Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 324 : Ruang Kerja yang Menggoda

 


“Tumben lembur di rumah?” tanya Yuna saat mendapati suaminya masih di ruang kerja.

“Iya. Semua bahan kerjaan yang aku perlukan udah ada. Tinggal ngecek ulang aja malam ini. Kamu belum tidur?” Yeriko berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

“Aku belum ngantuk. Sepanjang siang ini aku cuma tidur. Nggak ada hal lain yang aku kerjain selain makan sama tidur,” tutur Yuna sambil meletakkan segelas susu ke atas meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. Matanya tetap fokus menatap layar laptop dan beberapa lembar kerjanya.

“Ay, bisa nggak kalau minta Mama Rully narik semua pelayannya?”

“Kenapa?” tanya Yeriko balik.

“Aku bingung harus ngapain. Semua kerjaan rumah udah dikerjain sama mereka. Lagipula, kata dokter aku harus banyak bergerak biar tetep sehat. Kalau tidur terus, bisa-bisa setan malas pada datang ke badanku semua.”

Yeriko tertawa kecil. “Bahkan setan pun naksir sama kamu?”

“Idih, aku lagi nggak bercanda. Aku serius. Aku udah hampir mati kebosanan karena nggak ada satu hal pun yang bisa aku lakuin di rumah ini.”

Yeriko tersenyum. “Kamu bisa ngerjain proyek, kan? Bantu aku ngecek dokumen-dokumen ini!” pinta Yeriko sambil menyodorkan beberapa map ke arah Yuna.

Yuna mengangguk. Ia meraih map tersebut dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil saat Yuna terlihat serius memeriksa dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Ia mengangkat laptopnya, berjalan mendekati Yuna dan duduk di sebelahnya.

“Yun, apa kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu lagi?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku masih mengkhawatirkan ayah.”

“Aku bisa bantu ambil alih perusahaan Lian dan keluarga paman kamu itu. Asalkan kamu mau kembali ke perusahaan.”

“Ayah baru aja sembuh. Aku nggak mau bahayain ayah cuma karena masalah perusahaan. Bisa aja, Oom Tarudi makin benci dan ngelakuin segala cara buat nyelakain Ayah. Nyawa ayah lebih penting dari perusahaan.”

“Oke.” Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna kembali fokus memeriksa beberapa proyek yang sedang dikerjakan oleh suaminya. “Ini semua yang harus kamu approve?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kamu mau ekspansi ke Eropa?”

Yeriko mengangguk sambil memeriksa pekerjaannya.

Yuna terdiam. Melihat ada banyak proyek yang harus dikerjakan Yeriko dengan nilai ratusan milyar bahkan triliunan, membuatnya sedikit sedih. Ia takut kalau Yeriko tak lagi punya banyak waktu untuknya.

“Kenapa?” tanya Yeriko saat Yuna tiba-tiba menutup semua dokumen dan meletakkan di atas meja.

“Proyek sebanyak ini, kamu yang nanganin semua? Apa kamu bakal punya waktu buat aku dan anak kita?”

Yeriko tertawa kecil. Ia meletakkan laptopnya ke atas meja. “Kamu takut kalau aku mengabaikan keluarga?”

Yuna mengangguk. “Aku yang cuma asisten di satu departemen aja sibuk banget. Gimana sama kamu yang ngurusin semuanya? Dua puluh empat jam, waktu kamu buat perusahaan.”

“Yun, perusahaan dan keluarga itu sama pentingnya. Aku kerja keras di perusahaan buat bahagiain keluarga. Aku nggak mungkin abaikan keluarga. Kalian juga yang bikin aku semangat,” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

Yuna tersenyum walau dalam hatinya masih diselimuti perasaan gelisah.

“Kamu nggak perlu khawatir soal waktuku. Aku punya banyak orang di perusahaan. Ada Riyan dan Chandra yang selalu bantu aku setiap hari. Mereka berdua sangat bisa diandalkan. Aku juga punya dua orang sekretaris yang bantu urusan administrasiku. Aku pasti punya banyak waktu untuk keluarga.”

“Hmm ... beneran? Ntar kamunya malah lebih punya banyak waktu di perusahaan sama karyawan dan sekretaris-sekretaris kamu itu. Ntar malah naksir sama sekretaris sendiri kayak di drama-drama itu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk kening Yuna. “Kamu berpikir terlalu jauh. Semua sekretarisku sekretaris senior. Mereka sudah nikah dan punya anak. Aku nggak mungkin naksir sama mereka. Mereka nggak ada apa-apanya dibanding sama kamu.”

Yuna terdiam. Dua orang sekretaris Yeriko memang bukan sekretaris dengan tubuh seksi nan menggoda ala-ala drama korea. Mereka terlihat sudah berumur, bertubuh makmur dan tentunya sangat profesional dalam menangani semua pekerjaan bosnya.

“Kenapa kamu nggak cari sekretaris yang cantik kayak di drama-drama korea itu?”

“Itu drama. Mana bisa aku asal-asalan ambil orang buat jadi sekretarisku. Aku nggak punya banyak waktu melatih orang baru. Lagian, punya sekretaris cantik terlalu banyak godaannya. Perusahaanku bisa jatuh dengan mudah kalau aku selalu cari karyawan yang cantik dan seksi.”

“Hmm ... serius? Aku pikir, CEO kayak kamu bakal ambil semua cewek cantik buat kerja di perusahaan kamu.”

“Perusahaanku nggak jual tampang. Kecuali mereka yang kerja di bagian SPG. Aku lebih ngutamain skill mereka daripada penampilan.”

“Serius? Kalau aku yang ngelamar jadi sekretaris kamu, kira-kira bakal diterima atau nggak?” goda Yuna.

“Nggak.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jujur banget? Bilang masih pikir-pikir, kek. Aku loh nggak bego-bego amat!” gumamnya kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Aku nggak terima kamu bukan karena kamu bodoh.”

“Terus?”

Yeriko langsung menyondongkan badannya menekan tubuh Yuna. “Karena kamu punya potensi besar mengganggu konsentrasiku,” bisiknya.

“Maksudnya?” Yuna menatap mata Yeriko yang hanya berjarak lima senti dari hidungnya.

Yeriko tersenyum. Ia langsung mengulum bibir Yuna penuh kehangatan. “Semakin hari, kamu semakin menggoda,” bisik Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Kedua lengannya bertautan mengunci leher Yeriko. “Masa sih?”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus mengamati setiap perubahan tubuh istrinya selama dalam periode kehamilan. Setiap perubahan pada lekukan tubuh Yuna membuat dirinya terus tergoda.

Yuna terkekeh. Berat badannya memang terus bertambah, hal itu justru membuatnya khawatir. “Padahal, aku takut kamu nggak lihat aku lagi kalau aku jadi gemuk, jadi buncit, kulitku kusam karena nggak bisa pakai skincare dan ...”

Yeriko menghela napas sambil mengangkat tubuhnya. “Kamu ini selalu aja berpikir negatif. Apa kamu pikir, aku mencintai kamu sebatas fisik doang?”

“Wajar kan kalo khawatir. Aku kan sayang sama kamu.”

Yeriko tersenyum. Ia mengusap ujung kepala Yuna dan kembali meraih laptopnya. “Lanjutin, bantuin aku!” perintah Yeriko.

Yuna mengedikkan bahu. Ia menjulurkan kakinya di belakang Yeriko dan berbaring di sofa. “Mau main game aja. Aku sakit hati lihat laporannya.”

Yeriko terkekeh. “Sakit hati kenapa?”

“Males aja ngebayangin suamiku sibuk banget ngurus banyak proyek. Kamu nggak stres sama proyek segitu banyaknya?”

Yeriko menggeleng. “Udah biasa.”

“Hmm ... iya juga, sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia membuka salah satu game online yang baru saja ia unduh dan tak banyak bicara. Hanya sesekali memainkan telapak kakinya di paha Yeriko untuk menggodanya.

“Yun, geli. Kamu seneng banget mancing-mancing. Aku kelarin kerjaanku dulu,” tutur Yeriko.

Yuna tertawa kecil. Ia menguap beberapa kali hingga ia tertidur pulas di ruang kerja suaminya.

Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang sudah tertidur. Pandangannya kemudian beralih pada ponselnya yang tiba-tiba menyala. Ia langsung menyambar ponsel tersebut sebelum berdering semakin keras dan membangunkan istrinya.

“Halo, Sat! Gimana?” tanya Yeriko berbisik.

“Yer, aku sudah selidiki kasus yang kamu kasih kemarin. Nggak ada yang aneh. Semuanya murni kecelakaan. Cuma, bukti-bukti yang kamu kumpulkan memang menjurus ke sana.”

“Hmm, kamu yakin, Sat?”

“Penyelidikan sementara sih masih yakin begitu.”

“Aku masih nggak yakin. Semuanya aneh banget.”

“Iya juga, sih. Tapi sudah diselidiki selama ini. Nggak ada hubungannya kecelakaan dan pemindahan saham itu.”

Hening.

“Kenapa nggak kamu ambil alih aja perusahaan istri kamu itu? Kayaknya, perusahaan itu nggak terlalu kuat, Yer.”

“Kalo aku yang ambil alih, bisa aku lakuin dari dulu. Cuma ...” Yeriko menatap wajah istrinya yang tertidur pulas di sampingnya. “Dia nggak mau rebutan harta sama saudaranya sendiri.”

Satria terdengar tertawa kecil. “Istri kamu itu mulia banget.”

“Ck, entahlah. Mulutnya bar-bar tapi hatinya nggak tegaan. Dia paling nggak bisa punya hutang budi ke orang lain. Kemarin, nyuruh aku ngasih makanan dan pakaian buat Refi.”

“Terus, kamu turuti?”

“Nggaklah. Pura-pura aja turutin biar hatinya tenang.”

“Hahaha. Bajingan kayak kamu bisa juga nemuin cewek baik.”

“Hadiah dari Tuhan, Sat.”

“Iya, sih. Buat ngimbangin kamu biar punya perasaan, sedikit.”

Yeriko tertawa kecil.

“Udah ya, aku mau kabarin itu doang. Selamat bercinta!” Satria langsung menutup teleponnya.

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia menatap wajah Yuna sejenak, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas