“Lepasin!” seru Bellina. Ia berusaha melepaskan diri dari
ikatan tali yang membalut tubuhnya.
Tiga pria yang ada di ruangan itu, hanya tersenyum sinis
sambil melipat kedua tangan di dada.
“Heh!? Kalian nggak tahu aku ini siapa!?” sentak Bellina.
“Tahu banget,” jawab Lutfi sambil tersenyum santai.
“Ergh!” Bellina berusaha menggoyangkan tubuhnya agar ikatan
tali yang ada di tubuhnya bisa sedikit melonggar. “Aku ini istrinya Wilian
Wijaya, pemilik perusahaan Wijaya Group. Bisa-bisanya kalian nyulik aku? Kalian
mau dilaporin polisi?” seru Bellina.
Lutfi tergelak menatap Bellina. “Lapor aja!”
“Kalian sebenarnya mau apa?”
“Kami cuma mau main-main sebentar,” jawab Lutfi sambil
mengerdipkan satu matanya.
Bellina membelalakkan matanya. “Jangan-jangan, mereka mau
ngelakuin itu ke aku?” batin Bellina. Ia berusaha melepas ikatan yang ada di
tubuhnya. Namun, ikatannya memang terlalu kuat. Ia mulai kehabisan tenaga dan
memilih untuk diam.
“Bel, kamu pikir bisa kabur dari kami?” tanya Lutfi sambil
mengangkat dagunya.
“Sebenarnya, kalian mau apa? Mau uang?”
Lutfi tersenyum sinis. “Aku nggak tertarik sama uang kamu
yang nggak seberapa itu. Aku lebih tertarik … bikin kamu nggak bisa keluar dari
ruangan ini seumur hidup.”
“Kalian udah gila, ya!?”
“Kamu yang lebih gila!” sahut Lutfi kesal. “Kalau bukan
karena kelakuan kamu ini, hidup Kakak Ipar udah tenang dan bahagia. Kenapa?
Kamu iri karena dia punya suami yang lebih kaya daripada suami kamu?”
Bellina mengerutkan bibir sambil menatap Lutfi penuh
kebencian. “Nggak usah sok tahu!”
“Hahaha. Gue nanya sama lo!” sahut Lutfi sambil tertawa
lebar. “Kalo marah, artinya bener.”
“Bukan urusan kamu!” sahut Bellina kesal.
“Selama masih berhubungan sama Kakak Ipar, akan menjadi
urusan kami!” tegas Lutfi.
Bellina tersenyum sinis. “Kalian dibayar berapa sama Yuna?”
“Kenapa? Kamu mau bayar kami juga?”
“Aku bakal kasih ke kalian tiga kali lipat dari yang Yuna
kasih ke kalian!”
“Sepuluh triliun,” sahut Lutfi sambil tersenyum. “Kalau
kamu bisa ganti tiga kali lipatnya, aku bakal lepasin kamu.”
“Kalian mau meras aku?”
“Kenapa? Suami kamu nggak bisa kasih uang segitu?” tanya
Lutfi.
Bellina semakin kesal dengan sikap Lutfi yang begitu
merendahkan dirinya.
Lutfi menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap. “Kayaknya,
bakal bermalam di sini,” celetuknya.
“Yan,beli sate!” perintah Lutfi.
“Oke, Mas.”
“Sama kopi ya!” Chandra menambahkan.
“Siap, Mas!” Riyan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
“Kalian udah keterlaluan. Kenapa harus nyulik aku kayak
gini?” seru Bellina.
“Hmm ….untungnya, di ruangan ini ada sofa yang empuk,”
tutur Lutfi sambil berbaring di sofa.
“Kayaknya, Riyan ngambil tempat terlalu bagus.” Chandra
mengedarkan pandangannya.
“Dia mikirin Tuan Muda kayak kita ini. Nggak mungkin kasih
tempat yang jelek. Beruntung banget mainan kita kali ini,” tutur Lutfi sambil
melirik Bellina.
“Ckckck, padahal aku udah ngebayangin kalo tempatnya di
gudang bekas yang lembab dan gelap. Lumayan juga kalau ada tikus-tikus sama
kecoa gitu. Sandera kita kan nggak akan kesepian.”
“Hahaha. Ide kamu bagus juga, Chan. Kurang greget si Riyan
pilih tempatnya. Tapi, nggak papalah. Anggap aja kita penculik berkelas. Siapa
tahu bakal dapet sepuluh triliun beneran.”
“Hahaha.”
“Weh, ngobrolin apaan nih? Seru banget?” tiba-tiba Satria
masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Hei, Satria!?” sapa Lutfi.
“Akhirnya, Kamu ke sini juga,” tutur Chandra sambil
menyambut Satria dengan penuh kehangatan.
“Kalian lagi bersenang-senang di sini, gimana aku nggak
datang?” Satria langsung meletakkan dua kantong plastik besar ke atas meja.
“Wuuaa …! Banyak banget kamu bawa makanan sama minuman!?”
seru Lutfi.
“Kalo ngumpul nggak ada makanan, nggak seru,” sahut Satria.
“Iya. Padahal, kami baru aja nyuruh Riyan beli sate.”
“Oh ya? Suruh tambahin porsinya. Jangan sampe aku nggak
kebagian!” pinta Satria.
“Doyan sate juga, Sat?” tanya Chandra.
“Doyanlah. Siapa yang nggak doyan daging,” jawab Satria.
“Apalagi daging mentah, hahaha.”
“Nggak doyan aku kalo daging mentah,” sahut Satria.
“Enak, Sat. Apalagi masih ada darah-darahnya gitu.”
“Kamu ngomong apa sih? Geli aku, Lut.”
“Hahaha.”
“Kanibal ini orang,” celetuk Satria.
“Yang kanibal di sini cuma Yeriko!” sahut Lutfi sambil
tertawa.
“Kok iso?” tanya Chandra.
“Dia yang suka ngisapin daging mentah tiap malam. Hahaha.”
“Anjiirr …! Itu mah semua orang juga doyan.”
“Hehehe.”
“Oh ya, ngomong-ngomong, di sini ada daging mentah?” tanya
Satria sambil melirik ke arah Bellina. Mereka terlalu asyik mengobrol hingga
melupakan wanita itu.
“Lain spesies itu, Sat. Hahaha,” sahut Lutfi.
“Maksudnya?”
“Nggak bikin nafsu, bikin jijik doang,” sahut Lutfi.
“Mulutmu, Lut!”
“Hahaha.”
Bellina menatap tiga pria ini penuh kebencian.
“Apa lihat-lihat? Naksir sama aku?” tutur Lutfi sambil
menatap Bellina.
Bellina mencebik ke arah Lutfi.
Lutfi terkekeh. “Jangan sampe, deh! Aku geli sama cewek
kayak kamu.”
“Bukannya enak yang geli, Lut?” goda Satria.
“Hii …” Lutfi langsung bergidik.
“Hahaha. Gelisah enak, loh. Geli-geli basah,” goda Satria
sambil memainkan matanya menatap Lutfi.
“Iih, apaan sih, Sat!? Jijik aku lihat mukamu kayak gitu!”
seru Lutfi.
“Astaga! Ganteng gini, masa kamu nggak suka?”
“Ganteng sih ganteng aja. Bukan berarti suka sama ganteng
juga!” sahut Lutfi.
“Hahaha.”
“Godain Chandra aja!” perintah Lutfi. “Komandan tapi genit
banget!”
Satria langsung menoleh ke arah Chandra.
GLEG!
Chandra langsung menelan ludah saat Satria menatap genit ke
arahnya. “Cari pacar, Sat! Jangan godain kami!”
“Eh, iya. Cari pacar sana! Gimana mau dapet pacar, tiap
hari ketemunya sama pisang semua. Hahaha.”
“Eh, jangan gitu. Banyak kowad cantik-cantik di sana,”
sahut Satria.
“Kenalin ke aku, Sat! Yang paling cantik ya!” pinta Lutfi.
“Nggak bakalan aku kenalin ke kamu!”
“Pelit amat!” dengus Lutfi.
Chandra tertawa kecil. Ia membisikkan sesuatu ke telinga
Satria.
“Oh, gitu …” ucap Satria sambil menatap Lutfi.
“Heh, kenapa bisik-bisik?” Lutfi menatap dua sahabatnya itu
penuh curiga.
“Aku kenalin ke kamu, kowad yang paling cantik. Mau?” tanya
Satria.
“Mau.”
“Tapi, si Alyssa buat aku. Gimana?”
“Sembarangan! Icha itu pacarku!” sahut Lutfi sambil memukul
meja yang ada di hadapannya.
“Pacar kontrak kan? Kali aja bisa jadi pacarku beneran,”
tutur Satria santai.
“Kamu ngajak berantem?” dengus Lutfi.
Satria tertawa kecil. “Kamu udah punya pacar, masih aja mau
ngelirik cewek lain. Kalo pacar kamu yang dilirik sama cowok lain gimana?”
Lutfi gelagapan mendengar pertanyaan Satria. Ia tidak tahu
bagaimana mengungkapkan perasaan kesalnya saat ini.
“Lagipula, cewek kayak Icha itu tipeku banget. Cantik,
tinggi, putih, kalem … senyumannya itu, manis banget!” tutur Satria.
“Apa kamu bilang!?” Lutfi langsung melompat ke tubuh Satria
dan meraih kerah bajunya.
“Apa-apaan ini?” tanya Satria sambil menahan tawa.
“Kamu merhatiin cewekku diam-diam, hah!?”
“Lut, dia kan cuma pacar pura-pura kamu aja. Bisa jadi,
bukan cuma aku yang perhatiin Icha. Gimana, kalau Chandra juga punya pemikiran
yang sama. Tapi, dia nggak ngungkapin ke kamu? Kalau bukan aku, di luar sana
juga pasti banyak cowok yang naksir sama cewek kayak Icha.”
Lutfi mengerutkan hidungnya. Ia melepas kerah baju Satria
dan kembali duduk di sofa. Menahan kekesalan karena Satria mencoba menguji
kesabarannya.
Chandra dan Satria tertawa kecil melihat tingkah Lutfi yang
seperti anak kecil.
“Eh, Lut. Aku beli susu Indomilk nih,” tutur Satria sambil
menyodorkan kotak susu ke arah Lutfi.
“Maksud kamu apa?”
“Cocok buat anak-anak kayak kamu. Hahaha.”
Lutfi langsung mengambil kotak susu kecil tersebut dari
tangan Satria dan menghabiskannya dalam sekali sedotan. “Puas kamu!?”
“Hahaha.”
Mereka bertiga terus bercanda hingga lupa kalau ada Bellina yang terikat di ruangan tersebut. Membuat Bellina sangat
kesal karena pria-pria itu sengaja tidak menganggap keberadaannya.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat nulisnya ya.
I Love you double-double.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment