“Bi, tolong buatin sup ayam kampung ya! Mau aku bawa ke
rumah sakit sore ini,” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War yang sedang duduk
di dapur bersama Chef Rafa.
“Iya, Mbak. Bibi ke pasar dulu kalo gitu. Cari ayam
kampung,” tutur Bibi War.
“Aku aja yang ke pasar, Bi. Gimana?” tanya Rani yang juga
ada di dapur.
“Hmm, boleh. Biar Bibi bantu Mas Rafa.” Bibi War merogoh
saku bajunya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Rani. Tak lupa, ia juga
memberikan catatan bahan yang akan dibeli.
Yuna tersenyum menatap Rani yang terlihat bersemangat.
“Mas Lutfi masih di rumah sakit?” tanya Bibi War.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Dia kangen masakan
Bibi. Minta dibikinkan sup ayam.”
“Udah lama dia nggak main ke sini. Tahu-tahu kok masuk
rumah sakit. Biasanya kalo ke sini, langsung cari makanan ke dapur.”
Yuna tertawa kecil. “Iya, Bi. Padahal, dia itu udah sering
banget makan makanan enak. Tetep aja nyari masakan Bibi.”
“Salam untuk dia, ya!”
“Emangnya, Bibi nggak mau jenguk dia lagi?”
Bibi War menggelengkan kepala. “Salam aja buat dia.”
Yuna menganggukkan kepala. “Aku balik ke kamar dulu, Bi.”
Bibi War menganggukkan kepala.
Yuna bergegas naik ke kamar. Ia menyalakan televisi,
menghabiskan harinya bersantai sambil menunggu Yeriko pulang kerja.
Yuna mengganti posisi duduknya beberapa kali. Ia merasa
jarum jam yang ada di kamarnya berjalan sangat lambat. Membuatnya selalu merasa
bosan jika tak ada hal yang bisa ia lakukan.
“Ahaa ...! Kenapa aku nggak main di kamar si Dedek aja?”
Yuna bangkit dari sofa. Ia bergegas pergi ke kamar bayi yang ada di sebelah
kamarnya.
Yuna melangkah perlahan memasuki kamar bayi tersebut sambil
tersenyum. Ia melihat semua dekorasi kamar yang sudah lengkap. Yuna menghampiri
meja kecil yang ada di tengah ruangan. Ia asyik membuat sesuatu untuk anaknya
kelak. Ia terlalu asyik hingga tertidur di kamar anaknya.
Hari semakin sore ...
Yeriko kembali ke rumah, tapi tak mendapat sambutan dari
istrinya. Ia langsung masuk dan menghampiri Bibi War.
“Bi, istriku mana?”
“Di atas.”
“Tumben? Biasanya, selalu nunggu aku pulang ke rumah.”
“Mungkin masih tidur.”
“Tidur?” Yeriko mengerutkan keningnya.
Bibi War menganggukkan kepala. “Tadi Bibi lihat, dia
ketiduran di kamar anak.”
Yeriko tertawa kecil. Ia langsung bergegas menaiki anak
tangga menuju ke kamarnya. Benar saja, Yuna masih terlelap sambil menyandarkan
kepalanya di atas meja. Ia menghampiri istrinya, kemudian tersenyum melihat
buku album yang sedang dibuat oleh Yuna. Ia mengambil buku tersebut dan membaca
harapan-harapan kecil yang ditulis oleh Yuna.
Yeriko mengelus pipi Yuna perlahan, menatapnya penuh cinta.
Yuna langsung membuka mata begitu merasakan sentuhan di
pipinya. “Udah pulang?” tanyanya sambil mengangkat kepala dari atas meja.
Yeriko mengangguk. “Kenapa tidur di sini?”
“Aku ketiduran.”
“Belum mandi?”
Yuna menggelengkan kepala.
“Mau ke rumah sakit ‘kan?”
Yuna menganggukkan kepala. “Aku udah dapet rambutnya Icha
tadi pagi. Tapi, nggak bisa langsung aku kasih ke Lutfi karena masih ada Icha
di sana.”
“Ya udah, biar aku yang kasih ke Lutfi. Kamu bisa ajak Icha
jalan keluar sebentar.”
Yuna menganggukkan kepala.
“Ya udah, mandi dulu yuk!” ajak Yeriko.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Gendong!” pinta Yuna
manja.
“Kamu ini, makin manja aja,” gumam Yeriko sambil
mengangkat tubuh Yuna.
Yuna tertawa kecil sambil mengecup pipi Yeriko berkali-kali
sampai masuk ke kamarnya.
Setelah mandi dan bersiap, Yuna dan Yeriko bergegas pergi
menuju rumah sakit untuk menemui Lutfi.
“Sore ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke bangsal tempat
Lutfi dirawat.
“Eh, Kakak Ipar?” Lutfi yang sedang duduk di sofa langsung
menengadahkan wajahnya menatap Yuna dan Yeriko.
Yuna tersenyum. Ia meletakkan tempat makan ke atas meja.
“Ini pesanan kamu.”
Lutfi meringis. “Makasih, Kakak Iparku yang cantik!”
Yuna tersenyum sambil duduk di sofa. “Eh, Icha mana?” tanya
Yuna berbisik.
“Dia pulang sebentar.”
“Bagus!”
“Kenapa?” tanya Lutfi.
Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko sambil menengadahkan
telapak tangannya.
Yeriko langsung merogoh saku jaketnya dan memberikan botol
kecil berisi rambut Icha ke tangan Yuna.
“Ini, rambutnya Icha.” Yuna meletakkan botol tersebut ke
atas meja.
Lutfi tersenyum menatap botol kecil yang ada di atas meja.
“Kalian memang paling bisa diandalkan.”
Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum bersama.
“Makasih, ya!”
Yuna menganggukkan kepala. “Gimana? Luka kamu udah enakan?”
Lutfi menganggukkan kepala. “Yer, masalah ini ... nggak
usah diperpanjang, ya!” pinta Lutfi.
Yeriko tak menyahut. Raut wajahnya membuat Lutfi merasa
tidak tenang.
“Yer, sumber dari masalah ini adalah papaku sendiri.
Bahkan, dia masih tidak yakin kalau Icha adalah anaknya. Dia nggak mau kembali
untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Biar semuanya sampai di sini. Aku nggak
mau, dendam masa lalu keluarga kami menjadi turun-temurun. Cukup sampai di
sini.”
Yeriko menghela napas. “Kamu yakin?”
Lutfi menganggukkan kepala. “Aku akan terima semuanya.
Sudah dua puluh enam tahun, dendam Bu Ratna masih ada. Kalo keluargaku tidak
mencampakkan dia. Mungkin, nggak akan seperti ini. Akhiri saja. Toh,aku juga
gak papa.”
Yuna menggigit bibir bawahnya sambil melirik Yeriko yang
masih bergeming.
Lutfi menatap wajah Yuna. “Kakak Ipar, help me! Cuma kamu
yang bisa ngendalikan Yeriko,” tutur Lutfi dalam hati. Ia berharap, Yuna bisa
mendengarkan suara hatinya.
Yuna tersenyum menanggapi tatapan Lutfi. Ia mengerti maksud
tatapan Lutfi. Hanya saja, raut wajah Yeriko membuatnya ragu untuk membujuk
suaminya itu.
Yeriko melirik tangan Yuna yang ragu-ragu ingin
menyentuhnya. “Kenapa?” tanyanya dingin.
“Hehehe.” Yuna memeluk lengan Yeriko. “Ay, ntar malam ke
Platinum lagi ya!” pinta Yuna manja. Ia mengerdipkan matanya ke arah Lutfi.
“Mau ngapain?”
“Traktir aku makan steak. Nanti, aku kasih bonus
plus-plus,” bisik Yuna.
Lutfi menahan tawa. Walau berbisik, ia masih bisa mendengar
ucapan Yuna.
“Kamu mau nyuap aku, biar bisa bantuin Lutfi?”
Yuna menggelengkan kepala. “Nggak. Siapa bilang?”
“Kalian pikir, aku nggak tahu kalau dari tadi saling
kode-kodean?”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Abisnya, muka kamu jelek
banget. Niat Lutfi kan baik. Jadi, kita nggak perlu laporin ibunya Icha ke
polisi. Biar dia selesaikan secara kekeluargaan.”
“Oke. Oke. Kamu bisa jamin kalau kejadian ini nggak akan
terulang lagi?” tanya Yeriko.
Lutfi menganggukkan kepala. “Ini murni masalah keluargaku.
Aku akan selesaikan semuanya sendiri.”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Oke. I See.”
Yuna tersenyum menatap suaminya.
“Oh ya, aku bisa minta tolong?” tanya Lutfi.
“Apa?”
“Aku ada janji mau ketemu sama klienku untuk kerjasama
pembangunan villa di daerah Ende. Asistenku lagi ngurus hotelku yang di
Jakarta. Aku nggak bisa nemuin klien itu.” Lutfi menatap Yeriko. “Hehehe. Kamu
ngerti kan maksudku?” lanjutnya.
“Nggak ngerti.”
Lutfi membelalakkan matanya. “Ck, ayolah ...!” pintanya.
“Aku kasih satu tiket liburan ke luar negeri.”
“Satu doang?”
“Iya, deh. Dua tiket. Asal klienku nggak kabur. Soalnya,
dia agak susah dihadapi.”
“Ntar aku suruh Riyan,” sahut Yeriko.
“Kok ...?”
“Kamu meragukan kemampuan dia dalam bernegosiasi?” sela
Yeriko.
Lutfi menggelengkan kepala.
“Udah, nggak usah berdebat!” pinta Yuna. Lebih baik, makan
supnya. Keburu dingin.” Yuna menyela sambil membuka tempat makan yang ia bawa.
“Hmm ... wangi banget!” seru Lutfi sambil mengendus uap
yang keluar saat Yuna membuka sup tersebut.
Yuna tersenyum sambil menyodorkan sup tersebut ke hadapan
Lutfi.
“Kakak Ipar, aku ini pasien. Sangat lemah. Bisa suapin?”
tanya Lutfi sambil mengerdipkan matanya.
“Nggak usah manja!” dengus Yeriko sambil menendang kaki
Lutfi.
“Aw ...! Galak banget!” gerutu Lutfi sambil mengangkat
kedua kakinya ke atas sofa.
“Kamu seneng banget manfaatin kebaikan istriku. Makan
sendiri bisa.”
“Udah mau punya anak, masih aja cemburuan,” gumam Lutfi.
“Apa!?” tanya Yeriko.
“Nggak apa-apa.”
“Aku denger, Lut.”
Lutfi merengut ke arah Yeriko. “Jadi cowok, jangan
cemburuan banget! Ntar si Kakak Ipar jadi nggak betah deket-deket sama kamu,”
tuturnya sambil meminum sup ayam buatan Bibi War.
“I don’t care!”
“Tapi aku peduli sama kamu. Gimana, kalo dia cepet mati
karena keracunan cemburu?”
Yuna tertawa kecil. “Racunnya dia nggak mematikan,”
sahutnya.
“Iya, sih. Nggak mungkin mematikan. Orang bikin ketagihan.
Hahaha.”
“Bilang aja kalo kamu pengen juga,” sahut Yeriko.
“Banget!” sahut Lutfi sambil menahan tawa. “Hmm, mudahan
DNA kami nggak cocok. Aku mau nikahin Icha.”
“Kalo cocok, kamu mau nikahin siapa?”
“Belum kepikiran,” jawab Lutfi.
Yuna tersenyum. Ia sangat senang setiap kali melihat
kehangatan Yeriko dan teman-temannya. Setidaknya, hidup suaminya tidak begitu
buruk karena dikelilingi oleh orang-orang baik dan saling peduli.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
nulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment