Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 324 : Ruang Kerja yang Menggoda

 


“Tumben lembur di rumah?” tanya Yuna saat mendapati suaminya masih di ruang kerja.

“Iya. Semua bahan kerjaan yang aku perlukan udah ada. Tinggal ngecek ulang aja malam ini. Kamu belum tidur?” Yeriko berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

“Aku belum ngantuk. Sepanjang siang ini aku cuma tidur. Nggak ada hal lain yang aku kerjain selain makan sama tidur,” tutur Yuna sambil meletakkan segelas susu ke atas meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. Matanya tetap fokus menatap layar laptop dan beberapa lembar kerjanya.

“Ay, bisa nggak kalau minta Mama Rully narik semua pelayannya?”

“Kenapa?” tanya Yeriko balik.

“Aku bingung harus ngapain. Semua kerjaan rumah udah dikerjain sama mereka. Lagipula, kata dokter aku harus banyak bergerak biar tetep sehat. Kalau tidur terus, bisa-bisa setan malas pada datang ke badanku semua.”

Yeriko tertawa kecil. “Bahkan setan pun naksir sama kamu?”

“Idih, aku lagi nggak bercanda. Aku serius. Aku udah hampir mati kebosanan karena nggak ada satu hal pun yang bisa aku lakuin di rumah ini.”

Yeriko tersenyum. “Kamu bisa ngerjain proyek, kan? Bantu aku ngecek dokumen-dokumen ini!” pinta Yeriko sambil menyodorkan beberapa map ke arah Yuna.

Yuna mengangguk. Ia meraih map tersebut dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil saat Yuna terlihat serius memeriksa dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Ia mengangkat laptopnya, berjalan mendekati Yuna dan duduk di sebelahnya.

“Yun, apa kamu nggak mau ambil alih perusahaan ayah kamu lagi?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku masih mengkhawatirkan ayah.”

“Aku bisa bantu ambil alih perusahaan Lian dan keluarga paman kamu itu. Asalkan kamu mau kembali ke perusahaan.”

“Ayah baru aja sembuh. Aku nggak mau bahayain ayah cuma karena masalah perusahaan. Bisa aja, Oom Tarudi makin benci dan ngelakuin segala cara buat nyelakain Ayah. Nyawa ayah lebih penting dari perusahaan.”

“Oke.” Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna kembali fokus memeriksa beberapa proyek yang sedang dikerjakan oleh suaminya. “Ini semua yang harus kamu approve?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kamu mau ekspansi ke Eropa?”

Yeriko mengangguk sambil memeriksa pekerjaannya.

Yuna terdiam. Melihat ada banyak proyek yang harus dikerjakan Yeriko dengan nilai ratusan milyar bahkan triliunan, membuatnya sedikit sedih. Ia takut kalau Yeriko tak lagi punya banyak waktu untuknya.

“Kenapa?” tanya Yeriko saat Yuna tiba-tiba menutup semua dokumen dan meletakkan di atas meja.

“Proyek sebanyak ini, kamu yang nanganin semua? Apa kamu bakal punya waktu buat aku dan anak kita?”

Yeriko tertawa kecil. Ia meletakkan laptopnya ke atas meja. “Kamu takut kalau aku mengabaikan keluarga?”

Yuna mengangguk. “Aku yang cuma asisten di satu departemen aja sibuk banget. Gimana sama kamu yang ngurusin semuanya? Dua puluh empat jam, waktu kamu buat perusahaan.”

“Yun, perusahaan dan keluarga itu sama pentingnya. Aku kerja keras di perusahaan buat bahagiain keluarga. Aku nggak mungkin abaikan keluarga. Kalian juga yang bikin aku semangat,” tutur Yeriko sambil mengelus perut Yuna.

Yuna tersenyum walau dalam hatinya masih diselimuti perasaan gelisah.

“Kamu nggak perlu khawatir soal waktuku. Aku punya banyak orang di perusahaan. Ada Riyan dan Chandra yang selalu bantu aku setiap hari. Mereka berdua sangat bisa diandalkan. Aku juga punya dua orang sekretaris yang bantu urusan administrasiku. Aku pasti punya banyak waktu untuk keluarga.”

“Hmm ... beneran? Ntar kamunya malah lebih punya banyak waktu di perusahaan sama karyawan dan sekretaris-sekretaris kamu itu. Ntar malah naksir sama sekretaris sendiri kayak di drama-drama itu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengetuk kening Yuna. “Kamu berpikir terlalu jauh. Semua sekretarisku sekretaris senior. Mereka sudah nikah dan punya anak. Aku nggak mungkin naksir sama mereka. Mereka nggak ada apa-apanya dibanding sama kamu.”

Yuna terdiam. Dua orang sekretaris Yeriko memang bukan sekretaris dengan tubuh seksi nan menggoda ala-ala drama korea. Mereka terlihat sudah berumur, bertubuh makmur dan tentunya sangat profesional dalam menangani semua pekerjaan bosnya.

“Kenapa kamu nggak cari sekretaris yang cantik kayak di drama-drama korea itu?”

“Itu drama. Mana bisa aku asal-asalan ambil orang buat jadi sekretarisku. Aku nggak punya banyak waktu melatih orang baru. Lagian, punya sekretaris cantik terlalu banyak godaannya. Perusahaanku bisa jatuh dengan mudah kalau aku selalu cari karyawan yang cantik dan seksi.”

“Hmm ... serius? Aku pikir, CEO kayak kamu bakal ambil semua cewek cantik buat kerja di perusahaan kamu.”

“Perusahaanku nggak jual tampang. Kecuali mereka yang kerja di bagian SPG. Aku lebih ngutamain skill mereka daripada penampilan.”

“Serius? Kalau aku yang ngelamar jadi sekretaris kamu, kira-kira bakal diterima atau nggak?” goda Yuna.

“Nggak.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jujur banget? Bilang masih pikir-pikir, kek. Aku loh nggak bego-bego amat!” gumamnya kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Aku nggak terima kamu bukan karena kamu bodoh.”

“Terus?”

Yeriko langsung menyondongkan badannya menekan tubuh Yuna. “Karena kamu punya potensi besar mengganggu konsentrasiku,” bisiknya.

“Maksudnya?” Yuna menatap mata Yeriko yang hanya berjarak lima senti dari hidungnya.

Yeriko tersenyum. Ia langsung mengulum bibir Yuna penuh kehangatan. “Semakin hari, kamu semakin menggoda,” bisik Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Kedua lengannya bertautan mengunci leher Yeriko. “Masa sih?”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia terus mengamati setiap perubahan tubuh istrinya selama dalam periode kehamilan. Setiap perubahan pada lekukan tubuh Yuna membuat dirinya terus tergoda.

Yuna terkekeh. Berat badannya memang terus bertambah, hal itu justru membuatnya khawatir. “Padahal, aku takut kamu nggak lihat aku lagi kalau aku jadi gemuk, jadi buncit, kulitku kusam karena nggak bisa pakai skincare dan ...”

Yeriko menghela napas sambil mengangkat tubuhnya. “Kamu ini selalu aja berpikir negatif. Apa kamu pikir, aku mencintai kamu sebatas fisik doang?”

“Wajar kan kalo khawatir. Aku kan sayang sama kamu.”

Yeriko tersenyum. Ia mengusap ujung kepala Yuna dan kembali meraih laptopnya. “Lanjutin, bantuin aku!” perintah Yeriko.

Yuna mengedikkan bahu. Ia menjulurkan kakinya di belakang Yeriko dan berbaring di sofa. “Mau main game aja. Aku sakit hati lihat laporannya.”

Yeriko terkekeh. “Sakit hati kenapa?”

“Males aja ngebayangin suamiku sibuk banget ngurus banyak proyek. Kamu nggak stres sama proyek segitu banyaknya?”

Yeriko menggeleng. “Udah biasa.”

“Hmm ... iya juga, sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia membuka salah satu game online yang baru saja ia unduh dan tak banyak bicara. Hanya sesekali memainkan telapak kakinya di paha Yeriko untuk menggodanya.

“Yun, geli. Kamu seneng banget mancing-mancing. Aku kelarin kerjaanku dulu,” tutur Yeriko.

Yuna tertawa kecil. Ia menguap beberapa kali hingga ia tertidur pulas di ruang kerja suaminya.

Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang sudah tertidur. Pandangannya kemudian beralih pada ponselnya yang tiba-tiba menyala. Ia langsung menyambar ponsel tersebut sebelum berdering semakin keras dan membangunkan istrinya.

“Halo, Sat! Gimana?” tanya Yeriko berbisik.

“Yer, aku sudah selidiki kasus yang kamu kasih kemarin. Nggak ada yang aneh. Semuanya murni kecelakaan. Cuma, bukti-bukti yang kamu kumpulkan memang menjurus ke sana.”

“Hmm, kamu yakin, Sat?”

“Penyelidikan sementara sih masih yakin begitu.”

“Aku masih nggak yakin. Semuanya aneh banget.”

“Iya juga, sih. Tapi sudah diselidiki selama ini. Nggak ada hubungannya kecelakaan dan pemindahan saham itu.”

Hening.

“Kenapa nggak kamu ambil alih aja perusahaan istri kamu itu? Kayaknya, perusahaan itu nggak terlalu kuat, Yer.”

“Kalo aku yang ambil alih, bisa aku lakuin dari dulu. Cuma ...” Yeriko menatap wajah istrinya yang tertidur pulas di sampingnya. “Dia nggak mau rebutan harta sama saudaranya sendiri.”

Satria terdengar tertawa kecil. “Istri kamu itu mulia banget.”

“Ck, entahlah. Mulutnya bar-bar tapi hatinya nggak tegaan. Dia paling nggak bisa punya hutang budi ke orang lain. Kemarin, nyuruh aku ngasih makanan dan pakaian buat Refi.”

“Terus, kamu turuti?”

“Nggaklah. Pura-pura aja turutin biar hatinya tenang.”

“Hahaha. Bajingan kayak kamu bisa juga nemuin cewek baik.”

“Hadiah dari Tuhan, Sat.”

“Iya, sih. Buat ngimbangin kamu biar punya perasaan, sedikit.”

Yeriko tertawa kecil.

“Udah ya, aku mau kabarin itu doang. Selamat bercinta!” Satria langsung menutup teleponnya.

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia menatap wajah Yuna sejenak, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 323 : Worry Up

 


“Ayah sudah lama di sini?” tanya Yeriko saat masuk rumah dan mendapati ayah Yuna sedang berbincang bersama istrinya di ruang tamu.

“Ayah sudah di sini dari tadi pagi,” jawab Yuna. Ia langsung menghampiri Yeriko, membantunya melepas jas yang melekat di tubuh Yeriko.

“Kenapa nggak bilang? Aku bisa pulang lebih awal kalau tahu ayah ada di sini.”

“Ayah hanya menemani Yuna saat kamu tidak ada di rumah. Karena suami kamu sudah pulang, Ayah pamit pulang dulu!” tutur Adjie.

“Hah!?”

“Ayah makan malam sama kami dulu!” pinta Yeriko. “Setelahnya, aku antar Ayah pulang.”

“Mmh ...”

“Ayolah, Yah!” pinta Yuna. “Jangan menolak ajakan menantu yang baik hati ini!” lanjutnya sambil mengerdipkan mata.

Yeriko tersenyum menatap ayah mertuanya.

“Mmh, baiklah. Ayah tidak bisa menolak keinginan kalian.”

Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum bersama.

“Aku ganti baju dulu, Bibi War udah masak kan?”

Yuna mengangguk. “Aku temenin naik?”

“Nggak usah, kamu temenin Ayah aja! Aku cuma ganti baju sebentar.”

Yuna mengangguk. Ia mengajak ayahnya pergi ke ruang makan sembari menunggu Yeriko kembali dari kamarnya.

“Belum selesai, Bi? Biar aku bantu.” Yuna menghampiri Bibi War yang sedang menyiapkan makanan di dapur.

“Nggak usah! Ini sudah mau selesai, kok. Tinggal potong buah. Chef Rafa masaknya cepat. Bibi Cuma bantu hidangin aja!”

Yuna tersenyum menatap Bibi War. “Bi, aku sudah terlalu lama bersantai. Kata dokter, aku harus banyak bergerak juga supaya tetap sehat. Bibi, bisa bantu aku ngomong ke Mama Rully supaya menarik orang-orang dia dari rumah ini?” bisiknya.

“Maksud Mbak Yuna?”

“Aku terlalu santai selama aku hamil. Nggak ada yang aku kerjain selain baring, nonton televisi, main game. Huft, apa nggak ada hal lain yang bisa aku kerjain? Di rumah ini cuma ada aku dan Yeriko. Pelayan di sini terlalu banyak,” keluh Yuna.

“Mmh ...” Bibi War berpikir sejenak sambil menyiapkan potongan buah untuk Yuna.

“Please, Bi!” pinta Yuna.

Bibi War mengangguk. “Nanti coba Bibi bicarakan sama ibu, y?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Thanks, Bi!” ucapnya sambil mengecup pipi Bibi War.

Bibi War tersenyum sambil menatap Yuna. Ia melihat Yuna seperti anaknya sendiri. Bukan hanya Yeriko yang semakin hari semakin mencintai Yuna. Tapi juga semua yang ada di dalam rumah ini sudah terbiasa dengan keceriaan Yuna.

 

 Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk bersama di meja makan.

“Nak Yeri, apa setiap hari kamu selalu pulang sampai malam?” tanya Adjie.

Yeriko langsung menatap wajah ayah mertuanya. Ia bisa menangkap kekhawatiran yang tergambar dari wajah pria paruh baya itu.

“Nggak setiap hari, Yah. Biasanya, dia pulang lebih awal. Akhir-akhir ini memang sedikit sibuk,” sahut Yuna.

“Oh.” Adjie mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayah nggak perlu khawatir! Aku nggak akan ngebiarin Yuna kesepian,” tutur Yeriko.

Adjie mengangguk. “Ayah percaya sama kamu.”

Yeriko tersenyum. Ia tidak ingin membuat ayah mertuanya mengkhawatirkan istrinya.

“Oh ya, Ayah tadi bilang kalau Oom Tarudi ada main ke apartemen dia.”

“Hah!? Dia tahu dari mana kalau Ayah tinggal di sana?”

“Aku rasa, dia udah menguntit kita. Dia bisa dapetin tempat Ayah dirawat. Sekarang, dia juga udah tahu tempat tinggal Ayah. Kalau bukan dari hasil menguntit kita, dari mana lagi?” tutur Yuna.

“Rudi nggak ngapa-ngapain Ayah. Dia Cuma mengunjungi kakaknya. Nggak ada yang salah, kan?” sahut Adjie.

“Yah, selama Ayah sakit di rumah sakit. Dia itu nggak pernah sekalipun tanyain keadaan Ayah apalagi mau jenguk. Kalau sekarang dia tiba-tiba  jenguk Ayah saat Ayah sudah sehat kayak gini, bener-bener nggak masuk akal. Dia pasti punya rencana jahat ke Ayah.”

“Yuna, kenapa kamu berpikir negatif sama paman kamu sendiri? Dia itu adik Ayah. Nggak mungkin mau macam-macam.”

Yuna mengerutkan bibir sambil memainkan garpu di atas piringnya. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana keluarga pamannya itu memperlakukan dirinya selama ini.

Yeriko tersenyum kecil. Ayah Yuna masih terus berpikir kalau adiknya tidak mungkin melakukan rencana pembunuhan itu. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan penyelidikannya agar mengetahui siapa sebenarnya yang menginginkan nyawa ayah mertuanya.

“Yuna, kamu anak yang baik. Nggak boleh menyimpan dendam seperti itu!” pinta Adjie lembut. “Apalagi, kamu lagi hamil. Jangan berpikir macam-macam! Kasihan bayi yang ada di perut kamu.”

“Ayah kamu bener. Lebih baik, kamu fokus dengan kandungan kamu. Soal apartemen, nggak perlu khawatir. Di sana, sistem keamanannya sudah bagus.”

“Bagus gimana? Satpam cuma jaga di pintu masuk. Terus, kita cuma ngandalin CCTV. Kalo Oom Tarudi sampai ngelukain Ayah, emang itu CCTV bisa bantuin berantem?” dengus Yuna kesal.

“Kalau kamu masih nggak yakin, aku kirim orang buat jagain Ayah. Gimana?” tanya Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Kalau kayak gitu, aku ngerasa lebih tenang.”

“Tapi, Ayah nggak perlu penjagaan khusus,” sahut Adjie.

“Kalau Ayah nggak mau. Aku nggak akan izinin Ayah keluar dari rumah ini!” tegas Yuna.

Adjie menoleh ke arah Yeriko.

Yeriko memberi isyarat untuk menerima saja keinginan Yuna. Ia juga tidak ingin Yuna terus-menerus mengkhawatirkan ayahnya.

“Oke, oke. Ayah terima keinginan kamu,” tutur Adjie.

“Nah, gitu dong! Aku kan bisa tidur dengan tenang kalau ada orang yang jagain Ayah.”

Adjie tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam sambil berbincang banyak hal.

Usai makan malam, Adjie langsung berpamitan untuk kembali ke apartemennya.

“Aku antar ayah pulang dulu, kamu di rumah aja ya!” pinta Yeriko.

“Ikut!” rengek Yuna.

“Cuma sebentar. Aku langsung pulang.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Oke. Hati-hati di jalan!”

Yeriko tersenyum sambil mengelus ujung kepala Yuna.

Adjie tersenyum menatap puterinya. “Ayah pulang dulu!” pamitnya. “Jaga bayi kamu dengan baik!” lanjutnya.

“Siap, Ayah!”

Adjie tersenyum, ia melangkah perlahan keluar dari rumah Yeriko.

Yeriko merangkul pinggang Yuna. “Cium dulu!” pintanya berbisik.

Yuna tersenyum, ia langsung mengecup pipi Yeriko.

“Aku pergi antar ayah dulu!” Ia menyambar bibir Yuna dan langsung melangkah pergi.

Yuna ikut melangkah keluar dari rumahnya sambil menatap dua pria yang sedang bersiap pergi meninggalkannya. Ia terus tersenyum sambil melambaikan tangan.

Setelah mobil Yeriko keluar dari halaman, ia bergegas masuk ke rumah untuk membereskan meja makan. Namun, lagi-lagi meja itu sudah bersih. Bibi War dan salah satu pelayannya sudah sibuk membersihkan dapur.

“Bi, aku bantu ya!” pinta Yuna sambil menghampiri Bibi War.

“Nggak usah! Udah banyak yang bantuin Bibi.”

Yuna memonyongkan bibirnya. Kini, ia benar-benar menjadi seorang pengangguran sejati. Tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan, termasuk pekerjaan rumah.

“Mbak Yuna istirahat saja!” perintah Bibi War. “Bumil muda nggak boleh kecapekan.”

“Huft, jadi ratu di rumah ini bener-bener membosankan. Bisa-bisa, aku lupa gimana caranya cuci gelas,” celetuk Yuna. Ia memilih melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya. 

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 322 : Daddy Time

 


“Mbak, di bawah ada orang yang nyari Mbak Yuna.” Bibi War menghampiri Yuna yang sedang santai di balkon.

“Siapa, Bi?” tanya Yuna.

“Pak Adjie.”

“Astaga!” Yuna hampir saja melompat dari kursinya.

“Kenapa, Mbak?”

“Itu ayahku, Bi!”seru Yuna buru-buru mengenalkan sandalnya dan bergegas menuruni anak tangga.

“Oh, itu ayahnya Mbak Yuna? Pantesan mirip, Bibi kan belum pernah ketemu,” gumam Bibi War. Ia ikut melangkah perlahan menuruni anak tangga.

“Ayah ...!” seru Yuna. Ia langsung menghambur ke pelukan ayahnya.

Adjie langsung memeluk Yuna penuh kehangatan. Rasanya masih sama seperti sebelas tahun lalu. Setiap kali ia pulang bekerja, Yuna akan berlari menghampirinya dan memeluknya sangat erat. Waktu begitu cepat berlalu. Selama sebelas tahun ia melewatkan banyak hal tentang puterinya itu.

“Ayah kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?” tanya Yuna.

“Kalau Ayah bilang, bukan kejutan dong?”

“Ayah tahu alamat rumah ini dari mana?”

“Dari Yeriko.”

Yuna tersenyum bahagia. Ia terus memeluk erat tubuh ayahnya. “Ayah mau minum apa?” tanya Yuna.

“Nggak usah repot-repot! Nanti, Ayah bisa ambil minum sendiri.”

“Bi, tolong bikinkan teh hangat untuk Ayah ya!” pinta Yuna saat melihat Bibi War ingin menghampirinya.

Bibi War mengangguk. Ia bergegas pergi ke dapur. Yuna seolah sudah mengetahui kalau Bibi War memang ingin membuatkan minuman untuk ayahnya. Bibi War merasa sangat bahagia karena Yuna bisa berkumpul kembali dengan ayahnya.

“Ada berapa pelayan di rumah kamu ini?” tanya Adjie saat melihat pelayan lain beberapa kali melintas.

“Banyak, Yah. Padahal, aku santai-santai sepanjang hari. Mama mertuaku ngirim pelayan sebanyak itu waktu tahu aku hamil.”

“Ayah senang melihat kamu berada dalam keluarga yang sangat baik. Keluarga paman kamu malah memperlakukan kamu dengan buruk.”

“Aku nggak papa, Yah. Udah kebal sama perlakuan mereka.”

“Selama ini, Rudi kelihatan baik-baik aja. Ayah sama sekali nggak nyangka kalau dia memperlakukan kamu dengan buruk. Padahal, kamu masih keponakan dia juga.”

Yuna tersenyum menatap Adjie. “Oom Tarudi, selama ini memang selalu baik dan manis sama aku.”

“Oh ya? Kamu nggak lagi bohongin Ayah kan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku cuma nggak suka aja dengan cara dia ambil perusahaan sampai mencelakai Ayah.”

“Dia nggak akan mencelakai Ayah. Ayah ini kakak kandungnya dia. Selama ini, dia terlihat sangat baik.  Kemarin, dia datang bawakan banyak hadiah untuk Ayah.”

“Apa!?” Yuna langsung membelalakkan matanya menatap Adjie. “Dia ke apartemen? Tahu dari mana kalau Ayah tinggal di situ?”

Adjie menggelengkan kepala.

Yuna membuka mulutnya lebar-lebar. Ia sangat kesal karena Tarudi berhasil menemukan tempat tinggal ayahnya. “Gila! Nggak ada nyerahnya dia ngejar ayah. Aku jengkel banget sama dia!” serunya sambil menghentak-hentakkan kaki.

“Dia udah beberapa kali ke rumah. Semuanya baik-baik aja. Nggak perlu khawatir!”

“Yah, dia itu yang udah bunuh bunda. Udah bikin Ayah koma di rumah sakit bertahun-tahun. Udah ambil semua perusahaan kita. Udah jual semua aset pribadi Ayah. Ayah masih aja mau baik sama dia!?” Yuna semakin berapi-api karena ayahnya masih saja menganggap kalau pamannya adalah orang yang baik.

“Yun, kenapa kamu jadi kayak gini? Nggak boleh berprasangka buruk sama paman kamu sendiri!”

“Aku nggak akan pernah berprasangka baik sama dia. Aku bakal balas apa yang sudah dia lakuin ke kita. Aku nggak akan ngelepasin mereka. Pengen banget mereka itu lenyap dari muka bumi ini!” seru Yuna.

“Yun, kamu lagi hamil. Jangan marah-marah gini!” pinta Adjie sambil mengusap bahu Yuna.

Yuna menghela napas. Detak jantung dan irama napasnya jauh lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar kesal dengan keluarga Bellina yang terus-menerus mengusiknya.

“Kamu nggak perlu mikirin masa lalu. Ada hal lebih penting yang harus kamu urus. Yakni, anak dalam kandungan kamu. Ayah nggak mau kamu terlalu banyak berpikir dan menggangu perkembangan janin kamu.”

Yuna menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut. “Ya Tuhan ... kenapa di hidupku ada orang kayak mereka?”

“Yun, sudahlah. Jangan pikirin masalah mereka terus!” pinta Adjie.

“Maunya nggak mikirin. Tapi, kepikiran terus. Aku nggak tenang kalau sampai Oom Tarudi tahu alamat rumah Ayah. Malam ini, Ayah tinggal di rumah ini aja ya!” pinta Yuna.

“Ayah mana bisa tinggal di rumah ini. Ayah nggak mau mengganggu kebahagiaan kalian.”

“Aku nggak ngerasa terganggu. Aku seneng kalo Ayah mau tinggal di rumah ini.”

“Ayah akan baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, Ayah akan langsung telepon Yeriko. Sistem keamanan di apartemen juga sudah bagus, kok. Ada satpam yang jaga setiap hari. Semua lorong juga dipasang CCTV. Ayah rasa, paman kamu nggak akan berani macam-macam.”

“Aku tetap nggak tenang kalau Ayah tinggal sendirian di sana. Apalagi, Oom Tarudi itu mencurigakan banget. Aku ... aduh!” Yuna langsung memegangi perutnya sambil merintih.

“Kamu nggak papa? Ayah udah bilang, jangan berpikir macam-macam! Ini bahaya buat kandungan kamu.”

“Makanya, Ayah tinggal di sini!” pinta Yuna sambil memegangi perutnya. “Ayah nggak kasihan sama aku? Aku lagi hamil, Yeriko juga sibuk kerja. Nggak ada yang nemenin aku cerita.”

Adjie berpikir sejenak. Ia sangat ingin menjaga puteri dan cucunya. Hanya saja, ia khawatir kalau kehadirannya justru akan membuat Yeriko dan Yuna terganggu.

“Iya, dong! Ayolah, Yah! Please!” batin Yuna. Ia sengaja menggunakan kandungannya untuk menahan ayahnya agar mau menerima tawarannya.

“Yun, kalau Ayah tinggal di sini. Apa Yeriko nggak akan berpikir negatif? Dia pasti akan menganggap Ayah nggak percaya sama dia. Seharusnya, Ayah mempercayakan puteri Ayah pada dia sepenuhnya.”

Yuna terdiam. “Bener juga, sih. Kalau Yeriko mikir begitu, hubungan Ayah dan Yeri bisa jadi canggung.”

Adjie tersenyum menatap puterinya itu. “Kamu nggak perlu mengkhawatirkan Ayah! Suami kamu itu, sudah memberikan banyak fasilitas yang baik untuk Ayah. Kamu harus percaya sama suami kamu itu!”

Yuna mengangguk. Ia tak bisa lagi mempertahankan keinginannya. Ia harus menghargai Yeriko sebagai suaminya. Yeriko selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya dan juga ayahnya. Seharusnya ia percaya, bahwa semua hal yang dilakukan oleh Yeriko adalah yang terbaik.

“Oke, deh. Kalau Ayah nggak mau nginap di sini. Ayah harus tetap di sini nemenin aku sampai Yeriko pulang kerja. Gimana?”

Adjie mengangguk setuju. Ia bisa menjaga puterinya saat Yeriko sedang bekerja. Sangat baik untuk menebus waktu-waktu yang hilang selama sebelas tahun belakangan ini. Puteri kecilnya kini sudah menjadi wanita yang dewasa, sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Saat ini, ia hanya ingin menjaga puteri kecil dan bayi mungil yang ada di dalam perutnya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 321 : It's Care

 


“Bi, lain kali kalau Yuna keluar rumah diperhatikan ya! Jangan sampai dia pakai high heels lagi ke mall. Muter-muter belanja begitu pake high heels bikin kaki bengkak aja.” Yeriko mengomel begitu ia masuk ke dalam rumah.

“Baik, Mas!” Bibi War tak berani berkomentar banyak. Ia memang lupa memperingatkan Yuna.

Yuna menarik lengan Yeriko. “Jangan marahin Bibi! Ini salahku,” pinta Yuna. Ia sangat sedih saat melihat Bibi War dimarahi suaminya karena kesalahan yang Yuna buat sendiri.

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. Ia mengajak istrinya itu naik ke kamarnya.

Yuna duduk di sofa kamarnya sambil menundukkan kepala. Ia pikir, emosi Yeriko sudah mereda. Ternyata, Yeriko masih saja mengomeli Bibi War.

Yuna memijat kecil kakinya yang membengkak. Sementara Yeriko sibuk mengganti pakaian tanpa mengajaknya bicara.

Yeriko tersenyum kecil melihat istrinya yang duduk meringkuk di atas sofa. Ia menghampiri Yuna sambil mengenakan kaosnya.

“Sini, aku pijitin!” Yeriko langsung duduk di hadapan Yuna. Ia meraih salah satu kaki Yuna dan menekannya perlahan.

“Aw ...!” seru Yuna. “Sakit.”

“Makanya, kalau mau jalan-jalan nggak usah pakai sandal hak tinggi!” tutur Yeriko sambil menekan kaki Yuna.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Biasanya, aku jalan-jalan pakai high heels nggak begini. Apa karena udah lama nggak jalan-jalan pakai sepatu high heels ya?”

“Kenapa nggak pakai flat shoes aja?” tanya Yeriko lagi.

“Aku mau kelihatan lebih tinggi. Pakai high heels juga kelihatan lebih berkelas.”

Yeriko tersenyum kecil sambil menyentuh ujung kepala Yuna. “Kalau mau kelihatan tinggi, pakai egrang sekalian!”

“Iih ... ngolok banget sih!?” dengus Yuna.

Yeriko tertawa kecil. Ia terus memijat kaki Yuna.

“Aargh  ... sakit!” Yuna terus merintih.

“Sebentar aja sakitnya,” tutur Yeriko.

“Sakit! Ini semua gara-gara kamu yang selalu manjain aku. Kakiku jadi manja banget kayak gini. Aku terbiasa seharian pakai high heels. Kenapa sekarang jadi bengkak kayak gini. Aku harus membiasakan diri pakai high heels lagi,” tutur Yuna sambil merintih kesakitan.

“Nggak usah!” sahut Yeriko. “Aku lebih suka lihat kamu yang pendek.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kenapa kamu malah ngolok?”

“Aku nggak ngolok. Aku emang suka kamu yang pendek. Nggak usah ditambah high heels!” pinta Yeriko kesal. Ia terus memijat kaki Yuna perlahan.

Sementara, Yuna terus merintih kesakitan. Semakin lama, rintihan Yuna semakin nakal dan menggoda telinga Yeriko.

“Yun, kamu ini kesakitan beneran atau main-main?” tanya Yeriko geram. Ia menekan kaki Yuna lebih keras lagi.

“Aargh ...! Sakit!” seru Yuna. “Sakit beneran!”

“Nggak usah mendesah-mendesah kayak gitu!”

“Kenapa? Pengen?” tanya Yuna memainkan matanya.

“Lagi sakit kayak gini, kamu masih sempat godain aku?” dengus Yeriko kesal.

Yuna terkekeh. “Cuma sakit sedikit aja, kok.”

Yeriko langsung menepis kaki Yuna dari pangkuannya. “Pijat sendiri!”

“Jiiah ... marah?”

“Gimana aku nggak marah? Sakit kayak gini masih bisa kamu pake buat bahan candaan. Kamu nggak ngerti gimana khawatirnya aku, hah!?”

Yuna terdiam sesaat. “Iya, maaf!”

Yeriko berdecak kesal. “Lain kali, jangan suka bercanda kayak gini!” Ia kembali menarik kaki Yuna dan memijatnya lembut.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia terus menatap wajah Yeriko yang tak lagi berbicara dan fokus memijat kakinya.

“Ay, tadi siang Refi udah nolongin aku. Aku nggak enak kalau harus berhutang budi sama dia,” tutur Yuna sambil menatap Yeriko.

“Hutang budi apa?”

“Dia udah nolongin aku tadi siang. Kalau dia nggak ada dia, aku pasti udah jatuh dan nggak tahu gimana nasibku sekarang.”

Yeriko tak menyahut. Tangannya tetap fokus memijat kaki Yuna.

“Dia nggak punya keluarga di sini. Nggak punya kerjaan juga. Bukannya sekarang dia udah nggak bisa nari lagi? Sebanyak apa pun uang dia. Pasti lama-lama habis. Gimana kalau kita kasih dia tempat tinggal yang layak dan beberapa pakaian sebagai tanda terima kasih?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku nggak mau.”

“Kenapa?”

“Kamu jangan terkecoh sama dia!” pinta Yeriko.

“Aku cuma mau balas kebaikan dia aja. Kirimin sembako ke rumahnya, gimana?”

Yeriko menggeleng lagi. “Aku nggak mau kamu baik sama dia!” tegasnya. “Kamu langsung luluh sama dia cuma karena dia nolongin kamu?”

“Bukan cuma karena dia nolongin aku. Tapi juga karena aku pernah ada di posisi dia. Nggak punya siapa-siapa, nggak punya tempat tinggal, nggak punya uang buat makan,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu dia udah jahat sama aku. Tapi aku nggak bisa lihat orang lain menderita kayak gitu. Aku ngebayangin gimana susahnya diriku yang dulu.”

Yeriko menatap mata Yuna. Ia tersenyum kecil sambil mengusap air mata Yuna. “Kamu terlalu baik, Yun. Kamu nggak tahu siapa Refi sebenarnya. Dia itu wanita yang ambisius. Lebih baik, kamu jaga jarak sama dia!” pintanya lembut.

“Aku cuma nggak bisa lihat orang lain susah. Aku cuma mau nolong dia sebagai tanda terima kasih.”

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. “Bisa nggak kamu buang jauh-jauh perasaan belas kasih kamu ini ke dia? Kalau dia sengaja ngerencanain sesuatu yang buruk ke kamu gimana?”

Yuna terdiam sambil menggigit bibirnya. Ucapan Yeriko ada benarnya juga. Selama ini, Refi selalu berusaha merebut Yeriko dari dirinya. “Apa kali ini dia sengaja pakai cara halus untuk menarik simpatiku dan simpati Yeriko?” batin Yuna.

“Udahlah. Nggak usah berpikie macam-macam soal Refi!” pinta Yeriko. “Kayak nggak ada hal lain aja buat dipikirin.”

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Jangan nyodorkan aku ke dia lagi! Aku nggak akan berbaik hati sama dia,” tegas Yeriko.

“Siap, Pak Bos Ganteng!” Yuna tersenyum lebar ke arah Yeriko.

Yeriko balas tersenyum sambil mengacak rambut Yuna.

“Oh ya, aku mau tanya soal hubungan Lutfi sama Icha. Apa kamu tahu kalau mereka ...?”

“Aku nggak tahu.”

“Aku belum selesai nanya!” seru Yuna kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Kenapa? Mau nanyain soal hubungan kontrak mereka itu?”

Yuna menganggukkan kepala. “Sebenarnya, si Lutfi itu beneran sayang sama Icha atau nggak sih? Aku bingung sama hubungan mereka. Icha juga orangnya tertutup banget. Nggak semua hal dia ceritain ke kami.”

“Perempuan kalau udah ngumpul, sukanya bergosip?”

“Ini bukan gosip. Tapi care sama temen. Kamu gimana sih?”

“Ya, ya, ya.” Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jawab dong!” pinta Yuna.

“Jawab apa?”

“Perasaan Lutfi ke Icha tuh sebenarnya gimana?”

Yeriko mengedikkan bahu. “Kamu tanya langsung aja ke Lutfi!”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jawabannya pasti, aku sayang banget sama Icha. Bohong banget! Kalo sayang, nggak akan punya hubungan kontrak sama Icha.”

Yeriko tertawa kecil.

“Kenapa malah ketawa?”

“Nggak papa.”

“Kamu pasti tahu sesuatu, kan? Nggak mungkin si Lutfi itu nggak cerita ke kamu. Kamu pasti tahu soal hubungan mereka sebenarnya, kan?”

Yeriko mengangkat kedua bahunya. “Terlalu banyak hal yang aku urus akhir-akhir ini. Nggak punya waktu buat perhatikan hubungan mereka.”

Yuna terdiam. Suaminya memang tidak begitu suka ikut campur dalam masalah percintaan sahabat-sahabatnya. Ia ingin semuanya mengalir begitu saja secara alami. Entah akan bermuara atau tidak, ia tidak terlalu banyak berkomentar. Selama semuanya masih dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Yeriko tidak akan mengambil tindakan apa pun. Yuna tidak akan bisa mendapatkan informasi sedikit pun soal hubungan Lutfi dan Icha.

“Mandi, yuk!” ajak Yeriko sambil melihat jam dinding yang ada di hadapannya.

“Mandiin!” pinta Yuna manja sambil merentangkan tangannya, memberi isyarat agar Yeriko menggendongnya ke kamar mandi.

Yeriko tersenyum kecil. Ia langsung memeluk tubuh Yuna. Mengangkatnya dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.

 

(( Bersambung ... ))

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas