Refi tidak menyerah begitu saja. Ia melangkah menghampiri
meja resepsionis.
“Aku mau ketemu sama Yeriko!” tutur Refi.
“Maaf, Mbak. Apa sudah ada janji sebelumnya?” sapa
resepsionis itu dengan ramah.
“Ada,” jawab Refi berbohong.
“Sebentar saya cek. Atas nama siapa?” tanya resepsionis itu
lagi.
“Refina,” jawab Refi ketus.
Resepsionis itu tetap tersenyum. Ia mengecek jadwal CEO
yang sudah diatur dan dimasukkan ke dalam sistem komputer terintegrasi.
“Maaf, Mbak. Hari ini, tidak ada jadwal bertemu klien atas
nama Refina,” tutur resepsionis tersebut.
Refi mengernyitkan dahi. “What!? Jadwalnya Yeriko udah
diatur dengan baik? Ketat banget sih?” celetuknya lirih.
“Mmh, Mbak, aku belum ada janji sama Yeriko. Tapi, aku mau
ketemu sama Yeriko. Penting banget. Bisa?”
“Saya konfirmasi dulu ya, Mbak. Ada perlu apa ya? Dan apa
hubungan Mbak dengan bos kami?”
“Bilang aja, Refi mau ketemu sama dia.”
Resepsionis tersebut menganggukkan kepala. Ia langsung
menelepon Riyan.
“Selamat pagi, Pak Riyan. Ada orang yang ingin bertemu
dengan Pak Direktur.”
“Siapa?” tanya Riyan dari ujung telepon.
“Ibu Refina.”
“Pak Direktur sedang sibuk. Beliau tidak mau bertemu dengan
siapa pun kecuali Nyonya Muda,” tutur Riyan.
“Baik, Pak.” Resepsionis tersebut langsung mematikan
teleponnya dan menatap Refi.
“Gimana, Mbak?” tanya Refi.
“Maaf, Mbak. Pak Direktur tidak bisa ditemui sebelum buat
janji terlebih dahulu,” jawab resepsionis tersebut sambil tersenyum manis.
Refi memutar bola matanya. Ia tidak akan menyerah begitu
saja. Ia akan menunggu di lobby sampai Yuna muncul membawakan makan siang untuk
suaminya.
Sementara itu, di lantai paling atas, Yeriko terlihat kesal
saat Refi mencari dirinya.
Ia langsung merogoh ponsel dan menelepon Angga.
“Halo, Pak Bos!” sapa Angga begitu panggilan teleponnya
tersambung.
“Angga, Nyonya sudah berangkat ke sini?” tanya Yeriko.
“Belum. Lagi siap-siap, Pak Bos!”
“Kamu bawa Nyonya lewat belakang gedung ya! Jangan masuk
lewat lobby depan. Nanti, Riyan akan tunggu kalian di sana.”
“Oke, Pak Bos. Ada apa ya?” tanya Angga.
“Nggak usah banyak tanya! Ikuti aja perintah saya!”
“Siap, Pak Bos!” sahut Angga.
Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Yan, kamu tunggu Angga di pintu belakang. Jangan sampai
istriku ketemu sama Refi!” perintah Yeriko.
“Siap, Pak Bos!” jawab Riyan. Ia bergegas meninggalkan
ruang kerja Yeriko.
Yeriko menarik napas sambil menatap ke luar jendela.
Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi. Selain musuh-musuh bisnisnya, juga
wanita-wanita yang berusaha merusak rumah tangganya. Terlebih, mereka
menargetkan Yuna, wanita yang paling dia cintai.
Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di pintu
belakang gedung Galaxy Group. Riyan sudah menunggu Yuna, tepat di pintu keluar
masuk logistik.
“Ngga, tumben kita lewat belakang. Ada apa ya?” tanya Yuna
saat ia keluar dari mobil.
“Nggak tahu, Nyonya Bos. Pak Bos mintanya begitu.”
“Oh.” Yuna langsung melangkahkan kakinya menghampiri Riyan
yang menunggunya di pintu.
“Selamat siang, Nyonya Muda!” sapa Riyan setengah
membungkuk.
Yuna tersenyum. “Siang juga. Kenapa aku harus lewat sini
ya?” tanya Yuna.
“Nggak papa. Lobby lagi dibersihkan. Lantainya licin. Takut
membahayakan Nyonya Muda. Jadi, Pak Bos minta lewat sini saja. Silakan,
Nyonya!” Riyan mempersilakan Yuna untuk melangkah lebih dulu.
“Oh.” Yuna melangkahkan kakinya menyusuri koridor.
Riyan tersenyum, ia mengikuti langkah Yuna dari belakang.
“Selamat siang, Nyonya Bos!” sapa dua sekretaris Yeriko
begitu Yuna sampai ke lantai ruang kerja suaminya.
“Siang,” balas Yuna sambil tersenyum manis. “Pada mau ke
mana?”
“Mau makan siang di kantin,” jawab salah satu sekretaris.
“Oh.” Yuna menganggukkan kepala.
“Permisi Nyonya Bos!”
Yuna mengangguk sambil tersenyum manis. Ia melangkahkan
kakinya perlahan memasuki ruang kerja Yeriko.
“Siang!” sapa Yuna begitu ia melihat suaminya sedang
berdiri sambil menatap pemandangan di luar jendela.
Yeriko langsung berbalik. Ia tersenyum menatap Yuna dan
langsung menghampirinya.
“Kamu nggak papa ‘kan?” tanya Yeriko.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia meletakkan kotak bekal
ke atas meja dan menyiapkan makan siang untuk suaminya.
“Hari ini wawancara untuk penerimaan karyawan kan? Gimana
si Refi, lolos nggak tes tertulis kemarin?” tanya Yuna.
Yeriko menggelengkan kepala. Ia duduk di kursi yang ada di
samping Yuna.
Yuna tersenyum. “Ya udah sih, yang penting dia udah usaha.
Aku juga nggak perlu ngerasa bersalah karena sudah tepati janji aku ke dia.”
Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang terlihat ceria. Ia
masih tidak mengerti kenapa Yuna begitu santai menghadapi musuhnya. “Apa orang
baik, hatinya memang nggak pernah membenci?” batin Yeriko.
“Hei, kok ngelamun? Ayo, makan!”
Yeriko mengerjapkan matanya. Ia langsung mengambil makanan
yang sudah disiapkan oleh Yuna dan melahapnya perlahan. “Kamu nggak ikut
makan?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku tadi udah makan bareng
Ayah. Aku anterin makan siang ke sana dan dia ngajak makan bareng.”
“Oh.” Yeriko melanjutkan makannya.
Yuna terus tersenyum sambil menatap wajah suaminya.
“Oh ya, aku nangkap orang yang udah nyebarin video kamu
sama Andre,” tutur Yeriko.
“Hah!? Beneran udah ketemu?”
Yeriko menganggukkan kepala.
“Siapa?”
“Sepupu kamu.”
“Bellina?”
Yeriko mengangguk lagi.
“Huft, kenapa sih dia masih nggak berubah?” gumam Yuna.
“Padahal, aku udah banyak ngalah sama dia,” lanjutnya sambil menjatuhkan dagu
ke atas meja.
Yeriko tersenyum sambil mengusap kepala Yuna. “Kamu tenang
aja!” pintanya lembut. “Aku udah tangani masalah ini.”
“Kamu laporin dia ke polisi?” tanya Yuna.
Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu mau dia berubah kan? Aku
punya cara sendiri.”
Yuna menggigit bibirnya. “Andai aja dia bukan keluargaku.
Mungkin, akan lebih mudah menghadapinya. Aku nggak mau perseteruan keluargaku
sampai ke publik dan membuat nama baik keluargaku tercemar. Apalagi, Ayah baru
aja sembuh. Jangan sampai dia tahu masalahku dengan Bellina!” pinta Yuna lirih.
Yeriko menganggukkan kepala. “Setelah ini, kamu langsung
pulang ya!” pinta Yeriko. “Aku masih banyak kerjaan. Nggak bisa pulang cepat.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum.
Sementara itu, Refi masih terus menunggu kedatangan Yuna di
lobby. Namun, hingga jam dua siang, Yuna tak kunjung terlihat.
“Yeriko pasti udah ngerencanain ini semua. Seharusnya, Yuna
ngantar makan siang buat Yeri. Kenapa belum muncul juga?” gumam Refi sambil
sesekali melirik arloji di tangannya.
Refi terus menunggu di lobby. Ia tidak akan menyerah begitu
saja. Ia yakin, Yeriko pasti akan muncul.
Selama beberapa jam, Refi terus menunggu Yeriko. Hari mulai
petang, semua karyawan mulai keluar dari gedung tersebut. Hanya ada beberapa
karyawan yang masih bekerja.
“Apa dia sebenarnya nggak ada di kantor? Aku juga nggak
lihat asistennya,” gumam Refi. Ia bangkit dari tempat duduknya. Kemudian
melangkah menuju parkiran.
Lamborghini biru milik Yeriko masih terparkir di sana.
Artinya, Yeriko masih belum pulang.
Refi tersenyum. Ia menghampiri mobil tersebut dan menunggu
Yeriko di sana.
Beberapa menit kemudian, Yeriko dan Riyan terlihat
menghampirinya. Refi memasang senyuman termanis yang ia miliki.
Yeriko langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Refi
bersandar di mobilnya. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya.
Refi tersenyum menatap Yeriko. “Aku nunggu kamu.”
Yeriko tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Riyan yang
berdiri di sampingnya. “Bawa pergi perempuan ini!” perintahnya.
“Siap, Pak Bos!” Riyan langsung melangkah menghampiri Refi.
“Tunggu!” seru Refi. “Aku ke sini mau minta penjelasan!”
“Penjelasan apa? Emangnya, aku ngapain kamu?”
“Kenapa aku nggak lolos tes tertulis di perusahaan kamu?”
tanya Refi.
Yeriko mengedikkan bahunya. “Tanya aja sama HRD!”
“Aku udah tanya ke HRD. Mereka malah ngusir aku!”
Yeriko menahan tawa. “Yan, bawa dia pergi jauh-jauh!”
perintah Yeriko.
“Siap, Pak Bos!” Riyan berusaha meraih lengan Refi, namun
Refi menepisnya.
Refi melangkah mendekati Yeriko, menatap pria itu selama
beberapa detik. Ia menahan kekesalan dalam hatinya. Walau kesal, ia masih
sangat berharap kalau Yeriko kembali ke pelukannya.
“Apa karena Yuna?” tanya Refi.
Yeriko tidak menjawab, ekspresinya tetap saja datar.
“Pasti si Yuna yang udah bikin aku nggak lolos, kan? Istri
kamu itu bener-bener licik. Dia ngelakuin segala hal buat nyingkirin aku.
Padahal, aku udah berusaha buat baik sama dia. Aku cuma mau pekerjaan. Bukan
mau ganggu hidup dia!” seru Refi.
Yeriko tersenyum kecil. Semakin Refi memojokkan Yuna, ia
semakin membenci Refi. Sebab, ia sangat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
“Aku yang bikin kamu nggak lolos tes, bukan Yuna,” tutur
Yeriko sambil melangkah melewati tubuh Refi dan menyentuh pintu mobilnya.
Refi semakin kesal dengan sikap Yeriko yang dingin dan
kejam. Ia sangat merindukan Yeriko yang dulu. Pria yang memperlakukan dirinya
begitu baik. Ia masih tak percaya kalau Yuna bisa membuat semuanya berubah
dalam waktu singkat. Ia tidak akan menyerah mendapatkan apa yang seharusnya
menjadi miliknya.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung karya ini terus.
Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.
Sapa aku terus di kolom komentar biar
aku semangat terus nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment