“Ayah sudah lama di sini?” tanya Yeriko saat masuk rumah
dan mendapati ayah Yuna sedang berbincang bersama istrinya di ruang tamu.
“Ayah sudah di sini dari tadi pagi,” jawab Yuna. Ia
langsung menghampiri Yeriko, membantunya melepas jas yang melekat di tubuh
Yeriko.
“Kenapa nggak bilang? Aku bisa pulang
lebih awal kalau tahu ayah ada di sini.”
“Ayah hanya menemani Yuna saat kamu tidak ada di rumah.
Karena suami kamu sudah pulang, Ayah pamit pulang dulu!” tutur Adjie.
“Hah!?”
“Ayah makan malam sama kami dulu!” pinta Yeriko.
“Setelahnya, aku antar Ayah pulang.”
“Mmh ...”
“Ayolah, Yah!” pinta Yuna. “Jangan menolak ajakan menantu
yang baik hati ini!” lanjutnya sambil mengerdipkan mata.
Yeriko tersenyum menatap ayah mertuanya.
“Mmh, baiklah. Ayah tidak bisa menolak keinginan kalian.”
Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum bersama.
“Aku ganti baju dulu, Bibi War udah masak kan?”
Yuna mengangguk. “Aku temenin naik?”
“Nggak usah, kamu temenin Ayah aja! Aku cuma ganti baju
sebentar.”
Yuna mengangguk. Ia mengajak ayahnya pergi ke ruang makan
sembari menunggu Yeriko kembali dari kamarnya.
“Belum selesai, Bi? Biar aku bantu.” Yuna menghampiri Bibi
War yang sedang menyiapkan makanan di dapur.
“Nggak usah! Ini sudah mau selesai, kok. Tinggal potong
buah. Chef Rafa masaknya cepat. Bibi Cuma bantu hidangin aja!”
Yuna tersenyum menatap Bibi War. “Bi, aku sudah terlalu
lama bersantai. Kata dokter, aku harus banyak bergerak juga supaya tetap sehat.
Bibi, bisa bantu aku ngomong ke Mama Rully supaya menarik orang-orang dia dari
rumah ini?” bisiknya.
“Maksud Mbak Yuna?”
“Aku terlalu santai selama aku hamil. Nggak ada yang aku
kerjain selain baring, nonton televisi, main game. Huft, apa nggak ada hal lain
yang bisa aku kerjain? Di rumah ini cuma ada aku dan Yeriko. Pelayan di sini
terlalu banyak,” keluh Yuna.
“Mmh ...” Bibi War berpikir sejenak sambil menyiapkan
potongan buah untuk Yuna.
“Please, Bi!” pinta Yuna.
Bibi War mengangguk. “Nanti coba Bibi bicarakan sama ibu,
y?”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Thanks, Bi!” ucapnya
sambil mengecup pipi Bibi War.
Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. Ia melihat Yuna
seperti anaknya sendiri. Bukan hanya Yeriko yang semakin hari semakin mencintai
Yuna. Tapi juga semua yang ada di dalam rumah ini sudah terbiasa dengan
keceriaan Yuna.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk bersama
di meja makan.
“Nak Yeri, apa setiap hari kamu selalu pulang sampai
malam?” tanya Adjie.
Yeriko langsung menatap wajah ayah mertuanya. Ia bisa
menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah pria paruh baya itu.
“Nggak setiap hari, Yah. Biasanya, dia pulang lebih awal.
Akhir-akhir ini memang sedikit sibuk,” sahut Yuna.
“Oh.” Adjie mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ayah nggak perlu khawatir! Aku nggak akan ngebiarin Yuna
kesepian,” tutur Yeriko.
Adjie mengangguk. “Ayah percaya sama kamu.”
Yeriko tersenyum. Ia tidak ingin membuat ayah mertuanya
mengkhawatirkan istrinya.
“Oh ya, Ayah tadi bilang kalau Oom Tarudi ada main ke
apartemen dia.”
“Hah!? Dia tahu dari mana kalau Ayah tinggal di sana?”
“Aku rasa, dia udah menguntit kita. Dia bisa dapetin tempat
Ayah dirawat. Sekarang, dia juga udah tahu tempat tinggal Ayah. Kalau bukan
dari hasil menguntit kita, dari mana lagi?” tutur Yuna.
“Rudi nggak ngapa-ngapain Ayah. Dia Cuma mengunjungi
kakaknya. Nggak ada yang salah, kan?” sahut Adjie.
“Yah, selama Ayah sakit di rumah sakit. Dia itu nggak
pernah sekalipun tanyain keadaan Ayah apalagi mau jenguk. Kalau sekarang dia
tiba-tiba jenguk Ayah saat Ayah sudah sehat kayak gini, bener-bener nggak
masuk akal. Dia pasti punya rencana jahat ke Ayah.”
“Yuna, kenapa kamu berpikir negatif sama paman kamu
sendiri? Dia itu adik Ayah. Nggak mungkin mau macam-macam.”
Yuna mengerutkan bibir sambil memainkan garpu di atas
piringnya. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana keluarga pamannya itu
memperlakukan dirinya selama ini.
Yeriko tersenyum kecil. Ayah Yuna masih terus berpikir
kalau adiknya tidak mungkin melakukan rencana pembunuhan itu. Ia harus
cepat-cepat menyelesaikan penyelidikannya agar mengetahui siapa sebenarnya yang
menginginkan nyawa ayah mertuanya.
“Yuna, kamu anak yang baik. Nggak boleh menyimpan dendam
seperti itu!” pinta Adjie lembut. “Apalagi, kamu lagi hamil. Jangan berpikir
macam-macam! Kasihan bayi yang ada di perut kamu.”
“Ayah kamu bener. Lebih baik, kamu fokus dengan kandungan
kamu. Soal apartemen, nggak perlu khawatir. Di sana, sistem keamanannya sudah
bagus.”
“Bagus gimana? Satpam cuma jaga di pintu masuk. Terus, kita
cuma ngandalin CCTV. Kalo Oom Tarudi sampai ngelukain Ayah, emang itu CCTV bisa
bantuin berantem?” dengus Yuna kesal.
“Kalau kamu masih nggak yakin, aku kirim orang buat jagain
Ayah. Gimana?” tanya Yeriko.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Kalau kayak gitu, aku
ngerasa lebih tenang.”
“Tapi, Ayah nggak perlu penjagaan khusus,” sahut Adjie.
“Kalau Ayah nggak mau. Aku nggak akan izinin Ayah keluar
dari rumah ini!” tegas Yuna.
Adjie menoleh ke arah Yeriko.
Yeriko memberi isyarat untuk menerima saja keinginan Yuna.
Ia juga tidak ingin Yuna terus-menerus mengkhawatirkan ayahnya.
“Oke, oke. Ayah terima keinginan kamu,” tutur Adjie.
“Nah, gitu dong! Aku kan bisa tidur dengan tenang kalau ada
orang yang jagain Ayah.”
Adjie tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam sambil
berbincang banyak hal.
Usai makan malam, Adjie langsung berpamitan untuk kembali
ke apartemennya.
“Aku antar ayah pulang dulu, kamu di rumah aja ya!” pinta
Yeriko.
“Ikut!” rengek Yuna.
“Cuma sebentar. Aku langsung pulang.”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Oke. Hati-hati di jalan!”
Yeriko tersenyum sambil mengelus ujung kepala Yuna.
Adjie tersenyum menatap puterinya. “Ayah pulang dulu!”
pamitnya. “Jaga bayi kamu dengan baik!” lanjutnya.
“Siap, Ayah!”
Adjie tersenyum, ia melangkah perlahan keluar dari rumah
Yeriko.
Yeriko merangkul pinggang Yuna. “Cium dulu!” pintanya
berbisik.
Yuna tersenyum, ia langsung mengecup pipi Yeriko.
“Aku pergi antar ayah dulu!” Ia menyambar bibir Yuna dan
langsung melangkah pergi.
Yuna ikut melangkah keluar dari rumahnya sambil menatap dua
pria yang sedang bersiap pergi meninggalkannya. Ia terus tersenyum sambil
melambaikan tangan.
Setelah mobil Yeriko keluar dari halaman, ia bergegas masuk
ke rumah untuk membereskan meja makan. Namun, lagi-lagi meja itu sudah bersih.
Bibi War dan salah satu pelayannya sudah sibuk membersihkan dapur.
“Bi, aku bantu ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.
“Nggak usah! Udah banyak yang bantuin Bibi.”
Yuna memonyongkan bibirnya. Kini, ia benar-benar menjadi
seorang pengangguran sejati. Tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan, termasuk
pekerjaan rumah.
“Mbak Yuna istirahat saja!” perintah Bibi War. “Bumil muda
nggak boleh kecapekan.”
“Huft, jadi ratu di rumah ini bener-bener membosankan.
Bisa-bisa, aku lupa gimana caranya cuci gelas,” celetuk Yuna. Ia memilih
melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment