“Yun, kamu istirahat dulu di dalam ya!” perintah Yeriko
saat ia dan Yuna sudah selesai menikmati makan siang.
Yuna mengangguk. Ia langsung melangkah menuju kamar
istirahat yang ada di belakang meja kerja Yeriko.
“Permisi, Pak ...!”
“Masuk!” perintah Yeriko yang sudah tak asing lagi dengan
suara pria tersebut.
Riyan mengangguk hormat dan langsung menghampiri Yeriko
yang sudah duduk di meja kerjanya.
“Gimana?”
Riyan langsung menyodorkan hardisk ke arah Yeriko. “Ini
bukti-bukti yang sudah kami kumpulkan, Pak Bos.”
Yeriko mengangguk. Ia langsung meraih hardisk dari tangan
Riyan dan menyambungkan ke laptop miliknya.
“Rekaman CCTV itu nggak menampakkan gambar jelas pelakunya.
Sepertinya, dia sudah ada persiapan untuk menyembunyikan identitasnya.”
Yeriko tersenyum sinis sambil menatap video yang sedang
berputar di layar laptopnya. “Dari kejauhan juga udah ketahuan kalau ini
Bellina.”
Riyan menganggukkan kepala. “Apa yang harus kami lakukan
selanjutnya?”
“Awasi dia terus! Jangan sampai lepas! Cari bukti lain buat
ngancurin dia!” perintah Yeriko.
“Siap, Pak Bos!”
“Aku masih punya hati ke dia karena dia sepupunya Yuna.
Tapi, Bellina kali ini udah keterlaluan!” tutur Yeriko berapi-api.
“Bisa-bisanya dia fitnah Yuna, saudaranya sendiri.”
“Apa kami tangkap pelakunya sekarang juga?”
“Kamu berani nangkap dia sendiri? Tunggu intruksi dari
Chandra dan Lutfi!”
“Baik, Pak.”
“Oh ya, satu lagi. Ini!” Yeriko melemparkan map file ke
arah Riyan.
“Apa ini, Pak?”
“Bawa itu ke HRD!” perintah Yeriko. “Minta HRD untuk
ikutkan dia tes tertulis penerimaan karyawan baru.”
“Siap, Pak Bos!”
“Kamu tahu kan Refina itu siapa?” tanya Yeriko.
“Tahu, Pak Bos.”
“Apa pun hasil tesnya nanti, aku nggak mau dia masuk ke
perusahaan ini!” tegas Yeriko.
“Oh. Oke.”
“Balik ke ruangan kamu! Suruh Chandra ke sini!” perintah
Yeriko.
“Siap, Pak Bos. Saya permisi dulu!” pamit Riyan.
Yeriko mengangguk. Ia kembali fokus dengan pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, Chandra masuk ke ruang kerja
Yeriko.
“Ada apa, Yer?” tanya Chandra.
Yeriko memutar laptopnya, menunjukkan video yang didapatkan
oleh Riyan dan tim IT yang bersamanya.
Chandra langsung mengamati video itu dengan seksama. Bahkan
mengulang hingga beberapa kali.
“Ini, kayaknya sepupu Yuna itu.”
“Bukan kayaknya, emang iya,” sahut Yeriko.
“Wah, bakal seru nih!”
“Mainan baru ini, aku serahin ke kamu.”
Chandra tertawa sambil melihat beberapa video dan
bukti-bukti yang telah dikumpulkan Riyan. “Lutfi pastj seneng, nih.”
“Aku serahin ini ke kalian! Jangan sampai lepas!”
“Siap!” sahut Chandra. “Eh, serius nih? Yuna nggak akan
marah kalau kita kasih hukuman ke sepupunya dia?”
“Sst, jangan sampai dia tahu!” pinta Yeriko.
“Eh!?”
“Pelan-pelan aja ngomongnya, dia di kamar belakang,” tutur
Yeriko sambil menoleh pintu yang ada di belakangnya.
“Dia di sini?” tanya Chandra berbisik.
Yeriko menganggukkan kepala.
“Mau dibikin apa si Bellina ini?” tanya Chandra dengan
suara pelan.
“Kalian tangkap dan bikin dia ketakutan dulu!” pinta
Yeriko. “Kalo udah dapet, langsung kabari aku!”
“Gampang,” sahut Chandra. “Aku minta copy datanya.”
Yeriko mengangguk. Ia memberikan hardisk tersebut kepada
Chandra.
“Oh ya, satu lagi. Itu si Refi ngelamar kerja ke perusahaan
ini. Aku nggak mau tahu gimana hasil tesnya dia. Sebagus apa pun nilainya, aku
tetep nggak mau dia masuk ke Galaxy.”
“Hah!? Dia ngelamar kerja ke sini?”
Yeriko mengangguk. “Kamu urus dia!”
“Mantan, mantanmu! Aku terus yang urusin,” celetuk Chandra.
“Apa kamu bilang!?” Yeriko mendelik ke arah Chandra.
“Hehehe. Iya, aku urusin!” Chandra terkekeh sambil
melangkah menuju sofa. Ia merogoh ponsel di sakunya dan menelepon Lutfi untuk
datang ke kantor Yeriko.
Tak berapa lama, Lutfi masuk ke ruangan Yeriko sambil
membawa beberapa makanan dan minuman.
“Kebetulan banget, aku belum makan.” Chandra langsung
membuka paper bag yang diletakkan Lutfi di atas meja dan mengambil beberapa
makanan.
“Mau, Yer?” tanya Lutfi melihat Yeriko yang masih sibuk di
meja kerjanya.
Yeriko menggeleng. “Aku udah makan.”
“Kopi, nih. Mau?” tanya Lutfi lagi.
Yeriko menutup berkas yang ada di tangannya. Ia melangkah
perlahan menghampiri dua sahabatnya itu.
“Ada menu apa hari ini?” tanya Lutfi sambil memainkan kedua
alisnya.
“Mantan pacar,” sahut Chandra sambil melirik Yeriko.
“Reptil itu bikin ulah lagi?”
“Belum sampai. Tapi, sepertinya sedang merencanakan sesuatu
karena dia ikut masuk ke penerimaan karyawan baru,” tutur Chandra.
“Hahaha.” Lutfi tergelak mendengar ucapan Chandra.
“Kenapa ketawa?” Yeriko mengerutkan dahinya.
“Nggak papa. Lucu aja. Dia itu mukanya kebal banget. Udah
ditolak berkali-kali, masih aja nempel kamu terus. Aku salut sih sama usahanya.
Pantang menyerah buat dapetin Bos Ye yang paling ganteng sedunia. Hahaha.”
Yeriko langsung menghantam kepala Lutfi menggunakan telapak
tangannya.
“Aw … ! Kalian suka banget pakai kekerasan,” seru Lutfi
sambil mengelus kepalanya sendiri.
“Kamu kalo ngomong nggak pake otak!” sahut Yeriko kesal.
“Iya, leh. Aku ngomong pake mulut, pake mulut!” sahut Lutfi
sambil tertawa.
“Eh, serius, Lut!” sela Chandra. “Kita beresin Bellina
dulu.”
“Belatung itu kenapa lagi?” tanya Lutfi.
“Dia yang bikin video Andre sama Yuna. Dia juga yang
provokasi pengguna internet biar nyerang Yuna,” jawab Chandra.
“What!?” Lutfi langsung menatap wajah Yeriko. “Beneran
dia?”
Yeriko mengangguk.
“Haduh … berhadapan sama saudara sedarah ini pasti sulit.
Kira-kira, Kakak Ipar bakal marah atau nggak kalau kita …?”
“Jangan sampai dia tahu!” pinta Yeriko sambil menoleh ke
arah pintu yang ada di belakang meja kerjanya.
“Dia di sini?” tanya Lutfi berbisik.
Yeriko mengangguk. “Lagi tidur, kamu jangan berisik banget!”
Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Kalo gitu, apa yang
harus aku kerjain duluan?”
“Kamu bantu Riyan awasi gerak-gerik Bellina. Kapan ada
kesempatan, langsung tangkap dia!” perintah Yeriko.
“Oke.” Lutfi manggut-manggut.
Mereka bertiga mulai sibuk merencanakan menghadapi
musuh-musuh mereka, juga merencanakan bisnis mereka ke depannya.
…
Keesokan harinya …
Refi tersenyum setelah ia selesai menjalani tes tertulis
penerimaan karyawan baru di Galaxy Group. Mengikuti tes tertulis, bukan hal
sulit baginya. Ia sangat optimis kalau perusahaan akan menerimanya.
Refi merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ia langsung
menelepon nomor Yuna.
“Halo …!” sapa Yuna begitu panggilan telepon dari Refi
tersambung.
“Halo, Yun. Makasih ya, kamu udah ngasih aku kesempatan
buat ikut tes tertulis masuk ke perusahaan ini.”
“Berterima kasihlah sama Head HRD karena udah ngasih kamu
kesempatan. Udah kelar tesnya?”
“Iya, udah kelar. Tinggal tunggu hasilnya besok.”
“Oke. Selamat ya! Semoga berhasil!”
“He-em.” Refi mengangguk sambil tersenyum. “Kalau ada
waktu, aku mau traktir kamu makan sebagai tanda terima kasih. Gimana?”
“Nanti aja kalau kamu sudah punya kerjaan. Baru traktir
aku!”
“Hmm, okelah.”
“Hehehe. Udah dulu, ya! Aku lagi masak buat suamiku
tercinta. Bye-bye!” seru Yuna.
Refi menatap layar ponselnya yang sudah mati. “Pamer
banget!?” celetuknya kesal.
Refi tersenyum. Ia akan berusaha menjadi teman baik Yuna.
Sampai akhirnya, ia bisa merebut Yeriko dari pelukan Yuna. Ia sangat kesal
karena tidak bisa menyingkirkan Yuna dari kehidupan Yeriko. Yeriko terlalu
tergila-gila dengan Yuna dan membuatnya kesulitan untuk mengembalikan Yeriko ke
dalam pelukannya. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika tak bisa
membuat Yeriko kembali mencintainya lagi seperti dulu.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment