Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 326 : Bukti Pelaku Hate Speech

 


“Yun, kamu istirahat dulu di dalam ya!” perintah Yeriko saat ia dan Yuna sudah selesai menikmati makan siang.

Yuna mengangguk. Ia langsung melangkah menuju kamar istirahat yang ada di belakang meja kerja Yeriko.

“Permisi, Pak ...!”

“Masuk!” perintah Yeriko yang sudah tak asing lagi dengan suara pria tersebut.

Riyan mengangguk hormat dan langsung menghampiri Yeriko yang sudah duduk di meja kerjanya.

“Gimana?”

Riyan langsung menyodorkan hardisk ke arah Yeriko. “Ini bukti-bukti yang sudah kami kumpulkan, Pak Bos.”

Yeriko mengangguk. Ia langsung meraih hardisk dari tangan Riyan dan menyambungkan ke laptop miliknya.

“Rekaman CCTV itu nggak menampakkan gambar jelas pelakunya. Sepertinya, dia sudah ada persiapan untuk menyembunyikan identitasnya.”

Yeriko tersenyum sinis sambil menatap video yang sedang berputar di layar laptopnya. “Dari kejauhan juga udah ketahuan kalau ini Bellina.”

Riyan menganggukkan kepala. “Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?”

“Awasi dia terus! Jangan sampai lepas! Cari bukti lain buat ngancurin dia!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!”

“Aku masih punya hati ke dia karena dia sepupunya Yuna. Tapi, Bellina kali ini udah keterlaluan!” tutur Yeriko berapi-api. “Bisa-bisanya dia fitnah Yuna, saudaranya sendiri.”

“Apa kami tangkap pelakunya sekarang juga?”

“Kamu berani nangkap dia sendiri? Tunggu intruksi dari Chandra dan Lutfi!”

“Baik, Pak.”

“Oh ya, satu lagi. Ini!” Yeriko melemparkan map file ke arah Riyan.

“Apa ini, Pak?”

“Bawa itu ke HRD!” perintah Yeriko. “Minta HRD untuk ikutkan dia tes tertulis penerimaan karyawan baru.”

“Siap, Pak Bos!”

“Kamu tahu kan Refina itu siapa?” tanya Yeriko.

“Tahu, Pak Bos.”

“Apa pun hasil tesnya nanti, aku nggak mau dia masuk ke perusahaan ini!” tegas Yeriko.

“Oh. Oke.”

“Balik ke ruangan kamu! Suruh Chandra ke sini!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos. Saya permisi dulu!” pamit Riyan.

Yeriko mengangguk. Ia kembali fokus dengan pekerjaannya.

Beberapa menit kemudian, Chandra masuk ke ruang kerja Yeriko.

“Ada apa, Yer?” tanya Chandra.

Yeriko memutar laptopnya, menunjukkan video yang didapatkan oleh Riyan dan tim IT yang bersamanya.

Chandra langsung mengamati video itu dengan seksama. Bahkan mengulang hingga beberapa kali.

“Ini, kayaknya sepupu Yuna itu.”

“Bukan kayaknya, emang iya,” sahut Yeriko.

“Wah, bakal seru nih!”

“Mainan baru ini, aku serahin ke kamu.”

Chandra tertawa sambil melihat beberapa video dan bukti-bukti yang telah dikumpulkan Riyan. “Lutfi pastj seneng, nih.”

“Aku serahin ini ke kalian! Jangan sampai lepas!”

“Siap!” sahut Chandra. “Eh, serius nih? Yuna nggak akan marah kalau kita kasih hukuman ke sepupunya dia?”

“Sst, jangan sampai dia tahu!” pinta Yeriko.

“Eh!?”

“Pelan-pelan aja ngomongnya, dia di kamar belakang,” tutur Yeriko sambil menoleh pintu yang ada di belakangnya.

“Dia di sini?” tanya Chandra berbisik.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Mau dibikin apa si Bellina ini?” tanya Chandra dengan suara pelan.

“Kalian tangkap dan bikin dia ketakutan dulu!” pinta Yeriko. “Kalo udah dapet, langsung kabari aku!”

“Gampang,” sahut Chandra. “Aku minta copy datanya.”

Yeriko mengangguk. Ia memberikan hardisk tersebut kepada Chandra.

“Oh ya, satu lagi. Itu si Refi ngelamar kerja ke perusahaan ini. Aku nggak mau tahu gimana hasil tesnya dia. Sebagus apa pun nilainya, aku tetep nggak mau dia masuk ke Galaxy.”

“Hah!? Dia ngelamar kerja ke sini?”

Yeriko mengangguk. “Kamu urus dia!”

“Mantan, mantanmu! Aku terus yang urusin,” celetuk Chandra.

“Apa kamu bilang!?” Yeriko mendelik ke arah Chandra.

“Hehehe. Iya, aku urusin!” Chandra terkekeh sambil melangkah menuju sofa. Ia merogoh ponsel di sakunya dan menelepon Lutfi untuk datang ke kantor Yeriko.

Tak berapa lama, Lutfi masuk ke ruangan Yeriko sambil membawa beberapa makanan dan minuman.

“Kebetulan banget, aku belum makan.” Chandra langsung membuka paper bag yang diletakkan Lutfi di atas meja dan mengambil beberapa makanan.

“Mau, Yer?” tanya Lutfi melihat Yeriko yang masih sibuk di meja kerjanya.

Yeriko menggeleng. “Aku udah makan.”

“Kopi, nih. Mau?” tanya Lutfi lagi.

Yeriko menutup berkas yang ada di tangannya. Ia melangkah perlahan menghampiri dua sahabatnya itu.

“Ada menu apa hari ini?” tanya Lutfi sambil memainkan kedua alisnya.

“Mantan pacar,” sahut Chandra sambil melirik Yeriko.

“Reptil itu bikin ulah lagi?”

“Belum sampai. Tapi, sepertinya sedang merencanakan sesuatu karena dia ikut masuk ke penerimaan karyawan baru,” tutur Chandra.

“Hahaha.” Lutfi tergelak mendengar ucapan Chandra.

“Kenapa ketawa?” Yeriko mengerutkan dahinya.

“Nggak papa. Lucu aja. Dia itu mukanya kebal banget. Udah ditolak berkali-kali, masih aja nempel kamu terus. Aku salut sih sama usahanya. Pantang menyerah buat dapetin Bos Ye yang paling ganteng sedunia. Hahaha.”

Yeriko langsung menghantam kepala Lutfi menggunakan telapak tangannya.

“Aw … ! Kalian suka banget pakai kekerasan,” seru Lutfi sambil mengelus kepalanya sendiri.

“Kamu kalo ngomong nggak pake otak!” sahut Yeriko kesal.

“Iya, leh. Aku ngomong pake mulut, pake mulut!” sahut Lutfi sambil tertawa.

“Eh, serius, Lut!” sela Chandra. “Kita beresin Bellina dulu.”

“Belatung itu kenapa lagi?” tanya Lutfi.

“Dia yang bikin video Andre sama Yuna. Dia juga yang provokasi pengguna internet biar nyerang Yuna,” jawab Chandra.

“What!?” Lutfi langsung menatap wajah Yeriko. “Beneran dia?”

Yeriko mengangguk.

“Haduh … berhadapan sama saudara sedarah ini pasti sulit. Kira-kira, Kakak Ipar bakal marah atau nggak kalau kita …?”

“Jangan sampai dia tahu!” pinta Yeriko sambil menoleh ke arah pintu yang ada di belakang meja kerjanya.

“Dia di sini?” tanya Lutfi berbisik.

Yeriko mengangguk. “Lagi tidur, kamu jangan berisik banget!”

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Kalo gitu, apa yang harus aku kerjain duluan?”

“Kamu bantu Riyan awasi gerak-gerik Bellina. Kapan ada kesempatan, langsung tangkap dia!” perintah Yeriko.

“Oke.” Lutfi manggut-manggut.

Mereka bertiga mulai sibuk merencanakan menghadapi musuh-musuh mereka, juga merencanakan bisnis mereka ke depannya.

 

 

Keesokan harinya …

Refi tersenyum setelah ia selesai menjalani tes tertulis penerimaan karyawan baru di Galaxy Group. Mengikuti tes tertulis, bukan hal sulit baginya. Ia sangat optimis kalau perusahaan akan menerimanya.

Refi merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ia langsung  menelepon nomor Yuna.

“Halo …!” sapa Yuna begitu panggilan telepon dari Refi tersambung.

“Halo, Yun. Makasih ya, kamu udah ngasih aku kesempatan buat ikut tes tertulis masuk ke perusahaan ini.”

“Berterima kasihlah sama Head HRD karena udah ngasih kamu kesempatan. Udah kelar tesnya?”

“Iya, udah kelar. Tinggal tunggu hasilnya besok.”

“Oke. Selamat ya! Semoga berhasil!”

“He-em.” Refi mengangguk sambil tersenyum. “Kalau ada waktu, aku mau traktir kamu makan sebagai tanda terima kasih. Gimana?”

“Nanti aja kalau kamu sudah punya kerjaan. Baru traktir aku!”

“Hmm, okelah.”

“Hehehe. Udah dulu, ya! Aku lagi masak buat suamiku tercinta. Bye-bye!” seru Yuna.

Refi menatap layar ponselnya yang sudah mati. “Pamer banget!?” celetuknya kesal.

Refi tersenyum. Ia akan berusaha menjadi teman baik Yuna. Sampai akhirnya, ia bisa merebut Yeriko dari pelukan Yuna. Ia sangat kesal karena tidak bisa menyingkirkan Yuna dari kehidupan Yeriko. Yeriko terlalu tergila-gila dengan Yuna dan membuatnya kesulitan untuk mengembalikan Yeriko ke dalam pelukannya. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika tak bisa membuat Yeriko kembali mencintainya lagi seperti dulu.

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 325 : Makan Siang untuk Yeriko

 


“Siang ini mau makan di mana?” tanya Yuna saat mengantar suaminya ke halaman rumah untuk pergi bekerja.

“Di kantor. Biar Bibi aja yang antar makan siangku.”

“Mmh ...” Yuna menggigit bibirnya. Yeriko tak mengizinkan ia bepergian ke luar rumah. Ia ingin sekali bisa membuatkan makan siang untuk suaminya. Tapi ia takut kalau suaminya juga akan melarangnya pergi ke perusahaan.

“Kenapa?” tanya Yeriko yang menyadari kegelisahan yang tergambar dari wajah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak papa.”

“Nggak usah sungkan! Kamu mau ngomong apa? Mau jalan ke luar?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku .. aku ...”

Yeriko menautkan alisnya, menunggu Yuna menyelesaikan ucapannya. “Kenapa?” tanyanya lagi.

“Mmh ... aku boleh nggak antar makan siang kamu ke perusahaan?” tanya Yuna hati-hati.

Yeriko tertawa kecil menatap Yuna.

“Kenapa diketawain?”

“Aku pikir, kamu mau ngomong apa gitu. Boleh, kok. Aku tunggu jam makan siang di kantor. Oh ya, jangan naik taksi ya! Angga yang antar kamu!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Makasih, ya!”

Yeriko mengangguk. “Aku berangkat dulu!” Ia mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

“Aargh ...! Akhirnya, bisa menghirup udara segar juga. Dududu ...” Yuna melenggang masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.

“Bi, hari ini aku mau makan siang bareng Yeri di kantor. Biar aku yang masak dan antar makan siang dia ke sana ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.

Bibi War mengangguk sambil tersenyum.

Yuna menjalani harinya penuh bahagia. Ia sangat senang bisa memasak untuk Yeriko dan makan siang bersamanya di kantor. Yah, walau beberapa kali Yeriko memang tidak bisa makan siang bersama karena harus bertemu klien. Tapi, suaminya itu selalu saja mengganti waktu makan mereka bersama yang hilang dengan hal lain.

Setelah semuanya siap, Yuna langsung pergi ke kantor Yeriko bersama supir pribadinya.

“Ngga, kamu langsung pulang aja ya! Nanti, saya pulang sama Pak Bos aja.” Yuna memberi pesan pada supirnya sebelum turun dari mobil.

“Iya, Nyonya Bos!”

Yuna memonyongkan bibirnya. Sepertinya, para pekerja di rumah keluarga Hadikusuma memang sulit sekali memanggilnya dengan nama yang biasa saja. Tapi, ia juga tidak bisa setiap saat memprotes panggilan yang ditujukan terhadap dirinya.

Yuna terus melangkah memasuki lobi. Semua karyawan yang mengenalnya menyapa Yuna dengan ramah. Sepanjang jalan, Yuna terus memasang senyuman manisnya.

“Pak, tolong, Pak! Bapak lihat dulu CV saya!” Suara seorang wanita yang tak asing mengalihkan perhatian Yuna. Yuna langsung menoleh ke arah sumber suara dan menatap wanita yang sedang berbicara dengan salah satu Manager HRD yang ada di kantor Yeriko.

“Kamu sudah terlambat satu menit. Saya sudah tidak menerima surat lamaran lagi!” tegas pria separuh baya tersebut.

“Pak, cuma satu menit aja. Saya janji, bakal ngasih yang terbaik ke perusahaan ini.”

“Satu menit itu lama. Dari awal, kamu sudah tidak disiplin. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain yang mau menampung orang seperti kamu.”

“Tapi, Pak. Saya terlambat karena macet di jalan. Tolong, Pak! Kasih saya kesempatan sekali lagi!”

Pria itu menggelengkan kepala. Ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan gadis berambut pirang yang berdiri dengan setelan rapi sambil memegang sebuah map di tangannya.

“Pak ...! Saya kenal sama pemilik perusahaan ini!” seru gadis itu. Tapi, ia tetap tidak mendapatkan respon yang baik dari Manager HRD itu.

Yuna memerhatikan gadis tersebut. Ia tak menyangka kalau Refi sekarang sibuk mencari pekerjaan. “Apa sekarang, hidup dia sesusah itu?” batin Yuna.

Yuna menghela napas sejenak dan kembali melangkahkan kakinya.

“Yuna ...!”

Yuna langsung menghentikan langkahnya. Yuna berbalik, ia menatap gadis yang sudah ada di hadapannya itu sambil tersenyum. “Ada apa, ya?” tanyanya.

“Yun, aku butuh bantuan kamu. Please!”

“Bantuan apa?”

“Aku mau ngelamar kerja di perusahaan ini. Kebetulan ada lowongan kerja. Aku cuma terlambat satu menit. Manager itu nggak mau terima surat lamaranku.”

“Oh.”

Refi menelan ludah karena respon Yuna yang begitu cuek terhadapnya. Tapi, ia tidak peduli karena saat ini ia benar-benar membutuhkan pekerjaan.

“Yun, aku udah nggak bisa nari lagi. Karirku sebagai ballerina udah hancur. Aku beneran mau kerja. Semua uang aku udah habis dan aku butuh pekerjaan. Apa kamu nggak kasihan sama aku? Aku udah pergi cari kerja ke mana-mana. Saat ini, cuma kamu harapan aku. Kamu kan istri pemilik perusahaan ini. Yeriko pasti denger permintaan kamu. Please!” Refi tak ingin menyerah begitu saja.

“Ref, aku emang istrinya Yeriko. Tapi, aku nggak pernah ikut campur urusan perusahaan. Lebih baik, kamu ikuti saja sesuai prosedur perusahaan.”

“Yun, aku cuma mau CV aku diterima. Setelahnya, aku pasti ikuti prosedur perusahaan. Aku nitip ini ke kamu ya!” pinta Refi sambil menyodorkan map ke arah Yuna.

Yuna terdiam. Ia hanya terpaku menatap map yang ada di hadapannya dan tidak punya keinginan untuk menerimanya.

“Please, Yun! Sekali ini aja!” pinta Refi dengan wajah pilu.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tega melihat wajah Refi yang terlihat sangat susah. Andai saat ini dia yang ada di posisi Refi, apa yang akan dia lakukan?

“Oke. Aku akan bicarakan sama suamiku. Tapi, aku nggak janji.” Yuna meraih map dari tangan Refi.

Refi mengangguk sambil tersenyum ceria. “Makasih banyak, Yuna!” serunya sambil memeluk tubuh Yuna. “Mmh, kalo gitu aku pamit dulu. Makasih banyak bantuannya ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Refi mengelus perut Yuna yang masih mungil. “Semoga, baby-nya selalu sehat ya!” Ia langsung berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Yuna.

Yuna tercengang dengan sikap Refi yang tiba-tiba bersikap baik terhadapnya. “Dia baik beneran atau ... ah, semoga aja dia emang udah beneran berubah jadi baik,” gumam Yuna.

Yuna kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko yang ada di lantai paling atas.

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko yang buru-buru keluar dari ruangannya.

“Nggak papa. Ada apa?” tanya Yuna balik. Ia melihat kepanikan yang tergambar dari wajah Yeriko.

“Aku baru aja mau jemput kamu di bawah. Kenapa naik sendirian?”

“Aku bukan anak kecil. Nggak ada masalah naik lift sendirian.”

“Kenapa Angga nggak antar kamu sampai di sini? Kalau ada apa-apa gimana? Lain kali, jangan jalan sendirian!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis.

“Ayo, masuk!” ajak Yeriko. Mereka bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko yang sangat luas dan nyaman.

“Oh ya, ada titipan buat kamu.” Yuna menyodorkan map yang ia pegang.

“Apa ini?” tanya Yeriko sambil membuka map tersebut. Baru saja membaca awal kalimat, ia langsung melemparkan map tersebut ke tempat sampah yang ada di dekatnya.

“Kenapa dibuang?” tanya Yuna. Ia segera memungut kembali surat lamaran milik Refi.

“Aku bukan bagian HRD. Dia salah alamat,” jawab Yeriko ketus. Ia melangkah ke meja dan membuka bekal makan siang yang dibawakan istrinya.

“Bukan salah alamat. Dia udah ke HRD. Tapi, HRD nolak dia karena terlambat. Jadi, dia minta tolong sama aku buat masukin lamaran dia lewat kamu. Manager HRD, pasti nggak akan menolak kalau kamu yang minta,” jelas Yuna.

Yeriko tak menyahut. Ia menusuk satu potong rolade dan memasukkan ke dalam mulutnya hingga penuh.

Yuna menghampiri Yeriko. Sepertinya, suaminya memang tidak berminat membahas soal Refi yang kerap kali membuat masalah dalam hidup mereka.

“Aku kasihan sama dia. Dia udah nggak bisa nari lagi. Anggap aja, itu sudah jadi hukuman buat dia. Sekarang dia lagi cari kerjaan. Nggak ada salahnya kalau kita bantu dia, kan?”

Yeriko tak menyahut. Ia kembali menyuap makanan ke mulutnya dengan kesal hingga penuh dan sulit untuk bicara.

“Ay, sekali ini aja. Cuma bantu masukin CV ini ke Departemen HR. Setelahnya, biar Refi sendiri yang usaha untuk masuk ke perusahaan ini. Gimana?”

Yeriko melirik Yuna sejenak. Ia kembali menusuk potongan rolade.

Yuna langsung menahan lengan Yeriko agar tak menyuap makanan ke mulutnya lagi.

“Jawab dulu, jangan diam aja!” pinta Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu beneran nggak mau bantu dia? Cuma masukin CV doang. Aku udah janji bakal usahain masukin CV dia. Lagian, dia juga abis nolongin aku. Apa susahnya sih cuma masukin CV dia ke HRD doang? Kasih dia kesempatan sekali aja, please!”

Yeriko melirik wajah Yuna. “Ck, iya aku bantu masukin ini ke HRD. Tapi, aku nggak jamin dia diterima di sini. Dia boleh ikut tes tertulis. Hasilnya gimana, itu tergantung dia sendiri.”

“Nah, gitu dong! Ini baru suamiku yang baik hati,” puji Yuna sambil menatap Yeriko penuh cinta.

Yeriko memaksa bibirnya tersenyum. Ia sangat kesal karena istrinya masih berbaik hati dengan orang yang jelas-jelas ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Ia tidak menceritakan semuanya karena mengkhawatirkan kondisi psikis istrinya itu. Tapi, hal ini justru menjadi boomerang.

 

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 324 : Ruang Kerja yang Menggoda

 


“Tumben lembur di rumah?” tanya Yuna saat mendapati suaminya masih di ruang kerja.

“Iya. Semua bahan kerjaan yang aku perlukan udah ada. Tinggal ngecek ulang aja malam ini. Kamu belum tidur?” Yeriko berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

“Aku belum ngantuk. Sepanjang siang ini aku cuma tidur. Nggak ada hal lain yang aku kerjain selain makan sama tidur,” tutur Yuna sambil meletakkan segelas susu ke atas meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. Matanya tetap fokus menatap layar laptop dan beberapa lembar kerjanya.

“Ay, bisa nggak kalau minta Mama Rully narik semua pelayannya?”

“Kenapa?” tanya Yeriko balik.

“Aku bingung harus ngapain. Semua kerjaan rumah udah dikerjain sama mereka. Lagipula, kata dokter aku harus banyak bergerak biar tetep sehat. Kalau tidur terus, bisa-bisa setan malas pada datang ke badanku semua.”

Yeriko tertawa kecil. “Bahkan setan pun naksir sama kamu?”

“Idih, aku lagi nggak bercanda. Aku serius. Aku udah hampir mati kebosanan karena nggak ada satu hal pun yang bisa aku lakuin di rumah ini.”

Yeriko tersenyum. “Kamu bisa ngerjain proyek, kan? Bantu aku ngecek dokumen-dokumen ini!” pinta Yeriko sambil menyodorkan beberapa map ke arah Yuna.

Yuna mengangguk. Ia meraih map tersebut dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil saat Yuna terlihat serius memeriksa dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Ia mengangkat laptopnya, berjalan mendekati Yuna dan duduk di sebelahnya.

“Yun, apa kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu lagi?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku masih mengkhawatirkan ayah.”

“Aku bisa bantu ambil alih perusahaan Lian dan keluarga paman kamu itu. Asalkan kamu mau kembali ke perusahaan.”

“Ayah baru aja sembuh. Aku nggak mau bahayain ayah cuma karena masalah perusahaan. Bisa aja, Oom Tarudi makin benci dan ngelakuin segala cara buat nyelakain Ayah. Nyawa ayah lebih penting dari perusahaan.”

“Oke.” Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna kembali fokus memeriksa beberapa proyek yang sedang dikerjakan oleh suaminya. “Ini semua yang harus kamu approve?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kamu mau ekspansi ke Eropa?”

Yeriko mengangguk sambil memeriksa pekerjaannya.

Yuna terdiam. Melihat ada banyak proyek yang harus dikerjakan Yeriko dengan nilai ratusan milyar bahkan triliunan, membuatnya sedikit sedih. Ia takut kalau Yeriko tak lagi punya banyak waktu untuknya.

“Kenapa?” tanya Yeriko saat Yuna tiba-tiba menutup semua dokumen dan meletakkan di atas meja.

“Proyek sebanyak ini, kamu yang nanganin semua? Apa kamu bakal punya waktu buat aku dan anak kita?”

Yeriko tertawa kecil. Ia meletakkan laptopnya ke atas meja. “Kamu takut kalau aku mengabaikan keluarga?”

Yuna mengangguk. “Aku yang cuma asisten di satu departemen aja sibuk banget. Gimana sama kamu yang ngurusin semuanya? Dua puluh empat jam, waktu kamu buat perusahaan.”

“Yun, perusahaan dan keluarga itu sama pentingnya. Aku kerja keras di perusahaan buat bahagiain keluarga. Aku nggak mungkin abaikan keluarga. Kalian juga yang bikin aku semangat,” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

Yuna tersenyum walau dalam hatinya masih diselimuti perasaan gelisah.

“Kamu nggak perlu khawatir soal waktuku. Aku punya banyak orang di perusahaan. Ada Riyan dan Chandra yang selalu bantu aku setiap hari. Mereka berdua sangat bisa diandalkan. Aku juga punya dua orang sekretaris yang bantu urusan administrasiku. Aku pasti punya banyak waktu untuk keluarga.”

“Hmm ... beneran? Ntar kamunya malah lebih punya banyak waktu di perusahaan sama karyawan dan sekretaris-sekretaris kamu itu. Ntar malah naksir sama sekretaris sendiri kayak di drama-drama itu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk kening Yuna. “Kamu berpikir terlalu jauh. Semua sekretarisku sekretaris senior. Mereka sudah nikah dan punya anak. Aku nggak mungkin naksir sama mereka. Mereka nggak ada apa-apanya dibanding sama kamu.”

Yuna terdiam. Dua orang sekretaris Yeriko memang bukan sekretaris dengan tubuh seksi nan menggoda ala-ala drama korea. Mereka terlihat sudah berumur, bertubuh makmur dan tentunya sangat profesional dalam menangani semua pekerjaan bosnya.

“Kenapa kamu nggak cari sekretaris yang cantik kayak di drama-drama korea itu?”

“Itu drama. Mana bisa aku asal-asalan ambil orang buat jadi sekretarisku. Aku nggak punya banyak waktu melatih orang baru. Lagian, punya sekretaris cantik terlalu banyak godaannya. Perusahaanku bisa jatuh dengan mudah kalau aku selalu cari karyawan yang cantik dan seksi.”

“Hmm ... serius? Aku pikir, CEO kayak kamu bakal ambil semua cewek cantik buat kerja di perusahaan kamu.”

“Perusahaanku nggak jual tampang. Kecuali mereka yang kerja di bagian SPG. Aku lebih ngutamain skill mereka daripada penampilan.”

“Serius? Kalau aku yang ngelamar jadi sekretaris kamu, kira-kira bakal diterima atau nggak?” goda Yuna.

“Nggak.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jujur banget? Bilang masih pikir-pikir, kek. Aku loh nggak bego-bego amat!” gumamnya kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Aku nggak terima kamu bukan karena kamu bodoh.”

“Terus?”

Yeriko langsung menyondongkan badannya menekan tubuh Yuna. “Karena kamu punya potensi besar mengganggu konsentrasiku,” bisiknya.

“Maksudnya?” Yuna menatap mata Yeriko yang hanya berjarak lima senti dari hidungnya.

Yeriko tersenyum. Ia langsung mengulum bibir Yuna penuh kehangatan. “Semakin hari, kamu semakin menggoda,” bisik Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Kedua lengannya bertautan mengunci leher Yeriko. “Masa sih?”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus mengamati setiap perubahan tubuh istrinya selama dalam periode kehamilan. Setiap perubahan pada lekukan tubuh Yuna membuat dirinya terus tergoda.

Yuna terkekeh. Berat badannya memang terus bertambah, hal itu justru membuatnya khawatir. “Padahal, aku takut kamu nggak lihat aku lagi kalau aku jadi gemuk, jadi buncit, kulitku kusam karena nggak bisa pakai skincare dan ...”

Yeriko menghela napas sambil mengangkat tubuhnya. “Kamu ini selalu aja berpikir negatif. Apa kamu pikir, aku mencintai kamu sebatas fisik doang?”

“Wajar kan kalo khawatir. Aku kan sayang sama kamu.”

Yeriko tersenyum. Ia mengusap ujung kepala Yuna dan kembali meraih laptopnya. “Lanjutin, bantuin aku!” perintah Yeriko.

Yuna mengedikkan bahu. Ia menjulurkan kakinya di belakang Yeriko dan berbaring di sofa. “Mau main game aja. Aku sakit hati lihat laporannya.”

Yeriko terkekeh. “Sakit hati kenapa?”

“Males aja ngebayangin suamiku sibuk banget ngurus banyak proyek. Kamu nggak stres sama proyek segitu banyaknya?”

Yeriko menggeleng. “Udah biasa.”

“Hmm ... iya juga, sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia membuka salah satu game online yang baru saja ia unduh dan tak banyak bicara. Hanya sesekali memainkan telapak kakinya di paha Yeriko untuk menggodanya.

“Yun, geli. Kamu seneng banget mancing-mancing. Aku kelarin kerjaanku dulu,” tutur Yeriko.

Yuna tertawa kecil. Ia menguap beberapa kali hingga ia tertidur pulas di ruang kerja suaminya.

Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang sudah tertidur. Pandangannya kemudian beralih pada ponselnya yang tiba-tiba menyala. Ia langsung menyambar ponsel tersebut sebelum berdering semakin keras dan membangunkan istrinya.

“Halo, Sat! Gimana?” tanya Yeriko berbisik.

“Yer, aku sudah selidiki kasus yang kamu kasih kemarin. Nggak ada yang aneh. Semuanya murni kecelakaan. Cuma, bukti-bukti yang kamu kumpulkan memang menjurus ke sana.”

“Hmm, kamu yakin, Sat?”

“Penyelidikan sementara sih masih yakin begitu.”

“Aku masih nggak yakin. Semuanya aneh banget.”

“Iya juga, sih. Tapi sudah diselidiki selama ini. Nggak ada hubungannya kecelakaan dan pemindahan saham itu.”

Hening.

“Kenapa nggak kamu ambil alih aja perusahaan istri kamu itu? Kayaknya, perusahaan itu nggak terlalu kuat, Yer.”

“Kalo aku yang ambil alih, bisa aku lakuin dari dulu. Cuma ...” Yeriko menatap wajah istrinya yang tertidur pulas di sampingnya. “Dia nggak mau rebutan harta sama saudaranya sendiri.”

Satria terdengar tertawa kecil. “Istri kamu itu mulia banget.”

“Ck, entahlah. Mulutnya bar-bar tapi hatinya nggak tegaan. Dia paling nggak bisa punya hutang budi ke orang lain. Kemarin, nyuruh aku ngasih makanan dan pakaian buat Refi.”

“Terus, kamu turuti?”

“Nggaklah. Pura-pura aja turutin biar hatinya tenang.”

“Hahaha. Bajingan kayak kamu bisa juga nemuin cewek baik.”

“Hadiah dari Tuhan, Sat.”

“Iya, sih. Buat ngimbangin kamu biar punya perasaan, sedikit.”

Yeriko tertawa kecil.

“Udah ya, aku mau kabarin itu doang. Selamat bercinta!” Satria langsung menutup teleponnya.

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia menatap wajah Yuna sejenak, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas