Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 312 : Menghadapi Hate Speech

 


Yuna tersenyum sambil memejamkan mata. Namun, ia masih penasaran dengan video tersebut. Rasa penasarannya membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Diam-diam, ia membuka mata dan meraih ponselnya kembali.

Diam-diam, Yuna membuka ponselnya tanpa melepaskan diri dari pelukan Yeriko. Ia membuka komentar yang masuk ke dalam video tersebut.

 

“Romantis banget sih, cowoknya.”

 

“So sweet, bikin baper!”

 

“Keren banget videonya. Cerita cinta sejak masa kanak-kanak.”

 

“Itu video Fristi Ayuna (Istri Dirut Galaxy Group) dan Andre Muchtar (CEO Amora International). Mereka selingkuh?”

 

Yuna membelalakkan matanya begitu membaca salah satu komentar dari akun anonim. “Gila, ini ada kompor di sini?” batin Yuna. Ia semakin penasaran dengan komentar-komentar yang lainnya.

 

“Wah, kayaknya bener deh. Ini cewek yang digosipin ngerebut pacarnya Refina beberapa bulan lalu, kan?”

 

“Astaga! Bener, banget. Cewek yang itu. Sekarang dia selingkuh sama cowok lain?”

 

“Kasihan banget sih, itu cowok. Ganteng-ganteng, mau jadi selingkuhan.”

 

“Ayuna lagi hamil, jangan-jangan anak yang dikandung sama dia hasil dari perselingkuhan?”

 

 

Yuna geram dengan salah satu akun yang sengaja memancing komentar-komentar negatif. Semua komentar negatif itu ditujukan untuk dirinya.

“Siapa sih dia? Komennya ngeselin banget!” celetuk Yuna.

Yeriko langsung membuka mata perlahan. “Kamu belum tidur?” tanyanya.

Yuna meringis. Ia menyembunyikan ponselnya ke bawah bantal.

Yeriko menyadari apa yang disembunyikan oleh istrinya. Tangannya menyeberang kepala Yuna dan merogoh ponsel yang ada di bawahnya. Ia membuka ponsel tersebut dan langsung membaca komentar negatif yang ditujukan untuk istrinya.

Yeriko langsung bangkit. Ia terus membaca komentar dari netizen yang semakin menjadi-jadi. Ia turun dari ranjang sambil meraih ponselnya.

“Mau ke mana?” tanya Yuna.

“Kamu tidur aja!” perintah Yeriko. “Aku nau telepon Riyan.” Ia langsung menempelkan ponsel ke telinganya dan berjalan keluar dari kamar.

Yuna memonyongkan bibir karena Yeriko membawa pergi ponsel miliknya. Ia masih penasaran dengan semua komentar yang ada di sana.

Yeriko langsung melangkah menuju ruang kerjanya sambil menatap ponsel Yuna. Ia sedikit kesal karena Riyan tak kunjung menjawab teleponnya.

“Halo …! Kenapa nggak angkat-angkat teleponku!?” sentak Yeriko saat Riyan baru mengangkat panggilannya yang ketiga.

“Maaf, Pak Bos. Saya udah tidur.”

Yeriko menghela napas. “Buka laptop sekarang juga!” pinta Yeriko. Ia juga langsung membuka laptop miliknya.

“Ada apa, Pak Bos? Saya cuci muka dulu.”

“Umh.” Yeriko memindai barcode Whatsapp Web ke ponsel Yuna sambil menunggu Riyan membasuh wajahnya.

“Pak Bos, saya udah di depan laptop.”

“Buka WA kamu. Aku kirim link.”

“Oke.”

“Kamu cek komentar dari akun anonim yang nulis hate speech ke Yuna!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!” sahut Riyan.

“Bisa hubungi tim IT buat nyari pemilik akun itu?” tanya Yeriko.

“Bisa, Pak Bos.”

“Aku tunggu kabarnya besok pagi.”

“Tapi,ini sudah jam dua belas malam. Kemungkinan mereka sudah tidur. Gimana, kalau saya hubungi mereka besok pagi?”

“Kamu coba hubungi satu-satu dari sekarang. Yang bisa angkat telepon, berarti dia belum tidur. Aku nggak mau nunggu lama.”

“Siap, Pak Bos!”

“Oke. Aku tunggu kabarnya besok pagi. Jangan sampai lepasin orang itu kalau udah ketemu!” perintah Yeriko.

“Oke, Pak Bos!”

Yeriko langsung mematikan ponsel dan meletakkan begitu saja ke atas meja. Ia terus membaca komentar-komentar itu satu persatu. Ia sangat kesal karena ada beberapa akun yang memang sengaja menyebarkan kalimat kebencian yang ditujukan pada Yuna.

 

Yeriko menonaktifkan ponsel Yuna dan menyimpannya ke dalam laci meja. Ia tidak ingin perasaan Yuna memburuk karena hate speech yang tertuju kepadanya dan mengganggu kondisi janin yang ada di perut Yuna.

 

Yeriko kembali masuk ke kamarnya. Ia mendapati Yuna masih bersandar di tempat tidur. “Belum tidur?”

“Nggak bisa tidur.”

Yeriko tersenyum. Ia naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh Yuna. “Nunggu dikelonin?” godanya.

Yuna memonyongkan bibir sambil mencubit perut Yeriko.

“Aw …! Jangan nyubit perut!” pinta Yeriko. “Ntar aku nafsu.”

Yuna tertawa kecil sambil menenggelamkan kepalanya di ketiak Yeriko.

“Tidur, udah malam!” pinta Yeriko sambil menepuk-nepuk bahu Yuna. “Soal video tadi, nggak usah kamu pikirin! Aku bakal nyelesaikan sampai tuntas.

 

 

Keesokan harinya …

Yeriko langsung masuk ke ruang tim IT sebelum ia masuk ke ruang kerjanya.

“Gimana, yang aku minta semalam udah dapet?” tanya Yeriko. Ia langsung menodong pertanyaan kepada Head IT Departement.

“Apa itu, Pak?” tanya Darwis, Head IT. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan Yeriko.

“Maaf, Pak Bos. Semalam, saya hubungi Pak Darwis tidak bisa karena sudah larut malam. Saya hubungi Hans untuk membantu menangani masalah ini.”

“Hans yang mana?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya.

“Hans belum datang?” tanya Darwis pada salah satu anak buahnya.

“Belum, Pak.”

“Ck, jam segini belum datang?”

“Mungkin, dia ngecek postingan itu sampai pagi, Pak.” Riyan mencoba menenangkan bosnya yang sudah tak sabar menunggu hasil penyelidikan semalam.

“Nah, itu dia!” seru Darwis saat melihat Hans memasuki ruangan.

“Pak Yeri?” sapa Hans setengah membungkuk. Ia sedikit khawatir karena pemilik perusahaan memergokinya telat masuk kantor.

“Gimana penyelidikan tadi malam?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

“Eh!? Oh, sudah saya temukan IP Address pelaku tersebut.” Hans langsung melepas ransel di punggungnya. Ia mengeluarkan laptop, meletakkan di atas meja dan mulai menunjukkan hasil penyelidikan yang sudah ia kerjakan semalam.

“Gimana?” tanya Yeriko.

“Ada lima belas akun dari IP Address yang sama,” jelas Hans. “Kemungkinan, pelaku hate speech ini masih orang yang sama. Dia sengaja membuat banyak akun untuk memancing kehebohan.”

“Bisa dilacak?” tanya Yeriko.

Hans menganggukkan kepala. “Dari warnet.”

“Warnet lagi?” tanya Riyan.

Hans menganggukkan kepala. “Cara paling mudah supaya tidak terdeteksi adalah melalui warnet.”

“Beneran nggak bisa terdeteksi?” tanya Yeriko.

“Sebenarnya bisa, kalau di warnet itu ada CCTV dan pemilik warnet bisa diajak kerjasama.,” jelas Hans.

“Yan, cek  CCTV warnet itu! Aku pantau dari sini,” perintah Yeriko.

Riyan menganggukkan kepala. Ia bergegas menuruti perintah bosnya. Ia langsung pergi membawa dua orang IT dari departemen tersebut.

Darwis, memerintahkan timnya untuk membantu Hans.

“Pak, saya sudah kirim titik poin lokasi warnet itu. Tinggal tunggu Pak Riyan saja. Pelaku memposting video pertama kami jam 09:19 WIB. Pak Riyan bisa mencari informasi pelaku yang masuk ke sana sebelum postingan itu dimulai,” tutur Hans.

“Oke.” Yeriko mengeluarkan ponsel dari sakunya dan langsung menelepon Riyan. Ia terus memantau dari kejauhan.

“Pak Darwis, saya mau komentar-komentar negatif di postingan itu dihapus.” Yeriko menatap Darwis yang ada di ruangan tersebut. “Kalau perlu, hapus juga videonya. Pemilik akun itu juga diblokir aja!”

Darwis menganggukkan kepala.

“Saya harus ke ruang kerja saya. Saya tunggu kabar ini secepatnya!”

“Siap, Pak!”

Yeriko tersenyum sinis. Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke ruang kerjanya.

 

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 311 : Mr. Jealous

 


“Biar aku aja yang masak!” pinta Yuna sambil mengeluarkan bahan makanan dari kantong belanja.

“Aku aja!” Yeriko keukeuh ingin membuatkan  masakan untuk ayah mertuanya.

“Kamu nggak bisa nyium bau ikan, kan?” tanya Yuna. “Biar aku aja yang masak.”

“Bisa, kok.”

“Eh!? Yakin? Nggak mual?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Udah nggak, kok.”

Yuna tersenyum bahagia mendengar ucapan Yeriko. “Baiklah.” Ia melenggang, menghampiri ayahnya yang duduk santai di meja makan yang tak jauh dari pantry.

“Kamu nggak bantuin suami kamu?” tanya Adjie.

Yuna menggelengkan kepala. “Kalau lagi di dapur, dia nggak mau diganggu.”

“Dia pandai masak juga?”

Yuna tersenyum sambil mengangguk. Ia duduk di samping Adjie sambil menoleh ke arah Yeriko yang mulai asyik berkutat di dapur.

“Dia suami yang baik dan bertanggung jawab. Kamu harus menjaga dia dengan baik!” tutur Adjie lirih.

Yuna menganggukkan kepala. “Pasti, dong!”

“Oh ya … tadi, ayah dengar perdebatan kamu dengan tante kamu itu. Apa bener kalau dia mau jual kamu?”

Yuna menganggukkan kepala. Ia merasa, tak perlu ada hal yang harus ia tutupi lagi soal keluarga pamannya itu. “Untungnya, mereka nggak berhasil.”

“Oh ya? Kamu berhasil melawan mereka?”

Yuna menggelengkan kepala. “Yeriko yang udah menyelamatkan aku.”

“Dia?” Adjie mengernyitkan dahi sambil menatap Yeriko dari kejauhan.

Yuna mengangguk. “Dia selalu jadi penolongku saat aku susah. Padahal, dia nggak kenal sama aku. Dia baik banget, Yah. Aku sampai nggak tahu gimana caranya membalas budi. Saat dia minta aku jadi istrinya, aku ngerasa cuma ini yang aku bisa lakuin buat membalas kebaikan dia.”

“Huft, Ayah juga merasa berhutang budi sama dia. Dia sudah menjaga puteri Ayah dengan baik,” tutur Adjie sambil mengelus rambut Yuna.

“Bukan cuma menjaga aku, tapi juga menjaga ayah dengan baik sampai sembuh.”

“Zaman seperti ini, masih ada pria yang berbudi seperti dia.”

Yuna tersenyum. Ia menoleh ke arah Yeriko yang masih sibuk di dapur. “Dia ganteng kan, Yah?”

Adjie mengangguk. “Masih ganteng ayah waktu masih muda.”

“Iih ..  Ayah pede banget ngomong kayak gitu?”seru Yuna.

Adjie tergelak.

“Ceritain ke aku, gimana Ayah bisa jatuh cinta ke Bunda?”

“Bunda kamu yang jatuh cinta ke Ayah duluan.”

“Bohong, ya?” dengus Yuna. “Nggak mungkin Bunda yang jatuh cinta duluan. Pasti Ayah, kan?”

Yeriko tersenyum melihat Yuna dan ayahnya saling bercanda. Ia membawa beberapa piring dan meletakkannya di atas meja.

Yuna bangkit dari kursi, bermaksud membantu Yeriko. Namun, Yeriko melarangnya untuk bergerak.

“Disitu aja!” perintah Yeriko.

Beberapa menit kemudian, makanan sudah terhidang dengan baik di atas meja.

“Kamu sampai repot-repot kayak gini,” tutur Adjie.

“Nggak repot, kok. Aku sudah biasa masak.”

“Bukannya, di rumah kalian ada pembantu?”

Yeriko mengangguk. “Kalau lagi nggak sibuk, kami tetap masak sendiri. Apalagi masak untuk orang yang kita cintai, terasa lebih tulus daripada mengajak makan di luar.”

“Bener, bener, bener,” sahut Adjie sambil tersenyum bangga.

“Ayo, makan!” ajak Yeriko.

Mereka mulai menikmati makan malam sambil terus berbincang.

“Di antara kalian berdua, siapa yang jatuh cinta duluan?” tanya Adjie.

Yeriko langsung menunjuk Yuna dengan dagunya.

“Iih, culas! Kamu yang jatuh cinta ke aku duluan.”

“Bukannya kamu yang nangis-nangis duluan, takut aku jalan sama cewek lain?”

“Kamu yang tiba-tiba ngajak aku nikah duluan,” dengus Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa kamu mau diajak nikah?”

Yuna mendelik ke arah Yeriko. Ia mengomel menggunakan matanya.

Yeriko tertawa kecil. Ia melirik ayah mertuanya yang tersenyum menatap mereka.

“Perempuan emang gitu. Nggak mau ngaku kalau dia sudah lebih dulu jatuh cinta,” tutur Adjie.

Yeriko menahan tawa. Ia tak menyangka kalau ayah mertuanya akan membela dirinya.

“Ayah …!?”

“Kenapa?” tanya Adjie lembut.

“Ayah kenapa belain dia?”

“Kita sesama pria, harus saling membela.”

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, sebab dua pria yang bersamanya mulai bekerja sama untuk memojokkan dirinya.

“Oh ya, gimana kamu bisa ada di toko itu juga?” tanya Yuna. “Bukannya, kamu bilang kalau mau pergi ngurus berkas perusahaan kamu?”

Yeriko tersenyum kecil. “Urusan perusahaan cuma sebentar. Jadi, aku nyusul kalian.”

“Oh. Gimana hasilnya?”

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Menurut kamu?”

“Kelihatannya sukses?”

Yeriko tersenyum sambil memainkan alisnya. Mereka tertawa bahagia, bercanda sembari menghabiskan makannya.

Usai makan malam bersama ayahnya, Yuna dan Yeriko berpamitan untuk pulang.

“Ayah, jangan keluar apartemen sendirian ya!” pinta Yuna.

Adjie mengangguk. “Makasih, sudah perhatian sama Ayah. Ayah akan baik-baik aja.”

Yeriko tersenyum. “Kami pulang dulu!” pamitnya.

Adjie menganggukkan kepala. Ia tersenyum bahagia melepas kepergian Yuna dan Yeriko.

Sesampainya di rumah, Yuna sedikit gelisah meninggalkan ayahnya seorang diri di apartemen.

“Ayah akan baik-baik aja. Nggak usah berpikir macam-macam!” pinta Yeriko seolah mengerti kegelisahan yang menyelimuti pikiran Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Oh ya, si Refi nggak pernah telepon kamu lagi?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku blokir nomernya.”

“Baguslah. Mudahan aja dia sadar dan nyerah ngejar kamu,” tutur Yuna sambil mengganti pakaiannya.

Yeriko tersenyum kecil. Ia tidak ingin Yuna mengkhawatirkan dirinya. “Kamu tenang aja, aku cuma cinta sama kamu. Walau ada seribu perempuan yang kayak Refi godain aku, aku nggak akan tergoda.”

“Bener?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Janji?”

“Iya.”

“Kamu juga ya!”

“Apa?”

“Nggak akan tergoda sama cowok lain.”

“Tergantung, kalau dia lebih ...”

“Hmm.”

Yuna terkekeh. “Iya, Mr. Jealous yang tersayang!” ucap Yuna gemas sambil mencubit pipi Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil, ia langsung mengulum bibir Yuna.

 

Nada dering ponsel Yuna menghentikan aksi Yeriko. “Siapa telepon malam-malam begini?” celetuknya kesal.

Yuna tertawa kecil. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. “Jheni?”

“Hmm ... dia sengaja mau ganggu kita malam-malam gini?” tanya Yeriko.

Yuna tertawa kecil. “Siapa tahu, ada hal penting. Soalnya, dia lagi sibuk banget. Kalo nelepon, pasti ada perlu.” Yuna langsung menjawab panggilan telepon dari sahabatnya itu.

“Halo ...!” sapa Yuna.

“Halo, Yun. Kamu udah lihat berita di internet?” tanya Jheni.

“Berita apaan?”

“Ada yang nyebarin video kamu sama Andre.”

“Hah!? Video apaan?” tanya Yuna.

“Ck, itu video masa kecil kalian sampai sekarang. Ada puisi cintanya pula. Itu video udah dibagikan ribuan kali.”

Yuna terdiam, ia berpikir sejenak. “Apa si Refi lagi yang bikin sensasi?”

“Aku rasa, Refi nggak punya video masa kecil kalian.”

“Iya juga, sih.”

“Kalau bukan Bellina, pasti Andre sendiri.”

Yuna menoleh ke arah Yeriko. “Kamu kirimin link-nya ya! Aku cek videonya.”

“Oke.” Jheni menutup teleponnya. Ia segera mengirimkan tautan video yang sedang viral di media sosial.

“Kenapa?” tanya Yeriko.

“Ada yang nyebarin video aku sama Andre. Nggak tahu, video apaan,” jawab Yuna sambil meng-klik tautan yang dikirim Jheni.

“Ck, kamu ada jalan berduaan sama dia?”

Yuna menggelengkan kepala. “Terakhir ketemu Andre waktu di restoran puncak malam itu. Tapi, aku nggak ngapa-ngapain. Suer!”

Yuna memutar video yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Yeriko juga ikut melihat video tersebut.  Dari detik pertama, mereka sudah mengenali kalau wanita dan pria yang ada di dalam slide video tersebut adalah Yuna dan Andre.

“Siapa yang upload video itu?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Nama akunnya, nggak aku kenal. Kayaknya, ini akun palsu.”

“Huft, ada-ada aja. Apa mungkin si Andre yang bikin itu video?” tanya Yeriko.

“Aku rasa, Andre nggak akan bikin video kayak gini. Lagipula, foto yang di kafe ini ... jelas-jelas dipotret sama orang lain dari kejauhan.”

“Hmm ... puisinya keren! Mengharukan,” celetuk Yeriko kesal.

“Cemburu?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

“Aku suami kamu. Gimana nggak cemburu kalau ada orang lain yang mengabadikan momen kamu bareng Andre, ketimbang sama aku?”

Yuna tertawa kecil. “Mungkin karena aku terlalu cantik.”

Yeriko tertawa kecil. “Udah, nggak usah hirauin video itu!” pinta Yeriko sambil merebut ponsel Yuna. “Mending tidur. Aku percaya sama kamu, kok.” Yeriko langsung memeluk tubuh Yuna dan menenggelamkan di dadanya.

 

 ((Bersambung...))

 

Monday, February 2, 2026

Perfect Hero Bab 310 : Penghinaan untuk Bellina dan Melan

 


“Ma, Yeriko belain kita. Aku yakin, bisa dengan mudah menghancurkan hidup Yuna,” bisik Bellina di telinga Melan.

Melan tersenyum puas. Mereka memilih beberapa pakaian mahal dan membawanya ke kasir.

“Kamu yakin, berbaik hati sama mereka?” bisik Yuna di telinga Yeriko.

Yeriko tersenyum. Ia merogoh dompet di sakunya. Mengeluarkan kartu dan memberikannya pada kasir.

Kasir tersebut tersenyum sambil mengangguk sopan.

Bellina tersenyum bahagia. Ia menatap Yeriko penuh cinta. “Makasih ya!” Ia melangkah mendekati Yeriko.

Yeriko tersenyum menatap Bellina. “Iya. Ini terakhir kalinya kalian belanja di sini,” tegas Yeriko.

Bellina menghentikan langkahnya. “Maksud kamu?”

Yeriko menyandarkan lengannya dengan santai ke meja kasir. Ia mengerdipkan satu matanya ke pegawai kasir. “Blacklist mereka berdua dari semua outlet penjualan brand kita!” pintanya sambil tersenyum.

“Kamu …!?” Bellina menatap geram ke arah Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil sambil melirik Bellina. Tangannya asyik memainkan dompet miliknya.

Yuna menahan tawa melihat ekspresi wajah Bellina. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di ketiak Yeriko. “Ini rencana kamu?” bisik Yuna.

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengelus rambut Yuna sambil menatap Bellina dan Melan.

Bellina dan Melan langsung menatap tajam ke arah Yuna.

“Kurang ajar kamu, Yun!” sentak Melan.

“Kamu mau ngajak berantem, hah!?” Bellina berusaha menerobos tubuh Yeriko dan bersiap mencakar wajah Yuna. “Apa maksud kalian blacklist kami, hah!?”

Yeriko tersenyum sinis menatap Bellina. “Alasannya simple. Toko ini sudah menjadi bagian dari anak perusahaan Galaxy Group. Aku punya wewenang mutlak untuk mem-blacklist orang seperti kalian.”

Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya tetap saja tertuju pada Yuna. “Pasti kamu yang udah nyuruh suami kamu ini, kan? Kalo berani, hadapi aku sendirian! Nggak usah berlindung di balik punggung suami kamu ini!” sentak Bellina.

Yuna langsung melangkah sambil mengangkat dagunya menatap Bellina. “Kamu pikir, aku takut sama kamu, hah!?”

Yeriko menahan tubuh Yuna agar tidak terpancing dengan ucapan Bellina. “Nggak usah diladeni!” pinta Yeriko sambil berbisik. “Biarkan mereka gila secara perlahan!”

Yuna langsung menatap tajam ke arah Bellina. Jiwa mudanya meronta-ronta. Ingin sekali ia bergulat dengan Bellina saat itu juga.

“Sudah, Yun. Nggak usah ribut di sini!” pinta Adjie. “Malu, dilihatin banyak orang.”

“Dia yang cari gara-gara duluan!” sahut Yuna.

Melan dan Bellina geram. Namun, tatapan Adjie dan Yeriko yang tertuju ke arah mereka, membuat mereka tidak bisa apa-apa.

“Ayo, kita pergi dari sini!” ajak Melan sambil menarik lengan Yeriko.

Bellina mengangguk. Ia mengikuti perintah ibunya untuk segera pergi dari sana.

“Eh, tunggu!” seru Yeriko.

Melan dan Bellina berbalik dan menatap Yeriko.

“Kenapa lagi?” tanya Melan.

Yeriko mengambil beberapa paper bag yang ada di atas meja kasir. “Ini barang kalian!” tuturnya sambil melemparkan paper bag tersebut ke lantai, tepat di depan kaki Bellina dan Melan.

Bellina dan Melan terkejut. Mereka ingin memaki Yeriko, hanya saja kekuatan mereka tak cukup dan hanya ternganga menatap beberapa paper bag yang berserakan di kaki mereka.

“Bel, ini baju mahal-mahal. Dibuang gitu aja,” celetuk Melan. Ia langsung menatap tajam ke arah Yuna dan Yeriko. “Kalian sengaja mau menghina kami?”

Yeriko tersenyum sinis. “Bukannya kalian suka barang-barang mahal? Kalau nggak suka, buang aja ke tempat sampah!”

Bellina menatap kesal ke arah Yeriko dan Yuna. Ia sangat cemburu dengan Yuna. Memiliki suami yang tampan dan sangat kaya. Ia dan mamanya sengaja memilih pakaian mahal untuk menguras dompet Yeriko. Ternyata, nilai sepuluh juta dari pakaian itu hanya dianggap sampah bagi Yeriko. Dengan kesal, ia dan mamanya memungut pakaian-pakaian tersebut dan bergegas meninggalkan Yuna dan dua lelaki yang bersama Yuna.

Yuna tertawa kecil menatap kepergian Bellina dan Melan. “Rasain!” umpatnya.

Yeriko tersenyum kecil.

“Nak, kamu nggak perlu berlebihan seperti ini sampai membuang banyak uang untuk melawan mereka!” pinta Adjie.

Yeriko tersenyum menatap ayah mertuanya. “Aku nggak buang uang banyak kok, Yah. Sudah seharusnya aku membela kalian.”

“Tapi, nggak perlu bertindak gegabah sampai harus mengakuisisi brand seperti ini.”

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Iya. Kenapa kamu bisa mengakuisisi brand hanya dalam hitungan menit?” tanyanya. Ia tak menyangka kalau Yeriko memiliki kekuatan yang begitu besar untuk menguasai pasar.

Yeriko tertawa kecil. “Aku bukan Bandung Bondowoso yang bisa bikin Candi Prambanan untuk Roro Jonggrang dalam semalam atau Sangkuriang yang bisa bikin Gunung Tangkuban Perahu. Proses akuisisi brand ini udah lama. Kebetulan aja momennya pas banget buat ngadepin mereka.”

“Hah!? Serius?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka kalau bisa melawan Bellina dengan mudah.

“Sebenarnya, mereka itu siapa?” tanya Adjie pura-pura tidak tahu agar Yuna tidak mencurigai ingatannya.

“Mereka saudaranya Yuna. Istri dan anaknya Oom Rudi. Yang kemarin ketemu sama Ayah di rumah sakit,” jawab Yeriko.

“Oh. Itu mereka? Kenapa mereka kelihatan jahat? Bukannya Yuna bilang, selalu diperlakukan dengan baik di rumah pamannya?”

Yuna langsung mencubit lengan Yeriko. “Ayah hilang ingatan. Harusnya, kamu nggak kasih tahu siapa mereka. Nanti ayah jadi kepikiran,” bisik Yuna.

“Ayah harus tahu gimana keluarga paman kamu itu memperlakukan kamu selama ini,” sahut Yeriko.

Yuna mengerutkan hidungnya sambil menginjak sepatu Yeriko.

“Aw …!” seru Yeriko. “Kamu mau nindas suami kamu sendiri? Aku baru aja nolongin kamu,” tuturnya geram.

Yuna tertawa kecil. “Kamu baru aja bongkar rahasiaku.”

“Itu bukan rahasia. Semua orang juga tahu,” sahut Yeriko.

Yuna mengerutkan hidungnya.

“Sudahlah, nggak perlu berantem!” pinta Adjie. “Sekarang, Ayah sudah tahu siapa mereka. Ayah akan melindungi kamu dan cucu Ayah.”

Yuna tersenyum menatap ayahnya. “Maaf, Yah. Aku cuma nggak mau bikin Ayah khawatir. Aku baik-baik aja, kok. Walau mereka sering marahin aku, mereka masih ngasih aku makan sehari tiga kali,” tuturnya sambil tersenyum.

Adjie tersenyum menatap Yuna. Ia kini mulai mengerti bagaimana Yuna menjalani kehidupannya seorang diri. Andai ia bisa bangun lebih cepat, Yuna tidak akan mengalami banyak penderitaan.

“Bu, ini belanjaan Ibu.” Seorang pelayan toko menyodorkan beberapa paper bag kepada Yuna.

“Biar Ayah yang bawa!” pinta Adjie sambil menyambar paper bag tersebut dari tangan pelayan toko.

Pelayan toko itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia bergegas pergi, melayani pelanggan toko lainnya.

“Mau belanja apa lagi?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Udah nggak ada. Kita langsung pulang aja!” pinta Yuna.

“Belanja bahan makanan dulu, ya!” pinta Yeriko. “Di rumah Ayah, pasti belum ada apa-apa.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Oke.”

Yeriko mengajak Yuna dan Adjie berkeliling di supermarket. Ia berniat untuk membuatkan makanan khusus untuk ayah mertuanya. Ia membeli bahan-bahan makanan juga keperluan bulanan lainnya untuk ayah mertuanya.

“Nak, kamu nggak perlu seperti ini. Membuang banyak uang untuk kami!” tutur Adjie saat melihat banyak belanjaan yang dibeli oleh Yeriko dan Yuna.

“Ayah nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko. “Aku sudah anggap Ayah seperti ayah kandungku sendiri.”

Adjie tersenyum menatap Yeriko. Ia tak menyangka kalau sekarang ia memiliki seorang putera yang begitu menyayanginya. Ia juga akan memperlakukan Yeriko seperti anaknya sendiri.

 

 

 




Serai: Tanaman Sederhana dengan Segudang Manfaat untuk Kesehatan dan Dapur

 



Serai atau sereh adalah salah satu tanaman herbal yang hampir selalu ada di dapur masyarakat Indonesia. Aromanya yang segar dan khas membuatnya menjadi bumbu wajib berbagai masakan Nusantara. Namun, di balik fungsinya sebagai penyedap rasa, serai juga dikenal sebagai tanaman obat tradisional dengan banyak manfaat kesehatan.

 Nama Ilmiah dan Klasifikasi Serai

  • Nama ilmiah: Cymbopogon citratus (DC.) Stapf

  • Kingdom: Plantae

  • Famili: Poaceae (rumput-rumputan)

Serai termasuk tanaman monokotil yang tumbuh berumpun, mudah dibudidayakan, dan cocok sebagai tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga).

Kandungan Aktif dalam Serai

Serai mengandung berbagai senyawa bioaktif, di antaranya:

  • Citral

  • Geraniol

  • Flavonoid

  • Saponin

  • Tanin

  • Minyak atsiri

Kandungan inilah yang membuat serai memiliki aroma khas sekaligus khasiat bagi kesehatan.


 Manfaat Tanaman Serai

Berikut beberapa manfaat serai yang telah dikenal secara tradisional dan didukung penelitian:

1. Membantu Melancarkan Pencernaan

Air rebusan serai sering digunakan untuk meredakan perut kembung, mual, dan gangguan pencernaan ringan.

2. Bersifat Antibakteri dan Antijamur

Minyak atsiri serai memiliki sifat antimikroba yang dapat membantu melawan bakteri dan jamur tertentu.

3. Membantu Meredakan Nyeri dan Peradangan

Serai sering digunakan sebagai bahan minyak gosok atau ramuan tradisional untuk pegal, nyeri otot, dan rematik ringan.

4. Menenangkan dan Mengurangi Stres

Aroma serai dikenal memiliki efek relaksasi, sehingga sering dimanfaatkan dalam aromaterapi untuk mengurangi stres dan membantu tidur lebih nyenyak.

5. Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Beberapa studi menunjukkan konsumsi teh serai dapat membantu menjaga tekanan darah tetap stabil jika dikonsumsi secara wajar.

6. Pengusir Serangga Alami

Serai juga dikenal efektif sebagai bahan alami pengusir nyamuk dan serangga karena aromanya yang kuat.


 Kekurangan dan Efek Samping Serai

Meski memiliki banyak manfaat, serai juga memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Tidak dianjurkan dikonsumsi berlebihan, karena dapat menyebabkan iritasi lambung pada orang sensitif.

  2. Ibu hamil dan menyusui sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsi serai sebagai ramuan herbal rutin.

  3. Alergi kulit dapat terjadi jika minyak serai digunakan langsung tanpa pengenceran.

Kunci utamanya adalah penggunaan secukupnya dan tidak berlebihan.


 Serai sebagai Tanaman TOGA

Serai sangat cocok ditanam di pekarangan rumah karena:

  • Mudah tumbuh dan cepat berkembang

  • Tidak memerlukan perawatan rumit

  • Bisa dimanfaatkan kapan saja, baik sebagai bumbu maupun obat tradisional

Tak heran jika serai menjadi salah satu tanaman TOGA favorit di berbagai daerah.

Serai adalah contoh nyata bahwa tanaman sederhana di sekitar kita bisa memiliki manfaat luar biasa. Selain memperkaya cita rasa masakan, serai juga berperan sebagai tanaman herbal yang mendukung kesehatan keluarga jika digunakan dengan bijak.


📚 Sumber Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

  2. Wijayakusuma, H. Tanaman Berkhasiat Obat Indonesia. Pustaka Kartini

  3. World Health Organization (WHO). Medicinal Plants in Traditional Medicine

  4. Harborne, J.B. Phytochemical Methods. Springer

  5. National Center for Biotechnology Information (NCBI) – Cymbopogon citratus studies

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas