“Jhen, menurut kamu ... hasil tes DNA Lutfi dan Icha, bakal gimana ya?”
tanya Yuna sambil mendorong trolly di salah satu pusat perbelanjaan.
“Nggak tahu, Yun. Aku harap, hasilnya nggak cocok. Kasihan
juga sih mereka. Aku nggak bisa ngebayangin kalau aku sama Chandra yang
kakak-adik,” jawab Jheni.
“Iya, apalagi aku,” sahut Yuna.
“Hubungan kamu sama Yeriko sudah jelas. Ayah kamu sudah
jelas bukan ayahnya Yeriko,” tutur Jheni sambil memeriksa barang yang akan ia
ambil dari etalase.
“Iya, sih. Oh ya, di rumah keluarga Hadikusuma. Nggak ada
yang boleh mengungkit soal ayahnya Yeriko. Sampai sekarang, aku juga nggak
tahu. Siapa nama ayahnya Yeriko, wajahnya gimana dan ada di mana. Entah masih
hidup atau sudah meninggal,” tutur Yuna.
“Hah!?” Jheni mengernyitkan dahinya. “Serius, Yun?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Emangnya, kamu nggak pernah nanya sama Yeriko?”
Yuna menggelengkan kepala. “Dari awal, Mama Rully sudah
memperingatkan aku untuk tidak mengungkit soal ayahnya Yeriko.”
“Hmm, ada rahasia apa ya?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku juga nggak berani
mengungkit. Takut melukai Yeriko.”
Jheni mengangguk-anggukkan kepala. “Pastinya, ayahnya itu
seganteng Yeriko.”
Yuna tertawa kecil. “Kamu sendiri, udah pernah ketemu sama
ayahnya Chandra?”
Jheni menggelengkan kepala. “Orang tua dia di Jogja. Aku
juga nggak pernah mengungkit soal ayahnya Chandra. Mereka sering berantem
gara-gara mama tirinya Chandra yang jahat itu.”
“Huft, kenapa sih sulit banget jadi orang dewasa? Nggak
pernah bisa lepas dari masalah. Kenapa kita harus menjalani hidup serumit ini?”
keluh Yuna.
Jheni tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Semua orang yang
hidup pasti punya masalah. Yang terpenting adalah bagaimana cara menghadapinya.
Anak bayi juga punya masalah. Dia lapar, nggak bisa makan sendiri. Harus
menangis dulu supaya orang-orang di sekitarnya tahu bahwa dia lapar. Mereka
pengen bisa jalan, tapi nggak langsung bisa. Harus belajar dulu sampai jatuh
berkali-kali. Bahkan, lututnya sering terluka. Tapi, mereka tidak berhenti
belajar berjalan.”
Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya, Jhen. Semoga aja
kita selalu kuat menghadapi kenyataan.”
“Aamiin.” Jheni terus melangkahkan kakinya bersama Yuna
untuk memilih barang-barang keperluan bulanan yang biasa mereka beli.
Usai berbelanja, Yuna dan Jheni pergi ke salah satu toko
dessert.
“Jhen, kamu mau pesan apa?” tanya Yuna.
“Mango Mousse aja, Yun.”
Yuna langsung memanggil pelayan untuk membantunya.
“Mau pesan apa, Mbak?” tanya pelayan yang menghampiri meja
Yuna.
“Saya mau pesan Mango Mousse, Trifle Chocolate Greentea,
Vanilla Mousse, Belgian Waffle, Frappuccino sama Royal Hot Chocolate,” tutur
Yuna.
Pelayan tersebut menganggukkan kepala. Ia bergegas
memproses semua pesanan yang disebutkan Yuna.
“Pesen dessert banyak banget?” tanya Jheni.
“Aku laper, Jhen.”
“Kenapa ngajak ke toko dessert? Nggak ke restaurant aja
sekalian?” tanya Jheni.
“Aku lagi pengen makan yang manis-manis.”
“Tumben?”
“Sejak promil, Yeriko melarang aku makan pedas. Chef Rafa
juga lebih sering kasih cemilan manis. Aku jadi terbiasa.”
“Bawaan hamil ya?”
“Bisa jadi, karena udah terbiasa juga.”
Jheni tertawa kecil.
“Kenapa ketawa?”
“Yeriko pinter banget pelihara kamu. Udah naik berapa kilo
timbanganmu?” tanya Jheni.
“Nggak usah nanyain timbangan ibu hamil. Kalo kata Icha,
pamali!”
“Hahaha.”
Pandangan Yuna tiba-tiba tertuju pada gadis kecil yang baru
saja masuk ke toko dessert tersebut.
“Jhen, itu siapa ya? Kayak familiar banget?” tanya Yuna.
Jheni langsung memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh
Yuna. Ia mengedikkan bahu menatap gadis kecil itu. Hanya saja, otaknya masih
berpikir karena gadis itu memang terlihat familiar.
Yuna tersenyum saat pelayan menyuguhkan makanan di mejanya.
“Makasih, Mbak!”
“Sama-sama.” Pelayan itu mengangguk dengan sopan. Kemudian
berlalu pergi.
“Cewek itu emang nggak asing, Yun. Siapa ya?” tanya Jheni.
“Penasaran juga?”
Jheni menganggukkan kepala. “Bentar, aku ingat-ingat.”
Yuna hanya tersenyum sambil menyendok makanan ke mulutnya.
“Aku ingat! Itu ... cewek yang sama Andre waktu kita ketemu
Refi itu kan?”
Yuna menatap gadis itu kembali. “Iya, Jhen. Aku baru
ingat.”
“Mau negur dia?” tanya Jheni.
Yuna menggelengkan kepala. Sebab, gadis itu langsung pergi
setelah membeli beberapa dessert di tempat itu.
Jheni tertawa kecil. “Nggak nyangka, kalo Andre dapet jodoh
cewek kayak gitu. Kelihatannya baik. Daripada si Yulia yang jutek itu.”
“Hahaha.”
“Eh, kemarin si Chandra ngomong ke aku. Neneknya Lutfi udah
mulai nanyain keadaan cucunya.”
“Terus, Chandra bilang apa?”
“Nggak jawab. Dia bilang, belum ketemu sama Lutfi. Lutfi
kan sering pindah-pindah kota. Jadi, nggak susah buat nyari alasan.”
“Oh, baguslah.”
“Tapi, aku nggak yakin kalau bisa nyembunyikan ini dari
neneknya Lutfi. Kalo asistennya ngasih tahu. Neneknya itu bisa dateng ke sini.”
“Aku rasa, Lutfi nggak akan mencelakai Icha, kok.”
“Oh ya, gimana kalo kita jenguk mamanya Icha?”
“Aku nggak berani, Jhen.”
“Kenapa?”
“Aku takut membahayakan diriku sendiri. Di sana, isinya
orang-orang yang depresi. Yeriko juga nggak akan izinin aku ke sana.”
“Mmh, iya juga sih. Biar aku aja sama Chandra yang ke
sana.”
“Kabarin aja, ya!” pinta Yuna.
Jheni menganggukkan kepala. “Riyan terus mantau keadaan Bu
Ratna, kok.”
“Yeriko yang nyuruh?”
“Yeriko dan Chandra, nggak akan ngelepasin Ibu Ratna gitu
aja.”
“Tapi ... si Lutfi ...”
“Kenapa?” tanya Jheni.
“Dia udah minta Yeriko untuk ngelepasin Ibu Ratna.”
Jheni tersenyum sinis. “Kamu pikir, suami kamu itu bakal
langsung nurut gitu aja? Kamu lihat aja, apa yang terjadi sama Amara setelah
apa yang dia lakukan ke Chandra. Yeriko nggak mau bener-bener nurutin Chandra
untuk ngelepasin Amara.”
“Dia masih di menur juga?” tanya Yuna.
Jheni menggelengkan kepala. “Udah nggak ada. Mungkin, dia
udah sembuh. Riyan yang cerita ke aku.”
Yuna menghela napas. “Amara dan Icha itu kan beda, Jhen.
Aku harus bujuk Yeriko lagi biar dia nggak memperpanjang masalah ini.”
“Yeriko nggak ngelaporin Ibu Ratna ke polisi. Tapi, dia
masih terus jagain Bu Ratna supaya nggak keluar dari kota ini sebelum
masalahnya bener-bener selesai.”
“Oh, gitu?”
Jheni menganggukkan kepala.
Yuna tersenyum kecil. Ia percaya pada suaminya. Ia juga
sadar kalau suaminya tidak akan gegabah dan membuat suasana semakin rumit.
“Kenapa masalahnya Lutfi rumit banget ya? Masa lalu
keluarga, ternyata bisa jadi masalah turun-temurun.”
“Iya. Eh, kamu nggak mau cari orang tua kandung kamu? Siapa
tahu, ayahnya Chandra ... ayah kandung kamu juga,” tanya Yuna sambil menahan
tawa.
Jheni langsung mendelik ke arah Yuna. “Kamu ...!? Doain aku
sama Chandra jadi sodara kandung!?”
Yuna terkekeh geli.
“Ngadepin masalah mama tirinya dia aja aku udah pusing,
Yun.”
“Belum pernah ketemu kan?”
“Belum, sih. Makanya, aku pusing karena Chandra ngajak aku
ke rumah orang tuanya mulu.”
“Berarti, Chandra itu serius sama kamu. Kalian udah
sama-sama dewasa. Nikah aja! Beres.”
“Nggak ada artinya menikah kalau keluarganya Chandra belum
nerima aku. Secara, aku bukan anaknya orang kaya raya.”
“Hmm, kamu yang udah jelas punya kerjaan aja ... masih
nggak percaya diri. Gimana aku yang pengangguran gini?”
Jheni tertawa kecil. “Beda, Yun. Kamu mah udah diterima
dengan baik sama keluarganya Yeriko. Apalagi, mama mertua kamu itu sayang
banget.”
Yuna tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena memiliki
suami yang baik dan keluarga yang baik. Sedang teman-temannya yang lain, sulit
untuk menyatukan hubungan mereka. Ia hidup bersama Yeriko dengan bahagia. Walau
banyak pengganggu dalam hubungan mereka. Namun, mereka telah berjanji untuk
menghadapi semuanya bersama-sama.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
nulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment