Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 327 : Tiga Sayap Ksatria

 


Hujan mulai turun, rintik-rintiknya menyapa ramah segala hal yang ada di bumi.

Dengan penuh percaya diri, Refi mengganti make-up dan duduk di lobby. Menunggu Yeriko keluar dari kantornya.

Beberapa menit kemudian, Yeriko terlihat keluar dari lift bersama dengan asisten pribadinya. Ia terus melangkah tanpa melihat Refi sedikitpun.

Refi yang melihat Yeriko, langsung berjalan menghampiri pria itu. “Hai ...!” sapa Refi sambil tersenyum manis.

Yeriko langsung menghentikan langkahnya. Ia berbisik kepada Riyan yang berdiri di belakangnya. “Kenapa dia masih di sini?” bisiknya.

“Maaf, Pak Bos! Tes tertulis hari ini baru aja selesai. Nilainya belum keluar. Sepertinya, dia sengaja ...” Riyan menghentikan ucapannya saat pandangan Yeriko beralih menatap Refi penuh kebencian.

Refi terus tersenyum menatap Yeriko. “Yer, makasih ya! Kamu udah kasih aku kesempatan buat ikut tes tertulis masuk ke perusahaan ini.”

Yeriko tak menyahut. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan Refi.

“Yer ...!” panggil Refi sambil terus mengikuti langkah Yeriko.

“Kamu mau apa?” tanya Yeriko kesal.

“Aku cuma mau bilang makasih. Aku tahu, kamu pasti ngelakuin ini buat aku.”

“Kamu jangan terlalu percaya diri!” sahut Yeriko sambil melangkah keluar.

“Yer, di luar hujan. Aku nggak bawa payung. Boleh nggak, aku numpang mobil kamu?”

Yeriko menahan tawa.

“Kali ini aja, Yer! Please!”

Yeriko tersenyum kecil. “Nggak ada perempuan lain yang boleh masuk mobilku selain Yuna!” tegasnya.

“Aku janji nggak akan mengotori mobil kamu. Aku cuma mau numpang, sebentar aja. Aku ... aku nggak punya uang buat naik taksi.”

Yeriko tersenyum sinis. “Yan, pesenin taksi buat dia!” perintah Yeriko pada Riyan.

“Siap, Pak Bos!”

Yeriko kembali melangkahkan kakinya.

 “Yer ...!”

“Aku udah pesan taksi buat kamu. Jangan ganggu aku lagi!” pinta Yeriko. “Aku harus secepatnya pulang ke rumah nemuin istriku,” lanjutnya sambil tersenyum. Ia mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke mobil.

Refi mengerutkan bibirnya. Ia sangat kesal karena Yuna dan Yeriko sengaja memamerkan kemesraan mereka di hadapannya.

“Hei, kamu ngapain di sini?” tanya Lutfi yang tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.

Refi berbalik, menatap Lutfi dan Chandra yang sudah berdiri di sana.

Lutfi memerhatikan Refi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. “Kaki kamu sudah sembuh, Ref?”

Refi mengangguk sambil tersenyum.

“Heh, kamu jangan pakai sepatu hak setinggi ini!” tutur Lutfi. “Kalau kamu jatuh dan kakimu cacat lagi, sia-sia uang Yeriko yang udah dipake buat nyembuhin kaki kamu ini,” lanjutnya sambil tertawa kecil.

“Aku tahu, Yeriko udah keluar uang banyak buat obatin aku. Makanya, aku ke sini untuk membalas budi.”

“Hahaha. Orang kayak kamu ngerti kata balas budi? Hahaha.” Lutfi tergelak sambil memegangi perutnya.

Refi mengerutkan bibirnya. Entah kenapa dua sahabat Yeriko juga berubah. Dulu, hubungan mereka sangat baik. Kenapa sekarang Lutfi dan Chandra juga memandangnya begitu rendah?

“Kamu mau balas budi dengan cara masuk ke perusahaan ini?” tanya Chandra dingin.

Refi mengangguk sambil tersenyum manis.

“Sebaiknya, kamu pikirin cara lain untuk membalas budi ke Yeriko!” tutur Chandra.

“Apa itu, Chan?” tanya Lutfi menahan tawa.

“Mmh, contohnya ... pergi jauh-jauh dari kehidupan Yeriko.”

“Nah, bener banget! Kamu pergi ke surga aja duluan!” sahut Lutfi.

“Emang surga mau nerima orang kayak dia?” tanya Chandra.

“Hahaha.” Lutfi makin tergelak. “Udah, Chan. Kita balik aja. Bisa naik asam lambungku kalau kelamaan lihat ini orang.”

Refi mendengus kesal menatap Lutfi dan Chandra yang berlalu meninggalkannya.

“Awas kalian ya! Kalau sampai Yeriko balik ke aku lagi, aku bakal bikin kalian tunduk sama aku!” seru Refi.

“Ngimpi aja!” sahut Lutfi sambil menertawakan Refi dari kejauhan.

Refi menghentakkan kakinya. Ia sangat kesal dengan perlakuan dua sahabat Yeriko itu.

“Mbak, taksinya sudah datang!” Riyan langsung menghampiri Refi.

“Makasih!” sahut Refi ketus. Ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki taksi.

Sepanjang perjalanan, Refi terus tertawa. Ia merasa Yeriko masih mencintainya karena sudah memberikan banyak kesempatan untuk dirinya.

Supir taksi terus menatap Refi lewat kaca spion.

“Mbak, rumahnya di mana?” tanya supir taksi tersebut.

Refi masih saja tertawa dan tak mendengarkan pertanyaan dari supir tersebut.

“Aku bawa orang gila?” gumam supir tersebut sambil menepikan mobilnya.

“Eh!? Kenapa berhenti di sini?” tanya Refi saat ia tersadar dari lamunannya.

“Saya nggak tahu alamat rumah Mbaknya. Dari tadi, saya tanya nggak dijawab. Malah ketawa-ketawa sendiri. Saya Cuma bisa antar sampai sini.”

“Sebentar lagi sampai, kok. Rumah saya nggak jauh dari rumah sakit Orthopedi.”

“Oh, oke.” Supir taksi tersebut menjalankan kembali mobilnya hingga sampai di depan rumah Refi.

 

 

...

 

“Chan, kita ke area panahan. Satria lagi di sana. Asyik nih kalo dia tahu soal Reptil sama Belatung itu, hahaha.”

Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi. Mereka bergegas menuju ke tempat latihan memanah untuk menemui Satria.

Lima belas menit kemudian, Chandra dan Lutfi sudah sampai di area latihan memanah dan langsung menghampiri Satria.

“Makin keren aja nih Arjuna kita,” sapa Lutfi sambil menatap tubuh Satria.

Satria memutar kepalanya ke arah Lutfi. “Hei, kalian ke sini?”

“Iya. Mau lihat kamu latihan. Sekalian mau ngetes, masih bisa manah atau nggak,” jawab Lutfi sambil mengambil busur panah yang sudah disediakan.

“Bukannya kamu yang paling tahan kalau latihan memanah?” tanya Satria.

“Tahan nggak kena sasaran?” sahut Chandra sambil menahan tawa.

Lutfi mengangkat busur di tangannya, menggunakannya untuk menoyor kepala Chandra.

“Kurang ajar, kamu!” dengus Chandra.

Lutfi terkekeh geli. Ia mengambil satu anak panah yang ada di depan Satria. “Ayo, kita taruhan!”

Chandra menahan tawa. “Kamu noob gitu, nantangin taruhan sama yang pro?”

Satria ikut tertawa mendengar ucapan Chandra. “Taruhannya apa, Lut?”

“Yang kalah ditraktir sama yang menang,” sahut Lutfi.

“Itu bukan taruhan, goblok!” Satria langsung menoyor pipi Lutfi menggunakan pangkal anak panah yang ia pegang.

“Astaga! Kalo pipiku lecet, mahal perawatannya, Sat.” Lutfi mengusap pipi sambil tertawa kecil.

“Gayamu, Lek. Kalo mau kupanah sekalian!” sahut Satria.

“Aw ...! Rasanya sangat sakit dipanah sama Mas Satria,” canda Lutfi sambil menekan dada dengan telapak tangannya.

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mereka bertiga mulai serius berlatih memanah.

“Kemampuanmu lumayan meningkat,” puji Satria pada Lutfi saat mereka sudah menghabiskan anak panah yang ada di hadapan mereka.

“Kebetulan aja,” sahut Chandra.

Satria tertawa kecil. “Gimana sama bisnis kalian?”

“Baik. Oh ya, Yeriko ada minta bantuan ke kamu?”

“Kasus kecelakaan mertuanya itu?” tanya Satria balik.

Lutfi dan Chandra saling pandang.

“Ada apa?” tanya Satria.

“Nggak ada apa-apa. Gimana hasilnya?”

“Masih aku telusuri.”

“Ribet banget kasusnya, Sat?”

“Sebenarnya nggak ribet. Cuma, agak sulit nyari bukti-bukti kejadian sebelas tahun yang lalu. Ngecek TKP, sudah pasti nggak ada yang bisa kita dapet.”

“Iya juga, sih. Yeriko masih mau lanjutin penyelidikan itu?”

Satria menganggukkan kepala.

“Sebenernya, kita mau ajak kamu ngurusin kasus lain. Tapi, kasus yang kamu selidiki lebih berat. Jadi, gimana kalau kamu traktir kita ngopi aja?” tutur Lutfi.

Satria tertawa kecil. “Nggak usah berbelit-belit kalau cuma mau minta traktir ngopi doang!”

“Hahaha.”

“Eh, seriusan kalian lagi nanganin kasus lain. Apaan?” tanya Satria.

“Ah, kasus kecil. Pengganggu rumah tangga orang. Ntar aku ceritain di kedai kopi, yuk!” ajak Lutfi.

“Oke.” Satria mengangguk.

Mereka bertiga bergegas ke kedai kopi untuk berbincang banyak tentang rencana mereka ke depan dan beberapa hal yang sudah terjadi beberapa hari terakhir ini.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulisnya ya.

I Love you double-double.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 326 : Bukti Pelaku Hate Speech

 


“Yun, kamu istirahat dulu di dalam ya!” perintah Yeriko saat ia dan Yuna sudah selesai menikmati makan siang.

Yuna mengangguk. Ia langsung melangkah menuju kamar istirahat yang ada di belakang meja kerja Yeriko.

“Permisi, Pak ...!”

“Masuk!” perintah Yeriko yang sudah tak asing lagi dengan suara pria tersebut.

Riyan mengangguk hormat dan langsung menghampiri Yeriko yang sudah duduk di meja kerjanya.

“Gimana?”

Riyan langsung menyodorkan hardisk ke arah Yeriko. “Ini bukti-bukti yang sudah kami kumpulkan, Pak Bos.”

Yeriko mengangguk. Ia langsung meraih hardisk dari tangan Riyan dan menyambungkan ke laptop miliknya.

“Rekaman CCTV itu nggak menampakkan gambar jelas pelakunya. Sepertinya, dia sudah ada persiapan untuk menyembunyikan identitasnya.”

Yeriko tersenyum sinis sambil menatap video yang sedang berputar di layar laptopnya. “Dari kejauhan juga udah ketahuan kalau ini Bellina.”

Riyan menganggukkan kepala. “Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?”

“Awasi dia terus! Jangan sampai lepas! Cari bukti lain buat ngancurin dia!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!”

“Aku masih punya hati ke dia karena dia sepupunya Yuna. Tapi, Bellina kali ini udah keterlaluan!” tutur Yeriko berapi-api. “Bisa-bisanya dia fitnah Yuna, saudaranya sendiri.”

“Apa kami tangkap pelakunya sekarang juga?”

“Kamu berani nangkap dia sendiri? Tunggu intruksi dari Chandra dan Lutfi!”

“Baik, Pak.”

“Oh ya, satu lagi. Ini!” Yeriko melemparkan map file ke arah Riyan.

“Apa ini, Pak?”

“Bawa itu ke HRD!” perintah Yeriko. “Minta HRD untuk ikutkan dia tes tertulis penerimaan karyawan baru.”

“Siap, Pak Bos!”

“Kamu tahu kan Refina itu siapa?” tanya Yeriko.

“Tahu, Pak Bos.”

“Apa pun hasil tesnya nanti, aku nggak mau dia masuk ke perusahaan ini!” tegas Yeriko.

“Oh. Oke.”

“Balik ke ruangan kamu! Suruh Chandra ke sini!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos. Saya permisi dulu!” pamit Riyan.

Yeriko mengangguk. Ia kembali fokus dengan pekerjaannya.

Beberapa menit kemudian, Chandra masuk ke ruang kerja Yeriko.

“Ada apa, Yer?” tanya Chandra.

Yeriko memutar laptopnya, menunjukkan video yang didapatkan oleh Riyan dan tim IT yang bersamanya.

Chandra langsung mengamati video itu dengan seksama. Bahkan mengulang hingga beberapa kali.

“Ini, kayaknya sepupu Yuna itu.”

“Bukan kayaknya, emang iya,” sahut Yeriko.

“Wah, bakal seru nih!”

“Mainan baru ini, aku serahin ke kamu.”

Chandra tertawa sambil melihat beberapa video dan bukti-bukti yang telah dikumpulkan Riyan. “Lutfi pastj seneng, nih.”

“Aku serahin ini ke kalian! Jangan sampai lepas!”

“Siap!” sahut Chandra. “Eh, serius nih? Yuna nggak akan marah kalau kita kasih hukuman ke sepupunya dia?”

“Sst, jangan sampai dia tahu!” pinta Yeriko.

“Eh!?”

“Pelan-pelan aja ngomongnya, dia di kamar belakang,” tutur Yeriko sambil menoleh pintu yang ada di belakangnya.

“Dia di sini?” tanya Chandra berbisik.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Mau dibikin apa si Bellina ini?” tanya Chandra dengan suara pelan.

“Kalian tangkap dan bikin dia ketakutan dulu!” pinta Yeriko. “Kalo udah dapet, langsung kabari aku!”

“Gampang,” sahut Chandra. “Aku minta copy datanya.”

Yeriko mengangguk. Ia memberikan hardisk tersebut kepada Chandra.

“Oh ya, satu lagi. Itu si Refi ngelamar kerja ke perusahaan ini. Aku nggak mau tahu gimana hasil tesnya dia. Sebagus apa pun nilainya, aku tetep nggak mau dia masuk ke Galaxy.”

“Hah!? Dia ngelamar kerja ke sini?”

Yeriko mengangguk. “Kamu urus dia!”

“Mantan, mantanmu! Aku terus yang urusin,” celetuk Chandra.

“Apa kamu bilang!?” Yeriko mendelik ke arah Chandra.

“Hehehe. Iya, aku urusin!” Chandra terkekeh sambil melangkah menuju sofa. Ia merogoh ponsel di sakunya dan menelepon Lutfi untuk datang ke kantor Yeriko.

Tak berapa lama, Lutfi masuk ke ruangan Yeriko sambil membawa beberapa makanan dan minuman.

“Kebetulan banget, aku belum makan.” Chandra langsung membuka paper bag yang diletakkan Lutfi di atas meja dan mengambil beberapa makanan.

“Mau, Yer?” tanya Lutfi melihat Yeriko yang masih sibuk di meja kerjanya.

Yeriko menggeleng. “Aku udah makan.”

“Kopi, nih. Mau?” tanya Lutfi lagi.

Yeriko menutup berkas yang ada di tangannya. Ia melangkah perlahan menghampiri dua sahabatnya itu.

“Ada menu apa hari ini?” tanya Lutfi sambil memainkan kedua alisnya.

“Mantan pacar,” sahut Chandra sambil melirik Yeriko.

“Reptil itu bikin ulah lagi?”

“Belum sampai. Tapi, sepertinya sedang merencanakan sesuatu karena dia ikut masuk ke penerimaan karyawan baru,” tutur Chandra.

“Hahaha.” Lutfi tergelak mendengar ucapan Chandra.

“Kenapa ketawa?” Yeriko mengerutkan dahinya.

“Nggak papa. Lucu aja. Dia itu mukanya kebal banget. Udah ditolak berkali-kali, masih aja nempel kamu terus. Aku salut sih sama usahanya. Pantang menyerah buat dapetin Bos Ye yang paling ganteng sedunia. Hahaha.”

Yeriko langsung menghantam kepala Lutfi menggunakan telapak tangannya.

“Aw … ! Kalian suka banget pakai kekerasan,” seru Lutfi sambil mengelus kepalanya sendiri.

“Kamu kalo ngomong nggak pake otak!” sahut Yeriko kesal.

“Iya, leh. Aku ngomong pake mulut, pake mulut!” sahut Lutfi sambil tertawa.

“Eh, serius, Lut!” sela Chandra. “Kita beresin Bellina dulu.”

“Belatung itu kenapa lagi?” tanya Lutfi.

“Dia yang bikin video Andre sama Yuna. Dia juga yang provokasi pengguna internet biar nyerang Yuna,” jawab Chandra.

“What!?” Lutfi langsung menatap wajah Yeriko. “Beneran dia?”

Yeriko mengangguk.

“Haduh … berhadapan sama saudara sedarah ini pasti sulit. Kira-kira, Kakak Ipar bakal marah atau nggak kalau kita …?”

“Jangan sampai dia tahu!” pinta Yeriko sambil menoleh ke arah pintu yang ada di belakang meja kerjanya.

“Dia di sini?” tanya Lutfi berbisik.

Yeriko mengangguk. “Lagi tidur, kamu jangan berisik banget!”

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Kalo gitu, apa yang harus aku kerjain duluan?”

“Kamu bantu Riyan awasi gerak-gerik Bellina. Kapan ada kesempatan, langsung tangkap dia!” perintah Yeriko.

“Oke.” Lutfi manggut-manggut.

Mereka bertiga mulai sibuk merencanakan menghadapi musuh-musuh mereka, juga merencanakan bisnis mereka ke depannya.

 

 

Keesokan harinya …

Refi tersenyum setelah ia selesai menjalani tes tertulis penerimaan karyawan baru di Galaxy Group. Mengikuti tes tertulis, bukan hal sulit baginya. Ia sangat optimis kalau perusahaan akan menerimanya.

Refi merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ia langsung  menelepon nomor Yuna.

“Halo …!” sapa Yuna begitu panggilan telepon dari Refi tersambung.

“Halo, Yun. Makasih ya, kamu udah ngasih aku kesempatan buat ikut tes tertulis masuk ke perusahaan ini.”

“Berterima kasihlah sama Head HRD karena udah ngasih kamu kesempatan. Udah kelar tesnya?”

“Iya, udah kelar. Tinggal tunggu hasilnya besok.”

“Oke. Selamat ya! Semoga berhasil!”

“He-em.” Refi mengangguk sambil tersenyum. “Kalau ada waktu, aku mau traktir kamu makan sebagai tanda terima kasih. Gimana?”

“Nanti aja kalau kamu sudah punya kerjaan. Baru traktir aku!”

“Hmm, okelah.”

“Hehehe. Udah dulu, ya! Aku lagi masak buat suamiku tercinta. Bye-bye!” seru Yuna.

Refi menatap layar ponselnya yang sudah mati. “Pamer banget!?” celetuknya kesal.

Refi tersenyum. Ia akan berusaha menjadi teman baik Yuna. Sampai akhirnya, ia bisa merebut Yeriko dari pelukan Yuna. Ia sangat kesal karena tidak bisa menyingkirkan Yuna dari kehidupan Yeriko. Yeriko terlalu tergila-gila dengan Yuna dan membuatnya kesulitan untuk mengembalikan Yeriko ke dalam pelukannya. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika tak bisa membuat Yeriko kembali mencintainya lagi seperti dulu.

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 325 : Makan Siang untuk Yeriko

 


“Siang ini mau makan di mana?” tanya Yuna saat mengantar suaminya ke halaman rumah untuk pergi bekerja.

“Di kantor. Biar Bibi aja yang antar makan siangku.”

“Mmh ...” Yuna menggigit bibirnya. Yeriko tak mengizinkan ia bepergian ke luar rumah. Ia ingin sekali bisa membuatkan makan siang untuk suaminya. Tapi ia takut kalau suaminya juga akan melarangnya pergi ke perusahaan.

“Kenapa?” tanya Yeriko yang menyadari kegelisahan yang tergambar dari wajah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak papa.”

“Nggak usah sungkan! Kamu mau ngomong apa? Mau jalan ke luar?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku .. aku ...”

Yeriko menautkan alisnya, menunggu Yuna menyelesaikan ucapannya. “Kenapa?” tanyanya lagi.

“Mmh ... aku boleh nggak antar makan siang kamu ke perusahaan?” tanya Yuna hati-hati.

Yeriko tertawa kecil menatap Yuna.

“Kenapa diketawain?”

“Aku pikir, kamu mau ngomong apa gitu. Boleh, kok. Aku tunggu jam makan siang di kantor. Oh ya, jangan naik taksi ya! Angga yang antar kamu!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Makasih, ya!”

Yeriko mengangguk. “Aku berangkat dulu!” Ia mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

“Aargh ...! Akhirnya, bisa menghirup udara segar juga. Dududu ...” Yuna melenggang masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.

“Bi, hari ini aku mau makan siang bareng Yeri di kantor. Biar aku yang masak dan antar makan siang dia ke sana ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.

Bibi War mengangguk sambil tersenyum.

Yuna menjalani harinya penuh bahagia. Ia sangat senang bisa memasak untuk Yeriko dan makan siang bersamanya di kantor. Yah, walau beberapa kali Yeriko memang tidak bisa makan siang bersama karena harus bertemu klien. Tapi, suaminya itu selalu saja mengganti waktu makan mereka bersama yang hilang dengan hal lain.

Setelah semuanya siap, Yuna langsung pergi ke kantor Yeriko bersama supir pribadinya.

“Ngga, kamu langsung pulang aja ya! Nanti, saya pulang sama Pak Bos aja.” Yuna memberi pesan pada supirnya sebelum turun dari mobil.

“Iya, Nyonya Bos!”

Yuna memonyongkan bibirnya. Sepertinya, para pekerja di rumah keluarga Hadikusuma memang sulit sekali memanggilnya dengan nama yang biasa saja. Tapi, ia juga tidak bisa setiap saat memprotes panggilan yang ditujukan terhadap dirinya.

Yuna terus melangkah memasuki lobi. Semua karyawan yang mengenalnya menyapa Yuna dengan ramah. Sepanjang jalan, Yuna terus memasang senyuman manisnya.

“Pak, tolong, Pak! Bapak lihat dulu CV saya!” Suara seorang wanita yang tak asing mengalihkan perhatian Yuna. Yuna langsung menoleh ke arah sumber suara dan menatap wanita yang sedang berbicara dengan salah satu Manager HRD yang ada di kantor Yeriko.

“Kamu sudah terlambat satu menit. Saya sudah tidak menerima surat lamaran lagi!” tegas pria separuh baya tersebut.

“Pak, cuma satu menit aja. Saya janji, bakal ngasih yang terbaik ke perusahaan ini.”

“Satu menit itu lama. Dari awal, kamu sudah tidak disiplin. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain yang mau menampung orang seperti kamu.”

“Tapi, Pak. Saya terlambat karena macet di jalan. Tolong, Pak! Kasih saya kesempatan sekali lagi!”

Pria itu menggelengkan kepala. Ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan gadis berambut pirang yang berdiri dengan setelan rapi sambil memegang sebuah map di tangannya.

“Pak ...! Saya kenal sama pemilik perusahaan ini!” seru gadis itu. Tapi, ia tetap tidak mendapatkan respon yang baik dari Manager HRD itu.

Yuna memerhatikan gadis tersebut. Ia tak menyangka kalau Refi sekarang sibuk mencari pekerjaan. “Apa sekarang, hidup dia sesusah itu?” batin Yuna.

Yuna menghela napas sejenak dan kembali melangkahkan kakinya.

“Yuna ...!”

Yuna langsung menghentikan langkahnya. Yuna berbalik, ia menatap gadis yang sudah ada di hadapannya itu sambil tersenyum. “Ada apa, ya?” tanyanya.

“Yun, aku butuh bantuan kamu. Please!”

“Bantuan apa?”

“Aku mau ngelamar kerja di perusahaan ini. Kebetulan ada lowongan kerja. Aku cuma terlambat satu menit. Manager itu nggak mau terima surat lamaranku.”

“Oh.”

Refi menelan ludah karena respon Yuna yang begitu cuek terhadapnya. Tapi, ia tidak peduli karena saat ini ia benar-benar membutuhkan pekerjaan.

“Yun, aku udah nggak bisa nari lagi. Karirku sebagai ballerina udah hancur. Aku beneran mau kerja. Semua uang aku udah habis dan aku butuh pekerjaan. Apa kamu nggak kasihan sama aku? Aku udah pergi cari kerja ke mana-mana. Saat ini, cuma kamu harapan aku. Kamu kan istri pemilik perusahaan ini. Yeriko pasti denger permintaan kamu. Please!” Refi tak ingin menyerah begitu saja.

“Ref, aku emang istrinya Yeriko. Tapi, aku nggak pernah ikut campur urusan perusahaan. Lebih baik, kamu ikuti saja sesuai prosedur perusahaan.”

“Yun, aku cuma mau CV aku diterima. Setelahnya, aku pasti ikuti prosedur perusahaan. Aku nitip ini ke kamu ya!” pinta Refi sambil menyodorkan map ke arah Yuna.

Yuna terdiam. Ia hanya terpaku menatap map yang ada di hadapannya dan tidak punya keinginan untuk menerimanya.

“Please, Yun! Sekali ini aja!” pinta Refi dengan wajah pilu.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tega melihat wajah Refi yang terlihat sangat susah. Andai saat ini dia yang ada di posisi Refi, apa yang akan dia lakukan?

“Oke. Aku akan bicarakan sama suamiku. Tapi, aku nggak janji.” Yuna meraih map dari tangan Refi.

Refi mengangguk sambil tersenyum ceria. “Makasih banyak, Yuna!” serunya sambil memeluk tubuh Yuna. “Mmh, kalo gitu aku pamit dulu. Makasih banyak bantuannya ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Refi mengelus perut Yuna yang masih mungil. “Semoga, baby-nya selalu sehat ya!” Ia langsung berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Yuna.

Yuna tercengang dengan sikap Refi yang tiba-tiba bersikap baik terhadapnya. “Dia baik beneran atau ... ah, semoga aja dia emang udah beneran berubah jadi baik,” gumam Yuna.

Yuna kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko yang ada di lantai paling atas.

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko yang buru-buru keluar dari ruangannya.

“Nggak papa. Ada apa?” tanya Yuna balik. Ia melihat kepanikan yang tergambar dari wajah Yeriko.

“Aku baru aja mau jemput kamu di bawah. Kenapa naik sendirian?”

“Aku bukan anak kecil. Nggak ada masalah naik lift sendirian.”

“Kenapa Angga nggak antar kamu sampai di sini? Kalau ada apa-apa gimana? Lain kali, jangan jalan sendirian!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis.

“Ayo, masuk!” ajak Yeriko. Mereka bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko yang sangat luas dan nyaman.

“Oh ya, ada titipan buat kamu.” Yuna menyodorkan map yang ia pegang.

“Apa ini?” tanya Yeriko sambil membuka map tersebut. Baru saja membaca awal kalimat, ia langsung melemparkan map tersebut ke tempat sampah yang ada di dekatnya.

“Kenapa dibuang?” tanya Yuna. Ia segera memungut kembali surat lamaran milik Refi.

“Aku bukan bagian HRD. Dia salah alamat,” jawab Yeriko ketus. Ia melangkah ke meja dan membuka bekal makan siang yang dibawakan istrinya.

“Bukan salah alamat. Dia udah ke HRD. Tapi, HRD nolak dia karena terlambat. Jadi, dia minta tolong sama aku buat masukin lamaran dia lewat kamu. Manager HRD, pasti nggak akan menolak kalau kamu yang minta,” jelas Yuna.

Yeriko tak menyahut. Ia menusuk satu potong rolade dan memasukkan ke dalam mulutnya hingga penuh.

Yuna menghampiri Yeriko. Sepertinya, suaminya memang tidak berminat membahas soal Refi yang kerap kali membuat masalah dalam hidup mereka.

“Aku kasihan sama dia. Dia udah nggak bisa nari lagi. Anggap aja, itu sudah jadi hukuman buat dia. Sekarang dia lagi cari kerjaan. Nggak ada salahnya kalau kita bantu dia, kan?”

Yeriko tak menyahut. Ia kembali menyuap makanan ke mulutnya dengan kesal hingga penuh dan sulit untuk bicara.

“Ay, sekali ini aja. Cuma bantu masukin CV ini ke Departemen HR. Setelahnya, biar Refi sendiri yang usaha untuk masuk ke perusahaan ini. Gimana?”

Yeriko melirik Yuna sejenak. Ia kembali menusuk potongan rolade.

Yuna langsung menahan lengan Yeriko agar tak menyuap makanan ke mulutnya lagi.

“Jawab dulu, jangan diam aja!” pinta Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu beneran nggak mau bantu dia? Cuma masukin CV doang. Aku udah janji bakal usahain masukin CV dia. Lagian, dia juga abis nolongin aku. Apa susahnya sih cuma masukin CV dia ke HRD doang? Kasih dia kesempatan sekali aja, please!”

Yeriko melirik wajah Yuna. “Ck, iya aku bantu masukin ini ke HRD. Tapi, aku nggak jamin dia diterima di sini. Dia boleh ikut tes tertulis. Hasilnya gimana, itu tergantung dia sendiri.”

“Nah, gitu dong! Ini baru suamiku yang baik hati,” puji Yuna sambil menatap Yeriko penuh cinta.

Yeriko memaksa bibirnya tersenyum. Ia sangat kesal karena istrinya masih berbaik hati dengan orang yang jelas-jelas ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Ia tidak menceritakan semuanya karena mengkhawatirkan kondisi psikis istrinya itu. Tapi, hal ini justru menjadi boomerang.

 

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas