Thursday, February 5, 2026

Perfect Hero Bab 359 : What's Wrong With Icha?

 


“Halo ... My Honey Bunny Jheni ...!” seru  Yuna begitu Jheni membukakan pintu untuknya.

“Cepet banget?”

Yuna meringis sambil menatap Jheni.

“Aku harus balik ke kantor. Aku nitip istriku ya!” pamit Yeriko.

Jheni menganggukkan kepala. “Jangan lupa upah buat pengasuh ibu hamil ya!”

Yeriko tersenyum kecil. “Udah dibawain sama Yuna,” sahut Yeriko sambil menatap kantong makanan yang dibawa istrinya.

Jheni memonyongkan bibirnya.

“Aku pergi dulu, jangan pergi ke mana-mana ya!”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi.

“Idih, mentang-mentang udah nikah. Senang banget nyiksa kami yang belum jelas jodohnya di mana,” celetuk Jheni.

“Buruan minta dinikahin sama Chandra!” seru Yeriko sambil membuka pintu mobilnya.

“Kamu ...!? Sejak kapan jadi tukang ngolok!?” dengus Jheni.

Yeriko tergelak. Ia segera masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi.

“Yun, suami kamu itu udah mulai ngece kayak kamu. Virusmu ini udah nular ke dia?” tanya Jheni sambil menoyor dahi Yuna.

Yuna hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Jheni.

“Masuk, yuk!” ajak Jheni.

Yuna mengangguk, ia melangkah masuk ke rumah Jheni. Kemudian meletakkan makanan ke atas meja ruang tamu.

“Taruh di meja makan aja, Yun!” pinta Jheni.

“Di sini aja, Jhen. Enak lesehan.”

“Kebiasaan banget. Untungnya aku udah pasang karpet bulu.”

Yuna meringis menatap Jheni. “Kamu sengaja pasang kayak gini buat aku ya? Sejak kapan kamu peduli sama dekorasi rumah kamu?”

“Sejak kamu hamil dan suami kamu itu makin cerewet!” sahut Jheni.

“Hah!?” Yuna melongo menatap Jheni.

Jheni meraih sepotong kue dari kantong makanan yang dibawa Yuna dan melahapnya. “Ini ... ini ... ini ... semua kerjaan suami kamu,” tuturnya sambil menunjuk beberapa barang yang tak pernah ada di dalam rumahnya.

“Hah!? Kenapa dia ...?”

“Dia tahu kalau kamu paling sering ke sini. Dia bilang, rumah ini harus nyaman buat istrinya yang lagi hamil. Berlebihan banget suami kamu itu. Dia pikir, rumah ini nggak nyaman buat kamu? Berasa rumah ini punya dia.

Yuna terkekeh geli mendengar ucapan Jheni. “Jhen, karena kasih sayang dari suamiku itu berlebihan, sampai tumpah-tumpah. Jadi, aku mau persembahkan kasih sayangku hanya untukmu seorang,” goda Yuna.

“Nggak usah berlebihan!” pinta Jheni sambil meletakkan telapak tangannya di wajah Yuna. “Geli aku lihat muka centilmu ini. Yeriko nggak geli?”

“Dia suka yang geli-geli, Jhen,” sahut Yuna dengan suara mendesah.

“Asem kamu, Yun!” seru Jheni. “Mentang-mentang udah nikah, otakmu sekarang isinya anu semua.”

Anu gimana, Jhen? Biasa aja.”

“Biasa aja buat kamu. Buat aku ... nelangsa, Yun.”

“Hahaha.”

“Yun, Icha belum ada kabar?” tanya Jheni.

“Belum ada.”

“Ke mana dia ya? Aku udah ke rumahnya. Kata tetangganya, dia pindah. Aku ke kantornya, katanya cuti kerja. Tapi, dia nggak balik lagi ke perusahaaan.”

“What!?” Yuna membelalakkan matanya.

“Dia ngilang gitu aja. Nggak bisa dihubungi sama sekali.”

“Apa dia patah hati, terus nggak mau berhubungan sama Lutfi dan orang-orang yang ada di sekitarnya?”

“Tapi ... nggak segitunya juga kali, Yun. Dia terlalu tertutup. Apalagi soal hubungan dia sama Lutfi yang putus nyambung. Kalo lagi ngumpul, mereka kelihatan baik-baik aja. Tapi, nggak pernah tahu di belakang kita seperti apa.”

“Kata Yeriko, mereka udah putus lagi.”

“Chandra juga bilang begitu ke aku.”

“Eergh! Aku geregetan sama hubungan mereka. Si Lutfi itu, berasa semuanya baik-baik aja. Perasaan Icha gimana?”

“Aku juga nggak tahu, Yun. Icha aja nggak bisa dihubungi sampe sekarang. Ngilang begitu aja, nggak ada kabar. Ngeselin juga dia ini.”

“Sebenarnya, apa sih yang terjadi sama mereka di Jakarta?”

“Nggak tahu, Yuna. Kita ini sama-sama nggak tahu.”

“Mereka udah balik ke sini, kan?”

“Harusnya sih udah. Kemarin si Chandra bilang kalau Lutfi sama Icha udah balik.”

“Keluarganya Lutfi gimana sih? Apa mereka nggak nerima Icha? Makanya, mereka jadi putus?”

“Entahlah. Si Lutfi itu nggak jelas juga. Dia pacaran kontrak sama Icha. Tapi, dikenalin juga ke keluarganya. Nggak paham deh sama otaknya itu anak. Geser ke mana-mana.”

“Kalo aku jadi Icha, mending cari cowok lain aja daripada terombang-ambing nggak jelas begitu.”

“Iya juga. Itu si Icha nurut aja sama Lutfi. Dulu, dia nggak begitu. Apa ada yang bikin dia tertekan ya? Semenjak pacaran sama Lutfi, dia malah tertutup gitu.”

“Aku rasa, Lutfi nggak mungkin se-posesif itu.”

“Iya. Tapi, kamu pernah denger dari Lutfi kalau dia pacaran kontrak sama Icha karena Icha lagi ada masalah keuangan. Keluarga dia, nggak miskin-miskin banget. Kenapa sampe mau nerima uang dari Lutfi?”

“Bisa jadi, keluarganya juga lagi ada masalah keuangan. Namanya hidup, nggak tahu kedepannya seperti apa. Aku yang dulu juga pernah jadi gelandangan. Yeriko yang udah nyelamatin aku. Bisa jadi, Icha juga begitu. Hanya saja, cara Yeriko dan Lutfi berbeda.”

“Kalo Yeriko sih jelas, Yun. Tapi si Lutfi? Dia yang slengean itu aja bisa nutupin masalahnya dari kita. Nggak sesuai banget sama sifatnya yang ceria itu.”

“Yang biasanya ceria, justru nggak mau masalahnya dibagi ke orang lain. Dia kelihatan santai aja, gitu.”

“Iya juga, sih. Apa karena ... dia nggak mau kita ikut kepikiran ya? Eh, kamu punya nomer hape Lutfi?” tanya Jheni.

“Ada.”

“Coba telepon dia, deh!” pinta Jheni. “Siapa tahu, dia tahu keberadaan Icha.”

“Bener juga.” Yuna merogoh ponsek dari dalam tas tangannya dan langsung menelepon Lutfi.

“Nggak diangkat?” tanya Bellina karena panggilan telepon dari Yuna tak kunjung tersambung.

“Tapi masuk?”

Yuna mengangguk. “Aku coba lagi.”

Jheni terus menatap layar ponsel yang diletakkan di atas meja. Menunggu dengan harap-harap cemas.

“Diangkat!” seru Yuna saat layar ponselnya mulai menunjukkan durasi panggilan.

“Halo ...!” sapa Lutfi. Suaranya terdengar jelas dari loudspeaker ponsel Yuna, namun terdengar lemah.

“Kamu tidur, Lut?” tanya Yuna.

“Hmm.” Suara Lutfi masih saja terdengar lemah.

“Heh, siang bolong gini masih aja tidur. Kebiasaan Tuan Muda yang satu ini nggak pernah hilang. Ntar jodohmu diambil orang kalau tidur terus. Hahaha.” Jheni tergelak sambil menatap layar ponsel Yuna.

“Jhen, kamu seneng banget kalo lihat orang lain susah. Aku ... mmh, lagi dirawat di rumah sakit,” tutur Lutfi lirih.

“Hah!?” Jheni dan Yuna membelalakkan mata bersamaan.

“Di rumah sakit mana, Lut?”

“Pertamina,” jawab Lutfi lirih.

“Di Surabaya atau Jakarta?” tanya Jheni.

“Surabaya, Jhen.”

“Kamu sakit apa?” tanya Yuna lagi.

“Icha ....” Suara Lutfi terdengar sangat lirih.

“Icha kenapa?” tanya Yuna. Ia dan Jheni saling pandang.

“Nggak papa, Yun.”

“Sekarang, dia di mana?”

“Aku nggak tahu. Tolong, cari dia ya!”

“Kita ke rumah sakit dulu!” sahut Jheni.

“Aku nggak papa, Jhen. Cuma luka sedikit.”

“Luka?”

“Aku nggak yakin kalau kamu baik-baik aja. Kamu udah nggak bisa ngakak gitu,” sahut Jheni.

“Kamu tuh, Jhen. Aku beneran baik-baik aja. Aku khawatir sama Icha. Setelah ngantar aku ke rumah sakit. Dia nggak kelihatan lagi,” tutur Lutfi.

“Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama kalian?” tanya Jheni.

“Icha ... dia ... dia nusuk aku dan ...”

“What!?” Yuna dan Jheni lebih terkejut lagi mendengar ucapan Lutfi.

“Aku nggak papa. Kalian, tolong cari Icha ya!” pinta Lutfi lirih.

“Kami ke rumah sakit sekarang!” seru Yuna sambil mematikan panggilan teleponnya.

“Icha jahat banget!” sahut Jheni. “Bisa-bisanya dia nusuk Lutfi. Sebenarnya, apa yang udah terjadi sama mereka?” Jheni bangkit dari duduknya. “Aku ganti baju dulu. Kita langsung ke rumah sakit.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kasih tahu Yeriko sama Chandra!” seru Jheni sambil melangkah masuk ke kamarnya.

“Mereka lagi meeting. Bisa ditelepon atau nggak ya?” tanya Yuna.

“Chat aja! Kalau chat, pasti dibaca pas mereka udah kelar meeting!” sahut Jheni dari kamarnya.

“Oke.” Yuna langsung mengirimkan pesan singkat kepada Yeriko dan Chandra kalau dirinya akan pergi ke rumah sakit bersama Jheni. Ia juga memberitahukan keadaan Lutfi saat ini.

Beberapa menit kemudian, Jheni sudah berganti pakaian. Mereka langsung bergegas pergi ke rumah sakit.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Love you more...

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas