Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 261 || Kehebohan di Kolam Ikan

 


“Untungnya, kolamnya begini, Chan. Aku udah ngebayangin bakal nyemplung ke empang yang gede, berlumpur-lumpur dan kakiku dikelilingi banyak ikan. Geli banget, sumpah!” cerocos Lutfi sambil melangkahkan kakinya mengikuti pemilik peternakan lele tersebut.

 

“Ini udah termasuk peternakan modern,” sahut Chandra.

 

“Sepuluh kolam yang ini sudah siap untuk dipanen. Setiap kolam berisi sekitar lima ratus sampai tujuh ratus ikan. Kalian bisa mencari lele yang bertelur di antara sepuluh kolam ini. Kalau kolam yang lain, isinya masih kecil-kecil dan saya bisa pastikan kalau mereka tidak bertelur.” Bapak pemilik kolam tersebut menjelaskan.

 

“Kita disuruh nyari lele yang bertelur di sepuluh kolam ini?” Lutfi berkacak pinggang sambil menatap Yuna dan Yeriko dari kejauhan. “Mereka malah duduk santai di sana.”

 

“Yuna lagi hamil muda. Bahaya kalau ikut ke sini, lantainya licin gini. Biar aja Yeriko yang jagain dia,” sahut Chandra.

 

“Tapi ... nyari lele yang bertelur di antara kolam sebanyak ini, kamu pikir kita ini Bandung Bondowoso apa?”

 

Chandra menahan tawa. “Udah, kerjain aja! Demi Kakak Ipar kesayangan.” Ia memainkan kedua alisnya sambil menatap Lutfi. Kemudian, pandangan mereka tertuju pada Riyan.

 

GLEG!

 

Riyan menelan ludah mendapati tatapan dua pasang mata dari tuan muda yang terkadang memang menindas dirinya. Dia hanya seorang asisten yang tidak bisa melawan apa pun perintah dari atasannya.

 

Chandra dan Lutfi tersenyum dan menatap Riyan. “Kamu, cepetan cari lele yang bertelur!” perintah Lutfi dan Chandra sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

 

“Tapi, Mas ... kalau saya sendirian, tetep aja nggak bisa nemuin ikannya lebih cepat.”

 

“Nggak usah banyak alasan. Kerjain aja dulu!” perintah Lutfi.

 

Riyan mengangguk. Ia langsung menghampiri pemilik kolam-kolam tersebut. “Pak, gimana cara ngambil ikannya?” tanya Riyan.

 

“Ini!” Bapak pemilik kolam tersebut memberikan sebuah keranjang plastik yang berlubang. “Gini ...” Ia menarik jaring yang menjadi dasar kolam ikan tersebut. Ikan-ikan langsung terlihat berlompatan ke sana kemari. Ia langsung menangkap ikan-ikan tersebut menggunakan keranjang tanpa harus masuk ke dalam kolam.

 

Lutfi dan Chandra melongo melihat aksi pemilik kolam dan Riyan yang bisa dengan mudah mengambil ikan-ikan tersebut. Ia dan Chandra saling pandang, kemudian menertawakan diri sendiri.

 

“Sekalinya, gampang ngambil ikannya, Chan!” seru Lutfi. Ia segera mengambil keranjang plastik yang ada di dekat Riyan dan mulai mengambil ikan dari kolam yang ada di sebelahnya.

 

“Pak, cara bedain ikan yang bertelur sama yang enggak, gimana?” seru Lutfi.

 

“Lihat aja perutnya! Kalau besar, kemungkinan lagi hamil.”

 

“Cuma itu?”

 

“Iya.”

 

Lutfi dan Chandra akhirnya berusaha memilih ikan-ikan yang kemungkinan sedang bertelur.

 

“Astaga, Chan!” seru Lutfi.

 

“Kenapa?”

 

“Licin banget! Geli!” serunya bergidik.

 

“Bukannya kamu bilang, yang licin lebih enak?” tanya Chandra sambil tersenyum ke arah Lutfi.

 

Lutfi tertawa sambil menatap wajah Chandra. “Bangsat kamu, Chan!” Ia berjongkok dan berusaha menangkap seekor ikan dari keranjang plastik miliknya.

 

Riyan hanya tersenyum melihat dua pria yang tidak pernah kotor itu terlihat sangat jorok dan bau. Ia dan bapak pemilik peternakan itu memilah beberapa ikan.

 

“Asem nih ikan!” maki Lutfi sambil berusaha menangkap ikan. “Kamu ngece ya!?” dengusnya saat sudah berhasil menggenggam seekor ikan di tangannya.

 

Chandra tertawa kecil melihat tingkah Lutfi.

 

“Eh, kamu hamil atau nggak?” tanya Lutfi sambil mengamati ikan yang ia genggam.

 

“Kalo hamil, kamu mau tanggung jawab?” sahut Chandra sambil tertawa kecil.

 

“Kalo hamil, hidupmu akan berakhir,” tutur Lutfi sambil mendekatkan ikan tersebut ke hidungnya. Ia terdiam beberapa saat. “Ya Allah ... jahat banget sih aku. Bunuh ibu hamil!” serunya kemudian. “Kamu yang sabar ya!” pintanya sambil mengelus-ngelus ikan tersebut. “Pahalamu banyak karena sudah membantu memenuhi keinginan orang yang baik hati kayak Kakak Ipar.”

 

“Kamu jangan kelamaan ngomong sama ikan!” seru Chandra. “Nggak dapet-dapet, Ntar.”

 

“Heh, kalo ikannya nggak diajak ngomong, dari mana aku tahu dia beneran hamil atau nggak?” sahut Lutfi.

 

Chandra menggeleng-gelengkan kepala. “Baru disuruh nyari telur ikan aja sudah gila,” celetuknya.

 

Beberapa menit kemudian, datang beberapa pria yang membantu mereka memilih ikan. Mereka adalah pegawai yang biasa bekerja di tempat tersebut saat masa panen tiba. Sebelumnya, mereka akan berkebun atau melakukan aktivitas yang lain terlebih dahulu.

 

“Pak, ini semua pekerja Bapak?” tanya Lutfi sambil menatap bapak pemilik kolam tersebut.

 

“Iya.” Bapak tersebut menganggukkan kepala.

 

“Bajingan si Yeriko!” Ia bangkit sambil berkacak pinggang menatap Yeriko yang sedang duduk bersama Yuna. “Kalo di sini ada banyak pekerja, kenapa nyuruh kita?” Lutfi mengibaskan tangannya. Ia mengendus aroma tubuhnya yang bau amis.

 

“Yan, mana lele yang bertelur?” tanya Lutfi sambil menatap Riyan.

 

Riyan menunjuk salah satu ember dengan dagunya.

 

“Cara ngambil telurnya gimana?” tanya Lutfi lagi.

 

“Le, tolong ini diambil telurnya aja!” Bapak pemilik kolam itu menyuruh salah seorang pekerja yang terlihat masih muda.

 

“Inggih, Pak!” Pemuda itu terlihat sangat sopan dan langsung menjalankan perintah dari juragannya.

 

Lutfi memerhatikan pekerja itu memisahkan telur dengan cekatan. Yang lain juga memilah ikan yang sudah bertelur dengan cepat. Tidak seperti dirinya yang hanya dapat satu ekor selama beberapa menit.

 

“Minta, Mas!” pinta Lutfi. “Sedikit aja!” lanjutnya sambil menengadahkan telapak tangannya.

 

“Inggih, Mas!” Pemuda itu mengangguk sopan dan memberikan telur lele ke telapak tangan Lutfi.

 

Lutfi bergidik ngeri saat melihat banyak darah ikan segar yang mengucur dari tubuh ikan-ikan tersebut. Pemuda itu dengan cekatan memasukkannya ke dalam ember dan membersihkan darah yang tercecer di lantai. Kemudian, melanjutkan pekerjaannya kembali.

 

Lutfi tersenyum jahil sambil menatap telur lele yang ada di tangannya. Ia tahu kalau Yeriko tidak bisa mencium bau amis akhir-akhir ini. Ia melirik Yeriko dari kejauhan, kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Yeriko.

 

Lutfi mempercepat langkahnya sebelum Yeriko menyadari kedatangannya dengan tubuh yang bau amis.

 

“Kakak Ipar!” seru Lutfi sambil melompat ceria di hadapan Yuna.

 

Yuna langsung tertawa kecil melihat tingkah Lutfi.

 

“Ini telur lelenya!” serunya sambil menyodorkan telapak tangannya tepat di hadapan Yeriko.

 

“Uweek ...!” Perut Yeriko tiba-tiba berontak saat aroma amis di tangan Lutfi masuk ke hidungnya.

 

Lutfi tertawa kecil. “Yer, kamu yang nyuruh nyarikan telur lele. Kenapa malah mual?” tanya Lutfi.

 

Yeriko berusaha menepis tangan Lutfi. Tapi, Lutfi masih saja menggoda Yeriko, memaksa Yeriko mencium aroma amis di tangannya.

 

“Uweek ...!” Yeriko bangkit dan langsung memuntahkan isi perutnya di selokan.

 

“Lut, jauhin!” pinta Yuna sambil menepuk-nepuk bahu Yeriko. “Kamu jahat banget sih? Udah tahu Yeriko nggak bisa nyium bau amis, malah sengaja dikasihkan.”

 

“Uweek ...!” Yeriko terus mengeluarkan cairan dari mulutnya.

 

Lutfi terus tertawa melihat Yeriko yang tak berdaya dan langsung lemas karena beberapa kali muntah.

 

“Iih ... kamu ini jahil banget!” dengus Yuna sambil memukul bahu Lutfi. Ia segera masuk ke rumah pemilik kolam dan meminta segelas air hangat untuk Yeriko.

 

Lutfi terkekeh melihat Yeriko yang terduduk lemas di lantai.

 

“Lut, jauh-jauh!” pintanya tak bertenaga.

 

“Bukannya kamu nyuruh kami nyari ini? Ini udah dapat.” Lutfi kembali ingin menyodorkan tangannya.

 

“Lutfi!” sentak Yuna. “Kamu jauh-jauh dari suamiku!” perintah Yuna.

 

Lutfi terkekeh geli sambil berlalu pergi meninggalkan Yuna dan Yeriko.

 

“Kamu nggak papa? Minum dulu!” Yuna langsung berjongkok tepat di hadapan Yeriko.

 

Yeriko mengambil gelas berisi air hangat dari tangan Yuna. “Sampai kapan aku kayak gini? Mereka bakal sering ngerjain aku kalo tahu kelemahanku kayak gini.”

 

“Nggak akan lama, kok. Sabar ya!” Yuna tersenyum sambil menangkup wajah Yeriko dengan kedua telapak tangannya. Ia merengkuh kepala Yeriko ke dadanya.

 

“Aku pergi carikan buah dulu!”

 

Yeriko menahan lengan Yuna. “Aku nggak papa. Jangan pergi sendirian!” pintanya.

 

Yuna mengangguk. Ia membantu Yeriko bangkit.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah mendapatkan telur ikan yang mereka butuhkan. Riyan langsung memasukkan box berisi telur ikan tersebut ke dalam mobilnya.

 

“Jangan mendekat!” pinta Yeriko saat Riyan ingin mengatakan sesuatu pada Yeriko.

 

“Oh. Maaf, Pak Bos!”

 

“Kamu urus semuanya!” perintah Yeriko. “Kami pulang dulu!”

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Woy ... Yer, kamu mau ninggalin kami?” Lutfi dan Chandra muncul dari halaman belakang dan langsung berjalan mendekati Yeriko.

 

“Stop di situ!” pinta Yeriko saat Lutfi berada sekitar empat meter dari tempatnya berdiri.

 

“Lut, kalian bawa mobil sendiri-sendiri. Kita ketemu di rumah ya!” pinta Yuna. Ia dan Yeriko bergegas masuk ke dalam mobil.

 

“Kamu bisa bawa mobil?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk. Ia segera menyalakan mesin mobil dan bergegas pergi.

 

Yuna menghela napas. Ia merasa iba dengan kondisi suaminya yang harus mual-mual efek kehamilan Yuna.

 

(( Bersambung ... ))


 

 

Perfect Hero Bab 260 || Demi Telur Ikan || a Romance Novel by Vella Nine

 


Perselisihan antara Yuna dan Bellina, meninggalkan luka yang mendalam di hati Yuna.

 

Yeriko, memilih membatalkan rapat penting untuk perusahaannya dan membawa istrinya keluar. Menemaninya jalan-jalan agar suasana hati Yuna bisa menjadi lebih baik lagi. Kali ini, ia mengajak Yuna ke salah satu toko buku untuk mencari bahan bacaan seputar kehamilan dan bayi. Sebagai calon orang tua, mereka harus mempersiapkan diri dan belajar banyak hal.

 

“Ayah banyak kerjaan di kantor?” tanya Yuna. Ia memerhatikan suaminya selalu sibuk dengan ponselnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Ada Riyan yang sudah meng-handle semuanya.”

 

“Kalau emang sibuk, pergi ke kantor aja! Daripada gelisah kayak gini.”

 

Yeriko menggeleng. “Nggak ada hal lain yang bikin aku gelisah selain kamu.”

 

“Aku baik-baik aja, kok.” Yuna tersenyum ke arah Yeriko.

 

Yeriko balas tersenyum. “Aku tahu kalo kamu nggak baik-baik aja.”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada buku-buku yang ada di hadapannya. Sulit sekali menyembunyikan perasaannya saat ini.

 

Yeriko tersenyum sambil menyodorkan buku ke hadapan Yuna. “Ibu hamil nggak boleh stres! Masalah kemarin, aku sudah bicarakan dengan pengacara. Kalau Bellina beneran bawa kasus ini ke polisi, dia bersiap untuk bertarung di pengadilan. Bersantailah, semua akan baik-baik aja!” Ia merengkuh kepala Yuna ke dalam pelukannya.

 

“Lebih baik, kamu fokus memerhatikan perkembangan anak kita. Hal lain, percayakan sama suami kamu!”

 

Yuna mengangguk, ia tersenyum lega. Suaminya sangat hebat, selain cerdas, juga memiliki kekuatan. Ia yakin, Yeriko akan mampu menyelesaikan semuanya dengan mudah. Seharusnya, ia memang mengerahkan seluruh hidupnya untuk mempersiapkan kehidupan janin yang sedang ia kandung.

 

“Huft ...!” Yuna menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia mengambil beberapa buku dan membawanya menuju kasir.

 

“Itu aja yang dibeli?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengangguk.

 

Yeriko segera membayar buku yang dibeli Yuna. Ia terus memegang erat tangan Yuna ke mana pun mereka melangkah.

 

Usai menemani Yuna  ke toko buku, mereka bergegas kembali ke rumah.

 

Rumah Yeriko sangat berantakan di sana-sini. Ada banyak pekerja yang sedang mengubah seluruh dekorasi rumahnya.

 

“Mas, berapa lama lagi selesainya?” tanya Yeriko sambil menghampiri designer yang sedang mengawasi beberapa pekerjanya.

 

“Kami usahakan sore ini juga sudah rapi.”

 

“Oke.” Yeriko manggut-manggut. Ia menoleh ke arah Yuna yang berdiri di sampingnya.

 

“Kita pergi dulu!” ajaknya sambil membukakan pintu mobil untuk Yuna.

 

“Ke mana?”

 

“Ntar juga tahu. Masuk!” perintah Yeriko sambil menatap Yuna.

 

Yuna tersenyum dan kembali masuk ke dalam mobil.

 

Yeriko menutup pintu dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ia langsung membawa mobilnya menuju jalan raya. Ia langsung menelepon Chandra dan Lutfi yang sudah kembali dari liburannya.

 

“Lut, kamu di mana?” tanya Yeriko lewat sambungan telepon.

 

“Di rumah.”

 

“Chandra di situ juga?”

 

“Iya. Kenapa?”

 

“Aku share lokasi. Langsung ke sana ya! Emergency!” pinta Yeriko.

 

“Hah!? Ada masalah apa?” tanya Lutfi.

 

“Nggak usah banyak tanya! Langsung ke sana aja! Ntar aku kasih tahu kalau sudah sampai di sana. Nggak pake lama!”

 

“Iya. Ini langsung ke sana.”

 

Yeriko tersenyum sambil mematikan panggilan teleponnya.

 

“Kita mau ke mana sih?” tanya Yuna sambil mengedarkan pandangannya. Jalanan yang ia lewati sangat asing baginya.

 

“Cari makanan buat Bunda.”

 

“Jauh banget?”

 

“Bunda yang minta aneh-aneh,” jawab Yeriko sambil menepikan mobilnya di salah satu rumah yang berada jauh dari pusat kota.

 

“Siang, Pak Bos!” sapa Riyan yang sudah menunggu kedatangan Yuna dan Yeriko.

 

“Loh, kamu di sini?” tanya Yuna.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Ini ada apa sih? Kenapa tiba-tiba bawa aku ke sini?”

 

“Pak Bos yang nyuruh nyarikan tambak ikan lele yang paling besar. Aku dapat cuma di sini.”

 

Yuna menahan tawa, ia langsung menoleh ke arah Yeriko. “Kamu beneran mau cari telur lele?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Selamat siang, Pak!” sapa seorang pria setengah baya yang menggunakan kaos oblong dan sarung berwarna hijau lumut. “Saya yang punya kolam ikan di sini. Bapak mau cari ikan?” tanyanya sambil mengulurkan tangan ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko mengangguk dan langsung membalas uluran tangan bapak tersebut.

 

“Ada ikan yang lagi bertelur?” tanya Yeriko.

 

“Bertelur?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Tolong, Pak! Nyonya Muda lagi hamil dan pengen makan telur lele.”

 

“Mmh ... duh, gimana ya?”

 

“Gimana apanya ya?” Yeriko mengernyitkan dahi.

 

“Anu, Pak. Anu ... mmh, lele yang di kolam pemijahan baru pada menetas tadi pagi.”

 

“APA!?” Yeriko dan Riyan berseru bersamaan.

 

“Apa nggak ada ikan lele yang masih bertelur? Masa iya semuanya menetas barengan?” tanya Yeriko kesal.

 

“Iya, Pak. Untuk indukan sudah menetas semua.”

 

“Ada berapa banyak ikan lele di sini?” tanya Yeriko.

 

“Ada sekitar lima puluh ribu ekor.”

 

“Lima puluh ribu nggak ada yang bertelur satu pun? Nggak mungkin!” sahut Yeriko sambil  menggaruk kesal kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kemungkinan ada. Tapi, kami belum melakukan seleksi lagi. Karena, lelenya akan kami panen sore ini untuk didistribusikan ke beberapa pasar.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi sambil berkacak pinggang.

 

Yuna merasa bersalah karena keinginannya telah menyulitkan Yeriko.

 

“Ay, kalo emang nggak ada sekarang, nggak papa, kok. Aku juga nggak pengen-pengen banget.”

 

“Nggak pengen banget tapi nanyain terus setiap hari,” sahut Yeriko mulai emosi.

 

“Pak, saya beli semua ikan yang ada di kolam ini!” seru Yeriko kesal.

 

“Semua!?” Pria setengah baya itu mengernyitkan dahinya. “Tapi, Pak ... nggak semua ikan sudah bisa bertelur. Masih ada banyak ikan yang kecil-kecil. Saya yakin belum ada telurnya.”

 

“Pak, saya nggak mau ribet. Saya bayar semua ikan yang ada di sini. Nggak boleh dijual ke orang lain!” tegas Yeriko. “Saya cuma mau telurnya.”

“Baik, Pak. Bisa aja. Tapi, saya belum manggil orang saya ke sini karena jadwal panennya masih nanti sore. Mereka masih kerja di kebun,” tutur Bapak pemilik kolam.

 

Yeriko langsung memutar kepalanya begitu melihat lamborghini merah menuju ke arahnya. “Bala bantuan datang,” ucap Yeriko sambil tersenyum.

 

Lutfi dan Chandra langsung berlari menghampiri Yeriko.

 

“Ada apa, Yer?” Chandra terlihat sangat panik.

 

“Kakak Ipar nggak papa kan?” tanya Lutfi sambil menatap Yuna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

 

Yeriko terdiam sejenak sambil menatap kedua sahabatnya. Ia tersenyum jahil.

 

Chandra dan Lutfi terdiam menanggapi senyuman Yeriko kali ini. Sepertinya, kali ini mereka bukan untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya. Tapi memasukkan diri mereka sendiri ke dalam bahaya.

 

“Bantu tangkap ikan!” perintah Yeriko.

 

“APA!?” Lutfi dan Chandra membelalakkan matanya.

 

“Kamu jangan bercanda, Yer!” sahut Lutfi. “Tuan Muda kayak aku gini disuruh nangkap ikan lele? Mau ditaruh mana mukaku?”

 

“Taruh di kaki!” sahut Yeriko kesal.

 

Yuna menahan tawa mendengar reaksi Yeriko.

 

 Chandra berpikir sejenak. Menangkap ikan bukan hal yang sulit baginya. Hanya saja, pakaian formal yang sedang ia kenakan sangat tidak  cocok untuk momen ini. “Yer, kenapa nggak bilang dari awal? Aku pake baju kayak gini.”

 

“Ah, nggak usah banyak alasan! Ntar aku ganti baju kalian sama yang baru,” sahut Yeriko.

 

Lutfi gelagapan. “Kenapa tiba-tiba nyuruh kami nangkap ikan lele? Di pasar juga banyak yang jual.”

 

“Kakak Ipar kalian ngidam. Minta telur lele. Kalian carikan lele yang bertelur sekarang juga!” perintah Yeriko.

 

“Hah!? Kakak Ipar sudah hamil?” tanya Lutfi sangat antusias sambil menatap Yuna. “Oke. Oke. Aku bakal carikan telur lelenya!” Lutfi tertawa bahagia sambil mengelus perut Yuna.

 

“E-eh. Siapa suruh pegang-pegang!” Yeriko menepis tangan Lutfi.

 

“Astaga! Cuma mau megang keponakanku doang,” sahut Lutfi. Ia terlihat sangat bersemangat saat mengetahui Yuna sudah mengandung anak Yeriko.

 

“Cepet ke kolam sana!” perintah Yeriko. “Bapak ini yang mau nunjukin ke kalian. Awas kalo sampe nggak dapet ikannya!”

 

Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Yer, aku bedain Yuna lagi hamil atau nggak, aku nggak bisa. Apalagi disuruh nyari lele yang bertelur. Anakmu bener-bener mau nyiksa kami.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Anakku harus kuat kayak ayahnya. Jangan sampai dia ditindas sama kalian.”

 

Chandra menggeleng-gelengkan kepala. “Kalo bukan karena Yuna hamil. Aku nggak bakal mau masuk kolam!” Ia kesal dan langsung melepas sepatunya.

 

Yuna dan Yeriko tertawa kecil.

Lutfi dan yang lainnya melangkah menuju kolam-kolam ikan permanen berukuran 3x4 meter yang berjejar rapi.

Sementara, Yuna dan Yeriko duduk berdampingan sambil mengamati Lutfi, Chandra dan Riyan dari kejauhan.

 

(( Bersambung ...))

Oke Fix, Yeriko nggak mau menderita sendirian. Dia bawa dua sahabatnya buat ngerasain penderitaan juga. Hahaha ...

Gimana keseruan cerita selanjutnya ya?

 

Perfect Hero Bab 259 || Mr. Ye Mual-Mual || a Romance Novel by Vella Nine



“Bel, aku butuh penjelasan dari kamu!” pinta Yuna sambil melangkahkan kakinya mendekat ke ranjang Bellina.

 

Bellina menggelengkan kepala. “Kamu yang harus kasih penjelasan ke aku. Kenapa kamu dorong aku, Yun? Kamu iri karena aku udah hamil dan kamu nggak bisa punya anak? Kamu jahat, Yun!” seru Bellina sambil menangis.

 

“Cukup, Bel! Kamu udah keterlaluan. Hapus air mata buaya kamu ini!” sahut Yuna tak mau kalah. “Kamu yang udah menjatuhkan diri kamu sendiri. Kamu yang udah bunuh anak kamu sendiri.”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Kamu pikir aku bodoh sampai membunuh anakku sendiri?”

 

“Kenyataannya memang kayak gitu. Kamu bodoh dan kejam, Bel. Anak itu nggak salah sama sekali. Kamu sampai mengorbankan dia cuma buat fitnah aku kayak gini?”

 

“Aku nggak fitnah, Yun. Kamu udah dorong aku dan masih nggak mau ngaku!” sentak Bellina.

 

Lian langsung menghampiri Bellina dan berusaha menenangkan istrinya tersebut.

 

“Li, dia udah bunuh anak kita!” tutur Bellina sambil menangis. “Kamu harus balasin dendam anak kita! Kamu nggak boleh ngebiarin pembunuh ini berkeliaran dengan bebas!”

 

Lian menarik napas dalam-dalam, ia mulai terpengaruh dengan ucapan Bellina.

 

“Yun, lebih baik kamu pergi dari sini!” pinta Lian. “Kita selesaikan urusan ini di kantor polisi.”

 

Yuna membelalakkan matanya. “Li, kamu nggak percaya sama aku? Aku nggak mungkin mencelakai Bellina sampai seperti ini.”

 

Yeriko merangkul Yuna dan berusaha menenangkan istrinya.

 

“Kalau sampai kalian laporin aku ke polisi, aku bakal lawan kalian. Aku nggak terima difitnah kayak gini.”

 

“Aku nggak fitnah kamu. Kamu yang nggak mau ngaku kalo kamu udah bunuh anak aku!” seru Bellina.

 

“Aku nggak bunuh anak kamu. Aku bahkan nggak dorong kamu sama sekali. Kamu yang bunuh kamu sendiri, Bel. Kamu bener-bener keji sama anak kamu sendiri. Dia nggak salah apa-apa. Suatu saat, anak itu bakal menuntut balas atas perbuatan ibunya sendiri. Seharusnya, dia berhak buat lahir ke dunia ini!”

 

Lian dan Yeriko terdiam mendengar ucapan Yuna.

 

Yeriko sangat mempercayai istrinya, ia tahu kalau Yuna tidak bersalah.

 

Lian juga sama, ia percaya semua ucapan istrinya dan membuatnya membenci Yuna karena telah membuat dia kehilangan anaknya. Namun, kalimat yang baru saja keluar dari mulut Yuna benar-benar membuatnya bimbang.

 

“Kamu yang udah bunuh anak aku!” seru Bellina histeris sambil melempar bantal ke arah Yuna.

 

Yeriko langsung menghalau bantal yang dilemparkan oleh Bellina dan melindungi tubuh Yuna. “Kamu nggak papa?” Yeriko menoleh ke arah Yuna yang berdiri di belakangnya.

 

“Aku nggak papa.”

 

Yeriko menatap tajam ke arah Bellina. “Aku bakal bikin perhitungan sama kalian. Aku nggak akan membiarkan kalian terus-menerus memfitnah Yuna sekejam ini. Aku pasti bisa dapetin bukti kalau Yuna nggak bersalah. Lebih baik, kalian siapin pengacara untuk membela kebohongan Bellina!”

 

Bellina ingin sekali menyerang Yeriko. Namun, Lian menahannya karena kondisinya yang masih dalam perawatan.

 

“Awas kalian!” seru Bellina.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil merangkul pinggang Yuna. “Kita pulang sekarang! Semua ini, biar diurus sama Riyan dan pengacara keluargaku,” tuturnya lembut.

 

Bellina semakin membenci Yuna yang mendapatkan dukungan dari banyak orang. Ia sudah berkorban seperti ini dan masih saja kalah dengan Yuna. Seharusnya, semua orang percaya padanya dan membenci Yuna. Tapi Yuna tetap saja mendapatkan pembelaan dari orang lain dan membuatnya semakin iri dengan kehidupan Yuna.

 

 

 

Di perjalanan, Yuna terus termenung. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Bellina tega membuatnya seperti ini. Fitnahnya kali ini benar-benar membuat hatinya terluka. Saat kejadian, tidak ada satu orang pun yang melihatnya. Ia bisa saja terjerat kasus hukum jika tidak memiliki banyak bukti untuk membela dirinya sendiri.

 

“Bunda, mau makan apa?” tanya Yeriko lembut sambil menoleh ke arah Yuna yang duduk di sampingnya.

 

Yuna tak bereaksi, ia sibuk dengan pergulatan batinnya sendiri. Ia sangat takut jika benar-benar harus menghabiskan waktunya di penjara dalam keadaan hamil. Apakah Yeriko benar-benar bisa melindunginya dari ini semua?

 

Yeriko menarik napas dan menepikan mobilnya perlahan.

 

“Bunda ...!” panggil Yeriko lembut sambil menyentuh punggung tangan Yuna.

 

“Eh!? Kenapa?” Lamunan Yuna terbuyar, ia langsung menoleh ke arah Yeriko.

 

“Mau makan apa?” tanyanya lembut.

 

“Apa aja,” jawab Yuna dengan tatapan kosong.

 

Yeriko menggenggam erat tangan Yuna. “Masih mikirin Bellina?”

 

Yuna mengangguk kecil. “Aku takut ...”

 

“Takut apa? Ayah pasti melindungi Bunda. Nggak akan ada yang bisa melukai kamu. Bunda percaya sama Ayah!”

 

“Tapi ... gimana kalau aku nggak bisa membuktikan kalo aku nggak salah? Bellina pinter banget bohong. Aku takut ...”

 

“Bunda nggak usah takut!” pinta Yeriko. “Pengacara keluargaku, bukan pengacara sembarangan. Dia sudah memenangkan banyak kasus di dalam dan di luar negeri. Bunda nggak usah terlalu memikirkan hal ini. Kebenaran akan selalu menang!”

 

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. Ia merasa sedikit tenang.

 

“Mau makan apa?” tanya Yeriko sekali lagi.

 

“Telur lele.”

 

 

 

DEG!

 

Yeriko mengerjapkan matanya. Ia belum bisa memenuhi keinginan istrinya yang sedang hamil dan membuatnya merasa menjadi pria paling payah di dunia. Hanya telur lele, ia tak sanggup memberikan untuk istri tercintanya.

 

Yuna menggigit bibir mendapati ekspresi Yeriko. “Ya udah, makan yang lain aja.”

 

Yeriko tersenyum kecut. “Kita makan yang lain dulu siang ini. Nanti, aku carikan lagi sampai dapat.”

 

Yuna mengangguk kecil. Mereka bergegas menuju salah satu restoran terdekat untuk makan siang bersama.

 

“Mama udah balik atau belum dari luar kota?” tanya Yeriko sambil menatap Yuna saat mereka sudah berada di meja makan.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Belum.”

 

“Kamu udah kasih tahu Mama kalau kamu hamil?”

 

Yuna menggeleng lagi. “Bukannya, kamu yang mau kasih tahu mama sendiri?”

 

“Oke. Nanti, aku aja yang kasih tahu Mama kalau dia udah balik.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah pelayan yang sedang menata makanan yang mereka pesan di atas meja.

 

“Kamu cuma makan salad doang?” tanya Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna tertawa kecil. “Tadi pagi, kamu cuma makan roti doang. Ntar lemes kalo nggak makan protein. Cobain ini sedikit aja!” pinta Yuna sambil menyodorkan potongan daging ke mulut Yeriko.

 

Yeriko membelalakkan matanya. Aroma amis pada daging begitu menyengat di hidungnya. Seisi perutnya bergejolak dan ia tak sanggup menahan rasa mual.

 

“Uweek ...!” Yeriko menutup mulutnya.

 

“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia buru-buru berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perut yang ia makan tadi pagi.

 

Yuna mengikuti langkah Yeriko dan menunggunya di depan pintu kamar mandi. Ia mulai gelisah saat mendengar suara Yeriko muntah beberapa kali. Ia langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Yuna.

 

Yeriko langsung merangkul tubuh Yuna. “Kenapa sekarang aku nggak bisa nyium bau ikan atau daging? Kamu yang hamil, kenapa aku yang mual-mual?” gumam Yeriko.

 

Yuna tertawa kecil sambil memapah tubuh Yeriko. “Kamu beneran ngidam buat aku?”

 

“Kamu yang ngidam telur lele. Bukan aku!” sahut Yeriko.

 

“Tapi, kamu yang mual-mual kayak gini. Aku nggak ngerasain apa-apa.”

 

Yeriko menarik napas panjang sambil menatap perut Yuna. “Anak ini, baru muncul sudah ngerjain ayahnya. Lihat aja kalau sudah lahir, Ayah pasti bikin perhitungan sama kamu!” dengus Yeriko sambil menunjuk perut Yuna.

 

“Perhitungan banget sama anak sendiri!” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

Yeriko menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak habis pikir, kenapa bisa kayak gini?”

 

“Udah, terima aja!” sahut Yuna sambil menahan tawa.

 

“Kamu!? Seneng juga ngerjain aku? Anak sama Bundanya sama aja, sekongkol ngerjain Ayahnya, hah!?”

 

Yuna tergelak menatap Yeriko.

 

Yeriko tersenyum kecil, ia bahagia melihat istrinya bisa tertawa. Banyak tekanan yang harus diterima Yuna akhir-akhir ini. Ia khawatir akan memengaruhi kondisi janin yang dikandung oleh Yuna. Membuatnya tertawa di tengah-tengah masalah yang sedang mereka hadapi tidaklah mudah.

 

“Yun, aku rela harus muntah setiap hari asal kamu baik-baik aja,” batin Yeriko sambil menatap Yuna. Mereka kembali ke meja makan. Sebisa mungkin, Yeriko menjauh dari makanan yang mengandung ikan agar ia tidak merasa mual.

 


Yuna merasa, olahan makanan di restoran tersebut sudah sangat baik. Bau amis ikan dan daging tidak begitu terasa. Namun, penciuman Yeriko saat ini sangat sensitif. Ia juga harus menjaga Yeriko agar tetap sehat dan tidak membuat aktivitasnya terhambat karena perubahan selera makan.

 

(( Bersambung ... ))

Duh, yang ngidam sebenarnya siapa sih? Kok, dua-duanya?

Gimana keseruan cerita selanjutnya ya?

Baca terus ya, jangan lupa kasih review biar tulisan aku bisa lebih baik lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas