“Bi, lain kali kalau Yuna keluar rumah diperhatikan ya!
Jangan sampai dia pakai high heels lagi ke mall. Muter-muter belanja begitu
pake high heels bikin kaki bengkak aja.” Yeriko mengomel begitu ia masuk ke
dalam rumah.
“Baik, Mas!” Bibi War tak berani berkomentar banyak. Ia
memang lupa memperingatkan Yuna.
Yuna menarik lengan Yeriko. “Jangan marahin Bibi! Ini
salahku,” pinta Yuna. Ia sangat sedih saat melihat Bibi War dimarahi suaminya
karena kesalahan yang Yuna buat sendiri.
Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. Ia mengajak istrinya itu
naik ke kamarnya.
Yuna duduk di sofa kamarnya sambil menundukkan kepala. Ia
pikir, emosi Yeriko sudah mereda. Ternyata, Yeriko masih saja mengomeli Bibi
War.
Yuna memijat kecil kakinya yang membengkak. Sementara
Yeriko sibuk mengganti pakaian tanpa mengajaknya bicara.
Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang duduk
meringkuk di atas sofa. Ia menghampiri Yuna sambil mengenakan kaosnya.
“Sini, aku pijitin!” Yeriko langsung duduk di hadapan Yuna.
Ia meraih salah satu kaki Yuna dan menekannya perlahan.
“Aw ...!” seru Yuna. “Sakit.”
“Makanya, kalau mau jalan-jalan nggak usah pakai sandal hak
tinggi!” tutur Yeriko sambil menekan kaki Yuna.
Yuna memonyongkan bibirnya. “Biasanya, aku jalan-jalan
pakai high heels nggak begini. Apa karena udah lama nggak jalan-jalan pakai
sepatu high heels ya?”
“Kenapa nggak pakai flat shoes aja?” tanya Yeriko lagi.
“Aku mau kelihatan lebih tinggi. Pakai high heels juga
kelihatan lebih berkelas.”
Yeriko tersenyum kecil sambil menyentuh ujung kepala Yuna.
“Kalau mau kelihatan tinggi, pakai egrang sekalian!”
“Iih ... ngolok banget sih!?” dengus Yuna.
Yeriko tertawa kecil. Ia terus memijat kaki Yuna.
“Aargh ... sakit!” Yuna terus merintih.
“Sebentar aja sakitnya,” tutur Yeriko.
“Sakit! Ini semua gara-gara kamu yang selalu manjain aku.
Kakiku jadi manja banget kayak gini. Aku terbiasa seharian pakai high heels.
Kenapa sekarang jadi bengkak kayak gini. Aku harus membiasakan diri pakai high
heels lagi,” tutur Yuna sambil merintih kesakitan.
“Nggak usah!” sahut Yeriko. “Aku lebih suka lihat kamu yang
pendek.”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Kenapa kamu malah ngolok?”
“Aku nggak ngolok. Aku emang suka kamu yang pendek. Nggak
usah ditambah high heels!” pinta Yeriko kesal. Ia terus memijat kaki Yuna
perlahan.
Sementara, Yuna terus merintih kesakitan. Semakin lama,
rintihan Yuna semakin nakal dan menggoda telinga Yeriko.
“Yun, kamu ini kesakitan beneran atau main-main?” tanya
Yeriko geram. Ia menekan kaki Yuna lebih keras lagi.
“Aargh ...! Sakit!” seru Yuna. “Sakit beneran!”
“Nggak usah mendesah-mendesah kayak gitu!”
“Kenapa? Pengen?” tanya Yuna memainkan matanya.
“Lagi sakit kayak gini, kamu masih sempat godain aku?”
dengus Yeriko kesal.
Yuna terkekeh. “Cuma sakit sedikit aja, kok.”
Yeriko langsung menepis kaki Yuna dari pangkuannya. “Pijat
sendiri!”
“Jiiah ... marah?”
“Gimana aku nggak marah? Sakit kayak gini masih bisa kamu
pake buat bahan candaan. Kamu nggak ngerti gimana khawatirnya aku, hah!?”
Yuna terdiam sesaat. “Iya, maaf!”
Yeriko berdecak kesal. “Lain kali, jangan suka bercanda
kayak gini!” Ia kembali menarik kaki Yuna dan memijatnya lembut.
Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah
Yeriko yang tak lagi berbicara dan fokus memijat kakinya.
“Ay, tadi siang Refi udah nolongin aku. Aku nggak enak
kalau harus berhutang budi sama dia,” tutur Yuna sambil menatap Yeriko.
“Hutang budi apa?”
“Dia udah nolongin aku tadi siang. Kalau dia nggak ada dia,
aku pasti udah jatuh dan nggak tahu gimana nasibku sekarang.”
Yeriko tak menyahut. Tangannya tetap fokus memijat kaki
Yuna.
“Dia nggak punya keluarga di sini. Nggak punya kerjaan
juga. Bukannya sekarang dia udah nggak bisa nari lagi? Sebanyak apa pun uang
dia. Pasti lama-lama habis. Gimana kalau kita kasih dia tempat tinggal yang
layak dan beberapa pakaian sebagai tanda terima kasih?”
Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak mau.”
“Kenapa?”
“Kamu jangan terkecoh sama dia!” pinta Yeriko.
“Aku cuma mau balas kebaikan dia aja. Kirimin sembako ke
rumahnya, gimana?”
Yeriko menggeleng lagi. “Aku nggak mau kamu baik sama dia!”
tegasnya. “Kamu langsung luluh sama dia cuma karena dia nolongin kamu?”
“Bukan cuma karena dia nolongin aku.
Tapi juga karena aku pernah ada di posisi dia. Nggak punya siapa-siapa, nggak
punya tempat tinggal, nggak punya uang buat makan,” tutur Yuna dengan mata
berkaca-kaca. “Aku tahu dia udah jahat sama aku. Tapi aku nggak bisa lihat
orang lain menderita kayak gitu. Aku ngebayangin gimana susahnya diriku yang
dulu.”
Yeriko menatap mata Yuna. Ia tersenyum kecil sambil
mengusap air mata Yuna. “Kamu terlalu baik, Yun. Kamu nggak tahu siapa Refi
sebenarnya. Dia itu wanita yang ambisius. Lebih baik, kamu jaga jarak sama
dia!” pintanya lembut.
“Aku cuma nggak bisa lihat orang lain susah. Aku cuma mau
nolong dia sebagai tanda terima kasih.”
Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. “Bisa nggak kamu buang
jauh-jauh perasaan belas kasih kamu ini ke dia? Kalau dia sengaja ngerencanain
sesuatu yang buruk ke kamu gimana?”
Yuna terdiam sambil menggigit bibirnya. Ucapan Yeriko ada
benarnya juga. Selama ini, Refi selalu berusaha merebut Yeriko dari dirinya.
“Apa kali ini dia sengaja pakai cara halus untuk menarik simpatiku dan simpati
Yeriko?” batin Yuna.
“Udahlah. Nggak usah berpikie macam-macam soal Refi!” pinta
Yeriko. “Kayak nggak ada hal lain aja buat dipikirin.”
Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Jangan nyodorkan aku ke dia lagi! Aku nggak akan berbaik
hati sama dia,” tegas Yeriko.
“Siap, Pak Bos Ganteng!” Yuna tersenyum lebar ke arah
Yeriko.
Yeriko balas tersenyum sambil mengacak rambut Yuna.
“Oh ya, aku mau tanya soal hubungan Lutfi sama Icha. Apa
kamu tahu kalau mereka ...?”
“Aku nggak tahu.”
“Aku belum selesai nanya!” seru Yuna kesal.
Yeriko tertawa kecil. “Kenapa? Mau nanyain soal hubungan
kontrak mereka itu?”
Yuna menganggukkan kepala. “Sebenarnya, si Lutfi itu
beneran sayang sama Icha atau nggak sih? Aku bingung sama hubungan mereka. Icha
juga orangnya tertutup banget. Nggak semua hal dia ceritain ke kami.”
“Perempuan kalau udah ngumpul, sukanya bergosip?”
“Ini bukan gosip. Tapi care sama temen. Kamu gimana sih?”
“Ya, ya, ya.” Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jawab dong!” pinta Yuna.
“Jawab apa?”
“Perasaan Lutfi ke Icha tuh sebenarnya gimana?”
Yeriko mengedikkan bahu. “Kamu tanya langsung aja ke
Lutfi!”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Jawabannya pasti, aku sayang
banget sama Icha. Bohong banget! Kalo sayang, nggak akan punya hubungan kontrak
sama Icha.”
Yeriko tertawa kecil.
“Kenapa malah ketawa?”
“Nggak papa.”
“Kamu pasti tahu sesuatu, kan? Nggak mungkin si Lutfi itu
nggak cerita ke kamu. Kamu pasti tahu soal hubungan mereka sebenarnya, kan?”
Yeriko mengangkat kedua bahunya. “Terlalu banyak hal yang
aku urus akhir-akhir ini. Nggak punya waktu buat perhatikan hubungan mereka.”
Yuna terdiam. Suaminya memang tidak begitu suka ikut campur
dalam masalah percintaan sahabat-sahabatnya. Ia ingin semuanya mengalir begitu
saja secara alami. Entah akan bermuara atau tidak, ia tidak terlalu banyak
berkomentar. Selama semuanya masih dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada
yang terluka. Yeriko tidak akan mengambil tindakan apa pun. Yuna tidak akan
bisa mendapatkan informasi sedikit pun soal hubungan Lutfi dan Icha.
“Mandi, yuk!” ajak Yeriko sambil melihat jam dinding yang
ada di hadapannya.
“Mandiin!” pinta Yuna manja sambil merentangkan tangannya,
memberi isyarat agar Yeriko menggendongnya ke kamar mandi.
Yeriko tersenyum kecil. Ia langsung memeluk tubuh Yuna.
Mengangkatnya dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment