Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 329 : Yeriko vs Bellina

 


Yeriko memasuki ruangan yang telah ditentukan oleh Riyan. Ia menghampiri tiga sahabatnya yang  sedang asyik bercanda.

“Ngomongin apa? Seru banget?” tanya Yeriko sambil meraih satu kaleng bir yang ada di atas meja.

“Akhirnya, datang juga!” seru Lutfi. “Lama banget, Yer?”

“Biasa, nimang-nimang istri dulu,” jawab Yeriko sambil menahan tawa.

“Pamer! Mentang-mentang udah punya istri,” celetuk Lutfi.

“Nikahlah! Kamu kan sudah punya pacar juga.”

“Tahun depan,” sahut Lutfi.

“Weh, serius mau merit tahun depan?” tanya Chandra.

“Kenapa? Mau juga? Nikah aja duluan! Jangan kawin terus!”

“Mulutmu, Lut!” sahut Chandra sambil menoyor kepala Lutfi.

“Minggu ini, aku mau ajak nenek ketemu sama orang tua Icha.”

“Bukan mau nikah kontrak kan?” tanya Yeriko.

Lutfi menatap wajah Yeriko. “Kayaknya, kamu sekarang mulai peduli sama hubungan orang lain. Ketularan Kakak Ipar?”

Yeriko menahan tawa. Ia duduk di sofa, tepat di sebelah Satria.

“Eh, itu siapa?” tanya Yeriko saat melihat Bellina duduk terikat di hadapannya. Sekitar lima meter dari tempat duduknya, ia bisa melihat wajah Bellina yang terlihat sangat kacau sedang menatap ke arahnya.

“Mainan kita hari ini. Gimana? Kamu suka?” tanya Lutfi.

“Lumayan.” Yeriko menatap tajam ke arah Bellina.

“Yer, lepasin aku!” pinta Bellina. “Temen-temen kamu ini udah gila. Seenaknya aja nyulik orang dan ngikat aku seharian di sini.”

Yeriko tersenyum kecil. Ia tak menyahut, malah asyik memakan kacang rebus yang ada di hadapannya.

“Mas, ini satenya!” Riyan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut. Membawa banyak makanan dan minuman.

“Wah, mantap nih!” seru Lutfi. Ia buru-buru membuka kantong makanan yang dibawa Riyan dan mengeluarkan sate dari dalamnya.

“Yer, makan dulu!” perintah Lutfi. “Kita butuh banyak tenaga buat nyelesaikan permainan ini. Hahaha.”

Bellina semakin geram karena lima pria yang ada di hadapannya itu malah bersenang-senang dan tidak menganggap keberadaannya.

“Yeriko!” teriak Bellina kesal.

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil melahap sate yang ada di tangannya.

“Kenapa kalian nyekap aku di sini? Aku punya salah apa sama kalian?” seru Bellina.

Semua orang saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Kalian ini penjahat!?” Bellina mengerutkan keningnya melihat raut wajah kelima pria tersebut.

“Lebih tepatnya, pembasmi penjahat kayak kamu,” sahut Lutfi.

“Aku nggak akan diam aja. Lian nggak akan ngebiarin kalian hidup bebas karena udah bikin aku kayak gini,” tutur Bellina.

“Yeriko juga nggak akan ngebiarin kamu hidup tenang karena udah ganggu Kakak Ipar!” sahut Lutfi.

“Aku nggak ngapa-ngapain Yuna!” seru Bellina.

Yeriko hanya tersenyum menanggapi seruan Bellina.

“Ini cewek mau nguji kesabaranku,” celetuk Lutfi sambil bangkit dari tempat duduknya.

Yeriko langsung menahan tubuh Lutfi. “Slow, Lut!” pintanya. “Dia nggak akan ke mana-mana, kok.”

“Huu ... dasar cewek sialan! Heran gua, kenapa cowok kayak Lian mau sama cewek model beginian?” tutur Lutfi.

Bellina tersenyum kecil. “Jelas aja Lian mau sama aku. Aku jauh lebih baik dari Yuna!”

“Hahaha. Kamu kepedean banget ngomong begitu!” sahut Lutfi.

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Bellina. “Harga diri kamu bahkan lebih rendah dari harga sandal istriku. Bisa-bisanya kamu ngomong begitu?”

Bellina mengerutkan hidung sambil melebarkan kelopak matanya. “Lepasin aku!” serunya lagi.

“Aku akan lepasin kamu kalau kamu udah menyadari kesalahan kamu,” tutur Yeriko.

“Aku? Aku nggak ngelakuin apa-apa,” sahut Bellina kesal.

“Oke.” Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu mau tahu gimana rasanya terkurung di tempat ini selamanya?”

“Aku nggak ngelakuin apa pun ke Yuna!” seru Bellina.

“Oh, kamu udah ngerasa kalau kesalahan kamu kali ini ada hubungannya sama istriku?”

Bellina gelagapan mendengar pertanyaan Yeriko. “Aku nggak ada hubungannya sama masalah Yuna. Lepasin aku!” serunya. Ia bersikeras tidak mengakui kesalahannya.

Yeriko bangkit dari tempat duduknya, berjalan perlahan menghampiri Bellina yang masih duduk di kursi dalam keadaan terikat erat.

Tubuh Bellina bergetar saat melihat tatapan Yeriko yang sangat tajam menghujam ke arahnya. “Aku sama sekali nggak ikut-ikutan memfitnah Yuna di internet. Kamu jangan salah sangka!”

Yeriko tersenyum sinis. “Aku nggak bilang kalau kamu yang fitnah istriku. Apa ini artinya, kamu mengakui apa yang sudah kamu lakukan ke Yuna?”

“Aku nggak nyangka kalau kamu itu jahat!” seru Bellina.

“Aku harus jadi lebih jahat buat ngadepin penjahat kayak kamu.”

“Aku nggak akan biarin kalian ngelakuin ini ke aku! Lian pasti bakal bikin perhitungan sama kalian!” seru Bellina. Ia tidak tahu lagi harus berlindung pada siapa selain suaminya sendiri.

“Oh ya? Aku nggak yakin Lian bakal maafin kamu kalau dia tahu apa yang sudah kamu lakukan di belakang dia,” tutur Yeriko.

“Oh ya?” Bellina tersenyum kecil. “Emangnya kamu punya bukti apa?”

Yeriko tersenyum sinis. “Kamu udah lupa, kapan terakhir kali ketemu sama istriku?”

“Maksud kamu?” tanya Bellina dengan bibir bergetar.

“Yan, mana rekamannya?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Riyan.

Riyan melangkah maju dan memutar rekaman pembicaraan antara Bellina dan dokter Heru yang menangani operasi Bellina.

Bellina membelalakkan matanya. “Kamu dapet rekaman itu dari mana? Kalian mata-matain aku!?” serunya.

Yeriko tersenyum sinis. “Kamu pikir, bisa hidup dengan mudah karena udah ganggu istriku. Aku pengen tahu gimana reaksi Lian kalau dia tahu, kamu yang membunuh anak kamu sendiri.”

“Lian pasti lebih percaya sama aku!” seru Bellina.

“Oh ya? Gimana kalau aku kirim rekaman ini ke Lian?”

“Kirim aja! Aku nggak takut,” sahut Bellina sambil membuang pandangannya. Ia tak memiliki keberanian untuk menatap mata Yeriko.

“Baguslah. Aku mau lihat gimana kamu dibuang dari keluarga Wijaya.”

“Lian akan lebih percaya sama aku daripada sama rekaman yang nggak jelas asal-usulnya ini!” tegas Bellina.

Yeriko tersenyum sinis. “Kamu punya banyak keberanian juga buat ngelawan aku?”

“Aku nggak akan nyerah ngelawan kalian semua!”

“Heh, kenapa kamu masih aja ngotot gangguin Kakak Ipar terus, hah!?” seru Lutfi. Ia mulai geram dengan sikap Bellina.

“Karena aku benci sama dia!” sahut Bellina.

“Apa?” tanya Yeriko.

“Aku benci sama dia!” seru Bellina.

“Kenapa kamu benci sama dia? Bukannya selama ini, istriku selalu baik sama kamu?”

“Karena dia masih aja kegatelan gangguin suamiku!” sahut Bellina.

Yeriko tertawa geli mendengar ucapan Bellina. “Lian itu sama sekali nggak menarik buat istriku. Bukannya suami kamu itu yang masih ngejar-ngejar istriku?”

“Dia kayak gitu karena Yuna yang masih godain dia terus. Lian nggak mungkin ngejar-ngejar perempuan bersuami kalau perempuan itu nggak kegatelan duluan!” seru Bellina.

Yeriko tertawa kecil. “Kamu itu lucu. Mukamu ini terbuat dari apa sih? Nggak punya malu sedikitpun. Dari awal, kamu yang udah ngerebut semua yang dimiliki Yuna. Sesuatu yang nggak seharusnya jadi milik kamu. Suatu saat akan pergi dari kamu, cepat atau lambat.”

“Aku nggak peduli! Sekarang Lian udah jadi milikku dan aku nggak mau dia kembali ke Yuna lagi!” seru Bellina.

“Lian nggak akan kembali ke Yuna. Juga nggak akan bertahan sama kamu. Kita lihat nanti!”

“Kamu ngancam aku?”

“Kamu pikirin apa yang sudah kamu lakuin di belakang Lian!” sentak Yeriko. “Aku yakin, Lian pasti buang kamu kalau tahu apa aja yang udah kamu lakuin di belakang dia.”

Bellina terdiam. Saat ini ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar Yeriko membiarkannya pergi dan juga menyimpan rahasianya di hadapan Lian. Ia tidak ingin jika keluarga Lian mengetahui semua hal yang telah ia lakukan selama ini. 

 

((Bersambung...))

Thanks udah dukung karya ini terus. Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku semangat terus nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 328 : Penangkapan Bellina

 


“Lepasin!” seru Bellina. Ia berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang membalut tubuhnya.

Tiga pria yang ada di ruangan itu, hanya tersenyum sinis sambil melipat kedua tangan di dada.

“Heh!? Kalian nggak tahu aku ini siapa!?” sentak Bellina.

“Tahu banget,” jawab Lutfi sambil tersenyum santai.

“Ergh!” Bellina berusaha menggoyangkan tubuhnya agar ikatan tali yang ada di tubuhnya bisa sedikit melonggar. “Aku ini istrinya Wilian Wijaya, pemilik perusahaan Wijaya Group. Bisa-bisanya kalian nyulik aku? Kalian mau dilaporin polisi?” seru Bellina.

Lutfi tergelak menatap Bellina. “Lapor aja!”

“Kalian sebenarnya mau apa?”

“Kami cuma mau main-main sebentar,” jawab Lutfi sambil mengerdipkan satu matanya.

Bellina membelalakkan matanya. “Jangan-jangan, mereka mau ngelakuin itu ke aku?” batin Bellina. Ia berusaha melepas ikatan yang ada di tubuhnya. Namun, ikatannya memang terlalu kuat. Ia mulai kehabisan tenaga dan memilih untuk diam.

“Bel, kamu pikir bisa kabur dari kami?” tanya Lutfi sambil mengangkat dagunya.

“Sebenarnya, kalian mau apa? Mau uang?”

Lutfi tersenyum sinis. “Aku nggak tertarik sama uang kamu yang nggak seberapa itu. Aku lebih tertarik … bikin kamu nggak bisa keluar dari ruangan ini seumur hidup.”

“Kalian udah gila, ya!?”

“Kamu yang lebih gila!” sahut Lutfi kesal. “Kalau bukan karena kelakuan kamu ini, hidup Kakak Ipar udah tenang dan bahagia. Kenapa? Kamu iri karena dia punya suami yang lebih kaya daripada suami kamu?”

Bellina mengerutkan bibir sambil menatap Lutfi penuh kebencian. “Nggak usah sok tahu!”

“Hahaha. Gue nanya sama lo!” sahut Lutfi sambil tertawa lebar. “Kalo marah, artinya bener.”

“Bukan urusan kamu!” sahut Bellina kesal.

“Selama masih berhubungan sama Kakak Ipar, akan menjadi urusan kami!” tegas Lutfi.

Bellina tersenyum sinis. “Kalian dibayar berapa sama Yuna?”

“Kenapa? Kamu mau bayar kami juga?”

“Aku bakal kasih ke kalian tiga kali lipat dari yang Yuna kasih ke kalian!”

“Sepuluh triliun,” sahut Lutfi sambil tersenyum. “Kalau kamu bisa ganti tiga kali lipatnya, aku bakal lepasin kamu.”

“Kalian mau meras aku?”

“Kenapa? Suami kamu nggak bisa kasih uang segitu?” tanya Lutfi.

Bellina semakin kesal dengan sikap Lutfi yang begitu merendahkan dirinya.

Lutfi menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap. “Kayaknya, bakal bermalam di sini,” celetuknya.

“Yan,beli sate!” perintah Lutfi.

“Oke, Mas.”

“Sama kopi ya!” Chandra menambahkan.

“Siap, Mas!” Riyan bergegas keluar dari ruangan tersebut.

“Kalian udah keterlaluan. Kenapa harus nyulik aku kayak gini?” seru Bellina.

“Hmm ….untungnya, di ruangan ini ada sofa yang empuk,” tutur Lutfi sambil berbaring di sofa.

“Kayaknya, Riyan ngambil tempat terlalu bagus.” Chandra mengedarkan pandangannya.

“Dia mikirin Tuan Muda kayak kita ini. Nggak mungkin kasih tempat yang jelek. Beruntung banget mainan kita kali ini,” tutur Lutfi sambil melirik Bellina.

“Ckckck, padahal aku udah ngebayangin kalo tempatnya di gudang bekas yang lembab dan gelap. Lumayan juga kalau ada tikus-tikus sama kecoa gitu. Sandera kita kan nggak akan kesepian.”

“Hahaha. Ide kamu bagus juga, Chan. Kurang greget si Riyan pilih tempatnya. Tapi, nggak papalah. Anggap aja kita penculik berkelas. Siapa tahu bakal dapet sepuluh triliun beneran.”

“Hahaha.”

“Weh, ngobrolin apaan nih? Seru banget?” tiba-tiba Satria masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Hei, Satria!?” sapa Lutfi.

“Akhirnya, Kamu ke sini juga,” tutur Chandra sambil menyambut Satria dengan penuh kehangatan.

“Kalian lagi bersenang-senang di sini, gimana aku nggak datang?” Satria langsung meletakkan dua kantong plastik besar ke atas meja.

“Wuuaa …! Banyak banget kamu bawa makanan sama minuman!?” seru Lutfi.

“Kalo ngumpul nggak ada makanan, nggak seru,” sahut Satria.

“Iya. Padahal, kami baru aja nyuruh Riyan beli sate.”

“Oh ya? Suruh tambahin porsinya. Jangan sampe aku nggak kebagian!” pinta Satria.

“Doyan sate juga, Sat?” tanya Chandra.

“Doyanlah. Siapa yang nggak doyan daging,” jawab Satria.

“Apalagi daging mentah, hahaha.”

“Nggak doyan aku kalo daging mentah,” sahut Satria.

“Enak, Sat. Apalagi masih ada darah-darahnya gitu.”

“Kamu ngomong apa sih? Geli aku, Lut.”

“Hahaha.”

“Kanibal ini orang,” celetuk Satria.

“Yang kanibal di sini cuma Yeriko!” sahut Lutfi sambil tertawa.

“Kok iso?” tanya Chandra.

“Dia yang suka ngisapin daging mentah tiap malam. Hahaha.”

“Anjiirr …! Itu mah semua orang juga doyan.”

“Hehehe.”

“Oh ya, ngomong-ngomong, di sini ada daging mentah?” tanya Satria sambil melirik ke arah Bellina. Mereka terlalu asyik mengobrol hingga melupakan wanita itu.

“Lain spesies itu, Sat. Hahaha,” sahut Lutfi.

“Maksudnya?”

“Nggak bikin nafsu, bikin jijik doang,” sahut Lutfi.

“Mulutmu, Lut!”

“Hahaha.”

Bellina menatap tiga pria ini penuh kebencian.

“Apa lihat-lihat? Naksir sama aku?” tutur Lutfi sambil menatap Bellina.

Bellina mencebik ke arah Lutfi.

Lutfi terkekeh. “Jangan sampe, deh! Aku geli sama cewek kayak kamu.”

“Bukannya enak yang geli, Lut?” goda Satria.

“Hii …” Lutfi langsung bergidik.

“Hahaha. Gelisah enak, loh. Geli-geli basah,” goda Satria sambil memainkan matanya menatap Lutfi.

“Iih, apaan sih, Sat!? Jijik aku lihat mukamu kayak gitu!” seru Lutfi.

“Astaga! Ganteng gini, masa kamu nggak suka?”

“Ganteng sih ganteng aja. Bukan berarti suka sama ganteng juga!” sahut Lutfi.

“Hahaha.”

“Godain Chandra aja!” perintah Lutfi. “Komandan tapi genit banget!”

Satria langsung menoleh ke arah Chandra.

GLEG!

Chandra langsung menelan ludah saat Satria menatap genit ke arahnya. “Cari pacar, Sat! Jangan godain kami!”

“Eh, iya. Cari pacar sana! Gimana mau dapet pacar, tiap hari ketemunya sama pisang semua. Hahaha.”

“Eh, jangan gitu. Banyak kowad cantik-cantik di sana,” sahut Satria.

“Kenalin ke aku, Sat! Yang paling cantik ya!” pinta Lutfi.

“Nggak bakalan aku kenalin ke kamu!”

“Pelit amat!” dengus Lutfi.

Chandra tertawa kecil. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Satria.

“Oh, gitu …” ucap Satria sambil menatap Lutfi.

“Heh, kenapa bisik-bisik?” Lutfi menatap dua sahabatnya itu penuh curiga.

“Aku kenalin ke kamu, kowad yang paling cantik. Mau?” tanya Satria.

“Mau.”

“Tapi, si Alyssa buat aku. Gimana?”

“Sembarangan! Icha itu pacarku!” sahut Lutfi sambil memukul meja yang ada di hadapannya.

“Pacar kontrak kan? Kali aja bisa jadi pacarku beneran,” tutur Satria santai.

“Kamu ngajak berantem?” dengus Lutfi.

Satria tertawa kecil. “Kamu udah punya pacar, masih aja mau ngelirik cewek lain. Kalo pacar kamu yang dilirik sama cowok lain gimana?”

Lutfi gelagapan mendengar pertanyaan Satria. Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan kesalnya saat ini.

“Lagipula, cewek kayak Icha itu tipeku banget. Cantik, tinggi, putih, kalem … senyumannya itu, manis banget!” tutur Satria.

“Apa kamu bilang!?” Lutfi langsung melompat ke tubuh Satria dan meraih kerah bajunya.

“Apa-apaan ini?” tanya Satria sambil menahan tawa.

“Kamu merhatiin cewekku diam-diam, hah!?”

“Lut, dia kan cuma pacar pura-pura kamu aja. Bisa jadi, bukan cuma aku yang perhatiin Icha. Gimana, kalau Chandra juga punya pemikiran yang sama. Tapi, dia nggak ngungkapin ke kamu? Kalau bukan aku, di luar sana juga pasti banyak cowok yang naksir sama cewek kayak Icha.”

Lutfi mengerutkan hidungnya. Ia melepas kerah baju Satria dan kembali duduk di sofa. Menahan kekesalan karena Satria mencoba menguji kesabarannya.

Chandra dan Satria tertawa kecil melihat tingkah Lutfi yang seperti anak kecil.

“Eh, Lut. Aku beli susu Indomilk nih,” tutur Satria sambil menyodorkan kotak susu ke arah Lutfi.

“Maksud kamu apa?”

“Cocok buat anak-anak kayak kamu. Hahaha.”

Lutfi langsung mengambil kotak susu kecil tersebut dari tangan Satria dan menghabiskannya dalam sekali sedotan. “Puas kamu!?”

“Hahaha.”

Mereka bertiga terus bercanda hingga lupa kalau ada Bellina yang terikat di ruangan tersebut. Membuat Bellina sangat kesal karena pria-pria itu sengaja tidak menganggap keberadaannya.

(( Bersambung ... ))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya.

I Love you double-double.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 327 : Tiga Sayap Ksatria

 


Hujan mulai turun, rintik-rintiknya menyapa ramah segala hal yang ada di bumi.

Dengan penuh percaya diri, Refi mengganti make-up dan duduk di lobby. Menunggu Yeriko keluar dari kantornya.

Beberapa menit kemudian, Yeriko terlihat keluar dari lift bersama dengan asisten pribadinya. Ia terus melangkah tanpa melihat Refi sedikitpun.

Refi yang melihat Yeriko, langsung berjalan menghampiri pria itu. “Hai ...!” sapa Refi sambil tersenyum manis.

Yeriko langsung menghentikan langkahnya. Ia berbisik kepada Riyan yang berdiri di belakangnya. “Kenapa dia masih di sini?” bisiknya.

“Maaf, Pak Bos! Tes tertulis hari ini baru aja selesai. Nilainya belum keluar. Sepertinya, dia sengaja ...” Riyan menghentikan ucapannya saat pandangan Yeriko beralih menatap Refi penuh kebencian.

Refi terus tersenyum menatap Yeriko. “Yer, makasih ya! Kamu udah kasih aku kesempatan buat ikut tes tertulis masuk ke perusahaan ini.”

Yeriko tak menyahut. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan Refi.

“Yer ...!” panggil Refi sambil terus mengikuti langkah Yeriko.

“Kamu mau apa?” tanya Yeriko kesal.

“Aku cuma mau bilang makasih. Aku tahu, kamu pasti ngelakuin ini buat aku.”

“Kamu jangan terlalu percaya diri!” sahut Yeriko sambil melangkah keluar.

“Yer, di luar hujan. Aku nggak bawa payung. Boleh nggak, aku numpang mobil kamu?”

Yeriko menahan tawa.

“Kali ini aja, Yer! Please!”

Yeriko tersenyum kecil. “Nggak ada perempuan lain yang boleh masuk mobilku selain Yuna!” tegasnya.

“Aku janji nggak akan mengotori mobil kamu. Aku cuma mau numpang, sebentar aja. Aku ... aku nggak punya uang buat naik taksi.”

Yeriko tersenyum sinis. “Yan, pesenin taksi buat dia!” perintah Yeriko pada Riyan.

“Siap, Pak Bos!”

Yeriko kembali melangkahkan kakinya.

 “Yer ...!”

“Aku udah pesan taksi buat kamu. Jangan ganggu aku lagi!” pinta Yeriko. “Aku harus secepatnya pulang ke rumah nemuin istriku,” lanjutnya sambil tersenyum. Ia mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke mobil.

Refi mengerutkan bibirnya. Ia sangat kesal karena Yuna dan Yeriko sengaja memamerkan kemesraan mereka di hadapannya.

“Hei, kamu ngapain di sini?” tanya Lutfi yang tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.

Refi berbalik, menatap Lutfi dan Chandra yang sudah berdiri di sana.

Lutfi memerhatikan Refi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. “Kaki kamu sudah sembuh, Ref?”

Refi mengangguk sambil tersenyum.

“Heh, kamu jangan pakai sepatu hak setinggi ini!” tutur Lutfi. “Kalau kamu jatuh dan kakimu cacat lagi, sia-sia uang Yeriko yang udah dipake buat nyembuhin kaki kamu ini,” lanjutnya sambil tertawa kecil.

“Aku tahu, Yeriko udah keluar uang banyak buat obatin aku. Makanya, aku ke sini untuk membalas budi.”

“Hahaha. Orang kayak kamu ngerti kata balas budi? Hahaha.” Lutfi tergelak sambil memegangi perutnya.

Refi mengerutkan bibirnya. Entah kenapa dua sahabat Yeriko juga berubah. Dulu, hubungan mereka sangat baik. Kenapa sekarang Lutfi dan Chandra juga memandangnya begitu rendah?

“Kamu mau balas budi dengan cara masuk ke perusahaan ini?” tanya Chandra dingin.

Refi mengangguk sambil tersenyum manis.

“Sebaiknya, kamu pikirin cara lain untuk membalas budi ke Yeriko!” tutur Chandra.

“Apa itu, Chan?” tanya Lutfi menahan tawa.

“Mmh, contohnya ... pergi jauh-jauh dari kehidupan Yeriko.”

“Nah, bener banget! Kamu pergi ke surga aja duluan!” sahut Lutfi.

“Emang surga mau nerima orang kayak dia?” tanya Chandra.

“Hahaha.” Lutfi makin tergelak. “Udah, Chan. Kita balik aja. Bisa naik asam lambungku kalau kelamaan lihat ini orang.”

Refi mendengus kesal menatap Lutfi dan Chandra yang berlalu meninggalkannya.

“Awas kalian ya! Kalau sampai Yeriko balik ke aku lagi, aku bakal bikin kalian tunduk sama aku!” seru Refi.

“Ngimpi aja!” sahut Lutfi sambil menertawakan Refi dari kejauhan.

Refi menghentakkan kakinya. Ia sangat kesal dengan perlakuan dua sahabat Yeriko itu.

“Mbak, taksinya sudah datang!” Riyan langsung menghampiri Refi.

“Makasih!” sahut Refi ketus. Ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki taksi.

Sepanjang perjalanan, Refi terus tertawa. Ia merasa Yeriko masih mencintainya karena sudah memberikan banyak kesempatan untuk dirinya.

Supir taksi terus menatap Refi lewat kaca spion.

“Mbak, rumahnya di mana?” tanya supir taksi tersebut.

Refi masih saja tertawa dan tak mendengarkan pertanyaan dari supir tersebut.

“Aku bawa orang gila?” gumam supir tersebut sambil menepikan mobilnya.

“Eh!? Kenapa berhenti di sini?” tanya Refi saat ia tersadar dari lamunannya.

“Saya nggak tahu alamat rumah Mbaknya. Dari tadi, saya tanya nggak dijawab. Malah ketawa-ketawa sendiri. Saya Cuma bisa antar sampai sini.”

“Sebentar lagi sampai, kok. Rumah saya nggak jauh dari rumah sakit Orthopedi.”

“Oh, oke.” Supir taksi tersebut menjalankan kembali mobilnya hingga sampai di depan rumah Refi.

 

 

...

 

“Chan, kita ke area panahan. Satria lagi di sana. Asyik nih kalo dia tahu soal Reptil sama Belatung itu, hahaha.”

Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi. Mereka bergegas menuju ke tempat latihan memanah untuk menemui Satria.

Lima belas menit kemudian, Chandra dan Lutfi sudah sampai di area latihan memanah dan langsung menghampiri Satria.

“Makin keren aja nih Arjuna kita,” sapa Lutfi sambil menatap tubuh Satria.

Satria memutar kepalanya ke arah Lutfi. “Hei, kalian ke sini?”

“Iya. Mau lihat kamu latihan. Sekalian mau ngetes, masih bisa manah atau nggak,” jawab Lutfi sambil mengambil busur panah yang sudah disediakan.

“Bukannya kamu yang paling tahan kalau latihan memanah?” tanya Satria.

“Tahan nggak kena sasaran?” sahut Chandra sambil menahan tawa.

Lutfi mengangkat busur di tangannya, menggunakannya untuk menoyor kepala Chandra.

“Kurang ajar, kamu!” dengus Chandra.

Lutfi terkekeh geli. Ia mengambil satu anak panah yang ada di depan Satria. “Ayo, kita taruhan!”

Chandra menahan tawa. “Kamu noob gitu, nantangin taruhan sama yang pro?”

Satria ikut tertawa mendengar ucapan Chandra. “Taruhannya apa, Lut?”

“Yang kalah ditraktir sama yang menang,” sahut Lutfi.

“Itu bukan taruhan, goblok!” Satria langsung menoyor pipi Lutfi menggunakan pangkal anak panah yang ia pegang.

“Astaga! Kalo pipiku lecet, mahal perawatannya, Sat.” Lutfi mengusap pipi sambil tertawa kecil.

“Gayamu, Lek. Kalo mau kupanah sekalian!” sahut Satria.

“Aw ...! Rasanya sangat sakit dipanah sama Mas Satria,” canda Lutfi sambil menekan dada dengan telapak tangannya.

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mereka bertiga mulai serius berlatih memanah.

“Kemampuanmu lumayan meningkat,” puji Satria pada Lutfi saat mereka sudah menghabiskan anak panah yang ada di hadapan mereka.

“Kebetulan aja,” sahut Chandra.

Satria tertawa kecil. “Gimana sama bisnis kalian?”

“Baik. Oh ya, Yeriko ada minta bantuan ke kamu?”

“Kasus kecelakaan mertuanya itu?” tanya Satria balik.

Lutfi dan Chandra saling pandang.

“Ada apa?” tanya Satria.

“Nggak ada apa-apa. Gimana hasilnya?”

“Masih aku telusuri.”

“Ribet banget kasusnya, Sat?”

“Sebenarnya nggak ribet. Cuma, agak sulit nyari bukti-bukti kejadian sebelas tahun yang lalu. Ngecek TKP, sudah pasti nggak ada yang bisa kita dapet.”

“Iya juga, sih. Yeriko masih mau lanjutin penyelidikan itu?”

Satria menganggukkan kepala.

“Sebenernya, kita mau ajak kamu ngurusin kasus lain. Tapi, kasus yang kamu selidiki lebih berat. Jadi, gimana kalau kamu traktir kita ngopi aja?” tutur Lutfi.

Satria tertawa kecil. “Nggak usah berbelit-belit kalau cuma mau minta traktir ngopi doang!”

“Hahaha.”

“Eh, seriusan kalian lagi nanganin kasus lain. Apaan?” tanya Satria.

“Ah, kasus kecil. Pengganggu rumah tangga orang. Ntar aku ceritain di kedai kopi, yuk!” ajak Lutfi.

“Oke.” Satria mengangguk.

Mereka bertiga bergegas ke kedai kopi untuk berbincang banyak tentang rencana mereka ke depan dan beberapa hal yang sudah terjadi beberapa hari terakhir ini.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya.

I Love you double-double.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas