Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 322 : Daddy Time

 


“Mbak, di bawah ada orang yang nyari Mbak Yuna.” Bibi War menghampiri Yuna yang sedang santai di balkon.

“Siapa, Bi?” tanya Yuna.

“Pak Adjie.”

“Astaga!” Yuna hampir saja melompat dari kursinya.

“Kenapa, Mbak?”

“Itu ayahku, Bi!”seru Yuna buru-buru mengenalkan sandalnya dan bergegas menuruni anak tangga.

“Oh, itu ayahnya Mbak Yuna? Pantesan mirip, Bibi kan belum pernah ketemu,” gumam Bibi War. Ia ikut melangkah perlahan menuruni anak tangga.

“Ayah ...!” seru Yuna. Ia langsung menghambur ke pelukan ayahnya.

Adjie langsung memeluk Yuna penuh kehangatan. Rasanya masih sama seperti sebelas tahun lalu. Setiap kali ia pulang bekerja, Yuna akan berlari menghampirinya dan memeluknya sangat erat. Waktu begitu cepat berlalu. Selama sebelas tahun ia melewatkan banyak hal tentang puterinya itu.

“Ayah kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Yuna.

“Kalau Ayah bilang, bukan kejutan dong?”

“Ayah tahu alamat rumah ini dari mana?”

“Dari Yeriko.”

Yuna tersenyum bahagia. Ia terus memeluk erat tubuh ayahnya. “Ayah mau minum apa?” tanya Yuna.

“Nggak usah repot-repot! Nanti, Ayah bisa ambil minum sendiri.”

“Bi, tolong bikinkan teh hangat untuk Ayah ya!” pinta Yuna saat melihat Bibi War ingin menghampirinya.

Bibi War mengangguk. Ia bergegas pergi ke dapur. Yuna seolah sudah mengetahui kalau Bibi War memang ingin membuatkan minuman untuk ayahnya. Bibi War merasa sangat bahagia karena Yuna bisa berkumpul kembali dengan ayahnya.

“Ada berapa pelayan di rumah kamu ini?” tanya Adjie saat melihat pelayan lain beberapa kali melintas.

“Banyak, Yah. Padahal, aku santai-santai sepanjang hari. Mama mertuaku ngirim pelayan sebanyak itu waktu tahu aku hamil.”

“Ayah senang melihat kamu berada dalam keluarga yang sangat baik. Keluarga paman kamu malah memperlakukan kamu dengan buruk.”

“Aku nggak papa, Yah. Udah kebal sama perlakuan mereka.”

“Selama ini, Rudi kelihatan baik-baik aja. Ayah sama sekali nggak nyangka kalau dia memperlakukan kamu dengan buruk. Padahal, kamu masih keponakan dia juga.”

Yuna tersenyum menatap Adjie. “Oom Tarudi, selama ini memang selalu baik dan manis sama aku.”

“Oh ya? Kamu nggak lagi bohongin Ayah kan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma nggak suka aja dengan cara dia ambil perusahaan sampai mencelakai Ayah.”

“Dia nggak akan mencelakai Ayah. Ayah ini kakak kandungnya dia. Selama ini, dia terlihat sangat baik.  Kemarin, dia datang bawakan banyak hadiah untuk Ayah.”

“Apa!?” Yuna langsung membelalakkan matanya menatap Adjie. “Dia ke apartemen? Tahu dari mana kalau Ayah tinggal di situ?”

Adjie menggelengkan kepala.

Yuna membuka mulutnya lebar-lebar. Ia sangat kesal karena Tarudi berhasil menemukan tempat tinggal ayahnya. “Gila! Nggak ada nyerahnya dia ngejar ayah. Aku jengkel banget sama dia!” serunya sambil menghentak-hentakkan kaki.

“Dia udah beberapa kali ke rumah. Semuanya baik-baik aja. Nggak perlu khawatir!”

“Yah, dia itu yang udah bunuh bunda. Udah bikin Ayah koma di rumah sakit bertahun-tahun. Udah ambil semua perusahaan kita. Udah jual semua aset pribadi Ayah. Ayah masih aja mau baik sama dia!?” Yuna semakin berapi-api karena ayahnya masih saja menganggap kalau pamannya adalah orang yang baik.

“Yun, kenapa kamu jadi kayak gini? Nggak boleh berprasangka buruk sama paman kamu sendiri!”

“Aku nggak akan pernah berprasangka baik sama dia. Aku bakal balas apa yang sudah dia lakuin ke kita. Aku nggak akan ngelepasin mereka. Pengen banget mereka itu lenyap dari muka bumi ini!” seru Yuna.

“Yun, kamu lagi hamil. Jangan marah-marah gini!” pinta Adjie sambil mengusap bahu Yuna.

Yuna menghela napas. Detak jantung dan irama napasnya jauh lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar kesal dengan keluarga Bellina yang terus-menerus mengusiknya.

“Kamu nggak perlu mikirin masa lalu. Ada hal lebih penting yang harus kamu urus. Yakni, anak dalam kandungan kamu. Ayah nggak mau kamu terlalu banyak berpikir dan menggangu perkembangan janin kamu.”

Yuna menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut. “Ya Tuhan ... kenapa di hidupku ada orang kayak mereka?”

“Yun, sudahlah. Jangan pikirin masalah mereka terus!” pinta Adjie.

“Maunya nggak mikirin. Tapi, kepikiran terus. Aku nggak tenang kalau sampai Oom Tarudi tahu alamat rumah Ayah. Malam ini, Ayah tinggal di rumah ini aja ya!” pinta Yuna.

“Ayah mana bisa tinggal di rumah ini. Ayah nggak mau mengganggu kebahagiaan kalian.”

“Aku nggak ngerasa terganggu. Aku seneng kalo Ayah mau tinggal di rumah ini.”

“Ayah akan baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, Ayah akan langsung telepon Yeriko. Sistem keamanan di apartemen juga sudah bagus, kok. Ada satpam yang jaga setiap hari. Semua lorong juga dipasang CCTV. Ayah rasa, paman kamu nggak akan berani macam-macam.”

“Aku tetap nggak tenang kalau Ayah tinggal sendirian di sana. Apalagi, Oom Tarudi itu mencurigakan banget. Aku ... aduh!” Yuna langsung memegangi perutnya sambil merintih.

“Kamu nggak papa? Ayah udah bilang, jangan berpikir macam-macam! Ini bahaya buat kandungan kamu.”

“Makanya, Ayah tinggal di sini!” pinta Yuna sambil memegangi perutnya. “Ayah nggak kasihan sama aku? Aku lagi hamil, Yeriko juga sibuk kerja. Nggak ada yang nemenin aku cerita.”

Adjie berpikir sejenak. Ia sangat ingin menjaga puteri dan cucunya. Hanya saja, ia khawatir kalau kehadirannya justru akan membuat Yeriko dan Yuna terganggu.

“Iya, dong! Ayolah, Yah! Please!” batin Yuna. Ia sengaja menggunakan kandungannya untuk menahan ayahnya agar mau menerima tawarannya.

“Yun, kalau Ayah tinggal di sini. Apa Yeriko nggak akan berpikir negatif? Dia pasti akan menganggap Ayah nggak percaya sama dia. Seharusnya, Ayah mempercayakan puteri Ayah pada dia sepenuhnya.”

Yuna terdiam. “Bener juga, sih. Kalau Yeriko mikir begitu, hubungan Ayah dan Yeri bisa jadi canggung.”

Adjie tersenyum menatap puterinya itu. “Kamu nggak perlu mengkhawatirkan Ayah! Suami kamu itu, sudah memberikan banyak fasilitas yang baik untuk Ayah. Kamu harus percaya sama suami kamu itu!”

Yuna mengangguk. Ia tak bisa lagi mempertahankan keinginannya. Ia harus menghargai Yeriko sebagai suaminya. Yeriko selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya dan juga ayahnya. Seharusnya ia percaya, bahwa semua hal yang dilakukan oleh Yeriko adalah yang terbaik.

“Oke, deh. Kalau Ayah nggak mau nginap di sini. Ayah harus tetap di sini nemenin aku sampai Yeriko pulang kerja. Gimana?”

Adjie mengangguk setuju. Ia bisa menjaga puterinya saat Yeriko sedang bekerja. Sangat baik untuk menebus waktu-waktu yang hilang selama sebelas tahun belakangan ini. Puteri kecilnya kini sudah menjadi wanita yang dewasa, sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Saat ini, ia hanya ingin menjaga puteri kecil dan bayi mungil yang ada di dalam perutnya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 321 : It's Care

 


“Bi, lain kali kalau Yuna keluar rumah diperhatikan ya! Jangan sampai dia pakai high heels lagi ke mall. Muter-muter belanja begitu pake high heels bikin kaki bengkak aja.” Yeriko mengomel begitu ia masuk ke dalam rumah.

“Baik, Mas!” Bibi War tak berani berkomentar banyak. Ia memang lupa memperingatkan Yuna.

Yuna menarik lengan Yeriko. “Jangan marahin Bibi! Ini salahku,” pinta Yuna. Ia sangat sedih saat melihat Bibi War dimarahi suaminya karena kesalahan yang Yuna buat sendiri.

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. Ia mengajak istrinya itu naik ke kamarnya.

Yuna duduk di sofa kamarnya sambil menundukkan kepala. Ia pikir, emosi Yeriko sudah mereda. Ternyata, Yeriko masih saja mengomeli Bibi War.

Yuna memijat kecil kakinya yang membengkak. Sementara Yeriko sibuk mengganti pakaian tanpa mengajaknya bicara.

Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang duduk meringkuk di atas sofa. Ia menghampiri Yuna sambil mengenakan kaosnya.

“Sini, aku pijitin!” Yeriko langsung duduk di hadapan Yuna. Ia meraih salah satu kaki Yuna dan menekannya perlahan.

“Aw ...!” seru Yuna. “Sakit.”

“Makanya, kalau mau jalan-jalan nggak usah pakai sandal hak tinggi!” tutur Yeriko sambil menekan kaki Yuna.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Biasanya, aku jalan-jalan pakai high heels nggak begini. Apa karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu high heels ya?”

“Kenapa nggak pakai flat shoes aja?” tanya Yeriko lagi.

“Aku mau kelihatan lebih tinggi. Pakai high heels juga kelihatan lebih berkelas.”

Yeriko tersenyum kecil sambil menyentuh ujung kepala Yuna. “Kalau mau kelihatan tinggi, pakai egrang sekalian!”

“Iih ... ngolok banget sih!?” dengus Yuna.

Yeriko tertawa kecil. Ia terus memijat kaki Yuna.

“Aargh  ... sakit!” Yuna terus merintih.

“Sebentar aja sakitnya,” tutur Yeriko.

“Sakit! Ini semua gara-gara kamu yang selalu manjain aku. Kakiku jadi manja banget kayak gini. Aku terbiasa seharian pakai high heels. Kenapa sekarang jadi bengkak kayak gini. Aku harus membiasakan diri pakai high heels lagi,” tutur Yuna sambil merintih kesakitan.

“Nggak usah!” sahut Yeriko. “Aku lebih suka lihat kamu yang pendek.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kenapa kamu malah ngolok?”

“Aku nggak ngolok. Aku emang suka kamu yang pendek. Nggak usah ditambah high heels!” pinta Yeriko kesal. Ia terus memijat kaki Yuna perlahan.

Sementara, Yuna terus merintih kesakitan. Semakin lama, rintihan Yuna semakin nakal dan menggoda telinga Yeriko.

“Yun, kamu ini kesakitan beneran atau main-main?” tanya Yeriko geram. Ia menekan kaki Yuna lebih keras lagi.

“Aargh ...! Sakit!” seru Yuna. “Sakit beneran!”

“Nggak usah mendesah-mendesah kayak gitu!”

“Kenapa? Pengen?” tanya Yuna memainkan matanya.

“Lagi sakit kayak gini, kamu masih sempat godain aku?” dengus Yeriko kesal.

Yuna terkekeh. “Cuma sakit sedikit aja, kok.”

Yeriko langsung menepis kaki Yuna dari pangkuannya. “Pijat sendiri!”

“Jiiah ... marah?”

“Gimana aku nggak marah? Sakit kayak gini masih bisa kamu pake buat bahan candaan. Kamu nggak ngerti gimana khawatirnya aku, hah!?”

Yuna terdiam sesaat. “Iya, maaf!”

Yeriko berdecak kesal. “Lain kali, jangan suka bercanda kayak gini!” Ia kembali menarik kaki Yuna dan memijatnya lembut.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah Yeriko yang tak lagi berbicara dan fokus memijat kakinya.

“Ay, tadi siang Refi udah nolongin aku. Aku nggak enak kalau harus berhutang budi sama dia,” tutur Yuna sambil menatap Yeriko.

“Hutang budi apa?”

“Dia udah nolongin aku tadi siang. Kalau dia nggak ada dia, aku pasti udah jatuh dan nggak tahu gimana nasibku sekarang.”

Yeriko tak menyahut. Tangannya tetap fokus memijat kaki Yuna.

“Dia nggak punya keluarga di sini. Nggak punya kerjaan juga. Bukannya sekarang dia udah nggak bisa nari lagi? Sebanyak apa pun uang dia. Pasti lama-lama habis. Gimana kalau kita kasih dia tempat tinggal yang layak dan beberapa pakaian sebagai tanda terima kasih?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak mau.”

“Kenapa?”

“Kamu jangan terkecoh sama dia!” pinta Yeriko.

“Aku cuma mau balas kebaikan dia aja. Kirimin sembako ke rumahnya, gimana?”

Yeriko menggeleng lagi. “Aku nggak mau kamu baik sama dia!” tegasnya. “Kamu langsung luluh sama dia cuma karena dia nolongin kamu?”

“Bukan cuma karena dia nolongin aku. Tapi juga karena aku pernah ada di posisi dia. Nggak punya siapa-siapa, nggak punya tempat tinggal, nggak punya uang buat makan,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu dia udah jahat sama aku. Tapi aku nggak bisa lihat orang lain menderita kayak gitu. Aku ngebayangin gimana susahnya diriku yang dulu.”

Yeriko menatap mata Yuna. Ia tersenyum kecil sambil mengusap air mata Yuna. “Kamu terlalu baik, Yun. Kamu nggak tahu siapa Refi sebenarnya. Dia itu wanita yang ambisius. Lebih baik, kamu jaga jarak sama dia!” pintanya lembut.

“Aku cuma nggak bisa lihat orang lain susah. Aku cuma mau nolong dia sebagai tanda terima kasih.”

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. “Bisa nggak kamu buang jauh-jauh perasaan belas kasih kamu ini ke dia? Kalau dia sengaja ngerencanain sesuatu yang buruk ke kamu gimana?”

Yuna terdiam sambil menggigit bibirnya. Ucapan Yeriko ada benarnya juga. Selama ini, Refi selalu berusaha merebut Yeriko dari dirinya. “Apa kali ini dia sengaja pakai cara halus untuk menarik simpatiku dan simpati Yeriko?” batin Yuna.

“Udahlah. Nggak usah berpikie macam-macam soal Refi!” pinta Yeriko. “Kayak nggak ada hal lain aja buat dipikirin.”

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Jangan nyodorkan aku ke dia lagi! Aku nggak akan berbaik hati sama dia,” tegas Yeriko.

“Siap, Pak Bos Ganteng!” Yuna tersenyum lebar ke arah Yeriko.

Yeriko balas tersenyum sambil mengacak rambut Yuna.

“Oh ya, aku mau tanya soal hubungan Lutfi sama Icha. Apa kamu tahu kalau mereka ...?”

“Aku nggak tahu.”

“Aku belum selesai nanya!” seru Yuna kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Kenapa? Mau nanyain soal hubungan kontrak mereka itu?”

Yuna menganggukkan kepala. “Sebenarnya, si Lutfi itu beneran sayang sama Icha atau nggak sih? Aku bingung sama hubungan mereka. Icha juga orangnya tertutup banget. Nggak semua hal dia ceritain ke kami.”

“Perempuan kalau udah ngumpul, sukanya bergosip?”

“Ini bukan gosip. Tapi care sama temen. Kamu gimana sih?”

“Ya, ya, ya.” Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jawab dong!” pinta Yuna.

“Jawab apa?”

“Perasaan Lutfi ke Icha tuh sebenarnya gimana?”

Yeriko mengedikkan bahu. “Kamu tanya langsung aja ke Lutfi!”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jawabannya pasti, aku sayang banget sama Icha. Bohong banget! Kalo sayang, nggak akan punya hubungan kontrak sama Icha.”

Yeriko tertawa kecil.

“Kenapa malah ketawa?”

“Nggak papa.”

“Kamu pasti tahu sesuatu, kan? Nggak mungkin si Lutfi itu nggak cerita ke kamu. Kamu pasti tahu soal hubungan mereka sebenarnya, kan?”

Yeriko mengangkat kedua bahunya. “Terlalu banyak hal yang aku urus akhir-akhir ini. Nggak punya waktu buat perhatikan hubungan mereka.”

Yuna terdiam. Suaminya memang tidak begitu suka ikut campur dalam masalah percintaan sahabat-sahabatnya. Ia ingin semuanya mengalir begitu saja secara alami. Entah akan bermuara atau tidak, ia tidak terlalu banyak berkomentar. Selama semuanya masih dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Yeriko tidak akan mengambil tindakan apa pun. Yuna tidak akan bisa mendapatkan informasi sedikit pun soal hubungan Lutfi dan Icha.

“Mandi, yuk!” ajak Yeriko sambil melihat jam dinding yang ada di hadapannya.

“Mandiin!” pinta Yuna manja sambil merentangkan tangannya, memberi isyarat agar Yeriko menggendongnya ke kamar mandi.

Yeriko tersenyum kecil. Ia langsung memeluk tubuh Yuna. Mengangkatnya dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 320 : Cuma Cipika-Cipiki

 


Yuna keluar dari mobil tanpa alas kaki. Ia lebih memilih menenteng high heels di tangannya karena kakinya yang semakin membengkak.

Di teras rumah, ada Yeriko dan Satria yang sedang asyik berbincang. Begitu melihat Yuna pulang, Yeriko langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia mengerutkan dahi melihat sepasang high heels yang ada di tangan Yuna. Pandangannya kemudian beralih pada sepasang kaki Yuna yang terlihat memerah.

“Kaki kamu kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak tahu, tiba-tiba bengkak kayak gini.”

Yeriko langsung menyambar sepasang high heels dari tangan Yuna dan melemparkannya begitu saja. Ia mengangkat tubuh Yuna, membawanya duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumahnya.

“Bi ...! Bibi ...!” teriak Yeriko sekuat tenaga.

Satria yang ada di sana, bisa melihat raut wajah Yeriko yang begitu panik.

“Kenapa pergi keluar pakai high heels?” tanya Yeriko kesal.

“Biasanya, pakai high heels nggak papa. Baru ini kakiku bengkak begini. Mungkin, karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu hak tinggi.”

“Sepatu flat shoes kamu ada. Kenapa maksain diri pakai high heels?” tanya Yeriko sembari memerhatikan kedua kaki Yuna yang membengkak.

“BIBI ...!” Teriakan Yeriko semakin keras karena wanita paruh baya itu tak kunjung menghampirinya.

“Iya, Mas. Sebentar!” balas Bibi War dari dalam rumah.

“Cepat ke sini!” teriak Yeriko semakin kesal.

Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. “Aku nggak papa. Kenapa kamu marah-marah?”

“Kaki kamu bengkak kayak gini, masih bilang nggak papa!?” sentak Yeriko kesal.

“Ada apa, Mas?” tanya Bibi War sambil menghampiri Yeriko.

“Ambilkan handuk sama air hangat!” perintah Yeriko. “Cepetan!”

Bibi War mengangguk. Ia bergegas menuju dapur untuk mengambil air hangat.

Yeriko memasukkan kaki Yuna ke dalam baskom berisi air hangat. Ia mengusap dan memijat lembut kaki istrinya itu.

Satria tersenyum melihat Yeriko yang memperlakukan istrinya penuh cinta. Selama dua puluh delapan tahun mereka saling mengenal, ini pertama kalinya ia melihat Yeriko sangat panik hanya karena luka kecil yang ada di kaki Yuna.

“Bi, Kenapa Bibi biarin Yuna keluar pakai sepatu begitu?” tanya Yeriko sambil membasuh kaki istrinya dengan air hangat.

Bibi War terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata sebab ia tidak begitu memerhatikannya saat Yuna keluar dari rumah.

“Ambilkan plester, Bi!” perintah Yeriko. Ia mengeluarkan kaki Yuna dan mengusap lembut menggunakan handuk kecil.

“Tadi aku ketemu Refi,” tutur Yuna pelan.

“Jadi, ini semua karena Refi?” tanya Yeriko sambil menengadahkan kepalanya menatap Yuna.

Yuna menggeleng. “Aku nggak bilang begitu.”

“Terus?”

 “Dia nolongin aku dari serbuan anak-anak yang lari-larian. Kalau nggak ada dia, mungkin aku udah jatuh,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan kepala.

Yeriko menatap wajah Yuna. Ia sangat kesal karena istrinya mulai memiliki rasa simpati terhadap Refi.

Bibi War menyodorkan kotak obat ke arah Yeriko.

Yeriko meraih kotak obat tersebut dari tangan Bibi War. Ia membuka dan mengambil plester pad untuk menutup luka yang ada di kaki Yuna.

“Lain kali, kalau jalan ke mall jangan pakai high heels!” pinta Yeriko lembut. “Ini bahaya buat kamu apalagi kamu lagi hamil,” lanjutnya.

“Kakak Ipar Kecil udah hamil?” tanya Satria.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Weh, top cer, Yer. Udah hamil berapa minggu?” tanya Satria.

“Udah tiga bulan.”

“Kalian nikah baru sebulan. Kamu hamilin dia duluan sebelum nikah?” tanya Satria tanpa tedeng aling-aling.

“Sembarangan!” sahut Yeriko. “Kami udah nikah tujuh bulan yang lalu.”

Satria tertawa kecil. “Oh, iya. Lupa aku. Kali aja begitu. Lagi ngetrend kan hamil duluan baru nikah.”

“Apa aku kelihatan serendah itu?” tanya Yeriko.

“Kalo sama-sama cinta, nggak masalah. Nggak menunjukkan posisi kamu lebih rendah atau lebih tinggi. Cuma, menunjukkan kalo kamu nggak ada akhlak. Hahaha.”

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Satria.

“Ponakan aku, bakal cowok atau cewek nih?” tanya Satria.

“Belum tahu.”

“Oh, iya juga sih. Udah gerak-gerak atau belum sih?” tanya Satria sambil menatap perut Yuna yang masih mungil.

Yeriko langsung bangkit begitu mendapati tatapan Satria fokus ke salah satu bagian tubuh Yuna. “Kamu lihat apa?”

“Lihat Kakak Ipar Kecil,” jawab Satria santai.

“Nggak gitu juga lihatinnya!” pinta Yeriko.

“Eh!? Emang ada yang salah?” Satria mengerutkan dahinya.

Yuna tertawa kecil melihat sikap Yeriko.

“Astaga! Kamu cemburuin aku cuma gara-gara aku lihatin perutnya Kakak Ipar Kecil?”

“Cara kamu lihatin itu yang aku nggak suka. Nggak pake nafsu juga lihatinnya!”

“Aku nggak nafsu, Yer. Aku cuma lagi bayangin aja ada anak kecil di perutnya Kakak Ipar. Buruk sangka banget?”

“Awas aja sampe ada niat macam-macam!”

“Sat, nggak usah diladeni!” pinta Yuna. “Emang cemburuan dia tuh.”

Satria tertawa kecil. “Baru tahu kalau kamu cemburuan kayak gini.”

“Aku nggak cemburu. Aku cuma nggak suka ada cowok lain yang lihatin Yuna kayak mau lahap dia.”

Satria tergelak mendengar ucapan Yeriko.

“Malah ketawa, pulang sana!”

“Eh!? Kamu yang ngajak aku ke sini. Kenapa sekarang  ngusir aku?”

“Aku mau bawa Yuna ke rumah sakit. Kamu pulang aja!” pinta Yeriko. “Besok, kita obrolin lagi!”

Satria menggelengkan kepala. Ia bangkit dari kursi sambil menatap Yuna. “Kakak Ipar Kecil, aku pulang dulu ya!” pamit Satria sambil merangkul dan bersalaman pipi dengan Yuna.

“Kamu sengaja cari masalah sama aku?” Yeriko langsung menarik kerah baju Satria.

Satria tertawa kecil. “Cuma cipika-cipiki doang. Ini kan sudah biasa.”

“Nggak ada biasa-biasa!” sahut Yeriko kesal. “Awas aja sampe gitu lagi!”

“Biar aja! Biar kamu makin panas. Hahaha.” Satria memainkan matanya ke arah Yuna. Ia melangkah dengan santai menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

Yeriko tersenyum kecil menatap Satria. Kalau bukan sahabatnya, mungkin ia sudah membuat Satria babak belur karena sudah mencium istrinya dengan sengaja.

“Udahlah, jangan cemburu terus!” pinta Yuna sambil menarik-narik lengan Yeriko.

“Dia itu sengaja bikin aku marah.”

“Dia kan cuma bercanda. Buat apa ditanggapi serius banget?”

“Ayo, kita ke rumah sakit!” ajak Yeriko.

“Ngapain?”

“Obatin kaki kamu. Tambah bengkak gitu.”

Yuna memerhatikan kedua kakinya. “Nggak papa, kok. Ntar dikompres aja. Bisa sembuh sendiri.”

“Ck, kamu ini senang banget bikin orang khawatir,” tutur Yeriko sambil menggendong Yuna masuk ke dalam mobil.

Yuna tersenyum kecil. Ia tidak bisa membantah keinginan Yeriko untuk membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit. Dokter hanya menyarankan untuk mengompres kaki Yuna menggunakan air hangat.

“Tuh, kan ... aku udah bilang, dikompres aja bisa. Kamu nggak percaya banget sama aku,” tutur Yuna.

“Lebih aman aja kalau udah ke dokter.”

Yuna tersenyum kecil. “Aku juga nggak bakal dikasih obat. Aku lagi hamil, nggak bisa minum obat sembarangan. Kalau ada luka, cukup dirawat sendiri aja.”

Yeriko melirik kaki Yuna yang duduk di sampingnya. Ia tetap saja merasa khawatir dengan keadaan istrinya itu.

“Kalau jalan lagi, jangan pakai high heels. Pakai flat shoes aja atau pakai sandal jepit yang lebih nyaman!” pinta Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala. “Siap, Pak Bos!”

Yeriko tertawa kecil. Ia merangkul pundak Yuna sambil mengecup pelipis Yuna penuh kehangatan.

“Oh ya, jangan bilang ke Jheni kalau kaki aku bengkak, ya!” pinta Yuna.

“Kenapa?”

“Aku nggak mau dia ngerasa bersalah. Tadi, waktu di mall dia udah khawatir banget. Ini semua murni kesalahanku. Jangan marahin Jheni atau Bibi War! Please!” pinta Yuna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Asalkan lain kali lebih hati-hati lagi sebelum keluar rumah.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko tak pernah berhenti memberikan perhatian untuknya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 319 : Khawatir

 


Jheni membelalakkan matanya begitu melihat Yuna dan Refi berdiri berhadapan. Ia langsung berlari menghampiri Yuna.

“Kamu ngapain di sini!?” sentak Jheni sambil menatap tajam ke arah Refi.

“Jhen, dia nggak ngapa-ngapain aku, kok. Dia yang nolongin aku.”

“Nolongin kamu?” Jheni mengernyitkan dahinya. Ia mengitari tubuh Refi sambil memerhatikan wanita itu dari ujung kelpala sampai ke ujung kaki.

“Heh, kamu udah tobat?” tanya Jheni.

Refi tersenyum menatap Jheni. “Semua orang bisa berubah, Jhen.”

Jheni tersenyum sinis. “Kamu pikir aku percaya? Kamu baik sama Yuna, pasti ada niat terselubung!?” dengusnya.

Refi mengedikkan  bahunya. “Terserah mau percaya atau nggak. Yang jelas, aku tulus nolongin Yuna kali ini.”

Jheni tersenyum sinis. “Orang yang bener-bener tulus melakukan kebaikan, mulutnya nggak akan ngeluarin kata tulus!”

Refi menatap wajah Jheni. Ia mulai kesal dengan teman Yuna yang satu ini. Ia yang tak pandai berdebat, memilih untuk pergi meninggalkan Jheni dan Chandra.

“Huu … dasar Reptil sialan!” umpat Jheni saat Refi sudah berada jauh darinya.

“Jhen, dia beneran nolongin aku, kok.”

“Aku nggak percaya!” sahut Jheni. “Nggak mungkin orang kayak dia tiba-tiba berubah kalau nggak ada niat terselubung.”

“Mmh … iya juga, sih.”

“Kamu bawa pengawal lagi?” tanya Jheni sambil melirik Angga yang jaraknya lumayan jauh dengan mereka.

“Yeriko nggak mungkin biarin aku jalan sendirian.”

“Hmm … bener juga. Tapi, sekarang udah ada aku yang jagain kamu. Kamu mau makan apa?” tanya Jheni.

“Mmh … aku pengen makan mie ayam Semarang yang ada di restoran pojokan itu.”

“Aku pengen makan ramen, Yun. Gimana kalau kita ke restoran Jepang aja?”

Yuna mengerutkan dahinya. “Kamu tadi nawarin aku kan? Aku lagi nggak pengen makan mie ayam.”

“Hmm, okelah. Nurut aja sama bumi.”

Yuna tersenyum lebar. “Gitu, dong!” Ia merangkul lengan Jheni dan mengajaknya pergi makan bersama.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk manis di salah satu restoran sebelum mereka pergi berbelanja.

“Jhen, beberapa hari ini aku nggak denger kabarnya Icha. Apa dia baik-baik aja?”

“Bukannya dia lagi ke Jakarta bareng Lutfi?”

“Oh ya? Mereka lagi liburan? Pantes aja nggak ada kabarnya sama sekali.”

“Mereka ke rumah neneknya Lutfi,” tutur Jheni.

“Hah!?”

“Chandra yang ngomong ke aku.”

“Oh ya? Bukannya mereka Cuma hubungan kontrak? Kenapa Lutfi bawa Icha ke rumah keluarganya?”

Jheni berpikir sejenak. “Iya juga, ya. Jangan-jangan …” Ia langsung menatap Yuna.

“Mereka mau nikah kontrak?” seru Yuna dan Jheni bersamaan.

“Apa mungkin Lutfi bakal ngelakuin itu?” tanya Yuna.

“Bisa jadi, Yun. Aku denger cerita dari Chandra. Lutfi udah disuruh nikah terus sama neneknya. Apa dia akhirnya memilih nikah kontrak sama Icha?”

“Ck, aku bener-bener nggak paham sama hubungan mereka itu. Aneh banget.”

“Hmm … aku udah coba nyari informasi dari Chandra. Dia nggak tahu juga. Kalau Yeriko, apa pernah cerita ke kamu soal hubungan Lutfi sama Icha itu?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Si Lutfi itu anaknya bawel dan terbuka. Tapi soal hubungan percintaannya, dia misterius banget ya?”

Yuna mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi antara Lutfi dan Icha. Hanya saja, banyak misteri yang mereka sembunyikan dan ia hanya bisa menebak-nebak tanpa nengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya.

“Ah, sudahlah. Mereka juga sudah dewasa. Kamu nggak usah terlalu mikirin mereka. Semoga aja, hubungan mereka baik-baik aja.”

Yuna tersenyum sambil mengangguk kecil. Mereka menyelesaikan makannya, kemudian bergegas pergi berbelanja bersama.

Yuna dan Jheni berkeliling untuk mencari barang yang mereka perlukan.

“Jhen, kamu yang antri di kasir ya!” pinta Yuna. “Aku titip barangku.”

“Kenapa?”

“Aku capek banget. Nggak tahu, nih. Kakiku sakit, Jhen.”

“Ya udah, kamu tunggu di sana ya! Biar aku aja yang antri,” perintah Jheni sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang tak jauh dari meja kasir.

Yuna mengangguk. Ia menelepon Angga untuk menghampirinya dan membantu Jheni membawa barang-barang mereka ke dalam mobil.

Yuna melepas high heels yang ia kenakan. Kakinya terlihat memar karena tekanan sepatu saat berjalan berkeliling di mall tersebut.

“Biasanya nggak kayak gini. Kenapa kakiku tiba-tiba lecet? Apa karena udah lama nggak jalan-jalan ke luar?” gumam Yuna sambil memijat lembut kakinya.

“Yun, kamu nggak papa?” tanya Jheni sambil menghampiri Yuna. Ia menyodorkan satu botol air mineral ke arah Yuna.

“Nggak papa, Jhen. Kakiku cuma lecet doang. Mungkin, karena aku udah lama nggak keluar rumah. Kakiku jadi sedikit manja.”

Jheni memperhatikan kaki Yuna. “Gimana kalau ganti sepatu aja, Yun? Aku beliin sepatu baru buat kamu.”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak usah, Jhen. Lagian, kita juga udah mau pulang. Buat apa beli sepatu segala. Cuma lecet dikit doang, ntar juga sembuh sendiri.”

“Kamu yakin?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Kalau sampe kaki kamu kenapa-kenapa, aku bisa dimarahin habis-habisan sama Yeriko.”

Yuna tertawa kecil sambil mengenakan kembali high heels tersebut. “Nggak usah berpikir berlebihan. Kayak gini juga udah biasa, Jhen.”

“Kamu yang dulu sama yang sekarang itu beda, Yun. Kalau dulu, kakimu lecet gini paling aku cuma denger rengekan kamu aja. Kalau sekarang, aku harus dengerin omelan suami kamu itu.”

Yuna tertawa kecil. “Dia nggak akan berani ngomelin kamu. Ntar, aku omelin dia balik.”

“Iih … dasar!” dengus Jheni.

Yuna tertawa kecil. Ia menarik lengan Jheni agar bisa berdiri dengan baik. “Pulang sekarang, yuk!” ajaknya.

Jheni menganggukkan kepala. Ia dan Yuna melangkah perlahan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Ia sedikit khawatir dengan Yuna yang kesulitan berjalan.

“Yun, kamu yakin ini nggak papa?”

“Nggak papa, Jhen. Cuma lecet sedikit doang. Ntar juga sembuh sendiri.”

“Tapi …”

“Udahlah, nggak perlu dikhawatirkan!” pinta Yuna.

Jheni tersenyum. “Kalau ada apa-apa, kamu harus langsung kabari aku, ya!” pintanya.

“Iya. Nggak akan ada apa-apa. Kamu ini overthinking banget.”

“Aku cuma khawatir aja kalau kaki kamu tambah parah.”

“Nggak, Jhen. Aku nggak akan nangis karena lecet gini doang.”

“Hmm … lain kali, kamu pergi jalan pakai flat shoes aja, Yun!”

“Aku cuma mau kelihatan lebih bagus aja. Sekarang, aku ini istrinya Yeriko. Penampilanku di luar bakal jadi sorotan. Apalagi, aku lagi digosipin di media juga.”

“Sabar ya, Yun!” Jheni menepuk bahu Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung melangkah masuk ke mobil begitu Angga sudah menjemputnya di pintu keluar mall tersebut.

“Jhen, aku pulang dulu ya! Kamu hati-hati bawa mobil!” seru Yuna sambil melambaikan tangannya.

Jheni berharap, Yuna akan baik-baik saja selama di perjalanan dan luka di kakinya tidak berakibat fatal. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi Yeriko.

 

((Bersambung ...))

 

Thanks udah dukung terus, moga bikin aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas