Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 325 : Makan Siang untuk Yeriko

 


“Siang ini mau makan di mana?” tanya Yuna saat mengantar suaminya ke halaman rumah untuk pergi bekerja.

“Di kantor. Biar Bibi aja yang antar makan siangku.”

“Mmh ...” Yuna menggigit bibirnya. Yeriko tak mengizinkan ia bepergian ke luar rumah. Ia ingin sekali bisa membuatkan makan siang untuk suaminya. Tapi ia takut kalau suaminya juga akan melarangnya pergi ke perusahaan.

“Kenapa?” tanya Yeriko yang menyadari kegelisahan yang tergambar dari wajah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak papa.”

“Nggak usah sungkan! Kamu mau ngomong apa? Mau jalan ke luar?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku .. aku ...”

Yeriko menautkan alisnya, menunggu Yuna menyelesaikan ucapannya. “Kenapa?” tanyanya lagi.

“Mmh ... aku boleh nggak antar makan siang kamu ke perusahaan?” tanya Yuna hati-hati.

Yeriko tertawa kecil menatap Yuna.

“Kenapa diketawain?”

“Aku pikir, kamu mau ngomong apa gitu. Boleh, kok. Aku tunggu jam makan siang di kantor. Oh ya, jangan naik taksi ya! Angga yang antar kamu!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Makasih, ya!”

Yeriko mengangguk. “Aku berangkat dulu!” Ia mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

“Aargh ...! Akhirnya, bisa menghirup udara segar juga. Dududu ...” Yuna melenggang masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.

“Bi, hari ini aku mau makan siang bareng Yeri di kantor. Biar aku yang masak dan antar makan siang dia ke sana ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.

Bibi War mengangguk sambil tersenyum.

Yuna menjalani harinya penuh bahagia. Ia sangat senang bisa memasak untuk Yeriko dan makan siang bersamanya di kantor. Yah, walau beberapa kali Yeriko memang tidak bisa makan siang bersama karena harus bertemu klien. Tapi, suaminya itu selalu saja mengganti waktu makan mereka bersama yang hilang dengan hal lain.

Setelah semuanya siap, Yuna langsung pergi ke kantor Yeriko bersama supir pribadinya.

“Ngga, kamu langsung pulang aja ya! Nanti, saya pulang sama Pak Bos aja.” Yuna memberi pesan pada supirnya sebelum turun dari mobil.

“Iya, Nyonya Bos!”

Yuna memonyongkan bibirnya. Sepertinya, para pekerja di rumah keluarga Hadikusuma memang sulit sekali memanggilnya dengan nama yang biasa saja. Tapi, ia juga tidak bisa setiap saat memprotes panggilan yang ditujukan terhadap dirinya.

Yuna terus melangkah memasuki lobi. Semua karyawan yang mengenalnya menyapa Yuna dengan ramah. Sepanjang jalan, Yuna terus memasang senyuman manisnya.

“Pak, tolong, Pak! Bapak lihat dulu CV saya!” Suara seorang wanita yang tak asing mengalihkan perhatian Yuna. Yuna langsung menoleh ke arah sumber suara dan menatap wanita yang sedang berbicara dengan salah satu Manager HRD yang ada di kantor Yeriko.

“Kamu sudah terlambat satu menit. Saya sudah tidak menerima surat lamaran lagi!” tegas pria separuh baya tersebut.

“Pak, cuma satu menit aja. Saya janji, bakal ngasih yang terbaik ke perusahaan ini.”

“Satu menit itu lama. Dari awal, kamu sudah tidak disiplin. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain yang mau menampung orang seperti kamu.”

“Tapi, Pak. Saya terlambat karena macet di jalan. Tolong, Pak! Kasih saya kesempatan sekali lagi!”

Pria itu menggelengkan kepala. Ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan gadis berambut pirang yang berdiri dengan setelan rapi sambil memegang sebuah map di tangannya.

“Pak ...! Saya kenal sama pemilik perusahaan ini!” seru gadis itu. Tapi, ia tetap tidak mendapatkan respon yang baik dari Manager HRD itu.

Yuna memerhatikan gadis tersebut. Ia tak menyangka kalau Refi sekarang sibuk mencari pekerjaan. “Apa sekarang, hidup dia sesusah itu?” batin Yuna.

Yuna menghela napas sejenak dan kembali melangkahkan kakinya.

“Yuna ...!”

Yuna langsung menghentikan langkahnya. Yuna berbalik, ia menatap gadis yang sudah ada di hadapannya itu sambil tersenyum. “Ada apa, ya?” tanyanya.

“Yun, aku butuh bantuan kamu. Please!”

“Bantuan apa?”

“Aku mau ngelamar kerja di perusahaan ini. Kebetulan ada lowongan kerja. Aku cuma terlambat satu menit. Manager itu nggak mau terima surat lamaranku.”

“Oh.”

Refi menelan ludah karena respon Yuna yang begitu cuek terhadapnya. Tapi, ia tidak peduli karena saat ini ia benar-benar membutuhkan pekerjaan.

“Yun, aku udah nggak bisa nari lagi. Karirku sebagai ballerina udah hancur. Aku beneran mau kerja. Semua uang aku udah habis dan aku butuh pekerjaan. Apa kamu nggak kasihan sama aku? Aku udah pergi cari kerja ke mana-mana. Saat ini, cuma kamu harapan aku. Kamu kan istri pemilik perusahaan ini. Yeriko pasti denger permintaan kamu. Please!” Refi tak ingin menyerah begitu saja.

“Ref, aku emang istrinya Yeriko. Tapi, aku nggak pernah ikut campur urusan perusahaan. Lebih baik, kamu ikuti saja sesuai prosedur perusahaan.”

“Yun, aku cuma mau CV aku diterima. Setelahnya, aku pasti ikuti prosedur perusahaan. Aku nitip ini ke kamu ya!” pinta Refi sambil menyodorkan map ke arah Yuna.

Yuna terdiam. Ia hanya terpaku menatap map yang ada di hadapannya dan tidak punya keinginan untuk menerimanya.

“Please, Yun! Sekali ini aja!” pinta Refi dengan wajah pilu.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tega melihat wajah Refi yang terlihat sangat susah. Andai saat ini dia yang ada di posisi Refi, apa yang akan dia lakukan?

“Oke. Aku akan bicarakan sama suamiku. Tapi, aku nggak janji.” Yuna meraih map dari tangan Refi.

Refi mengangguk sambil tersenyum ceria. “Makasih banyak, Yuna!” serunya sambil memeluk tubuh Yuna. “Mmh, kalo gitu aku pamit dulu. Makasih banyak bantuannya ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Refi mengelus perut Yuna yang masih mungil. “Semoga, baby-nya selalu sehat ya!” Ia langsung berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Yuna.

Yuna tercengang dengan sikap Refi yang tiba-tiba bersikap baik terhadapnya. “Dia baik beneran atau ... ah, semoga aja dia emang udah beneran berubah jadi baik,” gumam Yuna.

Yuna kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko yang ada di lantai paling atas.

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko yang buru-buru keluar dari ruangannya.

“Nggak papa. Ada apa?” tanya Yuna balik. Ia melihat kepanikan yang tergambar dari wajah Yeriko.

“Aku baru aja mau jemput kamu di bawah. Kenapa naik sendirian?”

“Aku bukan anak kecil. Nggak ada masalah naik lift sendirian.”

“Kenapa Angga nggak antar kamu sampai di sini? Kalau ada apa-apa gimana? Lain kali, jangan jalan sendirian!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis.

“Ayo, masuk!” ajak Yeriko. Mereka bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko yang sangat luas dan nyaman.

“Oh ya, ada titipan buat kamu.” Yuna menyodorkan map yang ia pegang.

“Apa ini?” tanya Yeriko sambil membuka map tersebut. Baru saja membaca awal kalimat, ia langsung melemparkan map tersebut ke tempat sampah yang ada di dekatnya.

“Kenapa dibuang?” tanya Yuna. Ia segera memungut kembali surat lamaran milik Refi.

“Aku bukan bagian HRD. Dia salah alamat,” jawab Yeriko ketus. Ia melangkah ke meja dan membuka bekal makan siang yang dibawakan istrinya.

“Bukan salah alamat. Dia udah ke HRD. Tapi, HRD nolak dia karena terlambat. Jadi, dia minta tolong sama aku buat masukin lamaran dia lewat kamu. Manager HRD, pasti nggak akan menolak kalau kamu yang minta,” jelas Yuna.

Yeriko tak menyahut. Ia menusuk satu potong rolade dan memasukkan ke dalam mulutnya hingga penuh.

Yuna menghampiri Yeriko. Sepertinya, suaminya memang tidak berminat membahas soal Refi yang kerap kali membuat masalah dalam hidup mereka.

“Aku kasihan sama dia. Dia udah nggak bisa nari lagi. Anggap aja, itu sudah jadi hukuman buat dia. Sekarang dia lagi cari kerjaan. Nggak ada salahnya kalau kita bantu dia, kan?”

Yeriko tak menyahut. Ia kembali menyuap makanan ke mulutnya dengan kesal hingga penuh dan sulit untuk bicara.

“Ay, sekali ini aja. Cuma bantu masukin CV ini ke Departemen HR. Setelahnya, biar Refi sendiri yang usaha untuk masuk ke perusahaan ini. Gimana?”

Yeriko melirik Yuna sejenak. Ia kembali menusuk potongan rolade.

Yuna langsung menahan lengan Yeriko agar tak menyuap makanan ke mulutnya lagi.

“Jawab dulu, jangan diam aja!” pinta Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu beneran nggak mau bantu dia? Cuma masukin CV doang. Aku udah janji bakal usahain masukin CV dia. Lagian, dia juga abis nolongin aku. Apa susahnya sih cuma masukin CV dia ke HRD doang? Kasih dia kesempatan sekali aja, please!”

Yeriko melirik wajah Yuna. “Ck, iya aku bantu masukin ini ke HRD. Tapi, aku nggak jamin dia diterima di sini. Dia boleh ikut tes tertulis. Hasilnya gimana, itu tergantung dia sendiri.”

“Nah, gitu dong! Ini baru suamiku yang baik hati,” puji Yuna sambil menatap Yeriko penuh cinta.

Yeriko memaksa bibirnya tersenyum. Ia sangat kesal karena istrinya masih berbaik hati dengan orang yang jelas-jelas ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Ia tidak menceritakan semuanya karena mengkhawatirkan kondisi psikis istrinya itu. Tapi, hal ini justru menjadi boomerang.

 

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas