Yuna
menyusuri koridor apartemen perlahan, ia langsung masuk ke pintu apartemen
ayahnya begitu sampai di lantai enam.
“Sore,
Ayah!” sapa Yuna sambil menutup pintu apartemen tersebut. Ia langsung
menghentikan gerakan tubuhnya saat mendapati wanita berambut panjang sedang
duduk di sofa ruang tamu.
“Kenapa
dia bisa di sini?” batin Yuna kesal. Ia melepas sepatunya, mengganti dengan
sandal rumah dan langsung menghampiri gadis tersebut.
“Heh!?
Kamu ngapain di sini?” sentak Yuna kesal.
“Cuma
mau silaturahmi sama ayah kamu. Bukannya, ayah kamu udah sembuh? Aku cuma mau
jenguk dia.”
“Keluar
dari sini sekarang juga!” sentak Yuna.
“Yun,
aku dateng ke sini dengan niat baik. Kenapa kamu sekasar ini?” tanya Refi
lembut.
“Baik
apanya, hah!? Kamu jangan manfaatin ayah aku! Keluar dari sini!” seru Yuna.
“Yuna,
ada apa? Kok, teriak-teriak?” tanya Adjie sambil menghampiri Yuna.
“Kenapa
ada dia di rumah ini?” tanya Yuna sambil menunjuk wajah Refi.
“Dia
temen baik kamu kan?” tanya Adjie.
“Temen
baik?” Yuna membelalakkan matanya. “Baik. Baik banget! Sampe aku malas lihat
dia di sini.”
Adjie
menatap Refi dan Yuna bergantian. “Kalian lagi berantem?”
Refi
tersenyum menanggapi pertanyaan Adjie. “Ada sedikit kesalahpahaman, Oom. Biasa,
sahabat memang sering berantem. Tapi, kami tetap saling menyayangi, kok.”
Yuna
membelalakkan mata sembari membuka mulutnya lebar-lebar. “Sejak kapan kita jadi
sahabat? Kenal sama kamu aja aku nggak mau. Apalagi jadi sahabat,” sergahnya.
“Yun,
aku tahu kalau aku banyak salah sama kamu. Aku ke sini mau minta maaf. Mau
berteman sama kamu dengan tulus. Kenapa kamu jahat banget sama aku?” tutur Refi
lembut.
“Heh!?
Kamu jangan sok baik sama aku di depan ayah!” sentak Yuna.
“Yuna,
jangan marah-marah kayak gini!” pinta Adjie lembut. “Kamu lagi hamil, nggak
baik marah-marah seperti ini.”
“Aku
nggak akan marah kalo nggak ada dia di sini,” tutur Yuna menahan kesal.
“Oom,
bantu aku bujuk Yuna, dong! Aku cuma mau berteman sama dia,” pinta Refi.
“Ayah,
nggak usah dengerin dia!” pinta Yuna.
“Ref,
lebih baik kamu pergi dari sini!” seru Yuna.
Refi
terus menatap Adjie. Ia sangat berharap kalau ayah Yuna bisa memberinya
kesempatan.
“Yuna,
Ayah nggak pernah ngajarin kamu bersikap nggak sopan seperti ini,” tegur Adjie
sambil menatap Yuna.
“Yah,
aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan Yuna yang umurnya masih tiga belas tahun.
Aku sadar sama apa yang aku hadapi sekarang. Asal Ayah tahu, dia itu ...”
Ucapan Yuna terhenti saat menatap wajah ayahnya. Ia tidak ingin ayahnya
mengkhawatirkan dirinya kalau tahu siapa Refi yang sesungguhnya.
“Berkelahi
dengan teman, itu hal biasa. Sebaiknya, kalian saling bicara baik-baik dan
selesaikan masalah kalian ini. Ayah tidak akan ikut campur. Kalian sudah
dewasa. Nggak baik saling menyimpan dendam di dalam hati. Kalian bicaralah!
Ayah siapin makan malam untuk kalian.”
“Aku
udah bawa makanan untuk Ayah,” tutur Yuna sambil menunjuk rantang yang ia
letakkan di atas meja.
“Oh.”
Adjie langsung mengambil rantang tersebut. “Ayah siapkan dulu. Kalian bicaralah
baik-baik!” pinta Adjie sambil berlalu menuju dapur.
Yuna
menghela napas. Ia duduk di sofa. Tepat berhadapan dengan Refi. “Nggak usah
basa-basi. Kamu mau ngomong apa?” tanya Yuna.
Refi
tersenyum ke arah Yuna. “Aku nggak lolos tes di Galaxy.”
“Oh.”
“Kamu
bisa bantu aku lagi, Yun!” pinta Refi.
“Nggak
bisa,” jawab Yuna ketus.
“Yun,
please! Aku cuma minta sekali aja. Setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu
lagi. Aku butuh banget kerjaan ini.”
“Aku
nggak punya hak buat ambil keputusan. Kalo emang kamu nggak lolos di Galaxy.
Kamu bisa ngelamar kerja di tempat lain, kan?”
“Aku
nggak mau kerja di perusahaan kecil. Aku butuh uang banyak, Yun. Aku harus
ganti rugi beberapa event yang udah aku terima sebelum aku kecelakaan.”
“Masih
banyak perusahaan besar lain yang bisa kamu coba.”
“Aku
udah coba semua. Harapan aku satu-satunya cuma Galaxy karena aku kenal sama
kamu dan Yeriko. Apa kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi? Aku
janji nggak akan ganggu kamu lagi setelah aku dapet kerjaan.”
“Aku
nggak percaya sama janji palsu kamu itu,” sahut Yuna ketus.
Refi
menghela napas. “Aku serius, Yun. Aku cuma butuh kerjaan ini. Tolong aku,
please!” pintanya dengan wajah mengiba.
Yuna
menatap wajah Refi selama beberapa detik. “Ck.” Ia hanya berdecak kecil. Yuna
tidak menginginkan Refi masuk kembali ke dalam kehidupan Yeriko. Namun ia juga
kesulitan menghadapi Refi yang terus memohon dan mengiba di hadapannya.
“Sekali
ini aja, Yun. Please!”
“Ref,
aku nggak punya wewenang apa pun di perusahaan. Aku tetep nggak bisa bantu
kamu.”
“Kamu
bisa bantu ngomong ke Head HRD Galaxy atau bantu ngomong ke suami kamu itu.
Kalau suami kamu yang sampaikan ke Head HRD, dia pasti bakal dengerin omongan
suami kamu itu. Kamu juga bisa bantu bujuk suami kamu.”
“Ref,
aku ini emang istrinya Yeriko. Tapi aku nggak pernah ikut campur soal
perusahaan dia. Masalah internal perusahaan, aku nggak bisa ikut campur.
Lagipula, kemarin aku udah bantu kamu buat masukin CV. Selebihnya, hasil kerja
keras kamu sendiri.”
“Aku
nggak lolos tes karena Yeriko.”
Yuna
menahan tawa. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan menolak kehadiran mantan
kekasih yang cantik dan berbakat ini.
“Kenapa
ketawa? Kamu juga yang ngerencanain ini di belakang aku?” tanya Refi.
“Ref,
aku udah bilang kalo aku nggak punya hak buat ngurusin masalah internal
perusahaan. Kamu masih nggak paham juga,” sahut Yuna.
“Aku
tahu. Tapi kamu punya peranan besar untuk memengaruhi keputusan suami kamu.”
Yuna
terdiam sejenak, kemudian tersenyum menatap Refi. “Apa itu artinya ... kamu
udah mengakui kalau Yeriko itu milik aku selamanya?”
“Kamu!?”
Yuna
tersenyum bahagia. Membuat Refi semakin iri melihatnya. Namun, ia harus tetap
bersikap baik kepada Yuna untuk mendapatkan pekerjaan.
“Aku
mungkin bisa memengaruhi keputusan suamiku. Tapi, aku lebih memilih menghormati
keputusan dia,” tutur Yuna sambil tersenyum.
Wajah
Refi langsung masam. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Masih ada banyak cara
yang bisa ia lakukan untuk mendesak Yuna agar memberikan pekerjaan untuknya.
“Kalau
bukan karena campur tangan suami kamu. Aku pasti lolos tes di perusahaan itu.”
“Maksud
kamu?”
Refi
tersenyum sinis. “Kamu nggak pernah tahu apa yang dilakuin sama dia selama di
belakang kamu? Dia nggak cerita ke kamu?”
Yuna
terdiam. Ia berpikir sejenak. Walau banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Ia
lebih memilih untuk mempercayai suaminya daripada harus termakan hasutan Refi.
Refi
tersenyum menatap Yuna. “Gimana kalau kalian ngasih aku kesempatan sekali
lagi?”
Yuna
mengerutkan dahinya. “Aku nggak bisa. Semua keputusan perusahaan tetap di
tangan Yeriko. Kamu minta langsung aja ke dia!” sahut Yuna santai karena ia
sudah mengetahui kalau suaminya menolak kehadiran Refi.
Refi
terdiam. Yeriko sudah menolaknya secara terang-terangan. Ia tidak mungkin
menghampirinya lagi. Jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membuat
Yuna membujuk suaminya.
“Udah
nggak ada yang mau dibicarakan? Silakan keluar dari rumah ini!” pinta Yuna
sambil tersenyum manis.
Refi
membelalakkan matanya. “Yun, kasih aku kesempatan lagi! Aku nggak akan pergi
sebelum kamu janji bakal ngasih aku kesempatan sekali lagi.”
“Aku
nggak akan pernah menjanjikan apa pun buat kamu.”
“Yun,
sekali ini aja. Kalo aku sudah dapet kerjaan. Aku gak akan ganggu kamu lagi.”
Yuna
terkekeh mendengar ucapan Refi. “Kamu ini nggak ada nyerahnya?”
“Aku
udah bilang kalo aku nggak akan nyerah gitu aja.”
“Aku
juga nggak akan nyerah!” balas Yuna. “Kalau udah nggak ada lagi yang mau
dibicarain, lebih baik kamu pergi dari sini!”
“Yun,
aku cuma minta kamu ngatur kerjaan buat aku. Itu aja.”
“Aku
nggak bisa, Ref. Kamu minta bantuan sama orang lain aja!”
Refi
terdiam. Ia hampir tak memiliki seorang teman dalam hidupnya. Bukan hampir,
tapi memang tidak pernah berteman. Satu-satunya teman yang ia miliki dulu
adalah Yeriko dan ia menyia-nyiakannya tiga tahun lalu. Sekarang, menyesal pun
tak ada gunanya.
“Yun,
aku mohon ... kasih aku kesempatan sekali lagi!” pinta Refi.
Yuna
menggelengkan kepala. “Keluar dari sini sekarang!”
Refi
bergeming. Ia keukeuh tidak ingin pergi.
“PERGI!”
sentak Yuna. Ia bangkit dari sofa dan menarik lengan Refi.
“Aku
nggak akan pergi sebelum kamu janji bakal ngasih aku kerjaan.”
“Aku
udah bilang kalo aku nggak bisa! Kamu cepet pergi dari sini! PERGI!” seru Yuna
sambil mendorong tubuh Refi ke arah pintu.
“Yuna,
kamu nggak papa?” tanya Adjie. Ia bergegas menghampiri Yuna saat mendengar
teriakan puterinya itu.
“Yah,
aku nggak mau lihat dia!” sahut Yuna kesal.
“Oom,
aku ke sini cuma mau minta tolong. Aku butuh kerjaan. Tolong bujuk Yuna buat
nerima aku di perusahaan suaminya. Aku mohon, Oom!” pinta Refi.
Adjie
menatap Refi dan Yuna bergantian. Ia tidak begitu mengenal Refi. Melihat sikap
puterinya, membuatnya sangat khawatir dengan keberadaan Yuna.
“Pulanglah
dulu! Oom bicarakan dengan Yuna,” pinta Adjie. Ia membuka pintu rumahnya dan
mempersilakan Refi keluar dari rumahnya.
Refi
menatap wajah Adjie. Kakinya berat melangkah pergi karena ia belum mendapatkan
apa yang ia inginkan.
Yuna
langsung mendorong tubuh Refi keluar dari pintu rumah ayahnya.
BRAAK
...!
Yuna
membanting pintu dengan kesal. Ia sangat kesal karena Refi masih terus
mengejarnya. Terlebih, Refi ingin memanfaatkan kebaikan ayahnya. Ia tidak ingin
kehadiran Refi membahayakan ayahnya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih
seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


