“Mbak, di bawah ada orang yang nyari Mbak Yuna.” Bibi War
menghampiri Yuna yang sedang santai di balkon.
“Siapa, Bi?” tanya Yuna.
“Pak Adjie.”
“Astaga!” Yuna hampir saja melompat dari kursinya.
“Kenapa, Mbak?”
“Itu ayahku, Bi!”seru Yuna buru-buru mengenalkan sandalnya
dan bergegas menuruni anak tangga.
“Oh, itu ayahnya Mbak Yuna? Pantesan mirip, Bibi kan belum
pernah ketemu,” gumam Bibi War. Ia ikut melangkah perlahan menuruni anak
tangga.
“Ayah ...!” seru Yuna. Ia langsung menghambur ke pelukan
ayahnya.
Adjie langsung memeluk Yuna penuh kehangatan. Rasanya masih
sama seperti sebelas tahun lalu. Setiap kali ia pulang bekerja, Yuna akan
berlari menghampirinya dan memeluknya sangat erat. Waktu begitu cepat berlalu.
Selama sebelas tahun ia melewatkan banyak hal tentang puterinya itu.
“Ayah kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Yuna.
“Kalau Ayah bilang, bukan kejutan dong?”
“Ayah tahu alamat rumah ini dari mana?”
“Dari Yeriko.”
Yuna tersenyum bahagia. Ia terus memeluk erat tubuh
ayahnya. “Ayah mau minum apa?” tanya Yuna.
“Nggak usah repot-repot! Nanti, Ayah bisa ambil minum
sendiri.”
“Bi, tolong bikinkan teh hangat untuk Ayah ya!” pinta Yuna
saat melihat Bibi War ingin menghampirinya.
Bibi War mengangguk. Ia bergegas pergi ke dapur. Yuna
seolah sudah mengetahui kalau Bibi War memang ingin membuatkan minuman untuk
ayahnya. Bibi War merasa sangat bahagia karena Yuna bisa berkumpul kembali
dengan ayahnya.
“Ada berapa pelayan di rumah kamu ini?” tanya Adjie saat
melihat pelayan lain beberapa kali melintas.
“Banyak, Yah. Padahal, aku santai-santai sepanjang hari.
Mama mertuaku ngirim pelayan sebanyak itu waktu tahu aku hamil.”
“Ayah senang melihat kamu berada dalam keluarga yang sangat
baik. Keluarga paman kamu malah memperlakukan kamu dengan buruk.”
“Aku nggak papa, Yah. Udah kebal sama perlakuan mereka.”
“Selama ini, Rudi kelihatan baik-baik aja. Ayah sama sekali
nggak nyangka kalau dia memperlakukan kamu dengan buruk. Padahal, kamu masih
keponakan dia juga.”
Yuna tersenyum menatap Adjie. “Oom Tarudi, selama ini
memang selalu baik dan manis sama aku.”
“Oh ya? Kamu nggak lagi bohongin Ayah kan?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma nggak suka aja dengan
cara dia ambil perusahaan sampai mencelakai Ayah.”
“Dia nggak akan mencelakai Ayah. Ayah ini kakak kandungnya
dia. Selama ini, dia terlihat sangat baik. Kemarin, dia datang bawakan
banyak hadiah untuk Ayah.”
“Apa!?” Yuna langsung membelalakkan matanya menatap Adjie.
“Dia ke apartemen? Tahu dari mana kalau Ayah tinggal di situ?”
Adjie menggelengkan kepala.
Yuna membuka mulutnya lebar-lebar. Ia sangat kesal karena
Tarudi berhasil menemukan tempat tinggal ayahnya. “Gila! Nggak ada nyerahnya
dia ngejar ayah. Aku jengkel banget sama dia!” serunya sambil
menghentak-hentakkan kaki.
“Dia udah beberapa kali ke rumah. Semuanya baik-baik aja.
Nggak perlu khawatir!”
“Yah, dia itu yang udah bunuh bunda. Udah bikin Ayah koma
di rumah sakit bertahun-tahun. Udah ambil semua perusahaan kita. Udah jual
semua aset pribadi Ayah. Ayah masih aja mau baik sama dia!?” Yuna semakin
berapi-api karena ayahnya masih saja menganggap kalau pamannya adalah orang
yang baik.
“Yun, kenapa kamu jadi kayak gini? Nggak boleh berprasangka
buruk sama paman kamu sendiri!”
“Aku nggak akan pernah berprasangka baik sama dia. Aku
bakal balas apa yang sudah dia lakuin ke kita. Aku nggak akan ngelepasin
mereka. Pengen banget mereka itu lenyap dari muka bumi ini!” seru Yuna.
“Yun, kamu lagi hamil. Jangan marah-marah gini!” pinta
Adjie sambil mengusap bahu Yuna.
Yuna menghela napas. Detak jantung dan irama napasnya jauh
lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar kesal dengan keluarga Bellina yang
terus-menerus mengusiknya.
“Kamu nggak perlu mikirin masa lalu. Ada hal lebih penting
yang harus kamu urus. Yakni, anak dalam kandungan kamu. Ayah nggak mau kamu
terlalu banyak berpikir dan menggangu perkembangan janin kamu.”
Yuna menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke
bahu sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut. “Ya Tuhan ... kenapa di
hidupku ada orang kayak mereka?”
“Yun, sudahlah. Jangan pikirin masalah mereka terus!” pinta
Adjie.
“Maunya nggak mikirin. Tapi, kepikiran terus. Aku nggak
tenang kalau sampai Oom Tarudi tahu alamat rumah Ayah. Malam ini, Ayah tinggal
di rumah ini aja ya!” pinta Yuna.
“Ayah mana bisa tinggal di rumah ini. Ayah nggak mau
mengganggu kebahagiaan kalian.”
“Aku nggak ngerasa terganggu. Aku seneng kalo Ayah mau
tinggal di rumah ini.”
“Ayah akan baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, Ayah akan
langsung telepon Yeriko. Sistem keamanan di apartemen juga sudah bagus, kok.
Ada satpam yang jaga setiap hari. Semua lorong juga dipasang CCTV. Ayah rasa,
paman kamu nggak akan berani macam-macam.”
“Aku tetap nggak tenang kalau Ayah tinggal sendirian di
sana. Apalagi, Oom Tarudi itu mencurigakan banget. Aku ... aduh!” Yuna langsung
memegangi perutnya sambil merintih.
“Kamu nggak papa? Ayah udah bilang, jangan berpikir
macam-macam! Ini bahaya buat kandungan kamu.”
“Makanya, Ayah tinggal di sini!” pinta Yuna sambil
memegangi perutnya. “Ayah nggak kasihan sama aku? Aku lagi hamil, Yeriko juga
sibuk kerja. Nggak ada yang nemenin aku cerita.”
Adjie berpikir sejenak. Ia sangat ingin menjaga puteri dan
cucunya. Hanya saja, ia khawatir kalau kehadirannya justru akan membuat Yeriko
dan Yuna terganggu.
“Iya, dong! Ayolah, Yah! Please!” batin Yuna. Ia sengaja
menggunakan kandungannya untuk menahan ayahnya agar mau menerima tawarannya.
“Yun, kalau Ayah tinggal di sini. Apa Yeriko nggak akan
berpikir negatif? Dia pasti akan menganggap Ayah nggak percaya sama dia.
Seharusnya, Ayah mempercayakan puteri Ayah pada dia sepenuhnya.”
Yuna terdiam. “Bener juga, sih. Kalau Yeriko mikir begitu,
hubungan Ayah dan Yeri bisa jadi canggung.”
Adjie tersenyum menatap puterinya itu. “Kamu nggak perlu
mengkhawatirkan Ayah! Suami kamu itu, sudah memberikan banyak fasilitas yang
baik untuk Ayah. Kamu harus percaya sama suami kamu itu!”
Yuna mengangguk. Ia tak bisa lagi mempertahankan
keinginannya. Ia harus menghargai Yeriko sebagai suaminya. Yeriko selalu
memberikan yang terbaik untuk dirinya dan juga ayahnya. Seharusnya ia percaya,
bahwa semua hal yang dilakukan oleh Yeriko adalah yang terbaik.
“Oke, deh. Kalau Ayah nggak mau nginap di sini. Ayah harus
tetap di sini nemenin aku sampai Yeriko pulang kerja. Gimana?”
Adjie mengangguk setuju. Ia bisa menjaga puterinya saat
Yeriko sedang bekerja. Sangat baik untuk menebus waktu-waktu yang hilang selama
sebelas tahun belakangan ini. Puteri kecilnya kini sudah menjadi wanita yang
dewasa, sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Saat ini, ia hanya ingin
menjaga puteri kecil dan bayi mungil yang ada di dalam perutnya.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi



