Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 336 : Wajah yang Memuakkan

 


Yuna menyusuri koridor apartemen perlahan, ia langsung masuk ke pintu apartemen ayahnya begitu sampai di lantai enam.

“Sore, Ayah!” sapa Yuna sambil menutup pintu apartemen tersebut. Ia langsung menghentikan gerakan tubuhnya saat mendapati wanita berambut panjang sedang duduk di sofa ruang tamu.

“Kenapa dia bisa di sini?” batin Yuna kesal. Ia melepas sepatunya, mengganti dengan sandal rumah dan langsung menghampiri gadis tersebut.

“Heh!? Kamu ngapain di sini?” sentak Yuna kesal.

“Cuma mau silaturahmi sama ayah kamu. Bukannya, ayah kamu udah sembuh? Aku cuma mau jenguk dia.”

“Keluar dari sini sekarang juga!” sentak Yuna.

“Yun, aku dateng ke sini dengan niat baik. Kenapa kamu sekasar ini?” tanya Refi lembut.

“Baik apanya, hah!? Kamu jangan manfaatin ayah aku! Keluar dari sini!” seru Yuna.

“Yuna, ada apa? Kok, teriak-teriak?” tanya Adjie sambil menghampiri Yuna.

“Kenapa ada dia di rumah ini?” tanya Yuna sambil menunjuk wajah Refi.

“Dia temen baik kamu kan?” tanya Adjie.

“Temen baik?” Yuna membelalakkan matanya. “Baik. Baik banget! Sampe aku malas lihat dia di sini.”

Adjie menatap Refi dan Yuna bergantian. “Kalian lagi berantem?”

Refi tersenyum menanggapi pertanyaan Adjie. “Ada sedikit kesalahpahaman, Oom. Biasa, sahabat memang sering berantem. Tapi, kami tetap saling menyayangi, kok.”

Yuna membelalakkan mata sembari membuka mulutnya lebar-lebar. “Sejak kapan kita jadi sahabat? Kenal sama kamu aja aku nggak mau. Apalagi jadi sahabat,” sergahnya.

“Yun, aku tahu kalau aku banyak salah sama kamu. Aku ke sini mau minta maaf. Mau berteman sama kamu dengan tulus. Kenapa kamu jahat banget sama aku?” tutur Refi lembut.

“Heh!? Kamu jangan sok baik sama aku di depan ayah!” sentak Yuna.

“Yuna, jangan marah-marah kayak gini!” pinta Adjie lembut. “Kamu lagi hamil, nggak baik marah-marah seperti ini.”

“Aku nggak akan marah kalo nggak ada dia di sini,” tutur Yuna menahan kesal.

“Oom, bantu aku bujuk Yuna, dong! Aku cuma mau berteman sama dia,” pinta Refi.

“Ayah, nggak usah dengerin dia!” pinta Yuna.

“Ref, lebih baik kamu pergi dari sini!” seru Yuna.

Refi terus menatap Adjie. Ia sangat berharap kalau ayah Yuna bisa memberinya kesempatan.

“Yuna, Ayah nggak pernah ngajarin kamu bersikap nggak sopan seperti ini,” tegur Adjie sambil menatap Yuna.

“Yah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan Yuna yang umurnya masih tiga belas tahun. Aku sadar sama apa yang aku hadapi sekarang. Asal Ayah tahu, dia itu ...” Ucapan Yuna terhenti saat menatap wajah ayahnya. Ia tidak ingin ayahnya mengkhawatirkan dirinya kalau tahu siapa Refi yang sesungguhnya.

“Berkelahi dengan teman, itu hal biasa. Sebaiknya, kalian saling bicara baik-baik dan selesaikan masalah kalian ini. Ayah tidak akan ikut campur. Kalian sudah dewasa. Nggak baik saling menyimpan dendam di dalam hati. Kalian bicaralah! Ayah siapin makan malam untuk kalian.”

“Aku udah bawa makanan untuk Ayah,” tutur Yuna sambil menunjuk rantang yang ia letakkan di atas meja.

“Oh.” Adjie langsung mengambil rantang tersebut. “Ayah siapkan dulu. Kalian bicaralah baik-baik!” pinta Adjie sambil berlalu menuju dapur.

Yuna menghela napas. Ia duduk di sofa. Tepat berhadapan dengan Refi. “Nggak usah basa-basi. Kamu mau ngomong apa?” tanya Yuna.

Refi tersenyum ke arah Yuna. “Aku nggak lolos tes di Galaxy.”

“Oh.”

“Kamu bisa bantu aku lagi, Yun!” pinta Refi.

“Nggak bisa,” jawab Yuna ketus.

“Yun, please! Aku cuma minta sekali aja. Setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku butuh banget kerjaan ini.”

“Aku nggak punya hak buat ambil keputusan. Kalo emang kamu nggak lolos di Galaxy. Kamu bisa ngelamar kerja di tempat lain, kan?”

“Aku nggak mau kerja di perusahaan kecil. Aku butuh uang banyak, Yun. Aku harus ganti rugi beberapa event yang udah aku terima sebelum aku kecelakaan.”

“Masih banyak perusahaan besar lain yang bisa kamu coba.”

“Aku udah coba semua. Harapan aku satu-satunya cuma Galaxy karena aku kenal sama kamu dan Yeriko. Apa kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi? Aku janji nggak akan ganggu kamu lagi setelah aku dapet kerjaan.”

“Aku nggak percaya sama janji palsu kamu itu,” sahut Yuna ketus.

Refi menghela napas. “Aku serius, Yun. Aku cuma butuh kerjaan ini. Tolong aku, please!” pintanya dengan wajah mengiba.

Yuna menatap wajah Refi selama beberapa detik. “Ck.” Ia hanya berdecak kecil. Yuna tidak menginginkan Refi masuk kembali ke dalam kehidupan Yeriko. Namun ia juga kesulitan menghadapi Refi yang terus memohon dan mengiba di hadapannya.

“Sekali ini aja, Yun. Please!”

“Ref, aku nggak punya wewenang apa pun di perusahaan. Aku tetep nggak bisa bantu kamu.”

“Kamu bisa bantu ngomong ke Head HRD Galaxy atau bantu ngomong ke suami kamu itu. Kalau suami kamu yang sampaikan ke Head HRD, dia pasti bakal dengerin omongan suami kamu itu. Kamu juga bisa bantu bujuk suami kamu.”

“Ref, aku ini emang istrinya Yeriko. Tapi aku nggak pernah ikut campur soal perusahaan dia. Masalah internal perusahaan, aku nggak bisa ikut campur. Lagipula, kemarin aku udah bantu kamu buat masukin CV. Selebihnya, hasil kerja keras kamu sendiri.”

“Aku nggak lolos tes karena Yeriko.”

Yuna menahan tawa. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan menolak kehadiran mantan kekasih yang cantik dan berbakat ini.

“Kenapa ketawa? Kamu juga yang ngerencanain ini di belakang aku?” tanya Refi.

“Ref, aku udah bilang kalo aku nggak punya hak buat ngurusin masalah internal perusahaan. Kamu masih nggak paham juga,” sahut Yuna.

“Aku tahu. Tapi kamu punya peranan besar untuk memengaruhi keputusan suami kamu.”

Yuna terdiam sejenak, kemudian tersenyum menatap Refi. “Apa itu artinya ... kamu udah mengakui kalau Yeriko itu milik aku selamanya?”

“Kamu!?”

Yuna tersenyum bahagia. Membuat Refi semakin iri melihatnya. Namun, ia harus tetap bersikap baik kepada Yuna untuk mendapatkan pekerjaan.

“Aku mungkin bisa memengaruhi keputusan suamiku. Tapi, aku lebih memilih menghormati keputusan dia,” tutur Yuna sambil tersenyum.

Wajah Refi langsung masam. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Masih ada banyak cara yang bisa ia lakukan untuk mendesak Yuna agar memberikan pekerjaan untuknya.

“Kalau bukan karena campur tangan suami kamu. Aku pasti lolos tes di perusahaan itu.”

“Maksud kamu?”

Refi tersenyum sinis. “Kamu nggak pernah tahu apa yang dilakuin sama dia selama di belakang kamu? Dia nggak cerita ke kamu?”

Yuna terdiam. Ia berpikir sejenak. Walau banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Ia lebih memilih untuk mempercayai suaminya daripada harus termakan hasutan Refi.

Refi tersenyum menatap Yuna. “Gimana kalau kalian ngasih aku kesempatan sekali lagi?”

Yuna mengerutkan dahinya. “Aku nggak bisa. Semua keputusan perusahaan tetap di tangan Yeriko. Kamu minta langsung aja ke dia!” sahut Yuna santai karena ia sudah mengetahui kalau suaminya menolak kehadiran Refi.

Refi terdiam. Yeriko sudah menolaknya secara terang-terangan. Ia tidak mungkin menghampirinya lagi. Jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membuat Yuna membujuk suaminya.

“Udah nggak ada yang mau dibicarakan? Silakan keluar dari rumah ini!” pinta Yuna sambil tersenyum manis.

Refi membelalakkan matanya. “Yun, kasih aku kesempatan lagi! Aku nggak akan pergi sebelum kamu janji bakal ngasih aku kesempatan sekali lagi.”

“Aku nggak akan pernah menjanjikan apa pun buat kamu.”

“Yun, sekali ini aja. Kalo aku sudah dapet kerjaan. Aku gak akan ganggu kamu lagi.”

Yuna terkekeh mendengar ucapan Refi. “Kamu ini nggak ada nyerahnya?”

“Aku udah bilang kalo aku nggak akan nyerah gitu aja.”

“Aku juga nggak akan nyerah!” balas Yuna. “Kalau udah nggak ada lagi yang mau dibicarain, lebih baik kamu pergi dari sini!”

“Yun, aku cuma minta kamu ngatur kerjaan buat aku. Itu aja.”

“Aku nggak bisa, Ref. Kamu minta bantuan sama orang lain aja!”

Refi terdiam. Ia hampir tak memiliki seorang teman dalam hidupnya. Bukan hampir, tapi memang tidak pernah berteman. Satu-satunya teman yang ia miliki dulu adalah Yeriko dan ia menyia-nyiakannya tiga tahun lalu. Sekarang, menyesal pun tak ada gunanya.

“Yun, aku mohon ... kasih aku kesempatan sekali lagi!” pinta Refi.

Yuna menggelengkan kepala. “Keluar dari sini sekarang!”

Refi bergeming. Ia keukeuh tidak ingin pergi.

“PERGI!” sentak Yuna. Ia bangkit dari sofa dan menarik lengan Refi.

“Aku nggak akan pergi sebelum kamu janji bakal ngasih aku kerjaan.”

“Aku udah bilang kalo aku nggak bisa! Kamu cepet pergi dari sini! PERGI!” seru Yuna sambil mendorong tubuh Refi ke arah pintu.

“Yuna, kamu nggak papa?” tanya Adjie. Ia bergegas menghampiri Yuna saat mendengar teriakan puterinya itu.

“Yah, aku nggak mau lihat dia!” sahut Yuna kesal.

“Oom, aku ke sini cuma mau minta tolong. Aku butuh kerjaan. Tolong bujuk Yuna buat nerima aku di perusahaan suaminya. Aku mohon, Oom!” pinta Refi.

Adjie menatap Refi dan Yuna bergantian. Ia tidak begitu mengenal Refi. Melihat sikap puterinya, membuatnya sangat khawatir dengan keberadaan Yuna.

“Pulanglah dulu! Oom bicarakan dengan Yuna,” pinta Adjie. Ia membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Refi keluar dari rumahnya.

Refi menatap wajah Adjie. Kakinya berat melangkah pergi karena ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan.

Yuna langsung mendorong tubuh Refi keluar dari pintu rumah ayahnya.

BRAAK ...!

Yuna membanting pintu dengan kesal. Ia sangat kesal karena Refi masih terus mengejarnya. Terlebih, Refi ingin memanfaatkan kebaikan ayahnya. Ia tidak ingin kehadiran Refi membahayakan ayahnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 335 : Pengusiran untuk Refi

 


“Tunggu!” seru Refi sambil menatap punggung Yeriko.

Yeriko berdecak kesal. “Yan, bawa perempuan ini pergi dari sini!” teriaknya sambil berbalik dan menunjuk wajah Refi.

Riyan mengangguk. Ia segera menarik lengan Refi.

“Jangan sentuh aku!” sentak Refi sambil menepiskan tangan Riyan.

Yeriko membuka pintu mobil dengan santai.

Refi langsung berlari dan menahan pintu mobil Yeriko agar tidak terbuka. “Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita masih bisa berteman? Kenapa kamu ngindar terus dari aku?”

 Yeriko tak menyahut. Ia berusaha membuka pintu mobilnya kembali.

“Aku salah apa sama kamu?” seru Refi sambil menutup kembali pintu mobil yang sedikit terbuka.

Yeriko melipat kedua tangan di dadanya sambil menatap tajam ke arah Refi. “Sejak pertama kali kamu nemuin istriku, sejak itu kamu udah salah!” sentak Yeriko.

Refi mengerutkan dahinya. “Aku nemuin istri kamu cuma buat berteman. Emangnya salah?”

“Yan, bawa dia pergi dari sini!” teriak Yeriko. “Kamu denger perintah aku atau nggak!”

Riyan menganggukkan kepala. “Maaf, Mbak Refi!” ucapnya sambil menarik lengan Refi agar menjauh dari bosnya.

“Yer, kalau kamu nggak mau ngasih aku kesempatan buat kerja di sini. Aku bakal cari Yuna dan nggak akan ngelepasin dia sampai aku dapet kerjaan!” seru Refi.

Yeriko tersenyum sinis. “Coba aja!” Ia langsung masuk ke dalam mobil. Bergegas membawa mobilnya keluar dari parkiran.

“Aargh …! Ngeselin banget!” seru Refi sambil menghentakkam kakinya. Ia menatap wajah Riyan yang masih memegang lengannya. “Lepasin!”

Riyan melepas genggamannya perlahan.

Refi mendengus kesal dan melangkah pergi meninggalkan Riyan. Belum sampai jauh, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Riyan.

“Eh, aku mau tanya sama kamu. Lebih cantik siapa antara aku sama Yuna?” tanya Refi.

“Lebih cantik Mbak Refi,” jawab Riyan.

Refi langsung tersenyum mendengar jawaban Riyan. Ia sangat yakin kalau bisa mendapatkan Yeriko kembali.

“Tapi jauh lebih baik Nyonya Muda,” lanjut Riyan.

Refi langsung menautkan kedua alisnya. “Maksud kamu!?”

Riyan menahan tawa.

Refi menghentakkan kakinya dan berbalik. Ia bergegas meninggalkan Riyan dengan perasaan kesal. Ia tidak menyangka kalau dirinya juga akan dipermalukan oleh Riyan yang hanya seorang asisten.

Riyan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia memesan taksi karena bosnya meninggalkan dirinya begitu saja.

 

Sepanjang perjalanan, Yeriko sangat kesal karena sikap Refi yang masih saja ingin memanfaatkan kebaikan istrinya. Sesampainya di rumah, Yeriko langsung menghampiri istrinya yang sedang bersantai sambil membaca buku.

“Udah pulang?” Yuna langsung meletakkan bukunya ke atas meja begitu melihat suaminya pulang.

Yeriko mengangguk sambil melepas jasnya.

“Aku kira mau lembur sampai larut malam. Aku siapin makan malam dulu!” Yuna langsung beranjak dari tempat duduknya.

“Nggak usah!” pinta Yeriko.

“Kenapa?”

“Kita makan di luar aja.”

“Eh!?”

“Aku mandi dulu!”

“Kamu nggak capek?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. Ia bergegas naik ke kamarnya.

Yuna menggigit bibirnya. Yeriko terlihat sangat lelah. Alangkah baiknya jika ia memberikan banyak waktu untuk istirahat daripada harus keluar rumah.

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah bersiap untuk pergi.

“Ayo!” ajak Yeriko.

Yuna bergeming. “Kamu yakin, nggak capek?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku perlu udara segar.”

Yuna tersenyum. Ia tidak bisa menolak keinginan suaminya, ia hanya bisa menurutinya. “Apa dia lagi banyak masalah?” batin Yuna.

 

Tepat jam delapan malam, Yuna dan Yeriko sampai di Kawi Lounge Sheraton Hotel & Tower Surabaya.

“Mau makan apa?” tanya Yeriko.

“Steak aja,” jawab Yuna.

Yeriko langsung memesan beberapa makanan.

“Yun …!”

“Ya.”

“Tadi, Refi nungguin aku di parkiran sampai aku pulang.”

“Hah!?” Yuna melongo mendengar ucapan Yeriko. “Kenapa? Apa karena … dia nggak lolos masuk perusahaan?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu bisa menghindari dia kan?”

“Eh!?”

“Kemungkinan, dia bakal nyari kamu lagi. Aku harap, kamu nggak terpengaruh sama dia.”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Ia pikir, menolak Refi masuk ke perusahaannya adalah hal yang tepat.

Yuna menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah Yeriko. “Kamu nggak perlu khawatir sama aku. Aku bakal jaga diri baik-baik,” tutur Yuna sambil menggenggam tangan Yeriko.

Yeriko balik menggenggam tangan Yuna dan mengecupnya penuh kasih sayang. “Aku akan jaga kamu dan anak kita,” tuturnya lembut.

Yuna tertawa kecil. “Kenapa kamu kelihatan khawatir cuma karena Refi? Apa ada masalah lain?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Cuma masalah kerjaan. Lumayan rumit.”

“Aku yakin, kamu pasti bisa menghadapinya dengan mudah.”

Yeriko tersenyum sambil mengangguk.

“Besok, kamu ada waktu kan?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Jadwal pemeriksaan kandungan sudah masuk dalam agendaku.”

Yuna tersenyum senang. “Oh ya, kamu udah pergi ke pengrajin keramik yang aku kasih tahu kemarin?”

Yuna menggelengkan kepala. “Rencananya, mau ke sana besok. Setelah periksa kandungan aku.”

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Temenin ya!” pinta Yuna manja.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. Ia menikmati makan malamnya sambil menatap wajah Yuna. Ia bahagia bisa melihat Yuna tersenyum. Ia akan terus berusaha menjaga senyuman itu di bibir Yuna.

 

 

Keesokan harinya …

Yeriko menemani Yuna memeriksakan kandungannya. Ia juga mengikuti kelas mengasuh bayi yang disarankan oleh dokter.

“Ay, makasih ya! Kamu udah sempatkan waktu buat ikut kelas ini.”

Yeriko tersenyum kecil. “Udah kewajiban aku sebagai suami dan calon ayah.”

Yuna tersenyum. Ia dan Yeriko menyimak dan mengikuti instruksi dari salah satu bidan yang memberikan pelatihan perawatan pada bayi baru lahir.

“Aku sudah biasa mandiin kamu. Mandiin bayi, kayaknya mandiin bayi nggak terlalu sulit,” bisik Yeriko sambil mengamati boneka yang ia pegang.

Yuna nyengir menatap Yeriko. “Sombongnya keluar,” celetuknya sambil mencipratkan air di tangannya ke wajah Yeriko.

“Argh, bajuku basah!” Yeriko mendelik ke arah Yuna.

Yuna terkekeh menatap Yeriko.

Yeriko mengerutkan hidung sambil menahan tawa. Ia balik mencipratkan air ke wajah Yuna.

“Iih … kamu kok balas?” seru Yuna balik mencipratkan air ke wajah Yeriko.

Yeriko tergelak sambil menghindari tangan Yuna.

“Hei, jangan main air! Lantainya jadi basah, bahaya buat ibu hamil,” tegur bidan yang mendampingi mereka.

Yuna dan Yeriko saling pandang, mereka tertawa dalam hati.

Yeriko bergegas mencari kain untuk mengelap lantai yang basah.

“Biar aku aja yang ngelap lantainya,” pinta Yuna sambil merebut kain dari tangan Yeriko.

“Biar aku aja!”

“Iih … gimana kalau dilihat orang banyak? Tuan Muda ngepel lantai?” bisik Yuna.

“Gimana kalau orang yang ngelihat berpikir aku sudah menindas istriku sendiri?” balas Yeriko. Ia merebut kembali kain dari tangan Yuna dan langsung mengelap lantai di bawahnya yang basah karena percikan air.

Yuna tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?”

“Bukannya kamu lebih suka menindas aku?”

Yeriko menatap wajah Yuna. “Aku nggak suka menindas, aku lebih suka menindis kamu,” jawab Yeriko berbisik.

Yuna tertawa kecil sambil memukul dada Yeriko.

“Aw …! Rasanya, kamu yang lebih suka menindas aku!” rintih Yeriko lirih sambil menahan tawa.

Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Biar adil. Kamu yang menindih, aku yang menindas. Hahaha.”

Yeriko ikut tergelak. “Baiklah. Malam ini kamu harus nyiapin kekuatan lebih,”  bisik Yeriko.

Yuna nyengir sambil menyikut perut Yeriko. “Apa-apaan sih!?” dengusnya.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 334 : Pengalihan Pintu Masuk

 



Refi tidak menyerah begitu saja. Ia melangkah menghampiri meja resepsionis.

“Aku mau ketemu sama Yeriko!”  tutur Refi.

“Maaf, Mbak. Apa sudah ada janji sebelumnya?” sapa resepsionis itu dengan ramah.

“Ada,” jawab Refi berbohong.

“Sebentar saya cek. Atas nama siapa?” tanya resepsionis itu lagi.

“Refina,” jawab Refi ketus.

Resepsionis itu tetap tersenyum. Ia mengecek jadwal CEO yang sudah diatur dan dimasukkan ke dalam sistem komputer terintegrasi.

“Maaf, Mbak. Hari ini, tidak ada jadwal bertemu klien atas nama Refina,” tutur resepsionis tersebut.

Refi mengernyitkan dahi. “What!? Jadwalnya Yeriko udah diatur dengan baik? Ketat banget sih?” celetuknya lirih.

“Mmh, Mbak, aku belum ada janji sama Yeriko. Tapi, aku mau ketemu sama Yeriko. Penting banget. Bisa?”

“Saya konfirmasi dulu ya, Mbak. Ada perlu apa ya? Dan apa hubungan Mbak dengan bos kami?”

“Bilang aja, Refi mau ketemu sama dia.”

Resepsionis tersebut menganggukkan kepala. Ia langsung menelepon Riyan.

“Selamat pagi, Pak Riyan. Ada orang yang ingin bertemu dengan Pak Direktur.”

“Siapa?” tanya Riyan dari ujung telepon.

“Ibu Refina.”

“Pak Direktur sedang sibuk. Beliau tidak mau bertemu dengan siapa pun kecuali Nyonya Muda,” tutur Riyan.

“Baik, Pak.” Resepsionis tersebut langsung mematikan teleponnya dan menatap Refi.

“Gimana, Mbak?” tanya Refi.

“Maaf, Mbak. Pak Direktur tidak bisa ditemui sebelum buat janji terlebih dahulu,” jawab resepsionis tersebut sambil tersenyum manis.

Refi memutar bola matanya. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan menunggu di lobby sampai Yuna muncul membawakan makan siang untuk suaminya.

 

Sementara itu, di lantai paling atas, Yeriko terlihat kesal saat Refi mencari dirinya.

Ia langsung merogoh ponsel dan menelepon Angga.

“Halo, Pak Bos!” sapa Angga begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Angga, Nyonya sudah berangkat ke sini?” tanya Yeriko.

“Belum. Lagi siap-siap, Pak Bos!”

“Kamu bawa Nyonya lewat belakang gedung ya! Jangan masuk lewat lobby depan. Nanti, Riyan akan tunggu kalian di sana.”

“Oke, Pak Bos. Ada apa ya?” tanya Angga.

“Nggak usah banyak tanya! Ikuti aja perintah saya!”

“Siap, Pak Bos!” sahut Angga.

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Yan, kamu tunggu Angga di pintu belakang. Jangan sampai istriku ketemu sama Refi!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” jawab Riyan. Ia bergegas meninggalkan ruang kerja Yeriko.

Yeriko menarik napas sambil menatap ke luar jendela. Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi. Selain musuh-musuh bisnisnya, juga wanita-wanita yang berusaha merusak rumah tangganya. Terlebih, mereka menargetkan Yuna, wanita yang paling dia cintai.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di pintu belakang gedung Galaxy Group. Riyan sudah menunggu Yuna, tepat di pintu keluar masuk logistik.

“Ngga, tumben kita lewat belakang. Ada apa ya?” tanya Yuna saat ia keluar dari mobil.

“Nggak tahu, Nyonya Bos. Pak Bos mintanya begitu.”

“Oh.” Yuna langsung melangkahkan kakinya menghampiri Riyan yang menunggunya di pintu.

“Selamat siang, Nyonya Muda!” sapa Riyan setengah membungkuk.

Yuna tersenyum. “Siang juga. Kenapa aku harus lewat sini ya?” tanya Yuna.

“Nggak papa. Lobby lagi dibersihkan. Lantainya licin. Takut membahayakan Nyonya Muda. Jadi, Pak Bos minta lewat sini saja. Silakan, Nyonya!” Riyan mempersilakan Yuna untuk melangkah lebih dulu.

“Oh.” Yuna melangkahkan kakinya menyusuri koridor.

Riyan tersenyum, ia mengikuti langkah Yuna dari belakang.

 

“Selamat siang, Nyonya Bos!” sapa dua sekretaris Yeriko begitu Yuna sampai ke lantai ruang kerja suaminya.

“Siang,” balas Yuna sambil tersenyum manis. “Pada mau ke mana?”

“Mau makan siang di kantin,” jawab salah satu sekretaris.

“Oh.” Yuna menganggukkan kepala.

“Permisi Nyonya Bos!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis. Ia melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruang kerja Yeriko.

“Siang!” sapa Yuna begitu ia melihat suaminya sedang berdiri sambil menatap pemandangan di luar jendela.

Yeriko langsung berbalik. Ia tersenyum menatap Yuna dan langsung menghampirinya.

“Kamu nggak papa ‘kan?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia meletakkan kotak bekal ke atas meja dan menyiapkan makan siang untuk suaminya.

“Hari ini wawancara untuk penerimaan karyawan kan? Gimana si Refi, lolos nggak tes tertulis kemarin?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. Ia duduk di kursi yang ada di samping Yuna.

Yuna tersenyum. “Ya udah sih, yang penting dia udah usaha. Aku juga nggak perlu ngerasa bersalah karena sudah tepati janji aku ke dia.”

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang terlihat ceria. Ia masih tidak mengerti kenapa Yuna begitu santai menghadapi musuhnya. “Apa orang baik, hatinya memang nggak pernah membenci?” batin Yeriko.

“Hei, kok ngelamun? Ayo, makan!”

Yeriko mengerjapkan matanya. Ia langsung mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh Yuna dan melahapnya perlahan. “Kamu nggak ikut makan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku tadi udah makan bareng Ayah. Aku anterin makan siang ke sana dan dia ngajak makan bareng.”

“Oh.” Yeriko melanjutkan makannya.

Yuna terus tersenyum sambil menatap wajah suaminya.

“Oh ya, aku nangkap orang yang udah nyebarin video kamu sama Andre,” tutur Yeriko.

“Hah!? Beneran udah ketemu?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Siapa?”

“Sepupu kamu.”

“Bellina?”

Yeriko mengangguk lagi.

“Huft, kenapa sih dia masih nggak berubah?” gumam Yuna. “Padahal, aku udah banyak ngalah sama dia,” lanjutnya sambil menjatuhkan dagu ke atas meja.

Yeriko tersenyum sambil mengusap kepala Yuna. “Kamu tenang aja!” pintanya lembut. “Aku udah tangani masalah ini.”

“Kamu laporin dia ke polisi?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu mau dia berubah kan? Aku punya cara sendiri.”

Yuna menggigit bibirnya. “Andai aja dia bukan keluargaku. Mungkin, akan lebih mudah menghadapinya. Aku nggak mau perseteruan keluargaku sampai ke publik dan membuat nama baik keluargaku tercemar. Apalagi, Ayah baru aja sembuh. Jangan sampai dia tahu masalahku dengan Bellina!” pinta Yuna lirih.

Yeriko menganggukkan kepala. “Setelah ini, kamu langsung pulang ya!” pinta Yeriko. “Aku masih banyak kerjaan. Nggak bisa pulang cepat.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Sementara itu, Refi masih terus menunggu kedatangan Yuna di lobby. Namun, hingga jam dua siang, Yuna tak kunjung terlihat.

“Yeriko pasti udah ngerencanain ini semua. Seharusnya, Yuna ngantar makan siang buat Yeri. Kenapa belum muncul juga?” gumam Refi sambil sesekali melirik arloji di tangannya.

Refi terus menunggu di lobby. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia yakin, Yeriko pasti akan muncul.

Selama beberapa jam, Refi terus menunggu Yeriko. Hari mulai petang, semua karyawan mulai keluar dari gedung tersebut. Hanya ada beberapa karyawan yang masih bekerja.

“Apa dia sebenarnya nggak ada di kantor? Aku juga nggak lihat asistennya,” gumam Refi. Ia bangkit dari tempat duduknya. Kemudian melangkah menuju parkiran.

Lamborghini biru milik Yeriko masih terparkir di sana. Artinya, Yeriko masih belum pulang.

Refi tersenyum. Ia menghampiri mobil tersebut dan menunggu Yeriko di sana.

Beberapa menit kemudian, Yeriko dan Riyan terlihat menghampirinya. Refi memasang senyuman termanis yang ia miliki.

Yeriko langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Refi bersandar di mobilnya. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya.

Refi tersenyum menatap Yeriko. “Aku nunggu kamu.”

Yeriko tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Riyan yang berdiri di sampingnya. “Bawa pergi perempuan ini!” perintahnya.

“Siap, Pak Bos!” Riyan langsung melangkah menghampiri Refi.

“Tunggu!” seru Refi. “Aku ke sini mau minta penjelasan!”

“Penjelasan apa? Emangnya, aku ngapain kamu?”

“Kenapa aku nggak lolos tes tertulis di perusahaan kamu?” tanya Refi.

Yeriko mengedikkan bahunya. “Tanya aja sama HRD!”

“Aku udah tanya ke HRD. Mereka malah ngusir aku!”

Yeriko menahan tawa. “Yan, bawa dia pergi jauh-jauh!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” Riyan berusaha meraih lengan Refi, namun Refi menepisnya.

Refi melangkah mendekati Yeriko, menatap pria itu selama beberapa detik. Ia menahan kekesalan dalam hatinya. Walau kesal, ia masih sangat berharap kalau Yeriko kembali ke pelukannya.

“Apa karena Yuna?” tanya Refi.

Yeriko tidak menjawab, ekspresinya tetap saja datar.

“Pasti si Yuna yang udah bikin aku nggak lolos, kan? Istri kamu itu bener-bener licik. Dia ngelakuin segala hal buat nyingkirin aku. Padahal, aku udah berusaha buat baik sama dia. Aku cuma mau pekerjaan. Bukan mau ganggu hidup dia!” seru Refi.

Yeriko tersenyum kecil. Semakin Refi memojokkan Yuna, ia semakin membenci Refi. Sebab, ia sangat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

“Aku yang bikin kamu nggak lolos tes, bukan Yuna,” tutur Yeriko sambil melangkah melewati tubuh Refi dan menyentuh pintu mobilnya.

Refi semakin kesal dengan sikap Yeriko yang dingin dan kejam. Ia sangat merindukan Yeriko yang dulu. Pria yang memperlakukan dirinya begitu baik. Ia masih tak percaya kalau Yuna bisa membuat semuanya berubah dalam waktu singkat. Ia tidak akan menyerah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas