bisa lepas dari masalah. Kenapa kita harus menjalani hidup serumit ini?” keluh Yuna.

Jheni tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Semua orang yang hidup pasti punya masalah. Yang terpenting adalah bagaimana cara menghadapinya. Anak bayi juga punya masalah. Dia lapar, nggak bisa makan sendiri. Harus menangis dulu supaya orang-orang di sekitarnya tahu bahwa dia lapar. Mereka pengen bisa jalan, tapi nggak langsung bisa. Harus belajar dulu sampai jatuh berkali-kali. Bahkan, lututnya sering terluka. Tapi, mereka tidak berhenti belajar berjalan.”

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya, Jhen. Semoga aja kita selalu kuat menghadapi kenyataan.”

“Aamiin.” Jheni terus melangkahkan kakinya bersama Yuna untuk memilih barang-barang keperluan bulanan yang biasa mereka beli.

Usai berbelanja, Yuna dan Jheni pergi ke salah satu toko dessert.

“Jhen, kamu mau pesan apa?” tanya Yuna.

“Mango Mousse aja, Yun.”

Yuna langsung memanggil pelayan untuk membantunya.

“Mau pesan apa, Mbak?” tanya pelayan yang menghampiri meja Yuna.

“Saya mau pesan Mango Mousse, Trifle Chocolate Greentea, Vanilla Mousse, Belgian Waffle, Frappuccino sama Royal Hot Chocolate,” tutur Yuna.

Pelayan tersebut menganggukkan kepala. Ia bergegas memproses semua pesanan yang disebutkan Yuna.

“Pesen dessert banyak banget?” tanya Jheni.

“Aku laper, Jhen.”

“Kenapa ngajak ke toko dessert? Nggak ke restaurant aja sekalian?” tanya Jheni.

“Aku lagi pengen makan yang manis-manis.”

“Tumben?”

“Sejak promil, Yeriko melarang aku makan pedas. Chef Rafa juga lebih sering kasih cemilan manis. Aku jadi terbiasa.”

“Bawaan hamil ya?”

“Bisa jadi, karena udah terbiasa juga.”

Jheni tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?”

“Yeriko pinter banget pelihara kamu. Udah naik berapa kilo timbanganmu?” tanya Jheni.

“Nggak usah nanyain timbangan ibu hamil. Kalo kata Icha, pamali!”

“Hahaha.”

Pandangan Yuna tiba-tiba tertuju pada gadis kecil yang baru saja masuk ke toko dessert tersebut.

“Jhen, itu siapa ya? Kayak familiar banget?” tanya Yuna.

Jheni langsung memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh Yuna. Ia mengedikkan bahu menatap gadis kecil itu. Hanya saja, otaknya masih berpikir karena gadis itu memang terlihat familiar.

Yuna tersenyum saat pelayan menyuguhkan makanan di mejanya. “Makasih, Mbak!”

“Sama-sama.” Pelayan itu mengangguk dengan sopan. Kemudian berlalu pergi.

“Cewek itu emang nggak asing, Yun. Siapa ya?” tanya Jheni.

“Penasaran juga?”

Jheni menganggukkan kepala. “Bentar, aku ingat-ingat.”

Yuna hanya tersenyum sambil menyendok makanan ke mulutnya.

“Aku ingat! Itu ... cewek yang sama Andre waktu kita ketemu Refi itu kan?”

Yuna menatap gadis itu kembali. “Iya, Jhen. Aku baru ingat.”

“Mau negur dia?” tanya Jheni.

Yuna menggelengkan kepala. Sebab, gadis itu langsung pergi setelah membeli beberapa dessert di tempat itu.

Jheni tertawa kecil. “Nggak nyangka, kalo Andre dapet jodoh cewek kayak gitu. Kelihatannya baik. Daripada si Yulia yang jutek itu.”

“Hahaha.”

“Eh, kemarin si Chandra ngomong ke aku. Neneknya Lutfi udah mulai nanyain keadaan cucunya.”

“Terus, Chandra bilang apa?”

“Nggak jawab. Dia bilang, belum ketemu sama Lutfi. Lutfi kan sering pindah-pindah kota. Jadi, nggak susah buat nyari alasan.”

“Oh, baguslah.”

“Tapi, aku nggak yakin kalau bisa nyembunyikan ini dari neneknya Lutfi. Kalo asistennya ngasih tahu. Neneknya itu bisa dateng ke sini.”

“Aku rasa, Lutfi nggak akan mencelakai Icha, kok.”

“Oh ya, gimana kalo kita jenguk mamanya Icha?”

“Aku nggak berani, Jhen.”

“Kenapa?”

“Aku takut membahayakan diriku sendiri. Di sana, isinya orang-orang yang depresi. Yeriko juga nggak akan izinin aku ke sana.”

“Mmh, iya juga sih. Biar aku aja sama Chandra yang ke sana.”

“Kabarin aja, ya!” pinta Yuna.

Jheni menganggukkan kepala. “Riyan terus mantau keadaan Bu Ratna, kok.”

“Yeriko yang nyuruh?”

“Yeriko dan Chandra, nggak akan ngelepasin Ibu Ratna gitu aja.”

“Tapi ... si Lutfi ...”

“Kenapa?” tanya Jheni.

“Dia udah minta Yeriko untuk ngelepasin Ibu Ratna.”

Jheni tersenyum sinis. “Kamu pikir, suami kamu itu bakal langsung nurut gitu aja? Kamu lihat aja, apa yang terjadi sama Amara setelah apa yang dia lakukan ke Chandra. Yeriko nggak mau bener-bener nurutin Chandra untuk ngelepasin Amara.”

“Dia masih di menur juga?” tanya Yuna.

Jheni menggelengkan kepala. “Udah nggak ada. Mungkin, dia udah sembuh. Riyan yang cerita ke aku.”

Yuna menghela napas. “Amara dan Icha itu kan beda, Jhen. Aku harus bujuk Yeriko lagi biar dia nggak memperpanjang masalah ini.”

“Yeriko nggak ngelaporin Ibu Ratna ke polisi. Tapi, dia masih terus jagain Bu Ratna supaya nggak keluar dari kota ini sebelum masalahnya bener-bener selesai.”

“Oh, gitu?”

Jheni menganggukkan kepala.

Yuna tersenyum kecil. Ia percaya pada suaminya. Ia juga sadar kalau suaminya tidak akan gegabah dan membuat suasana semakin rumit.

“Kenapa masalahnya Lutfi rumit banget ya? Masa lalu keluarga, ternyata bisa jadi masalah turun-temurun.”

“Iya. Eh, kamu nggak mau cari orang tua kandung kamu? Siapa tahu, ayahnya Chandra ... ayah kandung kamu juga,” tanya Yuna sambil menahan tawa.

Jheni langsung mendelik ke arah Yuna. “Kamu ...!? Doain aku sama Chandra jadi sodara kandung!?”

Yuna terkekeh geli.

“Ngadepin masalah mama tirinya dia aja aku udah pusing, Yun.”

“Belum pernah ketemu kan?”

“Belum, sih. Makanya, aku pusing karena Chandra ngajak aku ke rumah orang tuanya mulu.”

“Berarti, Chandra itu serius sama kamu. Kalian udah sama-sama dewasa. Nikah aja! Beres.”

“Nggak ada artinya menikah kalau keluarganya Chandra belum nerima aku. Secara, aku bukan anaknya orang kaya raya.”

“Hmm, kamu yang udah jelas punya kerjaan aja ... masih nggak percaya diri. Gimana aku yang pengangguran gini?”

Jheni tertawa kecil. “Beda, Yun. Kamu mah udah diterima dengan baik sama keluarganya Yeriko. Apalagi, mama mertua kamu itu sayang banget.”

Yuna tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena memiliki suami yang baik dan keluarga yang baik. Sedang teman-temannya yang lain, sulit untuk menyatukan hubungan mereka. Ia hidup bersama Yeriko dengan bahagia. Walau banyak pengganggu dalam hubungan mereka. Namun, mereka telah berjanji untuk menghadapi semuanya bersama-sama.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 380 : Big Hope

 


“Bi, tolong buatin sup ayam kampung ya! Mau aku bawa ke rumah sakit sore ini,” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War yang sedang duduk di dapur bersama Chef Rafa.

“Iya, Mbak. Bibi ke pasar dulu kalo gitu. Cari ayam kampung,” tutur Bibi War.

“Aku aja yang ke pasar, Bi. Gimana?” tanya Rani yang juga ada di dapur.

“Hmm, boleh. Biar Bibi bantu Mas Rafa.” Bibi War merogoh saku bajunya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Rani. Tak lupa, ia juga memberikan catatan bahan yang akan dibeli.

Yuna tersenyum menatap Rani yang terlihat bersemangat.

“Mas Lutfi masih di rumah sakit?” tanya Bibi War.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Dia kangen masakan Bibi. Minta dibikinkan sup ayam.”

“Udah lama dia nggak main ke sini. Tahu-tahu kok masuk rumah sakit. Biasanya kalo ke sini, langsung cari makanan ke dapur.”

Yuna tertawa kecil. “Iya, Bi. Padahal, dia itu udah sering banget makan makanan enak. Tetep aja nyari masakan Bibi.”

“Salam untuk dia, ya!”

“Emangnya, Bibi nggak mau jenguk dia lagi?”

Bibi War menggelengkan kepala. “Salam aja buat dia.”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku balik ke kamar dulu, Bi.”

Bibi War menganggukkan kepala.

Yuna bergegas naik ke kamar. Ia menyalakan televisi, menghabiskan harinya bersantai sambil menunggu Yeriko pulang kerja.

Yuna mengganti posisi duduknya beberapa kali. Ia merasa jarum jam yang ada di kamarnya berjalan sangat lambat. Membuatnya selalu merasa bosan jika tak ada hal yang bisa ia lakukan.

“Ahaa ...! Kenapa aku nggak main di kamar si Dedek aja?” Yuna bangkit dari sofa. Ia bergegas pergi ke kamar bayi yang ada di sebelah kamarnya.

Yuna melangkah perlahan memasuki kamar bayi tersebut sambil tersenyum. Ia melihat semua dekorasi kamar yang sudah lengkap. Yuna menghampiri meja kecil yang ada di tengah ruangan. Ia asyik membuat sesuatu untuk anaknya kelak. Ia terlalu asyik hingga tertidur di kamar anaknya.

 

Hari semakin sore ...

Yeriko kembali ke rumah, tapi tak mendapat sambutan dari istrinya. Ia langsung masuk dan menghampiri Bibi War.

“Bi, istriku mana?”

“Di atas.”

“Tumben? Biasanya, selalu nunggu aku pulang ke rumah.”

“Mungkin masih tidur.”

“Tidur?” Yeriko mengerutkan keningnya.

Bibi War menganggukkan kepala. “Tadi Bibi lihat, dia ketiduran di kamar anak.”

Yeriko tertawa kecil. Ia langsung bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Benar saja, Yuna masih terlelap sambil menyandarkan kepalanya di atas meja. Ia menghampiri istrinya, kemudian tersenyum melihat buku album yang sedang dibuat oleh Yuna. Ia mengambil buku tersebut dan membaca harapan-harapan kecil yang ditulis oleh Yuna.

Yeriko mengelus pipi Yuna perlahan, menatapnya penuh cinta.

Yuna langsung membuka mata begitu merasakan sentuhan di pipinya. “Udah pulang?” tanyanya sambil mengangkat kepala dari atas meja.

Yeriko mengangguk. “Kenapa tidur di sini?”

“Aku ketiduran.”

“Belum mandi?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Mau ke rumah sakit ‘kan?”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku udah dapet rambutnya Icha tadi pagi. Tapi, nggak bisa langsung aku kasih ke Lutfi karena masih ada Icha di sana.”

“Ya udah, biar aku yang kasih ke Lutfi. Kamu bisa ajak Icha jalan keluar sebentar.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Ya udah, mandi dulu yuk!” ajak Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Gendong!” pinta Yuna manja.

 “Kamu ini, makin manja aja,” gumam Yeriko sambil mengangkat tubuh Yuna.

Yuna tertawa kecil sambil mengecup pipi Yeriko berkali-kali sampai masuk ke kamarnya.

Setelah mandi dan bersiap, Yuna dan Yeriko bergegas pergi menuju rumah sakit untuk menemui Lutfi.

“Sore ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke bangsal tempat Lutfi dirawat.

“Eh, Kakak Ipar?” Lutfi yang sedang duduk di sofa langsung menengadahkan wajahnya menatap Yuna dan Yeriko.

Yuna tersenyum. Ia meletakkan tempat makan ke atas meja. “Ini pesanan kamu.”

Lutfi meringis. “Makasih, Kakak Iparku yang cantik!”

Yuna tersenyum sambil duduk di sofa. “Eh, Icha mana?” tanya Yuna berbisik.

“Dia pulang sebentar.”

“Bagus!”

“Kenapa?” tanya Lutfi.

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko sambil menengadahkan telapak tangannya.

Yeriko langsung merogoh saku jaketnya dan memberikan botol kecil berisi rambut Icha ke tangan Yuna.

“Ini, rambutnya Icha.” Yuna meletakkan botol tersebut ke atas meja.

Lutfi tersenyum menatap botol kecil yang ada di atas meja. “Kalian memang paling bisa diandalkan.”

Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum bersama.

“Makasih, ya!”

Yuna menganggukkan kepala. “Gimana? Luka kamu udah enakan?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Yer, masalah ini ... nggak usah diperpanjang, ya!” pinta Lutfi.

Yeriko tak menyahut. Raut wajahnya membuat Lutfi merasa tidak tenang.

“Yer, sumber dari masalah ini adalah papaku sendiri. Bahkan, dia masih tidak yakin kalau Icha adalah anaknya. Dia nggak mau kembali untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Biar semuanya sampai di sini. Aku nggak mau, dendam masa lalu keluarga kami menjadi turun-temurun. Cukup sampai di sini.”

Yeriko menghela napas. “Kamu yakin?”

Lutfi menganggukkan kepala. “Aku akan terima semuanya. Sudah dua puluh enam tahun, dendam Bu Ratna masih ada. Kalo keluargaku tidak mencampakkan dia. Mungkin, nggak akan seperti ini. Akhiri saja. Toh,aku juga gak papa.”

Yuna menggigit bibir bawahnya sambil melirik Yeriko yang masih bergeming.

Lutfi menatap wajah Yuna. “Kakak Ipar, help me! Cuma kamu yang bisa ngendalikan Yeriko,” tutur Lutfi dalam hati. Ia berharap, Yuna bisa mendengarkan suara hatinya.

Yuna tersenyum menanggapi tatapan Lutfi. Ia mengerti maksud tatapan Lutfi. Hanya saja, raut wajah Yeriko membuatnya ragu untuk membujuk suaminya itu.

Yeriko melirik tangan Yuna yang ragu-ragu ingin menyentuhnya. “Kenapa?” tanyanya dingin.

“Hehehe.” Yuna memeluk lengan Yeriko. “Ay, ntar malam ke Platinum lagi ya!” pinta Yuna manja. Ia mengerdipkan matanya ke arah Lutfi.

“Mau ngapain?”

“Traktir aku makan steak. Nanti, aku kasih bonus plus-plus,” bisik Yuna.

Lutfi menahan tawa. Walau berbisik, ia masih bisa mendengar ucapan Yuna.

“Kamu mau nyuap aku, biar bisa bantuin Lutfi?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak. Siapa bilang?”

“Kalian pikir, aku nggak tahu kalau dari tadi saling kode-kodean?”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Abisnya, muka kamu jelek banget. Niat Lutfi kan baik. Jadi, kita nggak perlu laporin ibunya Icha ke polisi. Biar dia selesaikan secara kekeluargaan.”

“Oke. Oke. Kamu bisa jamin kalau kejadian ini nggak akan terulang lagi?” tanya Yeriko.

Lutfi menganggukkan kepala. “Ini murni masalah keluargaku. Aku akan selesaikan semuanya sendiri.”

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Oke. I See.”

Yuna tersenyum menatap suaminya.

“Oh ya, aku bisa minta tolong?” tanya Lutfi.

“Apa?”

“Aku ada janji mau ketemu sama klienku untuk kerjasama pembangunan villa di daerah Ende. Asistenku lagi ngurus hotelku yang di Jakarta. Aku nggak bisa nemuin klien itu.” Lutfi menatap Yeriko. “Hehehe. Kamu ngerti kan maksudku?” lanjutnya.

“Nggak ngerti.”

Lutfi membelalakkan matanya. “Ck, ayolah ...!” pintanya. “Aku kasih satu tiket liburan ke luar negeri.”

“Satu doang?”

“Iya, deh. Dua tiket. Asal klienku nggak kabur. Soalnya, dia agak susah dihadapi.”

“Ntar aku suruh Riyan,” sahut Yeriko.

“Kok ...?”

“Kamu meragukan kemampuan dia dalam bernegosiasi?” sela Yeriko.

Lutfi menggelengkan kepala.

“Udah, nggak usah berdebat!” pinta Yuna. Lebih baik, makan supnya. Keburu dingin.” Yuna menyela sambil membuka tempat makan yang ia bawa.

“Hmm ... wangi banget!” seru Lutfi sambil mengendus uap yang keluar saat Yuna membuka sup tersebut.

Yuna tersenyum sambil menyodorkan sup tersebut ke hadapan Lutfi.

“Kakak Ipar, aku ini pasien. Sangat lemah. Bisa suapin?” tanya Lutfi sambil mengerdipkan matanya.

“Nggak usah manja!” dengus Yeriko sambil menendang kaki Lutfi.

“Aw ...! Galak banget!” gerutu Lutfi sambil mengangkat kedua kakinya ke atas sofa.

“Kamu seneng banget manfaatin kebaikan istriku. Makan sendiri bisa.”

“Udah mau punya anak, masih aja cemburuan,” gumam Lutfi.

“Apa!?” tanya Yeriko.

“Nggak apa-apa.”

“Aku denger, Lut.”

Lutfi merengut ke arah Yeriko. “Jadi cowok, jangan cemburuan banget! Ntar si Kakak Ipar jadi nggak betah deket-deket sama kamu,” tuturnya sambil meminum sup ayam buatan Bibi War.

“I don’t care!”

“Tapi aku peduli sama kamu. Gimana, kalo dia cepet mati karena keracunan cemburu?”

Yuna tertawa kecil. “Racunnya dia nggak mematikan,” sahutnya.

“Iya, sih. Nggak mungkin mematikan. Orang bikin ketagihan. Hahaha.”

“Bilang aja kalo kamu pengen juga,” sahut Yeriko.

“Banget!” sahut Lutfi sambil menahan tawa. “Hmm, mudahan DNA kami nggak cocok. Aku mau nikahin Icha.”

“Kalo cocok, kamu mau nikahin siapa?”

“Belum kepikiran,” jawab Lutfi.

Yuna tersenyum. Ia sangat senang setiap kali melihat kehangatan Yeriko dan teman-temannya. Setidaknya, hidup suaminya tidak begitu buruk karena dikelilingi oleh orang-orang baik dan saling peduli.

 

 

  ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas