“Tumben lembur di rumah?” tanya Yuna saat mendapati
suaminya masih di ruang kerja.
“Iya. Semua bahan kerjaan yang aku perlukan udah ada.
Tinggal ngecek ulang aja malam ini. Kamu belum tidur?” Yeriko berbicara tanpa
mengalihkan pandangan dari laptopnya.
“Aku belum ngantuk. Sepanjang siang ini aku cuma tidur.
Nggak ada hal lain yang aku kerjain selain makan sama tidur,” tutur Yuna sambil
meletakkan segelas susu ke atas meja kerja Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil. Matanya tetap fokus menatap layar
laptop dan beberapa lembar kerjanya.
“Ay, bisa nggak kalau minta Mama Rully narik semua
pelayannya?”
“Kenapa?” tanya Yeriko balik.
“Aku bingung harus ngapain. Semua kerjaan rumah udah
dikerjain sama mereka. Lagipula, kata dokter aku harus banyak bergerak biar
tetep sehat. Kalau tidur terus, bisa-bisa setan malas pada datang ke badanku
semua.”
Yeriko tertawa kecil. “Bahkan setan pun naksir sama kamu?”
“Idih, aku lagi nggak bercanda. Aku serius. Aku udah hampir
mati kebosanan karena nggak ada satu hal pun yang bisa aku lakuin di rumah
ini.”
Yeriko tersenyum. “Kamu bisa ngerjain proyek, kan? Bantu
aku ngecek dokumen-dokumen ini!” pinta Yeriko sambil menyodorkan beberapa map
ke arah Yuna.
Yuna mengangguk. Ia meraih map tersebut dan berjalan menuju
sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil saat Yuna terlihat serius memeriksa
dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Ia mengangkat laptopnya, berjalan
mendekati Yuna dan duduk di sebelahnya.
“Yun, apa kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu
lagi?” tanya Yeriko.
Yuna menggelengkan kepala. “Aku masih mengkhawatirkan
ayah.”
“Aku bisa bantu ambil alih perusahaan Lian dan keluarga
paman kamu itu. Asalkan kamu mau kembali ke perusahaan.”
“Ayah baru aja sembuh. Aku nggak mau bahayain ayah cuma
karena masalah perusahaan. Bisa aja, Oom Tarudi makin benci dan ngelakuin
segala cara buat nyelakain Ayah. Nyawa ayah lebih penting dari perusahaan.”
“Oke.” Yeriko menganggukkan kepala.
Yuna kembali fokus memeriksa beberapa proyek yang sedang
dikerjakan oleh suaminya. “Ini semua yang harus kamu approve?”
Yeriko menganggukkan kepala.
“Kamu mau ekspansi ke Eropa?”
Yeriko mengangguk sambil memeriksa pekerjaannya.
Yuna terdiam. Melihat ada banyak proyek yang harus
dikerjakan Yeriko dengan nilai ratusan milyar bahkan triliunan, membuatnya sedikit sedih. Ia takut kalau
Yeriko tak lagi punya banyak waktu untuknya.
“Kenapa?” tanya Yeriko saat Yuna tiba-tiba menutup semua
dokumen dan meletakkan di atas meja.
“Proyek sebanyak ini, kamu yang nanganin semua? Apa kamu
bakal punya waktu buat aku dan anak kita?”
Yeriko tertawa kecil. Ia meletakkan laptopnya ke atas meja.
“Kamu takut kalau aku mengabaikan keluarga?”
Yuna mengangguk. “Aku yang cuma asisten di satu departemen aja sibuk banget. Gimana
sama kamu yang ngurusin semuanya? Dua puluh empat jam, waktu kamu buat
perusahaan.”
“Yun, perusahaan dan keluarga itu sama pentingnya. Aku
kerja keras di perusahaan buat bahagiain keluarga. Aku nggak mungkin abaikan
keluarga. Kalian juga yang bikin aku semangat,” tutur Yeriko sambil mengelus
perut Yuna.
Yuna tersenyum walau dalam hatinya masih diselimuti
perasaan gelisah.
“Kamu nggak perlu khawatir soal waktuku. Aku punya banyak
orang di perusahaan. Ada Riyan dan Chandra yang selalu bantu aku setiap hari.
Mereka berdua sangat bisa diandalkan. Aku juga punya dua orang sekretaris yang
bantu urusan administrasiku. Aku pasti punya banyak waktu untuk keluarga.”
“Hmm ... beneran? Ntar kamunya malah lebih punya banyak
waktu di perusahaan sama karyawan dan sekretaris-sekretaris kamu itu. Ntar
malah naksir sama sekretaris sendiri kayak di drama-drama itu.”
Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk kening Yuna. “Kamu
berpikir terlalu jauh. Semua sekretarisku sekretaris senior. Mereka sudah nikah
dan punya anak. Aku nggak mungkin naksir sama mereka. Mereka nggak ada
apa-apanya dibanding sama kamu.”
Yuna terdiam. Dua orang sekretaris Yeriko memang bukan
sekretaris dengan tubuh seksi nan menggoda ala-ala drama korea. Mereka terlihat
sudah berumur, bertubuh makmur dan tentunya sangat profesional dalam menangani
semua pekerjaan bosnya.
“Kenapa kamu nggak cari sekretaris yang cantik kayak di
drama-drama korea itu?”
“Itu drama. Mana bisa aku asal-asalan ambil orang buat jadi
sekretarisku. Aku nggak punya banyak waktu melatih orang baru. Lagian, punya
sekretaris cantik terlalu banyak godaannya. Perusahaanku bisa jatuh dengan
mudah kalau aku selalu cari karyawan yang cantik dan seksi.”
“Hmm ... serius? Aku pikir, CEO kayak kamu bakal ambil
semua cewek cantik buat kerja di perusahaan kamu.”
“Perusahaanku nggak jual tampang. Kecuali mereka yang kerja
di bagian SPG. Aku lebih ngutamain skill mereka daripada penampilan.”
“Serius? Kalau aku yang ngelamar jadi sekretaris kamu,
kira-kira bakal diterima atau nggak?” goda Yuna.
“Nggak.”
Yuna memonyongkan bibirnya. “Jujur banget? Bilang masih
pikir-pikir, kek. Aku loh nggak bego-bego amat!” gumamnya kesal.
Yeriko tertawa kecil. “Aku nggak terima kamu bukan karena
kamu bodoh.”
“Terus?”
Yeriko langsung menyondongkan badannya menekan tubuh Yuna.
“Karena kamu punya potensi besar mengganggu konsentrasiku,” bisiknya.
“Maksudnya?” Yuna menatap mata Yeriko yang hanya berjarak
lima senti dari hidungnya.
Yeriko tersenyum. Ia langsung mengulum bibir Yuna penuh
kehangatan. “Semakin hari, kamu semakin menggoda,” bisik Yeriko.
Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Kedua
lengannya bertautan mengunci leher Yeriko. “Masa sih?”
Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus mengamati setiap
perubahan tubuh istrinya selama dalam periode kehamilan. Setiap perubahan pada
lekukan tubuh Yuna membuat dirinya terus tergoda.
Yuna terkekeh. Berat badannya memang terus bertambah, hal
itu justru membuatnya khawatir. “Padahal, aku takut kamu nggak lihat aku lagi
kalau aku jadi gemuk, jadi buncit, kulitku kusam karena nggak bisa pakai
skincare dan ...”
Yeriko menghela napas sambil mengangkat tubuhnya. “Kamu ini
selalu aja berpikir negatif. Apa kamu pikir, aku mencintai kamu sebatas fisik
doang?”
“Wajar kan kalo khawatir. Aku kan sayang sama kamu.”
Yeriko tersenyum. Ia mengusap ujung kepala Yuna dan kembali
meraih laptopnya. “Lanjutin, bantuin aku!” perintah Yeriko.
Yuna mengedikkan bahu. Ia menjulurkan kakinya di belakang
Yeriko dan berbaring di sofa. “Mau main game aja. Aku sakit hati lihat
laporannya.”
Yeriko terkekeh. “Sakit hati kenapa?”
“Males aja ngebayangin suamiku sibuk banget ngurus banyak
proyek. Kamu nggak stres sama proyek segitu banyaknya?”
Yeriko menggeleng. “Udah biasa.”
“Hmm ... iya juga, sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.
Ia membuka salah satu game online yang baru saja ia unduh dan tak banyak
bicara. Hanya sesekali memainkan telapak kakinya di paha Yeriko untuk
menggodanya.
“Yun, geli. Kamu seneng banget mancing-mancing. Aku kelarin
kerjaanku dulu,” tutur Yeriko.
Yuna tertawa kecil. Ia menguap beberapa kali hingga ia
tertidur pulas di ruang kerja suaminya.
Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang sudah
tertidur. Pandangannya kemudian beralih pada ponselnya yang tiba-tiba menyala.
Ia langsung menyambar ponsel tersebut sebelum berdering semakin keras dan
membangunkan istrinya.
“Halo, Sat! Gimana?” tanya Yeriko berbisik.
“Yer, aku sudah selidiki kasus yang kamu kasih kemarin.
Nggak ada yang aneh. Semuanya murni kecelakaan. Cuma, bukti-bukti yang kamu
kumpulkan memang menjurus ke sana.”
“Hmm, kamu yakin, Sat?”
“Penyelidikan sementara sih masih yakin begitu.”
“Aku masih nggak yakin. Semuanya aneh banget.”
“Iya juga, sih. Tapi sudah diselidiki selama ini. Nggak ada
hubungannya kecelakaan dan pemindahan saham itu.”
Hening.
“Kenapa nggak kamu ambil alih aja perusahaan istri kamu
itu? Kayaknya, perusahaan itu nggak terlalu kuat, Yer.”
“Kalo aku yang ambil alih, bisa aku lakuin dari dulu. Cuma
...” Yeriko menatap wajah istrinya yang tertidur pulas di sampingnya. “Dia
nggak mau rebutan harta sama saudaranya sendiri.”
Satria terdengar tertawa kecil. “Istri kamu itu mulia
banget.”
“Ck, entahlah. Mulutnya bar-bar tapi hatinya nggak tegaan.
Dia paling nggak bisa punya hutang budi ke orang lain. Kemarin, nyuruh aku
ngasih makanan dan pakaian buat Refi.”
“Terus, kamu turuti?”
“Nggaklah. Pura-pura aja turutin biar hatinya tenang.”
“Hahaha. Bajingan kayak kamu bisa juga nemuin cewek baik.”
“Hadiah dari Tuhan, Sat.”
“Iya, sih. Buat ngimbangin kamu biar punya perasaan,
sedikit.”
Yeriko tertawa kecil.
“Udah ya, aku mau kabarin itu doang. Selamat bercinta!”
Satria langsung menutup teleponnya.
Yeriko tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya yang
sudah mati. Ia menatap wajah Yuna sejenak, kemudian melanjutkan kembali
pekerjaannya.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment