Wednesday, July 9, 2025

Perfect Hero Bab 238 || Triple Couple || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Jhen, makasih banget karena kamu nggak pernah berhenti ngasih perhatian walau selama ini aku nggak pernah menyadarinya. Aku janji, mulai hari ini aku yang bakal bikinin kamu sarapan setiap hari,” tutur Chandra sambil menatap Jheni.

 

Jheni tersenyum kecil. “Sarapan doang?”

 

“Makan siang, makan malam. Mmh ... kapan pun kamu mau makan, aku bakal siapin buat kamu.”

 

“Hmm ... bisa dipertimbangkan.” Jheni manggut-manggut sambil menggigit apel yang masih ads di tangannya.

 

Chandra langsung menyambar gigitan apel yang belum sempurna masuk ke bibir Jheni.

 

Jheni tertegun. Apel yang ia genggam menggelundung ke lantai. “Kamu ...!?”

 

Chandra tersenyum kecil. Ia langsung mengunyah dan menelan potongan apel yang ada di dalam mulutnya.

 

“Lancang,” celetuk Jheni sambil menahan senyum.

 

“Eh!? Apa?”

 

“Lancang!” sahut Jheni meninggikan suaranya.

 

Chandra langsung menarik tengkuk Jheni dan mengecup bibir gadis itu. “Kayak gini lancangnya?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

 

“Kamu ...!?”

 

“Masih kurang lancang?” tanya Chandra. Ia kembali mengecup bibir Jheni dan menghisapnya kuat-kuat hingga Jheni kesulitan mengendalikan dirinya lagi.

 

“Ciyee ...!” Suara Yuna langsung membuat Chandra dan Jheni melepas ciumannya. “Udah baikan nih?” tanyanya sambil menatap Jheni.

 

“Yun, kamu kenapa ke sini nggak bilang dulu?” tanya Jheni.

 

“Sejak kapan aku mau ke sini harus bilang dulu?” tanya Yuna.

 

“Kita nggak boleh ke sini?” Icha ikut menggoda Jheni.

 

“Nggak gitu. Kalo tahu kalian mau ke sini ...”

 

“Chandra nggak ngasih tahu kamu?” tanya Yuna sambil meletakkan beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman.

 

Jheni langsung menoleh ke arah Chandra.

 

“Lupa.” Chandra meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Ah, udahlah. Kita bawa makanan banyak nih. Saatnya makan-makan!” seru Lutfi sambil duduk di sofa dan langsung mengeluarkan makanan yang dibawa oleh Yuna dan Yeriko.

 

“Aku juga masak banyak,” tutur Chandra.

 

“Oh. Jadi, kamu masak banyak karena udah tahu mereka mau ke sini?” tanya Jheni.

 

Chandra mengangguk.

 

“Kenapa nggak bilang sama aku?”

 

“Kamu ngambek terus. Aku jadi lupa mau ngomong sama kamu.”

 

“Kapan aku ngambek!?” dengus Jheni.

 

“Iya, nggak ngambek,” sahut Chandra. Ia bergegas ke dapur dan menyiapkan hidangan di atas meja makan.

 

“Ayo, kalian makan dulu!” pinta Chandra.

 

Semua orang langsung bergegas menuju meja makan.

 

“Chan, kami udah dapet siapa orang yang udah ngejebak Jheni di lokasi perjudian itu,” tutur Yeriko sambil melemparkan beberapa lembar kertas ke hadapan Chandra.

 

“Kamu beneran nggak pernah ngutang ke mereka kan, Jhen?” tanya Yuna.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Kenapa tiba-tiba aku bisa punya hutang banyak banget ke mereka?” tanya Jheni pada dirinya sendiri.

 

“Itu cuma rekayasa aja yang dibuat-buat sama Amara,” tutur Lutfi.

 

“AMARA!?” Yuna, Jheni dan Icha bertanya berbarengan.

 

Chandra menghela napas dan meletakkan kertas-kertas itu ke atas meja begitu aja.

 

“Amara yang punya hutang banyak sama preman-preman itu. Dialihkan atas nama Jheni semua. Kelakuan siapa lagi kalau bukan suaminya yang tukang judi itu,” jelas Lutfi.

 

“Dia jahat banget sih!?” tutur Yuna. “Kalo emang dia nggak suka sama Jheni, nggak harus kayak gitu juga kali. Toh, Jheni nggak pernah nyakitin dia. Jheni selalu bersikap baik sama Amara. Bahkan, waktu Amara masuk rumah sakit kemarin, Jheni bawain sarapan ke sana.”

 

“Kamu beneran ke rumah sakit?” Chandra langsung menoleh ke arah Jheni.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

“Kenapa kita nggak ketemu?”

 

“Jelas nggak ketemu. Orang Jheni nggak jadi masuk gara-gara lihat ka-” Yuna menghentikan ucapannya karena Jheni langsung menendang kaki Yuna yang ada di bawah meja.

 

“Lihat apa?” tanya Chandra.

 

“Lihat kamu pelukan sama Amara,” sahut Yeriko.

 

“Jadi, karena itu kamu menghindar terus dari aku?” tanya Chandra.

 

“Aku nggak menghindar. Emang kamu yang nggak hubungi aku sama sekali,” sahut Jheni.

 

“Aku ...” Chandra mengerutkan dahi sambil menatap Jheni. Ia mengepal tangan dan membuang pandangannya. Ia tidak bisa mengelak apa yang diucapkan  oleh Jheni.

 

“Nggak baik berantem depan makanan,” tutur Yuna. “Kalian udah baikan. Yang terjadi kemarin, nggak usah dibahas lagi!” pinta Yuna.

 

“Iya. Mending bahas rencana pernikahan kamu yang udah deket lagi,” sahut Icha.

 

“Yakin?” goda Yuna. “Ntar kamu baper.”

 

“Iih ... nggak,” sahut Icha sambil tertawa kecil.

 

“Nggak baper, Yun. Cuma pengen nikah juga.” Jheni menimpali.

 

“Hahaha.” Semua orang tergelak. Mereka menikmati makan malam penuh suka cita.

 

Usai makan malam, mereka berpindah ke sofa ruang tamu yang tak jauh dari meja makan.

 

“Tangan kamu udah nggak sakit?” tanya Yuna sambil memeluk lengan Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

Yuna menyandarkan kepalanya di dada Yeriko. “Jangan bikin aku khawatir lagi ya!”

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia mengelus lembut pundak Yuna.

 

“Huu ... enak banget yang udah jadi suami istri. Mesra-mesraan terus di mana-mana,” celetuk Jheni yang memilih duduk di lantai sambil menikmati kacang rebus.

 

“Kamu kan udah jadian sama Chandra. Bisa mesra-mesraan juga,” sahut Lutfi.

 

Jheni memonyongkan bibirnya.

 

“Eh, main kartu yuk!” ajak Lutfi sambil mengeluarkan kartu remi dari dalam saku jaketnya.

 

“Ayo!” sahut Jheni penuh semangat.

 

“Aku nggak bisa main beginian,” tutur Icha.

 

“Nggak usah! Biar aku yang wakilin kamu main.” Lutfi langsung menarik Icha untuk duduk lebih dekat dengannya.

 

“Kamu main nggak, Yun?” tanya Jheni yang melihat Yuna masih bersandar di dada Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Yeri aja!”

 

“Kamu ini, nempel mulu ke Yeri kayak pulut,” celetuk Icha.

 

“Kenapa? Ngiri?” sahut Yuna.

 

“Nganan aku, Yun,” tutur Jheni. “Kamu jadi cewek agresif banget.”

 

“Biar aja,” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya ke arah Jheni.

 

“Puas banget yang jadi suami kalo punya istri agresif. Bukan suami yang minta jatah, tapi istri yang minta dienak-enakin terus,” celetuk Lutfi.

 

“Hush, kamu ini ngomong apa sih?” Icha langsung menoleh ke arah Lutfi.

 

“Kamu masih piyek, nggak ngerti,” jawab Lutfi.

 

“Piyek apaan?” tanya Icha.

 

“Anak ayam yang baru menetas itu, bunyinya masih piyek-piyek piyek-piyek,” sahut Lutfi sambil menirukan suara anak ayam.

 

“Hahaha.” Semua orang tertawa melihat tingkah Lutfi.

 

“Iih ... kamu ngolok banget sih!?” dengus Icha. “Tega banget pacar sendiri diolokin.”

 

Lutfi terkekeh sambil menatap Icha. “Nggak Sayangku, cuma bercanda kok.”

 

“Kalo aku masih piyek, Jheni apa dong?” tanya Icha.

 

“Dia lagi kemiwit, lagi enak-enaknya. Cobain, Chan!” goda Lutfi sambil menatap Chandra.

 

“Kemiwit apaan?” tanya Icha lagi.

 

“Kemiwit itu ... mmh ... ayam yang udah siap dikawinin. Hahaha.”

 

Jheni langsung melemparkan kulit kacang ke arah Lutfi dengan kesal.

 

“Omonganmu, Lut. Koyo ra tau sinau,” sahut Chandra.

 

“Jangan ngomong pake bahasa jawa! Aku nggak ngerti,” sahut Jheni.

 

Lutfi tertawa kecil menanggapi ucapan  Jheni. “Kamu harus belajar bahasa jawa, Jhen! Bapaknya Chandra orangnya jawa banget. Tiap hari pake blankon sama kain lurik.”

 

“Serius?” tanya Jheni.

 

“Loh, nggak percaya, Jhen? Kamu tahu nggak dalang wayang kulit paling terkenal di Jawa?”

 

“Siapa?” tanya Jheni.

 

“Nggak tahu. Hahaha.” Lutfi tergelak.

 

“Uh, kirain mau bilang kalo bapaknya Chandra dalang wayang,” celetuk Jheni.

 

“Bercanda, Jhen. Serius banget nanggepinnya.”

 

Mereka terus bercanda sambil bermain kartu.

 

“Eh, si Yuna tidur,” tutur Jheni sambil menatap wajah Yuna yang terlelap di pelukan Yeriko.

 

“Iya. Enak banget dia tidur,” sahut Icha.

 

“Yer, tidurkan di kamarku aja dulu!” pinta Jheni.

 

“Nggak usah,” sahut Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

 

“Kamu nggak pegel disenderin kayak gitu?” tanya Jheni.

 

Yeriko menggeleng sambil menatap beberapa kartu yang ada di tangannya.

 

“Kamu tuh Yer, sayang banget sama istri,” tutur Jheni.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil mengecup ujung kepala Yuna. Baginya, Yuna adalah sumber kebahagiaan dalam keluarganya. Ia tak akan pernah lelah melakukan semua hal untuk istri tercintanya.

 

 

(( Bersambung ... ))

Ah, Author baper ...

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 237 || Menghempas Masa Lalu || a Romance Novel by Vella Nine

 


Yuna terus gelisah selama mengerjakan pekerjaannya di kantor. Tubuhnya di kantor, tapi pikirannya melayang-layang memikirkan sahabatnya.

“Cha, kita ke tempat Chandra yuk!” ajak Yuna begitu jam kerja usai.

“Sekarang?”

“Tahun depan!” sahut Yuna kesal. “Sekaranglah. Mau kapan lagi?”

“Mau ngapain ke rumah Chandra?”

“Lihat Jheni.”

“Masih di rumah Chandra?”

“Kayaknya, sih.”

“Kamu pastikan dulu!”

Yuna langsung merogoh ponsel dan menelepon Jheni. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu kantor sambil menunggu Yeriko menjemputnya.

“Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Halo ...!” balas seseorang dari ujung telepon.

“Chandra?”

“Iya, Yun.”

“Jheni masih di rumah kamu?”

“Aku sekarang udah di rumah Jheni.”

“Dianya mana?”

“Lagi mandi.”

“Kalian udah baikan?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

“Lagi usaha.”

“Lagi usaha, lagi usaha. Awas kalo sampe bikin dia nangis lagi!”

“Iya, nggak.”

“Iya atau nggak!?”

“Iya, nggak bikin Jheni nangis lagi.”

“Awas kalo sampe bikin dia nangis lagi!” ancam Yuna lagi. “Ah, udahlah. Aku kalo ngomong sama kamu mau naik darah, Chan. Bilangin ke Jheni, malam ini kita mau ke sana!”

“Iya.”

Yuna langsung mematikan panggilan teleponnya. “Sumpah, ini Chandra ngeselin banget!” makinya sambil menatap layar ponsel.

“Kenapa, Yun?” tanya Icha.

“Suamiku itu orangnya cuek, tapi nggak pendiam parah kayak Chandra gini. Kalo diajak ngomong, cuma iya-nggak, iya-nggak,” omel Yuna.

“Kayaknya dia nggak pendiem banget. Itu karena kamu super bawelnya. Dia bingung mau ngomong apa. Dia baru nyahut A, kamu udah ngomong dari A-Z,” celetuk Icha.

“Apa!? Kamu ngatain aku bawel?”

“Emang iya, kan?” Icha menjulurkan lidahnya ke arah Yuna.

“Iih ... kamu udah mulai ngolok-ngolok aku ya!?” dengus Yuna sambil mengejar Icha.

Icha dan Yuna saling tertawa sambil saling menggoda. Mereka baru berhenti saat Lamborghini milik Yeriko berhenti di hadapan mereka.

“Aku pulang dulu, ya!” pamit Yuna. “Ntar malam ke rumah Jheni, jam tujuh!” perintah Yuna.

Icha mengangguk. Ia melambaikan tangannya dan langsung menuju ke parkiran.

 

Sementara itu, Chandra sengaja membuat banyak masakan sambil menemani Jheni di rumahnya.

“Eh!? Kamu masak banyak banget? Buat siapa aja?” tanya Jheni saat ia selesai mandi. Ia mengambil satu buah apel dan menggigitnya.

“Buat kita.”

“Kita?” Jheni mengernyitkan dahinya. “Emangnya masih ada kita di antara aku dan kamu?” Jheni melangkah santai meninggalkan Chandra.

“Jhen ...!” Chandra menahan lengan Jheni.

Jheni memutar kepalanya menatap Chandra. “Apa?” tanyanya santai.

“Maafin aku!”

“Emang kamu salah apa ke aku?” tanya Jheni sambil menatap Chandra.

Chandra menundukkan kepala sambil memijat kening.

Jheni menatap Chandra kesal, ia langsung menepis tangan Chandra.

“Jheni ...!” Chandra langsung menarik Jheni ke dalam pelukannya. “Maafin aku! Maafin aku! Maafin aku! Please ...!” bisiknya di telinga Jheni.

Jheni bergeming. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia ingin berteriak bahagia karena akhirnya Chandra memeluknya. Tapi, ia juga sedih karena masih ada bayang-bayang Amara dalam hubungan mereka.

“Jhen, aku tahu aku salah. Aku sudah nyuekin kamu selama ini. Kamu sibuk mengurus dan memikirkan aku, sedangkan aku sibuk memikirkan diriku sendiri,” tutur Chandra sambil mengeratkan pelukannya.

Jheni memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ia menepuk-nepuk bahu Chandra. “Sebagai seorang teman, memang sudah seharusnya saling peduli kan? Aku nggak papa, kok.” Jheni melepas pelukannya.

“Kamu mau maafin aku?” tanya Chandra.

Jheni menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Makasih, Jhen. Kamu selalu ada buat aku kapan pun. Aku janji, bakal jagain kamu terus.”

Jheni tertawa kecil. “Kamu nggak perlu repot buat jagain aku. Aku bukan anak kecil. Lagipula, akhir pekan ini aku mau ke Sumatera.”

“Mau ngapain?”

“Pulang,” jawab Jheni sambil menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya.

“Berapa lama?”

“Nggak tahu. Aku mau cari kehidupan baru di sana.”

“Bukannya kamu bilang kalau kamu nggak betah tinggal di sana?”

“Dibetah-betahin aja. Lama-lama juga terbiasa.”

Chandra terdiam. Ia hanya menatap Jheni. Ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.

Jheni menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan dalam sekali hembusan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Menyatakan perasaannya di hadapan Chandra atau membiarkan dirinya pergi dengan memendam semua perasaan dalam hatinya.

 

Hening.

 

“Aku ...”

“Aku ...”

Jheni dan Chandra membuka pembicaraan.

“Kamu duluan!” perintah Jheni.

“Kamu duluan aja!” sahut Chandra.

“Mmh ... sebelum aku pergi ke Sumatera, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

“Apa?”

Jheni menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya selama ini.

“Dari pertama aku ketemu sama kamu, aku udah suka. Sampai akhirnya, aku tahu kamu punya tunangan. Aku bener-bener putus asa karena aku suka sama tunangan orang. Tapi ... saat kamu pisah sama Amara, aku ngerasa Tuhan berpihak ke aku. Aku berharap kamu bisa lihat keberadaanku ...”

“Tapi aku salah. Kamu bener-bener nggak pernah lihat aku,” lanjut Jheni dengan mata berkaca-kaca.

Chandra tertegun menatap wajah Jheni. Air mata yang keluar dari mata Jheni membuat pikirannya kosong seketika.

“Bohong kalo aku bilang, aku peduli sama kamu sebagai teman. Aku selalu berharap bisa lebih dari temen. Waktu aku lihat kamu lebih peduli sama Amara, aku baru sadar kalo aku salah jatuh cinta. Nggak seharusnya aku jatuh cinta sama orang yang hatinya sudah dimiliki orang lain.” Jheni mengusap pipinya yang basah.

 

“Jhen, aku juga cinta sama kamu. Cuma ...”

 

“Cuma lebih cinta lagi sama Amara?” sela Jheni.

 

“Kamu cemburu sama Amara?” tanya Chandra balik.

 

“Astaga! Kamu bego atau gimana sih!?” sahut Jheni kesal. Ia langsung berbalik dan melangkah pergi.

 

“Jheni ... Jhen!” Chandra langsung mengejar Jheni dan memeluk gadis itu dari belakang.

 

Jheni menghentikan langkahnya. Ia masih tidak habis pikir dengan sikap Chandra yang terus menarik ulur hatinya.

 

“Chan, aku ini punya hati juga!” sentak Jheni. “Sampai kapan kamu mau mempermainkan aku kayak gini?” tanya Jheni.

 

“Aku nggak berniat mempermainkan kamu sedikit pun. Selama ini, aku nggak punya keberanian buat ngungkapin perasaanku ke kamu. Malam itu, aku berusaha buat ngungkapin semuanya. Aku milih nolongin Amara, bukan karena aku masih cinta sama dia. Tapi karena aku percaya, kamu akan tetap di sisiku, mendukungku, apa pun yang akan aku hadapi. Saat sama kamu, aku kehilangan rasa takut.”

 

“Aku mau kamu tetep di sisiku. Jangan tinggalin aku! Aku butuh kamu,” pinta Chandra sambil mengerdipkan matanya yang terasa begitu perih.

 

Jheni terdiam sesaat. Ia tak menyangka kalau akhirnya, Chandra bisa memintanya untuk tetap tinggal.

 

Jheni memutar tubuhnya menghadap Chandra. “Gimana sama Amara?”

 

“Amara itu cuma masa lalu buatku. Dia udah nikah. Aku udah nggak pernah cinta sama dia.”

 

“Nggak pernah cinta?” Jheni tertawa kecil. “Jelas-jelas kamu nggak bisa move on dari dia selama ini.”

 

“Beberapa hari ini aku mencoba memahami diriku sendiri. Perasaanku ke Amara itu bukan cinta, tapi tanggung jawab. Aku cuma ngerasa bertanggung jawab sama keluarganya dia. Sama keluarga besar kami dan orang-orang yang mengetahui status hubungan kami. Aku cuma ngerasa nggak berguna karena udah ngecewain keluarga besar kami. Aku mati-matian mempertahankan hubunganku sama dia karena keluarga, bukan karena aku cinta sama dia.”

 

Jheni menatap lekat wajah Chandra. Ia tersenyum bahagia karena Chandra akhirnya bisa membalas cintanya.

 

“Kamu nggak akan pergi ninggalin aku kan?” tanya Chandra.

 

Jheni tersenyum menanggapi pertanyaan Chandra. “Aku udah beli tiket. Aku bakal tetep ...”

 

“Aku ganti uang tiket kamu,” sergah Chandra.

 

Jheni tertawa kecil. “Nggak perlu kamu ganti!”

 

“Jhen, kamu tetep mau ninggalin aku?”

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum.

 

Chandra tertegun. Ia tidak mengerti cara merayu wanita. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar Jheni tetap tinggal.

 

“Huft, daripada kamu ganti uang tiket aku. Lebih baik kamu pakai buat beli tiket satu lagi!” tutur Jheni.

 

“Maksud kamu ...?”

 

Jheni tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

Chandra ikut tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh Jheni.

 

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Dukung terus cerita ini dengan cara kasih  review baik di kolom komentar. Sapa aku terus supaya aku tidak merasa kesepian ...

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 236 || Canggung || a Romance Novel by Vella Nine

 



“Yun, tolongin aku!” ucap Jheni lirih sambil terbaring di lantai yang lembab dan kotor.

 

“Jhen ...!” Yuna berusaha menolong Jheni. Namun, beberapa preman datang menghampiri dan ikut menangkapnya.

 

“Tolong! Tolong ...!” seru Yuna.

 

Yeriko tiba-tiba datang dan menghajar preman itu satu persatu. Jumlah preman yang banyak, membuat Yeriko mendapatkan pukulan berkali-kali. Satu pukulan di kepala Yeriko membuatnya terjatuh ke lantai.

 

“Yeriko ...!” Yuna bergegas menghampiri Yeriko yang terbaring lemah di lantai, darah segar mengucur dari kepalanya. “Yer, bangun!” pinta Yuna sambil menangis histeris.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. Matanya tertutup perlahan-lahan.

 

“Yeriko ...!” teriak Yuna sambil menangis histeris.

 

“Yeriko ...!” Yuna langsung bangkit dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruanga.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang berdiri di sebelah tempat tidurnya.

 

Yuna langsung memeluk tubuh Yeriko. “Aku mimpi buruk. Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Yuna sambil meneteskan air mata.

 

“Aku baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil duduk di tepi tempat tidur.

 

Yuna bernapas lega. “Aku bener-bener takut kalau mimpiku jadi kenyataan.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah istrinya. “Nggak perlu takut. Aku di sini. Semua baik-baik aja.”

 

“Umh.” Yuna mengangguk sambil menatap Yeriko. “Gimana Jheni?”

 

“Dia baik-baik aja.”

 

“Udah ketemu?”

 

Yeriko mengangguk.

 

Yuna langsung menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

 

“Mau ke mana?”

 

“Lihat Jheni,” jawab Yuna sambil turun dari tempat tidur.

 

“Jheni baik-baik aja. Chandra udah ngurus dia.”

 

“Tapi ...”

 

“Sudah ada Chandra yang jagain dia. Kasih mereka waktu!” pinta Yeriko.

 

Yuna terdiam, ia berpikir sejenak. Chandra baru saja membuat Jheni kecewa. Bagaimana kalau Jheni justru semakin terluka kalau berada di sisi Chandra.

 

“Kamu nggak usah gelisah!” pinta Yeriko. “Nggak percaya sama Chandra?”

 

“Yer, Chandra baru aja bikin Jheni kecewa. Jheni baru aja sembuh dari kekecewaannya. Aku khawatir, kalau dia ketemu sama Chandra. Dia bakal sedih lagi.”

 

“Chandra pasti bisa menangani Jheni,” sahut Yeriko.

 

“Huft, semoga aja.” Yuna duduk di tepi ranjang sambil menatap lantai yang kosong.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

 

Yuna langsung menoleh ke belakang, menatap Yeriko yang sudah terbaring lemas. “Capek ya?”

 

Yeriko mengangguk. “Ngantuk. Aku mau tidur sebentar.”

 

Yuna tersenyum. “Tidur aja!”

 

“Temenin!” pinta Yeriko manja.

 

“Eh!? Ini udah pagi. Aku mau siap-siap ke kantor.”

 

Yeriko bangkit dan menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Ini masih jam lima pagi, Yun. Masuk kantor jam delapan. Masih lama.”

 

Yuna tersenyum kecil sambil menatap dada Yeriko yang terbuka. Jemari tangannya mulai jahil dan merayap di dada suaminya.

 

“Yun ...!” Yeriko langsung menangkap telapak tangan Yuna. “Aku mau tidur. Jangan minta macem-macem! Tidur!” perintahnya sambil memejamkan mata dan membenamkan kepala Yuna di dadanya.

 

“Aku udah nggak ngantuk,” tutur Yuna lirih.

 

Yeriko tidak menyahut. Ia sudah tertidur pulas dan tidak bisa lagi mendengar suara Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap wajah suaminya. Terlihat lelah karena tidak tidur semalaman untuk menyelamatkan Jheni. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Yeriko perlahan.

 

Mata Yuna tertuju pada lengan Yeriko yang memar di beberapa titik. Matanya tiba-tiba basah. Ia mengecup punggung tangan Yeriko. “Yer, kamu udah ngelakuin banyak hal buat aku. Saat kamu lelah dan sakit seperti ini, kamu masih menunjukkan semua baik-baik aja. Makasih buat semua hal yang udah kamu lakuin ke aku.”

 

Yuna mengecup kening Yeriko perlahan. Ia bergegas turun dari tempat tidur. Membantu Bibi War menyiapkan sarapan pagi dan bersiap berangkat ke tempat kerja.

Beberapa menit kemudian ...

“Udah mau berangkat kerja?” tanya Bibi War saat Yuna kembali turun dari kamarnya dengan pakaian rapi.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mas Yeri nggak kerja? Apa dia sakit? Nggak biasanya jam segini masih tidur.”

 

“Semalaman dia nggak tidur. Nggak usah dibangunin ya, Bi!”

 

Bibi War mengangguk.  

 

Yuna tersenyum. Ia bergegas berangkat ke kantor.

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Chandra terpaku menatap wajah Jheni yang terlelap di atas tempat tidurnya. Ia sangat menyesal karena tidak bisa menjaga Jheni dengan baik.

 

Goresan luka di pipi Jheni membuatnya menangis. Selama ini, Jheni selalu ada di sisinya dalam keadaan terpuruk sekali pun. Berbesar hati menerima dirinya yang masih belum bisa terlepas dari Amara.

 

Chandra lupa, lupa diri. Hingga ia tidak pernah memedulikan kehidupan Jheni. Ia tidak tahu bagaimana Jheni di belakangnya. Kesulitan apa yang sedang dialami gadis itu. Ia hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri.

 

“Jhen, maafin aku!” tuturnya lirih sambil menatap wajah cantik Jheni yang masih tertidur pulas. “Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri sampai mengabaikan kamu yang sudah melakukan banyak hal buat aku.”

 

Chandra bangkit dari tempat duduk. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan jam lima pagi. Ia bergegas menuju dapur, membuatkan sarapan untuk Jheni.

 

Jheni mengerjapkan mata saat mendengar suara peralatan dapur saling beradu. Ia membuka matanya perlahan. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Kenapa aku di sini?” Ia memijat keningnya yang berdenyut. Berusaha bangkit dari tempat tidur sambil mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.

 

Jheni menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Ia membelalakkan mata saat menyadari ia sudah mengenakan kemeja milik Chandra. “Iih ... ini cowok nyebelin banget sih!?” makinya sambil menghentakkan kaki ke lantai.

 

Jheni mondar-mandir di sisi tempat tidur. “Chan, sebenarnya perasaan kamu ke aku gimana sih? Baru kemarin kamu lebih milih Amara daripada aku. Kenapa sekarang, kamu bawa aku ke sini? Bahkan tidur di ranjang kamu?” gumam Jheni.

 

Jheni terduduk lemas di tepi ranjang. “Aku baru aja memutuskan buat ngelupain kamu selamanya. Kalo kayak gini, aku gagal move on!” serunya sambil merengek manja seperti anak kecil.

 

KREEK ...!

 

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

 

Jheni langsung menoleh ke arah pintu.

 

“Udah bangun?” tanya Chandra sambil tersenyum ke arah Jheni.

 

Jheni mengangguk.

 

 

 

Hening.

 

 

 

“Mmh ... aku udah buatin sarapan buat kamu. Sarapan, yuk!” ajak Chandra.

 

Jheni terdiam. Ia merasa sangat canggung berhadapan dengan Chandra. Ingin sekali membuang jauh-jauh wajahnya kali ini. “Please, mau kutaruh di mana mukaku sekarang? Aku malu banget!” batin Jheni.

 

“Kenapa?” tanya Chandra sambil mendekat ke arah Jheni.

 

“Eh, nggak papa. Aku ... aku mau mandi dulu.”

 

“Oke.” Chandra mengangguk. “Aku tunggu di ruang makan.”

 

“He-em.” Jheni menanggukkan kepala.

 

“Oh ya, aku udah beliin baju buat kamu.” Chandra menunjuk paper bag yang ada di atas meja.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum kecil.

 

“Mmh ... sorry, semalam aku terpaksa gantiin baju kamu, soalnya ...”

 

“Iya, nggak papa,” sahut Jheni. “Aku mandi dulu.” Ia menyambar paper bag yang ada di atas meja.

 

Jheni bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Chandra. Ia menarik napas berkali-kali sambil menatap tubuhnya di depan cermin.

 

“Nggak kelihatan nervous kan?” tanyanya sambil menepuk-nepuk pipinya perlahan. Ia sudah sering berada di rumah Chandra, tapi baru kali ini ia merasa sangat canggung menghadapi Chandra.

 

Jheni menarik napas beberapa kali. “Bersikap seperti biasanya aja, Jhen. Waktu kamu sama dia masih berteman,” tutur Jheni pada dirinya sendiri. “Teman?” tanyanya dalam hati. Ia sendiri saat ini masih tidak tahu apakah bisa menjalin hubungan pertemanan kembali dengan Chandra setelah apa yang terjadi di antara mereka.

 

( Bersambung ... )

 

Bagusnya, Chan & Jhen bersatu atau nggak ya?

Semalaman udah nggak tidur biar bisa update, tunggu kelanjutannya besok lagi ya! Dukung terus cerita ini dengan cara kasih review baik di kolom komentar biar aku makin semangat nulisnya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas