Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 244 || Rujak Malam || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yan ... berhenti, Yan!” pinta Yeriko saat di perjalanan menuju perusahaannya.

 

“Kenapa, Pak Bos?” tanya Riyan. Ia langsung menepikan mobilnya perlahan.

 

“Tolong belikan beberapa buah.”

 

“Buah?”

 

Yeriko mengangguk.

 

“Pak Bos belum sarapan?”

 

“Sudah. Sarapan tadi makan ikan. Amisnya masih terasa, perutku agak mual.”

 

“Oh. Mau beli buah apa?” tanya Riyan sambil melepas safety belt.

 

“Jeruk aja.”

 

“Oke.” Riyan bergegas turun dari mobil. Begitu mendapatkan buah yang dia inginkan, ia kembali masuk ke mobil dan memberikannya pada Yeriko.

 

Yeriko langsung mengambil satu buah jeruk dan mengupasnya.

 

“Pak Bos?” Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko yang duduk di belakangnya.

 

“Kenapa?”

 

“Eh!?” Riyan menggelengkan kepala. Ia merasa ada yang aneh dengan bosnya. Biasanya, bos muda kesayangannya ini tidak pernah suka kalau di dalam mobilnya ada aroma makanan yang menyengat. Ia langsung membuka kaca mobil perlahan agar aroma buah jeruk keluar dari mobil.

 

“Yan, gimana perkembangan penyelidikan kasus Pak Adjie?” tanya Yeriko.

 

“Masih proses, Pak Bos.”

 

Yeriko menghela napas. “Nggak ada bukti kuat buat masukin orang itu ke penjara?”

 

“Belum dapat.”

 

Yeriko menyandarkan kepalanya sambil terus berpikir.

 

“Pak Bos, telur lelenya sudah dapat?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Untuk apa, Pak?”

 

“Buat Yuna?”

 

“Nyonya Muda lagi ngidam?”

 

“Ngidam?” Yeriko mengernyitkan dahinya.

 

“Iya. Biasanya, orang ngidam selalu minta yang aneh-aneh.”

 

Yeriko melipat kedua tangan di dadanya. Ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan kalau Yuna sudah mengandung dan membuat kesalahan untuk kedua kalinya.

 

“Bukannya kalo orang ngidam itu selalu cari mangga muda dan makan yang asem-asem?” tanya Yeriko pada Riyan.

 

Riyan menganggukkan kepala. “Kayak Pak Bos. Pak Bos ngidam?”

 

“Uhuk ... uhuk ...!” Yeriko langsung mengeluarkan jeruk dari mulutnya. “Kamu kira aku bisa hamil!?”

 

Riyan tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang ada di depannya. “Ada beberapa kasus, istrinya yang hamil, suaminya yang ngidam?”

 

“Bisa begitu?”

 

Riyan menganggukkan kepala. “Apa Nyonya Muda pengen banget makan telur lele dan nanyain terus karena belum dapet?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Yuna suka banget sama makanan. Aku rasa, cuma keinginannya sementara aja. Belum ada bahas lagi soal permintaannya malam itu.”

 

“Oh.”

 

“Jadi, dia ngidam atau nggak?” tanya Yeriko.

 

“Nggak tahu, Pak Bos.”

 

“Kenapa nggak tahu? Bukannya kamu bilang kalau kemungkinan Yuna hamil karena pengen makan makanan yang aneh-aneh?”

 

“Huft, kalo Nyonya Muda emang suka makan makanan yang aneh-aneh dari dulu. Jadi, aku juga nggak yakin dia ngidam atau nggak.”

 

“Ah, kamu nggak bisa diandalkan,” celetuk Yeriko.

 

“Pak Bos, aku belum nikah. Jadi, nggak tahu pastinya.”

 

“Terus, kenapa kamu bisa bilang aku ngidam?”

 

“Nebak aja. Soalnya, Pak Bos nggak suka makanan asem.”

 

“Ini manis,” sahut Yeriko.

 

Riyan tersenyum kecil. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sampai mencapai tempat kerja mereka.

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Yuna duduk sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia menikmati langit cerah yang terlukis dari atas atap gedung kantornya.

 

“Yun, aku cari kamu dari tadi. Pagi-pagi udah berjemur di sini.” Icha tiba-tiba muncul di belakang Yuna.

 

“Iya, ngangetin badan,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

Icha tersenyum dan langsung duduk di samping Yuna. “Kamu sakit, Yun?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Pucet banget.”

 

“Masa sih?” Yuna  menyentuh kedua pipi dengan telapak tangannya.

 

“Iya. Yakin baik-baik aja?”

 

Yuna mengangguk. “Aku baik-baik aja. Beberapa hari terakhir ini emang agak lemes sih. Nggak tahu kenapa, gerak dikit aja udah capek.”

 

“Mungkin, kamu emang kecapekan karena kurang istirahat. Siang ini, kamu ada agenda ninjau proyek sama Bu Citra kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Gimana kalo aku aja yang ganti kamu? Kamu bisa istirahat di kantor.”

 

“Nggak perlu, Cha. Cuma nemenin Bu Citra, kok. Nggak usah khawatir!” pinta Yuna sambil tersenyum.

 

“Serius?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Oh ya, kenapa kamu nyari aku?”

 

“Mau bahas soal proyek yang di Kedung itu. Aku denger dari Bu Citra, proyek itu over budget. Apa bener?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Masalah yang terjadi beberapa minggu yang lalu, bikin kita harus mengeluarkan biaya lebih.”

 

“Terus, gimana?” tanya Icha khawatir.

 

“Nggak papa. Aku udah buat justifikasinya, kok.”

 

“Pak Lian nggak akan marah?”

 

“Nggak. Nanti aku jelasin waktu persentasi akhir.”

 

“Hmm ... biar bagaimanapun, aku yang bikin RAB proyek itu. Aku jadi ngerasa bersalah sama kamu.”

 

Yuna tertawa kecil. “Bukan salah RAB-nya, ini cuma kesalahan teknis. Kalo kamu masih terus ngerasa bersalah, kamu harus bayar rasa bersalahmu itu.”

 

“Gimana caranya?”

 

“Traktir aku makan siang ini!” pinta Yuna.

 

Icha tersenyum sambil menatap Yuna. “Oke. Mau makan di mana?”

 

“Mmh ... enaknya makan apa ya?” Yuna mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Makan orang!” sahut Icha sambil tertawa.

 

“Eh, iya. Si Bellina sejak pesta pernikahan belum ada muncul ke sini. Ke mana dia ya?” tanya Yuna.

 

“Ciyee ... kangen sama dia?” goda Icha.

 

“Nggak, sih. Cuma agak aneh aja kalo nggak ada yang ngajak ribut, hahaha.”

 

“Kamu tuh, Yun. Berantem bisa nagih?”

 

“Nggaklah. Hari-hariku tenang banget tanpa dia. Hihihi.”

 

Icha ikut tertawa kecil.

 

“Udahlah. Kita turun, yuk! Ntar dicariin Bu Citra kalo terlalu lama di sini.”

 

Icha mengangguk. Mereka bangkit dan melangkah pergi menuju ruang kerja masing-masing.

 

 

 

Setelah jam kerja usai, Yuna kembali ke rumah seperti biasa. Ia membersihkan seluruh tubuhnya dan bersiap untuk makan malam bersama suaminya.

 

“Bi, ini apa?” tanya Yuna sambil menatap beberapa potongan buah di atas meja.

 

“Rujak.”

 

“Siapa yang minta rujak?”

 

“Mas Yeri.”

 

“Hah!? Ngidam tuh orang?” gumam Yuna.

 

“Mbak Yuna mau rujak juga?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku lagi nggak makan pedas. Nggak enak makan rujak kalo nggak pedas.” Ia menengadahkan kepala sambil menatap lantai kamarnya. “Lagi ngapain si dia? Aku udah laper.”

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko turun dari kamar dan langsung menghampiri Yuna di meja makan.

 

“Ngapain aja? Lama banget,” tanya Yuna sambil duduk di kursi meja makan.

 

“Riyan telepon.”

 

“Oh.”

 

Yeriko tersenyum dan langsung duduk di kursinya.

 

“Kenapa makan rujak malam-malam begini?” tanya Yuna.

 

“Pengen aja,” jawab Yeriko santai.

 

“Aneh banget!”

 

“Tadi ada nenek-nenek jualan rujak di depan. Aku kasihan lihatnya, jadi aku beli semua rujak yang masih sisa.”

 

“Oh ya?”

 

Yeriko mengangguk. “Mau?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Ini bagus buat diet,” tutur Yeriko sambil menahan tawa.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Lagi nggak mau diet,” tuturnya sambil mencomot udang goreng dan melahapnya.

 

“Beneran mau gendut?”

 

“Kenapa? Kalo aku gendut, kamu nggak suka?”

 

“Suka.”

 

“Ya udah, makan sendiri aja tuh rujak!”

 

Yeriko tersenyum kecil dan melahap perlahan potongan buah yang ada di hadapannya. “Oh ya, besok hari kematian ibu kamu. Kamu mau ke makam kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

“Jam berapa mau ke sana?”

 

“Abis pulang kerja aja.”

 

“Oke.”

 

“Kamu mau ikut?” tanya Yuna.

 

“Bukannya seharusnya kamu memang bawa aku?”

 

Yuna tersenyum kecil sambil menatap wajah Yeriko. Mereka melanjutkan makan malam bersama sambil berbincang banyak hal.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Yee ... Yuna udah mulai hamil, tapi belum sadar tuh ...

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 243 || Kecelakaan Sebelas Tahun Lalu || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna tersenyum sambil menatap susu hangat yang ada di tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menarik gagang pintu ruang kerja Yeriko.

 

“Malam ...!” sapa Yuna sambil tersenyum manis ke arah Yeriko yang sedang sibuk di meja kerjanya.

 

Yeriko langsung mengangkat kepala dan tersenyum manis ke arah Yuna yang berjalan menghampirinya. “Malam,” balasnya.

 

“Masih sibuk?” tanya Yuna sambil meletakkan segelas susu ke atas meja kerja Yeriko.

 

Yeriko mengangguk sambil mengamati dokumen yang ada di layar laptopnya.

 

Yuna tersenyum. Matanya tertuju pada beberapa foto dan potongan koran yang ada atas meja Yeriko. Tangan Yuna langsung bergerak meraih foto tersebut.

 

Yeriko menoleh ke arah Yuna, jantungnya berdebar melihat tatapan kosong yang tergambar dari wajah Yuna.

 

“Yun!” panggilan Yeriko tidak masuk ke telinga Yuna, air matanya menetes sambil menatap foto yang ada di tangannya.

 

Yeriko meraih pergelangan tangan Yuna yang gemetaran. Ia bangkit dan langsung memeluk istrinya. “Aku ngerti perasaan kamu.”

 

“Aku nggak papa. Sudah sebelas tahun yang lalu, aku udah nggak terlalu sedih.” Yuna mencoba memaksa bibirnya untuk terus tersenyum. Ia melepas pelukan Yeriko dan mengusap air matanya.

 

“Maaf, aku ...”

 

“Nggak papa. Kenapa nggak bilang kalau lagi nyelidiki kasus ayah?” tanya Yuna sambil meraih beberapa artikel di koran.

 

“Aku cuma nggak mau bikin suasana hati kamu memburuk karena ini.”

 

“Apa aku kelihatan selemah itu?” tanya Yuna.

 

Yeriko menatap wajah Yuna selama beberapa detik.

 

“Ada banyak berita di koran yang kamu kumpulin. Emangnya ada yang aneh?” tanya Yuna sambil menatap gambaran tragis kedua orang tuanya saat mengalami kecelakaan di jalan poros Surabaya-Gresik sebelas tahun lalu.

 

“Kamu dapet ini semua dari mana?” tanya Yuna.

 

“Aku udah nyuruh Riyan buat cari semua data-data kasus kecelakaan yang dialami sama ayah kamu. Ini semua penyelidikan yang dia dapat.”

 

“Dari kepolisian juga?”

 

Yeriko mengangguk. “Ada banyak media yang sebenarnya memberitakan soal kecelakaan ini. Termasuk salah satu media nasional.”

 

Yuna menggigit bibir sambil berusaha mencerna kalimat yang keluar dari mulut Yeriko agar ia tidak salah paham mengerti.

 

“Ada banyak kejanggalan, makanya aku masih suruh Riyan untuk terus mendalami kasus ini.”

 

“Serius?” Yuna menatap Yeriko. Ia semakin penasaran dan langsung meraih semua file yang berhubungan dengan kecelakaan kedua orang tuanya.

 

“Lihat, kecelakaan yang terjadi sama orang tua kamu tanggal 03 Juli, tahun 2006. Dua hari sebelumnya, perusahaan ayah kamu merger dengan Wijaya. Di tanggal empat juli, kamu baca berita ini!” Yeriko menyodorkan salah satu kertas ke arah Yuna.

 

Yuna membaca semua tulisan itu dengan seksama.

 

“Di tanggal itu, semua direksi melakukan rapat pemegang saham. Pemilik saham paling besar adalah ayah kamu. Tapi seluruh saham beliau sudah berpindah tangan ke paman kamu. Artinya, sebelum kecelakaan itu terjadi ada transaksi yang terjadi antara ayah kamu dan paman kamu itu.”

 

“Nggak mungkin. Selama ini paman selalu baik sama kami. Dia nggak mungkin ngelakuin ini.” Yuna menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Ia tak percaya dengan kenyataan yang terjadi sebelas tahun lalu.

 

“Kamu tahu nggak kenapa sekarang keluarga Wijaya yang jadi pemilik saham utama?”

 

“Karena saham ayah udah dijual buat biaya pengobatan,” jawab Yuna.

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. “Kamu masih nggak paham?”

 

Yuna menggeleng ragu.

 

“Kamu dibohongi sama paman kamu sendiri.” Yeriko mengambil satu map berisi file dan menyodorkannya ke hadapan Yuna.

 

Yuna mengerutkan dahinya.

 

“Dia nggak pernah bilang kalau kamu juga punya saham di Wijaya Group?”

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Ayah kamu cukup pintar soal ini. Sebelum pengalihan saham dia ke paman kamu. Dia berhasil menyelamatkan dua puluh persen saham yang dia punya. Semuanya sudah dialihkan atas nama kamu.”

 

“Aku?” Yuna mengernyitkan dahinya.

 

Yeriko mengangguk. “Tapi, saat itu kamu masih berusia tiga belas tahun, kan? Kamu baru bisa punya hak penuh atas kepemilikan saham itu setelah berusia tujuh belas tahun. Sayangnya, paman kamu licik dan mengambil alih kembali aset itu saat kamu berusia delapan belas tahun.”

 

Yuna melongo. Ia tak percaya dengan apa yang telah ia dengar saat ini.

 

“Kamu bisa lihat sendiri copy dokumen itu!” pinta Yeriko. “Kamu menandatangani pemindahan saham ke paman kamu saat kamu berusia delapan belas tahun.”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak pernah tanda tangan ini.”

 

“Coba kamu ingat-ingat lagi! Kamu bener nggak pernah menandatangani sesuatu?”

 

Yuna mencoba mengingat-ingat semua hal yang terjadi padanya saat berusia delapan belas tahun. Saat itu, dia masih duduk di bangku SMA dan ingatannya tidak begitu bagus. Ia menandatangi beberapa dokumen rumah sakit untuk perawatan ayahnya dan keperluan sekolahnya saja.

 

“Apa Oom sudah jebak aku? Waktu itu, ayah lagi dalam keadaan kritis. Oom nyuruh aku menandatangani dokumen yang aku nggak baca isinya. Dia cuma bilang kalau aku harus secepatnya tanda tangan untuk menyelamatkan ayah.”

 

Yeriko menarik napas perlahan.

 

“Apa ... perusahaan ayah masih bisa kembali?” tanya Yuna pelan.

 

“Soal itu ... aku bakal pikirkan caranya.”

 

Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Ada hal lebih penting yang harus kita dahulukan.”

 

“Apa itu?”

 

“Mengungkap kasus pembunuhan orang tua kamu.”

 

“Pembunuhan? Mereka kecelakaan?”

 

“Kecelakaan yang disengaja.”

 

Yuna langsung melebarkan kelopak matanya. “Maksud kamu?”

 

“Baca yang ini!” pinta Yeriko sambil menunjukkan potongan koran yang sudah usang. “Menurut keterangan polisi, penyebab kecelakaan karena jalanan licin dan rem blong. Tapi ...”

 

“Tapi apa?”

 

“Ini jadwal servis mobil ayah kamu. Dua jam sebelum kecelakaan, asisten ayah kamu ngantar mobil yang baru selesai diservis. Kalau dilihat dari catatan perawatannya, seharusnya mobil ini memang dalam keadaan prima dan tidak bermasalah. Kecuali, ada orang yang sengaja mencelakai orang tua kamu.”

 

“Apa Oom Tarudi yang memang ngelakuin ini?”

 

“Bisa jadi. Buktinya belum kuat. Kita nggak bisa langsung nuduh. Tapi, semua bukti yang udah ada menjurus ke dia.”

 

“Tante Melan dan Bellina emang jahat ke aku. Tapi, Oom Tarudi selalu bersikap baik sama aku.”

 

“Bisa jadi, kebaikan dia buat menutupi kejahatan yang udah dia lakukan. Waktu kecelakaan itu terjadi, bukannya dia dan tante kamu juga ada di tempat kejadian?”

 

“Aku nggak tahu soal ini.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah istrinya. “Seandainya, Paman kamu memang sengaja mencelakai kedua orang tua kamu. Apa yang mau kamu lakukan?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Andai dia orang lain, mungkin akan lebih mudah menghadapinya. Selama ini dia selalu baik sama aku. Aku masih nggak percaya kalau Oom aku tega ngelakui ini ke ayah.”

 

Yeriko menarik napas dalam-dalam. “Apa pun keputusan kamu nanti, aku bakal menghargai itu.” Ia menggenggam lengan Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis. “Makasih ya udah ngelakuin banyak hal buat aku. Kalau bukan karena kamu, aku nggak akan pernah tahu kenyataan ini seumur hidupku.”

 

Yeriko menatap Yuna penuh kehangatan.

 

“Sudah malam. Kamu nggak capek kerja terus?” tanya Yuna sambil menyentuh kedua pipi Yeriko.

 

Yeriko menggeleng sambil menengadahkan kepalanya menatap Yuna yang masih berdiri di sampingnya.

 

“Minum susunya, keburu dingin!” pinta Yuna.

 

“Mmh ... aku mau susu yang nggak bisa dingin.”

 

“Eh!?” Yuna membelalakkan matanya. “Maksudnya.”

 

Yeriko menarik tubuh Yuna ke pangkuannya. “Masa nggak ngerti sih?” tanyanya sambil menatap belahan dada istrinya.

 

Yuna mengerutkan hidungnya sambil tersenyum. “Aku tunggu di kamar,” bisiknya di telinga Yeriko. “Jangan terlalu malam lemburnya!” Ia bangkit dari pangkuan Yeriko.

 

“Mmh ...” Yeriko memonyongkan bibirnya sambil menahan lengan Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil mengecup bibir Yeriko. Ia bergegas keluar dari ruang kerja Yeriko, masuk ke kamar dan naik ke atas tempat tidur. Pikirannya terus melayang.

 

“Sudah lama banget, kenapa rasanya masih seperti kemarin?” batin Yuna sambil memejamkan mata. Ia tak menyangka kalau kehidupan masa kecilnya yang bahagia berubah menjadi begitu menyedihkan hanya dalam hitungan hari.

 

Kini ia bisa hidup tenang dan bahagia bersama Yeriko. Semua hal yang ia hadapi selama sebelas tahun belakangan ini mengajarkan banyak hal. Mengajarkannya untuk tidak menyerah pada hidup, sesulit apa pun itu.

 

(( Bersambung ... ))

 

Semangat terus Mrs. Ye ...!

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih Star Vote dan review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 242 || Lutfi vs Juan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, kemarin malam kamu sengaja ya bikin aku malu di depan semua orang?” Juan langsung menghampiri Icha dan Yuna yang sedang berjalan-jalan santai di taman dekat kantor usai makan siang.

Icha melirik ke langit-langit.

“Dasar cewek matre!” Juan makin kesal dengan sikap Icha yang mengabaikannya.

“Apa kamu bilang?” tanya Icha sambil menatap Juan.

“Cewek matre.”

“Jangan asal kalo ngomong!” sentak Icha sambil menunjuk wajah Juan.

Juan tertawa kecil. “Pantes aja selama ini kamu nggak punya pacar. Kamu maunya cuma sama cowok berduit aja.”

Icha tersenyum sinis menanggapi ucapan Juan. “Emangnya kenapa kalo aku suka sama cowok berduit? Masalah buat kamu?”

“Iya. Aku pikir kamu cewek baik-baik. Sok polos doang! Sekalinya lintah juga.”

“Heh, kamu kalo udah ditolak sama cewek, jangan maki-maki juga!” Yuna ikut emosi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Juan. “Harusnya kamu sadar kekuranganmu di mana. Kamu kayak gini, makin nunjukin kalo kamu cowok nggak bener.”

“Kamu yang nggak bener, Yun!” Juan ikut menyemprot Yuna.

Yuna langsung membelalakkan matanya.

“Kamu itu biasa aja, apa yang disukai sama Yeriko?” tanya Juan. “Di luar sana, masih ada banyak cewek cantik. Buta kali dia itu,” celetuknya.

“Kamu jangan asal kalo ngomong!” sahut Icha sambil mendorong tubuh Juan. “Selama ini kita baik sama kamu, kenapa tiba-tiba jelek-jelekin aku, fitnah Yuna macem-macem!?”

“Aku berubah kayak gini juga karena sikap kalian yang udah keterlaluan sama aku,” tutur Juan.

 

“Kamu udah tahu kalau aku bersuami, Icha juga udah punya pacar. Masih aja ngotot mau ngejar-ngejar. Masih banyak cewek di luar sana. Kenapa masih gangguin kita?” tanya Yuna.

 

Juan bergeming menanggapi pertanyaan Yuna.

 

“Juan, selama ini hubungan kerja kita baik-baik aja. Jangan sampai kerjaan kita hancur cuma karena masalah pribadi kita masing-masing. Harusnya, kita bisa jadi rekan kerja yang baik. Nggak lebih dari itu.” Icha menimpali.

 

“Aku udah ngungkapin perasaanku ke kamu dan aku tetep mau ngejar kamu, Cha.”

 

“Kamu gila ya!?”

 

“Iya. Aku emang udah gila. Ini semua karena kamu. Cha, kasih aku kesempatan buat deketin kamu dan membuktikan kalo aku serius suka sama kamu.”

 

“Heh, kamu masih nggak kapok gangguin pacar orang?” Lutfi tiba-tiba sudah ada di belakang Juan.

 

Juan langsung berbalik menatap Lutfi. “Kenapa kamu bisa di sini?”

 

“Kenapa? Tempat ini bukan punyamu. Suka-suka aku, dong. Lagian, aku harus jagain pacarku biar nggak diambil orang kayak kamu,” sahut Lutfi.

 

“Apa kamu nggak punya kerjaan? Cuma bisa buntutin Icha?”

 

“Tuan muda nggak perlu masuk kerja buat dapetin uang banyak. Udah banyak anak buahku yang pintar urus bisnis,” sahut Lutfi sambil mengangkat dagunya penuh percaya diri.

 

Juan geram dengan ucapan Lutfi, ia merasa dirinya begitu rendah saat berhadapan dengan Lutfi. Tapi, ia tidak akan menjatuhkan harga dirinya begitu saja.

 

“Cuma ngandalin kekayaan dari orang tua?” Juan menatap wajah Lutfi sambil tersenyum sinis.

 

“Eh, jangan asal ngomong!” sahut Lutfi sambil mendorong tubuh Juan. “Kamu pikir, aku laki-laki yang nggak bisa apa-apa, hah!?”

 

“Emang kenyataannya gitu kan? Kalo bukan karena kekayaan dari orang tua, emang bisa hidupin diri kamu sendiri? Mungkin kamu bakal lebih miskin dari aku dan Icha nggak bakal mau sama kamu.”

 

“Bangsat kamu!” Lutfi langsung melayangkan kepalan tangannya dengan cepat ke wajah Juan.

 

“Eh, jangan berantem!” seru Icha. 

 

BUG!

 

BUG!

 

Semua pejalan kaki yang ada di tempat itu langsung menunjuk-nunjuk Juan dan Lutfi yang sedang bergulat.

 

 

“STOP!” Icha berteriak sekuat tenaga.

 

Juan dan Lutfi langsung menoleh ke arah Icha bersamaan.

 

Icha langsung menarik lengan Lutfi menjauh dari Juan.

 

“Awas ya! Sampai kapan pun aku nggak akan ngelepasin Icha!” ancam Lutfi sambil menunjuk wajah Juan.

 

Juan menatap kesal ke arah Lutfi sambil berusaha bangkit dari tanah.

 

“Ayo, pergi dari sini!” ajak Icha sambil memapah Lutfi.

 

Yuna tersenyum ke arah Juan. “Jangan macem-macem lagi ya! Kalo nggak mau Yeriko juga bikin perhitungan ke kamu,” tutur Yuna sambil menepuk pipi Juan. Ia berbalik sambil mengibaskan rambutnya di hadapan wajah Juan.

 

Juan mengerutkan bibir sambil mengepalkan tangan. “Awas kalian! Aku pasti bales apa yang udah kalian lakuin ke aku!”

Yuna melenggang sambil tersenyum senang mengikuti langkah Icha dan Lutfi.

“Kakak Ipar, gimana penampilanku tadi? Keren?” tanya Lutfi.

“Hmm ... lumayan,” jawab Yuna sambil manggut-manggut.

“Lumayan?” Lutfi mengerutkan keningnya.

“He-em. Masih keren suamiku.” Yuna meringis ke arah Lutfi.

“Jangan bandingin aku sama dia. Dia memang lebih keren, tapi aku lebih ganteng. Iya kan, Cha?”

Icha mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu tanya Icha, jelas aja dia bilang kamu lebih ganteng. Dia kan pacarmu,” dengus Yuna.

“Hihihi.” Lutfi tertawa kecil.

Yuna tersenyum, ia menarik napas dalam-dalam. “Kenapa, Yeriko yang begitu hebat bisa suka sama aku ya?” batin Yuna. Ia menatap dirinya sendiri yang terlihat sangat sederhana. Kini, ia bisa memakai pakaian dan barang mahal karena hadiah dari Yeriko dan mama mertuanya.

“Mmh ... kalian jadi ke Bali?” tanya Yuna.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Huft, kalian ke Bali. Chandra sama Jheni ke Sumatera. Aku ke mana?”

Lutfi tertawa kecil. “Dia bingung mau ke mana? Eh, kamu sama Yeriko udah nikah. Liburan ke luar negeri, kek. Duit suamimu kan banyak.”

“Duit sih ada. Tapi waktunya yang nggak ada.”

“Ya udah. Di kamar aja. Berduaan tiap malam kan lebih enak,” tutur Lutfi.

Yuna memonyongkan bibirnya.

“Yun, semua orang iri lihat kamu sama Yeriko. Kenapa kamu jadi iri sama kami?”

“Pengen liburan juga,” rengek Yuna.

“Nanti aku bilangin ke Yeri.”

“Eh!? Nggak usah.” Yuna melambaikan kedua tangannya ke arah Lutfi. “Aku nggak mau membebani dia. Dia banyak kerjaan, Lut.”

“Halah, anak buahnya dia banyak.”

“Aku tahu, tapi dia juga punya tanggung jawab yang lebih besar. Egois banget aku kalo sampe bikin dia ninggalin urusan perusahaan cuma karena aku pengen liburan.”

“Kamu pengertian banget sih?”

“Ternyata jadi istri orang kaya raya nggak seindah yang aku bayangkan,” gumam Icha.

“Indah, kok. Asal sama dia, di mana aja jadi indah.” Yuna tersenyum manis ke arah Icha.

“Halah, menghibur diri sendiri,” sahut Lutfi. “Gimana kalo ikut liburan bareng kita?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak akan pergi ke mana pun tanpa dia.”

“Aku traktir tiketnya, gimana?” tanya Lutfi lagi.

Yuna mengerutkan kening. “Terus? Aku suruh jadi pengawal kalian pacaran!?”

Lutfi terkekeh. “Perhitungan banget. Dulu, aku sama Chandra sering jadi pengawal buat kalian berdua. Pake acara mesra-mesraan pula. Nggak punya perasaan sama aku yang jomlo ini.”

Yuna menahan tawa. “Ah, sudahlah. Nggak usah dibahas lagi. Aku mau balik ke kantor. Kamu masih mau di sini, Cha?”

“Aku balik sama kamu,” jawab Icha. Ia berjalan beriringan bersama Yuna sambil melambaikan tangan ke arah Lutfi yang berdiri di belakangnya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@rin.muna

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas