Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 335 : Pengusiran untuk Refi

 


“Tunggu!” seru Refi sambil menatap punggung Yeriko.

Yeriko berdecak kesal. “Yan, bawa perempuan ini pergi dari sini!” teriaknya sambil berbalik dan menunjuk wajah Refi.

Riyan mengangguk. Ia segera menarik lengan Refi.

“Jangan sentuh aku!” sentak Refi sambil menepiskan tangan Riyan.

Yeriko membuka pintu mobil dengan santai.

Refi langsung berlari dan menahan pintu mobil Yeriko agar tidak terbuka. “Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita masih bisa berteman? Kenapa kamu ngindar terus dari aku?”

 Yeriko tak menyahut. Ia berusaha membuka pintu mobilnya kembali.

“Aku salah apa sama kamu?” seru Refi sambil menutup kembali pintu mobil yang sedikit terbuka.

Yeriko melipat kedua tangan di dadanya sambil menatap tajam ke arah Refi. “Sejak pertama kali kamu nemuin istriku, sejak itu kamu udah salah!” sentak Yeriko.

Refi mengerutkan dahinya. “Aku nemuin istri kamu cuma buat berteman. Emangnya salah?”

“Yan, bawa dia pergi dari sini!” teriak Yeriko. “Kamu denger perintah aku atau nggak!”

Riyan menganggukkan kepala. “Maaf, Mbak Refi!” ucapnya sambil menarik lengan Refi agar menjauh dari bosnya.

“Yer, kalau kamu nggak mau ngasih aku kesempatan buat kerja di sini. Aku bakal cari Yuna dan nggak akan ngelepasin dia sampai aku dapet kerjaan!” seru Refi.

Yeriko tersenyum sinis. “Coba aja!” Ia langsung masuk ke dalam mobil. Bergegas membawa mobilnya keluar dari parkiran.

“Aargh …! Ngeselin banget!” seru Refi sambil menghentakkam kakinya. Ia menatap wajah Riyan yang masih memegang lengannya. “Lepasin!”

Riyan melepas genggamannya perlahan.

Refi mendengus kesal dan melangkah pergi meninggalkan Riyan. Belum sampai jauh, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Riyan.

“Eh, aku mau tanya sama kamu. Lebih cantik siapa antara aku sama Yuna?” tanya Refi.

“Lebih cantik Mbak Refi,” jawab Riyan.

Refi langsung tersenyum mendengar jawaban Riyan. Ia sangat yakin kalau bisa mendapatkan Yeriko kembali.

“Tapi jauh lebih baik Nyonya Muda,” lanjut Riyan.

Refi langsung menautkan kedua alisnya. “Maksud kamu!?”

Riyan menahan tawa.

Refi menghentakkan kakinya dan berbalik. Ia bergegas meninggalkan Riyan dengan perasaan kesal. Ia tidak menyangka kalau dirinya juga akan dipermalukan oleh Riyan yang hanya seorang asisten.

Riyan tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia memesan taksi karena bosnya meninggalkan dirinya begitu saja.

 

Sepanjang perjalanan, Yeriko sangat kesal karena sikap Refi yang masih saja ingin memanfaatkan kebaikan istrinya. Sesampainya di rumah, Yeriko langsung menghampiri istrinya yang sedang bersantai sambil membaca buku.

“Udah pulang?” Yuna langsung meletakkan bukunya ke atas meja begitu melihat suaminya pulang.

Yeriko mengangguk sambil melepas jasnya.

“Aku kira mau lembur sampai larut malam. Aku siapin makan malam dulu!” Yuna langsung beranjak dari tempat duduknya.

“Nggak usah!” pinta Yeriko.

“Kenapa?”

“Kita makan di luar aja.”

“Eh!?”

“Aku mandi dulu!”

“Kamu nggak capek?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. Ia bergegas naik ke kamarnya.

Yuna menggigit bibirnya. Yeriko terlihat sangat lelah. Alangkah baiknya jika ia memberikan banyak waktu untuk istirahat daripada harus keluar rumah.

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah bersiap untuk pergi.

“Ayo!” ajak Yeriko.

Yuna bergeming. “Kamu yakin, nggak capek?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku perlu udara segar.”

Yuna tersenyum. Ia tidak bisa menolak keinginan suaminya, ia hanya bisa menurutinya. “Apa dia lagi banyak masalah?” batin Yuna.

 

Tepat jam delapan malam, Yuna dan Yeriko sampai di Kawi Lounge Sheraton Hotel & Tower Surabaya.

“Mau makan apa?” tanya Yeriko.

“Steak aja,” jawab Yuna.

Yeriko langsung memesan beberapa makanan.

“Yun …!”

“Ya.”

“Tadi, Refi nungguin aku di parkiran sampai aku pulang.”

“Hah!?” Yuna melongo mendengar ucapan Yeriko. “Kenapa? Apa karena … dia nggak lolos masuk perusahaan?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu bisa menghindari dia kan?”

“Eh!?”

“Kemungkinan, dia bakal nyari kamu lagi. Aku harap, kamu nggak terpengaruh sama dia.”

Yuna menganggukkan kepala.

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna. Ia pikir, menolak Refi masuk ke perusahaannya adalah hal yang tepat.

Yuna menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah Yeriko. “Kamu nggak perlu khawatir sama aku. Aku bakal jaga diri baik-baik,” tutur Yuna sambil menggenggam tangan Yeriko.

Yeriko balik menggenggam tangan Yuna dan mengecupnya penuh kasih sayang. “Aku akan jaga kamu dan anak kita,” tuturnya lembut.

Yuna tertawa kecil. “Kenapa kamu kelihatan khawatir cuma karena Refi? Apa ada masalah lain?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Cuma masalah kerjaan. Lumayan rumit.”

“Aku yakin, kamu pasti bisa menghadapinya dengan mudah.”

Yeriko tersenyum sambil mengangguk.

“Besok, kamu ada waktu kan?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Jadwal pemeriksaan kandungan sudah masuk dalam agendaku.”

Yuna tersenyum senang. “Oh ya, kamu udah pergi ke pengrajin keramik yang aku kasih tahu kemarin?”

Yuna menggelengkan kepala. “Rencananya, mau ke sana besok. Setelah periksa kandungan aku.”

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Temenin ya!” pinta Yuna manja.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. Ia menikmati makan malamnya sambil menatap wajah Yuna. Ia bahagia bisa melihat Yuna tersenyum. Ia akan terus berusaha menjaga senyuman itu di bibir Yuna.

 

 

Keesokan harinya …

Yeriko menemani Yuna memeriksakan kandungannya. Ia juga mengikuti kelas mengasuh bayi yang disarankan oleh dokter.

“Ay, makasih ya! Kamu udah sempatkan waktu buat ikut kelas ini.”

Yeriko tersenyum kecil. “Udah kewajiban aku sebagai suami dan calon ayah.”

Yuna tersenyum. Ia dan Yeriko menyimak dan mengikuti instruksi dari salah satu bidan yang memberikan pelatihan perawatan pada bayi baru lahir.

“Aku sudah biasa mandiin kamu. Mandiin bayi, kayaknya mandiin bayi nggak terlalu sulit,” bisik Yeriko sambil mengamati boneka yang ia pegang.

Yuna nyengir menatap Yeriko. “Sombongnya keluar,” celetuknya sambil mencipratkan air di tangannya ke wajah Yeriko.

“Argh, bajuku basah!” Yeriko mendelik ke arah Yuna.

Yuna terkekeh menatap Yeriko.

Yeriko mengerutkan hidung sambil menahan tawa. Ia balik mencipratkan air ke wajah Yuna.

“Iih … kamu kok balas?” seru Yuna balik mencipratkan air ke wajah Yeriko.

Yeriko tergelak sambil menghindari tangan Yuna.

“Hei, jangan main air! Lantainya jadi basah, bahaya buat ibu hamil,” tegur bidan yang mendampingi mereka.

Yuna dan Yeriko saling pandang, mereka tertawa dalam hati.

Yeriko bergegas mencari kain untuk mengelap lantai yang basah.

“Biar aku aja yang ngelap lantainya,” pinta Yuna sambil merebut kain dari tangan Yeriko.

“Biar aku aja!”

“Iih … gimana kalau dilihat orang banyak? Tuan Muda ngepel lantai?” bisik Yuna.

“Gimana kalau orang yang ngelihat berpikir aku sudah menindas istriku sendiri?” balas Yeriko. Ia merebut kembali kain dari tangan Yuna dan langsung mengelap lantai di bawahnya yang basah karena percikan air.

Yuna tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?”

“Bukannya kamu lebih suka menindas aku?”

Yeriko menatap wajah Yuna. “Aku nggak suka menindas, aku lebih suka menindis kamu,” jawab Yeriko berbisik.

Yuna tertawa kecil sambil memukul dada Yeriko.

“Aw …! Rasanya, kamu yang lebih suka menindas aku!” rintih Yeriko lirih sambil menahan tawa.

Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Biar adil. Kamu yang menindih, aku yang menindas. Hahaha.”

Yeriko ikut tergelak. “Baiklah. Malam ini kamu harus nyiapin kekuatan lebih,”  bisik Yeriko.

Yuna nyengir sambil menyikut perut Yeriko. “Apa-apaan sih!?” dengusnya.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 334 : Pengalihan Pintu Masuk

 



Refi tidak menyerah begitu saja. Ia melangkah menghampiri meja resepsionis.

“Aku mau ketemu sama Yeriko!”  tutur Refi.

“Maaf, Mbak. Apa sudah ada janji sebelumnya?” sapa resepsionis itu dengan ramah.

“Ada,” jawab Refi berbohong.

“Sebentar saya cek. Atas nama siapa?” tanya resepsionis itu lagi.

“Refina,” jawab Refi ketus.

Resepsionis itu tetap tersenyum. Ia mengecek jadwal CEO yang sudah diatur dan dimasukkan ke dalam sistem komputer terintegrasi.

“Maaf, Mbak. Hari ini, tidak ada jadwal bertemu klien atas nama Refina,” tutur resepsionis tersebut.

Refi mengernyitkan dahi. “What!? Jadwalnya Yeriko udah diatur dengan baik? Ketat banget sih?” celetuknya lirih.

“Mmh, Mbak, aku belum ada janji sama Yeriko. Tapi, aku mau ketemu sama Yeriko. Penting banget. Bisa?”

“Saya konfirmasi dulu ya, Mbak. Ada perlu apa ya? Dan apa hubungan Mbak dengan bos kami?”

“Bilang aja, Refi mau ketemu sama dia.”

Resepsionis tersebut menganggukkan kepala. Ia langsung menelepon Riyan.

“Selamat pagi, Pak Riyan. Ada orang yang ingin bertemu dengan Pak Direktur.”

“Siapa?” tanya Riyan dari ujung telepon.

“Ibu Refina.”

“Pak Direktur sedang sibuk. Beliau tidak mau bertemu dengan siapa pun kecuali Nyonya Muda,” tutur Riyan.

“Baik, Pak.” Resepsionis tersebut langsung mematikan teleponnya dan menatap Refi.

“Gimana, Mbak?” tanya Refi.

“Maaf, Mbak. Pak Direktur tidak bisa ditemui sebelum buat janji terlebih dahulu,” jawab resepsionis tersebut sambil tersenyum manis.

Refi memutar bola matanya. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan menunggu di lobby sampai Yuna muncul membawakan makan siang untuk suaminya.

 

Sementara itu, di lantai paling atas, Yeriko terlihat kesal saat Refi mencari dirinya.

Ia langsung merogoh ponsel dan menelepon Angga.

“Halo, Pak Bos!” sapa Angga begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Angga, Nyonya sudah berangkat ke sini?” tanya Yeriko.

“Belum. Lagi siap-siap, Pak Bos!”

“Kamu bawa Nyonya lewat belakang gedung ya! Jangan masuk lewat lobby depan. Nanti, Riyan akan tunggu kalian di sana.”

“Oke, Pak Bos. Ada apa ya?” tanya Angga.

“Nggak usah banyak tanya! Ikuti aja perintah saya!”

“Siap, Pak Bos!” sahut Angga.

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Yan, kamu tunggu Angga di pintu belakang. Jangan sampai istriku ketemu sama Refi!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” jawab Riyan. Ia bergegas meninggalkan ruang kerja Yeriko.

Yeriko menarik napas sambil menatap ke luar jendela. Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi. Selain musuh-musuh bisnisnya, juga wanita-wanita yang berusaha merusak rumah tangganya. Terlebih, mereka menargetkan Yuna, wanita yang paling dia cintai.

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah sampai di pintu belakang gedung Galaxy Group. Riyan sudah menunggu Yuna, tepat di pintu keluar masuk logistik.

“Ngga, tumben kita lewat belakang. Ada apa ya?” tanya Yuna saat ia keluar dari mobil.

“Nggak tahu, Nyonya Bos. Pak Bos mintanya begitu.”

“Oh.” Yuna langsung melangkahkan kakinya menghampiri Riyan yang menunggunya di pintu.

“Selamat siang, Nyonya Muda!” sapa Riyan setengah membungkuk.

Yuna tersenyum. “Siang juga. Kenapa aku harus lewat sini ya?” tanya Yuna.

“Nggak papa. Lobby lagi dibersihkan. Lantainya licin. Takut membahayakan Nyonya Muda. Jadi, Pak Bos minta lewat sini saja. Silakan, Nyonya!” Riyan mempersilakan Yuna untuk melangkah lebih dulu.

“Oh.” Yuna melangkahkan kakinya menyusuri koridor.

Riyan tersenyum, ia mengikuti langkah Yuna dari belakang.

 

“Selamat siang, Nyonya Bos!” sapa dua sekretaris Yeriko begitu Yuna sampai ke lantai ruang kerja suaminya.

“Siang,” balas Yuna sambil tersenyum manis. “Pada mau ke mana?”

“Mau makan siang di kantin,” jawab salah satu sekretaris.

“Oh.” Yuna menganggukkan kepala.

“Permisi Nyonya Bos!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis. Ia melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruang kerja Yeriko.

“Siang!” sapa Yuna begitu ia melihat suaminya sedang berdiri sambil menatap pemandangan di luar jendela.

Yeriko langsung berbalik. Ia tersenyum menatap Yuna dan langsung menghampirinya.

“Kamu nggak papa ‘kan?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia meletakkan kotak bekal ke atas meja dan menyiapkan makan siang untuk suaminya.

“Hari ini wawancara untuk penerimaan karyawan kan? Gimana si Refi, lolos nggak tes tertulis kemarin?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. Ia duduk di kursi yang ada di samping Yuna.

Yuna tersenyum. “Ya udah sih, yang penting dia udah usaha. Aku juga nggak perlu ngerasa bersalah karena sudah tepati janji aku ke dia.”

Yeriko tersenyum menatap wajah Yuna yang terlihat ceria. Ia masih tidak mengerti kenapa Yuna begitu santai menghadapi musuhnya. “Apa orang baik, hatinya memang nggak pernah membenci?” batin Yeriko.

“Hei, kok ngelamun? Ayo, makan!”

Yeriko mengerjapkan matanya. Ia langsung mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh Yuna dan melahapnya perlahan. “Kamu nggak ikut makan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku tadi udah makan bareng Ayah. Aku anterin makan siang ke sana dan dia ngajak makan bareng.”

“Oh.” Yeriko melanjutkan makannya.

Yuna terus tersenyum sambil menatap wajah suaminya.

“Oh ya, aku nangkap orang yang udah nyebarin video kamu sama Andre,” tutur Yeriko.

“Hah!? Beneran udah ketemu?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Siapa?”

“Sepupu kamu.”

“Bellina?”

Yeriko mengangguk lagi.

“Huft, kenapa sih dia masih nggak berubah?” gumam Yuna. “Padahal, aku udah banyak ngalah sama dia,” lanjutnya sambil menjatuhkan dagu ke atas meja.

Yeriko tersenyum sambil mengusap kepala Yuna. “Kamu tenang aja!” pintanya lembut. “Aku udah tangani masalah ini.”

“Kamu laporin dia ke polisi?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu mau dia berubah kan? Aku punya cara sendiri.”

Yuna menggigit bibirnya. “Andai aja dia bukan keluargaku. Mungkin, akan lebih mudah menghadapinya. Aku nggak mau perseteruan keluargaku sampai ke publik dan membuat nama baik keluargaku tercemar. Apalagi, Ayah baru aja sembuh. Jangan sampai dia tahu masalahku dengan Bellina!” pinta Yuna lirih.

Yeriko menganggukkan kepala. “Setelah ini, kamu langsung pulang ya!” pinta Yeriko. “Aku masih banyak kerjaan. Nggak bisa pulang cepat.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Sementara itu, Refi masih terus menunggu kedatangan Yuna di lobby. Namun, hingga jam dua siang, Yuna tak kunjung terlihat.

“Yeriko pasti udah ngerencanain ini semua. Seharusnya, Yuna ngantar makan siang buat Yeri. Kenapa belum muncul juga?” gumam Refi sambil sesekali melirik arloji di tangannya.

Refi terus menunggu di lobby. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia yakin, Yeriko pasti akan muncul.

Selama beberapa jam, Refi terus menunggu Yeriko. Hari mulai petang, semua karyawan mulai keluar dari gedung tersebut. Hanya ada beberapa karyawan yang masih bekerja.

“Apa dia sebenarnya nggak ada di kantor? Aku juga nggak lihat asistennya,” gumam Refi. Ia bangkit dari tempat duduknya. Kemudian melangkah menuju parkiran.

Lamborghini biru milik Yeriko masih terparkir di sana. Artinya, Yeriko masih belum pulang.

Refi tersenyum. Ia menghampiri mobil tersebut dan menunggu Yeriko di sana.

Beberapa menit kemudian, Yeriko dan Riyan terlihat menghampirinya. Refi memasang senyuman termanis yang ia miliki.

Yeriko langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Refi bersandar di mobilnya. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya.

Refi tersenyum menatap Yeriko. “Aku nunggu kamu.”

Yeriko tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Riyan yang berdiri di sampingnya. “Bawa pergi perempuan ini!” perintahnya.

“Siap, Pak Bos!” Riyan langsung melangkah menghampiri Refi.

“Tunggu!” seru Refi. “Aku ke sini mau minta penjelasan!”

“Penjelasan apa? Emangnya, aku ngapain kamu?”

“Kenapa aku nggak lolos tes tertulis di perusahaan kamu?” tanya Refi.

Yeriko mengedikkan bahunya. “Tanya aja sama HRD!”

“Aku udah tanya ke HRD. Mereka malah ngusir aku!”

Yeriko menahan tawa. “Yan, bawa dia pergi jauh-jauh!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” Riyan berusaha meraih lengan Refi, namun Refi menepisnya.

Refi melangkah mendekati Yeriko, menatap pria itu selama beberapa detik. Ia menahan kekesalan dalam hatinya. Walau kesal, ia masih sangat berharap kalau Yeriko kembali ke pelukannya.

“Apa karena Yuna?” tanya Refi.

Yeriko tidak menjawab, ekspresinya tetap saja datar.

“Pasti si Yuna yang udah bikin aku nggak lolos, kan? Istri kamu itu bener-bener licik. Dia ngelakuin segala hal buat nyingkirin aku. Padahal, aku udah berusaha buat baik sama dia. Aku cuma mau pekerjaan. Bukan mau ganggu hidup dia!” seru Refi.

Yeriko tersenyum kecil. Semakin Refi memojokkan Yuna, ia semakin membenci Refi. Sebab, ia sangat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

“Aku yang bikin kamu nggak lolos tes, bukan Yuna,” tutur Yeriko sambil melangkah melewati tubuh Refi dan menyentuh pintu mobilnya.

Refi semakin kesal dengan sikap Yeriko yang dingin dan kejam. Ia sangat merindukan Yeriko yang dulu. Pria yang memperlakukan dirinya begitu baik. Ia masih tak percaya kalau Yuna bisa membuat semuanya berubah dalam waktu singkat. Ia tidak akan menyerah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 333 : Refi Gagal Tes Tertulis

 


BRAAAK …!

Pintu rumah tiba-tiba terbuka saat Refi sedang duduk santai di sofa. Refi langsung melonjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah pintu.

“Deny!?” Refi mengerutkan dahinya. “Ngapain kamu ke sini?”

Deny tersenyum sambil menatap Refi. Ia melangkah lunglai mendekati Refi. “Heh, kamu tahu siapa kamu?”

Refi berjalan mundur perlahan menghindari Deny yang sedang mabuk.  “Kita udah nggak ada urusan lagi. Buat apa kamu masih di sini?”

Deny tersenyum kecil sambil memicingkan mata menatap Refi. Matanya mulai Liar dan insting buasnya sebagai lelaki mulai keluar perlahan-lahan. “Kamu nggak bisa lari dari aku!”

“Maksud kamu?”

“Hehehe. Hahaha. Kamu lupa apa yang sudah terjadi di antara kita? Kamu harus melayani aku di saat aku butuh!”

“Aku nggak mau. Semuanya udah cukup! Aku nggak akan pakai kamu lagi. Kamu juga, nggak perlu datang ke rumah ini lagi!”

Deny tertawa menatap Refi. “Kamu mau dapetin si Kaya itu kan? Aku udah banyak bantu kamu. Aku bisa kasih video-video kita waktu main bareng. Apa dia masih lihat kamu lagi kalau tahu, kamu sudah nggak virgin lagi?”

“Kamu …!?”

“Oh … iya, aku lupa. Kemarin dan sekarang pun, dia nggak pernah lihat kamu. Hahaha.”

“Aku nggak akan nyerah gitu aja. Dia baru delapan bulan nikah sama cewek itu. Aku yakin, dia cuma tergila-gila sementara. Palingan, dalam hitungan tahun … cintanya Yeriko bakal luntur dengan sendirinya,” sahut Refi penuh percaya diri.

Deny tersenyum sinis. “Kamu yakin?”

Refi mengangguk pasti. “Aku yakin. Aku yang udah bertahun-tahun deket sama dia. Ngelakuin banyak hal bareng. Dia bisa lupain aku gitu aja. Hubungan Yeriko sama Yuna masih bisa dihitung pake jari. Kalau bukan aku, akan ada orang lain yang ganggu hubungan mereka.”

“Kamu percaya diri banget ngakuin kalo kamu itu perusak rumah tangga orang?”

Refi mengerutkan kening dan mulutnya. “Keluar dari rumah ini!” serunya. “Kamu nggak punya hak buat ngomentari aku!”

“Hahaha. Aku nggak punya hak, tapi aku punya mulut buat ngomentari kamu. Hakmu itu kamu taruh di bawah telapak kakimu. Makanya, hak kamu itu rendah banget. Sama kayak harga dirimu!”

“Kamu!? Berani-beraninya ngatain aku!?” seru Refi sambil menyerang Deny.

Deny tersenyum sambil menangkap kedua lengan Refi agar tak menyerangnya. “Kamu harus ingat siapa aku? Karirmu di Paris bisa bagus, semua karena bantuanku. Aku juga udah bantu kamu banyak hal. Kamu pikir, kamu bisa buang aku gitu aja?”

“Aku udah nggak punya uang lagi buat bayar kamu. Lebih baik, kita nggak usah berurusan lagi!” sergah Refi.

“Kamu masih punya tubuh kamu.” Deny menatap Refi penuh gairah.

“Den, kamu mau manfaatin aku?” Refi membelalakkan matanya.

“Kamu yang manfaatin aku selama ini. Kamu pikir, aku ini bodoh banget? Kamu udah ngambil banyak keuntungan dari aku.”

“Eh, kamu udah aku bayar. Aku juga udah kasih semuanya buat kamu. Kita impas! Kamu nggak usah cari aku lagi!” sentak Refi.

“Oke. Saat aku keluar dari pintu rumah ini. Aku pastikan kalau video kita udah sampai ke tangan tuan muda kaya raya itu.”

Refi membelalakkan matanya. “Oke. Aku bakal nurutin semua yang kamu mau. Asal kamu masih bantu aku buat dapetin dia. Aku bakal kasih uang yang banyak buat kamu!” seru Refi kesal.

Deny terbahak mendengar ucapan Refi. “Kamu senang jadi bahan lelucon? Hari ini, aku yang ngetawain kamu. Besok, semua orang bakal ngetawain kamu. Hahaha.”

Refi menatap tajam ke arah Deny. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Hanya Deny satu-satunya orang yang bisa membantunya. Saat ini, justru mengendalikan Refi sepenuhnya.

“Aku punya kabar penting buat kamu,” tutur Deny sambil tersenyum.

“Apa itu?”

Deny tersenyum kecil. “Puasin aku dulu malam ini!” pinta Deny sambil menghampiri Refina. Ia mulai mengendus leher Refi.

Refi langsung mencengkeram roknya sendiri begitu hembusan angin meniup lembut dadanya. Ia memejamkan mata, tak bisa menolak setiap sentuhan yang menyisir seluruh kulitnya.

Selama beberapa jam, Deny menguasai Refi. Menuntut semua hal yang ia inginkan.

Deny tersenyum puas menatap tubuh Refi yang tergeletak lemas di tempat tidur. Deny meraih selimut dan mengelap keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya.

“Aku suka kamu yang penurut begini,” celetuk Deny.

Refi berusaha mengendalikan napasnya yang masih tak teratur. “Udah puas?” desisnya.

Deny tersenyum kecil. Ia memungut pakaiannya yang tercecer di lantai dan memakainya.

“Mana janji kamu?” tanya Refi saat melihat Deny keluar dari kamarnya.

Deny tersenyum sinis. Ia merogoh kertas dari dalam mantelnya dan melemparkan ke arah Refi.

Refi buru-buru memakai dress miliknya dan meraih kertas tersebut.

“Nggak ada nama kamu di daftar wawancara itu,” tutur Deny.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin nggak ada namaku! Aku udah ngerjain tes kemarin dengan baik. Harusnya, aku bisa ikut sesi wawancara berikutnya. Kenapa namaku nggak ada?” Refi terus mengulang-ulang membaca kertas tersebut.

Deny mengedikkan bahu. “Kenyataannya, emang nggak ada nama kamu di sana.”

“Ini pasti ulahnya Yuna. Dia sengaja mau mempermainkan aku!?” seru Refi.

Deny tersenyum sinis. Ia melangkah keluar dari kamar Refi.

“Aargh …!” teriak Refi histeris. Ia masih tak percaya kalau ia tak lolos dalam tes tertulis penerimaan karyawan di Galaxy Group.

“Ini HRD pasti salah bikin laporan. Aku harus mastiin ke sana. Tes tertulis kemarin itu gampang banget. Aku nggak bisa lolos, pasti karena campur tangan Yuna. Dia udah bohongin aku? Awas kamu, Yun!” maki Refi.

 

Keesokan harinya …

Refi menerobos masuk ke ruang wawancara sambil membawa kertas pengumuman hasil tes tertulis di tangannya.

“Ini ada apa, Mbak?” tanya asisten Head HRD yang ada di dalam ruangan tersebut.

“Kenapa nggak ada namaku di pengumuman ini?” seru Refi.

“Artinya nggak lolos tes tertulis.”

“Nggak mungkin aku nggak lolos. Mana hasil tes peserta yang lain?” tanya Refi.

“Maaf, Mbak. Keputusan atasan kami tidak bisa diganggu gugat.”

“Siapa atasan kamu?” tanya Refi.

Pria itu langsung menunjuk pria lain yang ada di ruangan itu dengan dagunya.

“Bapak tahu saya ini siapa?” tanya Refi.

“Nggak tahu.”

“Saya ini kenal sama yang punya perusahaan ini. Istrinya juga teman baik saya. Nggak mungkin saya nggak lolos tes karena pemilik perusahaan ini yang merekomendasikan saya masuk ke sini.”

“Mana surat rekomendasinya?”

Refi gelagapan. Jelas saja ia tak memiliki surat rekomendasi dari siapa pun.

Beberapa orang yang ada di ruangan itu terlihat saling berbisik. Membuat Refi semakin mencurigai kalau ada campur tangan orang lain yang lebih berkuasa dalam hal ini.

“Aku nggak terima sama hasil ini!” seru Refi sambil merobek-robek kertas yang ada di tangannya. “Pasti ada konspirasi di balik ini semua!”

“Maaf, Mbak. Keputusan perusahaan tidak bisa diganggu gugat. Silakan keluar dari ruangan ini!”

“Aku nggak mau keluar sebelum kalian jelasin semuanya dan kasih buktinya ke aku!”

“Mbak, tolong jangan bikin onar di sini!”

“Gimana aku nggak bikin onar? Kalian udah nggak adil. Bisa-bisanya kalian buang namaku. Jelas-jelas aku udah ngerjain tes dengan baik dan yang paling cepet keluar!” seru Refi.

Head HRD tersenyum sinis ke arah Refi. “Dengan sikap kamu yang kayak gini, sekalipun nilai kamu yang paling tinggi, saya tidak akan menerima kamu di perusahaan ini.”

Mulut Refi menganga lebar. Ia tak menyangka kalau sikapnya justru mendapat komentar negatif. Seharusnya, ia bisa lebih bersikap tenang dan mengendalikan dirinya.

“Kamu keluar sendiri atau saya suruh satpam seret kamu keluar?”

Refi menatap wajah pria itu penuh kebencian. Ia menghentakkan kakinya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia masih tidak terima kenyataan yang terjadi hari ini. Ia harus bisa masuk ke Galaxy dan melanjutkan hidupnya dengan baik. Sebab, ia tak mungkin kembali menjadi penari balet lagi.

 

 

 ((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas