Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 241 || Poor Amara || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Hei, Chan! Sini!” sapa Lutfi begitu ia melihat Chandra dan Jheni muncul.

 

 

 

Juan mengerutkan kening karena Lutfi mengundang dua orang lagi ke meja makan mereka.

 

 

 

“Sini, Jhen!” Icha langsung menarik Jheni untuk duduk bersama mereka. “Lutfi udah pesenin makanan buat kalian.”

 

 

 

“Hmm ... kamu memang nomor satu kalo soal pengertian, Lut,” tutur Jheni.

 

 

 

“Iya, dong! Kalo soal makanan, aku udah hafal selera kalian satu persatu.”

 

 

 

Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.

 

 

 

“Jhen, minggu ini aku sama Icha mau liburan ke Bali. Kamu mau ikut atau nggak?” tanya Lutfi.

 

 

 

“Aku mau ke Sumatera,” jawab Jheni.

 

 

 

“Ngapain?” tanya Lutfi.

 

 

 

“Kamu jadi berangkat, Jhen?” tanya Yuna.

 

 

 

Jheni menganggukkan kepala. “Aku udah terlanjur beli tiket. Sayang, kan?”

 

 

 

“Iya juga, sih. Mau netap di sana?” tanya Yuna. “Walau kita harus jauh, kamu harus kasih kabar ke aku ya!” pintanya.

 

 

 

Chandra langsung menoleh ke arah Jheni. “Bukannya kamu bilang bakal balik sama-sama?”

 

 

 

“Tergantung suasana hati,” jawab Jheni sambil menahan tawa.

 

 

 

Yuna dan Icha juga ikut menahan tawa melihat raut wajah Chandra yang tiba-tiba berubah muram.

 

 

 

“Makanya, ada cewek baik jangan disia-siain. Giliran dia mau pergi, kamu baru uring-uringan!” dengus Yuna sambil menatap Chandra. “Jhen, kamu pindah aja ke Sumatera sana! Nggak usah balik!”

 

 

 

“Yun, kamu nggak usah ngompor-ngomporin Jheni lagi!” pinta Chandra. “Aku udah setengah mati ngerayu dia biar tetep tinggal di sini.”

 

 

 

Yuna tertawa kecil. “Aku tetep belain sahabatku walau sekarang kamu jadi pacarnya.” Ia menjulurkan lidah ke arah Chandra. “Mending dia pergi dan hidup bahagia daripada tetap tinggal dan kamu sakiti setiap hari.”

 

 

 

“Ah, parah kompormu, Yun.” Chandra menatap Yuna tak bersemangat. “Jhen ...!” Ia langsung tersenyum ke arah Jheni. “Nggak beneran pindah, kan?”

 

Jheni tersenyum menatap Chandra. “Kalo nggak mau aku pindah, harus bersikap manis!” pintanya sambil mengusap ujung kepala Chandra.

 

Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain di saat yang sama.

 

 

 

Tubuh Amara terikat di atas kursi, dikelilingi oleh banyak preman di dalam ruangan itu.

 

“Kamu berani nipu kami, hah!?” Ben langsung menekan rahang Amara tanpa ampun.

 

Amara menggeleng dengan bibir bergetar.

 

“Kamu tahu harus bayar semua ini dengan apa?”

 

“Jangan, please!”

 

“Tubuh kamu ini, nggak cukup buat bayar semuanya!” tegas Ben. Ia melambaikan tangan ke salah satu anak buahnya.

 

Anak buah Ben langsung menghampiri sambil memberikan sebotol arak ke tangan Ben.

 

Ben meraih botol arak tersebut dan memaksa Amara menghabiskannya perlahan.

 

“Hahaha.” Ben terus tertawa melihat Amara yang sudah setengah sadar.

 

Amara menatap Ben dengan wajah penuh kebencian, juga penyesalan karena telah berhubungan dengan preman-preman yang tidak berperasaan.

 

Ben tersenyum sinis sambil menatap Amara. Ia membuka mulut Amara dengan paksa dan memberikannya obat perangsang.

 

Beberapa menit kemudian, Ben melepas ikatan tali yang ada di tubuh Amara.

 

Amara mulai berada dalam pengaruh obat dan minuman keras.

 

 

 

Ben tersenyum sinis dan membiarkan Amara bergeliat di lantai. Ia berbalik dan melangkah pergi. “Kalian boleh nikmati dia sepuasnya!” seru Ben kepada sepuluh orang anak buahnya yang ada di ruangan tersebut.

 

 

 

Anak buah Ben langsung menatap Amara penuh gairah. Mereka bergantian menikmati tubuh Amara yang seksi dan menggoda.

 

 

 

Amara mulai tersadar dari pengaruh alkohol dan obat-obatan yang diberikan oleh Ben. Ia berusaha melepaskan diri dari preman-preman tersebut.

 

 

 

Saat semuanya lengah, Amara berjalan mengendap-ngendap keluar dari ruangan tersebut. Ia berlari keluar tanpa alas kaki.

 

 

 

Amara menyusuri jalanan yang gelap dan dingin tanpa alas kaki. Air matanya mengalir deras sembari memeluk tubuhnya yang begitu menyedihkan.

 

 

 

“Kenapa nasibku jadi kayak gini? Punya suami nggak becus! Sekarang, aku harus melayani preman-preman menjijikkan itu!”  Ia merasa hidupnya semakin berantakan saat ia sudah berpisah dengam Chandra. Tak ada lagi pria yang selalu melindungi dan menjaganya dengan baik.

 

 

 

Amara langsung mencegat taksi yang kebetulan melintas. Ia langsung memerintahkan supir taksi tersebut untuk membawanya ke rumah sakit. Ia langsung menyandarkan kepalanya ke kursi. Rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi dan membuatnya sangat tidak nyaman.

 

 

 

“Harry sialan!” makinya dalam hati. “Kalo bukan karena dia, aku nggak akan punya hutang sebanyak ini dan harus menghadapi preman-preman biadab itu!”

 

 

 

“Sudah sampai, Mbak!” Supir taksi membangunkan Amara saat mereka sudah sampai di rumah sakit.

 

 

 

“Makasih, Pak!” Amara mengambil beberapa lembar uang dari tas tangannya, membayar dan bergegas keluar dari taksi. Ia berjalan sempoyongan menuju pintu masuk ruang IGD.

 

 

 

 

 

Seorang perawat langsung menghampiri Amara yang terjatuh tepat di pintu masuk ruang IGD.

 

“Kenapa, Mbak?” tanya perawat tersebut.

 

“Tolongin saya, Sus!” pinta Amara dengan suara yang hampir tak terdengar.

 

Perawat itu langsung memanggil beberapa teman untuk membantunya. Ia memeriksa denyut nadi Amara yang melemah dan segera memberikan pertolongan.

 

Beberapa menit kemudian, Amara tersadar dan sudah berada dalam ruang perawatan. Ia menatap pergelangan tangannya yang sudah dipasangi selang infus untuk memulihkan kondisi kesehatannya.

 

Amara menoleh ke atas meja, meraih tas tangannya dan mengambil ponsel miliknya. Ia langsung menelepon Chandra agar pria itu menemaninya di rumah sakit.

 

“Halo ...!” sapa Chandra begitu panggilan telepon dari Amara tersambung.

 

“Halo, Chan! Bisa tolongin aku! Aku lagi di rumah sakit. Bisa temenin aku?” pinta Amara lirih.

 

Chandra terdengar tersenyum kecil. “Kamu udah punya suami. Suamimu ke mana?”

 

“Kamu tahu sendiri, dia nggak pernah peduli lagi sama aku. Dia cuma mau uangku aja.”

 

“Kamu punya banyak uang, gunakan itu untuk mengurus diri kamu sendiri!” sahut Chandra.

 

“Chan, kenapa kamu tega biarin aku di rumah sakit sendirian?”

 

“Semua yang terjadi sama kamu, itu karena ulah kamu sendiri. Aku nggak akan ngebiarin kamu nyakitin Jheni lagi!”

 

“Chan, aku sama sekali nggak bermaksud buat nyakitin Jheni.”

 

“Nggak bermaksud? Tapi kamu udah jual Jheni buat bayar hutang suami kamu itu. Aku nggak akan ngelepasin kalian. Kalo kamu masih maksa aku buat nemenin kamu, artinya kamu ngizinin aku buat bunuh kamu sekarang juga!” ancam Chandra.

 

“Chan, kenapa kamu jadi sejahat ini sama aku? Pasti karena Jheni yang udah pengaruhi kamu, kan?”

 

“Jheni nggak pernah bikin aku jadi jahat, kamu yang bikin aku jadi jahat.”

 

“Chan, kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku bener-bener nyesel udah ninggalin kamu.” Amara terisak. Ia menatap layar ponselnya yang tiba-tiba mati.

 

“Kenapa kamu nggak mau dengerin aku, Chan?” tanya Amara. Ia tidak bisa mengendalikan diri dan membanting ponselnya ke dinding hingga jatuh berkeping-keping.

 

“Aargh ...!” teriak Amara sambil menarik kuat-kuat rambutnya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya dan terus meracau tak jelas.

 

Salah seorang perawat langsung masuk ke dalam ruangan begitu mendengar teriakan Amara.

 

“Sus, tolong telepon keluarga pasien!” pinta salah seorang perawat pada perawat yang lainnya. “Sepertinya, pasien ini mengalami depresi berat.” Ia langsung menenangkan Amara, menyuntikkan cairan ke dalam cairan infus yang tersambung ke tubuh Amara.

 

 

(( Bersambung ... ))

Bikin Amara masuk RSJ, bagus nggak sih?

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Perfect Hero Bab 240 || Pacar High Class || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Cha, jadi kan makan bareng?” tanya Juan saat Icha berdiri di depan pintu keluar usai pulang kerja.

 

“Aku bawa Yuna, boleh?”

 

“Mmh ...” Juan menatap Yuna yang berdiri di sebelah Icha.

 

“Kalo Yuna nggak ikut sama aku, aku nggak mau pergi sama kamu.”

 

“Oke. Boleh, kok.” Juan tersenyum menatap Icha. “Mmh ... aku ambil mobil dulu diperkiran.”

 

Juan melangkah penuh percaya diri. Ia yakin, dengan mobil yang baru saja ia beli bisa membuat dua wanita paling cantik di kantornya itu tertarik padanya. Yah, walaupun mobil yang ia beli baru dibayar uang mukanya saja alias kredit. Tapi hal itu sudah berhasil membuat percaya dirinya melonjak begitu tinggi.

 

“Eh, si Juan punya mobil?” tanya Yuna sambil menyenggol lengan Icha.

 

Icha mengangguk. “Kayaknya sih baru beli. Makanya mau pamer.”

 

Yuna tertawa kecil sambil menunggu Lutfi dan Yeriko datang.

 

“Kamu yakin mau ngerjain Juan kayak gini?” tanya Icha.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kesel aku sama dia. Biar dia tahu rasanya bersaing sama Yeriko dan Lutfi,” tuturnya sambil tersenyum geli.

 

“Kamu kan tahu Lutfi kayak gimana. Aku takut aja dia keterlaluan ngerjain si Juan.”

 

“Kita lihat aja nanti!” sahut Yuna. “Wajar kan kalo Lutfi marah karena pacarnya digangguin. Berarti, dia beneran cinta sama kamu Cha.”

 

Pipi Icha menghangat saat mendengar ucapan Yuna.

 

Mata mereka tertuju pada dua mobil lamborghini yang tiba-tiba sudah berhenti di hadapan mereka.

 

Juan yang ada di belakangnya langsung membelalakkan mata dan bergegas turun dari mobil.

 

Pintu mobil lamborghini terbuka. Dari dalamnya keluar sosok tubuh yang menjulang tinggi. Jaket dengan merk ternama edisi terbatas itu membuat aura ketampanannya keluar dan berhasil menghentikan waktu selama beberapa detik.

 

Pria itu tersenyum ke arah Icha sambil membawa sebuket mawar merah di tangannya. Ia melangkah menghampiri Icha dan memberikan sebuket mawar merah ke hadapan Icha.

 

“Sore, Sayangku!” sapa Lutfi penuh kehangatan.

 

“Sore!” balas Icha tersenyum manis sambil menerima buket mawar dari tangan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum. Ia langsung memeluk tubuh Icha dan mencium kening gadis itu dengan mesra.

 

“Heh, kamu siapa?” Juan langsung menghampiri Lutfi.

 

Lutfi mengernyitkan dahi menatap Juan. Ia memerhatikan Juan dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Kenalin, ku pacarnya Icha.” Ia mengulurkan tangan ke hadapan Juan.

 

“Herjuan.” Juan menyambut uluran tangan Lutfi dengan raut wajah tak bersahabat.

 

Lutfi tersenyum. “Oh, kamu yang namanya Juan. Temen kerjanya Icha ya?”

 

Juan mengangguk. Matanya tertuju pada sosok Yeriko yang datang menghampiri Yuna. Matanya menatap penuh kebencian karena tidak bisa bersaing dengan Yeriko yang jelas-jelas pria berkelas. Kini, ia baru melihat kalau pacar Icha juga datang membawa Lamborghini edisi terbatas.

 

“Ah, bisa aja itu mobil nyewa doang,” batin Juan dalam hati.

 

“Kenapa masih di sini? Belum mau pulang?” tanya Yeriko sambil merangkul pinggang Yuna.

 

“Masih nunggu Icha.”

 

“Ayo, Cha!” ajak Yeriko.

 

“Icha menganggukkan kepala.”

 

“Cha, bukannya kamu udah janji kalo mau makan bareng aku?” tanya Juan.

 

“Oh, iya. Astaga! Lupa, Juan.” Icha langsung menatap Juan sambil tersenyum. “Lain kali ya!”

 

“Nggak bisa, Cha. Kamu udah janji sama aku.” Juan menarik lengan Icha.

 

“Apa-apaan pegang-pegang, hah!?” Lutfi langsung menepis tangan Juan dengan kasar. “Kamu punya nyali ngajak Icha makan di luar?”

 

“Kenapa nggak punya?”

 

“Oke. Kalo emang kamu punya nyali. Gimana kalo traktir kita makan sekalian?”

 

“Emang kamu siapa?” sahut Juan.

 

“Siapa, Cha?” tanya Lutfi sambil menatap wajah Icha.

 

“Pacar,” jawab Icha santai.

 

“Hmm ... denger ‘kan?” tanya Lutfi sambil menatap Juan. “Kamu tahu kalau Icha ini udah punya pacar. Masih aja mau kamu embat.” Lutfi semakin geram dengan sikap Juan.

 

Juan tertawa kecil. “Baru pacar, masih bisa putus.”

 

“Oh ... kamu mau saingan sama aku?”

 

Juan mengangguk penuh percaya diri.

 

“Oke. Kita ke Rucola sekarang!” tantang Lutfi.

 

“Oke.”

 

Lutfi tersenyum. Ia langsung membawa Icha masuk ke dalam mobilnya.

 

Yuna dan Yeriko juga bergegas masuk ke mobil.

 

Dua lamborghini itu berhasil menjadi pusat perhatian. Mereka melaju membelah jalanan kota dan menuju La Rucola Mediterranean Restaurant yang berada di jalan Dr. Soetomo. Di belakang mereka, mobil Juan mengikuti.

 

Juan benar-benar kesal karena rencananya mendekati Icha, terhalang oleh Lutfi. Pacar yang belum tentu bisa menjadi pasangan hidup selamanya.

 

Sesampainya di sana, Lutfi sengaja memilih private room yang ada di restoran tersebut.

 

“Sorry ya, Juan. Kami terbiasa memilih private room karena nggak suka makan dilihatin banyak orang,” tutur Icha. Di sepanjang perjalanan. Lutfi sudah melatihnya untuk terlihat elegan dan berselera tinggi.

 

“Nggak papa, Cha.”

 

Icha tersenyum. Mereka berlima duduk melingkar di meja makan.

 

“Kamu pesen apa, Cha?” tanya Lutfi sambil menyodorkan menu ke hadapan Icha.

 

“Mmh ... apa aja.”

 

“Pilih yang paling enak dan mahal. Mumpung ada yang traktir,” bisik Lutfi.

 

Lutfi mulai tersenyum licik. “Hmm ... biar aku yang pesenin makanan kalian.” Ia langsung memanggil pelayan.

 

Juan terus menatap Lutfi kesal. Ia telah salah menilai Icha. Terlihat sangat sederhana, tapi ternyata sangat materialistis dan seleranya berkelas.

 

“Kakak Ipar, kamu suka seafood kan?” tanya Lutfi.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

Lutfi langsung membuka buku menu saat pelayan sudah berdiri di sampingnya. “Mbak, aku pesen ini ... ini ... dan ini ...” Ia memesan semua menu yang ada.

 

Lutfi menutup buku menu. “Tambah lagi dolcetto dua biji sama lafite.”

 

“Yuna nggak minum. Dolcetto aja!” sahut Yeriko.

 

“Oke. Itu aja, Mbak.” Lutfi tersenyum penuh kemenangan. “Mampus lo!” batinnya dalam hati sambil menatap Juan.

 

Yuna dan Yeriko tersenyum saling pandang.

 

Juan sangat kesal saat melihat ada banyak makanan yang terhidang di atas meja. Sepertinya, Lutfi dengan sengaja ingin menjatuhkan harga dirinya sebagai lelaki di hadapan Yuna dan Icha.

 

“Cha, makan yang banyak!” pinta Lutfi. “Kalo kamu kurus, ntar dikira aku nggak pernah kasih makan.” Lutfi menyuapkan makanan ke mulut Icha.

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Oh ya, minggu ini aku mau ngecek resort yang ada di Bali. Kamu bisa ikut, Cha?” tanya Lutfi sambil menatap Icha, namun matanya melirik ke arah Juan.

 

“Berapa hari?”

 

“Sehari doang. Langsung balik ke sini kalo udah kelar.”

 

“Aku ngapain kalo ikut ke sana?”

 

“Nemenin. Biar aku semangat terus kalo ada kamu yang nemenin aku.”

 

Pipi Icha menghangat mendengar ucapan Lutfi.

 

“Ikut ya!” pinta Lutfi. “Sekalian liburan.”

 

Icha mengangguk sambil tersenyum.

 

“Nah, gitu dong! Kamu kalo senyum terus, makin cantik aja.”

 

Lutfi sengaja terus memberikan perhatian dan rayuan-rayuan kecil di depan Juan. Ia tidak akan pernah rela pacarnya diganggu oleh pria lain. Apalagi, pria itu adalah rekan kerjanya.

 

Sementara itu, Juan menatap mereka penuh kebencian. Ia tidak menyangka kalau Icha memiliki selera yang sangat tinggi. Ia mulai gelisah karena semua makanan yang ada di tempat ini sangat mahal dan ia harus membayar dengan uangnya sendiri.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 239 || Pengen Makan || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Yer, Mama udah kirim tanggal pernikahan kita,” tutur Yuna sambil bergelayut manja di pundak Yeriko.

 

“Mmh ... terus?” Yeriko sangat santai sambil membaca majalah bisnis di tangannya.

 

“Huft, aku takut.”

 

“Takut kenapa?”

 

“Kata orang, kalo mau nikah selalu ada aja ujiannya.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kita udah sah jadi suami istri. Apa yang kamu takutkan?”

 

“Huft, iya juga sih. Tapi ...”

 

“Mama udah urus semuanya. Kamu nggak usah khawatir. Lebih baik kamu nonton drama aja daripada mikir macem-macem!”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Lagi males nonton. Pengen makan sesuatu.”

 

“Baru aja selesai makan. Mau makan apa?”

 

“Pengen makan telur ikan lele goreng.”

 

Yeriko mengernyitkan dahi. “Nyari di mana malam-malam begini?”

 

“Di mana aja, yang penting dapet.”

 

“Aku telepon Riyan,” tutur Yeriko sambil meraih ponselnya.

 

“Nggak mau!”

 

“Kenapa?”

 

“Aku mau keluar sama kamu. Kenapa malah nelpon Riyan?”

 

“Aku tanya dulu, di mana ada jual makanan begituan.”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nih udah malam kayak gini ada-ada aja mintanya.” Ia langsung menekan panggilan pada kontak Riyan di ponselnya.

 

“Belum malem banget. Baru jam sembilan,” sahut Yuna.

 

“Jam segini udah banyak warung yang tutup,” tutur Yeriko.

 

“Banyak juga rumah makan dua puluh empat jam.”

 

“Kamu ini ...!?” Yeriko mengerutkan hidungnya menatap Yuna. “Kalo nggak ada. Besok aja ya!”

 

Yuna memonyongkan bibir sambil mengerutkan alis.

 

“Nggak usah pasang muka kayak gitu, Yun!” pinta Yeriko. Ia selalu tak berdaya melihat wajah Yuna yang murung karena keinginannya tidak terpenuhi.

 

“Halo ...!” sapa Riyan dari ujung telepon.

 

“Halo ...! Yan, kamu di mana?”

 

“Di rumah, Pak Bos. Ada apa ya?”

 

“Kamu tahu nggak di mana rumah makan yang jual telur ikan lele goreng?”

 

“Telur ikan?”

 

“Iya.”

 

“Wah, nggak tahu. Belum pernah makan telur ikan digoreng. Coba aja ke rumah makan seafood. Siapa tahu di sana ada.”

 

Yeriko langsung melirik Yuna yang menunggu di sebelahnya.

 

“Bisa carikan dulu? Kalo udah dapet tempatnya, aku langsung ke sana.”

 

“Tapi Pak Bos. Ini udah malam. Aku baru mau tidur. Pak bos nyuruh aku muter-muter nyari telur ikan lele?”

 

“Iya. Kemarin aku baru aja naikkan gajimu. Kalo kamu nggak mau keluar nyarikan, aku batalin!” ancam Yeriko.

 

“Iya, Pak Bos. Aku carikan sekarang.” Riyan langsung mematikan teleponnya.

 

Yeriko mengernyitkan dahi sambil menatap layar ponselnya. “Main matiin aja nih anak,” celetuknya.

 

Yuna tersenyum ke arah Yeriko. “Ayo, jalan!” rengeknya manja.

 

“Tunggu kabar dari Riyan.”

 

Yuna menghela napas. Ia merebahkan tubuhnya di pangkuan Yeriko.

 

 

 

Satu jam berlalu ...

 

Riyan tak kunjung menelepon Yeriko dan Yuna sudah ketiduran terlebih dahulu menunggu kabar dari Riyan.

 

Yeriko meraih ponsel dan mengirimkan pesan singkat kepada Riyan.

 

Tak lama kemudian, Riyan langsung menelepon Yeriko.

 

“Halo ...! Gimana, Yan?”

 

“Nggak dapet, Pak Bos. Aku udah muter-muter dari sejam lalu. Semua rumah makan udah aku tanyain. Mereka nggak ada yang sediain makanan yang Pak Bos cari.”

 

“Oh. Ya udah. Kamu pulang aja, Yan. Ini udah malam juga.”

 

“Siap, Pak Bos. Oh ya, tadi dikasih tahu sama orang yang punya rumah makan. Katanya, kalo mau telur ikan, harus cari ikan yang lagi bertelur.”

 

“Iya. Kalo nggak bertelur ya nggak ada telurnya,” sahut Yeriko menahan geram.

 

“Eh, maksudnya ... beli ikannya sendiri, Pak Bos.”

 

“Ya udah, biar diurus Bibi War besok pagi.”

 

“Oke. Kalo gitu, saya tutup teleponnya ya, Pak. Sudah kan?”

 

“Iya.” Yeriko langsung mematikan telepon. Ia menatap wajah Yuna yang sudah tertidur pulas di pangkuannya. Ia mengelus lembut rambut Yuna. Kemudian membenarkan posisi tidur Yuna agar lebih nyaman.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yuna bekerja seperti biasanya. Namun, ia merasa ada hal aneh yang terjadi di kantornya. Semua orang menatapnya dengan tatapan risih. Hal ini benar-benar mengganggu pikirannya.

 

“Huu ....mata-mata Galaxy datang!” celetuk salah seorang karyawan yang tak asing lagi di mata Yuna.

 

“Kamu ngomong apa, barusan?” tanya Yuna kesal.

 

“Mata-mata Galaxy!” tegas Juan sambil menatap Yuna santai.

 

Yuna mengerutkan keningnya. Selama ini, hubungan kerja antara dia dan Juan baik-baik saja. Entah kenapa pria muda yang satu ini mulai mencari masalah dengan Yuna.

 

“Herjuan, kamu kenapa sih? Tiba-tiba fitnah aku kayak gini!?” sentak Yuna kesal.

 

“Sekarang, semua orang udah tahu kalau Galaxy mau akuisisi Wijaya Group. Kamu kan istrinya pemilik Galaxy itu. Kenapa kerja di sini? Bukannya perusahaan suami kamu itu lebih gede?” tanya Juan.

 

“Aku nggak ada hubungannya sama perusahaan suamiku.”

 

Juan tertawa lebar. “Nggak mungkin nggak ada hubungannya. Di berita sudah tersebar luas kalau Wijaya Group ini dulunya perusahaan ayah kamu.”

 

Yuna tertawa kecil menanggapi ucapan Juan. “Terus, kalian takut sama kehadiran aku di sini?”

 

Juan terdiam.

 

“Seandainya Galaxy emang bener-bener ambil alih saham Wijaya Group. Kalian nggak perlu takut. Kalian nggak akan kehilangan pekerjaan cuma karena pindah bendera.”

 

“Oh ... jadi, kamu emang beneran jadi mata-mata di sini supaya suami kamu bisa lebih mudah ambil alih perusahaan ini?” tanya yang lainnya.

 

“Yun, Pak Lian itu baik banget sama kamu. Kenapa kamu mengkhianati dia?”

 

“Iya, Yun. Kami juga nggak mau kerja di bawah kepemimpinan Galaxy yang otoriter itu.”

 

“Otoriter? Kalian tahu dari mana kalau suamiku begitu?” tanya Yuna. Ia tetap tidak mau kalah berdebat dengan beberapa karyawan yang mencurigai dirinya sebagai mata-mata.

 

“Semua orang di dunia bisnis kenal sama suami kamu, Si Raja Iblis Berdarah Dingin itu. Terkenal kejam dan nggak punya perasaan.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Dia selalu melindungi karyawan-karyawannya. Kalo nggak, karyawan dia nggak akan ada yang loyal, setia bekerja di bawah kepemimpinan dia.”

 

“Kamu belain suami kamu yang kejam itu?”

 

“Iya, dong. Suamiku cuma kejam sama orang-orang yang cari masalah kayak kalian!” seru Yuna. Ia berbalik dan bergegas kembali ke ruangannya.

 

“Kesel banget aku. Kenapa sih Juan itu cari gara-gara sama aku? Biasanya, dia baik-baik aja.” Yuna merebahkan tubuhnya ke kursi dengan kesal.

 

“Yun ...!” panggil Icha dari balik pintu.

 

“Masuk, Cha!”

 

“Bu Citra ada nggak?”

 

“Nggak ada. Lagi di ruangan Lian.”

 

Icha masuk ke ruangan Yuna dan duduk di kursi yang ada si hadapan Yuna. “Juan ngajak berantem?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kenapa sih sama anak itu? Biasanya nggak begitu.”

 

“Kayaknya, dia sakit hati sama kamu.”

 

“Sakit hati kenapa?”

 

“Aku baru tahu kalau ternyata, dia diam-diam suka sama kamu.”

 

“Hah!?”

 

“Iya. Emangnya dia pernah nembak kamu, Yun?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Gila aja dia tuh. Aku kan udah nikah. Kenapa juga berani-beraninya mau saingan sama Yeriko. Sekarang, dia kelakuannya kayak gitu malah bikin aku makin benci sama dia.”

 

“Bener banget, Yun. Sekarang, dia mulai deketin aku.”

 

“What!? Dia nggak tahu kalo kamu udah punya pacar?”

 

“Aku udah bilang, tapi dia masih nggak percaya dan masih aja ngejar-ngejar aku.”

 

“Iih ...kok, dia kayak gitu sih?”

 

“Iya. Aku pikir, selama ini dia baik sama kita emang karena temen kerja. Nggak nyangka kalau ternyata dia memendam perasaan. Tadi pagi dia nembak aku dan aku baru tahu semuanya.”

 

“Dia nembak kamu? Terus-terus?”

 

“Ya aku tolak. Aku bilang udah punya pacar. Dia tetep keukeuh mau deketin aku. Dia bilang, selama janur kuning belum melengkung, aku masih milik semua orang. Kurang ajar nggak tuh?”

 

“Hmm ... kayaknya, ini anak minta dikasih pelajaran. Gimana, kalo kita kerjain dia?”

 

“Gimana caranya?” tanya Icha.

 

Yuna langsung membisikkan rencananya ke telinga Icha.

 

Icha manggut-manggut sambil tersenyum sebagai tanda mengerti.

 

“Ya udah, sekarang kamu datengin si Juan sana!” perintah Yuna.

 

“Oke.” Icha bergegas bangkit dan keluar dari ruang kerja.

 

Yuna tertawa kecil dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Ide jahilnya mulai bermunculan, apalagi saat ini ia bekerjasama dengan Lutfi yang tak kalah jahil.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Gimana reaksi Lutfi kalo pacarnya digangguin? Tunggu besok lagi ya

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas