Hujan mulai turun, rintik-rintiknya menyapa ramah segala
hal yang ada di bumi.
Dengan penuh percaya diri, Refi mengganti make-up dan duduk
di lobby. Menunggu Yeriko keluar dari kantornya.
Beberapa menit kemudian, Yeriko terlihat keluar dari lift
bersama dengan asisten pribadinya. Ia terus melangkah tanpa melihat Refi
sedikitpun.
Refi yang melihat Yeriko, langsung berjalan menghampiri
pria itu. “Hai ...!” sapa Refi sambil tersenyum manis.
Yeriko langsung menghentikan langkahnya. Ia berbisik kepada
Riyan yang berdiri di belakangnya. “Kenapa dia masih di sini?” bisiknya.
“Maaf, Pak Bos! Tes tertulis hari ini baru aja selesai.
Nilainya belum keluar. Sepertinya, dia sengaja ...” Riyan menghentikan
ucapannya saat pandangan Yeriko beralih menatap Refi penuh kebencian.
Refi terus tersenyum menatap Yeriko. “Yer, makasih ya! Kamu
udah kasih aku kesempatan buat ikut tes tertulis masuk ke perusahaan ini.”
Yeriko tak menyahut. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa
menghiraukan Refi.
“Yer ...!” panggil Refi sambil terus mengikuti langkah
Yeriko.
“Kamu mau apa?” tanya Yeriko kesal.
“Aku cuma mau bilang makasih. Aku tahu, kamu pasti
ngelakuin ini buat aku.”
“Kamu jangan terlalu percaya diri!” sahut Yeriko sambil
melangkah keluar.
“Yer, di luar hujan. Aku nggak bawa payung. Boleh nggak,
aku numpang mobil kamu?”
Yeriko menahan tawa.
“Kali ini aja, Yer! Please!”
Yeriko tersenyum kecil. “Nggak ada perempuan lain yang
boleh masuk mobilku selain Yuna!” tegasnya.
“Aku janji nggak akan mengotori mobil kamu. Aku cuma mau
numpang, sebentar aja. Aku ... aku nggak punya uang buat naik taksi.”
Yeriko tersenyum sinis. “Yan, pesenin taksi buat dia!”
perintah Yeriko pada Riyan.
“Siap, Pak Bos!”
Yeriko kembali melangkahkan kakinya.
“Yer ...!”
“Aku udah pesan taksi buat kamu. Jangan ganggu aku lagi!”
pinta Yeriko. “Aku harus secepatnya pulang ke rumah nemuin istriku,” lanjutnya
sambil tersenyum. Ia mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke mobil.
Refi mengerutkan bibirnya. Ia sangat kesal karena Yuna dan
Yeriko sengaja memamerkan kemesraan mereka di hadapannya.
“Hei, kamu ngapain di sini?” tanya Lutfi yang tiba-tiba
sudah ada di belakang Refi.
Refi berbalik, menatap Lutfi dan Chandra yang sudah berdiri
di sana.
Lutfi memerhatikan Refi dari ujung kepala sampai ke ujung
kaki. “Kaki kamu sudah sembuh, Ref?”
Refi mengangguk sambil tersenyum.
“Heh, kamu jangan pakai sepatu hak setinggi ini!” tutur
Lutfi. “Kalau kamu jatuh dan kakimu cacat lagi, sia-sia uang Yeriko yang udah
dipake buat nyembuhin kaki kamu ini,” lanjutnya sambil tertawa kecil.
“Aku tahu, Yeriko udah keluar uang banyak buat obatin aku.
Makanya, aku ke sini untuk membalas budi.”
“Hahaha. Orang kayak kamu ngerti kata balas budi? Hahaha.”
Lutfi tergelak sambil memegangi perutnya.
Refi mengerutkan bibirnya. Entah kenapa dua sahabat Yeriko
juga berubah. Dulu, hubungan mereka sangat baik. Kenapa sekarang Lutfi dan
Chandra juga memandangnya begitu rendah?
“Kamu mau balas budi dengan cara masuk ke perusahaan ini?”
tanya Chandra dingin.
Refi mengangguk sambil tersenyum manis.
“Sebaiknya, kamu pikirin cara lain untuk membalas budi ke
Yeriko!” tutur Chandra.
“Apa itu, Chan?” tanya Lutfi menahan tawa.
“Mmh, contohnya ... pergi jauh-jauh dari kehidupan Yeriko.”
“Nah, bener banget! Kamu pergi ke surga aja duluan!” sahut
Lutfi.
“Emang surga mau nerima orang kayak dia?” tanya Chandra.
“Hahaha.” Lutfi makin tergelak. “Udah, Chan. Kita balik
aja. Bisa naik asam lambungku kalau kelamaan lihat ini orang.”
Refi mendengus kesal menatap Lutfi dan Chandra yang berlalu
meninggalkannya.
“Awas kalian ya! Kalau sampai Yeriko balik ke aku lagi, aku
bakal bikin kalian tunduk sama aku!” seru Refi.
“Ngimpi aja!” sahut Lutfi sambil menertawakan Refi dari
kejauhan.
Refi menghentakkan kakinya. Ia sangat kesal dengan
perlakuan dua sahabat Yeriko itu.
“Mbak, taksinya sudah datang!” Riyan langsung menghampiri
Refi.
“Makasih!” sahut Refi ketus. Ia langsung melangkahkan
kakinya dengan cepat memasuki taksi.
Sepanjang perjalanan, Refi terus tertawa. Ia merasa Yeriko
masih mencintainya karena sudah memberikan banyak kesempatan untuk dirinya.
Supir taksi terus menatap Refi lewat kaca spion.
“Mbak, rumahnya di mana?” tanya supir taksi tersebut.
Refi masih saja tertawa dan tak mendengarkan pertanyaan
dari supir tersebut.
“Aku bawa orang gila?” gumam supir tersebut sambil
menepikan mobilnya.
“Eh!? Kenapa berhenti di sini?” tanya Refi saat ia tersadar
dari lamunannya.
“Saya nggak tahu alamat rumah Mbaknya. Dari tadi, saya
tanya nggak dijawab. Malah ketawa-ketawa sendiri. Saya Cuma bisa antar sampai
sini.”
“Sebentar lagi sampai,
kok. Rumah saya nggak jauh dari rumah sakit Orthopedi.”
“Oh, oke.” Supir taksi tersebut menjalankan kembali
mobilnya hingga sampai di depan rumah Refi.
...
“Chan, kita ke area panahan. Satria lagi di sana. Asyik nih
kalo dia tahu soal Reptil sama Belatung itu, hahaha.”
Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi. Mereka
bergegas menuju ke tempat latihan memanah untuk menemui Satria.
Lima belas menit kemudian, Chandra dan Lutfi sudah sampai
di area latihan memanah dan langsung menghampiri Satria.
“Makin keren aja nih Arjuna kita,” sapa Lutfi sambil
menatap tubuh Satria.
Satria memutar kepalanya ke arah Lutfi. “Hei, kalian ke
sini?”
“Iya. Mau lihat kamu latihan. Sekalian mau ngetes, masih
bisa manah atau nggak,” jawab Lutfi sambil mengambil busur panah yang sudah
disediakan.
“Bukannya kamu yang paling tahan kalau latihan memanah?”
tanya Satria.
“Tahan nggak kena sasaran?” sahut Chandra sambil menahan
tawa.
Lutfi mengangkat busur di tangannya, menggunakannya untuk
menoyor kepala Chandra.
“Kurang ajar, kamu!” dengus Chandra.
Lutfi terkekeh geli. Ia mengambil satu anak panah yang ada
di depan Satria. “Ayo, kita taruhan!”
Chandra menahan tawa. “Kamu noob gitu, nantangin taruhan
sama yang pro?”
Satria ikut tertawa mendengar ucapan Chandra. “Taruhannya
apa, Lut?”
“Yang kalah ditraktir sama yang menang,” sahut Lutfi.
“Itu bukan taruhan, goblok!” Satria langsung menoyor pipi
Lutfi menggunakan pangkal anak panah yang ia pegang.
“Astaga! Kalo pipiku lecet, mahal perawatannya, Sat.” Lutfi
mengusap pipi sambil tertawa kecil.
“Gayamu, Lek. Kalo mau kupanah sekalian!” sahut Satria.
“Aw ...! Rasanya sangat sakit dipanah sama Mas Satria,” canda Lutfi sambil menekan dada dengan telapak tangannya.
Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Mereka bertiga mulai serius berlatih memanah.
“Kemampuanmu lumayan meningkat,” puji Satria pada Lutfi
saat mereka sudah menghabiskan anak panah yang ada di hadapan mereka.
“Kebetulan aja,” sahut Chandra.
Satria tertawa kecil. “Gimana sama bisnis kalian?”
“Baik. Oh ya, Yeriko ada minta bantuan ke kamu?”
“Kasus kecelakaan mertuanya itu?” tanya Satria balik.
Lutfi dan Chandra saling pandang.
“Ada apa?” tanya Satria.
“Nggak ada apa-apa. Gimana hasilnya?”
“Masih aku telusuri.”
“Ribet banget kasusnya, Sat?”
“Sebenarnya nggak ribet. Cuma, agak sulit nyari bukti-bukti
kejadian sebelas tahun yang lalu. Ngecek TKP, sudah pasti nggak ada yang bisa
kita dapet.”
“Iya juga, sih. Yeriko masih mau lanjutin penyelidikan
itu?”
Satria menganggukkan kepala.
“Sebenernya, kita mau ajak kamu ngurusin kasus lain. Tapi,
kasus yang kamu selidiki lebih berat. Jadi, gimana kalau kamu traktir kita
ngopi aja?” tutur Lutfi.
Satria tertawa kecil. “Nggak usah berbelit-belit kalau cuma
mau minta traktir ngopi doang!”
“Hahaha.”
“Eh, seriusan kalian lagi nanganin kasus lain. Apaan?”
tanya Satria.
“Ah, kasus kecil. Pengganggu rumah tangga orang. Ntar aku
ceritain di kedai kopi, yuk!” ajak Lutfi.
“Oke.” Satria mengangguk.
Mereka bertiga bergegas ke kedai kopi untuk berbincang
banyak tentang rencana mereka ke depan dan beberapa hal yang sudah terjadi
beberapa hari terakhir ini.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat nulisnya ya.
I Love you double-double.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment