“Halo ... My Honey Bunny Jheni ...!” seru Yuna begitu
Jheni membukakan pintu untuknya.
“Cepet banget?”
Yuna meringis sambil menatap Jheni.
“Aku harus balik ke kantor. Aku nitip istriku ya!” pamit
Yeriko.
Jheni menganggukkan kepala. “Jangan lupa upah buat pengasuh
ibu hamil ya!”
Yeriko tersenyum kecil. “Udah dibawain sama Yuna,” sahut
Yeriko sambil menatap kantong makanan yang dibawa istrinya.
Jheni memonyongkan bibirnya.
“Aku pergi dulu, jangan pergi ke mana-mana ya!”
Yuna menganggukkan kepala.
Yeriko mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi.
“Idih, mentang-mentang udah nikah. Senang banget nyiksa
kami yang belum jelas jodohnya di mana,” celetuk Jheni.
“Buruan minta dinikahin sama Chandra!” seru Yeriko sambil
membuka pintu mobilnya.
“Kamu ...!? Sejak kapan jadi tukang ngolok!?” dengus Jheni.
Yeriko tergelak. Ia segera masuk ke dalam mobil dan
bergegas pergi.
“Yun, suami kamu itu udah mulai ngece kayak kamu. Virusmu
ini udah nular ke dia?” tanya Jheni sambil menoyor dahi Yuna.
Yuna hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.
“Masuk, yuk!” ajak Jheni.
Yuna mengangguk, ia melangkah masuk ke rumah Jheni.
Kemudian meletakkan makanan ke atas meja ruang tamu.
“Taruh di meja makan aja, Yun!” pinta Jheni.
“Di sini aja, Jhen. Enak lesehan.”
“Kebiasaan banget. Untungnya aku udah pasang karpet bulu.”
Yuna meringis menatap Jheni. “Kamu sengaja pasang kayak
gini buat aku ya? Sejak kapan kamu peduli sama dekorasi rumah kamu?”
“Sejak kamu hamil dan suami kamu itu makin cerewet!” sahut
Jheni.
“Hah!?” Yuna melongo menatap Jheni.
Jheni meraih sepotong kue dari kantong makanan yang dibawa
Yuna dan melahapnya. “Ini ... ini ... ini ... semua kerjaan suami kamu,”
tuturnya sambil menunjuk beberapa barang yang tak pernah ada di dalam rumahnya.
“Hah!? Kenapa dia ...?”
“Dia tahu kalau kamu paling sering ke sini. Dia bilang,
rumah ini harus nyaman buat istrinya yang lagi hamil. Berlebihan banget suami
kamu itu. Dia pikir, rumah ini nggak nyaman buat kamu? Berasa rumah ini punya dia.”
Yuna terkekeh geli mendengar ucapan Jheni. “Jhen, karena
kasih sayang dari suamiku itu berlebihan, sampai tumpah-tumpah. Jadi, aku mau
persembahkan kasih sayangku hanya untukmu seorang,” goda Yuna.
“Nggak usah berlebihan!” pinta Jheni sambil meletakkan
telapak tangannya di wajah Yuna. “Geli aku lihat muka centilmu ini. Yeriko
nggak geli?”
“Dia suka yang geli-geli, Jhen,” sahut Yuna dengan suara
mendesah.
“Asem kamu, Yun!” seru Jheni. “Mentang-mentang udah nikah,
otakmu sekarang isinya anu semua.”
“Anu gimana, Jhen? Biasa aja.”
“Biasa aja buat kamu. Buat aku ... nelangsa, Yun.”
“Hahaha.”
“Yun, Icha belum ada kabar?” tanya Jheni.
“Belum ada.”
“Ke mana dia ya? Aku udah ke rumahnya. Kata tetangganya,
dia pindah. Aku ke kantornya, katanya cuti kerja. Tapi, dia nggak balik lagi ke
perusahaaan.”
“What!?” Yuna membelalakkan matanya.
“Dia ngilang gitu aja. Nggak bisa dihubungi sama sekali.”
“Apa dia patah hati, terus nggak mau berhubungan sama Lutfi
dan orang-orang yang ada di sekitarnya?”
“Tapi ... nggak segitunya juga kali, Yun. Dia terlalu
tertutup. Apalagi soal hubungan dia sama Lutfi yang putus nyambung. Kalo lagi
ngumpul, mereka kelihatan baik-baik aja. Tapi, nggak pernah tahu di belakang
kita seperti apa.”
“Kata Yeriko, mereka udah putus lagi.”
“Chandra juga bilang begitu ke aku.”
“Eergh! Aku geregetan sama hubungan mereka. Si Lutfi itu,
berasa semuanya baik-baik aja. Perasaan Icha gimana?”
“Aku juga nggak tahu, Yun. Icha aja nggak bisa dihubungi
sampe sekarang. Ngilang begitu aja, nggak ada kabar. Ngeselin juga dia ini.”
“Sebenarnya, apa sih yang terjadi sama mereka di Jakarta?”
“Nggak tahu, Yuna. Kita ini sama-sama nggak tahu.”
“Mereka udah balik ke sini, kan?”
“Harusnya sih udah. Kemarin si Chandra bilang kalau Lutfi
sama Icha udah balik.”
“Keluarganya Lutfi gimana sih? Apa mereka nggak nerima
Icha? Makanya, mereka jadi putus?”
“Entahlah. Si Lutfi itu nggak jelas juga. Dia pacaran
kontrak sama Icha. Tapi, dikenalin juga ke keluarganya. Nggak paham deh sama
otaknya itu anak. Geser ke mana-mana.”
“Kalo aku jadi Icha, mending cari cowok lain aja daripada
terombang-ambing nggak jelas begitu.”
“Iya juga. Itu si Icha nurut aja sama Lutfi. Dulu, dia
nggak begitu. Apa ada yang bikin dia tertekan ya? Semenjak pacaran sama Lutfi,
dia malah tertutup gitu.”
“Aku rasa, Lutfi nggak mungkin se-posesif itu.”
“Iya. Tapi, kamu pernah denger dari Lutfi kalau dia pacaran
kontrak sama Icha karena Icha lagi ada masalah keuangan. Keluarga dia, nggak
miskin-miskin banget. Kenapa sampe mau nerima uang dari Lutfi?”
“Bisa jadi, keluarganya juga lagi ada masalah keuangan.
Namanya hidup, nggak tahu kedepannya seperti apa. Aku yang dulu juga pernah
jadi gelandangan. Yeriko yang udah nyelamatin aku. Bisa jadi, Icha juga begitu.
Hanya saja, cara Yeriko dan Lutfi berbeda.”
“Kalo Yeriko sih jelas, Yun. Tapi si Lutfi? Dia yang
slengean itu aja bisa nutupin masalahnya dari kita. Nggak sesuai banget sama
sifatnya yang ceria itu.”
“Yang biasanya ceria, justru nggak mau masalahnya dibagi ke
orang lain. Dia kelihatan santai aja, gitu.”
“Iya juga, sih. Apa karena ... dia nggak mau kita ikut
kepikiran ya? Eh, kamu punya nomer hape Lutfi?” tanya Jheni.
“Ada.”
“Coba telepon dia, deh!” pinta Jheni. “Siapa tahu, dia tahu
keberadaan Icha.”
“Bener juga.” Yuna merogoh ponsek dari dalam tas tangannya
dan langsung menelepon Lutfi.
“Nggak diangkat?” tanya Bellina karena panggilan telepon
dari Yuna tak kunjung tersambung.
“Tapi masuk?”
Yuna mengangguk. “Aku coba lagi.”
Jheni terus menatap layar ponsel yang diletakkan di atas
meja. Menunggu dengan harap-harap cemas.
“Diangkat!” seru Yuna saat layar ponselnya mulai
menunjukkan durasi panggilan.
“Halo ...!” sapa Lutfi. Suaranya terdengar jelas dari
loudspeaker ponsel Yuna, namun terdengar lemah.
“Kamu tidur, Lut?” tanya Yuna.
“Hmm.” Suara Lutfi masih saja terdengar lemah.
“Heh, siang bolong gini masih aja tidur. Kebiasaan Tuan
Muda yang satu ini nggak pernah hilang. Ntar jodohmu diambil orang kalau tidur
terus. Hahaha.” Jheni tergelak sambil menatap layar ponsel Yuna.
“Jhen, kamu seneng banget kalo lihat orang lain susah. Aku
... mmh, lagi dirawat di rumah sakit,” tutur Lutfi lirih.
“Hah!?” Jheni dan Yuna membelalakkan mata bersamaan.
“Di rumah sakit mana, Lut?”
“Pertamina,” jawab Lutfi lirih.
“Di Surabaya atau Jakarta?” tanya Jheni.
“Surabaya, Jhen.”
“Kamu sakit apa?” tanya Yuna lagi.
“Icha ....” Suara Lutfi terdengar sangat lirih.
“Icha kenapa?” tanya Yuna. Ia dan Jheni saling pandang.
“Nggak papa, Yun.”
“Sekarang, dia di mana?”
“Aku nggak tahu. Tolong, cari dia ya!”
“Kita ke rumah sakit dulu!” sahut Jheni.
“Aku nggak papa, Jhen. Cuma luka sedikit.”
“Luka?”
“Aku nggak yakin kalau kamu baik-baik aja. Kamu udah nggak
bisa ngakak gitu,” sahut Jheni.
“Kamu tuh, Jhen. Aku beneran baik-baik aja. Aku khawatir
sama Icha. Setelah ngantar aku ke rumah sakit. Dia nggak kelihatan lagi,” tutur
Lutfi.
“Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama kalian?” tanya
Jheni.
“Icha ... dia ... dia nusuk aku dan ...”
“What!?” Yuna dan Jheni lebih terkejut lagi mendengar
ucapan Lutfi.
“Aku nggak papa. Kalian, tolong cari Icha ya!” pinta Lutfi
lirih.
“Kami ke rumah sakit sekarang!” seru Yuna sambil mematikan
panggilan teleponnya.
“Icha jahat banget!” sahut Jheni. “Bisa-bisanya dia nusuk
Lutfi. Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama mereka?” Jheni bangkit dari
duduknya. “Aku ganti baju dulu. Kita langsung ke rumah sakit.”
Yuna menganggukkan kepala.
“Kasih tahu Yeriko sama Chandra!” seru Jheni sambil
melangkah masuk ke kamarnya.
“Mereka lagi meeting. Bisa ditelepon atau nggak ya?” tanya
Yuna.
“Chat aja! Kalau chat, pasti dibaca pas mereka udah kelar
meeting!” sahut Jheni dari kamarnya.
“Oke.” Yuna langsung mengirimkan pesan singkat kepada
Yeriko dan Chandra kalau dirinya akan pergi ke rumah sakit bersama Jheni. Ia
juga memberitahukan keadaan Lutfi saat ini.
Beberapa menit kemudian, Jheni sudah berganti pakaian.
Mereka langsung bergegas pergi ke rumah sakit.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment