“Siang ini mau makan di
mana?” tanya Yuna saat mengantar suaminya ke halaman rumah untuk pergi bekerja.
“Di kantor. Biar Bibi
aja yang antar makan siangku.”
“Mmh ...” Yuna menggigit
bibirnya. Yeriko tak mengizinkan ia bepergian ke luar rumah. Ia ingin sekali
bisa membuatkan makan siang untuk suaminya. Tapi ia takut kalau suaminya juga
akan melarangnya pergi ke perusahaan.
“Kenapa?” tanya Yeriko
yang menyadari kegelisahan yang tergambar dari wajah Yuna.
Yuna menggelengkan
kepala. “Nggak papa.”
“Nggak usah sungkan!
Kamu mau ngomong apa? Mau jalan ke luar?”
Yuna menggelengkan
kepala. “Aku .. aku ...”
Yeriko menautkan
alisnya, menunggu Yuna menyelesaikan ucapannya. “Kenapa?” tanyanya lagi.
“Mmh ... aku boleh nggak
antar makan siang kamu ke perusahaan?” tanya Yuna hati-hati.
Yeriko tertawa kecil
menatap Yuna.
“Kenapa diketawain?”
“Aku pikir, kamu mau
ngomong apa gitu. Boleh, kok. Aku tunggu jam makan siang di kantor. Oh ya,
jangan naik taksi ya! Angga yang antar kamu!”
Yuna mengangguk sambil
tersenyum. “Makasih, ya!”
Yeriko mengangguk. “Aku
berangkat dulu!” Ia mengecup bibir Yuna dan bergegas pergi meninggalkan
rumahnya.
“Aargh ...! Akhirnya,
bisa menghirup udara segar juga. Dududu ...” Yuna melenggang masuk ke dalam
rumah sambil bersenandung.
“Bi, hari ini aku mau
makan siang bareng Yeri di kantor. Biar aku yang masak dan antar makan siang
dia ke sana ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.
Bibi War mengangguk
sambil tersenyum.
Yuna menjalani harinya
penuh bahagia. Ia sangat senang bisa memasak untuk Yeriko dan makan siang
bersamanya di kantor. Yah, walau beberapa kali Yeriko memang tidak bisa makan
siang bersama karena harus bertemu klien. Tapi, suaminya itu selalu saja mengganti
waktu makan mereka bersama yang hilang dengan hal lain.
Setelah semuanya siap,
Yuna langsung pergi ke kantor Yeriko bersama supir pribadinya.
“Ngga, kamu langsung
pulang aja ya! Nanti, saya pulang sama Pak Bos aja.” Yuna memberi pesan pada
supirnya sebelum turun dari mobil.
“Iya, Nyonya Bos!”
Yuna memonyongkan
bibirnya. Sepertinya, para pekerja di rumah keluarga Hadikusuma memang sulit
sekali memanggilnya dengan nama yang biasa saja. Tapi, ia juga tidak bisa
setiap saat memprotes panggilan yang ditujukan terhadap dirinya.
Yuna terus melangkah
memasuki lobi. Semua karyawan yang mengenalnya menyapa Yuna dengan ramah.
Sepanjang jalan, Yuna terus memasang senyuman manisnya.
“Pak, tolong, Pak! Bapak
lihat dulu CV saya!” Suara seorang wanita yang tak asing mengalihkan perhatian
Yuna. Yuna langsung menoleh ke arah sumber suara dan menatap wanita yang sedang
berbicara dengan salah satu Manager HRD yang ada di kantor Yeriko.
“Kamu sudah terlambat
satu menit. Saya sudah tidak menerima surat lamaran lagi!” tegas pria separuh
baya tersebut.
“Pak, cuma satu menit
aja. Saya janji, bakal ngasih yang terbaik ke perusahaan ini.”
“Satu menit itu lama.
Dari awal, kamu sudah tidak disiplin. Lebih baik, kamu cari perusahaan lain
yang mau menampung orang seperti kamu.”
“Tapi, Pak. Saya
terlambat karena macet di jalan. Tolong, Pak! Kasih saya kesempatan sekali
lagi!”
Pria itu menggelengkan
kepala. Ia berlalu pergi begitu saja meninggalkan gadis berambut pirang yang
berdiri dengan setelan rapi sambil memegang sebuah map di tangannya.
“Pak ...! Saya kenal
sama pemilik perusahaan ini!” seru gadis itu. Tapi, ia tetap tidak mendapatkan
respon yang baik dari Manager HRD itu.
Yuna memerhatikan gadis
tersebut. Ia tak menyangka kalau Refi sekarang sibuk mencari pekerjaan. “Apa
sekarang, hidup dia sesusah itu?” batin Yuna.
Yuna menghela napas
sejenak dan kembali melangkahkan kakinya.
“Yuna ...!”
Yuna langsung
menghentikan langkahnya. Yuna berbalik, ia menatap gadis yang sudah ada di
hadapannya itu sambil tersenyum. “Ada apa, ya?” tanyanya.
“Yun, aku butuh bantuan
kamu. Please!”
“Bantuan apa?”
“Aku mau ngelamar kerja
di perusahaan ini. Kebetulan ada lowongan kerja. Aku cuma terlambat satu menit.
Manager itu nggak mau terima surat lamaranku.”
“Oh.”
Refi menelan ludah
karena respon Yuna yang begitu cuek terhadapnya. Tapi, ia tidak peduli karena
saat ini ia benar-benar membutuhkan pekerjaan.
“Yun, aku udah nggak
bisa nari lagi. Karirku sebagai ballerina udah hancur. Aku beneran mau kerja.
Semua uang aku udah habis dan aku butuh pekerjaan. Apa kamu nggak kasihan sama
aku? Aku udah pergi cari kerja ke mana-mana. Saat ini, cuma kamu harapan aku.
Kamu kan istri pemilik perusahaan ini. Yeriko pasti denger permintaan kamu.
Please!” Refi tak ingin menyerah begitu saja.
“Ref, aku emang istrinya
Yeriko. Tapi, aku nggak pernah ikut campur urusan perusahaan. Lebih baik, kamu
ikuti saja sesuai prosedur perusahaan.”
“Yun, aku cuma mau CV
aku diterima. Setelahnya, aku pasti ikuti prosedur perusahaan. Aku nitip ini ke
kamu ya!” pinta Refi sambil menyodorkan map ke arah Yuna.
Yuna terdiam. Ia hanya
terpaku menatap map yang ada di hadapannya dan tidak punya keinginan untuk
menerimanya.
“Please, Yun! Sekali ini
aja!” pinta Refi dengan wajah pilu.
Yuna menarik napas
dalam-dalam. Ia tidak tega melihat wajah Refi yang terlihat sangat susah. Andai
saat ini dia yang ada di posisi Refi, apa yang akan dia lakukan?
“Oke. Aku akan bicarakan
sama suamiku. Tapi, aku nggak janji.” Yuna meraih map dari tangan Refi.
Refi mengangguk sambil
tersenyum ceria. “Makasih banyak, Yuna!” serunya sambil memeluk tubuh Yuna.
“Mmh, kalo gitu aku pamit dulu. Makasih banyak bantuannya ya!”
Yuna mengangguk sambil
tersenyum.
Refi mengelus perut Yuna
yang masih mungil. “Semoga, baby-nya selalu sehat ya!” Ia langsung berbalik dan
bergegas pergi meninggalkan Yuna.
Yuna tercengang dengan
sikap Refi yang tiba-tiba bersikap baik terhadapnya. “Dia baik beneran atau ...
ah, semoga aja dia emang udah beneran berubah jadi baik,” gumam Yuna.
Yuna kembali
melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Yeriko yang ada di lantai paling atas.
“Kamu nggak papa?” tanya
Yeriko yang buru-buru keluar dari ruangannya.
“Nggak papa. Ada apa?”
tanya Yuna balik. Ia melihat kepanikan yang tergambar dari wajah Yeriko.
“Aku baru aja mau jemput
kamu di bawah. Kenapa naik sendirian?”
“Aku bukan anak kecil.
Nggak ada masalah naik lift sendirian.”
“Kenapa Angga nggak
antar kamu sampai di sini? Kalau ada apa-apa gimana? Lain kali, jangan jalan
sendirian!”
Yuna mengangguk sambil
tersenyum manis.
“Ayo, masuk!” ajak
Yeriko. Mereka bergegas masuk ke ruang kerja Yeriko yang sangat luas dan
nyaman.
“Oh ya, ada titipan buat
kamu.” Yuna menyodorkan map yang ia pegang.
“Apa ini?” tanya Yeriko
sambil membuka map tersebut. Baru saja membaca awal kalimat, ia langsung
melemparkan map tersebut ke tempat sampah yang ada di dekatnya.
“Kenapa dibuang?” tanya
Yuna. Ia segera memungut kembali surat lamaran milik Refi.
“Aku bukan bagian HRD.
Dia salah alamat,” jawab Yeriko ketus. Ia melangkah ke meja dan membuka bekal
makan siang yang dibawakan istrinya.
“Bukan salah alamat. Dia
udah ke HRD. Tapi, HRD nolak dia karena terlambat. Jadi, dia minta tolong sama
aku buat masukin lamaran dia lewat kamu. Manager HRD, pasti nggak akan menolak
kalau kamu yang minta,” jelas Yuna.
Yeriko tak menyahut. Ia
menusuk satu potong rolade dan memasukkan ke dalam mulutnya hingga penuh.
Yuna menghampiri Yeriko.
Sepertinya, suaminya memang tidak berminat membahas soal Refi yang kerap kali
membuat masalah dalam hidup mereka.
“Aku kasihan sama dia.
Dia udah nggak bisa nari lagi. Anggap aja, itu sudah jadi hukuman buat dia.
Sekarang dia lagi cari kerjaan. Nggak ada salahnya kalau kita bantu dia, kan?”
Yeriko tak menyahut. Ia
kembali menyuap makanan ke mulutnya dengan kesal hingga penuh dan sulit untuk
bicara.
“Ay, sekali ini aja.
Cuma bantu masukin CV ini ke Departemen HR. Setelahnya, biar Refi sendiri yang
usaha untuk masuk ke perusahaan ini. Gimana?”
Yeriko melirik Yuna
sejenak. Ia kembali menusuk potongan rolade.
Yuna langsung menahan
lengan Yeriko agar tak menyuap makanan ke mulutnya lagi.
“Jawab dulu, jangan diam
aja!” pinta Yuna.
Yeriko menggelengkan
kepala.
“Kamu beneran nggak mau
bantu dia? Cuma masukin CV doang. Aku udah janji bakal usahain masukin CV dia.
Lagian, dia juga abis nolongin aku. Apa susahnya sih cuma masukin CV dia ke HRD
doang? Kasih dia kesempatan sekali aja, please!”
Yeriko melirik wajah
Yuna. “Ck, iya aku bantu masukin ini ke HRD. Tapi, aku nggak jamin dia diterima
di sini. Dia boleh ikut tes tertulis. Hasilnya gimana, itu tergantung dia
sendiri.”
“Nah, gitu dong! Ini
baru suamiku yang baik hati,” puji Yuna sambil menatap Yeriko penuh cinta.
Yeriko memaksa bibirnya
tersenyum. Ia sangat kesal karena istrinya masih berbaik hati dengan orang yang
jelas-jelas ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Ia tidak menceritakan
semuanya karena mengkhawatirkan kondisi psikis istrinya itu. Tapi, hal ini justru
menjadi boomerang.
(( Bersambung ... ))
Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi


