Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 252 || Jebakan Keji || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yun, kamu masih ingat tempat ini?” tanya Bellina sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang dahulunya adalah kamar Yuna. “Sampai sekarang, kamar ini nggak berubah.”

Yuna tersenyum sambil melangkahkan kakinya perlahan. Ia menatap beberapa foto yang terpajang di dinding kamar. Rumah keluarga Bellina memang lumayan bagus. Tapi sangat menyedihkan baginya. Di kamar berukuran 3x4 meter itu, Yuna menghabiskan masa-masa remajanya.

Bellina meraih satu pigura di atas meja yang membingkai foto keluarga besar keluarga Linandar. “Nggak terasa, semuanya cepat berubah. Bahkan, kamu nggak pernah menginginkan menginjakkan kaki di keluarga ini lagi.”

Yuna tersenyum kecil. Ia mengingat malam-malam yang ia habiskan di kamar ini. Setiap malam ia belajar begitu keras demi mendapatkan beasiswa dan bisa keluar dari rumah ini. Setiap harinya juga, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di sekolah hingga sore hari untuk menghindari perlakuan paman dan bibinya yang kerap menyakitinya.

“Yun, kamu ingat nggak waktu kita dulu sering main ke pantai waktu pulang sekolah?” Bellina melihat potret kebersamaannya dengan Yuna dan Lian di pantai dengan seragam putih abu-abu.

Yuna tersenyum kecil. “Ingat. Tapi, aku berharap nggak pernah bisa mengingat masa laluku yang begitu menyakitkan.”

Bellina tersenyum sinis. “Kenapa? Bukannya masa lalu kamu indah? Kamu selalu dapet kasih sayang dari Papa. Kamu bisa dapetin perhatian Lian,” tuturnya sambil menatap tajam ke arah Yuna.

Yuna membelalakkan matanya mendapati tatapan Bellina. Kini, ia benar-benar yakin kalau Bellina mengundangnya ke rumah ini bukan untuk meminta maaf. Hanya untuk membuatnya sakit karena harus mengenang masa lalunya yang menyedihkan.

Bellina tertawa kecil melihat reaksi Yuna. “Kenapa sih, Yun? Aku harus hidup dalam bayang-bayang kamu? Semua orang selalu melihat kamu. Nggak ada satu pun yang lihat aku dan peduli sama aku,”  tutur Bellina dengan mata berkaca-kaca.

“Aku nggak ngerti maksud kamu, Bel.”

“Nggak ngerti?” Bellina tersenyum sinis. “Kamu beneran nggak ngerti atau Cuma pura-pura nggak ngerti?” Ia menatap tajam ke arah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala.

Bellina tersenyum menatap Yuna. “Kamu sadar nggak sih kalau sampai sekarang, Lian masih aja perhatiin kamu?”

Yuna balas tersenyum menatap Bellina. “Sejak dulu, Lian memang perhatian sama aku sebagai pacar. Tapi, kamu juga jadi selingkuhannya selama aku pacaran sama Lian. Kamu nggak tahu gimana rasanya dikhianati sama pacar dan saudara sendiri? Sakit, Bel. Tapi, aku sekarang udah jauh lebih baik dan bahagia. Aku udah lupain saat-saat itu. Bagiku, kebahagiaan yang dikasih Yeriko, cukup untuk membuatku melupakan semua rasa sakit yang aku rasain di masa lalu.”

“Kamu nggak akan balik ke Lian lagi kan?” tanya Bellina.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku udah nikah dan hidup bahagia. Nggak punya keinginan sedikitpun untuk kembali ke Lian.”

“Bagus.” Bellina manggut-manggut. “Aku pegang kata-katamu ini.”

Yuna tersenyum. Ia berharap kalau kakak sepupunya itu benar-benar bisa berubah dan berhenti membencinya.

“Turun, yuk! Aku haus,” ajak Bellina setelah beberapa menit mereka menghabiskan waktu di dalam ruangan tersebut tanpa kata-kata.

Yuna mengangguk dan mengikuti langkah Bellina perlahan.

Saat langkahnya hampir mencapai ujung tangga, Bellina melirik ke arah Yuna yang berdiri di belakangnya.

“Aargh ...!” Bellina sengaja menjatuhkan tubuhnya di ujung tangga ia berguling ke bawah.

“Astaga! Bellina!” seru Yuna saat melihat tubuh Bellina tergeletak lemas di bawah tangga. Tubuhnya gemetaran dan langsung menghampiri Bellina.

Semua orang langsung berlari ke tangga begitu mendengar teriakan Bellina.

“Bel, kenapa bisa jatuh?” tanya Lian sambil memeluk kepala Bellina.

“Dia yang dorong aku,” jawab Bellina lemah sambil menoleh ke arah Yuna yang berdiri di sebelahnya.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak dorong dia. Dia yang sengaja menjatuhkan diri di atas tangga.”

“Gimana bisa Bellina menjatuhkan dirinya sendiri, hah!?” sentak Melan. “Tante nggak nyangka kalau kamu sekejam ini. Kamu tahu kan kalau Bellina lagi hamil? Kamu iri sama dia karena kamu nggak bisa punya anak?”

Yuna menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak dorong dia. Aku nggak mungkin sejahat itu, Tante.”

“Aargh ...!” Bellina mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Darah segar mulai keluar dari mulut rahim dan membuat Lian sangat panik.

“Tante jangan nuduh sembarangan!” pinta Yeriko. “Yuna nggak mungkin mencelakai orang lain apalagi saudara sendiri.”

“Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Bisa aja dia ngelakuin ini supaya Bellina keguguran. Dia pasti iri karena dia sendiri nggak bisa hamil juga sampai sekarang!” maki Melan.

Yuna menggelengkan kepala dan meraih lengan Yeriko. “Yer, aku nggak dorong dia. Aku nggak ngelakuin itu. Aku nggak mungkin nyelakain Bellina dan bayinya. Kamu percaya aku, kan?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku percaya sama kamu.” Yeriko merangkul tubuh istrinya dan mengelus lembut pundak Yuna.

“Mana ada penjahat mau ngaku!” seru Melan. “Kalau sampai terjadi apa-apa sama bayinya Bellina. Tante akan nuntut kamu!”

“STOP!” teriak Lian sambil menangis histeris melihat banyak darah yang mengalir ke lantai. “Bellina udah kayak gini, kalian masih bisa berdebat di sini!?” sentak Lian sambil menggendong tubuh Bellina yang lemah keluar dari rumah dan membawanya ke rumah sakit.

“Awas kamu ya! Tante bakal bikin perhitungan ke kamu!” dengus Melan sambil menunjuk wajah Yuna penuh kebencian. Ia dan suaminya bergegas menyusul Lian ke rumah sakit.

“Yer, kamu percaya sama akun kan?” tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak dorong dia. Dia yang sengaja menjatuhkan dirinya di tangga. Aku masih nggak ngerti kenapa dia tega ngelakuin ini. Dia rela menyakiti anaknya cuma buat fitnah aku.” Ia terisak  dalam pelukan Yeriko.

Yeriko menarik napas dalam-dalam sambil memeluk erat tubuh Yuna. Ia merasa sangat bersalah. Sejak awal, mereka merasa ada yang tidak beres dengan undangan makan malam ini.

“Kita susul mereka ke rumah sakit. Aku khawatir sama keadaan Bellina dan kandungannya,” pinta Yuna.

Yeriko mengangguk. Mereka bergegas keluar dari rumah keluarga Bellina dan langsung melaju menuju rumah sakit terdekat.

“Andre beneran bawa Bellina ke rumah sakit ini?” tanya Yeriko begitu mereka sampai di parkiran rumah sakit.

Yuna mengangguk. Ia langsung turun dari mobil san berlari menuju ruang  IRD (Instalasi Rawat Darurat). Ia langsung menghampiri Lian yang sedang berdiri sambil berbaring di dinding.

“Gimana keadaan Bellina?” tanya Yuna.

Lian menyandarkan kepalanya sambil meneteskan air mata. “Dokter lagi berusaha menangani,” jawabnya lirih.

Melan ingin memaki Yuna kembali, namun ia ditahan oleh Tarudi.

Yuna meremas jemari tangannya sendiri. Ia sangat cemas dengan keadaan Bellina. Sesekali ia menatap Lian, kemeja putih yang ia kenakan berlumuran darah.

Seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung menghampiri Lian.

“Gimana keadaan istri dan kandungannya, Dok?” tanya Lian.

“Istri Anda mengalami pendarahan hebat.  Kami harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan janin dalam kandungannya.” Dokter tersebut menyodorkan dokumen ke arah Lian. “Tolong tanda tangani segera agar kami bisa mengambil tindakan!”

Tangan Lian gemetar saat meraih pena dari tangan dokter tersebut. Ia meneteskan air mata melihat dokumen persetujuan operasi yang asa di tangannya.

“Dok, anak itu masih kecil. Apa nggak ada cara lain untuk menolong bayi kami?” tanya Lian.

Dokter tersebut menggelengkan kepala.

Lian memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas dan menggoreskan pena ke atas kertas dengan berat hati.

Dokter tersebut langsung menyambar kertas dari tangan Lian. “Suster, cepat bawa ke ruang operasi!” perintahnya sambil setengah berlari.

Semua perawat langsung bersiap dan mendorong ranjang pasien Bellina menuju ruang operasi.

Yuna ikut menangis melihat kejadian ini. Ia bisa melihat Bellina terbaring tak berdaya sambil mengeluarkan air matanya. Ia tak menyangka kalau Bellina akan kehilangan anak yang dikandungnya.

Lian langsung menangis histeris, tubuhnya merosot ke lantai. Ia merasa menjadi pria yang tak berguna. Tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak yang bahkan belum sempat melihat dunia.

Melan dan Terudi juga ikut terisak melihat nasib anak dan calon cucu kesayangannya. Semua orang ikut bersedih. Melan sangat menyesali perbuatannya.

Bayi dalam kandungan Bellina memang sudah meninggal. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan untuk menjebak Yuna. Jatuh atau tidak, bayi Bellina tetap akan dikeluarkan dari rahimnya. Ia terus melirik Yuna penuh kebencian. Ia berharap, Yuna mendapatkan penderitaan seumur hidupnya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Keluarga jahat, untung ada Perfect Hero-nya Yuna. Mr. Ye nggak akan biarin Yuna menderita dong ya

Makasih udah baca sampai di sini. Dukung terus dengan kasih review baik di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 251 || Hidangan Terselubung || a Romance Novel by Vella Nine

 



“Oh ya, maksud kedatangan Oom kemari, ingin mengajak kalian makan malam di rumah Oom!” tutur Tarudi saat melihat Yuna datang sambil membawa nampan di tangannya.

“Mmh ... maaf, Oom. Kalau malam ini, kami nggak bisa.” Yuna menyuguhkan kopi hangat ke hadapan Tarudi dan Yeriko.

“Kenapa?” tanya Tarudi.

Yuna langsung menoleh ke arah Yeriko. Ia tersenyum dan duduk tepat di sebelah Yeriko. “Yun, sejak kalian menikah, belum pernah main ke rumah Oom. Walau bagaimana pun, Oom ini masih keluarga kamu. Apa kamu sama sekali tidak menghargai keberadaan Oom kamu ini?”

Yuna menggigit bibir bawahnya. “Aku ... nggak berani ke sana. Tante dan Bellina benci banget sama aku. Aku nggak mau berantem sama mereka.”

“Biar benci, mereka tetap sayang sama kamu. Lagipula, Melan sekarang sudah berubah. Buktinya, dia nyuruh Oom ke sini buat ngajak kamu makan malam. Bahkan, dia sempat memikirkan membeli hadiah untuk kamu.”

Yuna tersenyum kecut. Ia menggelengkan kepala.

“Yun, percaya sama Oom!” pinta Tarudi. “Tante kamu sudah berubah. Dia mau ngajak makan malam karena mau minta maaf sama kamu. Tolong, kasih kesempatan tante kamu dan Bellina untuk berubah!”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak mau ke sana,” tuturnya sambil memeluk lengan Yeriko.

Yeriko menggenggam erat tangan Yuna sambil menatap Tarudi. “Maaf, Oom. Yuna nggak mau ke sana.”

“Ini cuma jamuan makan malam biasa. Tapi tante kamu sudah menyiapkan semuanya. Dia semangat sekali membuatkan masakan yang spesial untuk kalian. Tolong, jangan kecewakan niat tulus tante kamu!” pinta Tarudi. “Lagipula, kalian nggak datang di acara pesta pernikahan Bellina. Anggap saja, ini rasa syukur keluarga dan Oom harap kalian bisa datang malam ini.

Yuna dan Yeriko saling pandang. Yuna sangat mengerti bagaimana sifat keluarga Bellina. Tiba-tiba ingin meminta maaf? Ia merasa ada sesuatu yang aneh.

Yeriko menarik napas dalam-dalam sambil menatap Tarudi.

“Sekali ini saja!” pinta Tarudi.

Yeriko menganggukkan kepala. “Oke. Untuk kali ini aja, Om.”

Tarudi langsung tersenyum dan menarik napas lega karena Yeriko akhirnya setuju untuk makan malam bersama keluarganya.

Yuna menarik-narik ujung baju Yeriko. Ia sangat berharap kalau suaminya menarik kembali ucapannya itu.

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut punggung tangan Yuna.

“Kalau gitu, Oom pamit pulang dulu!” pamit Tarudi. “Oom tunggu kehadiran kalian di rumah.” Ia bangkit dari tempat duduknya.

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Tarudi bergegas keluar dari rumah Yeriko.

Yeriko dan Yuna masih bergeming di tempatnya. Mereka tidak berminat sedikitpun untuk mengantarkan pamannya keluar dari rumah.

“Yer, kenapa sih kamu setuju makan malam di rumah Oom Tarudi?” tanya Yuna kesal.

“Nggak papa. Cuma sekali ini aja. Lagipula, mereka memang keluarga kamu. Aku juga sudah sangat lancang menikahi kamu tanpa izin dia. Rasanya nggak etis kalau harus menolak undangan dia.”

“Aku nggak yakin kalau Tante Melan dan Bellina mau minta maaf. Kemarin, mereka baru aja ngajak berantem. Aku takut, mereka punya rencana jahat ke aku.”

“Kamu tenang aja! Ada aku. Aku nggak akan ngebiarin mereka melukai kamu.” Yeriko mengelus lembut kepala Yuna.

“Tapi ...”

“Kalau mereka jahatin kamu, aku pasti melindungi kamu.”

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merasa sangat bahagia karena mendapatkan seorang suami yang begitu sempurna di matanya.

“Udah, siap-siap sekarang!” perintah Yeriko sambil mendorong perlahan tubuh Yuna.

“Kamu?”

“Aku santai, nggak perlu dandan.”

“Aku juga nggak mau dandan.”

“Mau pake baju begini ke rumah paman kamu?”

“Emang kenapa?” tanya Yuna sambil mengamati piyama lengan pendek yang ia kenakan.

“Ganti!” perintah Yeriko.

Yuna mengerucutkan bibirnya. Ia malah bergelayut di tubuh Yeriko dengan manja. “Nggak mau ke sana,” rengeknya.

“Yun, kamu tenang aja! Aku pasti jagain kamu, kamu nggak percaya sama aku?” tanya Yeriko sambil menangkup wajah Yuna dengan dua telapak tangannya.

“Percaya. Tapi ...”

“Ya udah, cepet ganti baju!” pinta Yeriko. “Aku nggak suka kamu ngulur waktu.”

Yuna mencebik dan langsung bergegas naik ke kamar untuk bersiap-siap.

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Yeriko sudah bersiap untuk pergi ke rumah keluarga Linandar.

“Udah siap?” tanya Yeriko sambil memasang arloji ke pergelangan tangannya.

Yuna mengangguk. Mereka bergegas keluar rumah dan langsung menuju ke rumah keluarga Bellina.

Yuna menarik napas beberapa kali saat mereka sudah berada di depan rumah keluarga Bellina.

“Ayo, turun!” ajak Yeriko sambil melepas safety belt.

Yuna bergeming. Ia sama sekali tidak berminat masuk ke dalam rumah tersebut. Walau ada beberapa kenangan indah di rumah itu. Tapi, ia merasa lebih banyak kenangan yang menyakitkan.

“Yun ...!” Panggilan Yeriko membuyarkan lamunan Yuna.

Yuna menarik napas dalam-dalam dan melepas safety belt dari tubuhnya. Ia membuka pintu perlahan dan turun dari mobil.

Di teras rumah, Melan dan keluarganya sudah menunggu kedatangan Yuna di teras rumahnya.

“Halo, Sayang! Gimana kabarnya?” sapa Melan penuh kehangatan.

Yuna hanya tersenyum membalas sambutan Melan yang terlihat sangat manis.

Bellina juga ikut tersenyum manis. Keluarga mereka menyambut kedatangan Yuna penuh suka cita.

Yuna merasa ada yang aneh dengan keluarga ini. Tidak biasanya, mereka bersikap sangat baik kepada dirinya. “Apa mereka bener-bener mau minta maaf?” batin Yuna.

“Ayo, masuk!” pinta Melan mempersilakan Yeriko dan Yuna masuk ke dalam rumahnya.

Yeriko mengangguk. Ia menyerahkan beberapa hadiah untuk keluarga Bellina.

“Ya ampun, pakai repot-repot bawakan hadiah segala,” tutur Melan sambil menatap Yeriko. Dalam hati, ia tersenyum senang karena mendapat hadiah dari Yeriko.

“Nggak repot, Tante. Cuma sedikit.”

“Ah, sebanyak ini kamu bilang sedikit?” sahut Melan. “Ayo, ayo ... masuk!”

Yeriko mengangguk sambil menggenggam tangan Yuna.

Yuna tak banyak bicara. Ia memilih untuk diam dan hanya tersenyum menanggapi obrolan Bellina dan keluarganya.

Mereka langsung bergegas ke meja makan untuk menikmati makan malam bersama.

“Yun, aku mau minta maaf atas sikap aku beberapa terakhir ini,” tutur Bellina.

Yuna tersenyum kecil dan  mengangguk perlahan.

Melan melirik sejenak ke arah Bellina karena Yuna tak banyak bicara dan hanya tersenyum setiap kali diajak berbicara.

“Iya. Tante juga minta maaf karena selama ini sering berprasangka buruk,” tutur Melan.

“Iya, Tante.” Yuna hanya menyunggingkan sedikit senyumnya. Ia sama sekali tidak merasakan ketulusan dari wajah Bellina maupun tantenya. Mereka menikmati makan malam sambil berbincang kaku. Semuanya terasa sangat canggung sebab Yuna dan Yeriko tidak begitu ramah menghadapi keluarga Bellina.

Sementara itu, Wilian tak banyak bicara. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Yuna. Semakin hari, ia merasa kalau Yuna jauh lebih baik dari Bellina dalam segi apa pun. Kini, Yuna terlihat sangat mempesona dan berkelas. Membuat perasaanya sangat tersiksa karena telah menyia-nyiakan Yuna.

Usai makan malam, Melan mengajak Yeriko berbincang. Sementara, Bellina mengajak Yuna naik ke kamar untuk mengenang masa-masa saat mereka masih bersama di rumah tersebut.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Tanamlah benih kebaikan dan kamu akan melahirkan kebaikan ...” –Vella Nine– 

 

Makasih udah baca sampai di sini. Dukung terus dengan kasih Star Vote, hadiah dan review baik di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 


Perfect Hero Bab 250 || Mulai Ngidam || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Lihat apa? Senyum-senyum sendiri?” tanya Yeriko sambil menghampiri Yuna yang sedang duduk di sofa.

“Lihat foto-foto bayi. Lucu-lucu banget.” Yuna terus tersenyum sembari melihat foto-foto yang ada di internet.

“Tumben?” Yeriko langsung duduk di samping Yuna.

“Iya. Tadi lagi cari bandana gitu buat aku. Eh, muncul foto-foto bayi, lucu-lucu. Lihat!” Yuna menyodorkan ponselnya ke arah Yeriko.

Yeriko tersenyum dan langsung meraih ponsel dari tangan Yuna. “Punya anak perempuan lucu ya?”

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu ... pengen anak cewek atau cowok?”

Yeriko melirik ke atas. “Mmh ... anak pertama cewek, anak kedua cowok. Kalo bisa, sekali melahirkan cowok sama cewek.”

“Kembar gitu?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Emang bisa? Kan nggak ada keturunan kembar.”

“Mmh ... harus ada keturunan ya?”

“Nggak tahu juga. Hahaha.”

“Ya udah, nggak usah kembar nggak papa. Yang penting sehat dan bahagia.”

“Mmh ... tapi, ada yang bilang bisa diprogram sih. Emangnya kenapa pengen punya anak kembar?” tanya Yuna.

Yeriko tersenyum sambil merengkuh kepala Yuna. “Lucu aja.”

Yuna tertawa kecil. “Iya juga, sih. Kalo misalnya nggak bisa punya anak kembar, gimana?”

“Nggak gimana-gimana.”

“Mau punya anak berapa?” tanya Yuna.

“Satu aja.”

“Kenapa cuma satu? Aku bakal kesepian kalo cuma punya anak satu.”

“Kalo punya anak lebih dari satu, ntar mereka berantem.”

Yuna mengernyitkan dahinya. “Anak-anak, berantem kan biasa.”

Yeriko menggelengkan kepala. “Mmh ... sebenarnya, aku nggak tega.”

“Nggak tega kenapa?” tanya Yuna sambil menengadahkan kepalanya menatap Yeriko.

“Karena aku tahu melahirkan itu nggak mudah. Aku nggak akan  tega lihat kamu sakit,” jawab Yeriko sambil memeluk erat tubuh Yuna.

Yuna tersenyum sambil menyentuh pipi Yeriko. “Semua wanita ditakdirkan menjadi ibu. Harusnya bahagia kalau bisa melahirkan anak-anak yang lucu.”

 

Yeriko menarik napas sambil mengendus leher Yuna. “Apa kamu bener-bener udah siap jadi ibu?”

 

Yuna mengangguk pasti.

 

“Nggak takut sakit?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Kalau perempuan takut melahirkan, nggak ada manusia di dunia ini. Buktinya, jumlah manusia terus bertambah. Artinya ... melahirkan bukan sesuatu yang harus ditakuti.”

 

Yeriko tersenyum sambil mencium pipi Yuna. “Makasih, ya!”

 

“Untuk?”

 

“Kamu sudah bersedia melahirkan anak-anakku.”

 

“Belum,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

 

“Tapi akan ...”

 

“Aamiin ...”

 

“Mas Yeri ...!” Bibi War tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka tanpa mereka sadari kehadirannya.

 

“Ya, Bi.”

 

“Bibi udah beli lele lima kilo. Nggak ada telurnya.”

 

Yuna mengerutkan bibirnya. Entah kenapa sulit sekali mencari telur lele. Ia juga tidak mengerti kenapa makanan yang satu itu selalu berkelebat di pelupuk matanya.

 

“Beli lagi, Bi!” perintah Yeriko.

 

“Bibi udah beli lima kilo.”

 

“Tambahin lagi!” perintah Yeriko lagi. “Beli sepuluh atau dua puluh kilo. Masa nggak ada satu pun yang bertelur!?”

 

“Tapi, Mas. Lelenya mau diapakan sebanyak itu?” tanya Bibi War.

 

“Iya. Masa setiap hari disuruh makan lele?”

 

“Telurnya belum dapet. Lelenya aja dulu dimakan,” sahut Yeriko sambil menahan tawa.

 

Yuna memonyongkan bibirnya sambil memukul perut Yeriko.

 

“Aw ...!” serunya sambil tertawa.

 

“Bi, lelenya bagi-bagi aja ke tetangga yang mau. Bibi cari telurnya aja!” perintah Yeriko sambil tertawa. Ia langsung menangkap lengan Yuna yang mencoba menyerang dirinya.

 

Yuna langsung terdiam mendengar ucapan Yeriko. “Mmh ... bener juga. Kasih ke tetangga aja, Bi!”

 

“Kamu ada-ada aja. Pengen makan telur lele,” celetuk Yeriko. “Kayak nggak ada makanan lain yang lebih enak aja.”

 

“Namanya juga kepengen,” sahut Yuna.

 

“Mbak Yuna ngidam?” tanya Bibi War sambil tersenyum.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Kalo Bibi perhatikan, kayaknya Mbak Yuna udah mulai hamil. Soalnya, Mas Yeri juga ngidam.”

 

“Ngidam!?” Yuna dan Yeriko berseru berbarengan.

 

Bibi War tersenyum menatap Yunq dan Yeriko.

 

“Aku nggak bisa hamil, Bi.”

 

“Suami bisa ngidam kalau istrinya hamil.”

 

“Serius, Bi?” tanya Yuna sambil tersenyum.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Yeriko.

 

“Nggak papa. Bagus aja kalo suami yang ngidam. Biar tahu gimana rasanya ngidam, hahaha.”

 

Yeriko mengerutkan keningnya sambil menatap Yuna. “Kamu ...!?”

 

Bibi War tersenyum kecil. “Semoga beneran hamil ya! Soalnya, Mas Yeri kan sekarang sering mual kalo makan ikan.”

 

Yeriko terdiam. Ia dan Yuna saling pandang. “Ntar, dikira hamil sekalinya enggak. Kayak kemarin itu.”

 

“Nanti kalau periksa ke dokter kan ketahuan,” tutur Bibi War. “Kalo Mbak Yuna beneran ngidam, berarti Bibi harus nyarikan telur lelenya sampai dapat. Kalo nggak, ntar anaknya ileran!”

 

Yeriko membelalakkan mata mendengar ucapan Bibi War. “Ah, mitos!” sahutnya kesal.

 

“Ya udah kalo nggak percaya. Bibi nggak usah cari lele lagi. Biar aja Mbak Yuna nggak bisa tidur karena pengen telur lele terus,” ucap Bibi War sambil berlalu pergi.

 

“Eh!?” Yeriko mengernyitkan dahinya. “Kenapa Bibi jadi begitu?”

 

“Begitu kenapa?” tanya Yuna.

 

“Ngece. Kayak kamu!” sahut Yeriko. “Jangan-jangan, dia udah ketularan sama kamu.”

 

“Iih ... aku nggak pernah ngece,” sahut Yuna.

 

“Nggak pernah kalo sekali,” sahut Yeriko sambil menoleh ke arah bel pintu yang berbunyi.

 

“Siapa?” tanya Yuna sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko mengedikkan bahu.

 

“Lutfi? Chandra atau Riyan?”

 

“Sejak kapan mereka masuk rumah ini pake acara mencet bel?”

 

“Mmh ... iya juga, sih. Biar aku yang bukain pintu.” Yuna langsung bangkit dan bergegas melangkah menuju pintu rumahnya.

“Oom?” Yuna mengernyitkan dahi saat melihat sosok Tarudi dari balik kaca rumahnya. Ia tersenyum kecil dan langsung membukakan pintu untuk pamannya.

Tarudi langsung memasang senyum lebar begitu Yuna membukakan pintu untuknya.

“Oom, tumben ke sini? Ada apa?” tanya Yuna.

“Sejak kamu menikah, Oom belum pernah mengunjungi kamu.”

“Oh. Masuk, Oom!” pinta Yuna sambil mempersilakan pamannya masuk ke rumah.

Tarudi mengangguk. Ia melangkah perlahan memasuki rumah Yeriko sambil mengedarkan pandangannya. Ia gemetaran melihat dekorasi rumah yang sangat mewah. Keponakannya benar-benar menikahi pria yang sangat kaya dan ia tidak tahu bagaimana menghadapinya.

“Silakan duduk, Oom!” pinta Yuna.

Tarudi mengangguk, ia duduk di salah satu sofa yang membelakangi pintu rumah Yeriko.

“Oom, mau minum apa?” tanya Yuna sambil tersenyum manis.

“Apa aja.”

“Oke. Aku ke belakang dulu!”

“Eh, tunggu! Ini, Oom bawain oleh-oleh buat kamu.” Tarudi menyodorkan sebuah paper bag ke hadapan Yuna.

“Makasih, Oom!” ucap Yuna sambil tersenyum manis. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju dapur.

“Siapa?” tanya Yeriko saat Yuna melewatinya.

“Oom aku,” jawab Yuna berbisik. Ia langsung menghampiri Yeriko yang duduk santai di sofa ruang keluarga sambil membaca majalah bisnis.

Yuna menghampiri Yeriko sambil meletakkan paper bag di bawah kakinya. “Yer, kenapa Oom aku tiba-tiba datang ke sini. Bawain hadiah segala. Jangan-jangan, dia ada maksud terselubung,” bisik Yuna.

Yeriko tersenyum sinis. Ia menutup majalah yang ia baca, meletakkan kembali ke atas meja dan bangkit dari tempat duduk.

“Kamu mau nemuin dia?” tanya Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. “Walau gimana pun, dia Oom kamu. Kita harus menghargai dia yang sudah menyempatkan waktu datang ke sini.”

“Oke. Aku ke dapur dulu.”

Yeriko mengangguk dan bergegas menemui Tarudi di ruang tamunya. “Sore, Oom!” sapanya sambil tersenyum manis.

“Sore!” Tarudi langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan ke arah Yeriko.

“Ah, Oom seperti orang lain aja. Santai aja, Oom!” sahut Yeriko sambil membalas uluran tangan Tarudi. “Silakan duduk, Oom!”

Tarudi mengangguk dan duduk kembali.

“Gimana kabarnya, Oom? Sehat?”

Tarudi mengangguk. “Kamu sendiri bagaimana? Sepertinya, keponakan Oom hidupnya sangat bahagia di tempat ini.”

Yeriko tersenyum menanggapi ucapan Tarudi. “Kalau dia nggak bahagia, dia nggak akan betah tinggal di rumah ini.”

Tarudi langsung terdiam. Ia merasa kalau Yeriko sengaja menyinggung dirinya. Sebab, selama ini Yuna tidak betah tinggal di dalam rumahnya. Sejak pulang dari Melbourne, Yuna tidak pernah menginjakkan kaki di rumahnya.

Yeriko tersenyum kecil melihat raut wajah Tarudi yang tiba-tiba berubah. Ia sangat mengerti bagaimana keluarga Tarudi memperlakukan Yuna. Kali ini, ia akan selalu melindungi Yuna dari kejahatan.

 

 (( Bersambung ... ))

 

Tanamlah benih kebaikan dan kamu akan melahirkan kebaikan ...

 

Makasih udah baca sampai di sini. Dukung terus dengan kasih  review baik di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas