Friday, July 11, 2025

Perfect Hero Bab 277 : Visual Light Diamond Ring for Wedding Day

 


“Aku harus bisa!” tutur Refi menyemangati diri sendiri sambil terus melatih kakinya untuk bisa berjalan normal.

“Yeriko bener-bener nggak pernah lihat aku lagi. Ini semua karena perempuan itu. Kalau aku nggak sembuh, aku nggak bisa layak ada di sisi Yeriko.” Refi melangkahkan kakinya perlahan tanpa berpegangan. Ia meringis menahan nyeri di kakinya. Tapi, saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya.

Yeriko telah memberikan pengobatan terbaik untuk kesembuhan kakinya. Ia mengira kalau Yeriko masih mencintainya. Ia pikir, cintanya pada Yuna hanyalah sementara. Suatu saat, ia pasti memiliki kesempatan untuk kembali mendapatkan hati Yeriko.

“Semuanya sudah hilang. Nasib karir dan percintaanku begitu menyedihkan. Kenapa aku harus kembali dalam keadaan seperti ini? Yeriko, nggak akan melihat aku kalau aku nggak bisa hidup normal.”

“Udah bisa jalan?” Suara di belakang Refi, tiba-tiba mengejutkannya. Ia berbalik dan menatap sosok pria yang berdiri di hadapannya. Ia mengangguk sambil tersenyum bahagia. “Makasih ya, udah bantu aku berobat sampai bisa sembuh!”

Chandra tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Refi melangkah perlahan menuju kursi yang ada di taman tersebut.

Chandra mengikutinya sembari melihat perkembangan kaki Refi.

“Yeriko nggak pernah ke sini lagi. Apa dia ...”

“Dia nggak akan ke sini. Kamu jangan terlalu berharap sama dia. Dia nggak akan kembali ke kamu.”

Refi tersenyum. “Aku tahu, saat ini Yeriko memang lagi tergila-gila sama cewek itu. Tapi, aku yakin banget kalo perasaan itu cuma sementara. Setelah beberapa tahun ke depan, dia bakal bosan dan ninggalin cewek itu.”

“Kamu terlalu percaya diri ngomong begitu,” sahut Chandra. “Sayangnya, Ayuna bukan seperti wanita yang kamu kira. Yeriko menyayangi dia melebihi apa pun.”

Refi tersenyum kecil. “Lihat aja! Aku pasti bisa ngerebut Yeriko lagi.”

Chandra tersenyum sinis. “Lebih baik, kamu berhati-hati kalau memang mau ngelakuin itu.” Ia berbalik dan melangkah pergi.

“Yeriko nggak mungkin nyakitin aku!” seru Refi.

Chandra tersenyum sinis. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. “Aku udah peringatin kamu. Yeriko jauh lebih berbahaya dari yang kamu pikirkan,” ucapnya dan melangkah pergi meninggalkan Refi seorang diri di taman rumah sakit.

Refi menitikan air mata. Ia tidak akan  menyerah begitu saja sampai mendapatkan kembali cinta Yeriko. “Yer, kamu udah bener-bener lupa sama apa yang terjadi sama kita dulu? Kenapa kamu bisa secepat ini ngelupain aku?” Ia terisak sambil menutup wajahnya.

Refi bertekad untuk sembuh. Membuat dirinya layak berada di sisi Yeriko. Menyingkirkan Yuna dari hati Yeriko untuk selamanya. Ia terus menipu dirinya sendiri kalau orang yang disukai Yeriko adalah dirinya.

 

 

...

 

“Ma, gimana persiapan pernikahanku?” tanya Yeriko saat mamanya sedang bersantai di kamarnya. Semenjak mengetahui kehamilan Yuna. Ia mengambil alih semua persiapan pernikahan dan tidak mengizinkan Yuna ikut sibuk memikirkan pernikahan mereka.

“Semuanya lancar. Siapa dulu yang ngurusin,” jawab Rullyta bangga. Ia mengeluarkan kotak cincin yang terbuat dari keramik dengan penutup kaca yang terlihat sangat mewah.

Yeriko tersenyum lebar melihat Emerald Diamond yang ia pesan khusus untuk Yuna dari seorang desainer perhiasan terkenal di Swiss. Ia langsung tersenyum sambil merangkul pundak mamanya.

“Soal selera wanita, Mama tetap nomor satu,” ucap Yeriko sambil menciumi pipi mamanya.

“Iya, dong. Mama pasti ngasih yang terbaik buat wanita kesayangan anak mama.”

Yeriko menatap kotak cincin di tangannya dengan mata berbinar. Ia tahu, apa yang ia miliki tak akan pernah bisa sebanding dengan Yuna. Ia akan mempersembahkan yang terbaik untuk wanita yang kini menjadi ratu di hatinya. “Yun, semoga kamu suka sama cincin ini,” bisiknya dalam hati.

“Itu masih belum seberapa, coba buka!” perintah Rullyta.

Yeriko tersenyum menatap mamanya sejenak. Ia melepas rangkulan tangannya dan membuka kotak cincin itu perlahan. “Aargh ...! Gila!” Yeriko langsung bangkit dan ingin melompat setinggi-tingginya.

Rullyta tersenyum. “Gimana? Bagus kan?” Rullyta menyambar kotak cincin dari tangan Yeriko dan menutupnya kembali.

“Itu cuma sebentar keluarnya?” tanya Yeriko.

“Cuma lima belas detik,” jawab Rullyta.

“Kenapa nggak bisa muncul terus?”

“Mmh ... kata designernya, wanita akan kagum pada detik pertama, detik berikutnya ... dia harus mengagumi pemberi cincin ini. Nggak boleh sampai lupa sama yang ngasih cincin karena sibuk mengagumi visual light yang keluar dari kotak ini.”

Rullyta tersenyum. Ia membuka kotak cincin itu perlahan. Saat penutup kaca itu terbuka sempurna, dari cincin tersebut keluar cahaya warna-warni yang membentuk siluet pasangan pria dan wanita. Cahaya itu hanya muncul dalam hitungan detik.

“Mama dapetin ini dari mana?” tanya Yeriko. Ia meraih cincin tersebut dan mengamatinya. “Aku Cuma pesan cincin khusus untuk Yuna. Kenapa bisa keluar kayak gitu? Keluarnya dari mana?” Ia terus memerhatikan cincin berlian di tangannya. Di bagian dalamnya terukir indah namanya dan nama Yuna.

Rullyta tersenyum sambil menutup kotak cincin yang ada di tangannya. “Keluarnya bukan dari cincin itu. Tapi dari sini,” ucapnya sambil menunjukkan kotak cincin yang ada di tangannya.

“Eh!? Mama dapet kotak itu dari mana?”

“Mama pesan langsung dari seniman keramik di Budapest. Kalau visual yang muncul ini, mama pesan langsung dari Master Art Visual and Lighting Design di New York. Kebetulan, mama kenal sama dia. Jadi, mama manfaatin aja. Lumayan, dapet diskon tiga puluh persen, hihihi.”

“Serius, Ma?”

Rullyta menganggukkan kepalanya. “Mama perhatikan, selera seni Yuna juga cukup tinggi. Jadi, Mama bakal kasih sesuatu yang unik. Bikin dia nggak akan pernah bisa ngelupain kamu.”

Yeriko tersenyum bangga menatap wajah mamanya.

“Kamu tahu nggak, setelah Mama pesen ini. Temen Mama langsung kepikiran buat ngerancang kotak perhiasan dengan konsep yang sama. Supaya, semua pasangan di dunia ini merasakan kebahagiaan yang tidak terlupakan saat mereka lamaran atau menikah.”

“Aku berharap kalau cuma aku satu-satunya orang di dunia ini yang punya kayak gini,” celetuk Yeriko. “Mudahan produk temen Mama itu gagal.”

“Eh!? Kamu doanya jelek banget? Udah dikasih diskon tuh sama dia.”

“Bodo amat!” sahut Yeriko sambil merebut kotak cincin dari tangan Rullyta. “Ini kotak keramik design khusus buat kami kan?” tanya Yeriko.

“Menurut kamu?” Rullyta tersenyum menatap Yeriko.

Yeriko mengamati kotak keramik dengan penutup kaca transparan itu. Bentuknya sangat unik, tapi ia juga tidak yakin kalau dia satu-satunya pemilik barang tersebut di dunia ini.

Rullyta tersenyum kecil. “Lihat di bawahnya!” perintah Rullyta.

Yeriko langsung mengangkat kotak tersebut ke atas kepalanya. “Wow ...!” serunya saat melihat nama Yuna dan namanya terukir di bawah kotak tersebut. “Mama memang paling the best!” Ia mengacungkan jempol dan mengembalikan cincin tersebut ke tangan Rullyta.

“Mama simpan sampai hari pernikahan kami!” pinta Yeriko. “Aku balik ke kamar dulu.”

Rullyta mengangguk. “Kalian nginap di sini semalam doang?”

Yeriko mengangguk.

“Gimana kalau Yuna, tinggal aja di rumah ini selama dia hamil?” tanya Rullyta.

“Mama jangan sabotase istriku!” sahut Yeriko.

Rullyta membelalakkan matanya mendengar ucapan Yeriko.

Yeriko terkekeh dan melangkah keluar dari kamar mamanya.

“Anak nggak tahu disayang. Nggak tahu apa kalau mamanya kesepian di rumah ini? Lihat aja, kalo anak kalian sudah lahir. Mama culik ke rumah ini setiap hari,” gumam Rullyta kesal. Ia menyimpan kembali kotak cincin ke laci nakas dan berbaring di tempat tidur.

Yeriko terus tersenyum sampai masuk ke dalam kamarnya. Ia sangat bahagia karena mamanya menyayangi Yuna sepenuh hati, begitu juga sebaliknya. Dua wanita yang paling ia cintai di dunia ini, saling menyayangi dan membuatnya merasa sangat beruntung.

Yeriko langsung berbaring di samping Yuna. Ia mengetahui kalau istrinya hanya pura-pura terlelap. “Belum tidur?” bisiknya.

Yuna tersenyum mendengar bisikan Yeriko.

Yeriko memeluk erat tubuh Yuna dari belakang.

“Dari mana?” tanya Yuna lirih.

“Dari kamar mama,” jawab Yeriko sambil meletakkan telapak tangannya di perut Yuna. Kini, ia terlelap sambil memeluk dua orang yang yang sangat berarti dalam hidupnya. Istrinya dan anaknya yang masih dalam perut Yuna.

 

(( Bersambung ... ))

 

Mama Ruly emang mama mertua paling the best, bisa juga ngasih kejutan ...

Stay terus di Perfect Hero biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

Meet me on instagram : @vellanine.tjahjadi

Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 276 : Pelukkis Ye Couple || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna membuka mata perlahan dan mendapati suaminya masih terlelap di sisinya. Biasanya, Yeriko selalu bangun terlebih dahulu untuk bersiap ke kantor. Yuna hanya tersenyum menatap wajah suaminya. Ia turun dari tempat tidur dengan hati-hati agar tidak membangunkan Yeriko.

Akhir-akhir ini, Yeriko terlihat sangat sibuk. Yuna sangat mengerti bagaimana pekerjaan suaminya. Ia tidak ingin membangunkan Yeriko. Jarang sekali, ia melihat suaminya masih terlelap di sampingnya hingga matahari terbit.

Yuna melangkahkan kakinya perlahan menuju dapur.

“Mbak Yuna sudah bangun?” tanya Bibi War yang sedang berada di dapur.

Yuna mengangguk. Ia melangkah menuju dapur dan membuat segelas susu untuk Yeriko.

“Mas Yeri belum bangun, tho?”

Yuna menggelengkan kepala. “Belum, Bi. Kayaknya, dia kecapean. Akhir-akhir ini sering lembur.”

“Dia makin semangat nyari uang karena udah mau punya anak,” celetuk Bibi War.

“Ah, Bibi bisa aja.”

“Biasanya, laki-laki akan jauh lebih semangat cari uang kalau sudah punya anak,” bisik Bibi War sambil menggenggam pundak Yuna.

Yuna tersenyum kecil. Ia membawa segelas susu dan kembali naik ke kamarnya. Ia melangkah perlahan dan meletakkan gelas susu hangat tersebut ke atas nakas.

Yuna melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia melakukan semuanya dengan hati-hati agar suaranya tidak mengganggu tidur suaminya.

Tepat jam tujuh pagi, tirai kamar mereka terbuka secara otomatis. Yuna lupa dengan hal ini. Ia langsung berjalan perlahan, melindungi Yeriko dari terpaan sinar matahari pagi itu.

Yeriko memicingkan mata, ia melihat Yuna yang berdiri di tepi ranjang. “Ngapain di situ?”

Yuna meringis menatap Yeriko. Usahanya untuk membiarkan Yeriko terlelap, gagal.

“Udah siang ya? Aku kesiangan.” Yeriko menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.

Yuna melongo menatap suaminya yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Yeriko keluar dari kamar mandi. Ia membuka lemari pakaiannya, mengenakan kaos oblong dan celana pendek.

Yuna mengernyitkan dahi melihat penampilan suaminya yang biasa saja. Sementara, ia sudah menyiapkan kemeja dan jas untuk suaminya pergi bekerja. “Nggak kerja?” tanyanya.

Yeriko menggelengkan kepala. Ia menghampiri Yuna yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

“Jalan yuk!” ajak Yeriko.

“Eh!?” Yuna melongo sambil menyuap potongan buah ke mulutnya.

“Ayo!” Yeriko menarik lengan Yuna.

“Ke mana?”

“Ke ... mana-mana.”

“Bentar. Aku ganti baju dulu.”

“Pake ini aja!” pinta Yeriko sambil menatap mini dress warna pastel yang dikenakan Yuna.

“Tapi ...”

“Mau jalan bareng aku atau nggak?” tanya Yeriko. “Ntar aku bawa cewek lain buat nemenin aku,” godanya.

“Iih ... awas aja kalo berani!” dengus Yuna sambil meraih ponsel di atas meja. Ia melingkarkan lengannya ke lengan Yeriko dan melangkah beriringan keluar dari kamar.

“Bi, hari ini nggak usah masak buat Yuna. Kami keluar sampai malam.” Yeriko menghampiri Bibi War yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah mereka.

Bibi War menganggukkan kepala.

Yeriko tersenyum, ia bergegas membawa Yuna masuk ke mobil dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya.

Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di salah satu mall yang terletak di jalan Dharmahusada, Surabaya.

Yuna tersenyum sambil menatap tulisan ‘Galaxy Mall’ yang ada di hadapannya. “Kamu ke sini bukan mau sidak kan?” bisik Yuna.

“Sidak apaan?” sahut Yeriko. “Nggak ada yang tahu kalau aku pemilik gedung ini selain managernya. Dia juga nggak akan lihat kita.” Yeriko menggenggam tangan Yuna dan mengajaknya masuk ke pusat perbelanjaan tersebut.

Yuna tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko membawanya jalan-jalan. Membuatnya merasa, masih berpacaran dengan suaminya itu.

Mereka terus berkeliling, kemudian langkah mereka terhenti pada salah satu toko perlengkapan bayi. Yuna langsung mengajak Yeriko masuk untuk melihat-lihat.

“Iih … lucu-lucu!” seru Yuna sambil memerhatikan  beberapa mainan bayi.

“Ambil semua yang kamu mau!” perintah Yeriko.

Yuna mengangguk. “Kamu mau belikan apa buat anak kita?”

Yeriko mengedarkan pandangannya. Ia menghampiri mobil-mobilan yang ada di sudut ruangan. “Yang ini, gimana? Keren kan kalo anak kita jadi pembalap.”

Yuna tertawa kecil. “Keren, sih. Tapi bundanya nggak akan izinin anaknya jadi pembalap!” dengus Yuna sambil berbalik pergi.

“Eh!?” Yeriko melongo dan langsung mengejar langkah Yuna. “Kenapa anak kita nggak boleh jadi pembalap?”

“Kita belum tahu anak kita ini cowok atau cewek. Kalo cewek gimana? Mau kamu ajarin balapan? Walaupun cowok, aku juga nggak mau anakku ngelakuin hal berbahaya.”

Yeriko tersenyum kecil. “Ya udah, ini aja. Gimana?” tanya Yeriko sambil melihat kuda-kudaan yang terbuat dari kayu. “Ini bisa dipakai cewek atau cowok. Tempat duduknya juga nyaman.” Ia menepuk-nepuk kecil tempat duduk berbentuk kuda tersebut.

Yuna tersenyum sambil mengelus  kuda kayu tersebut. Ia mengangguk setuju.

“Mbak, bungkus yang ini satu!” perintah Yeriko pada pelayan yang berjaga.

Pelayan tersebut mengangguk dan langsung menyiapkan barang yang diinginkan oleh Yeriko.

“Kita bikin kamar anak di sebelah kamar kita aja. Mmh … kamu mau  yang mana?” tanya Yeriko sambil memilih tempat tidur untuk anaknya.

“Yang ini lucu.” Yuna menunjuk tempat tidur bayi berwarna pink.

“Lebih baik pilih yang warna netral aja!”

Yuna menganggukkan kepala. Mereka akhirnya sibuk memilih perlengkapan bayi untuk anaknya.

Yeriko langsung menelepon Angga untuk menjemput barang-barang yang mereka beli. Sebab, Yeriko masih ingin mengajak Yuna menonton film.

“Kamu mau nonton apa?” tanya Yeriko saat mereka memasuki pintu penjualan tiket bioskop.

“Mmh … apa ya?” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya. “Yang terbaru apa?”

“Spiderman-Homecoming.”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak suka.”

“Terus, mau nonton yang mana? Film lokal aja?”

Yuna memonyongkan bibirnya.

“Film horror mau nggak?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku bingung.”

Yeriko tersenyum kecil. “Yang ini mau?” tanya Yeriko sambil menunjuk poster yang menunjukkan wajah Pamela Bowie.

Yuna menggelengkan kepala.

“Terus?”

Yuna menimbang-nimbang sejenak. “King Arthur aja lah.”

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu tunggu sini!” pinta Yeriko sambil meminta Yuna untuk duduk di salah satu sofa. Kemudian, ia masuk ke dalam antrian tiket.

Yuna terus tersenyum menatap tubuh suaminya yang menjulang tinggi, tampan dan sangat memesona. “Ya Tuhan … aku kok bisa dapet suami seganteng ini?” gumam Yuna dalam hati.

Yeriko berdiri dalam antrian sambil sesekali menoleh ke arah Yuna.

Yuna mulai mengerutkan bibirnya saat mendapati beberapa pasang mata wanita yang ada di sana tertuju pada suaminya. “Mereka nggak tahu kalau dia pria beristri?” batinnya kesal.

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah kembali menghampiri Yuna sambil membawa potongan tiket, minuman dan makanan ringan untuk mereka.

“Berapa menit lagi?” tanya Yuna.

“Dua puluh menit lagi,” jawab Yeriko sambil duduk di sebelah Yuna. Ia langsung menyandarkan kepalanya di pundak Yuna.

“Aku pikir, kamu bakal booking satu bioskop ini dan nggak perlu ngantri kayak gini.”

“Seharusnya aku ngelakuin itu. Lihat! Di tempat seramai ini, semua cowok pada ngelihatin kamu. Mereka nggak tahu apa kalo kamu sudah bersuami?”

Yuna tertawa kecil mendengar ucapan Yeriko. Ia tidak menyangka kalau mereka punya pemikiran yang sama.

“Kenapa ketawa?” tanya Yeriko.

“Nggak papa,” jawab Yuna. Ia mengelus kepala Yeriko sambil menyembunyikan bibirnya.

“Hmm … resiko punya istri cantik. Ke mana-mana, jadi pusat perhatian banyak orang,” celetuk Yeriko.

“Kamu sadar nggak kalo kamu juga begitu?”

“Eh!?” Yeriko langsung menatap wajah Yuna.

“Lihat!” Yuna menunjuk beberapa cewek dengan dagunya. “Kamu udah berhasil bikin mereka semua cemburu!” ucapnya terkekeh geli.

Yeriko tersenyum sambil mengecup pipi Yuna beberapa kali.

“Iih, jangan kayak anak kecil! Malu tahu!”

“Malu kenapa? Aku ini kan suami kamu.”

“Iya, iya.” Yuna menepuk-nepuk pipi Yeriko.

Beberapa menit kemudian. Mereka sudah duduk berdampingan di dalam theater dan menikmati film yang sedang diputar.

Usai menonton film, mereka kembali berjalan-jalan.

Yuna dan Yeriko duduk di salah satu kursi tempat pengunjung beristirahat sambil bercanda ceria. Pasangan serasi ini berhasil merebut perhatian seorang seniman lukis yang ada di tempat itu.

“Ay, lihat!” Yuna menunjuk hasil karya pelukis tersebut dari kejauhan. Ia langsung menarik lengan Yeriko, mengajaknya menghampiri pelukis tersebut.

“Mas, ini lukisan kami ya?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

Pelukis itu mengangguk sambil tersenyum. “Saya tertarik dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah kalian.”

Yuna tersenyum. Ia mengeluarkan ponselnya. Memotret lukisan tersebut dan menggunakannya sebagai wallpaper.  “Bagus!”

Pelukis itu tersenyum. Ia ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Yuna.

Yeriko merogoh dompet dari saku celananya. “Mas, ini kartu nama saya!” Ia menyodorkan kartu tersebut kepada pelukis itu. “Saya beli lukisan ini. Kirim ke alamat itu ya! Berapapun harganya, asisten saya akan mengurus pembayarannya.”

“Wah, terima kasih, Mas!” seru pelukis tersebut sambil menyalami tangan Yeriko.

Yeriko mengangguk. Ia merangkul pinggang Yuna dan mengajaknya pulang ke rumah kakeknya.

 

(( Bersambung ... ))

 

 

Perfect Hero Bab 275 : Triple Couple on Rooftop

 


“Yuna ... kamu nggak keberatan kan sama semua yang udah aku lakukan ke kamu?”

Yuna tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya. “Aku selalu bahagia sama apa pun yang kamu lakukan. Sekalipun, kamu mengurung aku di dalam kamar seharian.”

Yeriko tersenyum kecil. “Kamu itu tawanan terindah yang aku punya sepanjang hidupku.”

“Emangnya ada tawanan lain selain aku?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kenapa kamu bilang terindah? Kalau terindah itu artinya lebih indah dari yang lain. Kalo nggak ada yang lain, artinya nggak bisa dibilang ter-” Yuna tak dapat melanjutkan  kalimatnya saat bibirnya tiba-tiba disumbat oleh bibir Yeriko. Ah, ia merasa suaminya sangat manis. Mungkin, memang jauh lebih indah berpacaran setelah menikah. Ia tidak perlu menutupi dirinya dan membalas mencium Yeriko penuh gairah.

Mereka berdua sangat menikmati romansa yang menyembur dari hati mereka. Membuat bibir mereka tak henti bertautan.

“Ehem ...!”

Deheman suara Chandra menghentikan  ciuman mereka.

“Ciyee ... udah nikah masih aja romantis,” tutur Lutfi.

Yeriko tersenyum sambil merangkul pundak Yuna.

“Kalian di sini juga?” tanya Yuna.

“Kamu pikir, Yeriko bisa bikin ini semua sendirian?” sahut Jheni.

Yuna tertawa menanggapi ucapan Jheni. Ia langsung memeluk erat pinggang Yeriko.

“Kalian yang nyiapin ini semua?” tanya Yuna.

Jheni menganggukkan kepala. “Bukannya kamu pengen dilamar? Yeriko udah mewujudkan keinginan kamu, Yun. Selamat ya!”

Yuna ingin sekali menendang wajah Jheni saat itu juga. Ia malu karena ia sudah menikah dan masih menginginkan hal konyol yang seharusnya tidak ia ucapkan.

“Kamu ini ... bener-bener bikin aku malu!”

“Yaelah, ngapain malu. Semua cewek juga pengen dilamar kayak gini kali.”

“Oh ... iya, iya.” Yuna langsung tersenyum menatap Chandra. “Kamu kapan ngelamar Jheni?”

“Hahaha.” Lutfi tergelak sambil menatap Chandra. “Cepetan lamar, Chan!”

“Gayamu, Lut. Kayak kamu nggak-nggaknya aja.”

“Selow, Bro. Aku sama Icha mah santai.” Lutfi merangkul pundak Icha sambil memainkan alisnya.

“Lutfi galau mau nikahin yang mana. Ceweknya banyak banget! Hahaha.” Jheni tergelak.

“Fitnes kamu, Jhen!” sahut Lutfi.

“Fitnah!” seru Jheni kesal. “Aku lihat di gosip, kamu lagi deket sama artis selebgram yang rambutnya blonde itu.”

“Astaga! Itu mah Icha juga tahu. Cuma endorse villa doang.”

“Halah, modus!” sahut Jheni.

Sementara Icha hanya tertawa kecil. Ia sudah paham bagaimana sifat Lutfi. Jauh berbeda dengan Chandra dan Yeriko. Walau usianya sudah menginjak angka dua puluh tujuh, tetap saja masih kekanak-kanakkan.

“Udah, nggak usah berantem!” pinta Yuna. “Aku laper.”

“Ayo makan!” seru Lutfi.

“Aku nyiapin buat Yuna, bukan buat kamu!” sahut Yeriko.

“Kita nyiapin buat kamu. Buat kita juga dong!” sahut Lutfi sambil terkekeh.

“Kalian!?” Yeriko mendelik. “Aku minta meja makan yang romantis, berdua aja!”

“Ngalah sama yang masih belum nikah!” sahut Lutfi. “Abis ini, kalian kan tetep bisa berduaan di kamar. Sepuasmu, Yer!”

Yeriko menggeleng-gelengkan kepala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menoleh ke arah Yuna. “Sorry, semuanya jadi kacau kayak gini.”

Yuna tersenyum. “Nggak kacau, kok. Aku malah seneng bisa makan bareng mereka. Jarang banget kan?”

“Nah, bener!” sahut Lutfi sambil melenggang menuju meja makan. Yang lain, mengikuti langkahnya.

“Huu ... enak, nih!” seru Lutfi sambil duduk di salah satu kursi.

Yang lain selalu tersenyum melihat tingkah Lutfi. Mereka mulai menikmati makan malam bersama.

“Yer, ternyata kamu bisa romantis juga,” tutur Lutfi dengan mulut penuh makanan.

Yeriko hanya tersenyum kecil.

“Aku ngebayangin, pas kamu nyodorin cincin ke Kakak Ipar, turun hujan deras. Hahaha. Kacau!” Lutfi tergelak seorang diri.

“Senang banget lihat temen menderita!” sahut Jheni.

“Emangnya, mindahin restoran ke sini, idenya siapa?” tanya Yuna.

Semua orang langsung menunjuk ke arah Jheni.

“Kamu memang te-ope be-ge-te!” tutur Yuna sambil mengacungkan kedua jempolnya.

“Iya, dong!” sahut Jheni bangga. “Kamu suka kan kejutan yang romantis?”

Yuna tersenyum menatap Jheni.

“Yeriko bisa romantis juga,” tutur Jheni.

“Emang Chandra nggak bisa romantis?” tanya Yuna.

Jheni langsung tersenyum sambil menatap Chandra yang duduk di sampingnya. “Bisa?”

Chandra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Huh, lemah!” sahut Lutfi.

“Emang kamu bisa?” tanya Yuna.

“Gampang.” Ia memutar badannya menatap Icha yang duduk di sampingnya. “Lihat ya! Abis ini giliran kamu!” tuturnya sambil menatap Chandra.

Icha hanya tersenyum melihat tingkah Lutfi.

Lutfi meraih kedua tangan Icha. “Cha, di antara semua perempuan cantik yang aku kenal. Kamu bukanlah yang tercantik. Tapi, kamu berhasil bikin aku jatuh cinta tanpa alasan. Bikin aku takut setiap hari, takut kamu nggak ada lagi di sisiku. Bisakah kita terus bersama?” Lutfi menatap mata Icha serius.

Icha menahan tawa dalam hatinya. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Yes!” seru Lutfi sambil mengepal tangannya. “Giliran kamu!” Ia langsung menunjuk wajah Chandra.

Jheni terus tersenyum menatap Chandra. Ia tahu, Chandra tidak terlalu pandai berkata-kata. Terlebih, ketika berhadapan dengannya yang lebih banyak bicara dan juga pandai merayu.

Chandra menarik napas dalam-dalam dan memutar tubuhnya menatap Jheni. “Jhen ...!” panggilnya lirih.

“Mmh ...” Jheni tersenyum sambil menatap Chandra.

Chandra menatap serius ke arah Jheni. “Aku nggak bisa!” ucapnya sambil tertawa kecil. Ia malah salah tingkah dan merasa geli dengan dirinya sendiri.

“Hahaha.” Lutfi tergelak menatap wajah Chandra. “Kalian ini nggak pernah romantis apa?”

“Biasanya dia yang ...” Chandra menghentikan ucapannya saat mata Jheni mendelik ke arahnya.

Lutfi dan yang lainnya menahan tawa melihat hubungan Chandra dan Jheni.

“Dia keki, soalnya Jheni lebih jago kalo ngegombal. Hahaha.” Yuna ikut tertawa.

Jheni tersenyum kecil. “Dia nggak bisa ngegombal. Apalagi mau romantis-romantisan.”

“Tapi dia bisa nyium kamu kan, Jhen?”

“Pertanyaan apa itu?” dengus Jheni.

“Ya kali aja dia juga nggak punya inisiatif buat nyium kamu duluan. Jadi, kamu terus yang agresif.”

Jheni mencebik ke arah Lutfi.

“Idih, jangan-jangan beneran!?”

“Emang kenapa? Masalah buat lo!?” sahut Jheni kesal.

“Keenakan Chandra, dong! Tinggal terlentang aja dan menerima semuanya.”

Chandra hanya tertawa kecil menanggapi candaan Lutfi.

“Kamu ngiri ya?” dengus Yuna sambil menatap Lutfi.

“Weh, nggaklah. Laki-laki sejati harus punya inisiatif duluan!” sahutnya bangga.

“Halah, kamu berani ngomong tok!” celetuk Chandra.

Lutfi tertawa kecil. “Oh, jadi kamu nggak berani ngomong, langsung action aja?”

“Hahaha.”

“Lut, mereka udah dewasa. Nggak kayak kamu yang masih kayak anak-anak!” sahut Yuna.

Lutfi langsung membelalakkan matanya menatap Yuna. “Wah, meremehkan. Biar kelihatan masih anak-anak, aku udah bisa bikin anak.”

“Bikin dah!” sahut Yuna.

“Nanti lah, nikah dulu!”

“Ya udah, buruan nikah!”

“Iya. Nanti.”

“Hahaha. Lemah!”

Semua orang tertawa. Mereka menikmati makan malam bersama sambil terus bercanda hingga larut malam.

Yuna terus tersenyum dalam pelukan Yeriko. Mereka sangat bahagia menikmati kebersamaan dan kebahagiaan bersama sahabat. Bagi mereka, Lutfi, Chandra, Jheni dan Icha sudah seperti keluarga sendiri.

Usai makan malam, mereka kembali ke rumah masing-masing penuh suka cita.

 

(( Bersambung ... ))

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas