Monday, February 2, 2026

Perfect Hero Bab 310 : Penghinaan untuk Bellina dan Melan

 


“Ma, Yeriko belain kita. Aku yakin, bisa dengan mudah menghancurkan hidup Yuna,” bisik Bellina di telinga Melan.

Melan tersenyum puas. Mereka memilih beberapa pakaian mahal dan membawanya ke kasir.

“Kamu yakin, berbaik hati sama mereka?” bisik Yuna di telinga Yeriko.

Yeriko tersenyum. Ia merogoh dompet di sakunya. Mengeluarkan kartu dan memberikannya pada kasir.

Kasir tersebut tersenyum sambil mengangguk sopan.

Bellina tersenyum bahagia. Ia menatap Yeriko penuh cinta. “Makasih ya!” Ia melangkah mendekati Yeriko.

Yeriko tersenyum menatap Bellina. “Iya. Ini terakhir kalinya kalian belanja di sini,” tegas Yeriko.

Bellina menghentikan langkahnya. “Maksud kamu?”

Yeriko menyandarkan lengannya dengan santai ke meja kasir. Ia mengerdipkan satu matanya ke pegawai kasir. “Blacklist mereka berdua dari semua outlet penjualan brand kita!” pintanya sambil tersenyum.

“Kamu …!?” Bellina menatap geram ke arah Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil sambil melirik Bellina. Tangannya asyik memainkan dompet miliknya.

Yuna menahan tawa melihat ekspresi wajah Bellina. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di ketiak Yeriko. “Ini rencana kamu?” bisik Yuna.

Yeriko tersenyum kecil. Ia mengelus rambut Yuna sambil menatap Bellina dan Melan.

Bellina dan Melan langsung menatap tajam ke arah Yuna.

“Kurang ajar kamu, Yun!” sentak Melan.

“Kamu mau ngajak berantem, hah!?” Bellina berusaha menerobos tubuh Yeriko dan bersiap mencakar wajah Yuna. “Apa maksud kalian blacklist kami, hah!?”

Yeriko tersenyum sinis menatap Bellina. “Alasannya simple. Toko ini sudah menjadi bagian dari anak perusahaan Galaxy Group. Aku punya wewenang mutlak untuk mem-blacklist orang seperti kalian.”

Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya tetap saja tertuju pada Yuna. “Pasti kamu yang udah nyuruh suami kamu ini, kan? Kalo berani, hadapi aku sendirian! Nggak usah berlindung di balik punggung suami kamu ini!” sentak Bellina.

Yuna langsung melangkah sambil mengangkat dagunya menatap Bellina. “Kamu pikir, aku takut sama kamu, hah!?”

Yeriko menahan tubuh Yuna agar tidak terpancing dengan ucapan Bellina. “Nggak usah diladeni!” pinta Yeriko sambil berbisik. “Biarkan mereka gila secara perlahan!”

Yuna langsung menatap tajam ke arah Bellina. Jiwa mudanya meronta-ronta. Ingin sekali ia bergulat dengan Bellina saat itu juga.

“Sudah, Yun. Nggak usah ribut di sini!” pinta Adjie. “Malu, dilihatin banyak orang.”

“Dia yang cari gara-gara duluan!” sahut Yuna.

Melan dan Bellina geram. Namun, tatapan Adjie dan Yeriko yang tertuju ke arah mereka, membuat mereka tidak bisa apa-apa.

“Ayo, kita pergi dari sini!” ajak Melan sambil menarik lengan Yeriko.

Bellina mengangguk. Ia mengikuti perintah ibunya untuk segera pergi dari sana.

“Eh, tunggu!” seru Yeriko.

Melan dan Bellina berbalik dan menatap Yeriko.

“Kenapa lagi?” tanya Melan.

Yeriko mengambil beberapa paper bag yang ada di atas meja kasir. “Ini barang kalian!” tuturnya sambil melemparkan paper bag tersebut ke lantai, tepat di depan kaki Bellina dan Melan.

Bellina dan Melan terkejut. Mereka ingin memaki Yeriko, hanya saja kekuatan mereka tak cukup dan hanya ternganga menatap beberapa paper bag yang berserakan di kaki mereka.

“Bel, ini baju mahal-mahal. Dibuang gitu aja,” celetuk Melan. Ia langsung menatap tajam ke arah Yuna dan Yeriko. “Kalian sengaja mau menghina kami?”

Yeriko tersenyum sinis. “Bukannya kalian suka barang-barang mahal? Kalau nggak suka, buang aja ke tempat sampah!”

Bellina menatap kesal ke arah Yeriko dan Yuna. Ia sangat cemburu dengan Yuna. Memiliki suami yang tampan dan sangat kaya. Ia dan mamanya sengaja memilih pakaian mahal untuk menguras dompet Yeriko. Ternyata, nilai sepuluh juta dari pakaian itu hanya dianggap sampah bagi Yeriko. Dengan kesal, ia dan mamanya memungut pakaian-pakaian tersebut dan bergegas meninggalkan Yuna dan dua lelaki yang bersama Yuna.

Yuna tertawa kecil menatap kepergian Bellina dan Melan. “Rasain!” umpatnya.

Yeriko tersenyum kecil.

“Nak, kamu nggak perlu berlebihan seperti ini sampai membuang banyak uang untuk melawan mereka!” pinta Adjie.

Yeriko tersenyum menatap ayah mertuanya. “Aku nggak buang uang banyak kok, Yah. Sudah seharusnya aku membela kalian.”

“Tapi, nggak perlu bertindak gegabah sampai harus mengakuisisi brand seperti ini.”

Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Iya. Kenapa kamu bisa mengakuisisi brand hanya dalam hitungan menit?” tanyanya. Ia tak menyangka kalau Yeriko memiliki kekuatan yang begitu besar untuk menguasai pasar.

Yeriko tertawa kecil. “Aku bukan Bandung Bondowoso yang bisa bikin Candi Prambanan untuk Roro Jonggrang dalam semalam atau Sangkuriang yang bisa bikin Gunung Tangkuban Perahu. Proses akuisisi brand ini udah lama. Kebetulan aja momennya pas banget buat ngadepin mereka.”

“Hah!? Serius?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka kalau bisa melawan Bellina dengan mudah.

“Sebenarnya, mereka itu siapa?” tanya Adjie pura-pura tidak tahu agar Yuna tidak mencurigai ingatannya.

“Mereka saudaranya Yuna. Istri dan anaknya Oom Rudi. Yang kemarin ketemu sama Ayah di rumah sakit,” jawab Yeriko.

“Oh. Itu mereka? Kenapa mereka kelihatan jahat? Bukannya Yuna bilang, selalu diperlakukan dengan baik di rumah pamannya?”

Yuna langsung mencubit lengan Yeriko. “Ayah hilang ingatan. Harusnya, kamu nggak kasih tahu siapa mereka. Nanti ayah jadi kepikiran,” bisik Yuna.

“Ayah harus tahu gimana keluarga paman kamu itu memperlakukan kamu selama ini,” sahut Yeriko.

Yuna mengerutkan hidungnya sambil menginjak sepatu Yeriko.

“Aw …!” seru Yeriko. “Kamu mau nindas suami kamu sendiri? Aku baru aja nolongin kamu,” tuturnya geram.

Yuna tertawa kecil. “Kamu baru aja bongkar rahasiaku.”

“Itu bukan rahasia. Semua orang juga tahu,” sahut Yeriko.

Yuna mengerutkan hidungnya.

“Sudahlah, nggak perlu berantem!” pinta Adjie. “Sekarang, Ayah sudah tahu siapa mereka. Ayah akan melindungi kamu dan cucu Ayah.”

Yuna tersenyum menatap ayahnya. “Maaf, Yah. Aku cuma nggak mau bikin Ayah khawatir. Aku baik-baik aja, kok. Walau mereka sering marahin aku, mereka masih ngasih aku makan sehari tiga kali,” tuturnya sambil tersenyum.

Adjie tersenyum menatap Yuna. Ia kini mulai mengerti bagaimana Yuna menjalani kehidupannya seorang diri. Andai ia bisa bangun lebih cepat, Yuna tidak akan mengalami banyak penderitaan.

“Bu, ini belanjaan Ibu.” Seorang pelayan toko menyodorkan beberapa paper bag kepada Yuna.

“Biar Ayah yang bawa!” pinta Adjie sambil menyambar paper bag tersebut dari tangan pelayan toko.

Pelayan toko itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia bergegas pergi, melayani pelanggan toko lainnya.

“Mau belanja apa lagi?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Udah nggak ada. Kita langsung pulang aja!” pinta Yuna.

“Belanja bahan makanan dulu, ya!” pinta Yeriko. “Di rumah Ayah, pasti belum ada apa-apa.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Oke.”

Yeriko mengajak Yuna dan Adjie berkeliling di supermarket. Ia berniat untuk membuatkan makanan khusus untuk ayah mertuanya. Ia membeli bahan-bahan makanan juga keperluan bulanan lainnya untuk ayah mertuanya.

“Nak, kamu nggak perlu seperti ini. Membuang banyak uang untuk kami!” tutur Adjie saat melihat banyak belanjaan yang dibeli oleh Yeriko dan Yuna.

“Ayah nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko. “Aku sudah anggap Ayah seperti ayah kandungku sendiri.”

Adjie tersenyum menatap Yeriko. Ia tak menyangka kalau sekarang ia memiliki seorang putera yang begitu menyayanginya. Ia juga akan memperlakukan Yeriko seperti anaknya sendiri.

 

 

 




0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas