Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 323 : Worry Up

 


“Ayah sudah lama di sini?” tanya Yeriko saat masuk rumah dan mendapati ayah Yuna sedang berbincang bersama istrinya di ruang tamu.

“Ayah sudah di sini dari tadi pagi,” jawab Yuna. Ia langsung menghampiri Yeriko, membantunya melepas jas yang melekat di tubuh Yeriko.

“Kenapa nggak bilang? Aku bisa pulang lebih awal kalau tahu ayah ada di sini.”

“Ayah hanya menemani Yuna saat kamu tidak ada di rumah. Karena suami kamu sudah pulang, Ayah pamit pulang dulu!” tutur Adjie.

“Hah!?”

“Ayah makan malam sama kami dulu!” pinta Yeriko. “Setelahnya, aku antar Ayah pulang.”

“Mmh ...”

“Ayolah, Yah!” pinta Yuna. “Jangan menolak ajakan menantu yang baik hati ini!” lanjutnya sambil mengerdipkan mata.

Yeriko tersenyum menatap ayah mertuanya.

“Mmh, baiklah. Ayah tidak bisa menolak keinginan kalian.”

Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum bersama.

“Aku ganti baju dulu, Bibi War udah masak kan?”

Yuna mengangguk. “Aku temenin naik?”

“Nggak usah, kamu temenin Ayah aja! Aku cuma ganti baju sebentar.”

Yuna mengangguk. Ia mengajak ayahnya pergi ke ruang makan sembari menunggu Yeriko kembali dari kamarnya.

“Belum selesai, Bi? Biar aku bantu.” Yuna menghampiri Bibi War yang sedang menyiapkan makanan di dapur.

“Nggak usah! Ini sudah mau selesai, kok. Tinggal potong buah. Chef Rafa masaknya cepat. Bibi Cuma bantu hidangin aja!”

Yuna tersenyum menatap Bibi War. “Bi, aku sudah terlalu lama bersantai. Kata dokter, aku harus banyak bergerak juga supaya tetap sehat. Bibi, bisa bantu aku ngomong ke Mama Rully supaya menarik orang-orang dia dari rumah ini?” bisiknya.

“Maksud Mbak Yuna?”

“Aku terlalu santai selama aku hamil. Nggak ada yang aku kerjain selain baring, nonton televisi, main game. Huft, apa nggak ada hal lain yang bisa aku kerjain? Di rumah ini cuma ada aku dan Yeriko. Pelayan di sini terlalu banyak,” keluh Yuna.

“Mmh ...” Bibi War berpikir sejenak sambil menyiapkan potongan buah untuk Yuna.

“Please, Bi!” pinta Yuna.

Bibi War mengangguk. “Nanti coba Bibi bicarakan sama ibu, y?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Thanks, Bi!” ucapnya sambil mengecup pipi Bibi War.

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. Ia melihat Yuna seperti anaknya sendiri. Bukan hanya Yeriko yang semakin hari semakin mencintai Yuna. Tapi juga semua yang ada di dalam rumah ini sudah terbiasa dengan keceriaan Yuna.

 

 Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk bersama di meja makan.

“Nak Yeri, apa setiap hari kamu selalu pulang sampai malam?” tanya Adjie.

Yeriko langsung menatap wajah ayah mertuanya. Ia bisa menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah pria paruh baya itu.

“Nggak setiap hari, Yah. Biasanya, dia pulang lebih awal. Akhir-akhir ini memang sedikit sibuk,” sahut Yuna.

“Oh.” Adjie mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayah nggak perlu khawatir! Aku nggak akan ngebiarin Yuna kesepian,” tutur Yeriko.

Adjie mengangguk. “Ayah percaya sama kamu.”

Yeriko tersenyum. Ia tidak ingin membuat ayah mertuanya mengkhawatirkan istrinya.

“Oh ya, Ayah tadi bilang kalau Oom Tarudi ada main ke apartemen dia.”

“Hah!? Dia tahu dari mana kalau Ayah tinggal di sana?”

“Aku rasa, dia udah menguntit kita. Dia bisa dapetin tempat Ayah dirawat. Sekarang, dia juga udah tahu tempat tinggal Ayah. Kalau bukan dari hasil menguntit kita, dari mana lagi?” tutur Yuna.

“Rudi nggak ngapa-ngapain Ayah. Dia Cuma mengunjungi kakaknya. Nggak ada yang salah, kan?” sahut Adjie.

“Yah, selama Ayah sakit di rumah sakit. Dia itu nggak pernah sekalipun tanyain keadaan Ayah apalagi mau jenguk. Kalau sekarang dia tiba-tiba  jenguk Ayah saat Ayah sudah sehat kayak gini, bener-bener nggak masuk akal. Dia pasti punya rencana jahat ke Ayah.”

“Yuna, kenapa kamu berpikir negatif sama paman kamu sendiri? Dia itu adik Ayah. Nggak mungkin mau macam-macam.”

Yuna mengerutkan bibir sambil memainkan garpu di atas piringnya. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana keluarga pamannya itu memperlakukan dirinya selama ini.

Yeriko tersenyum kecil. Ayah Yuna masih terus berpikir kalau adiknya tidak mungkin melakukan rencana pembunuhan itu. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan penyelidikannya agar mengetahui siapa sebenarnya yang menginginkan nyawa ayah mertuanya.

“Yuna, kamu anak yang baik. Nggak boleh menyimpan dendam seperti itu!” pinta Adjie lembut. “Apalagi, kamu lagi hamil. Jangan berpikir macam-macam! Kasihan bayi yang ada di perut kamu.”

“Ayah kamu bener. Lebih baik, kamu fokus dengan kandungan kamu. Soal apartemen, nggak perlu khawatir. Di sana, sistem keamanannya sudah bagus.”

“Bagus gimana? Satpam cuma jaga di pintu masuk. Terus, kita cuma ngandalin CCTV. Kalo Oom Tarudi sampai ngelukain Ayah, emang itu CCTV bisa bantuin berantem?” dengus Yuna kesal.

“Kalau kamu masih nggak yakin, aku kirim orang buat jagain Ayah. Gimana?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Kalau kayak gitu, aku ngerasa lebih tenang.”

“Tapi, Ayah nggak perlu penjagaan khusus,” sahut Adjie.

“Kalau Ayah nggak mau. Aku nggak akan izinin Ayah keluar dari rumah ini!” tegas Yuna.

Adjie menoleh ke arah Yeriko.

Yeriko memberi isyarat untuk menerima saja keinginan Yuna. Ia juga tidak ingin Yuna terus-menerus mengkhawatirkan ayahnya.

“Oke, oke. Ayah terima keinginan kamu,” tutur Adjie.

“Nah, gitu dong! Aku kan bisa tidur dengan tenang kalau ada orang yang jagain Ayah.”

Adjie tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam sambil berbincang banyak hal.

Usai makan malam, Adjie langsung berpamitan untuk kembali ke apartemennya.

“Aku antar ayah pulang dulu, kamu di rumah aja ya!” pinta Yeriko.

“Ikut!” rengek Yuna.

“Cuma sebentar. Aku langsung pulang.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Oke. Hati-hati di jalan!”

Yeriko tersenyum sambil mengelus ujung kepala Yuna.

Adjie tersenyum menatap puterinya. “Ayah pulang dulu!” pamitnya. “Jaga bayi kamu dengan baik!” lanjutnya.

“Siap, Ayah!”

Adjie tersenyum, ia melangkah perlahan keluar dari rumah Yeriko.

Yeriko merangkul pinggang Yuna. “Cium dulu!” pintanya berbisik.

Yuna tersenyum, ia langsung mengecup pipi Yeriko.

“Aku pergi antar ayah dulu!” Ia menyambar bibir Yuna dan langsung melangkah pergi.

Yuna ikut melangkah keluar dari rumahnya sambil menatap dua pria yang sedang bersiap pergi meninggalkannya. Ia terus tersenyum sambil melambaikan tangan.

Setelah mobil Yeriko keluar dari halaman, ia bergegas masuk ke rumah untuk membereskan meja makan. Namun, lagi-lagi meja itu sudah bersih. Bibi War dan salah satu pelayannya sudah sibuk membersihkan dapur.

“Bi, aku bantu ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.

“Nggak usah! Udah banyak yang bantuin Bibi.”

Yuna memonyongkan bibirnya. Kini, ia benar-benar menjadi seorang pengangguran sejati. Tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan, termasuk pekerjaan rumah.

“Mbak Yuna istirahat saja!” perintah Bibi War. “Bumil muda nggak boleh kecapekan.”

“Huft, jadi ratu di rumah ini bener-bener membosankan. Bisa-bisa, aku lupa gimana caranya cuci gelas,” celetuk Yuna. Ia memilih melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya. 

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 322 : Daddy Time

 


“Mbak, di bawah ada orang yang nyari Mbak Yuna.” Bibi War menghampiri Yuna yang sedang santai di balkon.

“Siapa, Bi?” tanya Yuna.

“Pak Adjie.”

“Astaga!” Yuna hampir saja melompat dari kursinya.

“Kenapa, Mbak?”

“Itu ayahku, Bi!”seru Yuna buru-buru mengenalkan sandalnya dan bergegas menuruni anak tangga.

“Oh, itu ayahnya Mbak Yuna? Pantesan mirip, Bibi kan belum pernah ketemu,” gumam Bibi War. Ia ikut melangkah perlahan menuruni anak tangga.

“Ayah ...!” seru Yuna. Ia langsung menghambur ke pelukan ayahnya.

Adjie langsung memeluk Yuna penuh kehangatan. Rasanya masih sama seperti sebelas tahun lalu. Setiap kali ia pulang bekerja, Yuna akan berlari menghampirinya dan memeluknya sangat erat. Waktu begitu cepat berlalu. Selama sebelas tahun ia melewatkan banyak hal tentang puterinya itu.

“Ayah kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Yuna.

“Kalau Ayah bilang, bukan kejutan dong?”

“Ayah tahu alamat rumah ini dari mana?”

“Dari Yeriko.”

Yuna tersenyum bahagia. Ia terus memeluk erat tubuh ayahnya. “Ayah mau minum apa?” tanya Yuna.

“Nggak usah repot-repot! Nanti, Ayah bisa ambil minum sendiri.”

“Bi, tolong bikinkan teh hangat untuk Ayah ya!” pinta Yuna saat melihat Bibi War ingin menghampirinya.

Bibi War mengangguk. Ia bergegas pergi ke dapur. Yuna seolah sudah mengetahui kalau Bibi War memang ingin membuatkan minuman untuk ayahnya. Bibi War merasa sangat bahagia karena Yuna bisa berkumpul kembali dengan ayahnya.

“Ada berapa pelayan di rumah kamu ini?” tanya Adjie saat melihat pelayan lain beberapa kali melintas.

“Banyak, Yah. Padahal, aku santai-santai sepanjang hari. Mama mertuaku ngirim pelayan sebanyak itu waktu tahu aku hamil.”

“Ayah senang melihat kamu berada dalam keluarga yang sangat baik. Keluarga paman kamu malah memperlakukan kamu dengan buruk.”

“Aku nggak papa, Yah. Udah kebal sama perlakuan mereka.”

“Selama ini, Rudi kelihatan baik-baik aja. Ayah sama sekali nggak nyangka kalau dia memperlakukan kamu dengan buruk. Padahal, kamu masih keponakan dia juga.”

Yuna tersenyum menatap Adjie. “Oom Tarudi, selama ini memang selalu baik dan manis sama aku.”

“Oh ya? Kamu nggak lagi bohongin Ayah kan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma nggak suka aja dengan cara dia ambil perusahaan sampai mencelakai Ayah.”

“Dia nggak akan mencelakai Ayah. Ayah ini kakak kandungnya dia. Selama ini, dia terlihat sangat baik.  Kemarin, dia datang bawakan banyak hadiah untuk Ayah.”

“Apa!?” Yuna langsung membelalakkan matanya menatap Adjie. “Dia ke apartemen? Tahu dari mana kalau Ayah tinggal di situ?”

Adjie menggelengkan kepala.

Yuna membuka mulutnya lebar-lebar. Ia sangat kesal karena Tarudi berhasil menemukan tempat tinggal ayahnya. “Gila! Nggak ada nyerahnya dia ngejar ayah. Aku jengkel banget sama dia!” serunya sambil menghentak-hentakkan kaki.

“Dia udah beberapa kali ke rumah. Semuanya baik-baik aja. Nggak perlu khawatir!”

“Yah, dia itu yang udah bunuh bunda. Udah bikin Ayah koma di rumah sakit bertahun-tahun. Udah ambil semua perusahaan kita. Udah jual semua aset pribadi Ayah. Ayah masih aja mau baik sama dia!?” Yuna semakin berapi-api karena ayahnya masih saja menganggap kalau pamannya adalah orang yang baik.

“Yun, kenapa kamu jadi kayak gini? Nggak boleh berprasangka buruk sama paman kamu sendiri!”

“Aku nggak akan pernah berprasangka baik sama dia. Aku bakal balas apa yang sudah dia lakuin ke kita. Aku nggak akan ngelepasin mereka. Pengen banget mereka itu lenyap dari muka bumi ini!” seru Yuna.

“Yun, kamu lagi hamil. Jangan marah-marah gini!” pinta Adjie sambil mengusap bahu Yuna.

Yuna menghela napas. Detak jantung dan irama napasnya jauh lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar kesal dengan keluarga Bellina yang terus-menerus mengusiknya.

“Kamu nggak perlu mikirin masa lalu. Ada hal lebih penting yang harus kamu urus. Yakni, anak dalam kandungan kamu. Ayah nggak mau kamu terlalu banyak berpikir dan menggangu perkembangan janin kamu.”

Yuna menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut. “Ya Tuhan ... kenapa di hidupku ada orang kayak mereka?”

“Yun, sudahlah. Jangan pikirin masalah mereka terus!” pinta Adjie.

“Maunya nggak mikirin. Tapi, kepikiran terus. Aku nggak tenang kalau sampai Oom Tarudi tahu alamat rumah Ayah. Malam ini, Ayah tinggal di rumah ini aja ya!” pinta Yuna.

“Ayah mana bisa tinggal di rumah ini. Ayah nggak mau mengganggu kebahagiaan kalian.”

“Aku nggak ngerasa terganggu. Aku seneng kalo Ayah mau tinggal di rumah ini.”

“Ayah akan baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, Ayah akan langsung telepon Yeriko. Sistem keamanan di apartemen juga sudah bagus, kok. Ada satpam yang jaga setiap hari. Semua lorong juga dipasang CCTV. Ayah rasa, paman kamu nggak akan berani macam-macam.”

“Aku tetap nggak tenang kalau Ayah tinggal sendirian di sana. Apalagi, Oom Tarudi itu mencurigakan banget. Aku ... aduh!” Yuna langsung memegangi perutnya sambil merintih.

“Kamu nggak papa? Ayah udah bilang, jangan berpikir macam-macam! Ini bahaya buat kandungan kamu.”

“Makanya, Ayah tinggal di sini!” pinta Yuna sambil memegangi perutnya. “Ayah nggak kasihan sama aku? Aku lagi hamil, Yeriko juga sibuk kerja. Nggak ada yang nemenin aku cerita.”

Adjie berpikir sejenak. Ia sangat ingin menjaga puteri dan cucunya. Hanya saja, ia khawatir kalau kehadirannya justru akan membuat Yeriko dan Yuna terganggu.

“Iya, dong! Ayolah, Yah! Please!” batin Yuna. Ia sengaja menggunakan kandungannya untuk menahan ayahnya agar mau menerima tawarannya.

“Yun, kalau Ayah tinggal di sini. Apa Yeriko nggak akan berpikir negatif? Dia pasti akan menganggap Ayah nggak percaya sama dia. Seharusnya, Ayah mempercayakan puteri Ayah pada dia sepenuhnya.”

Yuna terdiam. “Bener juga, sih. Kalau Yeriko mikir begitu, hubungan Ayah dan Yeri bisa jadi canggung.”

Adjie tersenyum menatap puterinya itu. “Kamu nggak perlu mengkhawatirkan Ayah! Suami kamu itu, sudah memberikan banyak fasilitas yang baik untuk Ayah. Kamu harus percaya sama suami kamu itu!”

Yuna mengangguk. Ia tak bisa lagi mempertahankan keinginannya. Ia harus menghargai Yeriko sebagai suaminya. Yeriko selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya dan juga ayahnya. Seharusnya ia percaya, bahwa semua hal yang dilakukan oleh Yeriko adalah yang terbaik.

“Oke, deh. Kalau Ayah nggak mau nginap di sini. Ayah harus tetap di sini nemenin aku sampai Yeriko pulang kerja. Gimana?”

Adjie mengangguk setuju. Ia bisa menjaga puterinya saat Yeriko sedang bekerja. Sangat baik untuk menebus waktu-waktu yang hilang selama sebelas tahun belakangan ini. Puteri kecilnya kini sudah menjadi wanita yang dewasa, sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Saat ini, ia hanya ingin menjaga puteri kecil dan bayi mungil yang ada di dalam perutnya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 321 : It's Care

 


“Bi, lain kali kalau Yuna keluar rumah diperhatikan ya! Jangan sampai dia pakai high heels lagi ke mall. Muter-muter belanja begitu pake high heels bikin kaki bengkak aja.” Yeriko mengomel begitu ia masuk ke dalam rumah.

“Baik, Mas!” Bibi War tak berani berkomentar banyak. Ia memang lupa memperingatkan Yuna.

Yuna menarik lengan Yeriko. “Jangan marahin Bibi! Ini salahku,” pinta Yuna. Ia sangat sedih saat melihat Bibi War dimarahi suaminya karena kesalahan yang Yuna buat sendiri.

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. Ia mengajak istrinya itu naik ke kamarnya.

Yuna duduk di sofa kamarnya sambil menundukkan kepala. Ia pikir, emosi Yeriko sudah mereda. Ternyata, Yeriko masih saja mengomeli Bibi War.

Yuna memijat kecil kakinya yang membengkak. Sementara Yeriko sibuk mengganti pakaian tanpa mengajaknya bicara.

Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang duduk meringkuk di atas sofa. Ia menghampiri Yuna sambil mengenakan kaosnya.

“Sini, aku pijitin!” Yeriko langsung duduk di hadapan Yuna. Ia meraih salah satu kaki Yuna dan menekannya perlahan.

“Aw ...!” seru Yuna. “Sakit.”

“Makanya, kalau mau jalan-jalan nggak usah pakai sandal hak tinggi!” tutur Yeriko sambil menekan kaki Yuna.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Biasanya, aku jalan-jalan pakai high heels nggak begini. Apa karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu high heels ya?”

“Kenapa nggak pakai flat shoes aja?” tanya Yeriko lagi.

“Aku mau kelihatan lebih tinggi. Pakai high heels juga kelihatan lebih berkelas.”

Yeriko tersenyum kecil sambil menyentuh ujung kepala Yuna. “Kalau mau kelihatan tinggi, pakai egrang sekalian!”

“Iih ... ngolok banget sih!?” dengus Yuna.

Yeriko tertawa kecil. Ia terus memijat kaki Yuna.

“Aargh  ... sakit!” Yuna terus merintih.

“Sebentar aja sakitnya,” tutur Yeriko.

“Sakit! Ini semua gara-gara kamu yang selalu manjain aku. Kakiku jadi manja banget kayak gini. Aku terbiasa seharian pakai high heels. Kenapa sekarang jadi bengkak kayak gini. Aku harus membiasakan diri pakai high heels lagi,” tutur Yuna sambil merintih kesakitan.

“Nggak usah!” sahut Yeriko. “Aku lebih suka lihat kamu yang pendek.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kenapa kamu malah ngolok?”

“Aku nggak ngolok. Aku emang suka kamu yang pendek. Nggak usah ditambah high heels!” pinta Yeriko kesal. Ia terus memijat kaki Yuna perlahan.

Sementara, Yuna terus merintih kesakitan. Semakin lama, rintihan Yuna semakin nakal dan menggoda telinga Yeriko.

“Yun, kamu ini kesakitan beneran atau main-main?” tanya Yeriko geram. Ia menekan kaki Yuna lebih keras lagi.

“Aargh ...! Sakit!” seru Yuna. “Sakit beneran!”

“Nggak usah mendesah-mendesah kayak gitu!”

“Kenapa? Pengen?” tanya Yuna memainkan matanya.

“Lagi sakit kayak gini, kamu masih sempat godain aku?” dengus Yeriko kesal.

Yuna terkekeh. “Cuma sakit sedikit aja, kok.”

Yeriko langsung menepis kaki Yuna dari pangkuannya. “Pijat sendiri!”

“Jiiah ... marah?”

“Gimana aku nggak marah? Sakit kayak gini masih bisa kamu pake buat bahan candaan. Kamu nggak ngerti gimana khawatirnya aku, hah!?”

Yuna terdiam sesaat. “Iya, maaf!”

Yeriko berdecak kesal. “Lain kali, jangan suka bercanda kayak gini!” Ia kembali menarik kaki Yuna dan memijatnya lembut.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah Yeriko yang tak lagi berbicara dan fokus memijat kakinya.

“Ay, tadi siang Refi udah nolongin aku. Aku nggak enak kalau harus berhutang budi sama dia,” tutur Yuna sambil menatap Yeriko.

“Hutang budi apa?”

“Dia udah nolongin aku tadi siang. Kalau dia nggak ada dia, aku pasti udah jatuh dan nggak tahu gimana nasibku sekarang.”

Yeriko tak menyahut. Tangannya tetap fokus memijat kaki Yuna.

“Dia nggak punya keluarga di sini. Nggak punya kerjaan juga. Bukannya sekarang dia udah nggak bisa nari lagi? Sebanyak apa pun uang dia. Pasti lama-lama habis. Gimana kalau kita kasih dia tempat tinggal yang layak dan beberapa pakaian sebagai tanda terima kasih?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak mau.”

“Kenapa?”

“Kamu jangan terkecoh sama dia!” pinta Yeriko.

“Aku cuma mau balas kebaikan dia aja. Kirimin sembako ke rumahnya, gimana?”

Yeriko menggeleng lagi. “Aku nggak mau kamu baik sama dia!” tegasnya. “Kamu langsung luluh sama dia cuma karena dia nolongin kamu?”

“Bukan cuma karena dia nolongin aku. Tapi juga karena aku pernah ada di posisi dia. Nggak punya siapa-siapa, nggak punya tempat tinggal, nggak punya uang buat makan,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu dia udah jahat sama aku. Tapi aku nggak bisa lihat orang lain menderita kayak gitu. Aku ngebayangin gimana susahnya diriku yang dulu.”

Yeriko menatap mata Yuna. Ia tersenyum kecil sambil mengusap air mata Yuna. “Kamu terlalu baik, Yun. Kamu nggak tahu siapa Refi sebenarnya. Dia itu wanita yang ambisius. Lebih baik, kamu jaga jarak sama dia!” pintanya lembut.

“Aku cuma nggak bisa lihat orang lain susah. Aku cuma mau nolong dia sebagai tanda terima kasih.”

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. “Bisa nggak kamu buang jauh-jauh perasaan belas kasih kamu ini ke dia? Kalau dia sengaja ngerencanain sesuatu yang buruk ke kamu gimana?”

Yuna terdiam sambil menggigit bibirnya. Ucapan Yeriko ada benarnya juga. Selama ini, Refi selalu berusaha merebut Yeriko dari dirinya. “Apa kali ini dia sengaja pakai cara halus untuk menarik simpatiku dan simpati Yeriko?” batin Yuna.

“Udahlah. Nggak usah berpikie macam-macam soal Refi!” pinta Yeriko. “Kayak nggak ada hal lain aja buat dipikirin.”

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Jangan nyodorkan aku ke dia lagi! Aku nggak akan berbaik hati sama dia,” tegas Yeriko.

“Siap, Pak Bos Ganteng!” Yuna tersenyum lebar ke arah Yeriko.

Yeriko balas tersenyum sambil mengacak rambut Yuna.

“Oh ya, aku mau tanya soal hubungan Lutfi sama Icha. Apa kamu tahu kalau mereka ...?”

“Aku nggak tahu.”

“Aku belum selesai nanya!” seru Yuna kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Kenapa? Mau nanyain soal hubungan kontrak mereka itu?”

Yuna menganggukkan kepala. “Sebenarnya, si Lutfi itu beneran sayang sama Icha atau nggak sih? Aku bingung sama hubungan mereka. Icha juga orangnya tertutup banget. Nggak semua hal dia ceritain ke kami.”

“Perempuan kalau udah ngumpul, sukanya bergosip?”

“Ini bukan gosip. Tapi care sama temen. Kamu gimana sih?”

“Ya, ya, ya.” Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jawab dong!” pinta Yuna.

“Jawab apa?”

“Perasaan Lutfi ke Icha tuh sebenarnya gimana?”

Yeriko mengedikkan bahu. “Kamu tanya langsung aja ke Lutfi!”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jawabannya pasti, aku sayang banget sama Icha. Bohong banget! Kalo sayang, nggak akan punya hubungan kontrak sama Icha.”

Yeriko tertawa kecil.

“Kenapa malah ketawa?”

“Nggak papa.”

“Kamu pasti tahu sesuatu, kan? Nggak mungkin si Lutfi itu nggak cerita ke kamu. Kamu pasti tahu soal hubungan mereka sebenarnya, kan?”

Yeriko mengangkat kedua bahunya. “Terlalu banyak hal yang aku urus akhir-akhir ini. Nggak punya waktu buat perhatikan hubungan mereka.”

Yuna terdiam. Suaminya memang tidak begitu suka ikut campur dalam masalah percintaan sahabat-sahabatnya. Ia ingin semuanya mengalir begitu saja secara alami. Entah akan bermuara atau tidak, ia tidak terlalu banyak berkomentar. Selama semuanya masih dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Yeriko tidak akan mengambil tindakan apa pun. Yuna tidak akan bisa mendapatkan informasi sedikit pun soal hubungan Lutfi dan Icha.

“Mandi, yuk!” ajak Yeriko sambil melihat jam dinding yang ada di hadapannya.

“Mandiin!” pinta Yuna manja sambil merentangkan tangannya, memberi isyarat agar Yeriko menggendongnya ke kamar mandi.

Yeriko tersenyum kecil. Ia langsung memeluk tubuh Yuna. Mengangkatnya dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 320 : Cuma Cipika-Cipiki

 


Yuna keluar dari mobil tanpa alas kaki. Ia lebih memilih menenteng high heels di tangannya karena kakinya yang semakin membengkak.

Di teras rumah, ada Yeriko dan Satria yang sedang asyik berbincang. Begitu melihat Yuna pulang, Yeriko langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia mengerutkan dahi melihat sepasang high heels yang ada di tangan Yuna. Pandangannya kemudian beralih pada sepasang kaki Yuna yang terlihat memerah.

“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu, tiba-tiba bengkak kayak gini.”

Yeriko langsung menyambar sepasang high heels dari tangan Yuna dan melemparkannya begitu saja. Ia mengangkat tubuh Yuna, membawanya duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumahnya.

“Bi ...! Bibi ...!” teriak Yeriko sekuat tenaga.

Satria yang ada di sana, bisa melihat raut wajah Yeriko yang begitu panik.

“Kenapa pergi keluar pakai high heels?” tanya Yeriko kesal.

“Biasanya, pakai high heels nggak papa. Baru ini kakiku bengkak begini. Mungkin, karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu hak tinggi.”

“Sepatu flat shoes kamu ada. Kenapa maksain diri pakai high heels?” tanya Yeriko sembari memerhatikan kedua kaki Yuna yang membengkak.

“BIBI ...!” Teriakan Yeriko semakin keras karena wanita paruh baya itu tak kunjung menghampirinya.

“Iya, Mas. Sebentar!” balas Bibi War dari dalam rumah.

“Cepat ke sini!” teriak Yeriko semakin kesal.

Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. “Aku nggak papa. Kenapa kamu marah-marah?”

“Kaki kamu bengkak kayak gini, masih bilang nggak papa!?” sentak Yeriko kesal.

“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.

“Ambilkan handuk sama air hangat!” perintah Yeriko. “Cepetan!”

Bibi War mengangguk. Ia bergegas menuju dapur untuk mengambil air hangat.

Yeriko memasukkan kaki Yuna ke dalam baskom berisi air hangat. Ia mengusap dan memijat lembut kaki istrinya itu.

Satria tersenyum melihat Yeriko yang memperlakukan istrinya penuh cinta. Selama dua puluh delapan tahun mereka saling mengenal, ini pertama kalinya ia melihat Yeriko sangat panik hanya karena luka kecil yang ada di kaki Yuna.

“Bi, Kenapa Bibi biarin Yuna keluar pakai sepatu begitu?” tanya Yeriko sambil membasuh kaki istrinya dengan air hangat.

Bibi War terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata sebab ia tidak begitu memerhatikannya saat Yuna keluar dari rumah.

“Ambilkan plester, Bi!” perintah Yeriko. Ia mengeluarkan kaki Yuna dan mengusap lembut menggunakan handuk kecil.

“Tadi aku ketemu Refi,” tutur Yuna pelan.

“Jadi, ini semua karena Refi?” tanya Yeriko sambil menengadahkan kepalanya menatap Yuna.

Yuna menggeleng. “Aku nggak bilang begitu.”

“Terus?”

 “Dia nolongin aku dari serbuan anak-anak yang lari-larian. Kalau nggak ada dia, mungkin aku udah jatuh,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan kepala.

Yeriko menatap wajah Yuna. Ia sangat kesal karena istrinya mulai memiliki rasa simpati terhadap Refi.

Bibi War menyodorkan kotak obat ke arah Yeriko.

Yeriko meraih kotak obat tersebut dari tangan Bibi War. Ia membuka dan mengambil plester pad untuk menutup luka yang ada di kaki Yuna.

“Lain kali, kalau jalan ke mall jangan pakai high heels!” pinta Yeriko lembut. “Ini bahaya buat kamu apalagi kamu lagi hamil,” lanjutnya.

“Kakak Ipar Kecil udah hamil?” tanya Satria.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Weh, top cer, Yer. Udah hamil berapa minggu?” tanya Satria.

“Udah tiga bulan.”

“Kalian nikah baru sebulan. Kamu hamilin dia duluan sebelum nikah?” tanya Satria tanpa tedeng aling-aling.

“Sembarangan!” sahut Yeriko. “Kami udah nikah tujuh bulan yang lalu.”

Satria tertawa kecil. “Oh, iya. Lupa aku. Kali aja begitu. Lagi ngetrend kan hamil duluan baru nikah.”

“Apa aku kelihatan serendah itu?” tanya Yeriko.

“Kalo sama-sama cinta, nggak masalah. Nggak menunjukkan posisi kamu lebih rendah atau lebih tinggi. Cuma, menunjukkan kalo kamu nggak ada akhlak. Hahaha.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Satria.

“Ponakan aku, bakal cowok atau cewek nih?” tanya Satria.

“Belum tahu.”

“Oh, iya juga sih. Udah gerak-gerak atau belum sih?” tanya Satria sambil menatap perut Yuna yang masih mungil.

Yeriko langsung bangkit begitu mendapati tatapan Satria fokus ke salah satu bagian tubuh Yuna. “Kamu lihat apa?”

“Lihat Kakak Ipar Kecil,” jawab Satria santai.

“Nggak gitu juga lihatinnya!” pinta Yeriko.

“Eh!? Emang ada yang salah?” Satria mengerutkan dahinya.

Yuna tertawa kecil melihat sikap Yeriko.

“Astaga! Kamu cemburuin aku cuma gara-gara aku lihatin perutnya Kakak Ipar Kecil?”

“Cara kamu lihatin itu yang aku nggak suka. Nggak pake nafsu juga lihatinnya!”

“Aku nggak nafsu, Yer. Aku cuma lagi bayangin aja ada anak kecil di perutnya Kakak Ipar. Buruk sangka banget?”

“Awas aja sampe ada niat macam-macam!”

“Sat, nggak usah diladeni!” pinta Yuna. “Emang cemburuan dia tuh.”

Satria tertawa kecil. “Baru tahu kalau kamu cemburuan kayak gini.”

“Aku nggak cemburu. Aku cuma nggak suka ada cowok lain yang lihatin Yuna kayak mau lahap dia.”

Satria tergelak mendengar ucapan Yeriko.

“Malah ketawa, pulang sana!”

“Eh!? Kamu yang ngajak aku ke sini. Kenapa sekarang  ngusir aku?”

“Aku mau bawa Yuna ke rumah sakit. Kamu pulang aja!” pinta Yeriko. “Besok, kita obrolin lagi!”

Satria menggelengkan kepala. Ia bangkit dari kursi sambil menatap Yuna. “Kakak Ipar Kecil, aku pulang dulu ya!” pamit Satria sambil merangkul dan bersalaman pipi dengan Yuna.

“Kamu sengaja cari masalah sama aku?” Yeriko langsung menarik kerah baju Satria.

Satria tertawa kecil. “Cuma cipika-cipiki doang. Ini kan sudah biasa.”

“Nggak ada biasa-biasa!” sahut Yeriko kesal. “Awas aja sampe gitu lagi!”

“Biar aja! Biar kamu makin panas. Hahaha.” Satria memainkan matanya ke arah Yuna. Ia melangkah dengan santai menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Yeriko tersenyum kecil menatap Satria. Kalau bukan sahabatnya, mungkin ia sudah membuat Satria babak belur karena sudah mencium istrinya dengan sengaja.

“Udahlah, jangan cemburu terus!” pinta Yuna sambil menarik-narik lengan Yeriko.

“Dia itu sengaja bikin aku marah.”

“Dia kan cuma bercanda. Buat apa ditanggapi serius banget?”

“Ayo, kita ke rumah sakit!” ajak Yeriko.

“Ngapain?”

“Obatin kaki kamu. Tambah bengkak gitu.”

Yuna memerhatikan kedua kakinya. “Nggak papa, kok. Ntar dikompres aja. Bisa sembuh sendiri.”

“Ck, kamu ini senang banget bikin orang khawatir,” tutur Yeriko sambil menggendong Yuna masuk ke dalam mobil.

Yuna tersenyum kecil. Ia tidak bisa membantah keinginan Yeriko untuk membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit. Dokter hanya menyarankan untuk mengompres kaki Yuna menggunakan air hangat.

“Tuh, kan ... aku udah bilang, dikompres aja bisa. Kamu nggak percaya banget sama aku,” tutur Yuna.

“Lebih aman aja kalau udah ke dokter.”

Yuna tersenyum kecil. “Aku juga nggak bakal dikasih obat. Aku lagi hamil, nggak bisa minum obat sembarangan. Kalau ada luka, cukup dirawat sendiri aja.”

Yeriko melirik kaki Yuna yang duduk di sampingnya. Ia tetap saja merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu.

“Kalau jalan lagi, jangan pakai high heels. Pakai flat shoes aja atau pakai sandal jepit yang lebih nyaman!” pinta Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!”

Yeriko tertawa kecil. Ia merangkul pundak Yuna sambil mengecup pelipis Yuna penuh kehangatan.

“Oh ya, jangan bilang ke Jheni kalau kaki aku bengkak, ya!” pinta Yuna.

“Kenapa?”

“Aku nggak mau dia ngerasa bersalah. Tadi, waktu di mall dia udah khawatir banget. Ini semua murni kesalahanku. Jangan marahin Jheni atau Bibi War! Please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Asalkan lain kali lebih hati-hati lagi sebelum keluar rumah.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko tak pernah berhenti memberikan perhatian untuknya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas