Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 255 || Penjagaan Ketat

 


“Mbak, Mama di rumah?” tanya Yeriko pada salah satu pelayan begitu ia masuk ke dalam rumah mamanya.

“Nyonya lagi ke luar kota,” jawab pelayan yang ditanya tersebut.

“Oh ya? Kapan berangkatnya?”

“Baru tadi pagi.”

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna yang berdiri di sebelahnya. “Kita telat.”

Yuna tertawa kecil. “Nggak papa. Bisa ke sini lagi besok atau lusa.”

Yeriko mengangguk. “Kakek di mana, Mbak?” tanya Yeriko lagi.

“Di halaman belakang.”

Yeriko langsung menggenggam telapak tangan Yuna dan mengajaknya menemui kakek.

“Pagi, Kek ...!” sapa Yeriko saat melihat kakeknya sedang bersantai di tepi kolam renang yang ada di belakang rumahnya.

“Pagi ...!” balas Kakek Nurali sambil berbalik menatap Yuna dan Yeriko. “Tumben ke sini jam segini. Kalian nggak kerja?”

“Kami baru pulang dari dokter,” jawab Yeriko sambil duduk di salah satu kursi.

“Siapa yang sakit?”

“Nggak ada. Cuma mau periksa rutin program kehamilan Yuna.”

“Gimana hasilnya?” tanya Kakek Tarudi.

Yeriko tersenyum sambil menoleh ke arah Yuna. “Bagus.”

 

Yuna terus tersenyum, ia menunggu suaminya mengucapkan kabar baik perihal kehamilannya.

 

“Mmh ... Kek, kami mau ngomong sesuatu.”

 

Nurali memerhartikan wajah Yeriko dan Yuna. “Ngomong aja!” perintahnya.

 

Yeriko kembali menatap Yuna. Ia langsung menggenggam erat tangan Yuna yang duduk di sampingnya. “Kami ...”

 

Nurali menatap serius, menunggu Yeriko mengatakan sesuatu untuknya.

 

“Kami akan segera memiliki anak,” tutur Yeriko pelan sambil tersenyum.

 

Nurali langsung tersenyum lebar. “Kamu sudah hamil?” tanyanya sambil menatap Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Akhirnya ... kita akan punya pewaris juga!” Nurali terlihat sangat  bahagia. Ia langsung memanggil seorang ajudan agar menghampirinya.

 

“Ada apa, Pak?”

 

“Mulai hari ini, kamu harus mengawal Nyonya Muda ke mana pun dia pergi!” perintah Nurali.

 

Yuna membelalakkan matanya. “Kek, aku nggak perlu dikawal. Setiap hari, Yeriko selalu jagain aku.”

 

“Kakek bukan jagain kamu. Tapi jagain anak yang ada di dalam perut kamu itu,” sahut Nurali.

 

GLEG!

 

“Aku terlalu kepedean kalo kakek bakal perhatiin aku,” batin Yuna sambil menahan tawa. Ia sadar kalau semua perhatian kini tertuju pada anak yang di dalam kandungannya.

 

Yeriko tertawa kecil melihat reaksi Yuna. “Kek, Yuna nggak terlalu butuh pengawal. Ada aku, ada Lutfi, Chandra dan Riyan. Aku minta satu pelayan aja yang khusus melayani keperluan Yuna!”

“Baiklah.” Nurali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kakek akan kirim pelayan ke rumah kalian.”

“Yer, nggak usah berlebihan. Udah ada Bibi War di rumah. Lagipula, aku nggak banyak kegiatan,” bisik Yuna di telinga Yeriko.

“Udah, kamu terima aja! Nggak boleh nolak!” balas Yeriko berbisik.

“Kalian temani Kakek makan siang!” pinta Nurali.

Yeriko dan Yuna mengangguk. Mereka menikmati makan siang bersama di rumah besar keluarga Hadikusuma.

 

Usai makan siang bersama kakek, Yuna dan Yeriko bergegas kembali ke rumah.

 

“Yer, aku mau nemuin Bellina.”

 

“Mau ngapain?”

 

“Aku harus buktiin ke semua orang kalo aku nggak salah.”

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Kamu istirahat aja di rumah. Masalah Bellina, biar aku yang selesaikan.”

 

“Serius?”

 

Yeriko mengangguk. Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah.

 

Sesampainya di rumah, Yeriko langsung menggendong Yuna naik ke kamar dan merebahkan tubuh Yuna di atas kasur. “Kamu tidur aja, ya! Nggak boleh turun dari kamar sendirian!”

 

Yuna mengangguk kecil. Ia merasa Yeriko terlalu berlebihan memerhatikannya.

 

Yeriko tersenyum sambil mengusap lembut kepala Yuna. “Aku pergi keluar dulu. Semua keperluan kamu bakal disiapin sama Bibi War. Kamu nggak boleh keluar  dari kamar ini tanpa izin dari aku!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk. Ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut. Fix, kali ini ia benar-benar seperti seekor kelinci yang terkurung di dalam kandang.

 

Yeriko bergegas keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.

 

“Bi ...!” panggil Yeriko sambil mencari sosok Bibi War.

 

“Ya, Mas!”

 

“Tolong jagain Yuna! Jangan sampai turun sendiri. Tangga berbahaya buat dia.”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Sore ini, ada pengawal sama pelayan yang datang. Mereka bakal jagain Yuna. Oh ya, telur lelenya udah dapat?” tanya Yeriko sambil melangkah menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil satu buah apel dari dalamnya.

 

“Baik, Mas.” Bibi War terus mengikuti langkah Yeriko sambil mendengarkan beberapa instruksi dari Yeriko.

 

“Oh ya, tolong hubungi design interior buat ngubah semua desain ruangan jadi non-slip!” perintah Yeriko.

 

“Baik, Mas.”

 

“Bibi masih punya nomor designer-nya kan?”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Jangan sampai ada lantai yang licin! Guci-guci ini dikumpulkan aja di gudang dulu!” perintah Yeriko.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya tertuju pada lampu hias kristal yang tergantung di langit-langit rumahnya. “Oh ya, lampu kayak gini dilepas aja!” perintah Yeriko.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Yeriko memastikan semua ruangan di rumahnya bisa aman untuk Yuna.

 

“Bi, aku masih ada urusan. Aku keluar dulu. Pastikan desainer interior bisa datang sore ini juga!”

 

Bibi War menganggukkan kepala. Ia tak menyangka kalau Yeriko begitu antusias menyambut kehamilan Yuna dan sangat menjaganya.

 

“Oke. Sementara itu dulu. Aku pergi dulu!” pamit Yeriko. Ia bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.

 

Yeriko langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi antara istrinya dengan sepupunya tersebut.

 

 

Sementara itu, Yuna terus berguling-guling seorang diri di tempat tidurnya.

 

“Kenapa keluar nggak ajak aku? Aku bosan di kamar terus begini,” gumam Yuna. Ia bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju pintu.

 

“Selamat sore, Nyonya!” sapa gadis muda yang sudah berdiri di depan pintu kamar Yuna dengan seragam khas yang sudah tidak asing lagi di matanya. Pelayan di rumah mama mertuanya.

 

Yuna mengerutkan dahi. Di sebelah pelayan tersebut berdiri seorang pria yang tegap dan kekar, ia mengenali pria tersebut sebagai ajudan kakek Nurali.

 

Yuna melangkah mundur perlahan dan kembali menutup pintu kamarnya. “Astaga! Aku bener-bener dijagaian? Aku ini cuma hamil, bukan tahanan!” seru Yuna kesal.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. Yeriko tidak akan menarik pelayan itu kembali. Ia tetap saja harus menerima dilayani oleh pelayan keluarga.

 

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

 

Yuna langsung menoleh ke arah pintu.

 

“Mbak, ini Bibi.”

 

“Masuk, Bi!” perintah Yuna.

 

Bibi War membuka pintu. Ia melangkah masuk bersama seorang pelayan di belakangnya.

 

“Mbak, ini Bibi buatkan susu.”

 

“Makasih, Bi!” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Oh ya, ini pelayan kecil yang akan melayani Mbak Yuna. Namanya Sari. Mas Yeri melarang Mbak Yuna naik turun tangga. Kalau ada perlu apa pun, biar Bibi dan Sari yang siapin.”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Apa dia harus berdiri di depan pintu kamarku selama dua puluh empat jam?”

 

Bibi War menggelengkan kepala.

 

“Kami hanya ke sini saat Tuan Muda tidak ada di rumah. Kami akan kembali ke rumah besar setelah Tuan Ye kembali.” Sari menjelaskan.

 

“Oh.” Yuna tetap tidak bisa mengelak kalau ia kini menjadi seorang menantu keluarga kaya yang hampir semuanya dijaga dan dilayani. Terlebih, ada bayi di dalam perutnya. Ia merasa kalau keluarga Hadikusuma memperlakukannya terlalu berlebihan.

 

“Aku belum butuh apa-apa, Bi. Kalian bisa keluar dari kamarku dan beristirahat!” pinta Yuna.

 

Bibi War dan Sari menganggukkan kepala.

 

“Oh ya, nggak perlu dijagain di depan pintu ya!” perintah Yuna. “Aku nggak akan keluar kamar sampai Yeriko pulang. Jadi, kalian nggak perlu khawatir.”

 

Semua orang menganggukkan kepala dan langsung bergegas pergi meninggalkan kamar Yuna.

 

(( Bersambung ... ))

 

Perfect Hero Bab 254 || Siapa yang Ngidam?

 


“Hari ini nggak usah masuk kerja!” perintah Yeriko.

“Kenapa?” tanya Yuna sambil mengganti pakaiannya usai mandi.

“Hari ini kita periksa ke dokter.”

“Aku bisa masuk kerja setelah periksa.”

“Nggak usah.”

“Kenapa?”

“Kalo aku bilang nggak usah, ya nggak usah! Nggak perlu pake alasan!” sahut Yeriko kesal. “Aku udah izinin ke kantormu.”

“Oh. Oke.” Yuna mengangguk.

“Ayo, sarapan!” ajak Yeriko.

Yuna mengangguk. Mereka bergegas melangkah keluar dari kamar.

“Hati-hati!” pinta Yeriko saat mereka akan menuruni tangga.

Yuna tertawa kecil. “Iya, suamiku tersayang!” sahutnya sambil tersenyum.

Yeriko langsung menggendong tubuh Yuna dan menuruni anak tangga secara perlahan.

“Kamu apa-apaan  sih?” Yuna menatap Yeriko sambil menahan senyum. Ia merasa sangat bahagia karena Yeriko begitu memperhatikan apa pun yang dilakukan Yuna.

Yeriko tersenyum. Ia baru menurunkan Yuna saat mereka sudah mencapai ujung tangga.

“Bi, hari ini masak apa?” tanya Yeriko pada Bibi War yang sedang menata makanan di atas meja.

“Masak lele,” jawab Bibi War.

Yeriko membelalakkan mata melihat menu yang ada di atas meja. Lele goreng, pepes lele, lele bakar, mangut lele, nugget lele, sate lele ...

“Bi, kenapa lele semua!?” seru Yeriko.

“Mas, kemarin Bibi sudah nambah beli lele sepuluh kilo. Tapi, nggak ada satu pun yang bertelur. Sebagian udah Bibi kasih tetangga. Sebagian lagi, Bibi olah aja.”

Yuna menahan tawa sambil duduk di kursi. “Nggak papa, Bi.”

Yeriko menggelengkan kepala. “Bibi kan tahu akhir-akhir ini aku nggak bisa makan ikan. Kenapa malah ikan semua?”

“Mau aku potongin buah?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Itu lebih baik.

“Biar Bibi aja yang potong buahnya. Mbak Yuna duduk aja!” sergah Bibi War.

“Nggak usah, Bi. Kalo potong buah, aku bisa kali.” Yuna bangkit dari tempat duduknya.

“Duduk!” perintah Yeriko.

“Eh!?” Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

“Duduk, Yun!” pinta Yeriko. “Biar Bibi yang kerjain!”

Bibi War tersenyum dan bergegas masuk ke dapur untuk mengambil buah.

“Bi, hari ini telur lelenya harus dapat!” pinta Yeriko saat Bibi War kembali sambil membawakan beberapa potong buah.

“Iya. Bibi juga sudah usaha. Kalo belum dapet, mau gimana lagi?”

Yeriko langsung menatap wajah Yuna yang sedang asyik menyantap sarapannya. “Kamu masih pengen telur lelenya?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Yun, kalo ngidam jangan aneh-aneh!” pinta Yeriko.

“Aku nggak ngidam. Cuma pengen.”

“Sama aja.”

“Mbak Yuna ngidam?” tanya Bibi War.

Yeriko mengangguk. “Dia udah hamil.”

“Hah!? Beneran, Mbak?” Wajah Bibi War terlihat sangat antusias begitu mendengar ucapan Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Bibi seneng banget!” seru Bibi War sambil memeluk Yuna.

“Iya, Bi. Akhirnya aku bisa hamil juga.”

“Ibu sudah tahu kabar baik ini?” tanya Bibi War.

Yuna menatap Yeriko sambil tersenyum.

“Biar aku yang kasih tahu Mama,” jawab Yeriko sambil menatap Bibi War. “Pagi ini kami mau pergi ke dokter. Setelah itu, baru pergi ke rumah Mama buat ngasih kabar ini.”

Yuna ikut tertawa kecil melihat reaksi Bibi War yang begitu antusias.

“Eh, Mbak Yuna siang ini mau makan apa? Biar Bibi siapin!”

“Apa aja, Bi,” jawab Yuna.

“Kalo belum dapet telur lelenya gimana dong?” tanya Bibi War.

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko.

Tatapan Yuna membuat Yeriko merasa ditodong AK101 tepat di depan kepalanya. “Aku carikan sampai dapat!” sahut Yeriko.

“Kalau Bibi, bisanya nyari di pasar aja. Kemarin, ada yang ngasih saran suruh pergi ke peternak lelenya. Tapi Bibi mah nggak tahu tempatnya.”

Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Ntar aku carikan!” sahutnya kesal.

Yuna dan Bibi War saling pandang dan tersenyum.

“Kenapa ngidamnya telur lele?” tanya Bibi War berbisik ke telinga Yuna. “Biasanya, kalo ngidam suka makan yang asem-asem. Kok, malah Mas Yeri yang sering makan asem?”

Yuna tertawa mendengar ucapan Bibi War. “Emang dia ikut ngidam?”

Bibi War mengangguk. “Kayaknya ... kalo Mbak Yuna nggak mual?”

Yuna menggelengkan kepala. Ia merasa selera makannya tidak ada yang berubah. Sama seperti biasanya. Hanya saja, dia ingin makan telur lele sejak beberapa hari lalu. Entah kenapa, makanan itu terus menari-nari di pelupuk matanya.

“Kenapa aku yang sering mual?” gumam Yeriko. “Aku kira asam lambung, ternyata bukan juga.”

“Bi, kalau Yeriko kayak gitu terus, apa nggak bahaya?”

“Bahaya apanya?”

“Dia nggak pernah makan ikan, nggak makan daging, nggak makan telur. Cuma makan buah-buahan aja.”

Yeriko tertawa kecil menatap Yuna. “Aku baik-baik aja. Kamu nggak usah khawatir. Anggap aja lagi diet.”

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. Mereka segera menghabiskan makannya dan bergegas menuju klinik tempat Yuna biasa memeriksakan kondisi rahimnya.

Sesampainya di klinik, dokter langsung melakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk memastikan kondisi rahim Yuna bisa menerima perkembangan embrio dengan baik.

“Selamat, Pak Yeri!” tutur dokter tersebut. “Usaha kalian tidak sia-sia. Ibu Yuna akhirnya bisa hamil.”

“Terima kasih, Dok!” sahut Yeriko.

“Duduk dulu!” perintah dokter tersebut.

Yeriko dan Yuna duduk di kursi, tepat di hadapan meja kerja dokter.

“Janin yang berada di perut Ibu Yuna sudah berusia tiga minggu.”

“Tiga minggu, Dok? Tapi, sekitar tiga hari yang lalu saya masih haid,” sahut Yuna.

“Haidnya deras?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Kandungan Ibu Yuna masih sangat rentan. Saya akan memberikan obat penguat kandungan. Jangan terlalu capek, nggak boleh setres dan jaga asupan makanan dengan baik!” tutur dokter tersebut.

Yuna mengangguk. “Terima kasih, Dok.”

Dokter menganggukkan kepala sembari menulis catatan medis Yuna.

“Karena kandungannya masih sangat rentan, jangan melakukan hubungan suami-istri terlebih dahulu sampai tiga bulan ke depan.” Dokter tersebut tersenyum sambil menyodorkan resep obat untuk Yuna.

Yeriko membelalakkan matanya. “Tiga bulan?” batinnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dokter tersebut tersenyum mendapati ekspresi wajah Yeriko. “Ini resep obat untuk Ibu Yuna. Kalian bisa tebus di apotek. Periksa lagi bulan depan ya!” pinta dokter tersebut.

Yuna dan Yeriko mengangguk. Mereka bergegas keluar dari ruang pemeriksaan. Yeriko menebus obat terlebih dahulu di apotek sebelum keluar dari rumah sakit dan pergi ke rumah besar keluarga Hadikusuma.

“Bawain apa ya buat Mama?”  tanya Yuna saat ia sudah masuk ke mobil.

“Bawa kamu aja udah cukup,” sahut Yeriko sambil menyalakan mesin mobilnya. Ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah mamanya. Kali ini ia merasa sangat bahagia karena bisa memenuhi keinginan mama dan kakeknya untuk segera memberikan keturunan.

Yuna terus tersenyum, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Yeriko yang sedang fokus menyetir.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Yeriko tanpa menoleh ke arah Yuna.

“Nggak papa. Pengen lihat aja. Calon ayah buat anakku ...” Yuna menepuk-nepuk lembut kedua pipinya sendiri.

Yeriko tersenyum.  Ia merasakan aura kebahagiaan terus menyelimuti dirinya. Kini ia benar-benar akan menjadi seorang ayah. Ia terus membayangkan bagaimana dirinya bermain dengan anak-anaknya setiap hari.

 

(( Bersambung ... ))

 


Perfect Hero Bab 253 || Aku Hamil || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Semua ini gara-gara kamu!” sentak Melan sambil menunjuk wajah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak dorong dia. Dia yang sengaja mencelakai dirinya sendiri.”

“Nggak mungkin Bellina mencelakai dirinya sendiri!” sahut Melan.

“Aku juga nggak mungkin nyelakain Bellina di rumah kalian sendiri. Seandainya aku jahat pun, aku nggak bodoh!” sahut Yuna bersikeras. Ia tidak akan mengakui kesalahan yang tidak pernah ia buat.

“Kamu masih nggak mau ngaku? Jelas-jelas Bellina sendiri yang bilang kalo kamu yang dorong dia!”

Yuna menggelengkan kepalanya. “Aku nggak dorong dia. Dia yang bunuh anaknya sendiri. Dia sengaja jatuh dari tangga,” tutur Yuna. “Aku masih nggak habis pikir kenapa dia tega banget ngelakuin ini? Cuma karena mau fitnah aku, dia rela membunuh anaknya sendiri.”

Melan membelalakkan matanya. Ia tidak terima dengan ucapan Yuna walau ia mengetahui kebenarannya. Lian dan Yeriko tidak boleh mengetahui hal ini. Tidak boleh ada orang lain yang mengetahui kalau kandungan Bellina sudah mengalami kematian sebelumnya.

Yuna terduduk lemas sambil terisak. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana janin yang tidak berdosa itu harus menjadi korban keegoisan ibunya.

Yeriko merengkuh kepala Yuna. “Udah, nggak usah sedih!” pinta Yeriko. “Aku percaya sama kamu. Kamu nggak akan ngelakuin ini. Nggak ada yang bisa nyakitin kamu selama masih ada aku,” lanjutnya sambil menatap Melan penuh kebencian.

Lian menatap Yuna penuh kepedihan. Ia tidak tahu harus mempercayai siapa. Ia sangat mengerti bagaimana sifat Yuna, tidak mungkin mencelakai orang lain. Tapi, apakah Bellina tega mencelakai dirinya sendiri dan anak dalam kandungannya?

“Aku pasti jeblosin kamu ke penjara karena sudah membunuh cucuku!” sentak Melan sambil menatap Yuna dan Yeriko.

“Tante nggak bisa menuduh tanpa bukti,” sahut Yeriko kesal.

“Pernyataan Bellina bisa jadi bukti untuk menjebloskan istri kamu ini ke penjara!” tegas Melan.

Yeriko tersenyum kecil. “Pernyataan Yuna juga bisa membuktikan kalau dia nggak bersalah.”

“Stop!” seru Lian sambil menjambak kesal rambutnya sendiri. “Bellina masih di dalam ruang operasi. Daripada kalian berdebat di sini, lebih baik kalian doain dia supaya operasinya bisa berjalan dengan baik!”

Semua orang terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak lagi memperdebatkan siapa yang bersalah dalam hal ini.

 

Tiga jam berlalu ...

Seorang dokter keluar dari ruangan operasi.

Lian dan semuanya langsung menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan Bellina.

“Pasien sudah mengalami masa kritisnya. Sebentar lagi, akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Dia masih belum sadar karena di bawah pengaruh anestesi. Tunggu saja sampai pasien sadar beberapa menit lagi.”

Lian mengangguk tanda mengerti.

Yuna bisa bernapas lega karena kondisi Bellina bisa selamat walau bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan lagi. Ia tidak ingin terus disalahkan atas perbuatan Bellina yang sengaja menjatuhkan dirinya di tangga. Setelah semuanya membaik, ia harus segera meminta penjelasan kepada Bellina.

“Bellina baik-baik aja. Kita pulang sekarang!” ajak Yeriko.

Yuna menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah Lian yang terlihat sangat kacau karena kehilangan anaknya. “Li, kami pulang dulu. Besok, kami ke sini lagi nengokin Bellina.”

Lian mengangguk kecil.

Yuna dan Yeriko bergegas melangkah pergi meninggalkan Lian dan dua orang yang bersamanya.

Yuna sengaja tidak pamit kepada Melan dan Tarudi. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa keluarganya tega menjebaknya dalam posisi seperti ini. Bahkan mengorbankan seorang bayi yang tidak bersalah.

“Kenapa?” tanya Yeriko saat Yuna menghentikan langkahnya saat mereka tiba di pintu keluar.

Yuna mengerjapkan mata sambil menekan keningnya yang berdenyut. Ia menatap lantai rumah sakit berwarna putih yang semakin menyilaukan dan membuatnya tak bisa melihat apa pun.

“Yuna ...!” Yeriko langsung menangkap tubuh Yuna yang terhuyung ke lantai dan tidak sadarkan diri. Ia sangat panik dan langsung menggendong Yuna. Ia berlari membawa Yuna masuk ke dalam lobi rumah sakit.

“Suster, tolong istri saya!” teriak Yeriko.

Beberapa perawat langsung menghampiri Yeriko.

“Dia kenapa, Mas?” tanya salah seorang perawat sambil menarik brankar dan langsung menghampiri Yeriko.

“Tiba-tiba pingsan.” Yeriko langsung meletakkan Yuna ke atas brankar. Perawat langsung mendorong brankar tersebut menuju ruang pemeriksaan.

Yeriko menunggu di depan pintu ruang pemeriksaan dengan cemas. Sesekali ia melihat arloji yang sudah menunjukkan jam dua belas malam. Ia mondar-mandir puluhan kali menunggu hasil pemeriksaan.

 

Lima menit berlalu ...

Yeriko merasa sudah berdiri di sana selama bertahun-tahun.

 

Lima belas menit berlalu ...

Yeriko semakin gelisah karena dokter dan perawat tak kunjung keluar dari ruang pemeriksaan.

 

Dua puluh menit berlalu ...

Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

 

“Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Yeriko dengan wajah pucat pasi.

Dokter tersebut tersenyum. “Tidak apa-apa. Hanya kelelahan. Istri Anda sedang hamil, sebaiknya banyak beristirahat.”

Yeriko membelalakkan matanya. Rasanya ingin terbang tinggi saat mendengar ucapan dokter tersebut. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari dokter tersebut.

“Beneran, Dok?” tanya Yeriko dengan mata berbinar.

Dokter tersebut mengangguk.

“Dokter nggak salah, kan? Tiga hari yang lalu, istri saya masih haid.”

“Hormon hCG dan hPL pasien tinggi. Untuk beberapa kasus, ibu hamil masih bisa mengeluarkan flek darah. Kemungkinan, kandungannya memang rentan. Anda harus menjaganya dengan baik. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya periksakan istri Anda ke dokter kandungan besok pagi. Kalau tengah malam begini, dokter kandungan tidak bertugas.” [ hCG - human Chorionic Gonadotropin ] [hpL – human Placenta Lactogen ]

“Oke. Makasih, Dok!” Yeriko langsung menyalami dan memeluk dokter tersebut dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.

“Mmh ... saya boleh masuk?” tanya Yeriko.

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

Yeriko terus tersenyum bahagia. Ia langsung masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan menghampiri Yuna yang sudah sadar dari pingsannya.

“Pak, ini biaya tindakan kami. Silakan urus ke kasir!” tutur perawat sambil menyodorkan secarik kertas ke hadapan Yeriko.

“Dia nggak perlu dirawat di sini?” tanya Yeriko.

Perawat tersebut menggelengkan kepala. “Cukup istirahat di rumah saja. Ibu Ayuna hanya kelelahan.”

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Semua perawat langsung keluar dari ruang pemeriksaan.

Yeriko langsung menatap Yuna dan memeluk tubuh istrinya itu sangat erat. “Yun, makasih ya! Ini saat paling membahagiakan dalam hidupku.”

“Eh!? Kenapa?” tanya Yuna sambil melepaskan tubuhnya dari pelukan Yeriko.

Yeriko tersenyum sambil menatap kedua manik mata Yuna. Kedua telapak tangannya menangkup wajah Yuna dan menciumi seluruh wajahnya bertubi-tubi.

“Ada apa, sih?” tanya Yuna kebingungan melihat raut wajah Yeriko yang sangat bahagia.

“Kamu hamil!” seru Yeriko sambil memeluk kembali tubuh Yuna.

“Hah!? Serius?”

Yeriko menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Tapi, tiga hari lalu aku masih haid. Emang cuma ngeflek sih, tapi ...”

“Kita bisa beli tes pack malam ini juga. Masih banyak apotek dua puluh empat jam yang buka. Kita harus pastikan sekarang juga kalau kamu beneran hamil. Gimana?” Yeriko terus tersenyum menatap Yuna. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.

Yuna tersenyum bahagia sambil memeluk erat tubuh Yeriko. Mereka tenggelam dalam kebahagiaan. Tubuh mereka serasa melayang-layang di udara.

“Kita pulang sekarang!” ajak Yeriko.

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

“Masih pusing?” tanya Yeriko lagi.

“Sedikit,” jawabnya sambil turun dari brankar.

Yeriko tersenyum. Ia langsung menggendong tubuh Yuna.

“Yer, aku masih bisa jalan sendiri,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

Yeriko tersenyum. “Parkiran jauh. Aku nggak mau kamu capek.”

Yuna tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di dada Yeriko.

Beberapa pasang mata menatap Yeriko tanpa berkedip. Mereka terpesona dengan ketampanan Yeriko yang juga memperlakukan pasangannya sangat istimewa.

Yeriko bergegas membawa Yuna pulang ke rumah. Tak lupa, ia membeli beberapa buah test pack di salah satu apotek 24 jam yang mereka lalui.

Sesampainya di rumah, Yuna langsung masuk ke kamar mandi dan menggunakan test pack berbeda merk untuk mengecek kehamilannya.

Yuna memejamkan mata saat ingin melihat hasil yang akan muncul dari test pack tersebut. Ia langsung membelalakkan mata dan mencoba semua test pack untuk memastikan semua hasilnya sama.

Yuna menundukkan kepala sambil menggenggam lima buah test pack yang menunjukkan hasil sama. Ia membuka pintu kamar mandi sambil menunduk tak bersemangat.

“Gimana hasilnya?” tanya Yeriko yang sudah menunggu di depan pintu kamar mandi.

Yuna bergeming dan hanya menggigit bibirnya.

Yeriko langsung muram begitu melihat ekspresi wajah Yuna. Tanpa menjawab pun, ia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Yuna.

Yuna melirik Yeriko sambil menyembunyikan bibirnya. “AKU HAMIL ...!” seru Yuna sambil melompat kegirangan.

Yeriko langsung menatap wajah Yuna. “Serius?” ia merebut semua test pack dari tangan Yuna. Matanya langsung berbinar melihat semua test pack menunjukkan hasil positif.

Yuna tersenyum bahagia menatap Yeriko.

“Aargh ...! akhirnya aku bakal jadi Ayah!” seru Yeriko sambil melemparkan semua test pack yang ada di tangannya dan langsung mengangkat tubuh Yuna tinggi-tinggi.

Yuna tertawa bahagia. Usahanya kali ini tidak sia-sia. Ia dan Yeriko benar-benar merasa bahagia dan menghabiskan malam bertabur kebahagiaan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Yee ... akhirnya Ms. Ye tahu kalo dia udah hamil. Gimana protective-nya Mr. Ye ya?

Baca terus dan dukung cerita ini dengan kasih  review baik di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas