Yeriko memasuki ruangan yang telah ditentukan oleh Riyan.
Ia menghampiri tiga sahabatnya yang sedang asyik bercanda.
“Ngomongin apa? Seru banget?” tanya Yeriko sambil meraih
satu kaleng bir yang ada di atas meja.
“Akhirnya, datang juga!” seru Lutfi. “Lama banget, Yer?”
“Biasa, nimang-nimang istri dulu,” jawab Yeriko sambil
menahan tawa.
“Pamer! Mentang-mentang udah punya istri,” celetuk Lutfi.
“Nikahlah! Kamu kan sudah punya pacar juga.”
“Tahun depan,” sahut Lutfi.
“Weh, serius mau merit tahun depan?” tanya Chandra.
“Kenapa? Mau juga? Nikah aja duluan! Jangan kawin terus!”
“Mulutmu, Lut!” sahut Chandra sambil menoyor kepala Lutfi.
“Minggu ini, aku mau ajak nenek ketemu sama orang tua
Icha.”
“Bukan mau nikah kontrak kan?” tanya Yeriko.
Lutfi menatap wajah Yeriko. “Kayaknya, kamu sekarang mulai
peduli sama hubungan orang lain. Ketularan Kakak Ipar?”
Yeriko menahan tawa. Ia duduk di sofa, tepat di sebelah
Satria.
“Eh, itu siapa?” tanya Yeriko saat melihat Bellina duduk
terikat di hadapannya. Sekitar lima meter dari tempat duduknya, ia bisa melihat
wajah Bellina yang terlihat sangat kacau sedang menatap ke arahnya.
“Mainan kita hari ini. Gimana? Kamu suka?” tanya Lutfi.
“Lumayan.” Yeriko menatap tajam ke arah Bellina.
“Yer, lepasin aku!” pinta Bellina. “Temen-temen kamu ini
udah gila. Seenaknya aja nyulik orang dan ngikat aku seharian di sini.”
Yeriko tersenyum kecil. Ia tak menyahut, malah asyik
memakan kacang rebus yang ada di hadapannya.
“Mas, ini satenya!” Riyan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan
tersebut. Membawa banyak makanan dan minuman.
“Wah, mantap nih!” seru Lutfi. Ia buru-buru membuka kantong
makanan yang dibawa Riyan dan mengeluarkan sate dari dalamnya.
“Yer, makan dulu!” perintah Lutfi. “Kita butuh banyak
tenaga buat nyelesaikan permainan ini. Hahaha.”
Bellina semakin geram karena lima pria yang ada di
hadapannya itu malah bersenang-senang dan tidak menganggap keberadaannya.
“Yeriko!” teriak Bellina kesal.
Yeriko hanya tersenyum kecil sambil melahap sate yang ada
di tangannya.
“Kenapa kalian nyekap aku di sini? Aku punya salah apa sama
kalian?” seru Bellina.
Semua orang saling pandang, kemudian tertawa
terbahak-bahak.
“Kalian ini penjahat!?” Bellina mengerutkan keningnya
melihat raut wajah kelima pria tersebut.
“Lebih tepatnya, pembasmi penjahat kayak kamu,” sahut
Lutfi.
“Aku nggak akan diam aja. Lian nggak akan ngebiarin kalian
hidup bebas karena udah bikin aku kayak gini,” tutur Bellina.
“Yeriko juga nggak akan ngebiarin kamu hidup tenang karena
udah ganggu Kakak Ipar!” sahut Lutfi.
“Aku nggak ngapa-ngapain Yuna!” seru Bellina.
Yeriko hanya tersenyum menanggapi seruan Bellina.
“Ini cewek mau nguji kesabaranku,” celetuk Lutfi sambil
bangkit dari tempat duduknya.
Yeriko langsung menahan tubuh Lutfi. “Slow, Lut!” pintanya.
“Dia nggak akan ke mana-mana, kok.”
“Huu ... dasar cewek sialan! Heran gua, kenapa cowok kayak
Lian mau sama cewek model beginian?” tutur Lutfi.
Bellina tersenyum kecil. “Jelas aja Lian mau sama aku. Aku
jauh lebih baik dari Yuna!”
“Hahaha. Kamu kepedean banget ngomong begitu!” sahut Lutfi.
Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Bellina. “Harga diri
kamu bahkan lebih rendah dari harga sandal istriku. Bisa-bisanya kamu ngomong
begitu?”
Bellina mengerutkan hidung sambil melebarkan kelopak
matanya. “Lepasin aku!” serunya lagi.
“Aku akan lepasin kamu kalau kamu udah menyadari kesalahan
kamu,” tutur Yeriko.
“Aku? Aku nggak ngelakuin apa-apa,” sahut Bellina kesal.
“Oke.” Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu mau tahu
gimana rasanya terkurung di tempat ini selamanya?”
“Aku nggak ngelakuin apa pun ke Yuna!” seru Bellina.
“Oh, kamu udah ngerasa kalau kesalahan kamu kali ini ada
hubungannya sama istriku?”
Bellina gelagapan mendengar pertanyaan Yeriko. “Aku nggak
ada hubungannya sama masalah Yuna. Lepasin aku!” serunya. Ia bersikeras tidak
mengakui kesalahannya.
Yeriko bangkit dari tempat duduknya, berjalan perlahan
menghampiri Bellina yang masih duduk di kursi dalam keadaan terikat erat.
Tubuh Bellina bergetar saat melihat tatapan Yeriko yang
sangat tajam menghujam ke arahnya. “Aku sama sekali nggak ikut-ikutan memfitnah
Yuna di internet. Kamu jangan salah sangka!”
Yeriko tersenyum sinis. “Aku nggak bilang kalau kamu yang
fitnah istriku. Apa ini artinya, kamu mengakui apa yang sudah kamu lakukan ke
Yuna?”
“Aku nggak nyangka kalau kamu itu jahat!” seru Bellina.
“Aku harus jadi lebih jahat buat ngadepin penjahat kayak
kamu.”
“Aku nggak akan biarin kalian ngelakuin ini ke aku! Lian
pasti bakal bikin perhitungan sama kalian!” seru Bellina. Ia tidak tahu lagi
harus berlindung pada siapa selain suaminya sendiri.
“Oh ya? Aku nggak yakin Lian bakal maafin kamu kalau dia
tahu apa yang sudah kamu lakukan di belakang dia,” tutur Yeriko.
“Oh ya?” Bellina tersenyum kecil. “Emangnya kamu punya
bukti apa?”
Yeriko tersenyum sinis. “Kamu udah lupa, kapan terakhir
kali ketemu sama istriku?”
“Maksud kamu?” tanya Bellina dengan bibir bergetar.
“Yan, mana rekamannya?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah
Riyan.
Riyan melangkah maju dan memutar rekaman pembicaraan antara
Bellina dan dokter Heru yang menangani operasi Bellina.
Bellina membelalakkan matanya. “Kamu dapet rekaman itu dari
mana? Kalian mata-matain aku!?” serunya.
Yeriko tersenyum sinis. “Kamu pikir, bisa hidup dengan
mudah karena udah ganggu istriku. Aku pengen tahu gimana reaksi Lian kalau dia
tahu, kamu yang membunuh anak kamu sendiri.”
“Lian pasti lebih percaya sama aku!” seru Bellina.
“Oh ya? Gimana kalau aku kirim rekaman ini ke Lian?”
“Kirim aja! Aku nggak takut,” sahut Bellina sambil membuang
pandangannya. Ia tak memiliki keberanian untuk menatap mata Yeriko.
“Baguslah. Aku mau lihat gimana kamu dibuang dari keluarga
Wijaya.”
“Lian akan lebih percaya sama aku daripada sama rekaman
yang nggak jelas asal-usulnya ini!” tegas Bellina.
Yeriko tersenyum sinis. “Kamu punya banyak keberanian juga
buat ngelawan aku?”
“Aku nggak akan nyerah ngelawan kalian semua!”
“Heh, kenapa kamu masih aja ngotot gangguin Kakak Ipar
terus, hah!?” seru Lutfi. Ia mulai geram dengan sikap Bellina.
“Karena aku benci sama dia!” sahut Bellina.
“Apa?” tanya Yeriko.
“Aku benci sama dia!” seru Bellina.
“Kenapa kamu benci sama dia? Bukannya selama ini, istriku
selalu baik sama kamu?”
“Karena dia masih aja kegatelan gangguin suamiku!” sahut
Bellina.
Yeriko tertawa geli mendengar ucapan Bellina. “Lian itu
sama sekali nggak menarik buat istriku. Bukannya suami kamu itu yang masih
ngejar-ngejar istriku?”
“Dia kayak gitu karena Yuna yang masih godain dia terus.
Lian nggak mungkin ngejar-ngejar perempuan bersuami kalau perempuan itu nggak
kegatelan duluan!” seru Bellina.
Yeriko tertawa kecil. “Kamu itu lucu. Mukamu ini terbuat
dari apa sih? Nggak punya malu sedikitpun. Dari awal, kamu yang udah ngerebut
semua yang dimiliki Yuna. Sesuatu yang nggak seharusnya jadi milik kamu. Suatu
saat akan pergi dari kamu, cepat atau lambat.”
“Aku nggak peduli! Sekarang Lian udah jadi milikku dan aku
nggak mau dia kembali ke Yuna lagi!” seru Bellina.
“Lian nggak akan kembali ke Yuna. Juga nggak akan bertahan
sama kamu. Kita lihat nanti!”
“Kamu ngancam aku?”
“Kamu pikirin apa yang sudah kamu lakuin di belakang Lian!”
sentak Yeriko. “Aku yakin, Lian pasti buang kamu kalau tahu apa aja yang udah
kamu lakuin di belakang dia.”
Bellina terdiam. Saat ini ia tidak tahu apa yang harus ia
lakukan agar Yeriko membiarkannya pergi dan juga menyimpan rahasianya di
hadapan Lian. Ia tidak ingin jika keluarga Lian mengetahui semua hal yang telah
ia lakukan selama ini.
((Bersambung...))
Thanks udah dukung karya ini terus.
Aku terharu banget. Thank you so much buat hadiahnya.
Sapa aku terus di kolom komentar biar
aku semangat terus nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment