Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 249 || Stillbirth || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Kenapa aku harus kehilangan anakku?” batin Bellina sambil melangkah tak bersemangat. Ia memegang kertas hasil pemeriksaan dan terduduk lemas di kursi tunggu.

 

“Bel, gimana hasil pemeriksaan dokter?” Melan menghampiri Bellina dengan perasaan yang tak karuan. Sudah tiga kali ia memeriksakan kandungan Bellina pada dokter yang berbeda. Semuanya mengatakan kalau bayi dalam kandungan Bellina sudah meninggal.

 

“Mama kenapa nggak bilang sama aku?” tanya Bellina lirih. Ia terpaku menatap lantai rumah sakit yang dingin dan kosong.

 

“Bel, Mama nggak bermaksud buat menutupi ini semua dari kamu. Mama cuma ingin benar-benar memastikan kalau kandungan kamu baik-baik aja.”

 

“Tapi, dokter bilang kalau anak ini sudah meninggal dan harus dikeluarkan.”

 

“Bel, kita cari dokter ahli yang lain lagi. Gimana?”

 

Bellina menggeleng perlahan. “Apa tiga dokter masih kurang cukup? Mereka semua bilang kalau bayi aku udah mati, Ma.” Bellina mulai terisak.

 

“Sayang, kamu jangan sedih kayak gini. Kalau stres terus, kandungan kamu semakin berbahaya. Nggak sakit, kan? Pasti anak kamu baik-baik aja.”

 

Bellina menggeleng. Ia memeluk tubuh Melan dan menangis pilu. “Kenapa aku? Kenapa harus aku yang ngalamin ini semua?”

 

“Kamu tenang aja!” pinta Melan. “Semua pasti baik-baik aja.”

 

“Baik-baik aja gimana, Ma? Udah kayak gini, Mama masih bisa bilang baik-baik aja?”

 

Melan terdiam. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menghibur Bellina. Dalam hatinya, justru menyimpan kekesalan pada Yuna yang kerap kali membuat suasana hati Bellina memburuk.

 

“Ma, kenapa aku selalu kayak gini? Sementara Yuna selalu dapetin kebahagiaan. Aku baru aja nikah sama Lian, kenapa harus kehilangan anak kami?”

 

Melan menarik napas dalam-dalam. “Ini semua gara-gara Yuna. Kalau aja dia nggak mengganggu rumah tangga kalian. Semua ini nggak akan terjadi. Anak itu memang nggak tahu diri!”

 

“Ma, kata dokter janinku bermasalah karena aku terlalu stres. Gimana aku nggak stres kalau suamiku sekantor sama Yuna. Udah gitu, Yuna terus-terusan deketin Lian. Aku takut, Ma. Lian bakal ninggalin aku dan balik lagi ke Yuna.”

 

“Kamu tenang aja! Mama nggak akan ngebiarin semuanya terjadi.” Melan mengusap-usap pundak Bellina penuh kelembutan. “Anak kamu pasti baik-baik aja.”

 

“Gimana kalo Lian tahu kalau anak di kandungan aku nggak bergerak sama sekali? Aku nggak bisa ngasih dia keturunan. Apa dia bakal menceraikan aku?”

 

“Nggak, Bel. Mama nggak akan ngebiarin Lian ninggalin kamu gitu aja. Pasti ada cara yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan anak kamu.”

 

“Cara apa, Ma? Udah nggak ada harapan lagi,” tutur Bellina masih terisak. “Cuma anak ini yang bikin Lian tetap bertahan dan menikah sama aku. Kalo nggak ada bayi ini, Lian bisa aja nyeraikan aku.”

 

“Bel, dia nggak mungkin ninggalin kamu. Mama nggak akan biarin itu.” Melan mulai khawatir. Anak dalam kandungan Bellina adalah pewaris Wijaya Group. Jika Bellina tidak bisa melahirkan anaknya, ia khawatir tidak bisa mendapatkan harta kekayaan keluarga Wijaya.

 

Bellina terus terisak di pelukan mamanya.

 

“Kenapa ini semua nggak terjadi sama anak durhaka itu?” gumamnya kesal. “Harusnya, dia yang mengalami penderitaan seperti ini!”

 

“Kalau bukan karena dia. Aku bisa hidup tenang dan bayiku pasti baik-baik aja. Apa dia sengaja bikin perasaanku nggak tenang supaya kandungan bermasalah dan dia bisa merebut Lian kembali?”

 

“Bel, Mama pasti bantu kamu untuk mempertahankan pernikahan kalian. Mama akan ngelakuin segala cara supaya anak Mama bisa hidup bahagia,” tutur Melan perlahan.

 

“Gimana caranya ngomong ke Lian? Dia pasti bakal marah banget karena aku nggak bisa menjaga anak ini dengan baik.”

 

“Jangan berpikir semakin jauh!” pinta Melan. “Lebih baik, kita pulang ke rumah dan cari cara.”

 

Bellina menangguk. Mereka bergegas keluar dari rumah sakit dengan perasaan kecewa, takut, sakit dan semua hal buruk yang terus melayang-layang di pikiran mereka.

 

 Sesampainya di rumah, Bellina terus memikirkan cara untuk menghancurkan hidup Yuna sehancur-hancurnya. Ia merasa Yuna telah merenggut semua kebahagiaannya. Selalu lebih unggul dari dirinya dan menjadi penyebab kesulitannya. Ia tidak akan melepaskan Yuna begitu saja.

 

“Aku harus minta bantuan Papa,” gumam Bellina. Ia segera turun dari kamarnya dan mencari sosok ayahnya.

 

“Pa ...!” teriak Bellina sambil terus melangkahkan kakinya.

 

“Kamu kenapa teriak-teriak?” tanya Melan.

 

“Papa mana?”

 

“Di belakang. Kenapa?”

 

“Aku udah punya rencana bagus.”

 

“Apa itu?” tanya Melan.

 

Bellina membisikkan rencananya ke telinga Melan.

 

“Kamu yakin? Itu membahayakan dirimu sendiri.”

 

“Tenang aja, Ma. Semua akan baik-baik aja. Mama nggak usah takut!”

 

“Gimana Mama nggak takut kalau kamu sampai membahayakan diri kamu sendiri? Kalo ada apa-apa gimana?”

 

Bellina tertawa kecil. “Aku udah pikirkan baik-baik. Nggak akan bermasalah, kok. Yang penting, kita bisa sukses ngasih dia pelajaran.”

 

Melan terdiam. Ia sebenarnya tidak setuju dengan cara Bellina. Tapi, Bellina terus meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja.

 

Bellina bergegas ke halaman belakang menghampiri ayahnya.

 

“Pa ...!” panggil Bellina sambil menatap ayahnya yang sedang bersantai di halaman belakang.

 

“Apa?” Tarudi langsung memutar kepalanya menatap Bellina.

 

“Papa bisa undang Yuna ke rumah ini?”

 

“Mau apa?”

 

“Aku mau minta maaf sama dia.”

 

“Minta maaf?” Tarudi mengernyitkan dahi.

 

“He-em.” Bellina mengangguk sambil tersenyum.

 

“Kamu serius mau minta maaf sama dia?” tanya Tarudi.

 

 

 

Bellina mengangguk.

 

 

 

“Dia sudah menolak undangan Papa.”

 

 

 

“Papa bisa coba lagi. Selama ini, Yuna selalu baik sama Papa. Dia pasti mau dengerin Papa.”

 

 

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. “Jelas-jelas, dia sudah menolak undangan Papa dua kali.”

 

 

 

“Pa, bantulah kami minta maaf sama Yuna!” pinta Melan yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Bellina.

 

 

 

Tarudi terdiam sesaat.

 

 

 

“Papa bisa ke rumah mereka sekarang. Mama udah siapin hadiah untuk Yuna.”

 

 

 

Tarudi menganggukkan kepala.

 

 

 

“Makasih, Pa!” ucap Bellina sambil tersenyum penuh arti.

 

 

 

“Cepet, Pa!” pinta Melan. “Ini udah sore. Ntar Yuna keburu keluar dari rumahnya.”

 

 

 

“Keluar ke mana?”

 

 

 

“Biasanya, mereka makan malam di luar. Makanya, kita undang aja mereka makan malam di sini.”

 

 

 

“Oh.” Tarudi manggut-manggut sambil melangkahkan kakinya.

 

“Semoga berhasil, Pa!” seru Melan. “Mama bakal siapin banyak makanan enak malam ini.”

 

Tarudi menganggukkan kepala sambil terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah.

 

 

 

Bellina dan Melan saling pandang dan tersenyum.

 

“Makasih, Ma. Mama udah bantuin ngerayu Papa,” tutur Bellina sambil tersenyum senang.

 

Melan mengangguk. “Mama pasti bantu kamu.” Ia terus tersenyum. Ia berharap bisa menyelamatkan keluarganya. Ia tidak ingin Wilian mengetahui perihal kandungan Bellina yang bermasalah.

 

Bellina tersenyum hangat dan langsung memeluk Melan. Ia tersenyum sinis di balik punggung Melan. Ia berharap, kali ini bisa benar-benar menghancurkan hidup Yuna untuk selamanya. Ia tidak akan pernah rela melihat Yuna bahagia.

 

Bellina kembali naik ke kamarnya. Di saat yang sama, ponselnya berdering. Ia langsung mengangkat panggilan telepon.

 

“Halo ...!” sapa Bellina begitu ia menjawab panggilan telepon.

 

“Bu, kami mau mengingatkan untuk melakukan pemeriksaan ulang besok sebelum melakukan operasi.”

 

“Aku nggak mau dioperasi,” sahut Bellina.

 

“Tapi, jika janin itu tidak dikeluarkan. Akan sangat membahayakan untuk kesehatan Ibu sendiri.”

 

“Oke. Besok saya ke sana lagi. Saya belum bisa melakukan operasi. Saya harus membicarakannya terlebih dahulu dengan suami saya. Dia belum tahu kalau bayi ini sudah meninggal.”

 

“Baiklah. Kami anjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulang terlebih dahulu karena ...”

 

“Telepon dari siapa?” Lian tiba-tiba muncul di belakang Bellina.

 

“Eh!?” Bellina memutar kepala menatap Lian. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya. “Dari rumah sakit.”

 

“Kenapa? Ada masalah?” tanya Lian.

 

“Eh? Nggak ada.” Bellina menggelengkan kepala.

 

Lian tersenyum sambil memeluk tubuh Bellina. Ia mengelus perlahan perut Bellina yang mulai membuncit. Selama beberapa menit, tak ada pergerakan sedikit pun dari janin yang ada di dalam perut Bellina.

 

“Kenapa dia diam aja?” tanya Lian. Beberapa hari lalu, ia sudah bisa merasakan detak jantung anaknya. Tapi kali ini, ia tidak merasakannya sedikitpun.

 

“Eh? Mungkin dia lagi tidur. Mmh ... aku bikinkan kamu kopi dulu.” Bellina bergegas melangkah keluar dari kamar untuk menghindari pertanyaan dari Lian. Ia tidak ingin Lian mengetahui perihal kematian anaknya karena suasana hatinya yang selalu buruk.

 

Lian sudah berkali-kali memperingatkan dirinya untuk bersikap tenang. Tapi, ia tetap saja tidak tenang. Selalu memikirkan Lian yang secara diam-diam masih menyukai Yuna.

 

 (( Bersambung ... ))

 

Apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai di kemudian hari.”

 

Makasih udah baca sampai di sini. Dukung terus dengan kasih baik di kolom komentar.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 248 || My Best Wife || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yer, kamu kok makan begituan sih?” protes Yuna saat melihat suaminya menggigit buah tomat. Ia duduk berhadapan dengan Yeriko di sebuah restoran saat makan malam.

 

“Eh!? Emang kenapa?”

 

“Nggak asem?” tanya Yuna sambil bergidik.

 

“Nggak. Mau cobain?” Yeriko menyodorkan buah tomat ke hadapan Yuna.

 

“Nggak mau!” sahut Yuna sambil menyingkirkan tangannya. “Dapet dari mana buah begituan,” celetuknya.

 

“Dari pelayan restoran.”

 

Yuna mengernyitkan dahi. Ia merasa ada yang aneh dengan selera makan suaminya. “Kamu baik-baik aja kan?”

 

Yeriko mengangguk. “Baik-baik aja. Kenapa emangnya?”

 

“Nggak papa.” Yuna memasukkan potongan steak ke dalam mulut sambil terus memerhatikan Yeriko.

 

“Yun, kamu udah terima email dari mama?”

 

Yuna menggeleng. “Kenapa?”

 

“Mama bilang, mau dikirim ke email kamu.”

 

“Oh ... design undangan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Udah dilihat?”

 

Yuna mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, mencari contoh-contoh gambar yang dikirim oleh meme mertuanya. Kemudian, menyodorkan ponselnya ke hadapan Yeriko. “Mau lihat?”

 

Yeriko mengangguk sambil meraih ponsel Yuna.

 

“Kamu nggak makan?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil terus menyentuh layar ponsel istrinya.

 

“Yer, kalo kamu nggak makan. Cuma minum kopi sama makan yang asam-asam gini, bisa asam lambung loh.”

 

Yeriko menggeleng sambil menatap layar ponsel Yuna.

 

Yuna geram dengan sikap Yeriko. Ia mengambil satu potong daging besar dan menyodorkannya di hadapan Yeriko. “Makan!” perintahnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Iih ... makan!” pinta Yuna sambil merengek manja.

 

Yeriko menggeleng. Ia lebih memilih memasukkan potongan jeruk ke mulutnya.

 

Yuna merengut dan langsung meletakkan garpunya ke atas piring dengan kesal. Ia terus menatap Yeriko sambil menautkan kedua alisnya.

 

Yeriko menghela napas menatap Yuna. “Yun, akhir-akhir ini nafsu makanku agak kacau. Aku nggak bisa makan yang amis-amis.”

 

“Ya udah, makan ini aja!” Yuna menyodorkan salad ke hadapan Yeriko. “Kamu aneh banget. Nggak biasanya kayak gini. Gimana kalau kita periksa ke dokter?”

 

Yeriko menggeleng. “Mungkin, karena terlalu banyak kerjaan akhir-akhir ini.”

 

Yuna menatap wajah Yeriko. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membantu suaminya mengatasi pekerjaan di perusahaannya. “Apa yang bisa aku bantu buat meringankan beban kamu?”

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Senyum.”

 

“Senyum?”

 

Yeriko mengangguk. “Semua rasa lelahku langsung hilang saat lihat kamu tersenyum.”

 

Pipi Yuna menghangat seketika saat mendengar kata-kata Yeriko. Ia langsung tersenyum hangat menatap Yeriko yang duduk di hadapannya.

 

Mereka bergegas menyelesaikan makannya dan kembali ke rumah.

 

“Malam, Bi ...!” sapa Yuna saat melihat Bibi War sedang menonton televisi.

 

“Malam,” balasnya sambil tersenyum. “Abis jalan-jalan?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Bi, tolong buatin susu jahe!” perintah Yeriko. “Antar ke kamar ya!”

 

Bibi War mengangguk, ia bergegas bangkit dari sofa.

 

“Nggak usah, Bi. Biar aku yang buatin,” sergah Yuna. “Bibi santai aja di sini. Pasti udah capek kan ngurus rumah seharian.”

 

“Bener?” tanya Bibi War sambil tersenyum ke arah Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Suamiku, biar aku urus sendiri,” bisiknya sambil tersenyum kecil.

 

Bibi War menganggukkan kepala sambil tersenyum bangga melihat Yuna yang bergegas menuju dapur. Ia merasa sangat beruntung karena memiliki majikan yang sangat baik. Ia sudah semakin tua,  pekerjaannya mengurus Yeriko sudah semakin mudah dengan adanya Yuna. Selain cantik, Yuna juga baik dan memberikan banyak keceriaan di dalam rumah mereka.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna sudah selesai membuatkan susu jahe untuk Yeriko. Ia bergegas naik ke kamar dan menghampiri Yeriko yang berbaring di tempat tidur. Ia langsung meletakkan secangkir susu jahe ke atas meja.

 

Yuna duduk di tepi tempat tidur sambil menatap wajah Yeriko yang terlihat sangat lemas. “Kamu sakit?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

Yuna menyentuh dahi Yeriko, kemudian menyentuh dahinya sendiri untuk memastikan suhu tubuh Yeriko tidak lebih tinggi dari suhu tubuhnya.

 

“Aku nggak demam, Yun. Aku baik-baik aja.”

 

Yuna menatap pilu ke arah Yeriko. Ia langsung menjatuhkan kepalanya di dada Yeriko. “Kamu aneh beberapa hari ini, bikin aku khawatir.”

 

“Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik aja.” Yeriko mengecup ujung kepala Yuna dengan lembut.

 

Yuna mengangkat kepalanya menatap wajah Yeriko. “Beneran baik-baik aja?”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Cium!” pintanya.

 

Yuna tersenyum dan langsung menciumi pipi Yeriko bertubi-tubi sambil tertawa kecil.

 

“Bibirku nggak menggoda? Kenapa dilewatin aja?” tanya Yeriko.

 

Yuna tertawa kecil. “Aku sisain buat nanti.” Ia bangkit dari atas tubuh Yeriko. Ia meraih cangkir dari atas meja dan memberikannya ke Yeriko. “Minum dulu, mumpung masih anget!” pintanya.

 

Yeriko mengangkat tubuhnya perlahan. Ia meraih cangkir dari tangan Yuna dan menyeruputnya perlahan.

 

“Tadi, di kantor aku ketemu sama Bellina,” tutur Yuna.

 

“Terus? Berantem lagi?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi, kali ini aku kasihan sama dia.”

 

“Kasihan kenapa?”

 

“Dia lagi hamil muda. Selalu khawatir kalau Lian bakal selingkuh. Emang sih, Lian itu bukan cowok yang baik. Tapi, nggak seharusnya juga dia kayak gitu. Kalo Bellina makin stres, trus kandungannya bermasalah gimana?”

 

Yeriko mengedikkan bahunya.

 

“Iih ... aku serius. Biar gimana pun, anaknya Bellina kan keponakanku juga.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu ini masih bisa aja mikirin orang yang jahatin kamu terus.”

 

“Eh, katanya kalo lagi hamil terus benci sama seseorang, anaknya bakal mirip sama orang yang dibenci. Kalo Bellina benci sama aku, berarti anaknya dia bakal mirip sama aku dong? Hahaha.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Jangan sampe mirip sama kamu!”

 

“Kenapa? Aku kan cantik.”

 

“Bukan masalah cantik atau nggaknya. Masalahnya, Bellina dari dulu benci sama kamu. Aku takut, kalau anak itu mirip kamu ... dia di-zholimi sama Bellina. Kasihan anak yang nggak tahu apa-apa,” jelas Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Kamu ini, bisa aja mikir begitu,” sahut Yuna.

 

“Mmh ... daripada mikirin Bellina. Gimana kalau kita mikirin calon anak kita?”

 

“Eh!?”

 

“Kamu belum mikirin?” tanya Yeriko.

 

“Belum, baru bikinin,” jawab Yuna sambil menahan tawa.

 

“Bisa aja,” sahut Yeriko sambil mencubit hidung Yuna.

 

Yuna nyengir ke arah Yeriko. “Ntar aja mikirin Ye kecil, sekarang fokus bikin aja!” sahut Yuna sambil tertawa kecil. Ia bangkit dan mengganti pakaiannya.

 

“Eh, waktu di GOR aku udah tanyain ke Chandra soal Amara. Kok, dia kelihatan tenang banget ya?”

 

“Emangnya harus heboh kayak kamu?”

 

“Kenapa Amara tiba-tiba masuk Menur? Bukannya sebelumnya, dia baik-baik aja. Kamu bikin sesuatu ke dia?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku belum ngelakuin apa-apa ke dia. Dia udah masuk rumah sakit jiwa duluan. Gimana kalo aku yang bertindak ngasih dia pelajaran?” sahutnya sambil tertawa lebar.

 

Yuna mengerutkan kening sambil menghampiri Yeriko. “Ketawa jahat. Pasti kamu yang ngerencanain semua itu kan?” dengusnya.

 

“Nggak, Yun,” sahutnya tanpa menghentikan tawa. “Si Chandra kali. Dia kalo marah lebih kejam dari aku. Bisa makan orang tuh anak.”

 

“Serius? Tapi si Chandra kan masih suka sama Amara. Nggak mungkin dia tega.”

 

“Bisa aja dia yang ngelakuin. Kamu pernah denger nggak kalimat kalau orang yang pendiam itu lebih berbahaya?”

 

Yuna terdiam. “Iya, sih. Chandra pendiem banget. Tapi dia bukan psikopat kali.”

 

“Ah, udahlah. Ngapain sih mikirin Amara? Abis Bellina, Amara. Dua-duanya bukan orang baik. Kalo mereka menerima hal buruk, itu karena perbuatan mereka sendiri. Kamu nggak usah repot mikirin mereka!”

 

“Aku kan baik. Makanya mikirin mereka.” Yuna naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut.

 

“Iya, istriku emang yang paling baik di dunia.”

 

“Gitu dong! Menyenangkan hati istri kan bisa memperpanjang rezeki.”

 

“Aamiin ...”

 

Yuna tersenyum dan menenggelamkan tubuhnya ke pelukan Yeriko.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus dengan cara ngasih bintang dan review baik.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku nggak kesepian...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 247 || Luka Mantan || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna melenggang masuk ke kantornya dengan ceria seperti biasa.

 

“Yun, ikut saya rapat, sekarang!” pinta Bu Citra.

 

“Sekarang?” Yuna yang baru masuk ruangan langsung bingung karena harus menghadiri rapat dadakan. “Rapat apa?”

 

“Nggak usah banyak tanya, ikut saya naik sekarang juga!” perintah Bu Citra.

 

Yuna mengangguk, ia mengambil buku catatan dan pena dari atas meja kerjanya dan bergegas mengikuti langkah Bu Citra.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di ruang rapat.

 

Yuna mengedarkan pandangannya pada beberapa direktur yang sudah ada di dalam ruang rapat tersebut. Semua yang ada di ruangan ini adalah direktur. Ia masih tidak mengerti kenapa harus ikut masuk ke dalam ruang rapat.

 

Yuna memilih untuk berdiri di belakang kursi Bu Citra, sama seperti asisten direktur yang lainnya. Sesekali ia melirik ke arah Tarudi, pamannya yang menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di perusahaan tersebut.

 

Tak lama kemudian, Wilian masuk ke dalam ruangan dan mulai memimpin rapat. Setelah membahas soal keuangan perusahaan, salah seorang direktur menyentil kinerja dari Departemen Proyek. Hal ini langsung membuat Bu Citra naik pitam.

 

“Bapak jangan asal bicara! Kami sudah banyak bekerja keras untuk pengembangan proyek perusahaan!” sahut Citra.

 

“Jangan cuma kerja keras! Kerja cerdas juga!” sahut direktur tersebut tak mau kalah. “Masa proyek pelelangan itu sampai dua ratus juta? Jauh sekali dari harga aslinya yang cuma seratus juta.”

 

“Lelang?” Citra langsung menoleh ke arah Lian.

 

Lian berusaha untuk tenang menghadapi tatapan Citra. Ia meraih secangkir kopi dan menyeruputnya perlahan untuk menutupi rasa gugupnya.

 

Citra tersenyum sinis. “Aku nggak hadir di acara lelang itu. Bukannya, Pak Lian sendiri yang ada di sana?” tanyanya sambil menatap Lian.

 

Lian menganggukkan kepala. Ia tidak bisa lagi mengelak ucapan Citra. Ia memang pergi ke sana bersama Yuna untuk memenangkan pelelangan.

 

“Oh. Kita memang memenangkan pelelangan tersebut. Tapi, kenapa kita nggak dapetin proyeknya? Apa Pak Lian terlalu berbaik hati dengan perusahaan pesaing kita?” tanya salah seorang direksi yang juga ada di dalam ruangan tersebut.

 

Lian menarik napas dalam-dalam. Ia memperbaiki posisi duduknya dan berusaha menjelaskan kepada seluruh peserta rapat perihal pelelangan yang terjadi beberapa bulan lalu.

 

Usai rapat, Yuna langsung berlari ke balkon untuk menenangkan dirinya. Untungnya, Lian tidak membahas soal dirinya yang juga ikut dalam acara pelelangan tersebut.

 

“Yun ...!” panggil Lian yang tiba-tiba sudah ada di belakang Yuna.

 

Yuna berbalik dan langsung menatap Lian. “Pak Lian?”

 

“Nggak perlu panggil, Pak!” pintanya sambil menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Yuna.

 

Yuna tersenyum dan meraih minuman yang diberikan oleh Lian.

 

“Yuna, makasih ya kamu udah bekerja keras di perusahaan ini.”

 

Yuna mengangguk. “Oh ya, selamat ya untuk pernikahan kalian. Semoga, kalian bisa hidup bahagia sampai kakek-nenek.”

 

Lian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah Yuna yang berdiri di sampingnya sambil menatap langit yang cerah. Wajah cantik Yuna, mengingatkan dirinya pada masa-masa tujuh tahun lalu. Saat pertama kali ia mengenal Yuna, saat mereka melakukan banyak hal dengan seragam putih abu-abu.

 

Lian menghela napas panjang. “Banyak hal yang terjadi di antara kita akhir-akhir ini. Aku ngerasa, kehidupanku semakin hari semakin kacau.”

 

Yuna bergeming. Ia mendengarkan ucapan Lian tapi tidak bereaksi sedikitpun.

 

“Kalau bukan karena anak yang dikandung Bellina, aku nggak akan nikahin dia.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Kamu cuma mau manfaatin dia buat muasin nafsu kamu doang?”

 

Lian menarik napas panjang. “Aku tahu, aku yang salah karena nggak bisa mengendalikan diriku dan mudah tergoda.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Kalau memang kamu udah kayak gitu, nggak perlu menyalahkan diri sendiri. Toh, akibatnya juga kamu yang menanggung sendiri.”

 

Lian menundukkan kepalanya. “Sejak aku pisah sama kamu. Hidupku bener-bener kacau. Aku selalu dihantui rasa bersalah karena sudah mengabaikan wanita sebaik kamu. Andai waktu bisa diputar, aku pengen jadi satu-satunya orang yang mencintai kamu dan kamu cintai seumur hidup.”

 

Yuna hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Lian. “Sayangnya, aku sudah mencintai orang lain dan aku hidup bahagia sama dia.”

 

Lian menatap wajah Yuna penuh kepedihan. Ia menghampiri Yuna perlahan dan meraih pergelangan tangan gadis itu. “Yun, apa kita bisa mengulang semuanya dari awal lagi?”

 

“Kamu gila ya!?” Yuna mengernyitkan dahi menatap Lian. “Kita udah sama-sama menikah. Lebih baik, kamu berusaha menyayangi istri dan calon anak kamu.” Yuna menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Yun, aku bener-bener tersiksa setiap kali lihat kamu. Aku nggak bisa terus-terusan dihantui rasa bersalah seumur hidupku.”

 

Yuna tersenyum ke arah Lian. “Kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Aku justru berterima kasih sama kamu. Kalau bukan karena hari itu, mungkin aku nggak akan ketemu sama Yeriko. Hidupku sekarang nggak akan sebahagia ini.”

 

Lian semakin sakit mendengar ucapan Yuna.

 

“Li, kalau memang kamu selalu ngerasa bersalah karena masa lalu yang terjadi di antara kita. Bayarlah dengan menjadi kepala keluarga yang baik. Sayangi istri dan anak kamu. Jangan sampai, kamu menyesal dan membuat dirimu terus merasa bersalah!” pinta Yuna sambil melepas genggaman tangan Lian perlahan.

 

Dari kejauhan, ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka. Pemilik mata itu langsung menghampiri Yuna dan Lian yang sedang berbincang berduaan.

 

“Yun, kamu tahu kalau Lian ini suamiku. Kenapa masih aja kecentilan gangguin dia?”

 

Yuna memejamkan mata sejenak sambil merapatkan bibirnya. Ia melirik ke arah perut Bellina yang sudah membuncit. “Sabar, Yun!” batinnya dalam hati.

 

“Kenapa diam? Masih aja kegatalan deketin suami orang. Kamu nggak bahagia hidup sama Yeriko.”

 

Lian menekan keningnya yang berdenyut. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi sikap Bellina yang temperamen dan selalu ingin menang sendiri.

 

Yuna tersenyum ke arah Bellina. “Justru aku sangat bahagia hidup sama Yeriko.”

 

“Oh ya? Terus, kenapa masih aja ngejar-ngejar suamiku?”

 

“Bukan aku yang ngejar suami kamu. Suami kamu ini yang ngejar aku terus. Makanya, kalo punya suami tuh diikat aja di rumah. Biar nggak usah ketemu sama orang lain!” seru Yuna kesal.

 

“Kamu ...!? Masih aja ngerasa sok cantik!” sentak Bellina. “Kamu pikir, suamiku bakal tergoda sama perempuan kayak kamu kalo nggak kamu godain duluan?”

 

Yuna tersenyum kecil. “Oh, jadi kamu udah tahu kalau suami kamu ini mudah tergoda? Kamu yang paling pintar godain dia kan? Kamu harus ingat gimana cara kamu ngerebut Lian dari aku! Suatu saat, akan ada orang lain yang ngerebut Lian dari kamu!” dengus Yuna kesal. Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Bellina dan Lian.

 

“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu ..”

 

“Udah, Bell. Nggak usah bikin keributan di sini!” pinta Lian lembut.

 

“Dia itu ... selalu aja bikin masalah sama aku,” tutur Bellina sambil memegang perutnya yang tiba-tiba nyeri.

 

“Kenapa, Bel?” Lian langsung memegangi kedua pundak Bellina.

 

“Perutku sakit banget!” rintih Bellina sambil memegangi perut dan pinggangnya yang terasa nyeri.

 

“Kita ke rumah sakit sekarang!” Wajah Lian memerah. Ia sangat panik dan langsung membawa Bellina memeriksakan kandungannya ke rumah sakit terdekat. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada anak yang dikandung oleh Bellina. Ia harus bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus dengan cara ngasih bintang dan review baik supaya nggak turun Rank.

Sapa aku terus di kolom komentar biar aku nggak kesepian...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 Perfect Hero Full 1008 Episode

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas