Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 375 : Sexy Served

 


-   W Club –

Dentuman musik keras bergema di seluruh ruangan. Di tengah ruangan, banyak orang yang berdiri sambil terus menggerakkan tubuh mereka seiring dengan irama musik DJ dalam ruangan tersebut. Di lantai dua, pria yang kelebihan uang memilih duduk bersama para wanitanya sambil menikmati beer atau wine.

Di sudut ruangan, terlihat tubuh Icha menjulang tinggi. Ia mengenakan seragam pelayan dan terlihat sangat seksi. Icha memperbaiki posisi topeng yang ia kenakan untuk menutupi wajahnya. Ia tak ingin ada orang yang mengenali keberadaannya.

“Cha, look! Tempat ini sangat menyedihkan, sama seperti dirimu,” bisik Icha pada dirinya sendiri. “Mereka terlihat sangat bahagia, tapi palsu. Jika di luar sana sudah mendapat kebahagiaan. Mereka tak perlu datang ke tempat ini untuk mencari hiburan.”

Icha menghela napas. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju bar. Ia mengambil beberapa minuman pesanan pelanggan dan membawakannya sampai ke meja pelanggan.

“Hai, cantik ...!” sapa salah seorang pelanggan pada Icha saat ia menyuguhkan dua botol wine. “Temenin kita minum ya!” pinta pria itu dengan santai. Mata dan tangannya mulai liar. Berusaha menjangkit tubuh Icha yang terlihat seksi.

“Maaf, Oom ...! Saya hanya pelayan biasa di sini.”

“Halah, nggak usah jual mahal ...!” tutur pria itu dengan mata liarnya.

Di meja sebelahnya. Juan terus memperhatikan Icha yang sedang digoda oleh beberapa pria. Tangan liar pria-pria itu mulai menyentuh tubuh Icha. Icha terus berkelit dengan sopan agar tidak menyakiti dan membuat marah pelanggannya.

Juan tersenyum sinis. Ia menghampiri seorang pria yang sudah ia kenal sebagai manager di bar tersebut. Ia berbisik sambil memberikan beberapa lembar uang.

“Icha ... Icha! Nggak nyangka kalau aku bisa menikmati kamu semudah ini,” gumam Juan sambil duduk di salah satu meja tamu.

Tak berapa lama, Icha menghampiri Juan sambil meletakkan beberapa wine ke atas meja sesuai pesanan. Kepalanya terus menunduk dan tak berani menatap Juan. Ia berharap kalau Juan tak mengenalinya.

Juan mencondongkan tubuhnya sambil menatap wajah Icha. “Kamu cantik banget,” pujinya sambil meletakkan beberapa lembar uang ke atas nampan yang dibawa Icha sebagai tip.

Icha hanya tersenyum sambil menundukkan kepala. Ia memperbaiki posisi topengnya dan bergegas bangkit.

“Mau ke mana?” tanya Juan sambil menangkap pergelangan tangan Icha.

“Saya masih harus mengantar minuman ke pelanggan yang lain,” jawab Icha sambil membungkuk sopan.

Juan tertawa sinis. “Aku udah bayar manager kamu. Kamu cuma bisa melayani aku sekarang!” pinta Juan sambil menunjuk ke arah manager bar yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

Icha menoleh ke arah managernya. Ia tak bisa membantah karena manager tersebut mengisyaratkan agar Icha menemani tamunya itu.

“Ma ... maaf, Mas. Sa ... saya harus ...”

Juan menghela napas sambil menatap Icha. “Icha ... Icha ... kamu pikir, aku nggak bisa ngenalin kamu?” Ia langsung menarik lengan Icha agar duduk di sebelahnya.

Icha membelalakkan matanya menatap Juan. Ia tak menyangka kalau Juan mengenalinya.

“Aku sudah buktikan kalau kamu beneran kerja di bar dan bisa dibeli dengan uang. Kamu tahu kan? Tugasnya pelayan di sini bukan cuma ngantar minuman. Tapi juga harus melayani dan memuaskan pelanggannya.”

Icha tak menjawab. Ia berusaha melepaskan diri dari genggaman Juan. “Lepasin aku!”

“Aku udah bayar mahal supaya bisa berduaan sama kamu. Kamu harus temenin aku minum malam ini ... atau ... aku bakal bikin kamu kehilangan pekerjaan lagi?”

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia hanya ingin mendapatkan uang dengan cepat untuk membiayai perawatan ibunya dan membayar hutang-hutangnya.

Juan tersenyum sambil memerhatikan wajah Icha. “Aku cuma minta ditemani minum. Itu aja.”

Icha tersenyum kecut. Ia terus melirik manager yang memerhatikan dirinya dari kejauhan. Ia tidak bisa melawan keinginan pelanggannya. Semuanya harus ia kerjakan dengan baik.

“Nah, gitu dong! Aku suka gadis cantik yang penurut,” tutur Juan sambil merangkul tubuh Icha.

Icha menahan napas selama beberapa detik. Sementara, Juan asyik menenggak minuman yang ada di hadapannya.

“Minum ...!” pinta Juan sambil menyodorkan sloki ke bibir Icha.

Icha menggelengkan kepala.

“MINUM ...!” sentak Juan.

Icha masih tak mau membuka mulutnya.

Juan tak sabar menunggu Icha menuruti perintahnya. Tangannya langsung menekan rahang Icha dan membuka paksa mulut gadis tersebut.

“Minum ...!” perintahnya sambil mengucurkan alkohol dari dalam sloki ke mulut Icha.

“Hahaha.”  Juan tertawa bahagia melihat wanita yang pernah menolaknya, kini tunduk kepadanya. Ia terus memberi minuman ke mulut Icha.

Icha menitikan air mata saat Juan memaksa untuk melayaninya.

“Cha, kamu itu cuma barang bekas yang udah nggak diinginkan lagi sama Lutfi. Udah dipake, terus dibuang begitu aja sama dia,” bisik Juan di telinga Icha.

Icha tak menanggapi ucapan Juan. Ia memang wanita yang sangat menyedihkan. Bahkan saat ini, pria yang menjadi pacarnya itu adalah kakaknya sendiri. Ia sendiri masih tak percaya kalau memiliki hubungan darah dengan pria yang ia cintai.

 “Cha, daripada kamu harus keliaran jadi wanita malam. Mending, kamu ikut aja! Aku emang nggak sekaya Lutfi. Tapi, aku masih sanggup memelihara kamu.”

“Kamu pikir, aku binatang peliharaan!?” desis Icha.

Juan terbahak mendengar ucapan Icha. “Bukannya selama ini ... kamu dipelihara sama Lutfi, hah!?” tanya Juan sambil menatap sayu ke arah Icha.

Icha tak menyahut. Ia terus menatap Juan yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. “Cowok payah!” batin Icha. “Baru minum sedikit aja, sudah mabuk.”

Juan terus meracau, berandai-andai menjalani hidupnya bersama Icha.

Icha semakin risih dengan sikap Juan. Ia mencuri kesempatan untuk pergi dari sisi Juan yang sudah setengah mabuk.

“Mau ke mana?” tanya Juan saat Icha baru saja mengangkat pantatnya dari sofa.

Icha menghela napas dan duduk kembali. Ia mulai kesal dengan sikap Juan yang terus-menerus merendahkan dirinya.

Juan tersenyum sambil menatap Icha. Ia sengaja datang ke tempat ini untuk mempermalukan Icha. Rasa sakit dalam hatinya masih begitu membekas saat Icha menolak cintanya mentah-mentah.

Icha menatap wajah Juan yang menyandarkan kepalanya ke sofa. Sementara, tangan Juan masih saja melingkar di bahu Icha. Perlahan, ia menyentuh ujung jemari Juan dan merapatkan ke lehernya.

Juan tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia mengira kalau Icha sudah menyerahkan diri dan akan menjadi miliknya.

“AARGH ...!!!” Juan langsung berteriak saat Icha menggigit pergelangan tangan, tepat di nadinya.

Icha langsung bangkit dan berlari meninggalkan Juan. Ia tidak ingin terus-menerus berada di bawah kendali Juan. Pria yang sengaja mempermalukan dirinya di depan banyak orang.

“Heh!? Perek sialan!” seru Juan sambil bangkit dan mengejar Icha.

Icha terus berlari. Berusaha menerobos beberapa orang yang menghalangi jalannya. Namun, langkahnya tetap tak lebih baik dari Juan.

Dengan mudah, Juan meraih tangan Icha. Ia sangat marah karena Icha berani melawan dirinya. “Aku udah beli kamu. Kamu berani ngelawan aku, hah!?” sentak Juan.

“Lepasin ...!” pinta Icha sambil berusaha melepas pergelangan tangannya dari genggaman tangan Juan.

“Aku nggak akan ngelepasin kamu. Perempuan nggak tahu diri!” sahut Juan sambil melayangkan telapak tangannya ke pipi Icha.

Icha langsung memegang pipinya yang terasa memanas. Air matanya kembali mengalir. Ia tidak menyangka kalau akan diperlakukan serendah ini. Terlebih, semua mata di tempat itu memandangnya begitu rendah.

“Hahaha.” Juan tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat bahagia bisa menyakiti Icha dengan tangannya sendiri.

“Nggak ada yang mau nolongin perempuan jalang kayak kamu!” seru Juan. Ia memiliki keberanian yang sangat besar untuk memukul Icha kembali karena tak ada satu pun orang yang ingin melindungi wanita tersebut.

“Minta tolong, sana! Minta tolong aja!” perintah Juan.

Icha terdiam. Ia hanya memandang orang-orang di sekitarnya dengan tatapan pilu.

 

PLAK ...!

PLAK ...!

PLAK ...!

 

Juan terus tertawa. Ia merasa sangat puas karena bisa melampiaskan kekesalannya selama ini. Akhirnya, ia sudah bisa membalaskan dendam dalam hatinya. Wanita yang dulu menolak cintanya, harus bertekuk lutut di hadapannya. Apa pun cara yang harus ia lakukan.

“Siapa yang mau nolongin dia? Harus berhadapan sama aku!” seru Juan penuh percaya diri.

Semua orang hanya menatap Juan. Mereka mengasihani Icha, hanya saja tak memiliki keberanian melihat Juan yang berapi-api menatap gadis di hadapannya itu.

Tiba-tiba, semua orang menunjuk-nunjuk ke arah belakang Juan.

Juan tersenyum sinis sambil membalikkan badannya.

 

BUG ..!

 

Juan tersungkur ke lantai saat dadanya menerima tendangan keras dari seseorang yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Ia meringis sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia langsung mengangkat wajahnya. Menatap tubuh pria yang menjulang di hadapannya.

“Kamu ...!?” Juan membelalakkan matanya. Tubuhnya gemetar melihat tatapan mata pria yang sudah tak asing lagi di matanya. “Lutfi ...?”

“Aku nggak akan ngebiarin siapa pun menyentuh Icha!” tutur Lutfi sambil mengepal tangannya erat-erat.

Juan menarik kakinya dan menggeser mundur pantatnya menjauhi Lutfi. Ia tak memiliki ilmu bela diri sebaik Lutfi. Terlebih, di belakang Lutfi ada empat orang pria yang bersiap menyerangnya.  Ia memilih untuk melarikan diri.

 

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 374 : Get Icha

 


“Pak Bos, ini informasi yang kami dapat,” tutur Riyan saat mereka berkumpul di teras belakang rumah Yeriko.

Setelah tiga hari melakukan pencarian, Riyan dan Chandra menemukan Ibu Ratna kini tinggal di Menur. Salah satu rumah sakit jiwa yang pernah merawat Amara.

Yeriko mengerutkan dahi sambil menatap foto-foto yang diperlihatkan Riyan. “Dia kenapa? Kok, bisa masuk sini?”

Riyan dan Chandra menggeleng bersamaan.

“Amara masih di sana, Chan?” tanya Yeriko sambil menghisap rokoknya.

Chandra mengedikkan bahunya. “Entahlah.”

Yeriko tertawa kecil menatap Chandra. Ia merasa sangat puas karena Chandra benar-benar membuang Amara dari kehidupannya.

“Amara ...? Itu tunangan kamu yang dulu? Kenapa bisa masuk Menur? Gara-gara nggak kamu nikah-nikahin?” tanya Satria.

“Tak sampluk kowe!” sahut Chandra sambil meraih asbak yang ada di hadapan Yeriko dan bersiap melayangkan ke arah Satria.

“Eits, selow ... nggak boleh pake kekerasan!” pinta Satria sambil menurunkan asbak secara perlahan dari tangan Chandra.

“Kamu kalo ngomong suka ngasal. Nggak mungkin aku bikin tunanganku sendiri gila. Kalo emang mau nikah ya nikah aja.”

“Hahaha. Terus, dia sakit jiwa karena apa?” tanya Satria.

“Entahlah. Kerjaan Yeriko.”

“Kok, aku?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

“Nggak usah pura-pura polos! Rencana jahatmu itu udah tertulis dengan jelas di jidatmu itu.”

“Kamu apain, Yer?” tanya Satria sambil menatap Yeriko.

Yeriko meraih sloki dan meminum air yang ada di dalamnya. “Aku nggak ngapa-ngapain?”

“Halah, masih nggak mau ngaku. Yang bikin perusahaan keluarganya Harry jadi bangkrut, siapa?”

“Chan, dalam dunia bisnis memang begitu. Bangkrut itu kan resiko,” jawab Yeriko sambil menahan tawa.

Chandra tertawa kecil. “Kamu pikir aku nggak tahu?”

“Hahaha. Balik ke topik awal. Ini Ibu Ratna kenapa bisa sampai dirawat di Menur?”

“Nggak tahu penyebabnya, Yer. Orang udah stres gitu nggak bisa diajak komunikasi.”

“Hmm, Icha gimana?” tanya Yeriko.

Chandra dan Riyan menoleh ke arah Satria bersamaan.

“Masih nunggu kabar anggota. Santai,” jawab Satria sambil berbaring santai di atas karpet bulu yang disediakan Yeriko untuk bersantai.

“Suruh anggotamu cepetan, Sat!” pinta Yeriko. “Udah tiga hari nih.”

“Selow ...,” sahut Satria santai.

 “Istriku udah khawatir banget sama Icha,” tutur Yeriko berbisik.

“Khawatir kenapa?” tanya Satria santai.

“Dia takut kalau mamanya terus-menerus mengintimidasi Icha.”

“Mamanya aja dirawat di Menur. Pasti si Icha baik-baik aja.”

“Iya juga, sih. Tapi, jangan terlalu lama juga.”

“Santai, Yer.” Satria tersenyum sambil memainkan kedua alisnya.

Yeriko menghela napas sejenak. “Istriku lagi hamil, Sat. Aku takut dia banyak pikiran dan mengganggu perkembangan janinnya.”

“Emang nggak rutin periksa ke dokter kandungan?” tanya Satria.

“Rutin lah,” sahut Yeriko.

“Dokter kandungan bilang kalo janinnya dia bermasalah?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Ya udah. Santai aja!”

“Kamu itu nggak ngerasain rasanya mau punya anak!” dengus Yeriko kesal sambil menendang paha Satria yang berada tepat di bawah kakinya.

Satria terkekeh mendengar ucapan Yeriko. Ia merogoh ponselnya yang tiba-tiba bergetar.

“Eits, wallpapernya cewek. Pacarmu, Sat?” tanya Chandra.

“Foto artis,” jawab Satria santai. Ia mengusap layar ponsel dan membaca pesan yang masuk ke dalam chat pribadinya.

Satria langsung bangkit tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. “Ketemu, Chan!” seru Satria.

“Apanya?”

“Pacarnya Lutfi.”

“Di mana?”

“Satria langsung menunjukkan foto-foto yang masuk ke dalam ponselnya.”

“Kita ke sana sekarang!” seru Yeriko sambil bangkit dari kursi.

“Ayo ...!” Semua orang bergegas bangkit dari tempatnya.

“Aku pamit ke istriku dulu,” tutur Yeriko sambil melangkahkan kakinya.

“Iya, yang udah punya istri,” goda Satria.

Yeriko tersenyum kecil. “Makanya, buruan nikah!”

“Aish, susah nyari jodoh, Yer.”

“Kamu terlalu banyak milih.”

“Eh, bukannya kamu yang pemilih?” dengus Satria kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Iya, dong. Harus pilih wanita terbaik.”

“Yee, kamu mah udah nemuin. Kalo aku yang ketemu duluan sama Kakak Ipar Kecil, aku yang nikahin dia,” sahut Satria.

“Jangan ngimpi!” dengus Yeriko. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

“Kurang ajar. Dia belajar ngolokin orang dari mana?” tutur Satria sambil berkacak pinggang menatap Yeriko.

“Heh!?” Satria menoleh ke belakang karena tak mendapat tanggapan dari Chandra dan Riyan.

Chandra dan Riyan menahan tawa sambil melangkah keluar dari rumah Yeriko.

“Woi ...! Tungguin! Malah ditinggal?” seru Satria.

Chandra tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja ia menyentuh handle pintu mobilnya, ponselnya tiba-tiba berdering.

“Halo ...!” Chandra langsung menjawab panggilan telepon dari Lutfi.

“Gimana? Udah ada kabar soal Icha?” tanya Lutfi.

“Baru dapet kabar dari Satria. Dia kerja di W Club. Club baru yang ada di Kenjeran.”

“Jemput aku, Chan!” pinta Lutfi.

“Kamu masih sakit, Lut. Kita bisa tangani. Kamu nggak perlu kha—”

“Jemput aku!” seru Lutfi. “Kalo kamu nggak jemput, aku pergi ke sana sendiri.”

Chandra menghela napas. “Oke. Aku jemput kamu.”

“Cepetan!”

“Iya, Lut. Sabar!” sahut Chandra kesal. Ia langsung mematikan panggilan telepon dari Lutfi.

“Mas Lutfi?” tanya Riyan sambil menatap Chandra.

Chandra menganggukkan kepala. “Aku jemput Lutfi di rumah sakit. Bilangin ke Yeri ya!” Chandra langsung masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan halaman rumah Yeriko.

“Heh, aku ditinggalin gitu aja? Aku kan numpang mobil dia,” tutur Satria sambil menunjuk mobil Chandra yang berlalu pergi.

“Mas Satria ikut kami aja!” tutur Riyan.

“Iya, lah. Mau ikut siapa lagi?” sahut Satria sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Baru di sini, komandan dikerjain. Kalo bukan temen, udah kutembak mati tuh si Chandra.”

Riyan hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Satria.

“Ini Yeriko lama banget?” gumam Satria. “Dia mau pamitan sama istrinya atau minta jatah dulu?” tanyanya sambil melihat arloji di tangannya.

Padahal, belum genap lima menit Satria menunggu Yeriko keluar dari rumahnya. Tapi, ia sudah sangat gelisah. Sementara, Riyan terlihat sangat santai sambil bersandar di mobil bosnya.

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari rumahnya. “Chandra mana?” tanyanya.

“Jemput Lutfi.”

“Lutfi mau ikut ke club?”

“Kayaknya sih gitu. Kayak nggak tahu aja keras kepalanya si Lutfi itu gimana,” jawab Satria.

“Ya udah. Kita jalan aja pelan-pelan sambil nunggu Chandra jemput si Lutfi!” perintah Yeriko.

Riyan mengangguk. Ia segera masuk ke mobil, duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.

Yeriko dan Satria bergegas masuk ke mobil. Mereka berjalan santai sambil menunggu Chandra di perjalanan agar sampai ke club berbarengan.

“Club tutup jam berapa?” tanya Yeriko.

“Pagi, Yer. Masih lama,” sahut Satria.

Yeriko memilih diam selama perjalanan. Banyak hal yang ia pikirkan beberapa hari terakhir ini. Bukan hanya soal bisnis. Tapi juga konflik yang terjadi pada orang-orang terdekatnya. Ia tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Terlebih, semua ada hubungan dengan istri tercintanya.

 

Di rumah sakit ...

Lutfi melepas paksa selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya. Ia segera mengganti pakaiannya. Kemudian ia keluar diam-diam dari ruangannya.

Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Suasana rumah sakit tak terlihat ramai dan Lutfi tak ingin terlihat seperti pasien. Ia melangkah keluar dari rumah sakit. Menunggu mobil Chandra menjemputnya.

Beberapa menit kemudian, mobil Chandra sudah memasuki halaman rumah sakit. Lutfi langsung menghadang mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.

“Kamu yakin? Lukamu nggak papa?” tanya Chandra.

Lutfi mengangguk sambil menahan nyeri di perutnya. “Aku nggak papa,” jawabnya sambil memasang safety belt ke pinggangnya.

Chandra menghela napas. Ia segera menjalankan mobilnya kembali menuju club, tempat di mana Icha saat ini bekerja sebagai pelayan.

 

  ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 373 : Masih Mencari

 


“Yan, gimana perkembangan kasus yang aku minta?” tanya Yeriko saat Riyan dan Chandra masuk ke dalam ruang kerjanya bersamaan.

“Kasus yang mana, Pak Bos?”

“Yang terbaru.”

“Hari ini, kami baru mau ngecek ke Bandara.”

Yeriko mengangkat kedua alisnya.

“Untuk memastikan kalau Ibu Ratna masih di dalam kota ini atau sudah pergi.”

“Oh, oke, oke. I See.”

“Yer, gimana acara pengajian kemarin? Sorry, aku gak bisa ikutan.”

“Semuanya lancar.”

“Mas Chandra, Mas Satria bisa bantu kita buat cari orang?” tanya Riyan.

“Cari siapa?”

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko. “Pak Bos belum kasih tahu Mas Chandra?” tanyanya.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Oh.” Riyan terdiam. Jika bosnya tidak memberitahu Chandra, artinya dia harus menangani semuanya sendiri.

Chandra tertawa kecil menatap Riyan yang tertunduk lesu. “Nggak usah takut! Aku pasti bantu kamu.”

“Mas Chandra udah tahu?”

Chandra mengangguk.

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko sambil mengelus dada. “Syukurlah.”

“Kenapa, Yan? Kamu udah mau muntah dapet tugas banyak dari bos kamu ini?” tanya Chandra.

Riyan menggelengkan kepala.

“Halah, bilang aja kalo kamu udah mau mati keracunan, apalagi ngadepin si Refi. Hahaha.”

“Refi kenapa lagi?”

Chandra mengedikkan bahu. “Tanya Riyan, tuh!” perintahnya sambil menahan tawa.

Yeriko langsung menatap wajah Riyan.

“Dia bikin onar terus di perusahaan,” tutur Riyan.

“Baguslah. Jangan biarkan dia berkembang. Tekan terus sampai dia berhenti dengan sendirinya!” pinta Yeriko.

Riyan mengangguk tanda mengerti.

“Sekarang, yuk!” ajak Chandra sambil bangkit dari tempat duduknya.

Riyan menganggukkan kepala.

“Ke mana?” tanya Yeriko.

“Happy-happy,” jawab Chandra sambil mengerdipkan matanya.

Yeriko tertawa kecil. Ia sangat mengerti istilah ‘happy-happy’ yang dimaksud oleh Chandra adalah menjalankan tugas yang ia berikan di luar kantornya.

Riyan dan Chandra melangkah beriringan memasuki area perkantoran bandara.

“Mas, apa kita bisa dapet akses untuk ngecek arus perjalanan setiap maskapai?” tanya Riyan.

“Tenang, aku kenal sama direktur di sini. Dia sudah kasih izin ke kita. Kita cuma dikasih waktu tiga puluh menit untuk melakukan pengecekan data. Kita dilarang menyalin data tersebut. Jadi, kita harus cepat.”

“Gimana kalau kita pakai IT perusahaan untuk copy semua data mereka? Apa waktu kita cukup?”

“Cukup banget,” jawab Chandra penuh keyakinan.

Riyan langsung menganggukkan kepala dan mempercayakan semuanya pada Chandra.

Hanya dalam tiga puluh menit, Chandra sudah bisa mendapatkan informasi kalau Ratna memang masih ada di dalam kota. Belum ada maskapai yang mencatat penerbangan atas namanya setelah wanita itu masuk ke kota Surabaya.

“Yan, kita harus temukan tempat tinggal mereka secepatnya,” tutur Chandra sambil keluar dari bandara.

“Icha sudah pindah tinggal. Dia nggak tinggal di rumah yang lama. Tetangganya juga nggak ada yang tahu.”

“Kamu hubungi Satria. Kalo soal nyari orang, dia jagonya.”

Riyan tertawa kecil sambil mendengar ucapan Chandra.

“Kenapa ketawa?” tanya Chandra.

“Kalo nyarikan jodoh, bisa nggak ya?” tanya Riyan sambil tertawa kecil.

“Hahaha. Itu yang paling susah dicari, Yan. Dia aja masih nyari terus gak dapet-dapet.”

Riyan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka bergegas menuju parkiran.

 Riyan merogoh ponsel di sakunya dan melemparkan kunci mobil ke arah Chandra. “Mas Chandra yang bawa mobil, ya!”

Chandra langsung menyambar kunci yang melayang tepat di dadanya. Ia menatap wajah Riyan sejenak, lalu membuka kunci pintu mobil.

Riyan menempelkan ponsel di telinganya. “Halo ... Mas Satria!” sapanya begitu panggilan teleponnya tersambung. Ia bergegas masuk ke dalam bersama Chandra.

“Hei ... kenapa, Yan?”

“Kami butuh bantuan Mas Satria. Sekarang, Mas Satria ada di mana?”

“Aku lagi di tempat latihan. Ke sini aja!”

“Oke, Mas. Kami langsung ke sana.” Riyan mematikan panggilan teleponnya.

Chandra bergegas melajukan mobilnya ke tempat latihan Satria seperti biasa.

 

...

 

Di saat yang sama ...

Yuna terus mondar-mandir di dalam rumahnya. Ia sangat khawatir karena Riyan belum juga memberinya kabar tentang keberadaan Icha. Saat ini, orang yang paling ia khawatirkan adalah Icha. Ia takut kalau Icha terus mendapat intimidasi dari mamanya sendiri setelah melukai Lutfi.

“Tok ....tok ... tok ...! Yuna ... bukain pintu!” seru Jheni yang sudah berdiri di luar pintu rumah Yuna.

Yuna langsung memutar tubuhnya, menatap ke arah pintu yang sudah terbuka. Ia langsung berkacak pinggang sambil menatap Jheni. “Pintunya udah terbuka ...!” serunya kesal.

Jheni tertawa lebar sambil melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah tersebut. “Kamu kenapa? Mondar-mandir kayak setrikaan,” tanya Jheni.

“Kamu udah dari tadi di situ?” tanya Yuna balik.

“Dari kemarin,” jawab Jheni sambil tertawa kecil.

“Dasar hantu!” dengus Yuna.

“Gimana? Udah ada kabar soal Icha?” tanya Jheni.

“Belum, Jhen.”

“Dia ke mana sih? Kayak hilang di telan bumi. Bukannya, Juan bilang kalo Icha kerja di bar?”

“Jhen, ada berapa banyak bar di kota ini? Juan nggak nyebutin nama barnya. Riyan sama Chandra udah nyari. Kita tinggal tunggu kabar aja.”

“Oh, baguslah. Aku bisa santai.” Jheni langsung duduk di sofa. Ia mengeluarkan tablet dari dalam tasnya. Jemari tangannya dengan lincah menggoyangkan stylus pen ke atas layar tablet tersebut.

“Kamu gambar apa?” tanya Yuna.

“Gambar komik aku, dong!” sahut Jheni.

“Aku lihat ...!” Yuna langsung duduk di sebelah Jheni.

Jheni menutup layar tab ke dadanya.

“Pelit amat, sih!?” dengus Yuna.

“Nggak boleh tahu. Ini project komik pertamaku, Yun. Bakalan hits di seluruh negeri.”

“Nggak bakal hits kalo kamu rahasiain dari aku,” dengus Yuna.

“Nanti aku kasih tau kalo udah rilis. Masih nyiapin lima puluh part pertama buat aku launching di awal.”

“Banyak banget?” tanya Yuna. “Nggak pusing?”

Jheni menggelengkan kepala. “Aku mau bikin cerita romance yang panjang. Kayak serial Naruto atau doraemon gitu.”

“Bosen yang baca kalo panjang-panjang,” sahut Yuna.

“Yee ... kamu ini meremehkan banget. Naruto itu komiknya panjang banget. Nggak ada yang bosen bacanya.”

“Karena yang baca anak-anak. Mereka nggak bosen baca itu-itu terus berkali-kali. Dongeng si Kancil sama serial Upin-Ipin aja dilihat terus. Padahal, ceritanya itu lagi itu lagi,” tutur Yuna.

“Aku mau bikin serial romance yang nggak ngebosenin.”

“Oh ya? Judulnya apa?” tanya Yuna penasaran.

“Judulnya belum aku pikirin. Yang jelas, tokoh utamanya aku buat cakep banget.”

“Ciyee ... siapa tuh? Chandra ya?” goda Yuna.

“Ada, deh.” Jheni tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna.

“Lihat, dong! Aku penasaran,” desak Yuna.

“Kepo tingkat tinggi!” Jheni langsung mematikan tablet yang ada di tangannya dan menyimpannya kembali ke dalam tas. “Ntar juga tahu kalo udah rilis.”

“Aku kan pengen jadi pembaca yang per—” Ucapan Yuna terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering.

“Halo ...!” Yuna langsung menyapa begitu ia menempelkan ponsel ke telinganya.

“Halo ...!”

“Gimana? Icha udah ketemu?” tanya Yuna.

“Belum, Nyonya Muda. Kami udah ngecek ke bandara. Tidak ada maskapai penerbangan yang mencatat nama Ibu Ratna setelah beliau masuk ke kota ini.”

“Baguslah. Berarti dia masih di dalam sini,” sahut Yuna sambil menatap wajah Jheni.

“Iya, Nyonya Muda. Cuma itu yang bisa saya laporkan sekarang. Selanjutnya, kami akan fokus mencari Mba Icha dan ibunya.”

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, ya! Cepet dapetin mereka, ya! Aku khawatir sama Icha ...”

“Siap, Nyonya Bos.”

Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Kamu kenapa? Kelihatan gelisah banget?” tanya Jheni.

“Aku khawatir sama Icha, Jhen.”

“Buat apa mengkhawatirkan dia? Dia aja nggak peduli sama kita,” sahut Jheni sambil meraih buah apel yang ada di atas meja dan memakannya. “Weh, asli nih,” tutur Jheni sambil menatap apel yang ada di tangannya.

“Aku nggak pernah naruh buah palsu di situ,” sahut Yuna.

Jheni tertawa kecil. “Iya, percaya. Orang kaya asli.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Biar bukan orang kaya, mana tega nge-prank tamu. Kalo tamunya kamu sih, aku kasih aja buah palsu.”

Jheni mendelik ke arah Yuna. “Kamu!? Tega bener sama temen sendiri. Harusnya, kalo aku datang tuh digelarin karpet merah, dikasih makan makanan enak dan mahal.”

“Idih, emang lo siapa?”

“Aku sahabat kamu. Nggak usah bergaya pake bahasa gue elo!?”

“Hahaha. Berasa jadi anak sultan?”

“Hehehe. Menghayal dulu, nggak papalah. Kamu sih enak, udah jadi istri sultan.”

“Aku istrinya Yeriko, bukan Sultan!”

“Idih, maksudnya itu istri raja,” sahut Jheni.

“Nggak mau jadi istri raja. Aku nggak mau kalo Yeriko jadi raja.”

“Lah? Kan kamu ratunya, Yun.”

“Aku nggak mau jadi ratu.”

“Cewek aneh,” celetuk Jheni.

“Raja punya banyak selir, Jhen. Aku nggak rela kalo Yeriko punya selir!

“Iya, juga sih. Ada kali raja yang nggak punya selir.”

“Raja Hutan. Hahaha.”

Yuna ikut tergelak. Ia menghabiskan waktunya seharian bersama Jheni di dalam rumah. Teman biasa, akan menghilang seiring waktu. Teman baik, akan membenci waktu yang hilang.

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah setia baca sampai sini. Dukung terus biar aku makin semangat update cerita setiap hari.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas