Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 325 : Makan Siang untuk Yeriko

 


“Siang ini mau makan di mana?” tanya Yuna saat mengantar suaminya ke halaman rumah untuk pergi bekerja.

“Di kantor. Biar Bibi aja yang antar makan siangku.”

“Mmh ...” Yuna menggigit bibirnya. Yeriko tak mengizinkan ia bepergian ke luar rumah. Ia ingin sekali bisa membuatkan makan siang untuk suaminya. Tapi ia takut kalau suaminya juga akan melarangnya pergi ke perusahaan.

“Kenapa?” tanya Yeriko yang menyadari kegelisahan yang tergambar dari wajah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak papa.”

“Nggak usah sungkan! Kamu mau ngomong apa? Mau jalan ke luar?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku .. aku ...”

Yeriko menautkan alisnya, menunggu Yuna menyelesaikan ucapannya. “Kenapa?” tanyanya lagi.

“Mmh ... aku boleh nggak antar makan siang kamu ke perusahaan?” tanya Yuna hati-hati.

Yeriko tertawa kecil menatap Yuna.

“Kenapa diketawain?”

“Aku pikir, kamu mau ngomong apa gitu. Boleh, kok. Aku tunggu jam makan siang di kantor. Oh ya, jangan naik taksi ya! Angga yang antar kamu!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Makasih, ya!”

Yeriko mengangguk. “Aku berangkat dulu!” Ia mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.

“Aargh ...! Akhirnya, bisa menghirup udara segar juga. Dududu ...” Yuna melenggang masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.

“Bi, hari ini aku mau makan siang bareng Yeri di kantor. Biar aku yang masak dan antar makan siang dia ke sana ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.

Bibi War mengangguk sambil tersenyum.

Yuna menjalani harinya penuh bahagia. Ia sangat senang bisa memasak untuk Yeriko dan makan siang bersamanya di kantor. Yah, walau beberapa kali Yeriko memang tidak bisa makan siang bersama karena harus bertemu klien. Tapi, suaminya itu selalu saja mengganti waktu makan mereka bersama yang hilang dengan hal lain.

Setelah semuanya siap, Yuna langsung pergi ke kantor Yeriko bersama supir pribadinya.

“Ngga, kamu langsung pulang aja ya! Nanti, saya pulang sama Pak Bos aja.” Yuna memberi pesan pada supirnya sebelum turun dari mobil.

“Iya, Nyonya Bos!”

Yuna memonyongkan bibirnya. Sepertinya, para pekerja di rumah keluarga Hadikusuma memang sulit sekali memanggilnya dengan nama yang biasa saja. Tapi, ia juga tidak bisa setiap saat memprotes panggilan yang ditujukan terhadap dirinya.

Yuna terus melangkah memasuki lobi. Semua karyawan yang mengenalnya menyapa Yuna dengan ramah. Sepanjang jalan, Yuna terus memasang senyuman manisnya.

“Pak, tolong, Pak! Bapak lihat dulu CV saya!” Suara seorang wanita yang tak asing mengalihkan perhatian Yuna. Yuna langsung menoleh ke arah sumber suara dan menatap wanita yang sedang berbicara dengan salah satu Manager HRD yang ada di kantor Yeriko.

“Kamu sudah terlambat satu menit. Saya sudah tidak menerima surat lamaran lagi!” tegas pria separuh baya tersebut.

“Pak, cuma satu menit aja. Saya janji, bakal ngasih yang terbaik ke perusahaan ini.”

“Satu menit itu lama. Dari awal, kamu sudah tidak disiplin. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain yang mau menampung orang seperti kamu.”

“Tapi, Pak. Saya terlambat karena macet di jalan. Tolong, Pak! Kasih saya kesempatan sekali lagi!”

Pria itu menggelengkan kepala. Ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan gadis berambut pirang yang berdiri dengan setelan rapi sambil memegang sebuah map di tangannya.

“Pak ...! Saya kenal sama pemilik perusahaan ini!” seru gadis itu. Tapi, ia tetap tidak mendapatkan respon yang baik dari Manager HRD itu.

Yuna memerhatikan gadis tersebut. Ia tak menyangka kalau Refi sekarang sibuk mencari pekerjaan. “Apa sekarang, hidup dia sesusah itu?” batin Yuna.

Yuna menghela napas sejenak dan kembali melangkahkan kakinya.

“Yuna ...!”

Yuna langsung menghentikan langkahnya. Yuna berbalik, ia menatap gadis yang sudah ada di hadapannya itu sambil tersenyum. “Ada apa, ya?” tanyanya.

“Yun, aku butuh bantuan kamu. Please!”

“Bantuan apa?”

“Aku mau ngelamar kerja di perusahaan ini. Kebetulan ada lowongan kerja. Aku cuma terlambat satu menit. Manager itu nggak mau terima surat lamaranku.”

“Oh.”

Refi menelan ludah karena respon Yuna yang begitu cuek terhadapnya. Tapi, ia tidak peduli karena saat ini ia benar-benar membutuhkan pekerjaan.

“Yun, aku udah nggak bisa nari lagi. Karirku sebagai ballerina udah hancur. Aku beneran mau kerja. Semua uang aku udah habis dan aku butuh pekerjaan. Apa kamu nggak kasihan sama aku? Aku udah pergi cari kerja ke mana-mana. Saat ini, cuma kamu harapan aku. Kamu kan istri pemilik perusahaan ini. Yeriko pasti denger permintaan kamu. Please!” Refi tak ingin menyerah begitu saja.

“Ref, aku emang istrinya Yeriko. Tapi, aku nggak pernah ikut campur urusan perusahaan. Lebih baik, kamu ikuti saja sesuai prosedur perusahaan.”

“Yun, aku cuma mau CV aku diterima. Setelahnya, aku pasti ikuti prosedur perusahaan. Aku nitip ini ke kamu ya!” pinta Refi sambil menyodorkan map ke arah Yuna.

Yuna terdiam. Ia hanya terpaku menatap map yang ada di hadapannya dan tidak punya keinginan untuk menerimanya.

“Please, Yun! Sekali ini aja!” pinta Refi dengan wajah pilu.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tega melihat wajah Refi yang terlihat sangat susah. Andai saat ini dia yang ada di posisi Refi, apa yang akan dia lakukan?

“Oke. Aku akan bicarakan sama suamiku. Tapi, aku nggak janji.” Yuna meraih map dari tangan Refi.

Refi mengangguk sambil tersenyum ceria. “Makasih banyak, Yuna!” serunya sambil memeluk tubuh Yuna. “Mmh, kalo gitu aku pamit dulu. Makasih banyak bantuannya ya!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

Refi mengelus perut Yuna yang masih mungil. “Semoga, baby-nya selalu sehat ya!” Ia langsung berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Yuna.

Yuna tercengang dengan sikap Refi yang tiba-tiba bersikap baik terhadapnya. “Dia baik beneran atau ... ah, semoga aja dia emang udah beneran berubah jadi baik,” gumam Yuna.

Yuna kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko yang ada di lantai paling atas.

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko yang buru-buru keluar dari ruangannya.

“Nggak papa. Ada apa?” tanya Yuna balik. Ia melihat kepanikan yang tergambar dari wajah Yeriko.

“Aku baru aja mau jemput kamu di bawah. Kenapa naik sendirian?”

“Aku bukan anak kecil. Nggak ada masalah naik lift sendirian.”

“Kenapa Angga nggak antar kamu sampai di sini? Kalau ada apa-apa gimana? Lain kali, jangan jalan sendirian!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis.

“Ayo, masuk!” ajak Yeriko. Mereka bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko yang sangat luas dan nyaman.

“Oh ya, ada titipan buat kamu.” Yuna menyodorkan map yang ia pegang.

“Apa ini?” tanya Yeriko sambil membuka map tersebut. Baru saja membaca awal kalimat, ia langsung melemparkan map tersebut ke tempat sampah yang ada di dekatnya.

“Kenapa dibuang?” tanya Yuna. Ia segera memungut kembali surat lamaran milik Refi.

“Aku bukan bagian HRD. Dia salah alamat,” jawab Yeriko ketus. Ia melangkah ke meja dan membuka bekal makan siang yang dibawakan istrinya.

“Bukan salah alamat. Dia udah ke HRD. Tapi, HRD nolak dia karena terlambat. Jadi, dia minta tolong sama aku buat masukin lamaran dia lewat kamu. Manager HRD, pasti nggak akan menolak kalau kamu yang minta,” jelas Yuna.

Yeriko tak menyahut. Ia menusuk satu potong rolade dan memasukkan ke dalam mulutnya hingga penuh.

Yuna menghampiri Yeriko. Sepertinya, suaminya memang tidak berminat membahas soal Refi yang kerap kali membuat masalah dalam hidup mereka.

“Aku kasihan sama dia. Dia udah nggak bisa nari lagi. Anggap aja, itu sudah jadi hukuman buat dia. Sekarang dia lagi cari kerjaan. Nggak ada salahnya kalau kita bantu dia, kan?”

Yeriko tak menyahut. Ia kembali menyuap makanan ke mulutnya dengan kesal hingga penuh dan sulit untuk bicara.

“Ay, sekali ini aja. Cuma bantu masukin CV ini ke Departemen HR. Setelahnya, biar Refi sendiri yang usaha untuk masuk ke perusahaan ini. Gimana?”

Yeriko melirik Yuna sejenak. Ia kembali menusuk potongan rolade.

Yuna langsung menahan lengan Yeriko agar tak menyuap makanan ke mulutnya lagi.

“Jawab dulu, jangan diam aja!” pinta Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kamu beneran nggak mau bantu dia? Cuma masukin CV doang. Aku udah janji bakal usahain masukin CV dia. Lagian, dia juga abis nolongin aku. Apa susahnya sih cuma masukin CV dia ke HRD doang? Kasih dia kesempatan sekali aja, please!”

Yeriko melirik wajah Yuna. “Ck, iya aku bantu masukin ini ke HRD. Tapi, aku nggak jamin dia diterima di sini. Dia boleh ikut tes tertulis. Hasilnya gimana, itu tergantung dia sendiri.”

“Nah, gitu dong! Ini baru suamiku yang baik hati,” puji Yuna sambil menatap Yeriko penuh cinta.

Yeriko memaksa bibirnya tersenyum. Ia sangat kesal karena istrinya masih berbaik hati dengan orang yang jelas-jelas ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Ia tidak menceritakan semuanya karena mengkhawatirkan kondisi psikis istrinya itu. Tapi, hal ini justru menjadi boomerang.

 

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 324 : Ruang Kerja yang Menggoda

 


“Tumben lembur di rumah?” tanya Yuna saat mendapati suaminya masih di ruang kerja.

“Iya. Semua bahan kerjaan yang aku perlukan udah ada. Tinggal ngecek ulang aja malam ini. Kamu belum tidur?” Yeriko berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

“Aku belum ngantuk. Sepanjang siang ini aku cuma tidur. Nggak ada hal lain yang aku kerjain selain makan sama tidur,” tutur Yuna sambil meletakkan segelas susu ke atas meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. Matanya tetap fokus menatap layar laptop dan beberapa lembar kerjanya.

“Ay, bisa nggak kalau minta Mama Rully narik semua pelayannya?”

“Kenapa?” tanya Yeriko balik.

“Aku bingung harus ngapain. Semua kerjaan rumah udah dikerjain sama mereka. Lagipula, kata dokter aku harus banyak bergerak biar tetep sehat. Kalau tidur terus, bisa-bisa setan malas pada datang ke badanku semua.”

Yeriko tertawa kecil. “Bahkan setan pun naksir sama kamu?”

“Idih, aku lagi nggak bercanda. Aku serius. Aku udah hampir mati kebosanan karena nggak ada satu hal pun yang bisa aku lakuin di rumah ini.”

Yeriko tersenyum. “Kamu bisa ngerjain proyek, kan? Bantu aku ngecek dokumen-dokumen ini!” pinta Yeriko sambil menyodorkan beberapa map ke arah Yuna.

Yuna mengangguk. Ia meraih map tersebut dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil saat Yuna terlihat serius memeriksa dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Ia mengangkat laptopnya, berjalan mendekati Yuna dan duduk di sebelahnya.

“Yun, apa kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu lagi?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku masih mengkhawatirkan ayah.”

“Aku bisa bantu ambil alih perusahaan Lian dan keluarga paman kamu itu. Asalkan kamu mau kembali ke perusahaan.”

“Ayah baru aja sembuh. Aku nggak mau bahayain ayah cuma karena masalah perusahaan. Bisa aja, Oom Tarudi makin benci dan ngelakuin segala cara buat nyelakain Ayah. Nyawa ayah lebih penting dari perusahaan.”

“Oke.” Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna kembali fokus memeriksa beberapa proyek yang sedang dikerjakan oleh suaminya. “Ini semua yang harus kamu approve?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kamu mau ekspansi ke Eropa?”

Yeriko mengangguk sambil memeriksa pekerjaannya.

Yuna terdiam. Melihat ada banyak proyek yang harus dikerjakan Yeriko dengan nilai ratusan milyar bahkan triliunan, membuatnya sedikit sedih. Ia takut kalau Yeriko tak lagi punya banyak waktu untuknya.

“Kenapa?” tanya Yeriko saat Yuna tiba-tiba menutup semua dokumen dan meletakkan di atas meja.

“Proyek sebanyak ini, kamu yang nanganin semua? Apa kamu bakal punya waktu buat aku dan anak kita?”

Yeriko tertawa kecil. Ia meletakkan laptopnya ke atas meja. “Kamu takut kalau aku mengabaikan keluarga?”

Yuna mengangguk. “Aku yang cuma asisten di satu departemen aja sibuk banget. Gimana sama kamu yang ngurusin semuanya? Dua puluh empat jam, waktu kamu buat perusahaan.”

“Yun, perusahaan dan keluarga itu sama pentingnya. Aku kerja keras di perusahaan buat bahagiain keluarga. Aku nggak mungkin abaikan keluarga. Kalian juga yang bikin aku semangat,” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

Yuna tersenyum walau dalam hatinya masih diselimuti perasaan gelisah.

“Kamu nggak perlu khawatir soal waktuku. Aku punya banyak orang di perusahaan. Ada Riyan dan Chandra yang selalu bantu aku setiap hari. Mereka berdua sangat bisa diandalkan. Aku juga punya dua orang sekretaris yang bantu urusan administrasiku. Aku pasti punya banyak waktu untuk keluarga.”

“Hmm ... beneran? Ntar kamunya malah lebih punya banyak waktu di perusahaan sama karyawan dan sekretaris-sekretaris kamu itu. Ntar malah naksir sama sekretaris sendiri kayak di drama-drama itu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk kening Yuna. “Kamu berpikir terlalu jauh. Semua sekretarisku sekretaris senior. Mereka sudah nikah dan punya anak. Aku nggak mungkin naksir sama mereka. Mereka nggak ada apa-apanya dibanding sama kamu.”

Yuna terdiam. Dua orang sekretaris Yeriko memang bukan sekretaris dengan tubuh seksi nan menggoda ala-ala drama korea. Mereka terlihat sudah berumur, bertubuh makmur dan tentunya sangat profesional dalam menangani semua pekerjaan bosnya.

“Kenapa kamu nggak cari sekretaris yang cantik kayak di drama-drama korea itu?”

“Itu drama. Mana bisa aku asal-asalan ambil orang buat jadi sekretarisku. Aku nggak punya banyak waktu melatih orang baru. Lagian, punya sekretaris cantik terlalu banyak godaannya. Perusahaanku bisa jatuh dengan mudah kalau aku selalu cari karyawan yang cantik dan seksi.”

“Hmm ... serius? Aku pikir, CEO kayak kamu bakal ambil semua cewek cantik buat kerja di perusahaan kamu.”

“Perusahaanku nggak jual tampang. Kecuali mereka yang kerja di bagian SPG. Aku lebih ngutamain skill mereka daripada penampilan.”

“Serius? Kalau aku yang ngelamar jadi sekretaris kamu, kira-kira bakal diterima atau nggak?” goda Yuna.

“Nggak.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jujur banget? Bilang masih pikir-pikir, kek. Aku loh nggak bego-bego amat!” gumamnya kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Aku nggak terima kamu bukan karena kamu bodoh.”

“Terus?”

Yeriko langsung menyondongkan badannya menekan tubuh Yuna. “Karena kamu punya potensi besar mengganggu konsentrasiku,” bisiknya.

“Maksudnya?” Yuna menatap mata Yeriko yang hanya berjarak lima senti dari hidungnya.

Yeriko tersenyum. Ia langsung mengulum bibir Yuna penuh kehangatan. “Semakin hari, kamu semakin menggoda,” bisik Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Kedua lengannya bertautan mengunci leher Yeriko. “Masa sih?”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus mengamati setiap perubahan tubuh istrinya selama dalam periode kehamilan. Setiap perubahan pada lekukan tubuh Yuna membuat dirinya terus tergoda.

Yuna terkekeh. Berat badannya memang terus bertambah, hal itu justru membuatnya khawatir. “Padahal, aku takut kamu nggak lihat aku lagi kalau aku jadi gemuk, jadi buncit, kulitku kusam karena nggak bisa pakai skincare dan ...”

Yeriko menghela napas sambil mengangkat tubuhnya. “Kamu ini selalu aja berpikir negatif. Apa kamu pikir, aku mencintai kamu sebatas fisik doang?”

“Wajar kan kalo khawatir. Aku kan sayang sama kamu.”

Yeriko tersenyum. Ia mengusap ujung kepala Yuna dan kembali meraih laptopnya. “Lanjutin, bantuin aku!” perintah Yeriko.

Yuna mengedikkan bahu. Ia menjulurkan kakinya di belakang Yeriko dan berbaring di sofa. “Mau main game aja. Aku sakit hati lihat laporannya.”

Yeriko terkekeh. “Sakit hati kenapa?”

“Males aja ngebayangin suamiku sibuk banget ngurus banyak proyek. Kamu nggak stres sama proyek segitu banyaknya?”

Yeriko menggeleng. “Udah biasa.”

“Hmm ... iya juga, sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia membuka salah satu game online yang baru saja ia unduh dan tak banyak bicara. Hanya sesekali memainkan telapak kakinya di paha Yeriko untuk menggodanya.

“Yun, geli. Kamu seneng banget mancing-mancing. Aku kelarin kerjaanku dulu,” tutur Yeriko.

Yuna tertawa kecil. Ia menguap beberapa kali hingga ia tertidur pulas di ruang kerja suaminya.

Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang sudah tertidur. Pandangannya kemudian beralih pada ponselnya yang tiba-tiba menyala. Ia langsung menyambar ponsel tersebut sebelum berdering semakin keras dan membangunkan istrinya.

“Halo, Sat! Gimana?” tanya Yeriko berbisik.

“Yer, aku sudah selidiki kasus yang kamu kasih kemarin. Nggak ada yang aneh. Semuanya murni kecelakaan. Cuma, bukti-bukti yang kamu kumpulkan memang menjurus ke sana.”

“Hmm, kamu yakin, Sat?”

“Penyelidikan sementara sih masih yakin begitu.”

“Aku masih nggak yakin. Semuanya aneh banget.”

“Iya juga, sih. Tapi sudah diselidiki selama ini. Nggak ada hubungannya kecelakaan dan pemindahan saham itu.”

Hening.

“Kenapa nggak kamu ambil alih aja perusahaan istri kamu itu? Kayaknya, perusahaan itu nggak terlalu kuat, Yer.”

“Kalo aku yang ambil alih, bisa aku lakuin dari dulu. Cuma ...” Yeriko menatap wajah istrinya yang tertidur pulas di sampingnya. “Dia nggak mau rebutan harta sama saudaranya sendiri.”

Satria terdengar tertawa kecil. “Istri kamu itu mulia banget.”

“Ck, entahlah. Mulutnya bar-bar tapi hatinya nggak tegaan. Dia paling nggak bisa punya hutang budi ke orang lain. Kemarin, nyuruh aku ngasih makanan dan pakaian buat Refi.”

“Terus, kamu turuti?”

“Nggaklah. Pura-pura aja turutin biar hatinya tenang.”

“Hahaha. Bajingan kayak kamu bisa juga nemuin cewek baik.”

“Hadiah dari Tuhan, Sat.”

“Iya, sih. Buat ngimbangin kamu biar punya perasaan, sedikit.”

Yeriko tertawa kecil.

“Udah ya, aku mau kabarin itu doang. Selamat bercinta!” Satria langsung menutup teleponnya.

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia menatap wajah Yuna sejenak, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 323 : Worry Up

 


“Ayah sudah lama di sini?” tanya Yeriko saat masuk rumah dan mendapati ayah Yuna sedang berbincang bersama istrinya di ruang tamu.

“Ayah sudah di sini dari tadi pagi,” jawab Yuna. Ia langsung menghampiri Yeriko, membantunya melepas jas yang melekat di tubuh Yeriko.

“Kenapa nggak bilang? Aku bisa pulang lebih awal kalau tahu ayah ada di sini.”

“Ayah hanya menemani Yuna saat kamu tidak ada di rumah. Karena suami kamu sudah pulang, Ayah pamit pulang dulu!” tutur Adjie.

“Hah!?”

“Ayah makan malam sama kami dulu!” pinta Yeriko. “Setelahnya, aku antar Ayah pulang.”

“Mmh ...”

“Ayolah, Yah!” pinta Yuna. “Jangan menolak ajakan menantu yang baik hati ini!” lanjutnya sambil mengerdipkan mata.

Yeriko tersenyum menatap ayah mertuanya.

“Mmh, baiklah. Ayah tidak bisa menolak keinginan kalian.”

Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum bersama.

“Aku ganti baju dulu, Bibi War udah masak kan?”

Yuna mengangguk. “Aku temenin naik?”

“Nggak usah, kamu temenin Ayah aja! Aku cuma ganti baju sebentar.”

Yuna mengangguk. Ia mengajak ayahnya pergi ke ruang makan sembari menunggu Yeriko kembali dari kamarnya.

“Belum selesai, Bi? Biar aku bantu.” Yuna menghampiri Bibi War yang sedang menyiapkan makanan di dapur.

“Nggak usah! Ini sudah mau selesai, kok. Tinggal potong buah. Chef Rafa masaknya cepat. Bibi Cuma bantu hidangin aja!”

Yuna tersenyum menatap Bibi War. “Bi, aku sudah terlalu lama bersantai. Kata dokter, aku harus banyak bergerak juga supaya tetap sehat. Bibi, bisa bantu aku ngomong ke Mama Rully supaya menarik orang-orang dia dari rumah ini?” bisiknya.

“Maksud Mbak Yuna?”

“Aku terlalu santai selama aku hamil. Nggak ada yang aku kerjain selain baring, nonton televisi, main game. Huft, apa nggak ada hal lain yang bisa aku kerjain? Di rumah ini cuma ada aku dan Yeriko. Pelayan di sini terlalu banyak,” keluh Yuna.

“Mmh ...” Bibi War berpikir sejenak sambil menyiapkan potongan buah untuk Yuna.

“Please, Bi!” pinta Yuna.

Bibi War mengangguk. “Nanti coba Bibi bicarakan sama ibu, y?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Thanks, Bi!” ucapnya sambil mengecup pipi Bibi War.

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. Ia melihat Yuna seperti anaknya sendiri. Bukan hanya Yeriko yang semakin hari semakin mencintai Yuna. Tapi juga semua yang ada di dalam rumah ini sudah terbiasa dengan keceriaan Yuna.

 

 Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk bersama di meja makan.

“Nak Yeri, apa setiap hari kamu selalu pulang sampai malam?” tanya Adjie.

Yeriko langsung menatap wajah ayah mertuanya. Ia bisa menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah pria paruh baya itu.

“Nggak setiap hari, Yah. Biasanya, dia pulang lebih awal. Akhir-akhir ini memang sedikit sibuk,” sahut Yuna.

“Oh.” Adjie mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayah nggak perlu khawatir! Aku nggak akan ngebiarin Yuna kesepian,” tutur Yeriko.

Adjie mengangguk. “Ayah percaya sama kamu.”

Yeriko tersenyum. Ia tidak ingin membuat ayah mertuanya mengkhawatirkan istrinya.

“Oh ya, Ayah tadi bilang kalau Oom Tarudi ada main ke apartemen dia.”

“Hah!? Dia tahu dari mana kalau Ayah tinggal di sana?”

“Aku rasa, dia udah menguntit kita. Dia bisa dapetin tempat Ayah dirawat. Sekarang, dia juga udah tahu tempat tinggal Ayah. Kalau bukan dari hasil menguntit kita, dari mana lagi?” tutur Yuna.

“Rudi nggak ngapa-ngapain Ayah. Dia Cuma mengunjungi kakaknya. Nggak ada yang salah, kan?” sahut Adjie.

“Yah, selama Ayah sakit di rumah sakit. Dia itu nggak pernah sekalipun tanyain keadaan Ayah apalagi mau jenguk. Kalau sekarang dia tiba-tiba  jenguk Ayah saat Ayah sudah sehat kayak gini, bener-bener nggak masuk akal. Dia pasti punya rencana jahat ke Ayah.”

“Yuna, kenapa kamu berpikir negatif sama paman kamu sendiri? Dia itu adik Ayah. Nggak mungkin mau macam-macam.”

Yuna mengerutkan bibir sambil memainkan garpu di atas piringnya. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana keluarga pamannya itu memperlakukan dirinya selama ini.

Yeriko tersenyum kecil. Ayah Yuna masih terus berpikir kalau adiknya tidak mungkin melakukan rencana pembunuhan itu. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan penyelidikannya agar mengetahui siapa sebenarnya yang menginginkan nyawa ayah mertuanya.

“Yuna, kamu anak yang baik. Nggak boleh menyimpan dendam seperti itu!” pinta Adjie lembut. “Apalagi, kamu lagi hamil. Jangan berpikir macam-macam! Kasihan bayi yang ada di perut kamu.”

“Ayah kamu bener. Lebih baik, kamu fokus dengan kandungan kamu. Soal apartemen, nggak perlu khawatir. Di sana, sistem keamanannya sudah bagus.”

“Bagus gimana? Satpam cuma jaga di pintu masuk. Terus, kita cuma ngandalin CCTV. Kalo Oom Tarudi sampai ngelukain Ayah, emang itu CCTV bisa bantuin berantem?” dengus Yuna kesal.

“Kalau kamu masih nggak yakin, aku kirim orang buat jagain Ayah. Gimana?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Kalau kayak gitu, aku ngerasa lebih tenang.”

“Tapi, Ayah nggak perlu penjagaan khusus,” sahut Adjie.

“Kalau Ayah nggak mau. Aku nggak akan izinin Ayah keluar dari rumah ini!” tegas Yuna.

Adjie menoleh ke arah Yeriko.

Yeriko memberi isyarat untuk menerima saja keinginan Yuna. Ia juga tidak ingin Yuna terus-menerus mengkhawatirkan ayahnya.

“Oke, oke. Ayah terima keinginan kamu,” tutur Adjie.

“Nah, gitu dong! Aku kan bisa tidur dengan tenang kalau ada orang yang jagain Ayah.”

Adjie tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam sambil berbincang banyak hal.

Usai makan malam, Adjie langsung berpamitan untuk kembali ke apartemennya.

“Aku antar ayah pulang dulu, kamu di rumah aja ya!” pinta Yeriko.

“Ikut!” rengek Yuna.

“Cuma sebentar. Aku langsung pulang.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Oke. Hati-hati di jalan!”

Yeriko tersenyum sambil mengelus ujung kepala Yuna.

Adjie tersenyum menatap puterinya. “Ayah pulang dulu!” pamitnya. “Jaga bayi kamu dengan baik!” lanjutnya.

“Siap, Ayah!”

Adjie tersenyum, ia melangkah perlahan keluar dari rumah Yeriko.

Yeriko merangkul pinggang Yuna. “Cium dulu!” pintanya berbisik.

Yuna tersenyum, ia langsung mengecup pipi Yeriko.

“Aku pergi antar ayah dulu!” Ia menyambar bibir Yuna dan langsung melangkah pergi.

Yuna ikut melangkah keluar dari rumahnya sambil menatap dua pria yang sedang bersiap pergi meninggalkannya. Ia terus tersenyum sambil melambaikan tangan.

Setelah mobil Yeriko keluar dari halaman, ia bergegas masuk ke rumah untuk membereskan meja makan. Namun, lagi-lagi meja itu sudah bersih. Bibi War dan salah satu pelayannya sudah sibuk membersihkan dapur.

“Bi, aku bantu ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.

“Nggak usah! Udah banyak yang bantuin Bibi.”

Yuna memonyongkan bibirnya. Kini, ia benar-benar menjadi seorang pengangguran sejati. Tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan, termasuk pekerjaan rumah.

“Mbak Yuna istirahat saja!” perintah Bibi War. “Bumil muda nggak boleh kecapekan.”

“Huft, jadi ratu di rumah ini bener-bener membosankan. Bisa-bisa, aku lupa gimana caranya cuci gelas,” celetuk Yuna. Ia memilih melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya. 

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas