Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 334 : Pengalihan Pintu Masuk

 



Refi tidak menyerah begitu saja. Ia melangkah menghampiri meja resepsionis.

“Aku mau ketemu sama Yeriko!”  tutur Refi.

“Maaf, Mbak. Apa sudah ada janji sebelumnya?” sapa resepsionis itu dengan ramah.

“Ada,” jawab Refi berbohong.

“Sebentar saya cek. Atas nama siapa?” tanya resepsionis itu lagi.

“Refina,” jawab Refi ketus.

Resepsionis itu tetap tersenyum. Ia mengecek jadwal CEO yang sudah diatur dan dimasukkan ke dalam sistem komputer terintegrasi.

“Maaf, Mbak. Hari ini, tidak ada jadwal bertemu klien atas nama Refina,” tutur resepsionis tersebut.

Refi mengernyitkan dahi. “What!? Jadwalnya Yeriko udah diatur dengan baik? Ketat banget sih?” celetuknya lirih.

“Mmh, Mbak, aku belum ada janji sama Yeriko. Tapi, aku mau ketemu sama Yeriko. Penting banget. Bisa?”

“Saya konfirmasi dulu ya, Mbak. Ada perlu apa ya? Dan apa hubungan Mbak dengan bos kami?”

“Bilang aja, Refi mau ketemu sama dia.”

Resepsionis tersebut menganggukkan kepala. Ia langsung menelepon Riyan.

“Selamat pagi, Pak Riyan. Ada orang yang ingin bertemu dengan Pak Direktur.”

“Siapa?” tanya Riyan dari ujung telepon.

“Ibu Refina.”

“Pak Direktur sedang sibuk. Beliau tidak mau bertemu dengan siapa pun kecuali Nyonya Muda,” tutur Riyan.

“Baik, Pak.” Resepsionis tersebut langsung mematikan teleponnya dan menatap Refi.

“Gimana, Mbak?” tanya Refi.

“Maaf, Mbak. Pak Direktur tidak bisa ditemui sebelum buat janji terlebih dahulu,” jawab resepsionis tersebut sambil tersenyum manis.

Refi memutar bola matanya. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan menunggu di lobby sampai Yuna muncul membawakan makan siang untuk suaminya.

 

Sementara itu, di lantai paling atas, Yeriko terlihat kesal saat Refi mencari dirinya.

Ia langsung merogoh ponsel dan menelepon Angga.

“Halo, Pak Bos!” sapa Angga begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Angga, Nyonya sudah berangkat ke sini?” tanya Yeriko.

“Belum. Lagi siap-siap, Pak Bos!”

“Kamu bawa Nyonya lewat belakang gedung ya! Jangan masuk lewat lobby depan. Nanti, Riyan akan tunggu kalian di sana.”

“Oke, Pak Bos. Ada apa ya?” tanya Angga.

“Nggak usah banyak tanya! Ikuti aja perintah saya!”

“Siap, Pak Bos!” sahut Angga.

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Yan, kamu tunggu Angga di pintu belakang. Jangan sampai istriku ketemu sama Refi!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” jawab Riyan. Ia bergegas meninggalkan ruang kerja Yeriko.

Yeriko menarik napas sambil menatap ke luar jendela. Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi. Selain musuh-musuh bisnisnya, juga wanita-wanita yang berusaha merusak rumah tangganya. Terlebih, mereka menargetkan Yuna, wanita yang paling dia cintai.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di pintu belakang gedung Galaxy Group. Riyan sudah menunggu Yuna, tepat di pintu keluar masuk logistik.

“Ngga, tumben kita lewat belakang. Ada apa ya?” tanya Yuna saat ia keluar dari mobil.

“Nggak tahu, Nyonya Bos. Pak Bos mintanya begitu.”

“Oh.” Yuna langsung melangkahkan kakinya menghampiri Riyan yang menunggunya di pintu.

“Selamat siang, Nyonya Muda!” sapa Riyan setengah membungkuk.

Yuna tersenyum. “Siang juga. Kenapa aku harus lewat sini ya?” tanya Yuna.

“Nggak papa. Lobby lagi dibersihkan. Lantainya licin. Takut membahayakan Nyonya Muda. Jadi, Pak Bos minta lewat sini saja. Silakan, Nyonya!” Riyan mempersilakan Yuna untuk melangkah lebih dulu.

“Oh.” Yuna melangkahkan kakinya menyusuri koridor.

Riyan tersenyum, ia mengikuti langkah Yuna dari belakang.

 

“Selamat siang, Nyonya Bos!” sapa dua sekretaris Yeriko begitu Yuna sampai ke lantai ruang kerja suaminya.

“Siang,” balas Yuna sambil tersenyum manis. “Pada mau ke mana?”

“Mau makan siang di kantin,” jawab salah satu sekretaris.

“Oh.” Yuna menganggukkan kepala.

“Permisi Nyonya Bos!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis. Ia melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruang kerja Yeriko.

“Siang!” sapa Yuna begitu ia melihat suaminya sedang berdiri sambil menatap pemandangan di luar jendela.

Yeriko langsung berbalik. Ia tersenyum menatap Yuna dan langsung menghampirinya.

“Kamu nggak papa ‘kan?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia meletakkan kotak bekal ke atas meja dan menyiapkan makan siang untuk suaminya.

“Hari ini wawancara untuk penerimaan karyawan kan? Gimana si Refi, lolos nggak tes tertulis kemarin?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. Ia duduk di kursi yang ada di samping Yuna.

Yuna tersenyum. “Ya udah sih, yang penting dia udah usaha. Aku juga nggak perlu ngerasa bersalah karena sudah tepati janji aku ke dia.”

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang terlihat ceria. Ia masih tidak mengerti kenapa Yuna begitu santai menghadapi musuhnya. “Apa orang baik, hatinya memang nggak pernah membenci?” batin Yeriko.

“Hei, kok ngelamun? Ayo, makan!”

Yeriko mengerjapkan matanya. Ia langsung mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh Yuna dan melahapnya perlahan. “Kamu nggak ikut makan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku tadi udah makan bareng Ayah. Aku anterin makan siang ke sana dan dia ngajak makan bareng.”

“Oh.” Yeriko melanjutkan makannya.

Yuna terus tersenyum sambil menatap wajah suaminya.

“Oh ya, aku nangkap orang yang udah nyebarin video kamu sama Andre,” tutur Yeriko.

“Hah!? Beneran udah ketemu?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Siapa?”

“Sepupu kamu.”

“Bellina?”

Yeriko mengangguk lagi.

“Huft, kenapa sih dia masih nggak berubah?” gumam Yuna. “Padahal, aku udah banyak ngalah sama dia,” lanjutnya sambil menjatuhkan dagu ke atas meja.

Yeriko tersenyum sambil mengusap kepala Yuna. “Kamu tenang aja!” pintanya lembut. “Aku udah tangani masalah ini.”

“Kamu laporin dia ke polisi?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu mau dia berubah kan? Aku punya cara sendiri.”

Yuna menggigit bibirnya. “Andai aja dia bukan keluargaku. Mungkin, akan lebih mudah menghadapinya. Aku nggak mau perseteruan keluargaku sampai ke publik dan membuat nama baik keluargaku tercemar. Apalagi, Ayah baru aja sembuh. Jangan sampai dia tahu masalahku dengan Bellina!” pinta Yuna lirih.

Yeriko menganggukkan kepala. “Setelah ini, kamu langsung pulang ya!” pinta Yeriko. “Aku masih banyak kerjaan. Nggak bisa pulang cepat.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Sementara itu, Refi masih terus menunggu kedatangan Yuna di lobby. Namun, hingga jam dua siang, Yuna tak kunjung terlihat.

“Yeriko pasti udah ngerencanain ini semua. Seharusnya, Yuna ngantar makan siang buat Yeri. Kenapa belum muncul juga?” gumam Refi sambil sesekali melirik arloji di tangannya.

Refi terus menunggu di lobby. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia yakin, Yeriko pasti akan muncul.

Selama beberapa jam, Refi terus menunggu Yeriko. Hari mulai petang, semua karyawan mulai keluar dari gedung tersebut. Hanya ada beberapa karyawan yang masih bekerja.

“Apa dia sebenarnya nggak ada di kantor? Aku juga nggak lihat asistennya,” gumam Refi. Ia bangkit dari tempat duduknya. Kemudian melangkah menuju parkiran.

Lamborghini biru milik Yeriko masih terparkir di sana. Artinya, Yeriko masih belum pulang.

Refi tersenyum. Ia menghampiri mobil tersebut dan menunggu Yeriko di sana.

Beberapa menit kemudian, Yeriko dan Riyan terlihat menghampirinya. Refi memasang senyuman termanis yang ia miliki.

Yeriko langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Refi bersandar di mobilnya. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya.

Refi tersenyum menatap Yeriko. “Aku nunggu kamu.”

Yeriko tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Riyan yang berdiri di sampingnya. “Bawa pergi perempuan ini!” perintahnya.

“Siap, Pak Bos!” Riyan langsung melangkah menghampiri Refi.

“Tunggu!” seru Refi. “Aku ke sini mau minta penjelasan!”

“Penjelasan apa? Emangnya, aku ngapain kamu?”

“Kenapa aku nggak lolos tes tertulis di perusahaan kamu?” tanya Refi.

Yeriko mengedikkan bahunya. “Tanya aja sama HRD!”

“Aku udah tanya ke HRD. Mereka malah ngusir aku!”

Yeriko menahan tawa. “Yan, bawa dia pergi jauh-jauh!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” Riyan berusaha meraih lengan Refi, namun Refi menepisnya.

Refi melangkah mendekati Yeriko, menatap pria itu selama beberapa detik. Ia menahan kekesalan dalam hatinya. Walau kesal, ia masih sangat berharap kalau Yeriko kembali ke pelukannya.

“Apa karena Yuna?” tanya Refi.

Yeriko tidak menjawab, ekspresinya tetap saja datar.

“Pasti si Yuna yang udah bikin aku nggak lolos, kan? Istri kamu itu bener-bener licik. Dia ngelakuin segala hal buat nyingkirin aku. Padahal, aku udah berusaha buat baik sama dia. Aku cuma mau pekerjaan. Bukan mau ganggu hidup dia!” seru Refi.

Yeriko tersenyum kecil. Semakin Refi memojokkan Yuna, ia semakin membenci Refi. Sebab, ia sangat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

“Aku yang bikin kamu nggak lolos tes, bukan Yuna,” tutur Yeriko sambil melangkah melewati tubuh Refi dan menyentuh pintu mobilnya.

Refi semakin kesal dengan sikap Yeriko yang dingin dan kejam. Ia sangat merindukan Yeriko yang dulu. Pria yang memperlakukan dirinya begitu baik. Ia masih tak percaya kalau Yuna bisa membuat semuanya berubah dalam waktu singkat. Ia tidak akan menyerah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas