Bellina terisak mendapati perlakuan mama mertuanya yang
begitu kejam terhadapnya.
“Nggak papa. Semua akan baik-baik aja! Kamu nggak perlu
takut!” pinta Lian sambil memeluk erat tubuh Bellina.
“Jangan tinggalin aku, Li!” pinta Bellina.
Lian menganggukkan kepala. “Aku nggak akan ninggalin kamu.
Aku masih di sini.”
Bellina terisak dalam pelukan Lian. “Li, aku nggak mau
berakhir kayak gini.”
Lian mengeratkan pelukannya sambil menenangkan Bellina.
“Kamu tenang aja. Semua akan baik-baik aja.”
“Li, apa mama kamu bakal serius sama ucapannya?”
Lian menganggukkan kepala. “Tapi, dia bakal baik lagi kalau
emosinya sudah reda. Dia udah sering ngancam aku kayak gini.”
Bellina menatap lekat mata Lian.
Lian tersenyum ke arah Bellina. “Kamu sendiri udah tahu
gimana mama waktu menentang hubungan aku sama Yuna waktu itu. Walau aku sempat
luntang-lantung di jalanan, tapi dia ambil aku lagi buat pulang ke rumah.” Lian
tertawa kecil mengingat saat- saat itu.
“Li, seandainya mama kamu emang beneran ambil semua
fasilitas yang udah dikasih keluarga kamu. Apa kamu yakin bisa menjalani
semuanya?”
Lian menatap lekat wajah Bellina. “Apa kamu sendiri yakin
buat menjalani hidup bersamaku yang nggak punya apa-apa?”
Bellina tersenyum kecil. “Asal kamu nggak ninggalin aku.
Aku akan tetap nemenin kamu buat bangkit lagi. Aku punya pengalaman kerja yang
bagus. Kita bisa memulai semuanya dari nol ‘kan?”
Lian tersenyum menatap Bellina. Ia merasa, Bellina
benar-benar sudah berubah. Ia harap, bisa seperti ini selamanya.
“Maafin aku, Li. Aku bener-bener bukan pembunuh. Aku
terlalu takut kehilangan kamu. Terlalu stress mikirin kamu yang selalu deket
sama Yuna dan bikin perkembangan janinku terganggu. Seharusnya, aku bisa lebih
menjaga anak kita. Aku sudah salah,” tutur Bellina sambil meneteskan air mata.
“Semua ini salahku, Bel. Seharusnya, aku nggak nyuekin kamu
dan lebih peduli sama anak kita. Selama ini, aku terlalu sibuk memikirkan Yuna.
Aku selalu merasa bersalah sama apa yang sudah aku lakuin ke dia sampai aku
mengabaikan kamu yang selalu ada buat aku.”
“Aku sudah hidup dalam penyesalan karena menyia-nyiakan
cinta yang udah dikasih Yuna dengan tulus. Sekarang, dia sudah bahagia bersama
orang lain. Aku juga ikut bahagia melihatnya. Saat ini, aku cuma nggak mau
menyesal untuk kedua kalinya karena kehilangan kamu.”
Bellina menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca.
Kehidupan mereka sebelum menikah, justru lebih baik dan lebih harmonis.
Rasanya, ia ingin kembali ke masa-masa itu.
“Dulu, Yuna yang selalu semangatin aku setiap kali aku ada
dalam masalah. Sekarang, aku cuma punya kamu. Aku harap, kita bisa sama-sama
memperbaiki hubungan kita. Memulai semuanya dari nol lagi. Oke?”
Bellina mengangguk. Ia memeluk erat tubuh Lian. “Kamu nggak
akan menceraikan aku ‘kan?” tanyanya. Sebab, ia merasa kalau Yuna masih ada di
dalam hati Lian.
Lian menggelengkan kepala. “Aku nggak akan menceraikan
kamu.”
“Beneran?”
Lian mengangguk lagi. “Kamu nggak percaya?” Ia langsung
meraih dokumen yang ada di atas meja, merobeknya dan membuangnya ke dalam
tempat sampah yang ada di dalam ruang bangsal tersebut.
Mata Bellina berkaca-kaca menatap Lian. Ia tak menyangka
kalau Lian lebih memilih bersamanya dan melepas semua fasilitas yang dimiliki
dari keluarganya. Ia hanya berharap, hubungan Lian dan mamanya bisa pulih
seperti dulu lagi. Ia akan melakukan banyak hal untuk menebus semua kesalahan
yang ia lakukan.
...
-Platinum Grill, Jalan Raya Golf Graha Family-
“Aku seneng banget lihat Bellina sama Lian, akhirnya
bahagia,” tutur Yuna di sela-sela menikmati makan siangnya bersama
Yeriko.
Yeriko hanya menanggapi ucapan Yuna dengan senyuman.
“Oh ya, akhir-akhir ini aku nggak pernah denger kabar soal
Lutfi sama Icha. Mereka baik-baik aja, kan?” tanya Yuna.
“Mereka udah putus.”
“Hah!? Putus lagi?” tanya Yuna. “Lutfi itu bener-bener suka
mainin perasaan perempuan ya!” dengusnya kesal.
“Mereka udah dewasa. Kita nggak perlu urusi urusan mereka.
Kalau nggak jodoh, nggak bisa dipaksakan. Dalam hubungan pacaran, putus
nyambung itu hal biasa.”
“Hmm, iya juga sih. Cuma, agak aneh aja sama hubungan
mereka. Lagian, Icha juga temen aku. Dia yang selalu melindungi aku waktu masih
di perusahaan. Aku nggak mungkin mengabaikan jasa dia begitu aja.”
“Kamu nggak coba tanya Icha langsung?”
Yuna menggelengkan kepala. “Nomernya masih nggak
aktif.”
“Bukannya dia diajak pergi ke keluarganya Lutfi yang di
Jakarta?” tanya Yeriko.
“Mmh, iya juga ya?”
“Kalo gitu, nggak usah khawatir. Dia pasti aman sama
Lutfi.”
“Aman gimana? Mereka kan putus. Apa mereka putus setelah
ketemu sama keluarga Lutfi?”
Yeriko menautkan alisnya. “Iya juga ya?”
“Kamu gimana sih? Berarti, Icha belum tentu aman sama
Lutfi. Bisa aja mereka lagi patah hati dan ...?”
“Nggak usah mikir macam-macam! Lutfi nggak akan berpikir
sesempit itu.”
“Lutfi mungkin biasa aja. Dia udah biasa punya banyak
cewek. Gimana sama Icha?”
“Yun, kamu nggak usah terlalu mikirin ini!” pinta Yeriko.
“Kalau ada apa-apa, Lutfi pasti kabarin aku.”
“Aku nggak mau mikirin, tapi kepikiran juga. Soalnya, kata
Jheni ...” Yuna menghentikan ucapannya saat layar ponselnya tiba-tiba menyala.
“Panjang umur ... baru disebut, langsung nelpon.”
Yuna segera menjawab panggilan telepon dari Jheni. “Halo,
kenapa Jhen?”
“Kamu lagi di mana? Lagi makan?”
“He-em.”
“Di mana?”
“Di Platinum. Mau ke sini?”
“Sama suami kamu?”
Yuna menganggukkan kepala.
“Kamu pergi makan sama suami kamu, terus akunya disuruh
menikmati kalian berdua lagi mesra-mesraan?” dengus Jheni.
“Hahaha. Ajak Chandra, dong!”
“Chandra lagi sibuk. Aku juga sibuk.”
“Masih belum kelar bikin komiknya?”
“Belum. Ini masih sambil ngerjain.”
“Udah makan siang?”
“Ini juga lagi makan.”
“Makan apa?”
“Makan mie instan. Huaaa ... kamu enak banget bisa makan
steak di restoran mewah. Aku cuma punya waktu buat nyeduh mie instan di rumah.”
Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. “Nggak usah
mendramatisir keadaan!” dengus Yuna. “Kalo mau makan, tinggal pilih food
delivery aja kan gampang.”
“Kamu ya!”
“Aku?”
“Iya. Kamu delivery makanan ke rumah aku, ya!” pinta Jheni.
“What!?”
“Udah jadi orang kaya raya, nggak boleh perhitungan sama
sahabat sendiri,” sahut Jheni sambil tertawa kecil.
“Hmm, ya udah. Kamu mau makanan apa?” tanya Yuna.
“Apa aja, deh. Yang penting enak!”
“Mie instan juga enak,” sahut Yuna.
“Nggak usah kalo itu. Di rumahku juga banyak.”
“Hahaha. Iya, iya. Abis makan, aku ke rumah kamu antarin
makanan. Kamu nelpon, ada perlu apa?”
“Kamu mau ke sini?” tanya Jheni.
“Iya.”
“Ya udah, aku cerita ke kamu kalo udah di sini aja.”
“Iih ... ada apa sih, Jhen? Aku jadi penasaran.”
“Bawa makanan yang enak dan banyak. Baru aku ceritain ke
kamu!” pinta Jheni.
“Uuch, dasar hantu makanan! Jadi gendut ntar, baru tahu
rasa!”
“Nggak usah ngolok ya! Kamu yang udah gendut gitu.”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Iih ... kamu!?”
“Hahaha. Bentar lagi itu badan kayak Doraemon!”
“Doraemon lucu kali, banyak yang suka. Weeek ...!” sahut
Yuna sambil menjulurkan lidahnya.
“Ya udah, deh. Susah kalo ngomong sama kamu mah. Cepetan ke
sini ya! Aku tunggu makananya!” seru Jheni. “Bye-bye ...!” lanjutnya sambil
menutup telepon.
“Huu, dasar!” dengus Yuna sambil menatap layar ponselnya.
“Kenapa? Mau ke rumah Jheni?”
Yuna menganggukkan kepala. “Aku mau antarin makanan buat
dia. Sebentar aja, kok. Boleh?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Tapi, aku cuma bisa antar.
Habis ini, aku masih ada jadwal meeting. Ntar kamu pulang minta antar Jheni
atau minta jemput sama Angga ya!”
Yuna menganggukkan kepala. Mereka menghabiskan makan siang
bersama sebelum akhirnya pergi ke rumah Jheni.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment