“Tunggu!” seru Refi sambil menatap punggung Yeriko.
Yeriko berdecak kesal. “Yan, bawa perempuan ini pergi dari
sini!” teriaknya sambil berbalik dan menunjuk wajah Refi.
Riyan mengangguk. Ia segera menarik lengan Refi.
“Jangan sentuh aku!” sentak Refi sambil menepiskan tangan
Riyan.
Yeriko membuka pintu mobil dengan santai.
Refi langsung berlari dan menahan pintu mobil Yeriko agar
tidak terbuka. “Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita masih bisa
berteman? Kenapa kamu ngindar terus dari aku?”
Yeriko tak menyahut. Ia berusaha membuka pintu
mobilnya kembali.
“Aku salah apa sama kamu?” seru Refi sambil menutup kembali
pintu mobil yang sedikit terbuka.
Yeriko melipat kedua tangan di dadanya sambil menatap tajam
ke arah Refi. “Sejak pertama kali kamu nemuin istriku, sejak itu kamu udah
salah!” sentak Yeriko.
Refi mengerutkan dahinya. “Aku nemuin istri kamu cuma buat
berteman. Emangnya salah?”
“Yan, bawa dia pergi dari sini!” teriak Yeriko. “Kamu
denger perintah aku atau nggak!”
Riyan menganggukkan kepala. “Maaf, Mbak Refi!” ucapnya
sambil menarik lengan Refi agar menjauh dari bosnya.
“Yer, kalau kamu nggak mau ngasih aku kesempatan buat kerja
di sini. Aku bakal cari Yuna dan nggak akan ngelepasin dia sampai aku dapet
kerjaan!” seru Refi.
Yeriko tersenyum sinis. “Coba aja!” Ia langsung masuk ke
dalam mobil. Bergegas membawa mobilnya keluar dari parkiran.
“Aargh …! Ngeselin banget!” seru Refi sambil menghentakkam
kakinya. Ia menatap wajah Riyan yang masih memegang lengannya. “Lepasin!”
Riyan melepas genggamannya perlahan.
Refi mendengus kesal dan melangkah pergi meninggalkan
Riyan. Belum sampai jauh, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap
Riyan.
“Eh, aku mau tanya sama kamu. Lebih cantik siapa antara aku
sama Yuna?” tanya Refi.
“Lebih cantik Mbak Refi,” jawab Riyan.
Refi langsung tersenyum mendengar jawaban Riyan. Ia sangat
yakin kalau bisa mendapatkan Yeriko kembali.
“Tapi jauh lebih baik Nyonya Muda,” lanjut Riyan.
Refi langsung menautkan kedua alisnya. “Maksud kamu!?”
Riyan menahan tawa.
Refi menghentakkan kakinya dan berbalik. Ia bergegas
meninggalkan Riyan dengan perasaan kesal. Ia tidak menyangka kalau dirinya juga
akan dipermalukan oleh Riyan yang hanya seorang asisten.
Riyan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia
memesan taksi karena bosnya meninggalkan dirinya begitu saja.
Sepanjang perjalanan, Yeriko sangat kesal karena sikap Refi
yang masih saja ingin memanfaatkan kebaikan istrinya. Sesampainya di rumah,
Yeriko langsung menghampiri istrinya yang sedang bersantai sambil membaca buku.
“Udah pulang?” Yuna langsung meletakkan bukunya ke atas
meja begitu melihat suaminya pulang.
Yeriko mengangguk sambil melepas jasnya.
“Aku kira mau lembur sampai larut malam. Aku siapin makan
malam dulu!” Yuna langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Nggak usah!” pinta Yeriko.
“Kenapa?”
“Kita makan di luar aja.”
“Eh!?”
“Aku mandi dulu!”
“Kamu nggak capek?” tanya Yuna.
Yeriko menggelengkan kepala. Ia bergegas naik ke kamarnya.
Yuna menggigit bibirnya. Yeriko terlihat sangat lelah.
Alangkah baiknya jika ia memberikan banyak waktu untuk istirahat daripada harus
keluar rumah.
Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah bersiap untuk pergi.
“Ayo!” ajak Yeriko.
Yuna bergeming. “Kamu yakin, nggak capek?” tanya Yuna.
Yeriko menggelengkan kepala. “Aku perlu udara segar.”
Yuna tersenyum. Ia tidak bisa menolak keinginan suaminya,
ia hanya bisa menurutinya. “Apa dia lagi banyak masalah?” batin Yuna.
Tepat jam delapan malam, Yuna dan Yeriko sampai di Kawi
Lounge Sheraton Hotel & Tower Surabaya.
“Mau makan apa?” tanya Yeriko.
“Steak aja,” jawab Yuna.
Yeriko langsung memesan beberapa makanan.
“Yun …!”
“Ya.”
“Tadi, Refi nungguin aku di parkiran sampai aku pulang.”
“Hah!?” Yuna melongo mendengar ucapan Yeriko. “Kenapa? Apa
karena … dia nggak lolos masuk perusahaan?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu bisa menghindari dia
kan?”
“Eh!?”
“Kemungkinan, dia bakal nyari kamu lagi. Aku harap, kamu
nggak terpengaruh sama dia.”
Yuna menganggukkan kepala.
Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Ia pikir, menolak Refi
masuk ke perusahaannya adalah hal yang tepat.
Yuna menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah
Yeriko. “Kamu nggak perlu khawatir sama aku. Aku bakal jaga diri baik-baik,”
tutur Yuna sambil menggenggam tangan Yeriko.
Yeriko balik menggenggam tangan Yuna dan mengecupnya penuh
kasih sayang. “Aku akan jaga kamu dan anak kita,” tuturnya lembut.
Yuna tertawa kecil. “Kenapa kamu kelihatan khawatir cuma
karena Refi? Apa ada masalah lain?”
Yeriko menggelengkan kepala. “Cuma masalah kerjaan. Lumayan
rumit.”
“Aku yakin, kamu pasti bisa menghadapinya dengan mudah.”
Yeriko tersenyum sambil mengangguk.
“Besok, kamu ada waktu kan?”
Yeriko menganggukkan kepala. “Jadwal pemeriksaan kandungan
sudah masuk dalam agendaku.”
Yuna tersenyum senang. “Oh ya, kamu udah pergi ke pengrajin
keramik yang aku kasih tahu kemarin?”
Yuna menggelengkan kepala. “Rencananya, mau ke sana besok.
Setelah periksa kandungan aku.”
Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Temenin ya!” pinta Yuna manja.
Yeriko mengangguk sambil tersenyum. Ia menikmati makan
malamnya sambil menatap wajah Yuna. Ia bahagia bisa melihat Yuna tersenyum. Ia
akan terus berusaha menjaga senyuman itu di bibir Yuna.
…
Keesokan harinya …
Yeriko menemani Yuna memeriksakan kandungannya. Ia juga
mengikuti kelas mengasuh bayi yang disarankan oleh dokter.
“Ay, makasih ya! Kamu udah sempatkan waktu buat ikut kelas
ini.”
Yeriko tersenyum kecil. “Udah kewajiban aku sebagai suami
dan calon ayah.”
Yuna tersenyum. Ia dan Yeriko menyimak dan mengikuti
instruksi dari salah satu bidan yang memberikan pelatihan perawatan pada bayi
baru lahir.
“Aku sudah biasa mandiin kamu. Mandiin bayi, kayaknya
mandiin bayi nggak terlalu sulit,” bisik Yeriko sambil mengamati boneka yang ia
pegang.
Yuna nyengir menatap Yeriko. “Sombongnya keluar,”
celetuknya sambil mencipratkan air di tangannya ke wajah Yeriko.
“Argh, bajuku basah!” Yeriko mendelik ke arah Yuna.
Yuna terkekeh menatap Yeriko.
Yeriko mengerutkan hidung sambil menahan tawa. Ia balik
mencipratkan air ke wajah Yuna.
“Iih … kamu kok balas?” seru Yuna balik mencipratkan air ke
wajah Yeriko.
Yeriko tergelak sambil menghindari tangan Yuna.
“Hei, jangan main air! Lantainya jadi basah, bahaya buat
ibu hamil,” tegur bidan yang mendampingi mereka.
Yuna dan Yeriko saling pandang, mereka tertawa dalam hati.
Yeriko bergegas mencari kain untuk mengelap lantai yang
basah.
“Biar aku aja yang ngelap lantainya,” pinta Yuna sambil
merebut kain dari tangan Yeriko.
“Biar aku aja!”
“Iih … gimana kalau dilihat orang banyak? Tuan Muda ngepel
lantai?” bisik Yuna.
“Gimana kalau orang yang ngelihat berpikir aku sudah
menindas istriku sendiri?” balas Yeriko. Ia merebut kembali kain dari tangan
Yuna dan langsung mengelap lantai di bawahnya yang basah karena percikan air.
Yuna tertawa kecil.
“Kenapa ketawa?”
“Bukannya kamu lebih suka menindas aku?”
Yeriko menatap wajah Yuna. “Aku nggak suka menindas, aku
lebih suka menindis kamu,” jawab Yeriko berbisik.
Yuna tertawa kecil sambil memukul dada Yeriko.
“Aw …! Rasanya, kamu yang lebih suka menindas aku!” rintih
Yeriko lirih sambil menahan tawa.
Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Biar adil. Kamu yang
menindih, aku yang menindas. Hahaha.”
Yeriko ikut tergelak. “Baiklah. Malam ini kamu harus
nyiapin kekuatan lebih,” bisik Yeriko.
Yuna nyengir sambil menyikut perut Yeriko. “Apa-apaan
sih!?” dengusnya.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung karya ini terus.
Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.
Sapa aku terus di kolom komentar biar
aku semangat terus nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


