Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 360 : Penuh Tanya

 


Yuna dan Jheni melangkah dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Mereka langsung mencari ruangan tempat Lutfi mendapatkan perawatan.

“Lutfi ...!” panggil Yuna begitu ia masuk ke dalam bangsal. “Gimana keadaan kamu?”

“Kakak Ipar?” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yuna yang baru datang menghampirinya.

“Kamu masih bisa senyum di saat kayak gini!?” dengus Yuna.

“Aku nggak papa. Cuma luka sedikit aja,” jawab Lutfi sambil meringis. Menahan rasa sakit yang bersarang di perutnya.

“Kamu yakin kalau kamu nggak papa?” tanya Jheni.

Lutfi mengangguk sambil tersenyum. “Aku laki-laki. Nggak akan nangis cuma karena luka kecil.”

“Sebenarnya, apa yang sudah terjadi antara kamu dan Icha?” tanya Yuna.

“Iya. Kenapa Icha tega banget ngelakuin ini ke kamu?” Jheni ikut bertanya.

“Ceritanya panjang. Kalian bisa bantu aku makan? Aku laper.”

Jheni dan Yuna saling pandang. Mereka menatap makanan yang sudah tersedia di atas meja. Yuna membantu mengambil makanan tersebut. Sementara, Jheni membantu meninggikan posisi kepala Lutfi di brankar agar lebih nyaman saat makan.

“Mmh, alangkah baiknya kalau punya dua istri yang bisa melayaniku seperti ini,” celetuk Lutfi.

“Lagi sakit-sakit gini, masih aja bisa bercanda!” dengus Jheni.

“Perawat di sini, nggak bantu kamu makan?” tanya Yuna sambil menyodorkan mangkuk bubur ke hadapan Lutfi.

Lutfi menggelengkan kepala. “Kata mereka, aku terlalu ganteng. Takut jatuh cinta sama aku,” sahutnya sambil menahan tawa.

“Kamu tuh, masih aja bisa bercanda. Makan dulu, gih!” pinta Yuna.

Lutfi tersenyum kecil. Ia menyuap makanan ke mulutnya perlahan-lahan.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Dua pria tampan bertubuh tinggi masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Lut, kamu baik-baik aja?” tanya Yeriko sambil menghampiri Lutfi.

“Baik-baik aja, Yer.” Lutfi tersenyum kecil sambil menatap Yeriko dan Chandra.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Chandra.

“Icha ... dia bener-bener nggak berperasaan,” jawab Lutfi lirih.

Chandra langsung menyingkap baju Lutfi. Melihat luka di bagian perut yang sudah dibalut perban. “Dia ...?”

“Ini udah termasuk kejahatan kriminal. Kita laporin aja ke polisi,” sahut Yuna.

“Jangan ...!” pinta Lutfi lirih.

“Kenapa?”

“Ini masalah kami berdua. Aku yakin, dia cuma dipengaruhi sama orang lain.”

“Maksud kamu?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Lutfi.

“Kakak Ipar, aku mohon ... tolong dia!”

“Gimana caranya?”

“Dia udah sejahat ini sama kamu. Kamu masih mau baik sama dia?” tanya Jheni kesal.

“Jhen, kalo dia beneran mau bunuh aku. Dia nggak perlu ngantar aku ke rumah sakit,” jawab Lutfi lirih.

Semua orang terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya.

“Kenapa kalian bisa sampai kayak gini?” tanya Yeriko lagi.

“Ceritanya panjang, Yer.”

“Ceritain ke kita!” pinta Yuna.

Lutfi mendesis kecil. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.

“Biarkan dia istirahat dulu!” pinta Jheni. Ia tidak tega melihat kondisi Lutfi saat ini. Pria yang biasanya begitu ceria, kini terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit.

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu istirahat ya! Kalau ada apa-apa, harus segera hubungi kami!”

Lutfi mengangguk kecil.

Yeriko dan Chandra masih terus menatap Lutfi yang sengaja menyembunyikan masalahnya dari mereka.

“Chan, biarkan dia istirahat dulu!” pinta Jheni sambil menarik lengan Chandra perlahan.

Chandra mengikuti Jheni, namun pandangannya masih tertuju pada Lutfi. Ia sangat kesal karena Lutfi menyembunyikan banyak hal darinya  dan membuat dirinya sendiri berada dalam bahaya.

“Chan, kamu jangan emosi gini!” pinta Jheni saat mereka berempat sudah keluar dari bangsal tempat Lutfi mendapat perawatan.

Chandra menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia  tidak mengucapkan apa pun. Namun, Jheni bisa melihat luapan emosi yang terlukis di wajah Chandra.

“Aku udah bilang, Icha pasti bakal jadi masalah kalau dibiarkan kayak gitu. Lutfi masih aja pertahanin dia,” tutur Yeriko sambil menatap Chandra.

Yuna langsung menoleh ke arah suaminya. “Apa yang sebenarnya terjadi sama Icha? Kalian tahu masalahnya?”

“Kamu juga tahu masalahnya. Mereka putus nyambung gitu. Soal perasaan, kita semua nggak tahu. Mana yang bener dan yang salah, kita juga nggak tahu. Kita akan melihat hal yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda juga. Kamu pikir aja, kenapa Icha sampai bisa melukai Lutfi? Bukannya mereka sebenernya saling mencintai?”

“Aku tahu, Icha beneran sayang sama Lutfi. Tapi ...” Yuna menghentikan ucapannya dan menatap Jheni. “Banyak hal yang kami juga nggak tahu tentang dia,” lanjut Yuna menurunkan nada bicaranya.

“Udahlah. Nggak usah dipeduliin si Icha itu. Dia aja nggak peduli sama kita. Tiba-tiba ngilang tanpa jejak. Sekarang, malah bikin Lutfi celaka.”

“Ck, kenapa hubungan mereka serumit ini sih? Yang lebih rumit lagi, mereka nggak pernah cerita sama kita. Mereka anggap kita ini apa sih!?” tutur Yuna kesal.

Yeriko menoleh ke arah istrinya. Ia langsung merengkuh tubuh Yuna dan menenangkannya. “Kamu jangan terlalu berpikir keras! Kasihan anak kita,” bisiknya.

“Aku nggak terlalu berpikir. Tapi, bakal kepikiran terus kalau nggak cepet-cepet kelarin masalah ini. Kita harus cari Icha. Minta penjelasan ke dia.”

“Iya, Yun. Icha boleh aja marah sama Lutfi. Mereka boleh aja berantem setiap hari. Putus nyambung itu bukan masalah besar. Masalahnya jadi besar karena Icha udah nusuk Lutfi. Gimana kalau keluarganya Lutfi nggak terima dan nuntut Icha ke penjara?” sahut Jheni.

“Jangan sampai neneknya Lutfi tahu soal Lutfi masuk rumah sakit hari ini!” pinta Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yuna.

“Kondisi kesehatan neneknya Lutfi kurang baik. Kami khawatir, nenek justru jatuh sakit karena tahu cucu kesayangannya masuk rumah sakit. Terlebih kalau tahu penyebabnya,” jawab Chandra.

Jheni langsung menghentakkan kakinya. “Icha ini kenapa sih? Kenapa dia jadi jahat kayak gini? Selama ini, sifatnya yang pendiam dan manis itu cuma kedok?”

“Jhen, kamu jangan buruk sangka dulu!” pinta Yuna. “Banyak hal yang memaksa orang menjadi jahat. Terutama keadaan. Lebih baik, kita cari tahu dulu. Walau gimana pun, Icha udah sering nolongin aku. Aku nggak yakin kalau dia beneran sekejam ini.”

“Terus,kita harus gimana?” tanya Jheni.

“Kita harus nemuin Icha dulu.”

“Mau cari di mana lagi, Yun. Dia pasti ngumpet tuh. Takut ditangkap polisi,” sahut Jheni kesal.

“Dia nggak akan dicari polisi selama Lutfi nggak laporin dia,” tutur Chandra.

“Iya juga, sih. Jadi, kita berdua yang harus nyari Icha?” tanya Jheni.

Yeriko dan Chandra menganggukkan kepala. “Kami urus Lutfi.”

“Eyyuuh ...!” Jheni memutar bola matanya. “Kalo nggak ingat temen, aku males banget nyari Icha,” celetuknya.

Yuna tertawa kecil menatap Jheni. “Ayo, kita cari dia secepatnya!” ajak Yuna.

Jheni menganggukkan kepala. “Baiklah. Mari berpetualang lagi!” seru Jheni sambil melangkah pergi. “Jiayou!” lanjutnya sambil mengepalkan tangannya penuh semangat.

Yuna tersenyum menatap Jheni. Ia menoleh ke arah Yeriko. “Kami pergi dulu, ya!”

Yeriko menganggukkan kepala. “Hati-hati ya!” tuturnya sambil melepas lengan Yuna perlahan.

Yuna mengangguk kecil sambil tersenyum. Ia bergegas mengikuti langkah Jheni yang sudah lebih dahulu melangkah pergi.

“Tunggu aku, Jhen!” seru Yuna.

Jheni memperlambat langkahnya. Ia langsung merangkul Yuna begitu Yuna sudah sampai di sampingnya.

Yeriko dan Chandra tersenyum sambil menatap kepergian wanita mereka. Dua wanita yang selalu bersama dalam suka dan duka. Mereka juga ikut berangkulan dengan hangat. Tak peduli dengan banyak mata yang memandang aneh kepada mereka berdua.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Thursday, February 5, 2026

Cliffhanger: Seni Menggantung Cerita yang Membuat Pembaca Terus Mengikat Nafasnya

 


Cliffhanger: Seni Menggantung Cerita yang Membuat Pembaca Terus Mengikat Nafasnya

Ada saat ketika cerita kita harus berhenti.
Bukan karena kehilangan arah.
Tapi karena ketegangan itu sendiri sudah cukup tinggi… sampai membuat pembaca tak tega berhenti membaca.

Inilah yang disebut cliffhanger — teknik naratif di mana sebuah cerita ditinggalkan pada puncak ketegangan atau misteri yang belum terjawab, membiarkan pembaca menggenggam pertanyaan di dalam benaknya dan tertarik untuk menyusuri baris-baris berikutnya.


Cliffhanger: Lebih dari Sekadar “Akhir yang Menggantung”

Cliffhanger berasal dari tradisi cerita bersambung yang secara harfiah “menggantung” pembaca di tengah-tengah ketegangan. Teknik ini banyak dipakai dalam serial televisi, novel berseri, dan cerita episodik. Di sinilah pembaca berhenti… tapi rasa penasaran justru tumbuh semakin liar.

Berbeda dengan plot twist, yang biasanya mengubah keseluruhan arah cerita, cliffhanger mendorong keterlibatan pembaca tanpa menyelesaikan konflik utama pada saat itu juga.


Mengapa Cliffhanger Begitu Mengikat?

Cliffhanger bekerja karena satu alasan sederhana: emosi dan harapan yang belum lengkap di benak pembaca.

Bayangkan rasa kamu sendiri ketika membaca kalimat terakhir yang menggantung… jantung serasa ikut tergantung di ujung kata. Itu karena:

- Pemeran utama berada dalam bahaya
- Sebuah pertanyaan penting belum dijawab
- Hubungan karakter berada di ambang perpisahan
- Terdapat misteri yang belum terpecahkan

Pada titik itu, pembaca tidak lagi sekadar mengikuti cerita — mereka telah terlibat secara batin. Itulah kekuatan cliffhanger: mengubah pembaca menjadi mitra konflik.


Jenis-Jenis Cliffhanger yang Bisa Kamu Gunakan

Ketika menulis cliffhanger, kamu tidak hanya “menggantung dengan beban kosong”. Ada beberapa jenis yang bisa kamu pakai tergantung suasana dan konteks cerita:

1. 🗡️ Kesudahan dalam Bahaya (Life-or-Death Moment)

Tokoh utama menghadapi ancaman langsung dan tidak ada jawaban pasti.

Contoh: “Dia melihat bayangan merangkak di belakang pintu—lalu suara tembakan…”
Pembaca tidak tahu apa yang terjadi kemudian.

2. ❓ Pertanyaan yang Terbuka (Unanswered Question)

Sebuah misteri muncul tepat di ujung bab.

Contoh: “Di meja itu tergeletak surat bertinta merah — siapa yang mengirimnya?”
Rasa penasaran langsung muncul.

3. 💔 Ketegangan Emosional (Emotional Cliffhanger)

Hubungan atau emosi karakter tertahan tanpa resolusi.

Contoh: “Air mata mengalir di pipinya saat ia berkata… ‘Kita berpisah di sini.’”
Pembaca berempati dan ingin tahu jawaban hati.


Kapan Waktu Tepat Meletakkan Cliffhanger?

Cliffhanger bukan hanya tentang ketegangan. Itu adalah jembatan antarbab — sesuatu yang membawa pembaca dari satu bab ke bab berikutnya tanpa putus hubungan emosi.

Pilihlah saat:

  • Tegangan tertinggi hampir tercapai

  • Informasi penting belum terungkap

  • Tokoh berada di ambang keputusan penting

  • Kamu ingin menjaga ritme cerita tetap bergerak

Dan yang paling penting ialah ... cliffhanger harus logis dan terasa organik dengan alur cerita. Tidak boleh dibuat hanya untuk “menggantung” tanpa ada alasan emosional atau naratif.


Tips Praktis Menulis Cliffhanger

Tulis seolah kamu sedang berbicara langsung kepada hati pembaca:

💬 Pendek dan padat: Kalimat terakhir harus singkat, tajam, dan benar-benar meninggalkan ruang untuk bertanya.
💬 Bangun emosi dulu: Sebelum menggantung, buat pembaca merasakan sesuatu — takut, harap, cinta, atau kebingungan.
💬 Gunakan foreshadowing: Beri sedikit sinyal sebelumnya agar cliffhanger terasa “berdasar”, bukan tiba-tiba.
💬 Hindari pengulangan berlebihan: Terlalu sering memakai cliffhanger bisa membuat pembaca jenuh.


Contoh Cliffhanger yang Biasa Dipakai

📌 Aktual:

“Dia berbalik… dan di ambang pintu berdiri sosok yang tak pernah ia bayangkan bisa kembali.”

📌 Emosional:

“Kata-katanya terhenti saat lampu padam—dan hatinya ikut tertutup.”

📌 Misteri:

“Printer berbunyi. Sepucuk foto jatuh. Di foto itu, ada angka 13—sedangkan hari ini tanggal 14.”

 

Cliffhanger bukan sekadar “gantung cerita” — ia merangkul pembaca, membiarkan mereka menunggu, bernafas, dan berpikir. Seperti nada di akhir lagu yang belum selesai… tapi membuat kita tak bisa berhenti mendengarkannya ulang.



Jangan lupa baca "Perfect Hero" untuk mempelajari Cliffhanger yang diterapkan pada novel tersebut!

Second Lead: Tokoh Bayangan yang Diam-Diam Menentukan Hidup Matinya Novel Panjang

 



Dalam novel digital—terutama yang tayang harian atau mingguan—cerita bukan hanya soal tokoh utama. Ia justru sering bertahan hidup karena satu tokoh penting yang berdiri di sampingnya, tidak selalu paling bersinar, tapi selalu hadir saat cerita hampir kehilangan napas.

Tokoh itu bernama: Second Lead.

Sayangnya, banyak penulis—terutama penulis pemula—menganggap second lead sekadar pelengkap. Padahal, dalam novel panjang, second lead bisa menjadi penyelamat cerita, pengikat emosi pembaca, bahkan “cadangan cinta” yang membuat pembaca bertahan sampai ratusan episode.

Dalam novel penjang ribuan episode yang aku tulis berjudul "Perfect Hero", aku memiliki tiga tokoh pendamping yang sangat penting dalam jalannya cerita, yakni Lutfi, Chandra dan Satria.


Apa Itu Second Lead?

Second lead adalah tokoh utama kedua—bukan figuran, bukan cameo, dan bukan sekadar teman lewat. Ia memiliki peran penting dalam alur cerita, memiliki hubungan emosional kuat dengan tokoh utama, memiliki tujuan hidup sendiri dan memiliki konflik personal yang tidak kalah rumit

Dalam banyak kasus, pembaca justru jatuh cinta lebih dulu pada second lead sebelum benar-benar memahami tokoh utama.

Dan itu bukan kebetulan.


Second Lead Bukan Tokoh Kalah, Tapi Tokoh Penyangga

Kesalahan paling umum dalam menulis second lead adalah menjadikannya:

  • Selalu kalah

  • Selalu mengalah

  • Selalu tersakiti

  • Selalu jadi korban cinta segitiga

Padahal, second lead tidak diciptakan untuk kalah, melainkan untuk menyangga cerita.

Ia adalah:

  • Cermin yang memperjelas karakter tokoh utama

  • Pembanding moral, logika, atau emosi

  • Penyeimbang ketika tokoh utama terlalu lemah, terlalu kuat, atau terlalu egois

Second lead membuat pembaca berpikir:

“Bagaimana jika cerita ini berjalan lewat sudut pandangnya?”

Dan saat pembaca sampai pada pertanyaan itu, berarti cerita sedang bekerja dengan baik.


Kenapa Second Lead Sangat Penting dalam Novel Digital & Novel Panjang?

1. Novel Panjang Butuh Napas Panjang

Novel digital bisa mencapai ratusan bahkan ribuan episode. Tokoh utama tidak mungkin terus-menerus berada di puncak konflik tanpa membuat pembaca lelah.

Second lead berfungsi sebagai:

  • Tempat istirahat emosional

  • Jembatan antar konflik besar

  • Pemantik konflik kecil yang tetap relevan

Tanpa second lead, cerita akan terasa datar atau melelahkan karena semua beban ditumpuk pada satu karakter.

2. Second Lead Menjaga Ritme Cerita

Saat konflik utama terlalu berat, second lead bisa hadir dengan:

  • Sudut pandang berbeda

  • Konflik sampingan yang tetap terhubung

  • Emosi yang lebih “manusiawi”

Ia menjaga cerita tetap bergerak tanpa harus selalu meledak-ledak.

3. Second Lead Membuat Pembaca Bertahan

Dalam platform novel digital, satu hal sangat penting: retensi pembaca.

Pembaca bertahan bukan hanya karena ingin tahu akhir cerita, tapi karena:

  • Ingin tahu nasib second lead

  • Ingin tahu apakah ia akan bahagia

  • Ingin tahu apakah pilihannya akan dihargai

Tak jarang, kolom komentar justru penuh pembelaan untuk second lead—dan itu tanda cerita hidup.

4. Second Lead Memperdalam Tema Cerita

Tokoh utama sering membawa tema besar.
Second lead membawa pertanyaan moralnya.

Contoh:

  • Tokoh utama memilih cinta → second lead memilih tanggung jawab

  • Tokoh utama mengejar mimpi → second lead bertahan demi keluarga

  • Tokoh utama berani → second lead rasional

Dari benturan itulah tema cerita menjadi lebih kaya, tidak hitam-putih.

Second Lead yang Baik Punya Hidupnya Sendiri

Second lead yang kuat tidak hidup hanya untuk tokoh utama.

Ia punya:

  • Masa lalu

  • Luka

  • Keinginan

  • Pilihan yang tidak selalu sejalan dengan tokoh utama

Bahkan, dalam beberapa cerita yang kuat, second lead bisa:

  • Pergi

  • Berubah

  • Memilih jalan lain

  • Atau menjadi tokoh utama dalam arc berbeda

Dan pembaca akan menerima itu—karena sejak awal, ia ditulis sebagai manusia, bukan aksesoris.


Kesalahan Fatal Saat Menulis Second Lead

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  • Menjadikannya terlalu sempurna tanpa konflik

  • Menjadikannya terlalu jahat tanpa alasan kuat

  • Menggunakannya hanya sebagai alat cemburu

  • Menghilangkannya saat konflik utama memuncak

Ingat: jika second lead bisa dihapus tanpa mengubah cerita secara signifikan, berarti ia belum ditulis dengan benar.

Second Lead adalah Investasi Cerita

Menulis second lead bukan soal menambah tokoh.
Ini soal menambah lapisan emosi.

Dalam novel panjang, pembaca tidak hanya mencari akhir cerita. Mereka mencari teman perjalanan. Dan sering kali, teman itu bukan tokoh utama—melainkan second lead yang diam-diam menemani dari awal hingga jauh ke tengah cerita.

Kalau tokoh utama adalah cahaya,
maka second lead adalah bayangannya—
dan tanpa bayangan, cahaya tokoh itu terasa palsu.



Referensi Bacaan & Rujukan

  1. Dwight V. Swain – Techniques of the Selling Writer

  2. John Truby – The Anatomy of Story

  3. K.M. Weiland – Creating Character Arcs

  4. Linda Seger – Making a Good Script Great

  5. Artikel kepenulisan di platform:

    • MasterClass (Writing Supporting Characters)

    • Now Novel (How to Write Secondary Characters)

    • Writer’s Digest (Supporting Cast in Long Fiction)


Perfect Hero Bab 359 : What's Wrong With Icha?

 


“Halo ... My Honey Bunny Jheni ...!” seru  Yuna begitu Jheni membukakan pintu untuknya.

“Cepet banget?”

Yuna meringis sambil menatap Jheni.

“Aku harus balik ke kantor. Aku nitip istriku ya!” pamit Yeriko.

Jheni menganggukkan kepala. “Jangan lupa upah buat pengasuh ibu hamil ya!”

Yeriko tersenyum kecil. “Udah dibawain sama Yuna,” sahut Yeriko sambil menatap kantong makanan yang dibawa istrinya.

Jheni memonyongkan bibirnya.

“Aku pergi dulu, jangan pergi ke mana-mana ya!”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi.

“Idih, mentang-mentang udah nikah. Senang banget nyiksa kami yang belum jelas jodohnya di mana,” celetuk Jheni.

“Buruan minta dinikahin sama Chandra!” seru Yeriko sambil membuka pintu mobilnya.

“Kamu ...!? Sejak kapan jadi tukang ngolok!?” dengus Jheni.

Yeriko tergelak. Ia segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.

“Yun, suami kamu itu udah mulai ngece kayak kamu. Virusmu ini udah nular ke dia?” tanya Jheni sambil menoyor dahi Yuna.

Yuna hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.

“Masuk, yuk!” ajak Jheni.

Yuna mengangguk, ia melangkah masuk ke rumah Jheni. Kemudian meletakkan makanan ke atas meja ruang tamu.

“Taruh di meja makan aja, Yun!” pinta Jheni.

“Di sini aja, Jhen. Enak lesehan.”

“Kebiasaan banget. Untungnya aku udah pasang karpet bulu.”

Yuna meringis menatap Jheni. “Kamu sengaja pasang kayak gini buat aku ya? Sejak kapan kamu peduli sama dekorasi rumah kamu?”

“Sejak kamu hamil dan suami kamu itu makin cerewet!” sahut Jheni.

“Hah!?” Yuna melongo menatap Jheni.

Jheni meraih sepotong kue dari kantong makanan yang dibawa Yuna dan melahapnya. “Ini ... ini ... ini ... semua kerjaan suami kamu,” tuturnya sambil menunjuk beberapa barang yang tak pernah ada di dalam rumahnya.

“Hah!? Kenapa dia ...?”

“Dia tahu kalau kamu paling sering ke sini. Dia bilang, rumah ini harus nyaman buat istrinya yang lagi hamil. Berlebihan banget suami kamu itu. Dia pikir, rumah ini nggak nyaman buat kamu? Berasa rumah ini punya dia.

Yuna terkekeh geli mendengar ucapan Jheni. “Jhen, karena kasih sayang dari suamiku itu berlebihan, sampai tumpah-tumpah. Jadi, aku mau persembahkan kasih sayangku hanya untukmu seorang,” goda Yuna.

“Nggak usah berlebihan!” pinta Jheni sambil meletakkan telapak tangannya di wajah Yuna. “Geli aku lihat muka centilmu ini. Yeriko nggak geli?”

“Dia suka yang geli-geli, Jhen,” sahut Yuna dengan suara mendesah.

“Asem kamu, Yun!” seru Jheni. “Mentang-mentang udah nikah, otakmu sekarang isinya anu semua.”

Anu gimana, Jhen? Biasa aja.”

“Biasa aja buat kamu. Buat aku ... nelangsa, Yun.”

“Hahaha.”

“Yun, Icha belum ada kabar?” tanya Jheni.

“Belum ada.”

“Ke mana dia ya? Aku udah ke rumahnya. Kata tetangganya, dia pindah. Aku ke kantornya, katanya cuti kerja. Tapi, dia nggak balik lagi ke perusahaaan.”

“What!?” Yuna membelalakkan matanya.

“Dia ngilang gitu aja. Nggak bisa dihubungi sama sekali.”

“Apa dia patah hati, terus nggak mau berhubungan sama Lutfi dan orang-orang yang ada di sekitarnya?”

“Tapi ... nggak segitunya juga kali, Yun. Dia terlalu tertutup. Apalagi soal hubungan dia sama Lutfi yang putus nyambung. Kalo lagi ngumpul, mereka kelihatan baik-baik aja. Tapi, nggak pernah tahu di belakang kita seperti apa.”

“Kata Yeriko, mereka udah putus lagi.”

“Chandra juga bilang begitu ke aku.”

“Eergh! Aku geregetan sama hubungan mereka. Si Lutfi itu, berasa semuanya baik-baik aja. Perasaan Icha gimana?”

“Aku juga nggak tahu, Yun. Icha aja nggak bisa dihubungi sampe sekarang. Ngilang begitu aja, nggak ada kabar. Ngeselin juga dia ini.”

“Sebenarnya, apa sih yang terjadi sama mereka di Jakarta?”

“Nggak tahu, Yuna. Kita ini sama-sama nggak tahu.”

“Mereka udah balik ke sini, kan?”

“Harusnya sih udah. Kemarin si Chandra bilang kalau Lutfi sama Icha udah balik.”

“Keluarganya Lutfi gimana sih? Apa mereka nggak nerima Icha? Makanya, mereka jadi putus?”

“Entahlah. Si Lutfi itu nggak jelas juga. Dia pacaran kontrak sama Icha. Tapi, dikenalin juga ke keluarganya. Nggak paham deh sama otaknya itu anak. Geser ke mana-mana.”

“Kalo aku jadi Icha, mending cari cowok lain aja daripada terombang-ambing nggak jelas begitu.”

“Iya juga. Itu si Icha nurut aja sama Lutfi. Dulu, dia nggak begitu. Apa ada yang bikin dia tertekan ya? Semenjak pacaran sama Lutfi, dia malah tertutup gitu.”

“Aku rasa, Lutfi nggak mungkin se-posesif itu.”

“Iya. Tapi, kamu pernah denger dari Lutfi kalau dia pacaran kontrak sama Icha karena Icha lagi ada masalah keuangan. Keluarga dia, nggak miskin-miskin banget. Kenapa sampe mau nerima uang dari Lutfi?”

“Bisa jadi, keluarganya juga lagi ada masalah keuangan. Namanya hidup, nggak tahu kedepannya seperti apa. Aku yang dulu juga pernah jadi gelandangan. Yeriko yang udah nyelamatin aku. Bisa jadi, Icha juga begitu. Hanya saja, cara Yeriko dan Lutfi berbeda.”

“Kalo Yeriko sih jelas, Yun. Tapi si Lutfi? Dia yang slengean itu aja bisa nutupin masalahnya dari kita. Nggak sesuai banget sama sifatnya yang ceria itu.”

“Yang biasanya ceria, justru nggak mau masalahnya dibagi ke orang lain. Dia kelihatan santai aja, gitu.”

“Iya juga, sih. Apa karena ... dia nggak mau kita ikut kepikiran ya? Eh, kamu punya nomer hape Lutfi?” tanya Jheni.

“Ada.”

“Coba telepon dia, deh!” pinta Jheni. “Siapa tahu, dia tahu keberadaan Icha.”

“Bener juga.” Yuna merogoh ponsek dari dalam tas tangannya dan langsung menelepon Lutfi.

“Nggak diangkat?” tanya Bellina karena panggilan telepon dari Yuna tak kunjung tersambung.

“Tapi masuk?”

Yuna mengangguk. “Aku coba lagi.”

Jheni terus menatap layar ponsel yang diletakkan di atas meja. Menunggu dengan harap-harap cemas.

“Diangkat!” seru Yuna saat layar ponselnya mulai menunjukkan durasi panggilan.

“Halo ...!” sapa Lutfi. Suaranya terdengar jelas dari loudspeaker ponsel Yuna, namun terdengar lemah.

“Kamu tidur, Lut?” tanya Yuna.

“Hmm.” Suara Lutfi masih saja terdengar lemah.

“Heh, siang bolong gini masih aja tidur. Kebiasaan Tuan Muda yang satu ini nggak pernah hilang. Ntar jodohmu diambil orang kalau tidur terus. Hahaha.” Jheni tergelak sambil menatap layar ponsel Yuna.

“Jhen, kamu seneng banget kalo lihat orang lain susah. Aku ... mmh, lagi dirawat di rumah sakit,” tutur Lutfi lirih.

“Hah!?” Jheni dan Yuna membelalakkan mata bersamaan.

“Di rumah sakit mana, Lut?”

“Pertamina,” jawab Lutfi lirih.

“Di Surabaya atau Jakarta?” tanya Jheni.

“Surabaya, Jhen.”

“Kamu sakit apa?” tanya Yuna lagi.

“Icha ....” Suara Lutfi terdengar sangat lirih.

“Icha kenapa?” tanya Yuna. Ia dan Jheni saling pandang.

“Nggak papa, Yun.”

“Sekarang, dia di mana?”

“Aku nggak tahu. Tolong, cari dia ya!”

“Kita ke rumah sakit dulu!” sahut Jheni.

“Aku nggak papa, Jhen. Cuma luka sedikit.”

“Luka?”

“Aku nggak yakin kalau kamu baik-baik aja. Kamu udah nggak bisa ngakak gitu,” sahut Jheni.

“Kamu tuh, Jhen. Aku beneran baik-baik aja. Aku khawatir sama Icha. Setelah ngantar aku ke rumah sakit. Dia nggak kelihatan lagi,” tutur Lutfi.

“Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama kalian?” tanya Jheni.

“Icha ... dia ... dia nusuk aku dan ...”

“What!?” Yuna dan Jheni lebih terkejut lagi mendengar ucapan Lutfi.

“Aku nggak papa. Kalian, tolong cari Icha ya!” pinta Lutfi lirih.

“Kami ke rumah sakit sekarang!” seru Yuna sambil mematikan panggilan teleponnya.

“Icha jahat banget!” sahut Jheni. “Bisa-bisanya dia nusuk Lutfi. Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama mereka?” Jheni bangkit dari duduknya. “Aku ganti baju dulu. Kita langsung ke rumah sakit.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kasih tahu Yeriko sama Chandra!” seru Jheni sambil melangkah masuk ke kamarnya.

“Mereka lagi meeting. Bisa ditelepon atau nggak ya?” tanya Yuna.

“Chat aja! Kalau chat, pasti dibaca pas mereka udah kelar meeting!” sahut Jheni dari kamarnya.

“Oke.” Yuna langsung mengirimkan pesan singkat kepada Yeriko dan Chandra kalau dirinya akan pergi ke rumah sakit bersama Jheni. Ia juga memberitahukan keadaan Lutfi saat ini.

Beberapa menit kemudian, Jheni sudah berganti pakaian. Mereka langsung bergegas pergi ke rumah sakit.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 358 : Be Sad Be Happy

 


Bellina terisak mendapati perlakuan mama mertuanya yang begitu kejam terhadapnya.

“Nggak papa. Semua akan baik-baik aja! Kamu nggak perlu takut!” pinta Lian sambil memeluk erat tubuh Bellina.

“Jangan tinggalin aku, Li!” pinta Bellina.

Lian menganggukkan kepala. “Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku masih di sini.”

Bellina terisak dalam pelukan Lian. “Li, aku nggak mau berakhir kayak gini.”

Lian mengeratkan pelukannya sambil menenangkan Bellina. “Kamu tenang aja. Semua akan baik-baik aja.”

“Li, apa mama kamu bakal serius sama ucapannya?”

Lian menganggukkan kepala. “Tapi, dia bakal baik lagi kalau emosinya sudah reda. Dia udah sering ngancam aku kayak gini.”

Bellina menatap lekat mata Lian.

Lian tersenyum ke arah Bellina. “Kamu sendiri udah tahu gimana mama waktu menentang hubungan aku sama Yuna waktu itu. Walau aku sempat luntang-lantung di jalanan, tapi dia ambil aku lagi buat pulang ke rumah.” Lian tertawa kecil mengingat saat- saat itu.

“Li, seandainya mama kamu emang beneran ambil semua fasilitas yang udah dikasih keluarga kamu. Apa kamu yakin bisa menjalani semuanya?”

Lian menatap lekat wajah Bellina. “Apa kamu sendiri yakin buat menjalani hidup bersamaku yang nggak punya apa-apa?”

Bellina tersenyum kecil. “Asal kamu nggak ninggalin aku. Aku akan tetap nemenin kamu buat bangkit lagi. Aku punya pengalaman kerja yang bagus. Kita bisa memulai semuanya dari nol ‘kan?”

Lian tersenyum menatap Bellina. Ia merasa, Bellina benar-benar sudah berubah. Ia harap, bisa seperti ini selamanya.

“Maafin aku, Li. Aku bener-bener bukan pembunuh. Aku terlalu takut kehilangan kamu. Terlalu stress mikirin kamu yang selalu deket sama Yuna dan bikin perkembangan janinku terganggu. Seharusnya, aku bisa lebih menjaga anak kita. Aku sudah salah,” tutur Bellina sambil meneteskan air mata.

“Semua ini salahku, Bel. Seharusnya, aku nggak nyuekin kamu dan lebih peduli sama anak kita. Selama ini, aku terlalu sibuk memikirkan Yuna. Aku selalu merasa bersalah sama apa yang sudah aku lakuin ke dia sampai aku mengabaikan kamu yang selalu ada buat aku.”

“Aku sudah hidup dalam penyesalan karena menyia-nyiakan cinta yang udah dikasih Yuna dengan tulus. Sekarang, dia sudah bahagia bersama orang lain. Aku juga ikut bahagia melihatnya. Saat ini, aku cuma nggak mau menyesal untuk kedua kalinya karena kehilangan kamu.”

Bellina menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. Kehidupan mereka sebelum menikah, justru lebih baik dan lebih harmonis. Rasanya, ia ingin kembali ke masa-masa itu.

“Dulu, Yuna yang selalu semangatin aku setiap kali aku ada dalam masalah. Sekarang, aku cuma punya kamu. Aku harap, kita bisa sama-sama memperbaiki hubungan kita. Memulai semuanya dari nol lagi. Oke?”

Bellina mengangguk. Ia memeluk erat tubuh Lian. “Kamu nggak akan menceraikan aku ‘kan?” tanyanya. Sebab, ia merasa kalau Yuna masih ada di dalam hati Lian.

Lian menggelengkan kepala. “Aku nggak akan menceraikan kamu.”

“Beneran?”

Lian mengangguk lagi. “Kamu nggak percaya?” Ia langsung meraih dokumen yang ada di atas meja, merobeknya dan membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di dalam ruang bangsal tersebut.

Mata Bellina berkaca-kaca menatap Lian. Ia tak menyangka kalau Lian lebih memilih bersamanya dan melepas semua fasilitas yang dimiliki dari keluarganya. Ia hanya berharap, hubungan Lian dan mamanya bisa pulih seperti dulu lagi. Ia akan melakukan banyak hal untuk menebus semua kesalahan yang ia lakukan.

 

...

 

-Platinum Grill, Jalan Raya Golf Graha Family-

“Aku seneng banget lihat Bellina sama Lian, akhirnya bahagia,”  tutur Yuna di sela-sela menikmati makan siangnya bersama Yeriko.

Yeriko hanya menanggapi ucapan Yuna dengan senyuman.

“Oh ya, akhir-akhir ini aku nggak pernah denger kabar soal Lutfi sama Icha. Mereka baik-baik aja, kan?” tanya Yuna.

“Mereka udah putus.”

“Hah!? Putus lagi?” tanya Yuna. “Lutfi itu bener-bener suka mainin perasaan perempuan ya!” dengusnya kesal.

“Mereka udah dewasa. Kita nggak perlu urusi urusan mereka. Kalau nggak jodoh, nggak bisa dipaksakan. Dalam hubungan pacaran, putus nyambung itu hal biasa.”

“Hmm, iya juga sih. Cuma, agak aneh aja sama hubungan mereka. Lagian, Icha juga temen aku. Dia yang selalu melindungi aku waktu masih di perusahaan. Aku nggak mungkin mengabaikan jasa dia begitu aja.”

“Kamu nggak coba tanya Icha langsung?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nomernya masih  nggak aktif.”

“Bukannya dia diajak pergi ke keluarganya Lutfi yang di Jakarta?” tanya Yeriko.

“Mmh, iya juga ya?”

“Kalo gitu, nggak usah khawatir. Dia pasti aman sama Lutfi.”

“Aman gimana? Mereka kan putus. Apa mereka putus setelah ketemu sama keluarga Lutfi?”

Yeriko menautkan alisnya. “Iya juga ya?”

“Kamu gimana sih? Berarti, Icha belum tentu aman sama Lutfi. Bisa aja mereka lagi patah hati dan ...?”

“Nggak usah mikir macam-macam! Lutfi nggak akan berpikir sesempit itu.”

“Lutfi mungkin biasa aja. Dia udah biasa punya banyak cewek. Gimana sama Icha?”

“Yun, kamu nggak usah terlalu mikirin ini!” pinta Yeriko. “Kalau ada apa-apa, Lutfi pasti kabarin aku.”

“Aku nggak mau mikirin, tapi kepikiran juga. Soalnya, kata Jheni ...” Yuna menghentikan ucapannya saat layar ponselnya tiba-tiba menyala. “Panjang umur ... baru disebut, langsung nelpon.”

Yuna segera menjawab panggilan telepon dari Jheni. “Halo, kenapa Jhen?”

“Kamu lagi di mana? Lagi makan?”

“He-em.”

“Di mana?”

“Di Platinum. Mau ke sini?”

“Sama suami kamu?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kamu pergi makan sama suami kamu, terus akunya disuruh menikmati kalian berdua lagi mesra-mesraan?” dengus Jheni.

“Hahaha. Ajak Chandra, dong!”

“Chandra lagi sibuk. Aku juga sibuk.”

“Masih belum kelar bikin komiknya?”

“Belum. Ini masih sambil ngerjain.”

“Udah makan siang?”

“Ini juga lagi makan.”

“Makan apa?”

“Makan mie instan. Huaaa ... kamu enak banget bisa makan steak di restoran mewah. Aku cuma punya waktu buat nyeduh mie instan di rumah.”

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Nggak usah mendramatisir keadaan!” dengus Yuna. “Kalo mau makan, tinggal pilih food delivery aja kan gampang.”

“Kamu ya!”

“Aku?”

“Iya. Kamu delivery makanan ke rumah aku, ya!” pinta Jheni.

“What!?”

“Udah jadi orang kaya raya, nggak boleh perhitungan sama sahabat sendiri,” sahut Jheni sambil tertawa kecil.

“Hmm, ya udah. Kamu mau makanan apa?” tanya Yuna.

“Apa aja, deh. Yang penting enak!”

“Mie instan juga enak,” sahut Yuna.

“Nggak usah kalo itu. Di rumahku juga banyak.”

“Hahaha. Iya, iya. Abis makan, aku ke rumah kamu antarin makanan. Kamu nelpon, ada perlu apa?”

“Kamu mau ke sini?” tanya Jheni.

“Iya.”

“Ya udah, aku cerita ke kamu kalo udah di sini aja.”

“Iih ... ada apa sih, Jhen? Aku jadi penasaran.”

“Bawa makanan yang enak dan banyak. Baru aku ceritain ke kamu!” pinta Jheni.

“Uuch, dasar hantu makanan! Jadi gendut ntar, baru tahu rasa!”

“Nggak usah ngolok ya! Kamu yang udah gendut gitu.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Iih ... kamu!?”

“Hahaha. Bentar lagi itu badan kayak Doraemon!”

“Doraemon lucu kali, banyak yang suka. Weeek ...!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

“Ya udah, deh. Susah kalo ngomong sama kamu mah. Cepetan ke sini ya! Aku tunggu makananya!” seru Jheni. “Bye-bye ...!” lanjutnya sambil menutup telepon.

“Huu, dasar!” dengus Yuna sambil menatap layar ponselnya.

“Kenapa? Mau ke rumah Jheni?”

Yuna menganggukkan kepala. “Aku mau antarin makanan buat dia. Sebentar aja, kok. Boleh?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Tapi, aku cuma bisa antar. Habis ini, aku masih ada jadwal meeting. Ntar kamu pulang minta antar Jheni atau minta jemput sama Angga ya!”

Yuna menganggukkan kepala. Mereka menghabiskan makan siang bersama sebelum akhirnya pergi ke rumah Jheni.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas