Andre calling …
Yuna menoleh ke arah layar ponsel yang ia letakkan di atas
meja.
“Siapa?” tanya Jheni.
“Andre,” jawab Yuna sambil meraih ponsel tersebut. Ia
mengusap layar ponsel dan menjawab panggilan A dre.
“Halo …!” sapa Yuna.
“Halo, Yun …! Kamu di mana?” Suara Andre terdengar jelas
dari ponsel Yuna yang sengaja mengaktifkan loudspeaker.
“Aku lagi di Cocofrio bareng Jheni. Kenapa, Ndre?” tanya
Yuna balik.
“Aku mau undang kamu ke acara ulang tahunku. Sekalian, sama
Jheni juga ya!”
“Wah, iya. Minggu depan ya?”
“Iya, Yun. Dateng ya!”
“Mmh … aku usahain, Ndre.”
“Kenapa? Takut nggak dibolehin sama suami kamu?”
“Kamu tahu kalau dia cemburuan banget. Apalagi kalo udah
sama kamu.”
Andre tergelak mendengar ucapan Yuna. “Aku nggak maksa,
kok. Tapi, aku berharap banget kalo kamu bisa datang.”
“Iya, deh. Kalo nggak sibuk, aku datang.”
Andre tertawa kecil. “Iya, Nyonya Muda yang super sibuk.”
Yuna terkekeh. “Sibuk tidur,” sahutnya.
“Hahaha. Udah dulu ya, aku mau undang yang lain juga.”
“Oke. Bye …!” Yuna langsung mematikan panggilan telepon
dari Andre.
“Masih aja ngarepin kamu,” celetuk Jheni.
“Hush, nggak boleh negatif thinking gitu!” sahut Yuna.
“Yah, abisnya … dia masih aja mepetin kamu terus.”
“Nggak ada salahnya bersikap baik, Jhen. Gimana kalo mantan
pacar kamu yang deketin kamu lagi? Kalo niatnya mau berteman, masa mau kita
benci?”
“Huu, nggak bakal aku mau baik sama mantan pacar.”
“Nggak boleh gitu. Biar gimana pun, kamu pernah sayang sama
dia.”
“Iih, aku paling males kalo denger kamu ngomong kayak
gini,” tutur Jheni kesal.
Yuna tertawa kecil. “Eh, mantan pacar kamu itu, nggak ada
yang deketin kamu lagi?”
“Nggak ada. Emangnya Wilian yang udah ketahuan selingkuh,
tapi masih aja ngejar-ngejar kamu.”
Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. Mereka terus bercanda
sambil menikmati makanan di tempat tersebut sebelum kembali ke rumah
masing-masing.
…
Icha melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit
sambil membawakan makanan untuk Lutfi. Ia terus merawat Lutfi selama di rumah
sakit.
“Pagi …!” sapa Icha begitu ia masuk ke dalam ruang rawat.
“Pagi juga,” sahut Lutfi sambil tersenyum ke arah Icha. Ia
berusaha untuk mengangkat tubuhnya secara perlahan.
Icha langsung membantu Lutfi untuk duduk di atas
ranjangnya. “Aku bawain bubur ayam buat kamu. Makan dulu ya!”
Lutfi menganggukkan kepala. “Semalam, kamu tidur di mana?”
“Di kosan yang baru. Kenapa?” tanya Icha balik.
“Kenapa tinggal di kosan? Rumah kamu?”
“Udah habis sewanya. Uang yang aku punya, cuma cukup untuk
bayar kos-kosan. Sisanya, harus aku simpan dengan baik supaya bisa ngelunasin
hutang-hutangku.”
“Tinggal di rumahku aja. Gimana?”
Icha menggelengkan kepala. “Tinggal di kosan bukan sesuatu
yang buruk.”
“Tapi, kosan itu kecil. Toh, kita juga kakak-adik. Apa kata
dunia kalau adiknya Lutfi, penguasa villa di Pulau Jawa ini tinggalnya di
kosan?”
Icha tersenyum. “Nggak usah berlebihan! Makan dulu, ya!”
pinta Icha sambil menyodorkan bubur untuk Lutfi.
Lutfi langsung mengambil mangkuk dari tangan Icha dan
melahap bubur tersebut.
“Pelan-pelan …!” pinta Icha lembut.
“Aku nggak bisa makan pelan-pelan.”
“Nggak ada yang ngejar-ngejar kamu. Santai aja.”
Lutfi menghentikan makannya sejenak. Ia tersenyum menatap
wajah Icha. Kemudian, melanjutkan makannya lagi hingga habis.
“Cha, udah seminggu aku nggak mandi. Kepalaku gatal banget.
Aku mau mandi dulu.”
“Luka kamu belum kering banget. Emangnya nggak bahaya kalau
mandi?”
“Nggak papa.”
“Tapi … dokter bilang kalo luka kamu belum boleh kena air.”
“Luka kena air nggak papa. Ntar juga kering sendiri.”
“Kamu ngeyel banget sih!? Sengaja biar lebih lama tinggal
di rumah sakit!?” sentak Icha.
Lutfi terdiam. Ia tidak pernah mendengar Icha berbicara
dengan nada tinggi, apalagi sampai meneriaki dirinya.
“Sorry …!” tutur Icha lirih. “Aku tanya dokter dulu. Supaya
nggak bahayain luka kamu.”
Lutfi menganggukkan kepala.
Icha tersenyum canggung. Ia bergegas pergi mencari dokter
yang menangani kesehatan Lutfi.
Lutfi tersenyum menatap Icha yang keluar dari ruangannya.
Ia merasa sangat bahagia dengan perhatian yang diberikan Icha kepadanya.
Icha bergegas pergi bertanya pada dokter.
“Permisi, Dok …!” sapa Icha pada dokter yang kebetulan
berpapasan dengannya di koridor.
“Ya, ada apa?”
“Mmh … pa-, eh, kakak saya mau mandi. Apa sudah boleh?”
“Mas Lutfi ya?”
Icha menganggukkan kepala.
“Kalau mau mandi, lukanya harus ditutup dulu. Supaya nggak
kena air.”
“Oke, Dok. Terima kasih.”
“Cari saja plastik wrapper untuk membalut lukanya sebelum
mandi.”
“Baik, Dokter. Terima kasih atas informasinya.”
Dokter tersebut menganggukkan kepala dan kembali
melangkahkan kakinya untuk memeriksa pasien.
Icha bergegas mencari plastik wrapper untuk membalut luka
Lutfi.
Setelah mencari ke beberapa toko, akhirnya ia bisa
menemukan plastik wrapper untuk membalut luka Lutfi. Ia bergegas kembali ke
rumah sakit.
“Lut, dokter bolehin kamu mandi. Tapi, harus dibalut lebih
dulu pakai wrapper,” tutur Icha begitu ia menghampiri Lutfi.
“Hah!?” Lutfi mengerutkan dahi. Ia tak mengerti maksud
Icha.
Icha memberikan plastik wrapper ke tangan Lutfi. “Pakai ini
dulu sebelum mandi.”
“Gimana makenya?” tanya Lutfi.
“Dibalutkan aja ke perut kamu. Supaya luka kamu nggak kena
air waktu mandi.”
Lutfi membuka plastik wrapper tersebut. Ia mencoba membalut
perutnya sendiri. Namun, ia justru membuat kekacauan karena tidak bisa
melakukannya dengan baik.
Icha mulai gerah dengan apa yang dilakukan Lutfi. Ia
mengambil alih apa yang dilakukan Lutfi. Ia membantu membalut luka yang ada di
perut Lutfi menggunakan plastik wrapper.
Napas keduanya saling beradu saat kedua lengan Icha
melingkar di perut Lutfi. Lutfi terus menatap wajah Icha yang jaraknya tak
lebih dari sepuluh sentimeter di hidungnya.
“Cha, kenapa aku selalu merasa kalau kamu adalah orang lain
yang bisa bikin dadaku bergetar sehebat ini,” batin Lutfi sambil menatap wajah
Icha. Ia sulit mengendalikan dirinya saat tubuhnya bersentuhan dengan kulit
lengan Icha. Ia terus mendekatkan wajahnya ke wajah Icha.
“Udah selesai,” tutur Icha sambil bergerak menjauhi Lutfi.
Lutfi menelan ludah. Tiba-tiba menjadi sangat canggung. Ia
tersenyum kecil sambil menurunkan bajunya yang tersingkap. “Makasih …”
Icha mengangguk.
Lutfi melangkah perlahan menuju kamar mandi yang ada di
dalam ruangan tersebut. Sementara, Icha menunggunya sambil duduk di sofa.
Gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi.
Membuat Icha tak bisa mendengar suara lain. Sebab, ia masih mengkhawatirkan
keadaan Lutfi yang belum benar-benar pulih dan harus mandi sendiri.
BRAAAK …!!!
Suara yang terdengar dari dalam kamar mandi, membuat Icha
melompat dari atas sofa dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Ia sangat
khawatir kalau Lutfi terpeset dan jatuh.
Icha mencoba membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci
dengan baik.
“Aaargh …!” teriak Icha saat melihat Lutfi berdiri di dalam
kamar mandi tanpa mengenakan apa pun di tubuhnya. Ia langsung berbalik
membelakangi tubuh Lutfi.
Lutfi langsung menarik handuk dan menutupi bagian bawah
perutnya. Kepala dan tubuhnya masih penuh dengan busa sabun. “Kenapa masuk?”
“Sorry …! Aku pikir, kamu yang jatuh.”
“Tutup lagi pintunya!” perintah Lutfi.
Icha mengangguk. Ia meraba gagang pintu yang ada di
belakangnya dan langsung menutup pintu itu kembali.
Lutfi tertawa kecil melihat tingkah Icha yang terlihat
sangat gugup. “Dia kan adikku. Buat apa aku malu? Kita sama-sama udah dewasa.
Lagian, barangku sama aja kayak yang lain,” gumam Lutfi sambil melanjutkan
mandinya.
Di luar, Icha terlihat sangat gugup. Wajahnya memanas dan
apa yang tak sengaja ia lihat barusan terus terbayang di pelupuk matanya. “Iih
… Icha, dia kan kakak kamu. Nggak boleh mikir aneh-aneh,” gumamnya sambil
memukul-mukul kepalanya sendiri.
Mereka terlihat sangat canggung karena status hubungan
mereka yang tiba-tiba berubah. Dari pacar menjadi saudara.

0 komentar:
Post a Comment